67 research outputs found

    Hermeneutika Maqāṣidī Imam al-Shāṭibī

    No full text
    Al-Syāṭibī is one of the scholars who have innovative thought on Qur’anic hermeneutics in the classical Muslim scholarship. He was proposed a “reading based on maqāṣīd” on the shari’a which differed from that of earlier methods. Marginally, Al-Syāṭibī’s hermeneutic abbreviation comprised of three tenets: (1) accentuating Arabic aspect as foothold in interpretation process on the shari’a, (2) emphasizing reading base on maqasid through circular-relational study on text-author-reader and other various accompaniment indicators, and (3) acknowledging reader circumstance role in the process of interpretation, so that no single-objective truth in interpretation.</p

    Kinerja Pertumbuhan dan Sintasan Benih Ikan Gabus Channa striata yang Dipelihara dengan Kedalaman Air Berbeda pada Kolam Terpal.

    No full text
    Penyediaan benih ikan gabus Channa striata dari hasil budidaya masih terkendala pertumbuhan dan sintasan yang masih rendah. Penyediaan lingkungan yang nyaman melalui kedalaman air diduga mampu meningkatkan kinerja pertumbuhan dan sintasan pada pemeliharaan benih ikan gabus. Penelitian bertujuan mengevaluasi kedalaman air terbaik untuk kinerja pertumbuhan dan sintasan benih ikan gabus yang dipelihara pada kolam terpal. Rancangan penelitian yang digunakan yaitu rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan dan masing-masing diulang tiga kali. Perlakuan yang diberikan adalah kedalaman air yaitu: 10 cm, 20 cm, dan 30 cm. Selama pemeliharaan, benih ikan gabus diberi pakan dengan feeding rate (FR) 8 % dan frekuensi pemberiannya empat kali dalam sehari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja pertumbuhan dan sintasan benih ikan gabus terbaik diperoleh pada kedalaman air 20 cm. Hasil perhitungan terhadap laju pertumbuhan spesifik tertinggi dicapai pada kedalaman air 20 cm yaitu 4.81 %/hari dan nilai sintasan mencapai 91.21%. Hasil analisis gambaran darah juga menunjukkan benih ikan gabus tidak terindikasi stres pada perlakuan kedalaman air 20 cm dengan nilai total eritrosit 1.53±0.51×106 dan total leukosit 3.71±0.13×104

    Sintasan Dan Pertumbuhan Larva Ikan Gabus Channa Striata Pada Media Alkalinitas Yang Berbeda

    No full text
    Produksi ikan gabus (Channa striata) masih disuplai dari perikanan tangkap. Kegiatan budidaya masih terkendala karena sintasan dan pertumbuhan larva ikan gabus masih rendah. Penelitian ini bertujuan memperoleh konsentrasi alkalinitas yang terbaik terhadap sintasan dan pertumbuhan larva ikan gabus. Larva ikan gabus dengan bobot dan panjang tubuh rata-rata 0,0086 ± 0,0001 gram dan 0,7 ± 0,045 cm dipelihara pada bak plastik berukuran 40x25x20 cm sebanyak 500 ekor (34 ekor/liter) dengan volume air 15 liter. Ikan dipelihara selama 24 hari dan diberi pakan berupa cacing sutera cacah sebanyak tiga kali sehari dengan metode pemberian secara at satiation. Rancangan penelitian menggunakan metode rancangan acak lengkap. Perlakuannya terdiri dari alkalinitas 25-30, 50- 55, 75-80, dan 100-105 mg/L CaCO3. Setiap perlakuan terdiri dari tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi alkalinitas 50-55 mg/L CaCO3 dapat meningkatkan sintasan dan laju pertumbuhan sebesar 52,20 ± 0,80 % dan 13,81 ± 0,19 %. Dengan demikian sintasan dan pertumbuhan larva ikan gabus yang terbaik diperoleh pada konsentrasi alkalinitas 50-55 mg/L CaCO3

    Hermeneutika MaqÄá¹£idÄ« Imam al-ShÄá¹­ibÄ«

    No full text
    Al-SyÄá¹­ibÄ« is one of the scholars who have innovative thought on Qur’anic hermeneutics in the classical Muslim scholarship. He was proposed a “reading based on maqÄṣīd†on the shari’a which differed from that of earlier methods. Marginally, Al-SyÄá¹­ibī’s hermeneutic abbreviation comprised of three tenets: (1) accentuating Arabic aspect as foothold in interpretation process on the shari’a, (2) emphasizing reading base on maqasid through circular-relational study on text-author-reader and other various accompaniment indicators, and (3) acknowledging reader circumstance role in the process of interpretation, so that no single-objective truth in interpretation

    Penerapan metode role playing (bermain peran) dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn di MI Mathlaul Anwar Barengkok Kecamatan Leuwiliang-Bogor

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan metode Playing Role dalam meningkatkan hasil belajar PKn siswa. Penelitian ini dilaksanakan di MI. Mathlaul Anwar Barengkok Kecamatan Leuwiliang - Bogor. Siswa yang diteliti kelas VI yang berjumlah 34 orang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilakukan dengan tiga tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan refleksi. Ketiga tahap tersebut merupakan siklus yang berlangsung secara berulang dan dilakukan dengan langkah-langkah yang sama dan difokuskan pada pembelajaran Pilkada sebagai praktik pada mata pelajaran PKn melalui Metode Role Playing. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukan bahwa pembelajaran PKn dengan menggunakan metode Role Playing (Bermain Peran) mengalami peningkatan. Peningkatan tersebut dapat dilihat melalui siklus yang telah dilakukan. Pada siklus I persentasi ketuntasan belajar, siswa mengalami peningkatan dari 43,82% menjadi 73,53%. Pada siklus II persentasi ketuntasan belajar juga mengalami peningkatan dari 43,82% menjadi 100%. Hasil ini menunjukan bahwa penerapan metode Role Playing dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn

    Teknologi Produksi Benih Ikan Gabus Channa striata melalui Pendekatan Fisiologi, Manajemen Pakan, dan Rekayasa Lingkungan

    No full text
    Gabus Channa striata merupakan jenis ikan air tawar yang mempunyai nilai ekonomis tinggi sebagai ikan konsumsi dan bahan biomedis. Permintaan ikan gabus cenderung meningkat setiap tahunnya, sebagian besar ikannya berasal dari hasil tangkapan. Budidaya ikan gabus juga mengandalkan benih dari alam. Hal demikian menyebabkan peningkatan ancaman kelestarian ikan gabus di alam. Untuk itu pengembangan pembenihannya pada wadah terkontrol perlu dilakukan. Upaya penyediaan benih ikan gabus sudah dilakukan melalui pemijahan secara terkontrol, namun produksinya masih terbatas akibat tingginya kematian pada stadia larva. Kematian ikan gabus diduga dapat dikurangi antara lain melalui penggunaan strategi pemberian pakan awal dan buatan secara tepat kepada larva ikan gabus yang didasarkan atas informasi ontogeni larva dan penyediaan media pemeliharaan untuk peningkatan sintasan dan kinerja pertumbuhan. Oleh karena itu, serangkaian penelitian telah dilakukan untuk mendapatkan teknologi produksi massal benih ikan gabus melalui pendekatan fisiologi, manajemen pakan, dan rekayasa lingkungan. Penelitian ke-1 bertujuan untuk mendapat informasi perkembangan organ pencernaan dan aktivitas enzim pada larva ikan gabus hingga umur 36 hari. Larva ikan gabus hasil pemijahan induk gabus F2 dipelihara dalam 12 wadah yang berukuran 402510 cm yang berisi 7 L air dengan kepadatan 50 larva L-1 dan diberi pakan secara sekenyangnya yaitu: pakan awal Moina sp. pada umur 2-15 hari; pakan buatan pada umur larva 11-36 hari dengan frekuensi pemberian pakan enam kali (pukul 08.00-18.00 WIB). Selama masa transisi (umur 11-15 hari), pakan Moina sp. dan buatan diberikan secara berimbang, yaitu: jumlah pemberian Moina sp. menurun setiap harinya dan sebaliknya, jumlah pemberian pakan buatan meningkat. Sampel diambil dari setiap wadah pemeliharaan pada umur 2, 3, 4, 5, 6, 8, 10, 12, 15, 22 hari sebagai subyek pembuatan preparat histologi untuk pengamatan organ kecernaan. Untuk pengamatan aktivitas enzim (protease, amilase, lipase), sampel diambil pada umur larva 2, 3, 4, 6, 11, 16, 21, dan 36 hari. Hasil pengamatan menunjukkan organ pencernaan larva ikan gabus meliputi: mulut, faring, esofagus, lambung, usus, hati, dan pankreas terbentuk secara sempurna pada umur 12 hari. Aktivitas enzim pencernaan telah terdeteksi sejak larva ikan gabus umur dua hari. Pola aktivitas amilase dan lipase cenderung berfluktuasi, namun aktivitas protease relatif stabil hingga umur 36 hari. Oleh karena itu, larva ikan gabus mulai umur 12 hari diduga sudah mampu memanfaatkan pakan buatan. Penelitian ke-2 bertujuan menentukan waktu pergantian pakan alami ke pakan buatan yang tepat pada pemeliharaan larva ikan gabus dalam wadah terkontrol untuk menentukan strategi pemberian pakan secara tepat. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan perlakuan waktu pemberian pakan buatan pada umur 2, 6, 8, 10, dan 12 hari. Setiap perlakuan mempunyai empat ulangan yang mana tiga ulangan untuk pengamatan sintasan dan kinerja pertumbuhan dan satu ulangan untuk pengamatan organ pencernaan dan aktivitas enzim. Ukuran wadah pemeliharaan dan kepadatan larva pada penelitian ini adalah sama dengan penelitian ke-1. Larva ikan gabus dengan panjang total 6.27±0.88 mm diberi pakan Moina sp. dua kali sehari dan pakan buatan sesuai perlakuan empat kali sehari selama 21 hari masa pemeliharaan. Pada berbagai pemberian Moina sp., media pemeliharaan larva ditambahkan Chlorella sp. sebanyak dua kali pada jam 08.00 dan 15.00 WIB. Parameter uji adalah konsumsi pakan, sintasan, rasio RNA-DNA, bobot akhir, distribusi ukuran panjang total akhir, aktivitas enzim pencernaan (protease, lipase, amilase), dan morfologi organ kecernaan. Pakan buatan dapat diberikan pada larva ikan gabus pada umur 12 hari. Penelitian ke-3 bertujuan untuk menentukan frekuensi pemberian pakan alami Moina sp. pada pemeliharaan larva ikan gabus. Perlakuannya adalah frekuensi pemberian Moina sp. per hari dengan penambahan Chlorella sp: Kontrol (6 kali tanpa Chlorella sp.); 6, 4, 2 kali. Larva ikan gabus umur dua hari dengan panjang total 5.42±0.24 mm ditebar dalam 12 wadah ukuran 40x40x40 cm dengan kepadatan 50 ekor L-1 dan diberi pakan uji sesuai perlakuan selama 15 hari masa pemeliharaan. Air hijau berisi Chlorella sp. ditambahkan ke dalam media pemeliharaan sebanyak 250 mL masing-masing pada pukul 07.00 dan 13.00 WIB. Hasil penelitian menunjukkan berbagai frekuensi pemberian Moina sp. dengan penambahan Chlorella sp. dalam media pemeliharaan tidak berpengaruh terhadap sintasan dan kinerja pertumbuhan larva ikan gabus. Sintasan sebesar 93.420.51 % diamati pada pemberian Moina sp. dua kali sehari dengan penambahan Chlorella sp. Penelitian ke-4 bertujuan untuk menentukan suhu, alkalinitas, dan pH air yang sesuai untuk meningkatkan sintasan dan kinerja pertumbuhan larva ikan gabus secara terkontrol. Penelitian terbagi tiga tahap yang dilakukan secara berurutan, yaitu: suhu, alkalinitas, dan pH. Hasil terbaik pada penelitian pertama digunakan pada penelitian berikutnya. Perlakuan masing-masing penelitian adalah suhu: 25, 27, 29, 31 ⁰C; alkalinitas: 25, 50, 75, 100 mg L-1 CaCO₃; dan pH air: 4, 5, 6, 7. Penelitian dilakukan di ruangan tertutup dengan suhu ruangan sebesar 24 ⁰C. Larva ikan gabus yang digunakan pada setiap penelitian diperoleh dari hasil pemijahan induk gabus F2 yang sama, namun berbeda waktu pemijahannya. Prosedur pemeliharaan larva ikan gabus dan pemberian pakan adalah sama dengan Penelitian ke-1. Pengaturan suhu air sesuai dengan perlakuan menggunakan pemanas air. Alkalinitas air diperoleh dengan mencampurkan air sumur dan air destilasi dengan berbagai perbandingan sesuai dengan perlakuan. Berbagai pH air sesuai dengan perlakuan diperoleh dengan penambahan HCl dalam air sumur dengan berbagai rasio. Parameter uji yang digunakan adalah konsumsi pakan, sintasan, rasio RNA-DNA, bobot akhir, pH cairan tubuh, dan distribusi ukuran panjang. Hasil percobaan menunjukkan bahwa sintasan dan kinerja pertumbuhan larva ikan gabus terbaik dicapai suhu air 29 ⁰C, alkalinitas 75 mg L-1 CaCO₃, dan pH air 6. Pada kondisi penelitian tersebut, sintasan larva ikan gabus mencapai 93.1±1.0 % dan keseragaman panjang total didominasi pada kelompok ukuran 2.1–2.5 cm. Berdasarkan hasil penelitian seperti tersebut di atas, produksi benih ikan gabus secara massal dalam wadah terkontrol dapat diperoleh melalui pemberian pakan awal Moina sp. dua kali dengan penambahan Chlorella sp. hingga umur 11 hari serta penyediaan media air dengan suhu 29 ⁰C, alkalinitas 75 mg L-1 CaCO₃ dan pH 6, sintasan larva ikan gabus dengan penggunaan teknologi tersebut mencapai 93 %

    ANALISIS POTENSI KERAWANAN LONGSOR BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) DI KOTA SAWAHLUNTO, SUMATERA BARAT

    Get PDF
    West Sumatra Province has a hilly morphology so that landslides often occur in the soil layer. This research aims to analyze the potential level of landslides. Sawahlunto City, West Sumatra using GIS. The method used by the score overlay model is a land cover map, soil type map, slope slope map, rainfall map and rock type map, so that the weighting and level of vulnerability to landslides can be obtained. The research area has high, medium and low levels of landslide vulnerability in 1 sub-district, medium to high in 3 sub-districts. The potential for high landslides is in the Talawi sub-district, and a small part is in the Silungkan and Barangin sub-districts. Meanwhile, the potential for landslides is low to moderate in most of Lembah Segar sub-district.Provinsi Sumatera Barat memiliki morfologi perbukitan sehingga sering terjadi longsor pada lapisan tanah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat potensi bencana tanah longsor. Kota Sawahlunto, Sumatera Barat dengan menggunakan SIG. Metode yang digunakan model overlay skor berupa peta tutupan lahan, peta jenis tanah, peta kemiringan lereng, peta curah hujan dan peta jenis batuan, sehingga di dapatkan pembobotan &nbsp;dan tingkat kerawanan bencana tanah longsor. Daerah penelitian memiliki tingkat kerawanan tanah longsor dengan tingkat tinggi, sedang dan rendah, pada 1 kecamatan, sedang hingga tinggi ada di 3 kecamatan. Potensi longsor tinggi berada di kecamatan Talawi, dan sebagian kecil berada di kecamatan Silungkan dan Barangin. Sedangkan potensi longsor rendah hingga sedang berada sebagian besar kecamatan Lembah Segar

    PENGAMATAN LOGAM BERAT PADA SEDIMEN PERAIRAN WADUK CIRATA

    Get PDF
    Waduk Cirata merupakan waduk serbaguna yang terletak di tiga kabupaten yaitu: Purwakarta, Cianjur, dan Bandung Provinsi Jawa Barat, telah mengalami penurunan daya guna akibat pengaruh lingkungan yang terlalu berat. Penurunan daya guna tersebut bisa bersifat fisik, kimia, maupun biologi. Salah satu kontaminan yang masuk ke Waduk Cirata adalah terakumulasinya logam berat di dasar perairan (sedimen). Untuk mengukur konsentrasi logam berat pada sedimen, dilakukan dengan pengambilan contoh sedimen pada bagian hulu, tengah, dan hilir Waduk Cirata. Hasil analisis menunjukkan bahwa konsentrasi logam berat tertinggi yaitu: F (besi) konsentrasinya sebesar 29,495 mg/kg, Hg (merkuri) konsentrasinya pada sedimen sebesar 26,83 mg/kg, kemudian disusul oleh logam berat Pb (timbal) sebesar 2,38 mg/kg; dan terakhir logam Cd (kadmium) sebesar 0,29 mg/kg. Tingginya konsentrasi logam berat pada sedimen tersebut dapat berpotensi meningkatkan akumulasi logam berat pada ikan yang dipelihara baik melalui rantai makanan maupun osmeroegulasi. Dari hasil analisis terhadap daging ikan patin ternyata peningkatan akumulasi logam berat terjadi pada akhir pemeliharaan jika dibandingkan dengan awal pemeliharaan. Dampak lain dari tingginya akumulasi logam berat bisa merusak jaringan organ tubuh ikan dan pada akhirnya mengakibatkan kematian ikan

    PELUANG DAN TANTANGAN BUDIDAYA IKAN DI DANAU MANINJAU PROVINSI SUMATERA BARAT

    Get PDF
    Implementasi pelaksanaan program pembangunan perikanan secara nasional telah tercermin dalam Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam visinya yang menyatakan: Indonesia penghasil produk perikanan terbesar tahun 2015. Salah satu lokasi yang potensial untuk pengembangan kegiatan budidaya perikanan air tawar adalah Danau Maninjau. Kegiatan budidaya ikan di Danau Maninjau dengan keramba jaring apung (KJA) mulai berkembang pada tahun 1990. Tingkat pencemaran perairan Danau Maninjau sudah cukup kritis untuk air minum (kelas I dan II), tetapi untuk perikanan masih termasuk dalam ketegori tercemar ringan. Komoditas yang menjadi unggulan di Danau Maninjau adalah ikan mas dan ikan nila yang baru mulai berkembang. Peluang usaha budidaya ikan di Danau Maninjau masih terbuka luas, baik pada segmen budidaya, distribusi pakan, perbenihan, transportasi, maupun pemasaran hasil. Kendala adalah penyediaan benih unggul khususnya ikan mas masih harus didatangkan dari luar Kabupaten Agam Provinsi Sumetera Barat, untuk ikan nila sampai saat ini belum ada kendala
    corecore