196,823 research outputs found
Proses Kreatif Rusli Marzuki Saria Dalam Parewa: Sajak Dalam Lima Kumpulan (1960-1992) Tinjauan Psikologi Sastra
ABSTRAK
Dafa Anisa Putri. 1510722011 “Proses Kreatif Rusli Marzuki Saria Dalam Parewa: Sajak Dalam Lima Kumpulan (1960-1992) Tinjauan Psikologi Sastra” 2019. Skripsi ini ditulis dengan bimbingan Drs. Fadlillah, M. Si, selaku pembimbing satu (I) dan Dr. Zurmailis, M. A., selaku pembimbing dua (II) di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas.
Penelitian ini membahas permasalahan proses kreatif Rusli Marzuki Saria dengan menggunakan teori Psikologi Sastra. Proses kreatif Rusli Marzuki Saria ini dikaji menggunakan teori Lacan. Dalam penelitian ini penulis ingin mengungkapkan (1) gaya Bahasa Rusli Marzuki Saria dalam mengungkapkan pemikiran bawah sadar melalui karya Parewa: Sajak lima kumpulan (1962-1992) dan (2) proses kreatif Rusli Marzuki Saria dalam Parewa: Sajak Dalam Lima Kumpulan (1960-1992). Metode yang digunakan adalah metode psikoanalisis Lacan yang didukung oleh teknik studi pustaka.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa pertama Papa Rusli memiliki tahun-tahun produktif dalam menciptakan karya. Masa produktif tersebut terjadi pada tahun 1960-an, sebanyak 100 puisi dengan tema dominan tentang penderitaan masyarakat daerah, pada tahun 1970-an ada 9 buah puisi dengan tema dominan tentang kritikan terhadap pemerintahan dan kritikan terhadap mitos daerah Minangkabau. Pada tahun 1980-an ada sebanyak 2 buah puisi dengan tema dominan peristiwa PRRI, dan pada tahun 1990-an sebanyak 1 buah puisi dengan tema dominan tentang kritikan terhadap pemerintah pada masa itu. Itu hanya yang terdapat pada karya Parewa: Sajak Dalam Lima Kumpulan (1960-1992). Kedua, proses psikologi yang terjadi di dalam diri Papa Rusli berupa Hasrat dalam diri Papa Rusli yang diungkapkan yaitu (1) Hasrat atas identitas Papa Rusli terletak pada kekonsistensiannya menjadi penyair yang lokalitas dan berdasarkan pengalaman yang pernah Papa Rusli lakukan, baik pengalaman kerja, pengetahuan dari bacaan yang ia baca, maupun pengalaman akan peristiwa yang pernah dilaluinya, (2) menjadi penyair yang memiliki pemikiran bebas merupakan hasrat “kebebasan” yang ada dalam diri Papa Rusli.
Kata kunci: Psikoanalisis, Hasrat, Kebebasan, Lacan, Rusli Marzuki Sari
KONSEP FEMINISME DALAM NOVEL SITTI NURBAYA : KASIH TAK SAMPAI KARYA MARAH RUSLI (1890 - 1968 M)
ABSTRAK
Penelitian ini merupakan kajian tentang Konsep Feminisme Dalam Novel Sitti Nurbaya : Kasih Tak Sampai Karya Marah Rusli. Penelitian ini difokuskan pada dua permasalahan yakni, bagaimana konsep feminisme dalam novel Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai karya Marah Rusli dan bagaimana konsep feminisme Marah Rusli dalam perspektif feminisme global. Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan yang menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Dalam pengumpulan data penelitian, dilakukan dengan mengumpulkan buku-buku yang menjadi data primer dan data sekunder serta deskripsi-deskripsi atau hasil penelitian terdahulu yang telah digunakan oleh ahli-ahli di bidangnya sesuai kajian dalam penelitian ini, sehingga didapatkan hasil yang diinginkan. Hasil penelitian ini adalah Sitti Nurbaya digambarkan sebagai perempuan Minang kabau yang harus menghadapi berbagai konflik dan tekanan sosial yang berkaitan dengan norma-norma patriarki dalam masyarakatnya. Pertama, konflik Sitti Nurbaya dengan peran tradisionalnya sebagai perempuan Minangkabau tercermin dalam keputusannya untuk menikahi Datuk Meringgih demi menyelamatkan ayahnya dari hutang. Kedua, dalam hubungannya dengan Samsulbahri, Sitti Nurbaya menunjukkan keberanian dalam menghadapi cobaan dan tragedi, serta kesetiaan yang kuat terhadap cintanya. Namun, konflik ini juga menggambarkan bagaimana perempuan dihadapkan pada pilihan yang sulit antara kehormatan keluarga, tuntutan sosial, dan keinginan pribadi mereka. Ketiga, kematian Sitti Nurbaya sebagai akibat dari ulah Datuk Meringgih menggambarkan kekejaman dan manipulasi yang sering kali dialami perempuan dalam posisi yang rentan. Marah Rusli memaknai Sitti Nurbaya sebagai cara untuk menunjukkan kekuatan sejati perempuan dalam adat Minang. Marah Rusli menekankan pentingnya pendidikan bagi perempuan sebagai sarana untuk membebaskan mereka dari ketergantungan ekonomi dan sosial. Dia melalui karyanya, memberi perempuan di Indonesia contoh bahwa wanita juga bisa berprestasi jika di berikan kesempatan yang sama dalam pendidikan.
Kata Kunci: Feminisme, Novel, Sitti Nurbaya, Marah Rusli
Industrial training report: Pejabat Pendidikan Daerah Kota Bharu / Mohammad Syaqir M Rusli
This special project based on the period from 1st February 2018 until 30th June 2018 in Information and Technology (ICT) at PPD Kota Bharu. The trainee is placed in Unit ICt under the supervision of Mr. Faizal bin MD Noor which is a Penyelia ICT. The trainee is assigned to develop a corporate video as the special project which is PPDKB Corporate Video. Basically the PPDKB Corporate Video is being considered in order to show all the staff and visitor from outside to know information about PPDKB. Before this, PPDKB doesn't have any corporate video. However, the trainee also involved with other activities and programs which each of them gave new experience and gained a lot of knowledge. Throughout the industrial training session, the trainee had improved a lot of skills such as communication skill, problem solving, self- learning, teamwork and others. The industrial training session are going well until the end of the day. The staff in Pejabat Pendidikan Daerah Kota Bharu (PPDKB) gave a very good cooperation with the trainee during the industrial training session
ANALISIS FRAMING PEMBERITAAN KASUS KORUPSI RUSLI ZAINAL DI HARIAN RIAU POS DAN TRIBUN PEKANBARU (EDISI MARET 2014)
Media berfungsi sebagai sarana informasi, hiburan, pendidikan dan kontrol
sosial, namun tidak semua media dewasa ini menjalankan fungsinya dengan baik.
Seorang jurnalis selalu menyatakan dirinya telah bertindak objektif, seimbang dan
tidak berpihak pada kepentingan apapun kecuali keprihatinan atas hak masyarakat
untuk mengetahui kebenaran. Namun pada kenyataannya kita seringkali
mendapatkan suguhan berita yang beraneka warna dari sebuah peristiwa yang
sama, media tertentu mewartakannya dengan cara menonjolkan sisi atau aspek
tertentu, sedangkan media lainnya meminimalisir, memelintir bahkan menutup
sisi/aspek tersebut, dan sebagainya. Penelitian yang penulis lakukan adalah untuk
melihat bagaimana sebuah berita dikonstruksi oleh media, untuk mencapai opini
publik tentang berita yang diterbitkan. Dengan judul yang penulis ambil
“ANALISIS FRAMING PEMBERITAAN KASUS KORUPSI RUSLI
ZAINAL DI HARIAN RIAU POS DAN TRIBUN PEKANBARU”.
Penulis menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, dengan
pendekatan model Zhondang Pan dan Gerald M kosicki dengan menggunakan
empat struktur yaitu sintaksis, skrip, tematis dan retoris. Data primer untuk
penelitian ini adalah dekumentasi, teknik pengumpulannya dengan
mengumpulkan dan mengorganisirnya dalam bentuk tabel. Selain melihat judul
dan isi berita yang ditampilkan, penulis juga mengamati posisi berita, sikap
redaksional yang tercermin dari pemberitaan, narasumber yang dipilih dan ukuran
berita yang ditampilkan.
Dari hasil analisis yang dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa
pemberitaan tentang Rusli Zainal lebih banyak diberitakan di harian Tribun
Pekanbaru, karena mengeluarkan empat berita selama bulan Maret 2014,
sedangkan Riau Pos hanya satu berita. Riau Pos memandang putusan vonis 14
tahun penjara tidak sesuai dengan apa yang telah Rusli Zainal usahakan untuk
Riau, hal ini dibuktikan dengan pemberian label otoritas pada pemberitaannya.
Tribun Pekanbaru pula memandang Rusli Zainal pantas dijatuhi vonis dengan
menonjolkan rincian perkara kasus korupsi di setiap pemberitaannya
- …
