1,720,987 research outputs found

    RITUAL DAN NILAI ISLAMI DALAM FOLKLOR JAWA

    Get PDF
    This research is about ritual and Islamic value in Javanese folklore. The research shows that Islamic values are found in many Javanese ritual and mixed with the former ritual. The former ritual is added with Islamic values e.g. reciting Holly Quran, pray, or appeared with Islamic characters such as Nabi Sulaiman, Nabi Khidir and Syaikh Karim. The method is qualitative research method along with observation, in-depth interview, and content analysis. The Islamic rituals have growth rapidly since Islam became the ideology of Mataram Kingdom/ Kasunanan. Islam is legitimated by the story of Brawijaya (latest Majapahit’s king) who believe and convert to Islam and change his name to be Sunan Lawu. The forms of Islamic ritual are sadranan (ritual in cemetery), reciting Yaasin together, praying, marriage ritual, and grebeg in Kasunanan Palace

    Konsep Pengobatan Tradisional Menurut Primbon Jawa

    Get PDF
    Sistem pengobatan dapat dimasukkan ke dalam unsur sistem pengetahuan suatu bangsa yang dalam realisasinya dapat dimasukkan ke dalam unsur teknologi. Kebudayaan Jawa mempunyai sistem pengetahuan pengobatan yang sudah ratusan tahun digunakan oleh masyarakat Jawa, yakni sebelum masuknya teknikteknik kedokteran modern. Sistem pengobatan tersebut disebut sebagai sistem pengobatan tradisional. Tulisan ini membatasi pada obat-obat tradisonal yang terdapat dalam primbon mengingat bahwa primbon sampai dewasa ini masih fungsional. Di samping itu, beberapa primbon sampai saat ini belum memasyarakat karena ditulis dalam huruf yang sudah digunakan secara luas (huruf Jawa) dalam jumlah eksemplar yang terbatas dan hanya tersimpan di museum tertentu. Di samping itu, bagi kebanyakan bangsa Indonesia, bahasa primbon sukar dipahami karena menggunakan bahasa daerah

    Literary Tourism: Elevating the Potential of Literature to Increase Tourist Attractions

    Get PDF
    Literary studies have always been critical, particularly with the rise of critical theories such as poststructuralism, postmodernism, deconstruction, and postcolonialism. This study employs a library method, which comprises collecting and evaluating relevant material. The presence of literary tourism studies provides not only objective thinking abilities, but also new avenues for developing new objects of study that have previously lacked a clear structure or target audience. The introduction of this literary tourism works is intended to encourage the creation of new interests in examining literature from new aspects, thereby improving the creativity and originality of literary studies

    Pemanfaatan Folklor Surakarta bagi Pengembangan Pariwisata

    Get PDF
    Penelitian ini adalah penelitian multiyears. Tujuan penelitian ini ialah menggali folklor yang berkembang di wilayah Surakarta dan sekitarnya yang kemudian digunakan sebagai sarana interpretasi pariwisata di kota Surakarta yang diharapkan dapat mengembangkan secara optimal aktivitas pariwisata di kota Surakarta. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif-eksploratif. Dengan variabel folklor untuk pengembangan pariwisata. Target penelitian ini ialah mencari bahan-bahan baru dengan tujuan menemukan kaitan-kaitan yang dapat diubah menjadi hipotesis-hipotesis. Hipotesis yang dimunculkan berupa hipotesis alternatif yang berkaitan dengan folklor dan pengembangan pariwisata Surakarta. Penelitian menemukan bahwa Folklor Surakarta terdiri dari 3 jenis, yaitu (1) Foklor lisan, (2) Folklor sebagian lisan, dan (3) Folklor bukan lisan. Folklor lisan terdari dari Folklor yang berhubungan sejarah (misalnya boyong kraton ke Solo), sejarah peristiwa lokal (cerita Joko Pabelan dan Kyai Bathang), Folklor tentang seorang tokoh (Ranggawarsito), Foklor tentang kejadian suatu tempat (Mata air Kyai Konang), Bahasa Rakyat (krama dan ngoko), dan Nyanyian rakyat. (Dalam kenyataan masing-masing folklore tersebut saling overlapping). Foklor sebagian lisan terdiri dari berbagai aktivitas seperti Ketoprak, Wayang Wong, Wayang Kulit, dan Mainan anak-anak. Folklor bukan lisan di Solo terdiri dari berbagai jenis makanan khas yang sulit didapat di tempat lain seperti sate buntel, intip, karak, tengkleng, gudangan, dan lain-lain. Folklor jenis ini sebagian memang ada di tempat lain tetapi memiliki versi yang berbeda dalam cara mengolah, penyajian, dan bahan. Terdapat juga jenis folklor bukan lisan lainnya ialah Jenis bangunan: joglo, kraton, masjid, dan tradisi seperti Tradisi: brokohan, ruwatan, puputan, dan sebagainya

    Philosophy of the Pandawa Lima Hikayat from Palembang

    Get PDF
    Pandawa Lima Hikayat (the story of Five Pandawa) is a puppet show story. The Pandawa Lima Hikayat (Ml. 504) is a tale originating from Palembang. This tale is actually an adaptation of the Javanese wayang story. However, this tale displays a Malay philosophy. This tale tries to deviate from the Mahabharata story or wayang story by changing several things from the story. The characters still use characters, but several other characters have changed names. The Pandawa Lima Hikayat also underwent a transformation from a wayang story into a form of a solace story. This is shown by changes in the names, motifs used, and storytelling style. For example, the solace story often brings up the creation of a kingdom from heirlooms. In this tale, the creation of the kingdom is carried out by the character Arjuna through a kind of samadhi. There is a philosophy that Batara Guru is not the ruler of the universe, because in this case Batara Guru cannot do his own will, even the woman loved by Batara Guru can be taken by Arjuna. This tale also shows a change in role, such as the role of Batara Guru as a powerful God in this tale Batara Guru is defeated by a figure named Sanghyang Manang. This is a philosophy about the decline of Batara Guru\u27s status as the ruler of the gods. This tale is real evidence of the fusion of Javanese wayang culture with Malay culture, especially in Palembang

    Malay Poetry Socialization For The Nation's Moral Education

    Get PDF
    This study method seeks to understand more about the excellent moral teachings in traditional Malay poetry. This study was carried out using a moral perspective and a qualitative approach that presents and describes data objectively. The data source for this study is classical Malay poetry, which presents moral ideas that are considered to be guidance for future generations of Indonesians despite the development of time and modern living. The document approach was used to collect data in this study. The results of this study show that syair (poetry), as an old literary output, expresses high values and recommendations that have a profound connection to society. Poetry expresses the author's feelings, thoughts, or personal experiences via rhyming and rhythmic stanzas. Moral education can be instilled through the means of Malay classical poetry education. The two poems discussed in this study reflect teachings based on morality about how people must live well in order to become good individuals and how they must avoid bad behavior by imbibing and implementing moral values and teachings that are good and acceptable to society. Educators can use classical Malay poetry to socialize the values of moral education on the poems (syair) as a guiding reference for the lives of the younger generation in today's modern er

    The Prince of Diponegoro: The Knight of the Javanese War, His Profile of the Spirit and Struggle against the Invaders

    Get PDF
    Prince Diponegoro's spirit is a spirit of heroism that never goes out. His soul seemed to continue to live up to the present time. Prince Diponegoro was the leader of the Javanese resistance against Dutch colonialism in 1825-1830. Javanese environment of religion and customs which is very strict makes the Prince does not deign to return to the palace which has been incited by Dutch deception and Western culture. Although the struggle was still limited to Java, Diponegoro provided inspiration for freedom fighters. Additionally, among the Indonesian people to take up arms against the Dutch. The Diponegoro War, which was also the Javanese War, was the biggest war that the Dutch had experienced at that time. Prince Diponegoro teaches about mortality from wealth and position. The struggle in society is seen as far more valuable. Spirit of Diponegoro becomes important in strengthening our nationalism frame

    Makna Filosofis Tata Ruang dan Arsitektur Candi Sukuh dan Kaitannya dengan Teks Teks Jawa Kuna (Pendekatan Prinsip Interaksi Simbolis)

    Get PDF
    Candi Suku adalah candi yang paling menarik dari segi tata arsitektur. Candi tersebut mengambil bentuk piramida mirip dengan bentuk kuil di Inca, Meksiko atau piramit Mesir. Candi Sukuh juga memunculkan unsur-unsur Indonesia asli dan hal ini tergambar dalam relief-relief yang relief-relief tersebut bersumber dari teks-teks Jawa Kuna dan Jawa Tengahan (Garudeya, Wirataparwa, Sudamala, Bima Suci, dan Gatotkacasraya). Berdasakan hal tersebut penelitian ini secara multiyear dengan berusaha: a. Mendeskripsikan bentuk arsitektur dan tata ruang Candi Sukuh. (Tahun I) b. Mendeskripsikan makna simbolis bentuk arsitektur dan tata ruang Candi Sukuh. (Tahun II) c. Mendeskripsikan tata ruang candi Sukuh dengan teks-teks Jawa Kuna yang berkaitan (Tahun (III). Penelitian ini menggunakan pendekatan filsafat budaya untuk memahami arsitektur dan tata ruang serta makna filosofis Candi Sukuh. Strategi yang digunakan adalah strategi naturalistik, yaitu berusaha memahami konsep-konsep tersebut dari perspektif masyarakat pemiliknya. Karena masyarakat pemilik karya adiluhung tersebut sudah tidak ada, maka digunakan pendekatan komparatif, yakni dengan membandingkan dengan karya-karya sezaman. Untuk itu, pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan fenomenologi. Pendekatan ini mengakui adanya empat kebenaran empirik, yaitu keberanaran sensual, kebenaran logik, kebenaran etik, dan kebenaran transendental. Model analisis yang akan digunakan adalah model analisis interaksi simbolik. Penelitian ini menemukan bahwa Candi Sukuh dibangun pada masa pemerintahan Raja Brawijaya V bersamaan dengan masa keruntuhan Kerajaan Majapahit. Candi Sukuh memiliki tiga pelataran yaitu: pelataran “Njaba”, pelataran “Njaba Tengah”, dan pelataran “Njeroan”. Dianatara ketiga pelataran, pelataran “Njaba Tengah” merupakan pelataran yang tersempit dan memiliki benda candi paling sedikit. Karena pada pelataran ini hanya terdapat beberapa batu, tiga patung Dwarapala, dan satu batu potongan badan patung naga. Gapura menuju teras pertama merupakan gapura paduraksa, yaitu gapura yang dilengkapi dengan atap. Gapura ini merupakan gapura yang terlengkap dibanding gapura lain. Ambang pintu gapura dihiasi pahatan kala berjanggut panjang. Pada dinding sayap utara gapura terdapat relief yang menggambarkan seorang yang sedang berlari sambil menggigit ekor ular yang sedang melingkar. Relief ini bukan hanya sekedar hiasan saja namun merupakan angka tahun yang disebut sebagai sengkalan memet. Sengkalan ini berbunyi gapura buta anahut buntut . Artinya dalam bahasa Indonesia adalah “gapura raksasa menggigit ekor ular”. Kata-kata ini memiliki makna 9, 5, 3, dan 1. Jika dibalik maka didapatkan tahun 1359 Saka atau tahun 1437 Masehi . Di atas sosok tersebut terdapat pahatan yang menggambarkan makhluk mirip manusia yang sedang melayang serta seekor binatang melata. Pada sayap selatan gapura terdapat relief seorang tokoh yang ditelan raksasa. Pahatan tersebut juga merupakan sengkalan yang dibaca gapura buta mangan wong, yang artinya gapura raksasa memakan manusia. Sengkalan tersebut ditafsirkan sebagai angka tahun 1359 Saka atau 1437 M, sama dengan sengkalan pada dinding sayap utara gapura. Pada dinding luar gapura juga terdapat pahatan yang menggambarkan sepasang burung yang sedang hinggap di atas pohon, sementara di bawahnya terdapat seekor anjing, dan garuda dengan sayap terbentang sedang mencengkeram seekor ular diperkirakan memiliki kaitan dengan cerita Garudeya Di halaman depan, di luar gapura, terdapat sekumpulan batu dalam aneka bentuk. Di antaranya ada yang berlubang di atasnya, mirip sebuah lingga, dan ada yang menyerupai tempayan. Pada lantai gapura terdapat relief phalus dan vagina yang dilukiskan sangat naturalistik. Pahatan tersebut merupakan penggambaran bersatunya lingga (kelamin perempuan) dan yoni (kelamin laki-laki) yang merupakan lambang kesuburan. Saat ini sekeliling pahatan tersebut diberi pagar, sehingga gapura tersebut sulit untuk dilalui.Untuk naik ke teras pertama, umumnya pengunjung meggunakan tangga di sisi gapura. Ada keyakinan bahwa pahatan tersebut berfungsi sebagai 'suwuk' (mantra atau obat) untuk 'ngruwat' (menyembuhkan atau menghilangkan) segala kotoran yang melekat di hati. Itulah sebabnya relief tersebut dipahatkan di lantai pintu masuk, sehingga orang yang masuk ketempat suci ini akan melangkahinya. Dengan demikian segala kekotoran yang melekat di tubuhnya akan sirna. Di atas ambang pintu gapura, menghadap ke pelataran teras pertama, terdapat hiasan Kalamakara yang saat ini telah rusak berat. Pada dinding sayap utara dan selatan terdapat pahatan lelaki dalam posisi berjongkok sambil memegang senjata. Dalam Candi induk terdapat Energi Bhawa yang disimbolkan dengan arca kura-kura yang terdapat di depan candi Induk. Hal ini dipercaya masyarakat sebagai jelmaan Sang Hyang Wisnu. Sebagai sang pemelihara jagat raya. Punggung kura-kura yang datar dan bulat melingkar mengambarkan pemeliharaan jagat raya yang terus menerus tiada henti, sehingga arca kura-kura tersebut merupakan simbol energy syukur terhadap Sang Hyang Jagad atau Tuhan Yang Maha Esa. Punggung arca digunakan untuk meletakkan sesaji sebagai simbol rasa syukur. Orang Jawa biasanya mensajikan jenang merah dan jenang putih, pisang raja setangkep, air, dan disertai kembang setaman dalam bokor. Seseorang yang menginginkan keberhasilan hendaknya mensyukuri apa saja yang terjadi, karena suasana syukur merupakan energi yang sangat baik dalam kehidupan manusia. Di sebelah kiri di depan candi induk Candi Sukuh terdapat relief tapal kuda yang menggambarkan dua sosok manusia yang berhadapan. Relief ini melambangkan rahim seorang wanita yang melambangkan kejahatan dan kebaika

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Get PDF
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
    corecore