1,721,191 research outputs found

    Warna pada lukisan Sadali

    No full text
    Kesimpulan :Setelah menganalisa seluruh data yang ada, dapat ditarik kesimpulan :a. Warna emas adalah warna yang paling digemari Sadali. Warna ini mempunyai peran yang sangat penting dalam lukisan Sadali, karena digunakan sebagai aksen yang menjadi center of interest dalam keseluruhan karya yang menjadi aksen.b. Warna tanah terutama burht umber, adalah warna penunjang yang paling disenenangi Sadali.c. Warna - warna lain, terutama vermillion, biru, hijau dan abu - abu, Walaupun sering muncul tetapi hampir tidak menimbulkan gejala apa - apaSecara keseluruahan karya Sadali, memang terkesan spritual yang sangat tinngi, yang lebih jelas lagi dalam beberapa lukisan bertuliskan ayat ayat Al; Quar'an

    Perkembangan gaya lukisan Sadali

    No full text
    Tujuan penelitian untuk mengetahui perkembangan gaya lukisan Sadali menunjukkan proses pemantapan gaya pribadinya.Lukisan Sadali pada periode 1953 s/d 1961 belum ada kemantapan, pada periode 1966 s/d 1968 masih dalam proses perkembangan ke arah kemantapan, sedangkan pada periode 1969 s/d 1981 sudah ada kemantapan dalam gaya lukisannya

    Identifikasi Seniman Modern Pada Karya Lukis Ahmad Sadali

    No full text
    Seni bukan untuk seni sendiri. Karya seni, bagi Ahmad Sadali digali dan mengekspresikan dimensi-dimensi spiritual, merefleksikan prinsip-prinsip tauhid, Inilah ciri khas pemikiran Ahmad sadali, pada aspek kreativitas seorang seniman terbentuk dari inspirasi yang kuat. Setiap inspirasi muncul yang kemudian dipadukan dengan konsep dan karakteristik sang seniman hingga menghasilkan sebuah karya. Ketika inspirasi dan kreatifitas saling berkaitan maka akan timbul pertanyaan siapakah yang menjadi inspirasi seniman Ahmad Sadali? Disamping itu juga akan timbul pertanyaan bagaimana bentuk kreativitas Ahmad Sadali?. Tinjauan pada karya Ahmad Sadali menjadi bagian yang penting selain aspek teknis dan material yang menjadi inspirasi dibalik karya Ahmad Sadali. Pemilihan karya lukis Ahmad Sadali sebagai objek penelitian didasari oleh kedekatan korelasinya dengan seniman modern. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi akan kesamaannya dalam bentuk visual yang menjabarkan seniman modern yang menjadi pengaruh pada Ahmad Sadali. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan memilih salah satu karya Ahmad Sadali sebagai objek penelitian. Karya tersebut adalah lukisan yang penulis pilih berdasarkan pendekatannya dengan aspek seniman modern. Dengan menggunakan teori kritik seni Edmund Burke Feldman sebagai alat bedah karya. Dimana teori tersebut terus mensyaratkan kehadiran lukisan Ahmad Sadali yang lain sebagai pembanding namun pembahasan tetap fokus pada satu karya. Hasil dari kajian menunjukan bahwa pengaruh seniman modern pada karya Ahmad Sadali teridentifikasi pada tiga periode berkesenian yaitu pada periode kubistis, periode abstrak dan periode abstrak meditatif. Secara umum adopsi dari berbagai gaya seniman modern adalah aspek pada asas visual dan variasi meliputi bentuk garis dan warna, karakter dari garis yang membedakan setiap objek dan pada asas variasi menurut tema, meliputi bentuk lain seperti penambahan material, serta ciri khas dekoratif dengan tujuan membentuk asas kesatuan utuh dalam sebuah lukisan. Hasil analisis tersebut menunjukan bahwa terdapat keragaman strategi yang diambil dari pengaruh seniman modern oleh pelukis Ahmad Sadali, tidak lagi hanya mengadopsi perspektif dari gaya kubistik maupun abstrak, namun justru meniru visual lain dan digabungkan dengan perspektif gaya abstrak meditatif Ahmad Sadal

    Strategi pemasaran informasi Pameran Seabad Sadali Selasar Sunaryo Art Space

    No full text
    Selasar Sunaryo Art Space , salah satu galeri seni terkemuka di Kota Bandung menggelar Pameran Seabad Sadali sebagai bentuk penghormatan pada Ahmad Sadali. Dalam memperkenalkan karya dan koleksi dari Pameran Seabad Sadali diperlukan strategi Pemasaran Informasi untuk menarik pengunjung. Maka, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam mengenai strategi Pemasaran Informasi yang dilakukan oleh Selasar Sunaryo Art Space  terhadap Pameran Seabad Sadali. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus serta teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan wawancara dengan teknik in-depth interview, observasi, dan studi literatur. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Pameran Seabad Sadali berhasil menerapkan strategi pemasaran informasi yang meliputi analisis lingkungan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pada Pameran Seabad Sadali. Keempat elemen ini saling melengkapi dan menciptakan sinergi yang kuat dalam menyampaikan pesan kepada target audiens. Dengan pendekatan ini, pameran mampu meningkatkan kesadaran dan minat masyarakat, sehingga berhasil menarik perhatian luas terhadap seni dan warisan Sadali. Meskipun pameran dihadapkan pada berbagai tantangan dan kendala, pelaksanaan Pemasaran Informasi yang strategis dan efektif memungkinkan pameran tetap mencapai tujuan utamanya. Kesimpulannya, Selasar Sunaryo Art Space  berhasil menerapkan pemasaran informasi yang informatif dan edukatif dengan membuat kebaruan strategi yang terletak pada penggunaan pendekatan multisektor dengan melibatkan bidang seni, edukasi dan media sehingga dapat menjangkau audiens yang luas dalam penyebaran informasi

    Peran Ahmad Sadali dalam perkembangan Seni Lukis di Indonesia tahun 1953-1987

    No full text
    Ahmad Sadali merupakan seorang pelukis asal Garut yang lahir pada tanggal 29 Juli 1924, darah seni yang dimiliki oleh Sadali sudah ada sejak kecil dikarenakan ia tumbuh dan besar di wilayah pembatik dan tinggal bersama neneknya yang juga merupakan pengrajin batik, sehinggga sedari kecil terbiasa dengan suasana kesenian dan kepekaan atas bahan-bahan warna yang beraneka ragam. Ayahnya bernama H. Mohammad Djamhari yang merupakan seorang pengusaha batik dan percetakan di Garut. Selain merupakan saudagar batik terkemuka H. M Djamhari merupakan tokoh pendiri Muhammadiyah Garut. Berada dilingkungan keluarga dan masyarakat yang kental dengan suasana keagamaannya, sosok Ahmad Sadali tumbuh menjadi seorang yang religius, walaupun tidak pernah menjalani pendidikan agama secara khusus (Pesantren). Namun sejak kecil Ahmad Sadali dididik dan ditanamkan bagaimana menjalani kehidupan sehari-hari secara Islami. Ahmad Sadali juga disamping merupakan tokoh kesenian juga merupakan tokoh sosial keagamaan yang jarang dibahas. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui biografi Ahmad Sadali, perjalanan karir dan pendidikannya serta peranannya dalam perkembangan seni lukis di Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode historis, yang memiliki beberapa tahapan diantaranya heuristik, yakni mengumpulkan sumber-sumber, kritik yaitu menganalisis sumber dengan dua tahap (intern dan ekstern), interpretasi (penafsiran), serta historiografi yaitu penulisan sejarah. Hasil dari penelitian ini memaparkan adanya peranan Ahmad Sadali dalam perkembangan seni lukis di Indonesia yaitu pada masa pertumbuhan ketiga sesudah tahun 1960 dimana Ahmad Sadali merupakan salah satu pencetus seni lukis abstrak di Indonesia selain itu juga pemikiran pemikiran Ahmad Sadali mengenai religiulitas seni membuat karyanya banyak disukai penikmat seni dan menjadi gaya populer yang banyak diikuti oleh seniman lain

    Tema Islami seni lukis Ahmad Sadali

    No full text
    Karya seni lukis AAhmad Sadali lahir berdasarkan manifestasi ajaran Islam yang diterapkannya dalam kehidupan sehari-hari. lahirnya karya yang dihasilkannya dicapai sebagai Sunatullah. Ucapan rasa syukur dan zikirnya kepada Allah, sehingga semua aktifitas dalam hidupnya diserahkan dalam rangka ibadah kepada Khaliknya

    Su Fossu de Cannas Cave (Sadali, central-eastern Sardinia, Italy): the earliest deposit holding Pleistocene megacerine remains in Sardinia

    No full text
    Abstract Several cervid remains have recently been discovered in the sandy, red-coloured and strongly cemented sediment filling the uppermost cavity of the Su Fossu de Cannas Cave (Sadali, central-eastern Sardinia), cut into the Mesozoic limestone in the Barbagia of Seulo. The remains were found on the ceiling of a narrow, horizontal underground cave. The origin of this passage may be due to an ancient erosional phase (Middle Pleistocene?), which affected the sediments formerly filling up the cave, as evidenced by the erosion of the uppermost conglomerate and by the further deposition of reddish, slightly cemented sediments. The specimens analysed thus far show close morphological affinities with the endemic Sardinian megacerine “Praemegaceros” cazioti (Depéret, 1897). However, the Sadali cervid differs from the latter in its larger size, exceeding the range of variability calculated for the endemic species, and in some morphological features (such as the depth and curved corpus mandibulae), as well as in its proportionally smaller teeth and, notably, its elongated, slender metacarpal. The peculiar features of the Sadali specimens suggest its attribution to a new species. Nevertheless, for the moment, we prefer to name the Sadali cervid “Praemegaceros” n. sp., awaiting new data to present the diagnosis. The Su Fossu de Cannas cervid can be regarded as the most primitive representative of the genus “Praemegaceros” in Sardinia and the ancestor of the endemic species “Praemegaceros” caziot

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    No full text
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    No full text
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
    corecore