207 research outputs found
KEBIJAKAN PENATAAN MINIMARKET DAN PEMBERDAYAAN PEDAGANG TRADISIONAL DI KOTA BANDUNG: STUDI DI KAWASAN PEMUKIMAN KECAMATAN ANTAPANI
Penelitian ini menyoroti masalah kebijakan penataan pasar modern
dalam hal ini mini market yang belum berjalan sesuai harapan. Ditemukan banyak
pelanggaran yang menyebabkan para pedagang tradisional tersudutkan bahkan
tidak sedikit yang gulung tikar. Lokasi penelitian ini di kawasan pemukiman
Kecamatan Antapani yang tediri dari empat kelurahan yaitu; Kelurahan Antapani
Wetan, Kelurahan Antapani Kulon, Kelurahan Antapani Tengan dan Kelurahan
Antapani Kidul. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah kualitatif.
Data diperoleh melalui indepth interview, observasi, studi literature dan
pengumpulan data sekunder. Adapun informan pada penelitian ini adalah pejabat
perijinan BPPT, Disperindag KUKM, Camat Antapani, Minimarket dan Ritel
Tradisional di Kecamatan Antapani. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa
implementasi Kebijakan Penataan minimarket belum berjalan sesuai dengan
harapan. Perkembangan usaha ritel modern masih mendominasi perekonomian
masyarakat. Belum ada usaha yang berhasil secara signifikan memberdayakan
para pedagang tradisional agar siap bersaing merebut pasar potensial yaitu
konsumen yang bermukim di sekitar kawasan perumahan tersebut.Pelanggaran
demi pelanggaran masih terjadi. Berdampak pada penurunan omzet yang sangat
tajam melampaui angka 70% yang membuat pelaku ekonomi yang lemah ini
tersudutkan dan tidak sedikit yang gulung tikar. Dari hasil penelitian di lapangan,
penulis menemukan salah satu poin penting dalam mendukung pelaksanaan
kebijakan ini melalui memperkuat pola kemitraan. Model kemitraan yang kuat akan
menjadi penopang utama kelancaran implementasi kebijakan. Dalam penelitian ini,
penulis mengajukan “Model Kemitraan MRT,” sebagai model alternatif dalam
mengatasi hambatan dan masalah implementasi Kebijakan Penataan Pasar
Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern yang diamanatkan Perda Kota
Bandung Nomor 2 Tahun 2009.
Kata Kunci: Kebijakan, Minimarket dan Ritel Tradisiona
Editor in a Television Documentary Program Titled Compromising with the Pandemic with Tarra Budiman
This qualitative research with a descriptive approach aims to produce a television documentary program entitled "Compromising with the Pandemic with Tarra Budiman". Data collection techniques: literacy, observation, and interviews with research objects. The results of the discussion stated: (1) The author as the editor presents facts about Tarra Budiman\u27s struggle to survive economically during the pandemic; (2) Audience segmentation in this program is 13-50 years old with socio-economic status A,B,C; (3) A documentary program that lasts 13 minutes and 8 seconds with the characteristics of live record production (tapping); (4) Editor at the pre-production stage: in charge of following the process of making story ideas; (5) The editor in the production stage coordinates the cameraperson to take pictures according to the scenario that has been created, and assists the cameraperson in shooting (6) The editor in the post-production stage is responsible for constructing the course of the story according to the scenario that has been created by the producer. The conclusion of an editor is that he must be able to convey the message of a human interest documentary video with a deep message, hoping that the audience will be immersed in the story of the source
Defensive Enforcement: Human Rights in Indonesia
The objective of the article is to examine the human rights enforcement in Indonesian legal and political system. This is done by studying the legal basis of human rights, the process of proliferation of human rights discourse, and the actual controversies of human rights enforcement. The study has the effect of highlighting some of the immense deficits in ensuring that violations are treated under judicial procedure and the protection of human rights is available and accessible for victims. The author inevitably came into a conclusion that the openness of legal and political arenas for human rights discourses is not followed with a tangible impact on the entitlement positions of the people. The problems of the weak institutions and the unenthusiastic enforcement show that, in Indonesia, human rights are formally adopted as a political strategy to avoid substantial implementatio
MENCERMATI PENERAPAN KEBIJAKAN OTONOMI DAERAH
Terjadi fenomena yang menarik sekaligus memprihatinkan setelah hampir
tiga tahun penerapan kebijakan otonomi daerah. Kondisi ini
menggambarkan kelemahan yang ada dalam UU no. 22 tahun 1999
tentang Pemerintahan Daerah. Bermunculan perda-perda bermasalah
yang kontra produktif karena terlalu berorientasi pada peningkatan PAD.
Pemerintah Pusat tidak mampu mengendalikannya mengingat
kewenangan yang diberikan sangat terbatas. Beberapa hal penyebabnya
adalah : (1) Semangat reformasi yang tinggi mewarnai penyusunan UU
no. 22 tahun 1999, sehingga memberikan kelonggaran yang berlebihan
pada Pemda untuk membuat perda. (2) Kewenangan yang diberikan kepada
Pemerintah Pusat melalui Tim Pengkaji Perda (TPPD) untuk melakukan verifikasi
terhadap perda sangat terbatas hanya 45 (empat puluh lima) hari, padahal ribuan
perda yang harus diverifikasi. (3) Belum ada petunjuk pelaksanaan bagi pemda
dalam merumuskan sebuah perda. (4) Semangat yang tinggi Pemda
memanfaatkan momentum reformasi.
Kata Kunci : Otonomi Daerah, Perd
Efektivitas pelaksanaan supervisi pendidikan oleh pengawas pada Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah di kota Banda Aceh
ix+108hlm.;29c
Synergy Implementation Policy -- A Case of Study of Quality Home Improvement Program in West Bandung, Indonesia
ETNOSENTRISME: KEPENGARANGAN DALAM SYAIR PERANG MELAYU NUSANTARA
Kepengarangan dalam syair-syair perang sesungguhnya memperlihatkan satu usaha bagaimana pengarangnya dengan cara yang kreatif mengembalikan wibawa masyarakat yang diwakilinya, sebagai tindakbalas terhadap konflik yang tercetus akibat kedatangan pihak penjajah. Artikel ini bertujuan memperkatakan tentang kepengarangan dalam beberapa syair perang pilihan seperti Syair Perang Mengkasar, Syair Peperangan Aceh dan Syair Perang Menteng. Artikel ini memanfaatkan model oleh William Graham Sumner yang mentakrifkan etnosentrisme sebagai kecenderungan menilai kebudayaan sendiri lebih tinggi daripada kebudayaan orang lain sebagai kerangka penulisan. Analisis intrinsik berdasarkan aspek kekuatan kebahasaan turut diteliti untuk meneliti bagaimana ia diajukan oleh pengarang bagi mengangkat etnosentrisme etnik Melayu Nusantara. Dapatan dalam artikel ini adalah, pengarang syair perang cenderung mengangkat etnosentris peribumi Melayu Nusantara (Makasar, Aceh dan Palembang) pada kedudukan yang tinggi dengan menggunakan kekuatan bahasa. Pemilihan diksi yang tepat selain penggunaan metafora, perbandingan dan perlambangan dalam syair-syair ini menjelaskan kesediaan mempertahankan maruah, Persatuan Penulis Budiman Malaysia Budiman Writers Association of Malaysia taat setia kepada raja/pemerintah, cintakan tanah air, bersemangat patriotisme dan pegangan agama yang kukuh sebagai asas bagi pengarang Melayu dalam mengangkat etnosentris mereka pada kedudukan yang tinggi dalam karya mereka.
Authorship in the Malay war poems portray the creativity of its author in instilling the dignity of his community that he represents, as a response towards conflict due to colonialization. This article intends to explain authorship in sellected war poems such as, Syair Perang Mengkasar, Syair Peperangan Aceh and Syair Perang Menteng.Thus it applies William Graham Summers’ model that describes enthnocentrism as biasesness in placing a high value in one own culture as compared to others, as its framework of analysis. Intrinsic analysis on language is carried out to evaluate the author language usage in uplifting the Malay Nusantara ethnocenric. The findings in this article are, trough the power of language the authors of the war poems tends to uplift the ethnocentricism of the Malays of the Nusantara (Makasar, Acheh and Palembang). The choice of precise diction, metaphors, comparisons and symbology is best used to portray the readiness to defend dignity, patriotism, loyalty to the king / government and strong religious beliefs. These qualities are the basis for the Malay authors to raise their ethnocentric to a high position in their works
IMPLEMENTASI KEBIJAKAN TENTANG PERAN DAN KEWENANGAN DESA DALAM PENURUNAN STUNTING DI KABUPATEN GARUT (STUDI DI DESA JANGKURANG KECAMATAN LELES)
Stunting merupakan salah satu permasalahan penting yang sedang dihadapi oleh Indonesia dan masuk kedalam salah satu program prioritas nasional. Kabupaten Garut merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki angka stunting cukup tinggi dan masih dibawah rata-rata stunting nasional. Bentuk komitmen Pemerintah Kabupaten Garut dalam penurunan angka stunting salah satunya dengan dikeluarkannya Peraturan Bupati Garut Nomor 138 Tahun 2021 tentang Peran dan Kewenangan Desa Kelurahan dalam Penurunan Stunting. Desa Jangkurang pun menjadi salah satu dari 20 desa di Kabupaten Garut yang dijadkan fokus intervensi penurunan stunting pada tahun 2022. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana implementasi Kebijakan tentang Peran dan Kewenangan Desa dalam Penurunan Stunting di Kabupaten Garut (Studi Di Desa Jangkurang Kecamatan Leles). Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu mennggunakan deskriptif kualitatif. Serta berdasar pada integrated implementation model dari Soren.C Winter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi kebijakan tentang peran dan kewenagan desa dalam penurunan stunting belum sepenuhnya optimal dilaksanakan diantaranya karena adanya alur koordinasi yang masih kurang, perilaku kelompok sasaran yang belum sepenuhnya sadar dan paham akan pentingnya stunting, serta kondisi sosial-ekonomi yang masih kurang mendukung dalam pelaksanaan kebijakan. Oleh karena itu, disarankan bagi pemerintah desa dan para pemangku kebijakan untuk meningkatkan efektifitas koordinasi dengan mewujudkan Rumah Desa Sehat (RDS), pemberdayaan ekonomi, dan sosialisasi kebijakan dengan memperhatikan nilai-nilai lokal dan tradisi
KESEPIAN PADA ISTRI TENTARA NASIONAL INDONESIA
The departure of the husband because he had to carry out the task of making the husband and wife have to live separately, this condition can be said as precipitating events that make the wife feel lonely. The purpose of the study was to find out how and the loneliness factor in the wife's stay. This research is a qualitative research phenomenon that has a meaning or concept about the experience of loneliness and influence of the wife. The results of this study found that the three research subjects experienced loneliness socially and emotionally and the factors that caused loneliness were far from their husbands, families and the environment that were not good
Analysis of economy aspects in the policy on establishing housing and settlement in West Java, Indonesia
- …
