1,721,029 research outputs found

    Between Spirituality and Social Context: Unpacking ‘Kidung Rumekso Ing Wengi’ in Javanese Society

    Full text link
    This study aims to understand how "Kidung Rumekso Ing Wengi" influences the social dynamics and identity of Javanese society, as well as how the chant adapts to and affects social and cultural changes. The method used in this study is qualitative with a library research approach. Through the analysis of relevant ancient literature, this article provides a deep understanding of the cultural background of "Kidung Rumekso Ing Wengi" and its impact on contemporary Javanese society. The results show that "Kidung Rumekso Ing Wengi" brings peace and protection and strengthens Javanese cultural identity in the face of the modern world. The adaptation and cultural resilience of the "Kidung Rumekso Ing Wengi" practice demonstrate the flexibility and dynamism of Javanese traditions and their role in fostering communal ties. This research enhances the understanding of how deeply rooted spiritual traditions shape social life and offers important insights into the importance of maintaining and understanding cultural practices in the face of contemporary challenges

    The Figurative Language and Its Figurative Meaning Found in Sung Javanese Poem Kidung Rumekso Ing Wengi

    Full text link
    Studi ini adalah tentang penggunaan gaya bahasa dan makna dari gaya bahasa dalam tembang macapat "Kidung Rumekso Ing Wengi" yang merupakan tembang jawa populer sebagai tembang doa untuk menyampaikan pedoman kehidupan. Studi ini memuat dua rumusan masalah, antara lain: (1) apa sajakah jenis gaya bahasa yang paling sering ditemukan dalam tembang macapat "Kidung Rumekso Ing Wengi". (2) apakah makna dari gaya bahasa yang ditemukan dalam tembang macapat "Kidung Rumekso Ing Wengi". Jenis penelitian ini adalah kualitatif. Dokumen analisis digunakan untuk menganalisa bahasa yang mengandung bahasa kiasan dengan mempertimbangkan teori Perrine. Subjek penelitian ini adalah tembang macapat "Kidung Rumekso Ing Wengi". Hasil studi ini menunjukkan bahwa ada beberapa jenis gaya bahasa yang digunakan dalam kalimat kalimat tembang macapat Kidung Rumekso Ing Wengi. Antara lain, hiperbola, metafor, alegori, personifkasi, paradoks, simbol, metonimia dan simile. Selain itu, gaya bahasa yang paling sering digunakan adalah hiperbola yang digunakan oleh pengarang lagu untuk menarik perhatian pembaca dengan cara melebih lebihkan kalimat. Saran ditujukan kepada peneliti selanjutnya untuk mengadakan penelitian sejenis dengan menggunakan budaya Indonesia lainnya seperti pertunjukan wayang atau campursari. Selain itu, jenis penelitian ini bermanfaat guna menyajikan budaya tradisional Indonesia

    Nilai-nilai Ajaran Al-Quran Dalam Kidung Rumekso Ing Wengi

    Full text link
    eran besar dimiliki oleh Sunan Kalijaga dalam penyebaran agama Islam di Nusantara, khususnya di pulau Jawa. Keberhasilan Sunan Kalijaga dalam penyebaran agama Islam di pulau Jawa ada sebabnya. Dalam sejarah jelas bahwa beliau termasuk wali yang sangat akomodatif terhadap unsur budaya Jawa. Sunan Kalijaga mampu memadukan dakwah Islam dengan budaya yan telah lama ada pada masyarakat Jawa waktu itu. Dari sinila terjadinya asimilasi, akulturasi dan adaptasi antara budaya yang terlebih dahulu ada dan menjamur di masyarakat dengan budaya yang baru dating yaitu budaya Islam. Salah satu karya Sunan Kalijaga yang menggambarkan aspek di atas adalah Kidung Rumekso ing Wengi.Sebagai media dakwah, kita perlu pertanyakan mengenai apa saja nilai-nilai al-Qur’an yang terkandung dalam Kidung Rumekso ing Wengi dan memgenai hubungan nilai-nilai tersebut dengan konteks sosial budaya ketika itu. Hal ini bertujuan guna mengetahui maksud dari Sunan Kalijaga menjadikan kidung tersebut sebagai media dakwah yang berhasil kala itu. Metode edisi tunggal dan metode tematik dalam al-Qur’an dinilai sebagai metode yang dapat digunakan untuk menganalisis dan menjawab pertanyaan di atas.Kidung Rumekso ing Wengi mengandung ajaran-ajaran agama yang diselipkan oleh Sunan Kalijaga. Ada enam pokok ajaran dalamKidung Rumekso ing Wengiyang senadadengan nilai-nilai ajaran al-Qur’an yang berhasil dianalisis dalam tulisan ini, yaitu tentang Keimanan kepada Allah swt. tentang hubungan yang baik terhadap Allah, terhadap sesame manusia dan hubungan terhadap alam, tentang kedudukan manuasia sebagai makhluq yang paling sempurna, tentang keistimewaan do’a, tantang sebuah masalah dan solusinyadan tentang segala balasan tergantung seperti apa yang dikerjakan seseorang.Selain itu, dalam tulisan ini juga dipaparkan mengenai praktek ritual keagamaan masyarakat Jawa seperti beberapa upacara seperti tingkeban atau mitoni, ketika bayi barumur tujuh bulan dalam kandungan, slametan nyepasari ketika bayi baru lahir, upacara sunatan, upacara pernikahan, upacara kematian yang terduri dari slametan mitung dina, empat puluh hari, serratus hari, satu tahun, dua tahun dan tiga tahun, slametan, tahlilan dan beberapa slametan lainnya yang dinilai memiliki kemiripan dan kesesuaian dari maksud yang ingin disampaikan oleh Sunan Kalijaga lewat Kidung Rumekso ing Wengi tersebut. Lebih jauh lagi bahwa inti laku dari kidung ini adalah gambaran dari praktek ritual keagamaan masyarakat Jawa yang berkembang labih dahulu. Hanya saja dalam penyajiannya, Sunan Kalijaga dalam kidung tersebut mencoba memadukan budaya peninggalan pra-Islam dengan syari’at Islam, sehingga menghasilkan sebuah karya yang mudah dicerna dan diterima oleh masyarakar pada waktu itu

    KIDUNG RUMEKSO ING WENGI DAN KORELASINYA DENGAN SURAT MU’AWWIDHATAIN (Kajian Living Qur’an)

    Full text link
    This article is the result of a review of the correlation between Kidung Rumekso Ing Wengi with Surah Mu'awwidhatain based on its content of meaning and function. It can be concluded that Kidung Rumekso Ing Wengi has a close correlation with the Surah Mu'awwidhatain, which is a manifestation of the meaning of the word Qul which includes the value of Tawheed and the teaching of doing Tirakat in order to maximize the potential for self-protection from night, human, jin and satan and other creatures of God. The Song of Rumekso Ing Wengi is an early part of the song Fiber containing 41 stupas of Dhandhanggula's electric, which illustrates the sweetness of the spiritual teaching. The forty-one verses are divided into four parts of the hymn. The first part is the first statue until the 10th is the Song of Rumekso Ing wengi or Kidung Sarira Ayu. The 11th to 24th Chapters are the Art of Songs. The next verse, which is the 25th to 35th is Kidung Jati Mulya, and the last part of the 36th to 41st stanza is the Song of Mar Marti. The Surah Mu'awwidhatain is the name of two Surahs that go hand in hand, namely al-Falaq and al-Na s. The name Mu'awwidhatain is derived from the word a'udhu which means I seek refuge, so Mu'awwidhatain means two Surahs that guide the reader to the shelter, or put it into a protected arena

    Kidung Rumekso Ing Wengi Dalam Kajian Tasawuf

    Full text link
    Jawa dalam peradabannya di abad ke-15 merupakan pulau dengan mayoritas penghuninya beragama hindu-budha, namun jauh sebelum agama ini masuk masyarakat Jawa sudah mempunyai agamanya sendiri yang kemudian disebut kapitayan dan hal ini pula yang gagal dipahami oleh peneliti barat yang selanjutnya menyebutnya dengan animisme- dinamisme. Babak baru sejarah Jawa di mulai ketika Islam mulai masuk dengan mempertimbangkan strategi dan gerakan yang masif serta terorganisir oleh dewan wali yang berjumlah sembilan orang, Walisongo. Dalam membahas kidung rumekso ing wengi penulis mencoba membawa pada alam pikir masyarakat jawa, memahami kehidupan dan filosofinya. Kemudian muatan ajaran Islam dimasukan dengan pendekatan filosofis dan tasawufnya, sehingga dalam memahami kidung ini bisa mendapatkan pemahaman yang komprehnsif karena berdasarkan pada aspek dan unsur-unsur nilai Jawa dan Islam, perpaduan ini pula yang menjadi strategi Sunan Kalijaga. Kidung rumekso ing wengi akhir-akhir ini ditafsiri masyarakat secara pragmatis hanya sebagai mantra pelindung padahal terdapat maksud dan tujuan kanjeng Sunan Kalijaga untuk mengajarkan tasawuf Islam Jawa atau mistik kejawen. Kemudian di dalam kidung ini pula Sunan Kalijaga menjelaskan perjalanan manusia sejak saat penciptaan hingga pada dia dapat sampai dan menyatu dengan tuhan Sang Hyang Widhi atau Manunggaling Kawulo Gusti. Dalam tasawuf atau mistik Jawa seseorang yang memahami ilmu kasampurnan akan sangat mudah mencapai derajat tinggi di hadapan tuhan. Ilmu kasampurnan mempelajari asal usul manusia, tugas dan tujuan hidup, atau sering disebut sangkan paraning dumadi. Kata kunci: Jawa, Sunan Kalijaga, Kidung, Mistik Kejawen, Manunggaling Kawulo Gust

    Bentuk, Fungsi, dan Makna Kidung Rumekso Ing Wengi : Kajian Hermeneutik

    Full text link
    Pembicaraan mengenai sastra Jawa tidak akan pernah habis untuk dikuliti. Salah diantaranya sastra Kidung Rumeksa Ing Wengi. Tujuan tulisan ini untuk menyampaikan tafsir mengenai bentuk, fungsi dan makna Kidung Rumeksa Ing Wengi. Tafsir ini setidaknya dapat menambah referensi pengetahuan mengenai kajian sastra Jawa. Penelitian ini merupakan penelitian pustaka dengan menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Data diperoleh dari naskah Jawa dan sumber yang mendukung analisis. Data dianalisis menggunakan kajian isi dengan pendekatan hermeneutik. Hasil penelitian diperoleh bahwa Kidung Rumekso Ing Wengi menyampaikan kepada manusia agar senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga terhindar dari kutukan dan malapetaka

    Pengaruh Ukuran Pemerintah Daerah, Opini Audit, Jumlah Satuan Kerja Perangkat Daerah, dan Belanja Modal Terhadap Kinerja Pemerintah Daerah

    Full text link
    PENGARUH UKURAN PEMERINTAH DAERAH, OPINI AUDIT, JUMLAH SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH, DAN BELANJA MODAL TERHADAP KINERJA PEMERINTAH DAERAH MUFLI RUMEKSO F1315132 Penelitian ini, bertujuan untuk menguji dan memperoleh bukti secara empiris pengaruh ukuran pemerintah daerah, opini audit, jumlah SKPD, dan belanja modal terhadap kinerja pemerintah daerah. Kinerja pemerintah daerah dinilai dengan menggunakan skor Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (EKPPD) dari Kementerian Dalam Negeri. Populasi dalam penelitian ini adalah pemerintah daerah kabupaten/kota di Indonesia periode 2013-2015. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling dan jumlah sampel yang memenuhi kriteria sebanyak 1.296 sampel. Data yang digunakan dalam penelitain ini, adalah data sekunder yang diperoleh dari Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (LPPD) dan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD). Pengujian hipotesis dalam penelitian ini, menggunakan analisis regresi linier berganda dengan data panel. Hasil uji regresi berganda menunjukkan bahwa ukuran pemerintah daerah dan belanja modal tidak berpengaruh terhadap kinerja pemerintah daerah, sedangkan opini audit dan jumlah SKPD berpengaruh positif terhadap kinerja pemerintah daerah. Kata Kunci: ukuran pemerintah daerah, opini audit, jumlah SKPD, belanja modal, kinerja pemerintah daerah

    The Significance of Holistic Spirituality in Sunan Kalijaga’s Kidung Rumekso Ing Wengi

    Full text link
    This research aims to explain the holistic spirituality of Kidung Rumekso ing Wengi by Sunan Kalijaga. In addition to being used in various situations to pray, the song needs to be studied for the sake of cultural preservation, historical understanding, literary wealth, identity, and local pride. This study is qualitative. The data used in this study consisted of documents and interviews. Data was collected through interviews and document analysis. The data validation technique uses triangulation of theory and method, while the data analysis technique uses Miles and Hubermann's interactive model and Roland Barthes' markers. Based on interviews with sources and literature studies, Kidung Rumekso ing Wengi is a counter-acceptance mantra taught by Sunan Kalijaga to his followers. Until now, there are still people who have developed hymns and the practice of hymns as a medium of prayer by paying attention to aspects of tolerance. There are various values, such as the ethics of vigilance, returning to Allah, the ethics of prayer, and self-control. &nbsp

    PeningkatanHasilBelajarPendidikanJasmaniOlahraga Dan KesehatanSenamKetangkasan Roll BelakangDenganMenggunakan Media MatrasBidang Miring PesertaDidikKelas V MI MuhammadiyahTamansariKarangmoncolKabupatenPurbalinggaTahunPelajaran 2017/2018 Galih Akbar Rumekso

    No full text
    PendidikanJasmani, OlahragadanKesehatanmemegangperananpentingdalamkualitasmanusiaseutuhnya, diajarkandengantujuanuntukmembantupesertadidikdalammeningkatkankesegaranjasmanidankesehatanmelaluipengenalandanpenanamansikappositif, sertakemapuangerakdasardanberbagaipendekatanjasmanibagipesertadidik.Perananpendidikanjasmani, olahragadankesehatanadalahsangatpenting, yang memberikankesempatankepadapesertadidikuntukterlibatlangsungdalamberbagaipengalamanbelajarmelaluiaktivitasjasmani, bermain, danolahraga yang dilakukansecarasistematis.Pembekalanpengalamanbelajaritudiarahkanuntukmembina, sekaligusmembentukgayahidupsehat, danaktifsepanjanghayat. Jenispenelitianiniadalahpenelitiantindakankelas (PTK) (classroomaction research), merupakanPenelitian yang diprakarsaiuntukmemecahkanmasalahdalam proses belajarmengajar di kelassecaralangsung. Secaragarisbesarprosedurpenelitiantindakanmencakupempattaraf: PerencanaanTindakan(planning),PelaksanaanTindakan(acting), observasi (observing), sertaRefleksi(Reflecting). Dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah dengan menggunakan media matras bidang miring dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik Kelas V MI Muhammadiyah Tamansari Kabupaten Purbalingga Tahun Pelajaran 2017/2018 pada pembelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan kompetensi dasar senam ketangkasan roll belakang. Hasil penelitian pada pra siklus diketahui bahwa sebagian besar peserta didik V belum mencapai nilai KKM 70 yang menjadi syarat nilai tuntas belajar mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan di MI Muhammadiyah Tamansari Karangmocol Kabupaten Purbalingga, sedangkan target nilai yang diharapkan oleh pendidik adalah nilai rata-rata kelas ≥75. Kondisi pra siklus peserta didik kelas V adalah 37%, yang dikatakan tuntas belajar. Pada siklus I dengan pembelajaran melalui media matras bidang miring didapatkan hasil. Adapun kesimpulan dari penelitan tersebut
    corecore