Jurnal Online Institut Ilmu Kesehatan (IIK)
Not a member yet
369 research outputs found
Sort by
ANALISIS CEMARAN BAKTERI PADA JAJANAN BAKSO IKAN DI SEKOLAH DASAR NEGERI KECAMATAN SIRIMAU KOTA AMBON
Bakso menjadi salah satu jenis jajanan makanan yang dijajakan di lingkungan anak sekolah. Dalam indikator pemilihan makanan, anak-anak kurang memperhatikan tingkat keamanan dari jajanan sehingga dapat memicu terjadinya foodborne diseases. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui cemaran bakteri pada jajanan bakso ikan yang dijajakan di Sekolah Dasar Negeri Kecamatan Sirimau dengan parameter uji ALT. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan desain deskriptif kuantitatif pendekatan experiment laboratory. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik simple random sampling dengan jumlah sampel dari 2 penjual. Sampel jajanan bakso ikan dianalisis dengan menghitung jumlah angka lempeng total (ALT) dengan metode cawan tuang menggunakan media nutrient agar. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil uji ALT koloni tertinggi pada kode sampel SB 2,1 × 108 koloni/g sedangkan hasil ALT sampel dengan kode SA 2,8 × 107koloni/g. Sehingga dapat disimpulkan kedua sampel tersebut tidak memenuhi persyaratan mutu dan keamanan bakso ikan berdasarkan SNI 7266:2017 dengan parameter uji ALT batas maksimum bakteri yaitu 1,0 × 105 koloni/g
EFEKTIVITAS EDUKASI KESEHATAN GIGI DAN MULUT TERHADAP PENINGKATAN PENGETAHUAN KADER MUHAMMADIYAH/ AISYIYAH
Latar Belakang: Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian integral dari kesehatan umum yang berperan penting dalam kualitas hidup. Rendahnya pengetahuan masyarakat, termasuk kader kesehatan, masih menjadi faktor utama yang berkontribusi terhadap tingginya angka masalah kesehatan gigi di Indonesia. Edukasi kesehatan berbasis komunitas menjadi strategi efektif dalam meningkatkan literasi dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kebersihan rongga mulut. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi kesehatan gigi dan mulut terhadap peningkatan pengetahuan kader Muhammadiyah/Aisyiyah di Bantar, Kulon Progo. Metode: Penelitian menggunakan desain one group pretest–posttest dengan pendekatan pre-eksperimental. Sampel terdiri atas 30 kader Muhammadiyah/Aisyiyah yang mengikuti kegiatan edukasi kesehatan gigi dan mulut. Instrumen penelitian berupa kuesioner berisi lima pertanyaan pilihan ganda yang diberikan sebelum dan sesudah edukasi. Data dianalisis menggunakan Paired t-test dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Hasil: Terdapat peningkatan skor rata-rata pengetahuan peserta dari 78.79 ± 18.31 pada pretest menjadi 92.12 ± 14.31 pada posttest. Paired t-test menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara nilai pretest dan posttest (t = 4.74, p < 0,001), menunjukkan bahwa edukasi berpengaruh positif terhadap peningkatan pengetahuan kader. Simpulan: Edukasi kesehatan gigi dan mulut terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan kader Muhammadiyah/Aisyiyah di Bantar, Kulon Progo. Kegiatan edukasi serupa perlu dilaksanakan secara berkelanjutan untuk mendukung peningkatan perilaku kesehatan masyarakat
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI PADA EKSTRAK KULIT BUAH ALPUKAT (Persea americana Mill) TERHADAP BAKTERI PENYEBAB JERAWAT
Latar belakang: Kandungan flavonoid, fenol, steroid, dan alkaloid pada kulit buah alpukat (Persea americana Mill) yang berpotensi sebagai antibakteri penyebab jerawat. Jerawat umumnya terjadi pada remaja dan muncul di wajah, bahu, dada, serta punggung atas. Penyebab utamanya adalah bakteri S. Epidermidis, S. aureus dan P. acnes. Tujuan: Untuk menentukan konsentrasi optimal ekstrak kulit alpukat sebagai antibakteri terhadap S. Epidermidis, S. aureus dan P. acnes menggunakan metode KHM dan KBM, serta melakukan uji parameter spesifik dan nonspesifik. Metode: Metode ini menentukan Konsentrasi Hambat Minimum menggunakan microplate 96-well dengan Nutrient Broth untuk S. epidermidis dan S. aureus, serta Brain Heart Infusion Broth untuk P. acnes. Campuran diinkubasi pada 37°C (aerob 24 jam untuk S. epidermidis dan S. aureus; anaerob 72 jam untuk P. acnes), lalu diamati kekeruhannya. Konsentrasi Bunuh Minimum ditentukan dari sampel KHM tidak keruh, dengan inkubasi ulang untuk melihat konsentrasi terendah yang membunuh 99,9% bakteri. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kulit buah alpukat) dapat menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus pada konsentrasi 25.000 ppm, terdapat aktivitas antibakteri S. epidermidis pada konsentrasi 25.000 ppm, dan pada bakteri P. acnes aktivitas antibakteri terjadi pada konsentrasi 50.000 ppm. Simpulan: Ekstrak kulit buah alpukat memiliki aktivitas antibakteri penyebab jerawat
ANALISIS PEWARNA ALAMI EKSTRAK AQUADES ANGKAK MERAK PADA PENGAMATAN TELUR CACING SOIL TRANSMITTED HELMINTH
Latar Belakang: Kecacingan adalah infeksi yang disebabkan oleh berbagai jenis cacing parasit di usus. Spesies ini termasuk dalam kategori Soil Transmitted Helminth (STH) karena perkembangan telur atau larva spesies tersebut membutuhkan tanah untuk berkembang menjadi bentuk yang infektif. Metode paling sederhana untuk memeriksa telur cacing Nematoda Usus adalah metode natif. Metode ini menggunakan reagen Eosin 2% untuk mengamati berbagai komponen pemeriksaan pada preparat atau sediaan. Dibutuhkan pewarnaan alternatif yang lebih ramah lingkungan untuk menggantikan eosin karena sifatnya yang tidak mudah terurai dan menghasilkan limbah yang berbahaya. Salah pewarna telur cacing STH yaitu angkak merah. Pewarna angkak merah memiliki zat berupa antosianin yang mampu mewarnai telur cacing STH. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ekstrak aquades angkak merah dapat berfungsi sebagai zat warna untuk mendeteksi infeksi SHT dalam pemeriksaan feses. Metode : Penelitian ini menggunakan eksperimen laboratorium dengan karakteristik deskriptif kategorikal, dengan memvariasikan konsentrasi ekstrak angkak merah (murni, 1:1, 1:2, dan 1:3) dan pH Pewarna (asam dan basa). Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa pewarna yang paling efektif yaitu ekstrak angkak merah dengan perbandingan 1:3 dengan pH asam berfungsi sebagai pengganti yang efektif untuk reagen Eosin 2% dalam pewarnaan telur cacing STH. Kesimpulan : Hal ini dapat disimpulkan bahwa ekstrak aquades angkak merah dapat digunakan sebagai pewarna alami untuk mengidentifikasi telur cacing STH
Edukasi Herbal dan Manajemen Gula Darah melalui Program HI DAUN & CERDIK GULA bagi Lansia: Edukasi Herbal dan Manajemen Gula Darah melalui Program HI DAUN & CERDIK GULA bagi Lansia
Program HI DAUN (Herbal Inovatif untuk Diabetes pada Usia Lanjut) dan CERDIK GULA (Cerdas Kendalikan Gula Darah) dilaksanakan untuk meningkatkan pengetahuan lansia mengenai pemanfaatan herbal serta manajemen gula darah. Kegiatan ini dilakukan melalui penyuluhan, diskusi interaktif, dan simulasi pemantauan gula darah. Sasaran kegiatan adalah kelompok lansia dengan risiko diabetes mellitus tipe 2. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta tentang jenis tanaman herbal yang bermanfaat, cara konsumsi yang aman, serta pentingnya pola hidup sehat dalam menjaga kadar gula darah. Lansia yang mengikuti program ini lebih memahami strategi pencegahan komplikasi diabetes dan menunjukkan antusiasme tinggi dalam berbagi pengalaman sehari-hari. Program ini membuktikan bahwa edukasi berbasis komunitas dapat meningkatkan kesadaran dan keterampilan lansia dalam mengelola kesehatan secara mandiri
WIJALINGA: Wonorejo Inisiatif Jaga Lingkungan Aman (Sosialisasi Dampak Pembakaran Sampah dan Demonstrasi Teknologi Tepat Guna Biopori)
Desa Wonorejo, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri menghadapi masalah lingkungan, yaitu kasus perilaku pegolahan sampah dengan cara dibakar meskipun fasilitas pengelolaan samapah sudah tersedia. Hal ini menyebabkan pencemaran udara akibat emisi gas beracun hasil pembakaran sampah. Pengabdian ini bertujuan meningkatkan kemampuan dan keberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sampah berkelanjutan melalui sosialisasi dampak pembakaran sampah, pengenalan teknologi tepat guna biopori, dan peningkatan pengetahuan dan kemampuan pemeliharaan berkelanjutan. Kegiatan dilaksanakan pada 16 Agustus 2025 di Desa Wonorejo dengan 31 peserta menggunakan metode ceramah untuk sosialisasi dampak pembakaran sampah dan konsep biopori, serta demonstrasi melalui video praktik pembuatan lubang biopori. Evaluasi dilakukan dengan metode pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan. Program dilengkapi pembagian booklet dan penyerahan alat bor biopori untuk keberlanjutannya. Hasil dari kegiatan WIJALINGA ini telah berhasil meningkatkan pengetahuan masyarakat rata-rata 28,36% dengan peningkatan tertinggi pada pemahaman produksi kompos (38,7%), pengetahuan dasar biopori (35,4%), dan jenis sampah organik (29,0%). Implementasi praktis menunjukkan peningkatan terendah (12,9%). Namun demikian, masih perlu adanya pendampingan berkelanjutan, pelatihan praktis, serta monitoring jangka panjang untuk memfasilitasi transisi pengetahuan menjadi implementasi nyata
ANALISA KEPATUHAN PENGGUNAAN OBAT PADA PASIEN HIPERTENSI DI DUSUN BUTUN KABUPATEN KEDIRI
Hipertensi, salah satu penyakit kronis yang paling umum, membutuhkan pengobatan jangka panjang dan kepatuhan pasien.. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat kepatuhan pasien hipertensi setelah mendapatkan pengetahuan di Dusun Butun, Desa Pagu, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri. Metode pengabdian masyarakat yang digunakan adalah analisis observasional dengan pengambilan data pada satu waktu. Data diperoleh melalui kuesioner yang diberikan kepada 19 responden penderita hipertensi yang dipilih dengan teknik probability sampling. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa mayoritas responden adalah perempuan (78,9%) dengan rentang usia terbanyak 61–65 tahun (26,3%) dan tingkat pendidikan mayoritas SD/MI (84,2%). Evaluasi tingkat kepatuhan menunjukkan bahwa 57,89% responden memiliki kepatuhan rendah, 15,79% kepatuhan sedang, dan hanya 26,32% yang memiliki kepatuhan tinggi. Kesimpulan dari pengabdian masyarakat ini yakni tingkat kepatuhan penggunaan di Dusun Butun masih tergolong rendah obat pada pasien hipertensi, sehingga diperlukan edukasi, pendampingan, serta monitoring berkelanjutan dari tenaga kesehatan untuk meningkatkan kepatuhan pasien
EDUKASI TENTANG CEMILAN SEMBARANGAN PADA IBU SEKOLAH DENGAN METODE EMODEMO
Pada umumnya anak-anak tidak lepas dari aktivitas jajanan cemilan di Sekolah. Jajanan di Sekolah biasanya didagangkan oleh pedagang kaki lima ataupun roda dua yang dapat langsung dikonsumsi tanpa pengolahan dan persiapan lebih lanjut. Hal ini tentu harus dikontrol agar tidak menjadi kebiasaan anak dalam jajan sembarangan. Edukasi gizi dengan metode Emotional Demonstration (Emo-Demo) yang bertemakan “Cemilan Sembarangan†merupakan strategi dalam pendekatan antara individu, kelompok atau dalam mengembangkan strategi komunikasi untuk mencapai perubahan perilaku secara positif. Tujuan kegiatan Emo-Demo adalah untuk meningkatkan perilaku ibu dalam memperhatikan cemilan yang dikonsumsi oleh anaknya. Pelaksaan kegiatan dilakukan pada hari minggu, 20 Desember 2020 dimulai pukul 08.30 hingga pukul 08.50 WIB bertempat di Mushola At Taqwa RT.006 RW.004 Desa Ajung Kecamatan Kalisat Kabupaten Jember. Rangkaian kegiatan berupa permainan interaktif, pemberian pretest posttest, diskusi dan diakhir kegiatan dilakukan penjelasan ulang mengenai inti materi dari. Berdasarkan hasil pretest dan posttest diketahui bahwa terdapat peningkatan pengetahuan dari 67,8% menjadi 76,7%. Peningkatan pengetahuan yang terjadi yaitu sebesar 8,9%. Dari seluruh rangkaian kegiatan Emo-Demo “Cemilan Sembarangan†pada Ibu Anak Sekolah di Desa Ajung, maka dapat ditarik kesimpulan Emo-Demo ini dapat digunakan sebagai alternatif media pembelajaran untuk peningkatan pengetahuan yang mudah diterapkan
IDENTIFIKASI KANDUNGAN KOMPONEN AKTIF DALAM ECO ENZYME YANG DIHASILKAN DARI BAHAN BAKU ORGANIK DENGAN PERBANDINGAN SUBSTRAT GULA AREN DAN MOLASE
Berdasarkan data Sistem Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementrian Lingkungan Hidup tahun 2022, timbulan sampah sebesar 36,218,012.28 ton/tahun dan 40.4% merupakan sampah sisa makanan. Salah satu usaha untuk mengurangi timbulan sampah organik adalah dengan mengelola sampah organik khusus nya limbah buah dan sayur dengan metode eco enzyme. Tujuan: penelitian ini menganalisis karakteristik eco enzyme dengan perbandingan substrat gula aren dan molase. Metode: penelitian menggunakan analisis kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan triangluasi. Pengujian organoleptic untuk mengukur variable aroma dan warna. Juga mengukur pH juga suhu. Hasil: variabel eco-ezyme substrat gula merah memiliki warna cairan coklat keruh, hijau dan hijau kehitaman, sedangkan subtrat molase memiliki warna cairan coklat tua. variabel eco-ezyme substrat molase memberikan aroma asam segar dominan nanas, asam segar aroma kunyit, aroma segar dominan seledri sedangkan substrat gula aren memberikan aroma asam segar dominan nanas, aroma asam segar dominan kunyit, dan memiliki aroma tidak segar, seperti aroma dari sayur yang membusuk. eco enzyme subtrat gula merah menunjukkan pH akhir 6 sedangkan subtrat molase menunjukkan pH akhir 5. Pengukuran suhu eco enzyme subtrat gula merah dan molase menunjukkan suhu 24 ºC hingga 28 ºC. Simpulan. Ada Perbedaan varian eco enzyme dengan perbandingan subtrat gula merah dan molase
Edukasi Manajemen Self-Care untuk Meningkatkan Pengetahuan dan Sikap Penyandang Diabetes Mellitus
Diabetes melitus (DM) terjadi karena gangguan metabolisme disebabkan karena gangguan sekresi insulin atau aktivitas insulin, yang mengakibatkan tubuh tidak cukup memprodukasi glukosa untuk energi. Hiperglikemia dan hipoglikemia pada pasien DM merupakan komplikasi akut yang dapat terjadi secara tiba-tiba, dapat memperburuk keadaan, bahkan dapat mengakibatkan kematian. Tingginya prevalensi dan komplikasi DM seperti hiperglikemia dan hipoglikemia berkaitan erat dengan pengetahuan dan sikap penyandang DM yang kurang tepat. Tujuan kegiatan pengabdian ini untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap penyandang DM tentang manajemen self-care DM. Metode kegiatan dengan memberikan edukasi kesehatan dengan media booklet dan materi yang disampaikan meliputi definisi, tanda gejala, penyebab, dampak dan manajemen self-care DM. Jumlah peserta sebanyak 30 orang. Hasil kegiatan pengabdian ini adalah pengetahuan peserta sebelum diberikan edukasi sebagian besar kurang (56.7%), sedangkan sesudah diberikan edukasi hampir seluruh peserta adalah baik (83.3%. Pada variabel sikap pada penyandang  DM sebelum edukasi Sebagian besar adalah negative (63.3%), sedangkan sesudah edukasi hampir seluruh peserta adalah positif (80%). Diharapkan dengan adanya peningkatan pengetahuan dan sikap pada penyandang DM diharapkan dapat meningkatkan kontrol  gula darah pada pasien sehingga komplikasi jangka panjang yang dikaibatkan karena ketidakstabilan gula darah dapat dicegah