1,720,968 research outputs found

    FORMULASI PROPORSI STYROFOAM TERHADAP PASIR MERAPI DAN PENGARUHNYA PADA KUAT TEKAN DAN KUAT LENTUR BATAKO RINGAN

    Get PDF
    Pada saat ini, dunia konstruksi mengalami perkembangan yang pesat. Inovasi terhadap bata sebagai bahan bangunan banyak dilakukan. Hal ini karena bata konfensional cukup berat dengan berat volume lebih besar dari 1850 kg/m3. Batako ringan dihasilkan dengan mencampurkan material ringan ke dalam batako yaitu styrofoam. Styrofoam merupakan material ringan yang banyak dihasilkan dari barang buangan sehingga mudah diperoleh. Penelitian ini mencoba membuat batako ringan dengan mencampurkan bahan ringan styrofoam ke dalam batako. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui formulasi proporsi,berat volume, kuat tekan, dan kuat lentur dari batako styrofoam. Batako dibuat dari campuran semen, pasir, dan styrofoam. Proses pembuatan batako dilakukan dengan menggantikan volume agregat terhadap styrofoam sebesar 15%, 30%, 45%, dan 60%. Benda uji kuat tekan berupa silinder sedangkan benda uji kuat lentur berupa balok. Klasifikasi kuat tekan dilakukan menurut SNI 03-0349-1989. Hasil pengujian sampel silinder tanpa Styrofoam dan sampel silinder dengan penggantian volume styrofoam sebesar 15%, 30%, 45%, dan 60% menghasilkan berat volume yaitu 2052,92 kg/m3, 1866,58 kg/m3, 1639,01 kg/m3, 1396,26 kg/m3, dan 1044,68 kg/m3. Kuat tekan rata-rata setiap variasi silinder sebesar 8,703 MPa, 7,160 MPa, 6,012 MPa, 4,881 MPa, dan 2,876 MPa. Kuat Lentur rata-rata setiap variasi balok sebesar 1,810 MPa, 1,552 MPa, 1,495 MPa, 1,301 MPa, dan 0,883 MPa. Sesuai dengan hasil pengujian, batako dengan rasio styrofoam 30% dan 45% mempunyai kekuatan yang memenuhi klasifikasi III (SNI 03-0349-1989). Dengan memilih yang ringan dari 2 variasi batako, variasi styrofoam 45% yang paling sesuai untuk direkomendasikan

    EVALUASI KUAT LENTUR BETON BERTULANG BAMBU

    Get PDF
    Beton bertulang bambu merupakan alternatif konstruksi yang semakin diperkenalkan di dunia teknik sipil, terutama dalam rangka meningkatkan keberlanjutan dan efisiensi biaya. Selama sepuluh tahun belakangan telah banyak penelitian yang menggabung berbagai formula guna mendapatkan standar yang pas dan bisa digunakan selutuh manusia di dunia. Penelitian ini mengkaji implikasi kuat lentur beton bertulang bambu, yang menggabungkan dua material berbeda, beton sebagai bahan struktur utama dan bambu sebagai material penguat. Dalam penelitian ini, fokus diberikan pada kekuatan lentur beton bertulang bambu, serta pengaruh bambu terhadap kinerja struktural komposit ini dalam berbagai kondisi beban. Pengujian material dilakukan terlebih dahulu, kemudian job mix design menggunakan metode Standar Nasional Indonesia tahun 2000. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beton bertulang bambu memiliki potensi yang signifikan dalam meningkatkan daya dukung lentur, dengan keuntungan ekologis dan ekonomis, meskipun memerlukan penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh bambu terhadap ketahanan jangka panjang dan keawetan material. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa beton normal memiliki kekuatan lentur maksimum rat-rata sebesar 3,89 MPa, beton bertulang bambu pada 28 hari memiliki kekuatan lentur maksimum 4,12 MPa

    Analisis Percepatan Tanah Puncak Akibat Gempa Pada Kota Sorong Sebagai Upaya Mitigasi Bencana

    Get PDF
    Sorong merupakan salah satu kota yang terletak di Provinsi Papua Barat. Daerah ini memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap ancaman bahaya gempa bumi karena lokasinya terletak di antara pertemuan lempengan tektonik dan beberapa sesar aktif. Tingkat kerawanan terhadap gempa pada daerah ini cukup tinggi. Pada September 2016, BMKG mencatat bahwa terjadi gempa bumi dengan skala magnitudo sebesar 6,8 SR (Skala Ritcher) dengan kedalaman 10 meter dari permukaan laut dan berjarak 31 km arah timur laut kota Sorong. Gempa ini bersifat merusak. Akibat gempa ini, sebanyak 62 orang terluka dan 257 rumah rusak. Untuk itu diperlukan suatu analisis terhadap percepatan tanah puncak (Peak Ground Acceleration) terbaru sebagai langkah mitigasi yang nantinya dapat digunakan untuk perencanaan gedung tahan gempa.Pengumpulan data gempa pada peneltian ini yaitu data gempa yang terjadi sekitar kota Sorong pada rentang waktu 1900-2017. Data gempa yang diambil adalah yang berpotensi merusak struktur yaitu dengan magnitudo (Mw) ≥ 5 dengan radius gempa 500 km dari kota Sorong dan memiliki kedalaman antara 0 - 300 km. Setelah diperoleh data gempa maka dibuat peta sebaran gempa di wilayah kota Sorong. Percepatan tanah puncak dihitung berdasarkan fungsi atenuasi matuscha (1980) dan menggunakan pendekatan metode Gumbel.Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai percepatan tanah puncak (PGA) di wilayah kota Sorong pada periode ulang 2500 tahun atau menggunakan probabilitas terlampaui 2% dalam 50 tahun umur rencana bangunan diperoleh sebesar 708.9520 cm/dt2 atau 0.7227 g. Apabila melihat peta gempa SNI 1726-2012 yang menggunakan probabilitas yang sama maka nilai percepatan tanah puncak (PGA) ketika gempa bumi berkisar antara 0.4 g - 0.6 g. Nilai ini mengalami peningkatan yang berarti tingkat resiko terhadap gempa bumi pada wilayah kota Sorong meningkat

    PEMUTAKHIRAN PETA SEBARAN GEMPA BUMI BERDASARKAN MAGNITUDO DAN KEDALAMAN DI WILAYAH PROVINSI PAPUA BARAT PADA 50 TAHUN TERAKHIR

    Get PDF
    Papua Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia timur. Daerah ini memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap ancaman bahaya gempa bumi karena lokasinya terletak diantara pertemuan lempengan tektonik dan beberapa sesar aktif. Gempa dengan magnitudo kecil sampai besar sangat sering terjadi. Untuk itu diperlukan peta sebaran gempa untuk menggambarkan daerah yang memiliki resiko terjadinya gempa berdasarkan kejadian di masa lalu. Setiap gempa bumi melepaskan energi gelombang seismik sehingga kumpulan gempa bumi pada periode tertentu pada suatu area juga suatu cara untuk menggambarkan konsentrasi aktifitas gempa bumi. Data gempa sangat diperlukan dalam bidang teknik sipil yaitu untuk perencanaan bangunan tahan gempa. Dengan melakukan pemetaan terhadap sebaran gempa bumi, diharapkan dapat digunakan sebagai upaya mitigasi dalam rangka pengurangan resiko bencana gempa bumi di wilayah Papua barat.Data gempa yang digunakan pada peneltian ini yaitu data gempa yang terjadi di wilayah Papua Barat dalam rentang waktu 50 tahun terakhir atau pada periode 1969-2019. Analisis terhadap gempa dilakukan untuk memisahkan antara gempa utama (mainshock) dan gempa susulan (aftershock) yang terjadi. Pemetaan sebaran gempa dilakukan dengan dua cara yaitu berdasarkan besarnya magnitudo gempa dan kedalaman terhadap pusat gempa bumi.Hasil penelitian diperoleh bahwa data gempa Provinsi Papua Barat dalam kurun waktu 50 tahun yaitu pada periode 1969-2019 berjumlah 4751 data gempa. Gempa yang terjadi di wilayah Papua Barat di dominasi oleh gempa dengan magnitudo sedang hingga besar. Hal ini membuat tingkat kerentanan terhadap gempa bumi pada daerah ini tergolong tinggi. Selain itu, Gempa yang terjadi di wilayah Papua Barat apabila ditinjau berdasarkan kedalaman maka sebanyak 4448 kejadian atau sekitar 93,6% merupakan gempa dangkal yang bersumber dari megathrust dan shallow crustal/sesar. Hasil proses declustering terhadap katalog gempa Provinsi Papua Barat periode 50 tahun terakhir yaitu pada rentang waktu 1969-2019 maka diperoleh data gempa utama sebanyak 1685 data gempa atau 35.47% dari total katalog gempa. Berdasarkan hal tersebut penelitian ini dapat memberikan gambaran secara jelas mengenai kondisi seismisitas terbaru yang terjadi di wilayah Papua Barat

    DESAIN PELAT CENDAWAN PADA STRUKTUR GEDUNG BETON BERTULANG BERDASARKAN SNI

    Get PDF
    Selama lebih dari dua dekade ke belakang, perkembangan pembangunan gedung bertingkat di Indonesia cukup signifikan. Beton bertulang merupakan material utama yang digunakan dalam konstruksi pembangunan gedung-gedung tersebut. Konstruksi beton bertulang memiliki elemen struktur pelat lantai, kolom, balok, serta pelat atap. Konstruksi beton bertulang sangat umum, hal ini dikarenakan konstruksi beton bertulang lebih murah dibandingkan dengan konstruksi baja.  Semakin berkembangnya teknologi informasi, semakin berkembang pula desain teknologi flatsalab menggunakan pelat cendawan tanpa adanya elemen balok. Metode flatslab ini mulai menjadi trend di Indonesia sejak sepuluh tahun belakangan ini, terdapat beberapa keuntungan dari pemanfaatan flat slab ini. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui ketebalan dari pelat, dan kolom dengan metode flatslab. Flatslab merupakan teknologi konstruksi bangunan gedung tanpa menggunakan stuktur balok. Dari analisa didapatkan bahwa tebal pelat sebesar 200mm dengan tulangan menggunakan diameter 13 dengan jarak 150mm. Sedangkan pelat cendawan memiliki ketebalan 350mm, dengan dimensi 2800mm x 2800mm dengan tulangan D13-10mm. terdapat dua tipe kolom yang digunakaan k1 800mm x 800mm dan k2 600mm x 600mm. Dapat disimpulkan bahwa desain gedung dengan menggunakan pelat cendawan aman dan dapat digunakan

    EVALUASI DESAIN PERKUATAN PELAT AKIBAT ALIH FUNGSI PEMBEBANAN

    Get PDF
    Pada pembangunan gedung Rawat Inap Rumah Sakit Pertamina Sorong ditemukan bahwa bagian pelat atap gedung saat dihentakan kaki terjadi getaran yang cukup terasa. Perencanaan awal pelat diasumsikan sebagai pelat atap biasa namun terdapat penambahan beban berupa beberapa buah tendon air dan solar water heater. Oleh karena itu, muncul kekhawatiran akan kemampuan struktur pelat tersebut dalam memikul beban – beban yang bekerja pada struktur tersebut. Pihak kontraktor akhirnya menambahkan perkuatan berupa penebalan pelat di daerah pusat pembebananan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kekuatan dari struktur balok dan pelat setelah diberi perkuatan berupa penebaan pelat terhadap pembebanan yang bekerja, sehingga dapat diketahui kekuatan dari struktur balok dan pelat terhadap pembebanan tersebut. Metode yang digunakan yaity dengan menganalisis momen ultimit yang dapat ditahan oleh pelat dan balok. Selain itu, dilakukan pengecekan terhadap lendutan yang diijinkan oleh pelat tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain perkuatan struktur pelat dinyatakan aman. Hal ini didasari oleh hasil pengecekan kemampuan balok dan pelat dalam menahan pembebanan yang terjadi di atasnya. Selain itu, hasil analisis terhadap lendutan pelat masih dalam batas ijin (aman)

    STUDI EKSPERIMANTAL KUAT TEKAN BETON MENGGUNAKAN MATERIAL DARI KALI JODOH

    Get PDF
    Beton merupakan bahan yang secara umum menjadi kebutuhan masyarakat terhadap fasilitas infrastruktur. Penggunaan material lokal dalam pembuatan beton diharapkan dapat membuat harga konstruksi menjadi relatif lebih murah. Penelitian ini hanya pada gradasi, berat jenis, penyerapan, abrasi, dan kuat tekan beton K-250. Metode yang digunakan adalah SNI dimana metode SNI ini terdapat proses pengujian agregat kasar dan agregat halus, tata cara pencampuran beton. Dari hasil penelitian  ini  didapatkan  hasil  pengujian  gradasi pasir pada zona I, gradasi batu maksimum 20 mm, berat volume pasir 1,795 gr/cm3, berat volume batu 1,569 gr/cm3, berat jenis batu 2,5862  dan penyerapan 1,078 %, berat jenis pasir 2,7489 dan penyerapan 1,010 %, kadar lumpur pasir 4,75%, abrasi 23,93%, kuat tekan beton yang didapat pada umur 28 hari iyalah 296,67 kg/cm2. Disimpulkan bahwa material batu dan pasir yang diambil dari Kali Jodoh, Kabupaten Tambrauw mutunya cukup baik digunakan untuk material beton

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Get PDF
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    STABILISASI TANAH LEMPUNG DENGAN MENGGUNAKAN MATERIAL ABU BATU QUARRY PII

    Get PDF
    Pada saat melakukan perencanaan perkerasan suatu jalan maka daya dukung tanah adalah salah satu parameter yang menentukan. Kualitas daya dukung tanah dapat diketahui dengan pengujian California Bearing Ratio (CBR). Tanah lempung merupakan salah satu jenis tanah yang memiliki daya dukung yang rendah karena memiliki kembang susut yang tinggi. Oleh karena itu usaha perbaikan sifat tanah dilakukan untuk meningkatkan daya dukungnya. Pada penelitian ini, metode perbaikan daya dukung tanah lempung dilakukan melalui penambahan material abu batu sebagai bahan stabilisasi yang diperoleh dari salah satu quarry yang terletak di kota Sorong.Variasi penambahan abu batu pada tanah lempung sebesar 0%, 10%, 20% dan 30% terhadap berat kering tanah. Dari hasil pengujian yang dilakukan berurutan sesuai penambahan variasi abu batu di atas maka diperoleh nilai CBR sebesar 1.6%, 1.7%, 2.61%, dan 3%.  Besar peningkatan CBR pada variasi penambahan abu batu sebanyak 10%, 20% dan 30% berturut-turut sebesar 6.25%, 63,12% dan 87.50% dari variasi normal. Oleh karena itu, maka dapat disimpulkan bahwa abu batu dapat digunakan untuk stabilisasi tanah lempung dimana semakin besar penambahan material abu batu ke dalam tanah lempung maka daya dukung tanahnya menjadi meningkat
    corecore