1,720,979 research outputs found
Alternatif Bahan Baku Arang Aktif
Arang aktif bisa dibuat dari berbagai jenis tumbuhan. Salah satu contohnya adalah dari biji kelor. Selain itu, bahan baku arang aktif lainnya adalah dari sampah, contohnya, dari kulit pisang, sekam
padi dan tongkol jagung. Arang aktif ini tentu saja mempunyai berbagai macam manfaat bagi kehidupan manusia dan lingkungan Penulis berharap buku ini dapat memberi tambahan ilmu pengetahuan kepada para pembaca mengenai arang aktif dan bagaimana cara membuat arang aktif sampai ke cara menguji bagaimana kualitas arang aktif tersebu
GANGGUAN KESEHATAN PADA PEMULUNG DI TPA ALAK KOTA KUPANG
Pemulung merupakan salah satu dari kelompok pekerja informal yang berisiko mengalami gangguan kesehatan akibat pekerjaannya. Penelitian ni bertujuan menganalisa gangguan kesehatan yang dialami pemulung selama bekerja di TPA Alak. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian observasional dengan rancangan cross sectional study yang dianalisis menggunakan uji chi square. Responden penelitian sebanyak 100 orang yan diambil menggunakan teknik simpel random sampling. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 10 jenis gangguan kesehatan yang dialami pemulung di TPA Alak dengan jumlah gangguan bervariasi pada setiap responden. Hasil analisis statistik diperoleh umur (p=0,000), lokasi tinggal (p=0,004), jam kerja (p=0,000) dan masa kerja (p=0,002) berkorelasi secara signifikan dengan jumlah gangguan kesehatan yang dialaminya. Kesimpulan penelitian ini adalah umur, lokasi tinggal, jam kerja, dan masa kerja berpengaruh secara signifikan terhadap jumlah gangguan kesehatan yang dialami pemulung di TPA Alak
PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN PRAKTIK HIGIENE PERORANGAN PADA ANAK PAUD PELANGI DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN PROVINSI
Knowledge of personal hygiene is very important, because good knowledge can improve health. However, knowledge alone is not enough, children must also be motivated to maintain personal hygiene. Individuals with knowledge about the importance of personal hygiene will always maintain personal hygiene to prevent illness or conditions. Lack of awareness about personal hygiene, especially in children, can increase the risk of spreading disease which results in a decrease in the child\u27s health status. The purpose of this activity is to provide an understanding of personal hygiene for children at PAUD Pelangi, the Office of Education and Culture of the Province of NTT, using counseling and question and answer methods. The results obtained showed that as many as 15 people (65%) of the 23 participants could answer the questions correctly. Most children get knowledge from teachers and parents. The results of the correct practice of washing hands with soap showed quite good results because of the 23 participants, 12 people (52%) were able to practice proper hand washing using soap and running water. Handwashing with soap can reduce diarrhea cases by almost half and respiratory infections (including pneumonia) by a quarter. This behavior also reduces the risk of other diseases, such as eye disease and skin infections. Handwashing with soap is clearly the most effective and inexpensive way of prevention, but many people don\u27t practice it. Therefore it is necessary to conduct counseling on clean and healthy living behavior (PHBS), specifically how to wash hands properly with soap to further increase the knowledge and practice of PAUD Pelangi and Tiberias children.
Pengetahuan tentang higiene perorangan sangat penting, karena pengetahuan yang baik dapat meningkatkan kesehatan. Kendati demikian, pengetahuan itu sendiri tidaklah cukup, anak-anak juga harus termotivasi untuk memelihara higiene perorangan. Individu dengan pengetahuan tentang pentingnya higiene perorangan akan selalu menjaga kebersihan dirinya untuk mencegah dari kondisi atau keadaan sakit. Kurangnya kesadaran tentang higiene perorangan khususnya pada anak - anak dapat meningkatkan risiko penyebaran penyakit yang berdampak menurunnya tingkat derajat kesehatan anak. Tujuan dari kegiatan ini yakni untuk memberikan pemahaman tentang higiene perorangan pada anak-anak di PAUD Pelangi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT dengan metode penyuluhan dan tanya jawab. Hasil yang diperoleh menujukkan bahwa sebanyak 15 orang (65%) dari 23 orang peserta dapat menjawab pertanyaan dengan benar. Sebagian besar anak – anak mendapat pengetahuan dari guru dan orang tua. Hasil praktik mencuci tangan yang benar pakai sabun menunjukkan hasil yang cukup baik karena dari 23 orang peserta sebanyak 12 orang (52%) dapat melakukan praktik mencuci tangan dengan benar memakai sabun dan air mengalir. Cuci Tangan Pakai Sabun dapat mengurangi hampir setengah kasus kejadian diare dan seperempat kasus infeksi pernafasan (termasuk pneumonia). Perilaku ini juga mengurangi risiko penyakit lainnya, seperti penyakit mata dan infeksi kulit. Cuci Tangan Pakai Sabun jelas merupakan cara yang paling efektif dan murah untuk pencegahan, namun banyak orang tidak mempraktekkannya. Oleh karena itu perlu dilakukan penyuluhan tentang perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) secara khusus cara mencuci tangan yang benar pakai sabun untuk lebih meningkatkan pengetahuan dan praktik anak-anak PAUD Pelangi dan Tiberias.
 
Sanitasi Inclusi Mewujudkan Akses Sanitasi Yang Berkeadilan
Isu sanitasi inclusi belum banyak dijadikan referensi dalam upaya sanitasi masyarakat di NTT, terutama dalam program rutin yang dikelola oleh sector teknis terkait. Buku ini secara sepintas membahas tentang sanitasi inclusi, sebagai salah satu prinsip akses sanitasi yang berkeadilan, sanitasi yang dapat dijangkau oleh semua orang, karena akses sanitasi adalah hak asasi manusia, termasuk penyandang disabilitas sekalipun
ANALISIS RISIKO KESEHATAN PAJANAN MERKURI PADA MASYARAKAT KECAMATAN BULAWA KABUPATEN BONE BOLANGO PROVINSI GORONTALO
Pencemaran merkuri di lingkungan dapat menimbulkan masalah kesehatan. Provinsi Gorontalo terdapat lebih dari 200 tromol pengolahan emas dengan merkuri yang dibuang ke lingkungan mencapai lebih dari 6.000kg/bulan. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran risiko kesehatan pajanan merkuri pada masyarakat danmanajemen risiko untuk mengurangi akibat pajanan merkuri. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian observasional dengan rancangan analisis risiko kesehatan lingkungan. Sampel penelitian ini sebanyak 100 denganmenggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukan nilai median konsentrasi merkuri dalamdarah dan rambut adalah 101,665 µg/L dan 4,075 µg/g. Rata-rata konsentrasi merkuri dalam sampel ikan dan airminum adalah 0,0298 mg/kg dan 0,000478 mg/L. Nilai median laju konsumsi ikan 0,2098 kg/hari. Nilai mediandurasi pajanan 30 tahun. Nilai median RQ untuk pajanan 30 tahun dan 70 tahun adalah 1,1477 dan 0,4919. Secaradeskriptif, laju konsumsi ikan dan durasi pajanan berpengaruh pada tingkat risiko kesehatan responden
Pengolahan Sampah Rumah Tangga Menjadi Kompos Pada Perumahan Lahan Sempit: Processing Household Waste Into Compost In Narrow Land Housing
The increase of household waste time to time leads to serious public health problem in daily life which is seriously not managed for instance the waste generated by household that would impact on pollutions and public health problems. The aim of this study is to measure the volume of generated waste and the waste volume which could be reducted by composting in household level. The mehthod of this study is an action research that conducted by measuring organic waste home composting, there are 25 houses are chosen as samples with some characteristics such as housewives as their work, collecting data is done by measuring household waste and waste management by tube system. The study results shows the volume waste generation of 25 houses resulted 366 litre per day. The waste volume can be reduced drastically to be compost to the level 52 litre per day. Therefore, if organic waste management is done by people in 264 units of simple houses /Rumah Sangat Sederhana (RSS) of Baumata Village , then organic waste could be reduced until 549 litre per day. The drastic waste reduction system is by planting the tube underground which the number of tubes per house is 10 pieces. The quantity of an organic waste which is generated by simple houses /Rumah Sangat Sederhana (RSS) of Baumata Village is 14.782 litre per day. Meanwhile household waste transportation is carried out once in every 3 days and the increase of waste volume until 10% then the 3 units of temporary waste disposal Centre (TPSS) needs with 3m3 the size of TPSS at the simple houses in Baumata Village. There was no TPSS found in the simple houses of Baumata Village and the community disposed of the waste both around their houses and outside the housing complex. This has an impact on disturbing esthetics and lead to breeding place for disease vectors and nuisance animals which lead to public health problems. The conclusion of this study is both organic Waste and inorganic waste volume generation from the household reached 366 liters per day and it can be reduced until 52 liters per day
PENGGUNAAN BAHAN BAKAR DAN FAKTOR RISIKO KEJADIAN ISPA PADA BALITA DI KELURAHAN SIKUMANA
Penggunaan bahan bakar dalam rumah tangga menjadi salah satu faktor penyebab kejadian ISPA pada balita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan bahan bakar dan faktor risiko kejadian ISPA pada balita di kelurahan Sikumana.
Penelitian ini bersifat deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah semua balita yang menderita ISPA di kelurahan sikumana pada bulan Juni tahun 2013 dengan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 100 orang balita.
Hasil penelitian menunjukan bahwa jenis-jenis bahan bakar yang paling banyak digunakan pada rumah penderita ISPA adalah minyak tanah dan kayu api. Rata-rata jumlah bahan bakar yang dalam rumah tangga adalah minyak tanah sebanyak 5 l/minggu dan kayu api sebanyak 10 ikat/minggu. Faktor risiko kejadian ISPA yang paling dominan adalah letak dapur yang dekat dengan ruang sebesar 100%, diikuti oleh kebiasaan ibu membawa anak saat memasak sebesar 96%dan terdapat asap dalam rumah ketika memasak sebesar 74%.
Masyarakat disarankan untuk mengurangi penggunaan bahan bakar yang banyak mengeluarkan asap, menjauhkan dapur dari ruang keluarga dan tidak membawa anak ke dapur ketika memasak dan membuat ventilasi rumah yang memenuhi syarat
Kombinasi Metode Anaerob dan Aerob Pada Septiktank Untuk Menurunkan Kadar BOD, TSS dan Coliform Pada Limbah Cair Rumah Tangga
Penggunaan septiktank konvensional dengan metode pengolahan anaerob ternyata masih belum optimal dalam menurunkan parameter pencemar dalam limbah rumah tangga. Oleh karena itu perlu dibuatkan suatu sitem pengolahan modifikasi pada septiktank sehingga fungsi septiktank dalam mengolah limbah rumah tangga menjadi lebih optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas kombinasi metode anaerob dan aerob pada septiktank untuk menurunkan kadar BOD, TSS dan Coliform pada limbah cair rumah tangga. Penelitian ini bersifat eksperimen dengan rancangan penelitian one group pre test post test. Variabel yang digunakan adalah Efektifitas pengolahan untuk BOD, Efektifitas pengolahan untuk TSS dan Efektifitas pengolahan untuk Coliform. Obyek dalam penelitian ini adalah limbah cair rumah tangga. Data utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah hasil pemeriksaan laboratorium terhadap kandungan BOD, TSS dan Coliform pada sampel limbah rumah tangga, baik sebelum maupun sesudah pengolahan. Data diolah dan dianalisa secara deskriptif dan statistic. Hasil penelitian menunjukan bahwa parameter BOD terjadi penurunan konsentasi dari 185,2 ppm menjadi 141,4 ppm. Untuk parameter TSS terjadi penurunan konsentasi dari 417 ppm menjadi 44,8. Parameter Coliform, juga terjadi penurunan konsentrasi dari 65.300 koloni menjadi 50.940 koloni. Hasil penelitian juga menunjukan bahwa septiktank yang diuji memiliki efektivitas untuk menurunkan kandungan BOD sebesar 23,6%, untuk menurunkan kandungan TSS sebesar 89,2% dan untuk menurunkan kandungan coliform sebesar 22%. Secara stastistik, kombinasi sistem aerob dan anaerob pada tank efektif dalam menurunkan kandungan BOD, dan Coliform pada limbah cair rumah tangga
MANAJEMEN PENANGANA LIMBAH MEDIS DI PUSKESMAS OEKABITI
Fasilitas layanan kesehatan tingkat pertama atau Puskesmas adalah adalah tempat untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan tingkat pertama, dengan demikian ada limbah yang dihasilkan dari pelayanan kesehatan tersebut. Limbah medis adalah limbah yang berasal dari pelayanan medik, perawatan gigi, farmasi penelitian, pengobatan,perawat atau Pendidikan,yang menggunakan bahan beracun, infeksius, atau membahayakan kecuali jika dilakukan pengamanan tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengelolaan limbah medis yankes yang ada di puskesma Oekabiti. Jenis penelitian ynag digunakan adalah penelitian deskrtitif yaitu untuk menggambarkan pengelolaan limbah medis yang ada di puskesmas Oekabiti, objek peneltian adalah puskesmas Oekabiti. Variabel dalam penelitian ini adalah laju timbulan limbah medis, pewadahan limbah medis, penyimpanan limbah medis dan pengolahan limbah medis. Hasil penelitian menunjukan rata-rata laju timbulan limbah medis di setiap ruangan penghasil limbah medis adalah 2 kg/hari/ruangan, Pewadahan limbah medis masuk kategori memenuhi syarat 78 % dan tidak memenuhi syarat 22 %, Variabel Penyimpanan limbah medis dari 28 persayratan maka kategori memenuhi syarat 64% dan tidak memenuhi syarat 36 %. Pengolahan limbah medis dari 8 item persyaratan kategori memenuhi syarat 100 % dan tidak memenuhi syarat 0%. Disarankan agar memperhatikan ruang penyimpanan limbah medis agar selalu memperhatikan keadaan ruangan penyimpanan, kapasitas dan lama penyimpanan serta memperhatikan limbah yang akan diolah secara internal agar memperhatikan syarat pengolahan limba
Uji Efektivitas Pemanfaatan Biji Kelor (Moringa Oleifera) Untuk Menurunkan Salinitas Pada Air Sumur Gali
Salinitas merupakan kadar garam terlarut dalam air yang dapat mempengaruhi kualitas air bersih, khususnya di wilayah pesisir. Salinitas yang tinggi dalam air sumur gali dapat disebabkan oleh intrusi air laut serta aktivitas manusia di sekitar sumber air.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas biji kelor untuk menurunkan salinitas pada air sumur gali. Penelitian ini adalah pre eksperimen dengan menggunakan rancangan one group pretest-postest desigt dengan variabel yang digunakan dosis serbuk biji kelordan salinitas air sumur gali. Dosis serbuk biji kelor yang digunakan adalah 1 gr/ 500 ml , 2 gr/ 500 ml, dan 3 gr/ 500 ml. Data dalam penelitian ini dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukan bahwa efektivitas penurunan salinitas air sumur gali menggunakan serbuk biji kelor dengan dosis 1 gr/ 500 ml air yaitu 53,33%, dosis 2 gr/ 500 ml air yaitu 51,78%, dan dosis 3 gr/500 ml air yaitu 60%. Dapat disimpulkan bahwa Serbuk biji kelor terbukti efektif dalam menurunkan kadar salinitas air sumur gali. Penelitian ini menjadi langkah awal bagi masyarakat untuk mengenal dan pemanfaatkan bahan alami dalam mengatasi masalah air asin, terutama di daerah pesisir yang rentan terhadap intrusi air lau
- …
