1,721,005 research outputs found
AKTIVITAS SITOTOKSIK EKSTRAK DAN FRAKSI HASIL FERMENTASI FUNGI ENDOFIT GENUS Cephalosporium sp. DIISOLASI DARI DAUN MENIRAN (Phyllantus niruri Linn.)
Latar Belakang: Mikroba endofit merupakan mikroba yang hidup berkoloni dalam jaringan tumbuhan yang dapat memproduksi senyawa bioaktif yang sama bahkan identik dengan senyawa yang dihasilkan tumbuhan inangnya. Tujuan: Mengetahui aktivitas sitotoksik ekstrak etil asetat, fraksi n-heksana, fraksi dietil eter, dan fraksi etanol hasil fermentasi fungi endofit genus Cephalosporium sp yang diisolasi dari tumbuhan meniran dilakukan terhadap sel kanker jenis T47D dan sel normal jenis Vero secara in vitro. Metode: Fungi endofit diisolasi dari daun meniran dan dilakukan analisis morfologi, fungi genus Cephalosporium sp dikembangbiakkan dengan media potatoes dextrose broth. Pemisahan ekstrak dan miselium dilakukan dengan cara disaring. Ekstraksi menggunakan metode ekstraksi cair-cair dan pemisahan fraksi menggunakan metode kromatografi kolom menggunakan pelarut dengan kepolaran bertingkat. Hasil: Fraksi etanol mempunyai aktivitas sitotoksik tertinggi dengan nilai IC50 sebesar 15,47±0,71 μg/mL dan memiliki nilai selectivity index antara sel kanker jenis T47D dan sel normal Vero memenuhi syarat >3 dengan nilai sebesar 23,31. Simpulan dan saran: Fraksi etanol mempunyai aktivitas sitotoksik yang poten dan memiliki nilai selectivity index antara sel kanker payudara jenis T47D dan sel normal Vero memenuhi syarat >3. Isolasi dan identifikasi senyawa aktif di dalam fraksi etanol diperlukan untuk mengetahui senyawa yang mempunyai aktivitas sitotoksik secara spesifik
Cytotoxic and In Silico Evaluation of Hyrtios erectus Extract Against T47D Breast Cancer Cells: A Potential Marine-Derived Anticancer Agent
Hyrtios erectus is a marine sponge species with promising potential as an anticancer agent. This study aimed to evaluate the cytotoxic activity of Hyrtios erectus extract against T47D breast cancer cells and assess the drug-likeness of its active compounds through in silico approaches. The investigation began with a phytochemical screening of the extract, followed by a cytotoxicity assay using the MTT method. The in silico analysis included PASS prediction, ADMET evaluation, and molecular docking. Phytochemical screening revealed the presence of flavonoids, alkaloids, terpenes, and saponins. The cytotoxicity test yielded an IC₅₀ value of 12.73 ± 1.05 µg/mL and a selectivity index (SI) of 18.16, indicating strong cytotoxic activity and high selectivity towards T47D breast cancer cells. PASS and ADMET analyses predicted that 20 identified compounds possess anticancer potential with low toxicity. Molecular docking results exhibited favorable binding energies for 2-chloro-6-phenyl-8H-quinazolino[4,3-b]-quinazolin-8-one, Echinoclerodane A, and 5-hydroxy-1H-indole-3-carboxylic-acid-methyl-ester, suggesting significant interaction with cancer-related protein targets. These findings support the potential of Hyrtios erectus extract and its bioactive compounds as promising candidates for anticancer drug development
PENGEMBANGAN SPEKTROFOTOMETER DERIVATIF DAN KEMOMETRIK MULTIVARIAT PADA SEDIAAN KOSMETIK YANG MENGANDUNG NIACINAMIDE DAN VITAMIN C PADA KOSMETIKA PENCERAH
Niacinamide dan vitamin C merupakan senyawa yang banyak ditemukan di dalam kandungan kosmetika pencerah. Dimana keduanya memiliki efek yang baik pada kulit. Penelitian ini dilakukan dengan metode spektrofotometer derivatif dan kemometrik multivariat. Tujuan dilakukannya penelitian ini yaitu untuk mengetahui apakah validasi metode analisis dan kadar dari senyawa niacinamide dan vitamin C masih dalam batas pengunaannya. Pada metode kemometrik digunakan model Partial Least Square (PLS) dengan 25 set kalibrasi pada raw spektra dan derivatif 1 sampai 4. Validasi metode analisis memenuhi persyaratan denan menggunakan data raw spektra, jika menggunakan data derivatif hasil tidak memenuhi persyaratan. Hasil validasi metode analisis pada parameter linieritas untuk niacinamide dan vitamin C yaitu 0,9976 dan 0,9993. Nilai LOD untuk niacinamide dan vitamin C yaitu 0,6674 dan 0,1716. Nilai LOQ niacinamide dan vitamin C yaitu 2,2247 dan 0,5720. Hasil akurasi niacinamide dan vitamin C yaitu 96,9045%-102,6530% dan 101,2216%-104,3396%, nilai presisi niacinamide dan vitamin C sebesar 0,6281%-3,8099% dan 0,2649%-2,5829%. Pada penetapan kadar, diperoleh kadar niacinamide sebesar 1,1275%-1,7441% dan kadar vitamin C sebesar 1,5075%-1,8203%. Kadar niacinamide memenuhi persyaratan penggunaannya, untuk vitamin C kurang dari batas pengguunaanya. Hal ini dikarenakan vitamin C memiliki sifat yang sensitif terhadap cahaya dan dalam larutan akan cepat teroksidasi
COMBINATION OF HEDYOTIS CORYMBOSA L. AND TINOSPORA CRISPA ETHANOLIC EXTRACT INCREASE CISPLATIN CYTOTOXICITY ON T47D BREAST CANCER CELLS
Objective: Ursolic acid was a compound found in Hedyotis corymbosa L., (HCoL) while berberine found in Tinospora crispa (TCa) which are proven to have cytotoxic effect to cancer cells. This research aims to review the effect of cisplatin, ethanolic extract of HCoL and TCa to the sensitivity increase on breast cancer cells, which will be confirmed through apoptosis induction and cell cycle modulation.Methods: The cytotoxic effect was tested using 3-(4,5-dimethylthiazol-2-il)-2,5-diphenyltetrazolium bromide assay on T47D cell using the IC50 parameter. The combination was tested by determining their combination index (CI) and cell viability. The combination effect of apoptosis induction and cell cycle modulation was observed using flow cytometry method.Results: The cytotoxic test result of the combination shows CI value of below 1 at the concentration of HCoL ethanolic extract as much as 1 μg/mL, TCa ethanolic extract as much as 6 μg/mL, and cisplatin as much as 2,5 μM. The combination of HCoL ethanolic extract, TCa ethanolic extract, and cisplatin results in phase S cell accumulation (29.98%) on breast cancer cell T47D and was able to induce apoptosis.Conclusion: The result proves that ethanolic extract of HCoL and TCa can be developed as a cochemotherapeutic agent with cisplatin to increase the effectivity of breast cancer treatment
AKTIVITAS SITOTOKSIK EKSTRAK DAN FRAKSI HASIL FERMENTASI FUNGI ENDOFIT GENUS Cephalosporium sp. DIISOLASI DARI DAUN MENIRAN (Phyllantus niruri Linn.)
Latar Belakang: Mikroba endofit merupakan mikroba yang hidup berkoloni dalam jaringan tumbuhan yang dapat memproduksi senyawa bioaktif yang sama bahkan identik dengan senyawa yang dihasilkan tumbuhan inangnya. Tujuan: Mengetahui aktivitas sitotoksik ekstrak etil asetat, fraksi n-heksana, fraksi dietil eter, dan fraksi etanol hasil fermentasi fungi endofit genus Cephalosporium sp yang diisolasi dari tumbuhan meniran dilakukan terhadap sel kanker jenis T47D dan sel normal jenis Vero secara in vitro. Metode: Fungi endofit diisolasi dari daun meniran dan dilakukan analisis morfologi, fungi genus Cephalosporium sp dikembangbiakkan dengan media potatoes dextrose broth. Pemisahan ekstrak dan miselium dilakukan dengan cara disaring. Ekstraksi menggunakan metode ekstraksi cair-cair dan pemisahan fraksi menggunakan metode kromatografi kolom menggunakan pelarut dengan kepolaran bertingkat. Hasil: Fraksi etanol mempunyai aktivitas sitotoksik tertinggi dengan nilai IC50 sebesar 15,47±0,71 μg/mL dan memiliki nilai selectivity index antara sel kanker jenis T47D dan sel normal Vero memenuhi syarat >3 dengan nilai sebesar 23,31. Simpulan dan saran: Fraksi etanol mempunyai aktivitas sitotoksik yang poten dan memiliki nilai selectivity index antara sel kanker payudara jenis T47D dan sel normal Vero memenuhi syarat >3. Isolasi dan identifikasi senyawa aktif di dalam fraksi etanol diperlukan untuk mengetahui senyawa yang mempunyai aktivitas sitotoksik secara spesifik
UJI ANTIMIKROBA MINYAK ATSIRI MASOYI (Massoia aromatica) TERHADAP BAKTERI Streptococcus mutans
Karang gigi merupakan salah satu keadaan patologis dari gigi. Salah satu penyebab karang gigi adalah bakteri Streptococcus mutans. Bakteri tersebut tidak bekerja sendiri tetapi didukung oleh beberapa faktor lainnya yaitu host (gigi dan saliva), substrat (makanan), dan waktu. Salah satu cara yang dapat dilakukan dalam pencegahan tumbuhnya karang gigi adalah dengan mengontrol akumulasi plak pada permukaan gigi. Tumbuhan masoyi merupakan salah satu tumbuhan yang tumbuh di Indonesia. Dari kajian teoritis yang ada, minyak atsiri masoyi (Massoia aromatica) mengandung senyawa yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas minyak atsiri masoyi (Massoia aromatica) sebagai antibakteri terhadap Streptococcus mutans dengan melihat nilai KBM (Kadar Bunuh Minimum) dan KHM (Kadar Hambat Minimum). Penentuan nilai KBM dan KHM dilakukan metode kualitatif dan kuantitatif. Pada pengujian dengan metode kualitatif dilakukan disc diffusion test, metode dilusi cair, dan metode dilusi padat. Sedangkan pada pengujian kuantitatif dilakukan metode mikrodilusi. Penelitian ini menggunakan 8 konsentrasi yaitu 2000, 1000, 500, 250, 125, 62,5, 31,25, dan 15,625 µg/mL. Hasil penelitian dengan metode kualitatif menunjukkan nilai KHM didapatkan pada konsentrasi 500 µg/mL dan nilai KBM didapatkan pada konsentrasi lebih dari 2000 µg/mL. Hasil penelitian dengan metode kuantitatif menunjukkan nilai IC50 85,047 µg/mL dan IC90 491,481 µg/mL. Kesimpulan dari penelitian ini adalah minyak atsiri masoyi (Massoia aromatica) terbukti dapat menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans
PENGEMBANGAN SPEKTROFOTOMETER DERIVATIF DAN KEMOMETRIK MULTIVARIAT PADA SEDIAAN KOSMETIK YANG MENGANDUNG NIACINAMIDE DAN VITAMIN C PADA KOSMETIKA PENCERAH
Niacinamide dan vitamin C merupakan senyawa yang banyak ditemukan di dalam kandungan kosmetika pencerah. Dimana keduanya memiliki efek yang baik pada kulit. Penelitian ini dilakukan dengan metode spektrofotometer derivatif dan kemometrik multivariat. Tujuan dilakukannya penelitian ini yaitu untuk mengetahui apakah validasi metode analisis dan kadar dari senyawa niacinamide dan vitamin C masih dalam batas pengunaannya. Pada metode kemometrik digunakan model Partial Least Square (PLS) dengan 25 set kalibrasi pada raw spektra dan derivatif 1 sampai 4. Validasi metode analisis memenuhi persyaratan denan menggunakan data raw spektra, jika menggunakan data derivatif hasil tidak memenuhi persyaratan. Hasil validasi metode analisis pada parameter linieritas untuk niacinamide dan vitamin C yaitu 0,9976 dan 0,9993. Nilai LOD untuk niacinamide dan vitamin C yaitu 0,6674 dan 0,1716. Nilai LOQ niacinamide dan vitamin C yaitu 2,2247 dan 0,5720. Hasil akurasi niacinamide dan vitamin C yaitu 96,9045%-102,6530% dan 101,2216%-104,3396%, nilai presisi niacinamide dan vitamin C sebesar 0,6281%-3,8099% dan 0,2649%-2,5829%. Pada penetapan kadar, diperoleh kadar niacinamide sebesar 1,1275%-1,7441% dan kadar vitamin C sebesar 1,5075%-1,8203%. Kadar niacinamide memenuhi persyaratan penggunaannya, untuk vitamin C kurang dari batas pengguunaanya. Hal ini dikarenakan vitamin C memiliki sifat yang sensitif terhadap cahaya dan dalam larutan akan cepat teroksidasi
Uji aktivitas antioksidan menggunakan radikal 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil (DPPH) dan penetapan kandungan fenolik total fraksi air ekstrak metanol daun sirih (Piper betle L.)
Isolasi, Identifikasi, Karakterisasi, dan Uji Antibiofilm Derivat Asam Galat dari Kulit Batang Sterculia quadrifida R.Br
Antimicrobial, Antioxidant and T47D Cytotoxic Activities of Trichaptum sp., A Fungal Endophyte from Phyllantus niruri Linn.: In vitro and in silico Studies
- …
