1,721,266 research outputs found

    Konsep dasar kapal kelas X semester 1

    Get PDF
    Penyajian buku teks untuk disusun dengan tujuan agar peserta didik dapat melakukan proses pencarian pengetahuan berkenaan dengan materi pelajaran melalui berbagai aktivitas para ilmuwan dalam melakukan eksperimen, dengan demikian peserta didik diarahkan untuk menemukan sendiri berbagai fakta, membangun konsep, dan nilai-nilai baru secara mandiri

    Studi Kasus : Kecamatan Natal, Kabupaten Mandailing Natal

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk melihat faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pendapatan pedagang ikan keliling dan melihat seberapa besar pendapatan pedagang ikan keliling. Metode analisis data penelitian ini dengan menggunakan uji asumsi klasik yang berupa uji normalitas, uji multikolinearitas,uji heteroskedasitas dan uji linieritas. Serta metode analisis usahatani dengan alat ukur PD = TR-TC. Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian bahwa dapat disimpulkan bahwa : Dilihat dari hasil Uji T Modal dan Jam kerja berpengatuh dengan Pendapatan (Y), dengan nilai sig modal 0,039 dan jam kerja 0,063 karna lebih besar dengan 0,10. Dan hasil Uji F nilai sig sebesar 0,947 > 0,10 artinya Ho diterima. Pedagang pedagang ikan keliling kecamatan natal rata-rata sebesar Rp 5.590.295,455 perbulan sehingga memcukupi kebutuhan keluarga. Selain itu pedagang ikan keliling bisa dikatakan cukup menjanjikan karna dapat dilihat dari segi pendapatan yang di peroleh pedagang ikan keliling di Kecamatan Natal

    Pengaruh Suhu dan Waktu Ekstraksi terhadap Karakteristik Agar dari Rumput Laut Gracilaria sp. dengan Metode Ultrasonik

    No full text
    Gracilaria sp. merupakan salah satu rumput laut penghasil agar. Proses ekstraksi agar dapat dilakukan dengan metode ultrasonik, karena metode tersebut membutuhkan energi yang cukup rendah dalam prosesnya. Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh suhu dan waktu ekstraksi dengan metode ultrasonik terhadap karakteristik agar yang dihasilkan, serta membandingkan dengan metode konvensional. Suhu ekstraksi yang digunakan yaitu 50 dan 60 °C, dengan lama ekstraksi 45 dan 60 menit. Agar yang dihasilkan dilakukan analisis rendemen, viskositas, derajat putih, serta kebutuhan energi untuk mendapatkan perlakuan terpilih. Perlakuan suhu dan waktu ekstraksi memberi pengaruh nyata terhadap rendemen, viskositas agar, serta energi yang digunakan. Karakteristik agar terpilih dengan perlakuan suhu esktraksi 60°C selama 60 menit memiliki rendemen sebesar 12,45%, viskositas 35,8 cP, derajat putih 50,96%, kadar air 12,59%, abu 7,07%, sulfat 3,67% dan kekuatan gel 108,03 g/cm2. Penggunaan ultrasonik mampu menurunkan kebutuhan energi per output agar hingga 10,5% serta mampu meningkatkan rendemen hingga 22% dibandingkan kontrol

    Karakterisasi Kapsul Keras Berbahan Gelatin dan Karaginan Hasil Hidrolisis Rumput Laut dengan Kapang

    No full text
    Kapsul komersial umumnya diproduksi dari gelatin babi atau sapi, namun memiliki kendala berkaitan dengan aspek keamanan dan kehalalan. Karaginan dapat digunakan sebagai bahan substitusi dalam pembuatan kapsul. Karaginan komersial dihasilkan dengan ekstraksi secara kimiawi dan enzimatis, namun hasil yang diperoleh belum efisien sehingga dapat dilakukan ekstraksi secara biologis menggunakan kapang. Oleh karena itu, perlu dilakukan karakterisasi karaginan hasil ekstraksi secara biologis menggunakan kapang serta mengkaji pengaruh substitusi karaginan pada gelatin terhadap karakteristik kapsul yang dihasilkan. Karaginan pretreatment perebusan memiliki karakteristik yang telah memenuhi standar FAO dan BSN kecuali kadar air dan kadar sulfat sehingga dapat digunakan sebagai bahan substitusi dalam pembuatan kapsul. Level substitusi karaginan 0%, 5% dan 10% merupakan formula terpilih dalam pembuatan kapsul. Karakteristik kapsul yang dihasilkan diantaranya panjang body 16.99±0.15 mm, 17.35±0.07 mm, 17.88±0.02 mm, panjang cap 6.30±1.12 mm, 8.10±0.90 mm, 6.37±0.80 mm, bobot 0.96±0.12 g, 0.99±0.12 g, 1.01±0.07 g, waktu hancur kurang dari 30 menit, sedangkan kadar air kapsul 2 dan 7 belum sesuai standar yang ditetapkan

    Karakterisasi Bagian Talus Sargassum polycystum dan Aktivitas Antioksidan Ekstrak Hasil Ultrasonic-Assisted Extraction

    No full text
    Sargassum polycystum mengandung senyawa aktif yang berfungsi sebagai antioksidan. Kandungan antioksidan dari rumput laut memiliki keterkaitan erat dengan kandungan senyawa fenolik. Penelitian ini bertujuan menentukan pengaruh perbedaan bagian talus terhadap kandungan senyawa aktif dalam S. polycystum. Sampel segar dipreparasi menjadi tiga bagian, yaitu ujung, tengah, dan pangkal. Ekstraksi dilakukan dengan metode ultrasonik dan menggunakan pelarut aseton 90%. Kadar total fenol dianalisis menggunakan pereaksi Folin-Ciocalteu. Aktivitas antioksidan dianalisis menggunakan metode DPPH, FRAP, dan CUPRAC. Total fenolik tertinggi terdapat pada bagian ujung talus sebesar 875.64 mg GAE/g. Aktivitas antioksidan DPPH tertinggi pada S. polycystum terdapat pada bagian ujung talus dengan nilai IC50 sebesar 38.49 ppm. Kapasitas antioksidan FRAP dan CUPRAC tertinggi terdapat pada bagian ujung talus berturut-turut sebesar 989.93 μmol Fe(II)/g dan 555.52 μmol troloks/g. Ekstrak S. polycystum pada ketiga bagian talus terdeteksi mengandung senyawa aktif berupa alkaloid, steroid, fenol, dan flavonoid

    Pengaruh Perendaman Asam Organik terhadap Kelarutan Mineral Kerang Darah (Anadara granosa)

    No full text
    Kelompok krustasea seperti kerang-kerangan banyak digemari sebagai salah satu bahan yang dikonsumsi oleh masyarakat serta berpotensi ekonomis untuk dikembangkan sebagai sumber mineral yang dapat memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Indonesia. Penggunaan asam organik seperti asam sitrat dapat meningkatkan kelarutan mineral serta mengurangi kadar logam karena kemampuannya mengikat ion-ion logam yang terakumulasi dalam daging. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi proksimat, mineral makro, mineral mikro, dan logam berat kerang darah, serta mengetahui pengaruh metode perendaman terhadap persentase kelarutan mineral, logam berat, dan protein kerang darah (A. granosa) dengan variasi jenis asam organik berbeda. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februar hingga Mei 2012 menggunakan sampel A. granosa yang diambil dari PPI Muara Angke, Jakarta Utara. Penelitian dilakukan di Laboratorium Karakterisasi Bahan Baku Hasil Perairan, Laboratorium Biokimia Hasil Perairan, dan Laboratorium Mikrobiologi Hasil Perairan, Departemen Teknologi Hasil Perairan, Laboratorium Terpadu Ilmu dan Nutrisi Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, dan Laboratorium Penelitian, Departemen Biokimia, Fakultas Matematikan dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor. Hasil analisis proksimat A. granosa menunjukkan bahwa sampel tersebut mengandung kadar air (81,61%), lemak (0.58%), protein (6,65%), abu (1,09%), dan karbohidrat (10,07%). Kandungan mineral makro yaitu natrium sebesar 857,69 mg/100 g bk, kalium sebesar 654,39 mg/100 g bk, kalsium sebesar 142,39 mg/100 g bk, magnesium sebesar 171,31 mg/100 g bk, dan fosfor sebesar 558,90 mg/100 g bk. Kandungan mineral mikro pada kerang darah yaitu seng sebesar 3,61 mg/100 g bk, besi sebesar 45,98 mg/100 g bk, dan tembaga sebesar 1,08 mg/100 g bk. Hasil analisis mineral juga menemukan adanya kandungan logam berat timbal sebesar 1,24 mg/100 g bk dan kadmium sebesar 0,10 mg/100 g bk

    Kandungan Fenol, Senyawa Fitokimia, dan Aktivitas Antioksidan Rumput Laut Padina australis

    No full text
    Rumput laut merupakan komoditas perikanan yang cukup melimpah di perairan Indonesia. Beberapa jenis rumput laut tersebut telah diteliti memiliki kandungan senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai sumber antioksidan. Potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal, terbukti dengan tingkat konsumsi rumput laut masyarakat Indonesia yang masih rendah. Padina australis merupakan salah satu jenis rumput laut yang belum dimanfaatkan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk: (1) mempelajari kandungan proksimat, abu tak larut asam dan serat pangan rumput laut P. australis, (2) mempelajari pengaruh penggunaan jenis pelarut terhadap kandungan senyawa fitokimia, total fenol, dan aktivitas antioksidan ekstrak P. australis. Penelitian ini dilaksanakan pada Februari sampai Mei 2011. Sampel P. australis diambil dari perairan Pulau Pramuka, Taman Nasional Kepulauan Seribu, Jakarta. Proses ekstraksi dan pengujian dilakukan di beberapa laboratorium IPB, yaitu: Laboratorium Karakteristik Bahan Baku Hasil Perairan, Laboratorium Biokimia Hasil Perairan, Laboratorium Mikrobiologi Hasil Perairan, Laboratorium Bioteknologi Hasil Perairan Departemen Teknologi Hasil Perairan, Laboratorium Biokimia Pangan, Laboratorium Kimia Analitik, dan Laboratorium Uji Biofarmaka-Pusat Studi Biofarmaka. Hasil analisis proksimat P. australis menunjukkan bahwa sampel tersebut memiliki kadar air (90,57%), lemak (0,39%), protein (1,02%), abu (2,11%), karbohidrat (5,91%), dan abu tidak larut asam (0,20%). Total serat pangan yang terdapat dalam P. australis sebesar 13,78 g/100g dengan nilai serat pangan larut dan tidak larut masing-masing sebesar 8,39 g/100g dan 5,39 g/100g. Nilai rendemen dan total fenol ekstrak P. australis tertinggi diperoleh melalui ekstraksi menggunakan metanol. Rendemen ekstrak P. australis menggunakan pelarut n-heksana, etil asetat, dan metanol secara berurut yaitu 0,30%, 0,70%, dan 4,66%. Kandungan total fenol dalam ekstrak P. australis menggunakan pelarut n-heksana, etil asetat, dan metanol secara berurut yaitu 17,32 mg GAE/1000g, 90,89 mg GAE/1000g, dan 246,09 mg GAE/1000g. Aktivitas antioksidan ekstrak P. australis ditentukan berdasarkan nilai IC50 yang diperoleh. Nilai IC50 ekstrak P. australis menggunakan pelarut n-heksana, etil asetat, dan metanol secara berurut yaitu 1829,47 ppm, 1160,21 ppm, 267,05 ppm. Senyawa fitokimia yang terdeteksi dalam P. australis yaitu flavonoid, fenol hidrokuinon, steroid, triterpenoid, dan saponin

    Fortifikasi Tepung Ikan (Katsuwonus pelamis) terhadap Karakteristik Mie Sagu

    No full text
    The effects of different immersion method namely water, 3% acetic acid and 0.8% sodium bicarbonate at immersion time (2, 4, and 6 hours) on the physicochemical characteristics of skipjack tuna fish meal were studied. Producing of fish meal with 0.8% sodium bicarbonate immersion for 6 hours had better characteristics than the water and 3% acetic acid with increased in protein content by 82.86% and decreased in fat content by 1.10%. Sago noodle characteristics with the fortification of fish meal were investigated. Result of organoleptic evaluation showed that the fortification of fish meal had a positive impact in the assessment of aroma and flavor, however there were no effect in texture of the sago noodles. Fortification of 8% fish meal gave the best aroma and taste of the sago noodles. Whiteness decreased slightly with no fortification of fish meal concentration. Control and commercial sago noodle showed the internal structure of a compact and smooth compared with the addition of sago noodle 8% fish meal and wheat flour noodles. Optimum concentration fortification of fish meal to increase in protein content of sago noodles was by 8% fish meal

    Pengaruh Metode Pretreatment Ultrasonikasi Limbah Padat Industri Agar-agar terhadap Karakteristik Alfa Selulosa

    No full text
    Selulosa merupakan salah satu biopolimer alami yang paling melimpah di bumi. Metode pretreatment perlu dilakukan sebelum proses isolasi selulosa untuk mendapatkan kandungan selulosa berkualitas baik. Metode pretreatment yang umum digunakan yaitu metode kimia, untuk itu perlu dilakukan metode pretreatment yang tidak menggunakan bahan kimia yaitu dengan memanfaatkan gelombang ultrasonik. Penelitian ini bertujuan menentukan pengaruh perlakuan pretreatment ultrasonikasi limbah padat industri agar-agar terhadap karakteristik alfa selulosa, serta menentukan pengaruh perbedaan waktu pada setiap perlakuan. Tahapan penelitian meliputi tahap preparasi limbah padat agar-agar, pretreatment, dan isolasi alfa selulosa. Perlakuan akselerasi ultrasonikasi 90 menit menghasilkan rendemen dan kadar α-selulosa tertinggi masing-masing sebesar 44.20% dan 77.67%. Perlakuan tanpa ultrasonikasi memiliki kadar air terendah yaitu 2.10%, kadar abu sebesar 70.99% dan derajat putih tertinggi sebesar 87.63%. Analisis gugus fungsi menunjukkan bahwa di dalam sampel mengandung selulosa yang ditandai dengan adanya puncak pada bilangan gelombang 788 cm-1

    Pengaruh Konsentrasi Asam Klorida terhadap Karakteristik Mikrokristalin Selulosa dari Limbah Padat Industri Agar-agar

    No full text
    Limbah padat agar merupakan hasil samping dari proses pengolahan rumput menjadi agar yang memiliki kadar selulosa mencapai 27,8–39,45%. Kadar selulosa yang cukup tinggi membuat limbah agar sangat berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku mikrokristalin selulosa (MCC). Mikrokristalin selulosa dibuat dengan cara hidrolisis terkontrol α-selulosa, dengan larutan asam mineral encer pada suhu tinggi. Perlakuan pada penelitian ini adalah perbedaan konsentrasi HCl pada proses hidrolisis α-selulosa dari limbah padat agar yaitu 2; 2,5; 3 dan 3,5 N. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan konsentrasi HCl dalam proses hidrolisis α-selulosa dari limbah padat agar memberikan pengaruh nyata terhadap rendemen, nilai warna L, dan kadar air. Konsentrasi HCl terbaik dalam penelitian yang memenuhi syarat standar dari British Pharmacopoeia (2009) yaitu konsentrasi HCl 2N yang menghasilkan rendemen 77,60%; nilai L (lightness) 98,47%; kadar air 6,87%; kelarutan dalam air 0,36%; pH 6,22; kadar abu 2,50%. Gugus fungsi MCC 2N juga sesuai dengan MCC standar dan derajat kristalinitas 57,41%
    corecore