33 research outputs found
Konsep Pluralis-Multikultural dan Implementasi dalam Dunia Pendidikan Said Subhan Posangi
Abstract: Indonesia consists of various racial, ethnic or religious group. Therefore, need awareness of the Society to perform in a more understanding and assessment in education. Discourse on diversity must be addressed wisely so as not to bring any conflict, as had happened some time ago. Pluralist-multicultural concept seems appropriate to be applied in education as an understanding and assessment of diversity in Indonesia to raise harmony together and prevent the conflict. Education made special shots because this is where the search process beginning stock of one’s life meaning. In education will form a value system that direct a person to move and act based on the value system that he belong to.
Keyword: Concept, Pluralist, Multicultural, and Education
Konsep Pluralis-Multikultural dan Implementasi dalam Dunia Pendidikan Said Subhan Posangi
Abstract: Indonesia consists of various racial, ethnic or religious group. Therefore, need awareness of the Society to perform in a more understanding and assessment in education. Discourse on diversity must be addressed wisely so as not to bring any conflict, as had happened some time ago. Pluralist-multicultural concept seems appropriate to be applied in education as an understanding and assessment of diversity in Indonesia to raise harmony together and prevent the conflict. Education made special shots because this is where the search process beginning stock of one’s life meaning. In education will form a value system that direct a person to move and act based on the value system that he belong to.
Keyword: Concept, Pluralist, Multicultural, and Education
ISLAM DAN INDONESIA MODERN DALAM PERSPEKTIF TEOLOGI INKLUSIF NURCHOLIS MADJID
Cak Nur\u27s thought in theological matters is more of a representation of the views of the latter which emphasize the need reorientation of religious understanding to the present empirical reality. Cak Nur, in his book, Islamic Doctrine and Civilization, this attitude is clear he said that religious normative provisions could be attempted seen in the possibility of its social- historical implementation. Because, after all the height of a teaching, but what is actually in it human life and influencing society is a form of implementation concretely in history, namely the social and cultural life of humans time and space contex
TAWHIDI EPISTEMIC: GAGASAN TENTANG TRANSENDENSI SAINS DALAM ISLAM
Sains Barat dan sains Islam dalam beberapa aspek dianggap berbeda. Perbedaan ini sangat kelihatan ketika sains Barat dengan angkuhnya mengklaim bahwa sains tidak berhubungan dengan agama tdak lahir dari gereja, sementara Islam meyakini bahwa sains tidak dapat dipisahkan dari agama. Ini bisa terjadi karena sains Barat berakar pada ratio sementara sains Islam berakar pada wahyu. Pandangan ini kemudian melahirkan dikotomi antara ilmu-ilmu umum dan ilmu-ilmu agama. Inilah yang kemudian mendorong kalangan ilmuan muslim melakukan ijtihad untuk sebuah perubahan paradigma melalui islamisasi sain
HAKIKAT KEBEBASAN BERPIKIR DAN ETIKA
Sebuah kebenaran yang dicapai melalui berpikir sangat ditentukan oleh subyektifitas atau obyektifitas dalam berpikir. Sebagai diketahui bahwa, dalam membicarakan persoalan berpikir obyektif tidak bisa terlepas dari berpikir secara filsafati, sebab pada dasarnya filsafat mengajak manusia untuk berpikir menurut tata tertibnya (logika) dengan bebas yang tidak terikat dengan tradisi, dogma serta agama, dan dengan sedalam-dalamnya sampai ke dasar persoalan
PLURALITAS AGAMA (Tinjauan atas Hubungan Islam- Kristen)
Tantangan teologis paling besar dalam kehidupan beragama sekarang ini yang dihadapi orang-orang beriman di tengah kenyataan pluralisme agama dewasa ini adalah bagaimana suatu teologi dari suatu agama mendefinisikan dirinya di tengah agama-agama lain. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kajian pustaka. Hasil penelitian menemukan bahwa, pada umumnya kaum beriman berpikir dengan double standars (standar ganda); agama kita adalah yang paling sejati dan berasal dari Tuhan, sedangkan agama lain hanya konstruksi manusia, atau mungkin juga berasal dari Tuhan tetapi dipalsukan oleh manusia. Sejarah mencatat bagaimana standar ganda ini telah melahirkan suasana saling curiga di antara umat manusia atas nama Tuhan. Agama tampaknya selalu hadir dalam wajah ganda, ambivalensi yang sulit diurai dan dimengerti lebih-lebih bila penganutnya menempatkan diri sebagai aktor dalam setiap konflik yang terjadi.
 
PERAN PENGAWAS DALAM MENINGKATKAN KINERJA GURU DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI 2 KOTAMOBAGU
Tujuan penelitian ini, yakni untuk mendeskripsikan dan menganalisis peran pengawas dalam Meningkatkan Kinerja Guru di Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Kotamobagu. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Informan penelitian ini adalah pengawas, kepala madrasah, wakmad guru, dan peserta didik. Teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitan yang diperoleh bahwa peran pengawas dalam meningkatkan kinerja guru di Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Kotamobagu, yakni dengan melakukan pembinaan terprogram dan terjadwal melalui rencana kepengawasan akademik (RKA), pengawas memberikan bimbingan, arahan, contoh merevisi, dan cara membuat dokumen 2 (Silabus dan RPP). a) Rencana Kepengawasan Manajerial (RKM), b) Rencana Kepengawasan Manajerial (RKM). Dalam melakukan pembinaan khusunya kinerja guru yakni dengan di awal semester dan akhir semester ganjil dan genap. 2) Peran pengawas dalam meningkatkan kinerja guru berdampak pada peningkatan kinerja dan kualitas guru. Pembinaan pengawas dalam meningkatkan kinerja guru dalam proses pembelajaran, membina penyusunan dokumen program tahunan dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), membina guru yang memiliki tugas tambahan dan hasil penilaian dilaporkan kepada guru yang dinilai. Rekomendasi hasil penelitian ini hendaknya Pelaksanaan pembinaan oleh pengawas dapat memberikan kontribusi penting dalam meningkatkan kinerja guru yang mengacu pada fungsi, prinsip, tujuan serta prosedur penerapan meningkatkan kinerja guru. Fokus pelaksanaan pembinaan pengawas bukan hanya terfokus pada seorang guru, tetapi pada semua guru lainnya karena semua guru sebagai tim kerja (cowokers) yang sama-sama bertujuan mengembangkan situasi yang memungkinkan terwujudnya peningkatan kenaikan pangkat dan kesejahteraan para guru.Tujuan penelitian ini, yakni untuk mendeskripsikan dan menganalisis peran pengawas dalam Meningkatkan Kinerja Guru di Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Kotamobagu. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Informan penelitian ini adalah pengawas, kepala madrasah, wakmad guru, dan peserta didik. Teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitan yang diperoleh bahwa peran pengawas dalam meningkatkan kinerja guru di Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Kotamobagu, yakni dengan melakukan pembinaan terprogram dan terjadwal melalui rencana kepengawasan akademik (RKA), pengawas memberikan bimbingan, arahan, contoh merevisi, dan cara membuat dokumen 2 (Silabus dan RPP). a) Rencana Kepengawasan Manajerial (RKM), b) Rencana Kepengawasan Manajerial (RKM). Dalam melakukan pembinaan khusunya kinerja guru yakni dengan di awal semester dan akhir semester ganjil dan genap. 2) Peran pengawas dalam meningkatkan kinerja guru berdampak pada peningkatan kinerja dan kualitas guru. Pembinaan pengawas dalam meningkatkan kinerja guru dalam proses pembelajaran, membina penyusunan dokumen program tahunan dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), membina guru yang memiliki tugas tambahan dan hasil penilaian dilaporkan kepada guru yang dinilai. Rekomendasi hasil penelitian ini hendaknya Pelaksanaan pembinaan oleh pengawas dapat memberikan kontribusi penting dalam meningkatkan kinerja guru yang mengacu pada fungsi, prinsip, tujuan serta prosedur penerapan meningkatkan kinerja guru. Fokus pelaksanaan pembinaan pengawas bukan hanya terfokus pada seorang guru, tetapi pada semua guru lainnya karena semua guru sebagai tim kerja (cowokers) yang sama-sama bertujuan mengembangkan situasi yang memungkinkan terwujudnya peningkatan kenaikan pangkat dan kesejahteraan para guru
Telaah Konsep atas Pengembangan Pendidikan Agama dalam Era Multikultural
bentuk review article dari karya Dr. M. Zaerozi, M. Ag,; Politik Pendidikan Agama dalam Era Pluralisme: Telaah Historis atas Kebijaksanaan Pendidikan Agama konfensional di Indonesia
Landasan Kurikulum Pendidikan Islam
Dalam karya ilmiah ini tujuannya untuk mengkaji kurikulum berbasis Pendidikan Agama Islam. Adapun hasil dari karya ilmiah tersebut, dapat di simpulkan bahwa tujuan pendidikan islam memiliki perbedaan dengan tujuan pendidikan lain. Diantaranya, tujuan pendidikan menurut paham pragmatisme yang menitikberatkan pemanfaatan hidup manusia di dunia. Dalam kurikulum, terdapat pengelolaan komponen perencanaan yang harus diperhatikan faktornya, yaitu tujuan, konten, aktivitas belajar, sumber dan evaluasi. Dalam implementasi kurikulum terdapat 3 tahap yaitu pengembangan program, pelaksanaan pembelajaran dan evaluasi. Untuk itu, kurikulum bukan hanya diperlukan bagi para penyusun. Tetapi haruslah dipahami bagi pengawas pendidikan dan dijadikan dasar pertimbangan oleh pelaksana kurikulum yaitu para pengawas, guru serta pihak-pihak yang berkaitan dengan tugas-tugas pengelolaan pendidika
Dialog Antara Teks, Pengarang dan Pembaca (Kajian Terhadap Relevansi Hermeneutika Gadamer Dalam Studi Hukum Islam)
Pemikiran hermeneutika Gadamer memang dianggap sangat bernuansa filososfis sehingga sering dikatakan bahwa pemikiran hermeneutika Gadamer bukan saja merupakan suatu hermeneutik filosofis tetapi juga suatu filsafat hermeneutis. Dengan kata lain, bahwa pemikiran Gadamer bukan hanya memusatkan perhatiannya pada salah satu tugas filsafat saja, yaitu teori hermeneutik tetapi juga memandang semua tema yang ada dalam filsafat dari sudut pandang tertentu yakni sudut pandang hermenutik. Dalam diskursus keilmuan, pendekatan hermeneutika masih tergolong baru dan nampak yang menggunakannya. Hal ini bukan diakibatkan oleh karena belum mengenalnya, akan tetapi sebagian golongan memang dengan sengaja menghindari penggunaannya. Alasan mendasar atas penolakan ini, karena adanya anggapan bahwa penggunaan pendekatan hermeneutika dalam kajian kritis keagamaan akan mendatangkan kesulitan. Sebut saja yang paling mudah adalah predikat relativisme atau dapat menyebabkan ”pendangkalan aqidah”
