68 research outputs found

    PELUANG PENGEMBANGAN SMART CITY UNTUK MEWUJUDKAN KOTA TANGGUH DI KOTA SEMARANG (Studi Kasus: Penyusunan Sistem Peringatan Dini Banjir Sub Drainase Beringin)

    No full text
    Kota tangguh menjadi metafora baru yang banyak diperdebatkan oleh para perencana dan peneliti kota dalam upaya menjamin keberlanjutan. Konsep ini mengusulkan 2 kerangka konsep yaitu model ekuilibrium dan model non-ekuilibrium. Perbedaan kedua model ini adalah cara kota untuk beradaptasi terhadap bahaya yang dihadapi. Di model keseimbangan/ ekuilibrium, sistem kota harus memiliki titik acuan sebagai orientasi tujuan pembangunan kota. Jika terdapat gap antara dokumen perencanaan dan hasil pembangunan, perencana kota dapat mengembalikan proses perencanaan sesuai tujuan perencanaan dan pembangunan. Di sisi lain, model non-ekuilibrium menawarkan sistem adaptasi. Dalam perspektif non-ekuilibrium, ketahanan diartikan sebagai kemampuan sistem kota untuk beradaptasi dan menyerap perubahan dari internal maupun eksternal. Terdapat kebutuhan baru dalam mengelola kota yaitu respon cepat, data yang akurat dan real time. Konsep kota pintar/ smart city menawarkan sebuah solusi melalui penyediaan data real time dan menjadi penghubung antara intervensi top-down dengan partisipasi bottom-up. Kota pintar tidak hanya menyediakan sistem informasi dan teknologi, namun juga mendukung modal intelektual. Artikel ini menggunakan studi literature melalui perbandingan 2 konsep literature yaitu smart city dan kota tangguh/ resilience city. Dari pembahasan diketahui bahwa smart city dapat mendukung kota untuk bisa bertahan melalui sistem peringatan dini. Sistem ini dapat meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengetahui bahaya dan mendukung upaya yang harus dilakukan secara mandiri.[The Opportunities of Smart City Development to Realize the Resilient City in Semarang (Case Study: Flood Early Warning System in Beringin Sub-Drainage] City of resilience become to a new metaphor that debated by researcher and urban planner to manage its city in order to ensure sustainability. This concept suggests 2 conceptual frameworks: equilibrium or isolation model and non-equilibrium model. The differences of both models are the way of city to adapt from disturbance. In equilibrium model, urban system must own end point or terminal as city orientationor goal. If any gap between planning document and development result, urban planner has to restore the development process into its plan or end point. On the other hand, non-equilibrium model offers adaptation system. In non-equilibrium perspective, resilience is the ability of an urban system to adapt and adjust to changing internal or external processes. There is a new necessity to manage city i.e. quick response, adequate data and correct according real time data. Smart City offers a solution to provide real time data and bridging between top-down intervention and bottom-up participation. Smart city doesn’t only provide information system and technology, yet its concept can support intellectual capital. This article used literature study through compare 2 conceptual theoretical framework i.e. smart city and resilience city. From this discuses found out that smart city can support city to be resilience with early warning system. This system can improve human ability to know a circumstance and action to evacuation. </p

    PERGESERAN POLA MOBILITAS PENDUDUK AKIBAT INTERAKSI KOTA SALATIGA DAN KOTA SEMARANG

    No full text
    Pertumbuhan kota-kota yang semakin pesat ditandai dengan adanya “tekanan” urbanisasi yang berupa makin padatnya daerah-daerah slums, kongesti lalu lintas, adanya pengangguran di kota-kota, dan banyaknya perumahan liar di daerah pinggiran kota. Persoalan ini menunjukkan perlunya keseimbangan antara daerah urban dan daerah rural (Soegijoko, 1997). Keseimbangan tersebut diperoleh melalui interaksi, dan di dalam interaksi terdapat proses “transfer” baik berupa penduduk SDM, SDA, dan komponen pendukung lainnya (Pontoh dan Kustiwan, 2009)

    MENGATUR DESA WISATA: PERAN TOKOH MASYARAKAT MEMBANGUN INISIATIF KOLEKTIF DALAM PENGEMBANGAN PARIWISATA BERBASIS KOMUNITAS

    No full text
    The phenomenon of the continuous development of rural tourism in Indonesia is not balanced by skill capacity and professional knowledge on the managers. By self-taught and learning by doing they proceed to realize the rural tourism to capitalize local resources in order to improve their welfare. Community leaders as key figures in village development have an important role in mobilizing people to marketing (the village). The importance of community leaders is the goal of this article, focusing on the role of community leaders in the management of community-based tourism. The case study was taken from the management of Kaligono Tourism Village in Purworejo Regency which is one of the best national rural tourisms according to the Ministry of Tourism and Creative Economy in 2014. Using qualitative methods by selecting interviewees as the informants through snowballing, this article provides information on the role of community leaders in managing the rural tourism, learning and building collective initiatives for rural tourism management. Despite the the low skill and professional knowledge, the community is able to manage the rural tourism by relying on the power of social cohesion to create collective initiatives

    IDENTIFIKASI PERUBAHAN PERUMAHAN DI PERUMAHAN BUMI WANAMUKTI, KOTA SEMARANG

    No full text
    Perumahan Bumi Wanamukti merupakan perumahan yang terdapat di Kecamatan Tembalang. Perumahan ini merupakan perumahan yang dibangun oleh Real Estate, mulai huni sekitar tahun 1986 yang terdiri dari empat tipe yaitu tipe 36, 48, 57 dan 70. Perubahan dilakukan tidak hanya pada rumahnya tetapi juga perubahan pada sarana, prasarana dan utilitas umum. Perubahan tersebut menimbulkan dampak ketidaknyamanan terhadap kondisi perumahannya selain itu perubahan tersebut banyak melanggar peraturan yang telah ditetapkan untuk perumahan di Kota Semarang. Berdasarkan pada permasalahan di atas, penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi perubahan perumahan dari karakteristik penghuni, perubahan rumah, sarana, prasarana dan utilitas umum. Pertanyaan penelitian yang dapat dirumuskan adalah “Bagaimana perubahan perumahan di Perumahan Bumi Wanamukti?”. Penelitian untuk mengetahui perubahan perumahan di Perumahan Bumi Wanamukti ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif dan analisis faktor. Dilihat dari perubahan rumah yang dilakukan penghuni Perumahan Bumi Wanamukti pada rumah tipe 36, 48, 57 dan 70 sebagian besar adalah perombakan. IMB sebagai salah satu instrumen pengendalian pemanfaatan ruang dirasa kurang berhasil jika dilihat dari hasil analisis, untuk faktor-faktor yang terbentuk pada kempat tipe rumah memiliki kesamaan untuk faktor pertama yang terbentuk adalah dari variabel peningkatan penghasilan. Sedangkan dilihat dari perubahan sarana sebagian besar perubahan lebih kepada kuantitas dimana sarana olahraga yang tersedia menjadi berkurang karena adanya perubahan fungsi, untuk prasarana perubahan terjadi lebih kepada kualitas yang menurun, dan untuk perubahan utilitas umum perubahan terlihat pada kebutuhan penghuni yang meningkat. Sedangkan untuk faktor perubahan sarana, prasarana dan utilitas umum memiliki kesamaan untuk faktor yang terbentuk adalah faktor kondisi pembuangan limbah. Dapat disimpulakan bahwa perubahan rumah memberikan dampak besar terhadap perubahan perumahan, jika dilihat dari bentuk dan faktor perubahan rumah tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada setiap tipe rumah

    PENGARUH KEGIATAN PARIWISATA GOA PINDUL TERHADAP PERUBAHAN MATA PENCAHARIAN DI DESA BEJIHARJO, KABUPATEN GUNUNGKIDUL

    No full text
    Pariwisata merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia.Pariwisata saat ini telah menjadi sebuah industri yang menjadi salah satu sumber pendapatan terbesar sebuah negara.Pariwisata berkembang dengan cepat seiring berjalannya waktu.Hal tersebut dipengaruhi oleh berbagai sumber daya yang dimiliki dan meningkatnya minat masyarakat untuk berwisata.Salah satu bentuk pariwisata yang dibuat oleh masyarakat desa adalah desa wisata.Desa wisata terbentuk dan berkembang dikarenakan adanya kemauan dari masyarakat dan didukung oleh sumber daya yang tersedia.Aktivitas yang dilakukan masyarakat dalam mengembangkan desa wisata dapat bermanfaat bagi meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat desa itu sendiri

    PENILAIAN KINERJA OBJEK WISATA TAMAN MARGASATWA MANGKANG BERDASARKAN PERSEPSI PENGUNJUNG

    No full text
    Kota Semarang memiliki banyak potensi pariwisata dengan kinerja cukup baik yang ditunjukan oleh peningkatan jumlah kunjungan wisatawan setiap tahunya. Taman Margasatwa Mangkang menjadi salah satu objek wisata andalan Kota Semarang yang dikembangkan dengan fungsi utama konservasi dan edukasi melalui atraksi penangkaran hewan, serta rekreasi sebagai fungsi pendukungnya. Pengembangan Taman Margasatwa Mangkang memiliki potensi yang cukup besar, karena belum terdapat kebun binatang di wilayah utara Jawa Tengah. Motivasi utama wisatawan mengunjungi kebun binatang adalah untuk rekreasi keluarga dan melihat berbagai macam hewan, sehingga lingkungan kebun binatang sangat mempengaruhi persepsi pengunjung. Persepsi dapat diukur melalui kepuasan pengunjung sebagai salah satu indikator keberhasilan dalam kinerja pariwisata. Terdapat permasalahan pada pengembangan, pengelolaan, serta implementasi pembangunan di Taman Margasatwa Mangkang yang berpengaruh terhadap kinerja Taman Margasatwa Mangkang sehingga terjadi fluktuasi jumlah pengunjung setiap tahun

    Sistem informasi lahan berbasis kepemilikan: pendukung instrumen pengendalian pemanfaatan ruang? (Studi Kasus: Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah)

    No full text
    Artikel ini memberikan alternatif pendukung instrumen pengendalian perubahan guna lahan menggunakan sistem informasi geografis berbasis kepemilikan. Perubahan guna lahan perkotaan menjadi konsekuensi pertumbuhan kota yang tidak terkontrol. Instrumen pengendalian pemanfaatan ruang yang terdiri dari peraturan zonasi, insentif dan disinsentif, sanksi dan perijinan tidak efektif bekerja. Salah satu persoalan dasar yang menyebabkannya adalah pertumbuhan kota ini berjalan secara informal, yaitu masyarakat mengubah peruntukan lahannya tanpa sepengetahuan dan seiijin pemerintah. Sehingga, perencanaan dan pembangunan kota formal tidak selaras dengan pertumbuhan kota yang terjadi di lapangan. Persoalan ini disinyalir sebagai konsekuensi dari perencanaan dan pengendalian tata ruang yang masih mengesampingkan kepemilikan lahan. Di sisi lain, masyarakat melakukan proses pembangunan mengikuti mekanisme pasar untuk memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan mereka. Untuk itu studi ini berusaha memberikan alternatif instrument pengendalian perubahan guna lahan sehingga dapat disinergikan dengan kebijakan pengendalian pemanfaatan ruang formal. Kata kunci: sistem informasi lahan, instrumen pengendalian alih fungsi laha

    PERAN LOCAL CHAMPION DALAM PENGEMBANGAN COMMUNITY BASED TOURISM DI DESA WISATA CANDIREJO, MAGELANG

    No full text
    Desa Wisata Candirejo merupakan salah satu desa wisata yang menerapkan konsep pariwisata berbasis masyarakat. Keterlibatan masyarakat, pemerintah, dan stakeholder menjadi sangat penting. Pihak yang secara aktif dalam pengembangan desa wisata disebut local leader/local champion sehingga muncul pertanyaan “bagaimana peran local champion dalam pengembangan desa wisata Candirejo?” Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif melalui wawancara mendalam (depth interview) kepada narasumber. Metode snowballing dianggap sebagai metode yang sesuai, karena sampel yang digunakan adalah masyarakat/pihak yang benar-benar dinilai memiliki pengetahuan lebih terhadap objek yang diteliti. Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan ada 2 yaitu:  1) pengumpulan data primer, dengan melakukan observasi dan wawancara; 2) pengumpulan data sekunder, yaitu dengan melakukan kajian literatur, telaah dokumen. Hasil penelitian yang diperoleh peran Local Champion pada pengembangan pariwisata berbasis komunitas di Desa Wisata Candrejo yaitu sebagai motivator, mobilisator, mediator, dan fasilitator. Peran Local Champion pada desa wisata yang menerapkan community of development tampak pada pengembangan sumberdaya alam dan sumber daya manusia. Kekayaan sumber daya alam dan budaya menjadi salah modal utama dalam pengembangan desa wisata. Masyarakat dituntut menciptakan usaha baru guna meningkatkan perekonomian. Dengan adanya kegaitan wisata, perekonomian masyarakat meningkat, interaksi sosial semakin erat, serta lingkungan semakin terjaga, sekaligus melestarikan budaya.  

    TINGKAT KEBERDAYAAN MASYARAKAT KELURAHAN TANDANG KECAMATAN TEMBALANG DALAM MENDUKUNG BANK SAMPAH SRIKANDHI KOTA SEMARANG

    No full text
    Pengolahan sampah berbasis masyarakat saat ini merupakan alternatif pengelolaan sampah di bagian hulu. Pengolahan sampah oleh masyarakat tersebut dilakukan dengan menabung sampah atau disebut bank sampah. Solusi untuk mengatasi permasalahan sampah menurut salah satunya dengan menambah ketersediaan bank sampah. Menurut Semarang Dalam Angka Tahun 2015, Kota Semarang menghasilkan timbulan sampah sebanyak 1,207 m setiap harinya

    TINGKAT KERENTANAN MASYARAKAT TERHADAP BENCANA BANJIR DI PERUMNAS TLOGOSARI, KOTA SEMARANG

    No full text
    Perumnas Tlogosari merupakan salah satu perumahan skala besar di Kota Semarang yang terdampak persoalan ekologi kota, yaitu banjir. Persoalan ekologi ini terjadi bersamaan dengan peningkatan pertumbuhan penduduk sekitar 1,4% pertahunnya, yang menjadikan pertumbuhan Kota Semarang mengarah pada kondisi rentan. Oleh sebab itu sangat perlu untuk mewujudkan Kota Semarang sebagai kota tangguh dengan melakukan penilaian tingkat kerentanan, karena hasil dari penilaian kerentanan tersebut dapat menjadi tolak ukur pencapaian sebuah kota tangguh. Penelitian ini dilakukan untuk menilai tingkat kerentanan masyarakat di Perumnas Tlogosari dalam menghadapi banjir pada saat siang dan malam. Penilaian kerentanan ini dibedakan berdasarkan waktu, karena ada perbedaan jumlah masyarakat yang berada di rumah pada saat siang dan malam. Penilaian kerentanan dilakukan menggunakan metode kuantitatif dengan teknik analisis skoring pembobotan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kerentanan siang masyarakat lebih tinggi, dibandingkan kerentanan malam. Hal ini dibuktikan dengan penurunan jumlah masyarakat di kuadran 3 dan 5 pada saat malam, diikuti dengan kenaikan jumlah masyarakat di kuadran 1 dan 2 sebesar 2-3%. Banyaknya masyarakat yang berada di kuadran 1, 2 dan 3 mengartikan bahwa masyarakat berada pada selang toleransi dari kemampuan mereka dalam menghadapi banjir. Oleh karena itu, masing-masing rumah tangga telah berketahanan dalam menghadapi banjir
    corecore