534 research outputs found
Transformasi Selawat Jawi sebagai Rekonsepsi Identitas Budaya Jawa
Selawat jawi sebagai bagian dari seni tradisi di tengah masyarakat Jawa
senantiasa menghadapi tantangan di tengah laju dinamika masyarakat
yang tumbuh menjadi masyarakat modern. Laju dinamika tersebut
membawa perubahan karakteristik masyarakat sehingga berdampak
pula pada seni tradisi yang dibawanya. Transformasi budaya menjadi
bagian yang tidak terelakkan terjadi di tengah masyarakat. Dengan
melihat dan membaca penanda pada waktu yang bertalian dengan
pesan, 'waktu' atau zeitgeist menjadi karakter yang dapat digambarkan
dan artikulasi spesifik yang ditunjukkan sebagai konsensus opini publik
mengenai karakteristik dan artikulasi yang ada sebagaimana
dikonsepkan oleh Ward dalam memahami transformasi budaya dan
praktik religi. Dengan mendasarkan pada metode discourse analysis
dengan pendekatan konstruktivisme sosial melalui selawat jawi yang
dilihat sebagai konstruksi dari pengembangan seni tradisi pada budaya
yang melingkupi aktivitas masyarakatnya sendiri. Selawat Jawi sebagai
syiar agama Islam di Pulau Jawa menjadi bagian media persebarannya.
Dengan bentuk akulturasi budaya, selawat jawi yang bernapaskan Islam
sering dianggap sebagai tradisi sekuler. Hal tersebut menempatkan
pelaku selawat dalam dua kelompok: santri dan abangan. Dalam
perkembangannya, selawat jawi selain berisi cerita kenabian, syiar agama
Islam oleh Walisongo, dan juga kepahlawanan atau sikap patriotik
pemimpin rakyat
Implementasi Kontekstualisasi Seni Di Tengah Masyarakat Era 5.0
Salah satu poin kinerja civitas academica dalam hal pengembangan materi ilmu pengetahuan tidak dapat dilepaskan dari aktivitas ilmiah berupa penulisan karya ilmiah. Selain sebagai bagian dari tugas pokok tenaga pendidik profesional, kegiatan penelitian juga dapat memengaruhi keaktualan informasi terkait dengan pengembangan ilmu pengetahuan berdasarkan data di lapangan terkini. Di tengah masyarakat era 5.0, seni turut memegang peran dalam perkembangan budaya di tengah masyarakat. Namun, masih banyak temuan data di lapangan yang belum terbidik oleh tenaga pendidik profesional dan belum tertuang dalam tulisan ilmiah sebagai temuan pemikiran atau solusi bagi permasalahan-permasalahan di tengah masyarakat. Hal ini dapat dilihat sebagai celah dan peluang untuk menyampaikan gagasan yang bernilai tepat guna bagi perkembangan budaya masyarakat.
Mengacu pada pemikiran tersebut, peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) tenaga pendidik profesional menjadi hal yang mutlak diperlukan sehingga setiap tenaga pendidik profesional tersebut dapat mengembangkan kemampuan dan kualitas akademisnya melalui produksi karya ilmiah. Untuk itu, Unit Pelaksana Teknis Matakuliah Pengembangan Kepribadian (UPT MPK) menerbitkan bunga rampai bertema “Implementasi Kontekstualisasi Seni di Tengah Masyarakat Era 5.0”. Hal ini juga penting kiranya untuk mendukung pengembangan proses pembelajaran pada mata kuliah umum yang mengarah pada Project Based Learning (PBL) sesuai kurikulum MBKM (Kampus Merdeka). Perubahan kurikulum tersebut menuntut SDM UPT MPK untuk lebih peduli dengan perkembangan situasi sosio-kultural masyarakatnya.
Tulisan-tulisan dalam bunga rampai ini berasal dari dosen-dosen pengampu Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK) ISI Yogyakarta. Dari delapan tulisan yang terkumpul, dapat dikategorikan ke dalam dua bagian: (1) Implementasi Teknologi di Ranah Seni Menuju Era 5.0 dan (2) Lanskap Seni: Problematika, Tantangan, dan Potensi
Kategori Implementasi Teknologi di Ranah Seni Menuju Era 5.0 berisi tulisan Umilia Rokhani, Kardi Laksono, Retno Purwandari, dan Adya Arsita. Sementara itu, tulisan Fortunata Tyasrinestu, Prima Dona Hapsari & Bambang Pramono, Estri Oktarena Ikrarini, dan Megawati Atiyatunnajah mengisi kategori Lanskap Seni: Problematika, Tantangan, dan Potensi.
Fenomena terkait eksistensi teknologi di tengah kehidupan masyarakat yang identik disebut masyarakat modern kemudian menjadi pedang bermata dua. Tulisan Umilia Rokhani berisi kajian modernitas dan konsekuensi penggunaan teknologi pada era modern ini, terutama terkait dengan bidang seni. Dengan paparan ini, diharapkan masyarakat pembaca dapat memahami manfaat dan konsekuensi yang harus dihadapi atas nilai keberadaan teknologi tersebut sehingga dapat dengan bijak dalam mempergunakannya.
Kardi Laksono menggunakan pendekatan fenomenologis untuk melihat berbagai macam permasalahan yang muncul akibat disrupsi yang merupakan efek kemajuan teknologi di bidang seni. Di samping itu, pendekatan hermeneutik dilakukan untuk memberikan interpretasi atas permasalahan yang muncul akibat terjadinya disrupsi di bidang seni. Banalitas seni yang dihasilkan melalui disrupsi di bidang teknologi pada akhirnya harus mengembalikan posisi ontologis dan epistemologis seni dalam bentuk emasipatoris, dialektis, serta tetap mempunyai otonomisasi seni.
Sementara itu, Retno Purwandari memaparkan sepak terjang kriya melampaui era Revolusi Industri 5.0 dengan bermunculannya karya-karya kriya berkelanjutan. Kriya berkelanjutan merupakan kriya yang mampu menghasilkan karya-karya penyelamat bumi dengan mengolaborasikan konsep sustainable, bahan, teknik inovatif, alat, makna, dan fungsi menuju bumi yang ramah lingkungan. Dalam tulisan ini ditunjukkan empat karya tugas akhir, baik pengkajian maupun penciptaan tahun 2022 dan 2023, dengan konsep kriya berkelanjutan untuk bumi ramah lingkungan di era Revolusi Industri 5.0.
Kategori Implementasi Teknologi di Ranah Seni Menuju Era 5.0 diakhiri dengan tulisan Adya Arsita. Ia menyoroti perubahan pola pameran karya visual yang umumnya diadakan secara luring kini telah merambah ke platform digital sehingga pameran diadakan secara virtual. Dari keseluruhan pembacaan wacana yang tersaji, ia menemukan suatu pola baru dalam memamerkan karya seni visual. Sekalipun bersinggungan erat dengan teknologi digital, peran kreativitas manusia, khususnya dalam berkesenian, justru makin erat membersamai pesatnya laju teknologi digital.
Kategori Lanskap Seni: Problematika, Tantangan, dan Potensi diawali oleh Fortunata Tyasrinestu, yang membahas peran lagu klasik anak pada masa kini dalam perkembangan dan pertumbuhan anak. Lagu klasik anak menekankan pentingnya masyarakat dan budaya dalam mendorong pertumbuhan kognitif sebagai perspektif sosiokultural. Selain itu, lagu klasik anak menunjang perkembangan moralitas dan psikososial anak.
Prima Dona Hapsari & Bambang Pramono membahas program Wisata Desa “Dolan Ndeso” di Desa Karangrejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah sebagai upaya melakukan interpretasi relief Candi Borobudur bagi peningkatan potensi dan promosi wisata seni budaya di Kecamatan Borobudur.
Bahasan tentang Project-Based Learning (PjBL) dapat menjawab tantangan perkuliahan yang memerdekakan mahasiswa sesuai dengan karakteristik masing-masing mahasiswa sesuai dengan minat, bakat, potensi, dan kompetensinya dikaji oleh Estri Oktarena Ikrarini. Mahasiswa dalam perkuliahan dengan pendekatan PjBL menunjukkan peningkatan partisipasi dalam perkuliahan, kreativitas yang tampak dalam setiap proyek yang dilaksanakan dan pengembangan self-regulated learning (SRL) dalam proses pembelajarannya.
Megawati Atiyatunnajah mengakhiri kategori Lanskap Seni: Problematika, Tantangan, dan Potensi dengan tulisan tentang kajian hukum dan etika seni dalam menghadapi tantangan hak cipta terhadap karya mural. Seni mural menghadapi tantangan serius terkait dengan hak cipta dan hak-hak kekayaan intelektual lainnya. Kesadaran etika seni mendorong para seniman untuk menghormati hak cipta dan mempertimbangkan dampak sosial serta kreativitas dalam karya mereka.
Semoga bunga rampai ini bermanfaat dan diharapkan mampu menjadi gagasan pengayaan di tengah masyarakat yang terus berupaya menyehatkan diri, baik fisik maupun mental, dan berkontribusi bagi pencerdasan kehidupan bangsa
Implementasi kontekstualisasi seni di tengah masyarakat era 5.0
Salah satu poin kinerja civitas academica dalam hal pengembangan materi ilmu
pengetahuan tidak dapat dilepaskan dari aktivitas ilmiah berupa penulisan karya ilmiah.
Selain sebagai bagian dari tugas pokok tenaga pendidik profesional, kegiatan penelitian
juga dapat memengaruhi keaktualan informasi terkait dengan pengembangan ilmu
pengetahuan berdasarkan data di lapangan terkini. Di tengah masyarakat era 5.0, seni
turut memegang peran dalam perkembangan budaya di tengah masyarakat. Namun,
masih banyak temuan data di lapangan yang belum terbidik oleh tenaga pendidik
profesional dan belum tertuang dalam tulisan ilmiah sebagai temuan pemikiran atau
solusi bagi permasalahan-permasalahan di tengah masyarakat. Hal ini dapat dilihat
sebagai celah dan peluang untuk menyampaikan gagasan yang bernilai tepat guna bagi
perkembangan budaya masyarakat.
Mengacu pada pemikiran tersebut, peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia
(SDM) tenaga pendidik profesional menjadi hal yang mutlak diperlukan sehingga
setiap tenaga pendidik profesional tersebut dapat mengembangkan kemampuan dan
kualitas akademisnya melalui produksi karya ilmiah. Untuk itu, Unit Pelaksana Teknis
Matakuliah Pengembangan Kepribadian (UPT MPK) menerbitkan bunga rampai
bertema “Implementasi Kontekstualisasi Seni di Tengah Masyarakat Era 5.0”. Hal ini
juga penting kiranya untuk mendukung pengembangan proses pembelajaran pada mata
kuliah umum yang mengarah pada Project Based Learning (PBL) sesuai kurikulum
MBKM (Kampus Merdeka). Perubahan kurikulum tersebut menuntut SDM UPT
MPK untuk lebih peduli dengan perkembangan situasi sosio-kultural masyarakatnya.
Tulisan-tulisan dalam bunga rampai ini berasal dari dosen-dosen pengampu Mata
Kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK) ISI Yogyakarta. Dari delapan tulisan yang
terkumpul, dapat dikategorikan ke dalam dua bagian: (1) Implementasi Teknologi
di Ranah Seni Menuju Era 5.0 dan (2) Lanskap Seni: Problematika, Tantangan, dan
Potensi
Kategori Implementasi Teknologi di Ranah Seni Menuju Era 5.0 berisi tulisan
Umilia Rokhani, Kardi Laksono, Retno Purwandari, dan Adya Arsita. Sementara
itu, tulisan Fortunata Tyasrinestu, Prima Dona Hapsari & Bambang Pramono, Estri
Oktarena Ikrarini, dan Megawati Atiyatunnajah mengisi kategori Lanskap Seni:
Problematika, Tantangan, dan Potensi.
Fenomena terkait eksistensi teknologi di tengah kehidupan masyarakat yang
identik disebut masyarakat modern kemudian menjadi pedang bermata dua. Tulisan
Umilia Rokhani berisi kajian modernitas dan konsekuensi penggunaan teknologi
pada era modern ini, terutama terkait dengan bidang seni. Dengan paparan ini,
diharapkan masyarakat pembaca dapat memahami manfaat dan konsekuensi yang
harus dihadapi atas nilai keberadaan teknologi tersebut sehingga dapat dengan bijak
dalam mempergunakannya.
Kardi Laksono menggunakan pendekatan fenomenologis untuk melihat berbagai
macam permasalahan yang muncul akibat disrupsi yang merupakan efek kemajuan
teknologi di bidang seni. Di samping itu, pendekatan hermeneutik dilakukan untuk
memberikan interpretasi atas permasalahan yang muncul akibat terjadinya disrupsi di
bidang seni. Banalitas seni yang dihasilkan melalui disrupsi di bidang teknologi pada
akhirnya harus mengembalikan posisi ontologis dan epistemologis seni dalam bentuk
emasipatoris, dialektis, serta tetap mempunyai otonomisasi seni.
Sementara itu, Retno Purwandari memaparkan sepak terjang kriya melampaui era
Revolusi Industri 5.0 dengan bermunculannya karya-karya kriya berkelanjutan. Kriya
berkelanjutan merupakan kriya yang mampu menghasilkan karya-karya penyelamat
bumi dengan mengolaborasikan konsep sustainable, bahan, teknik inovatif, alat, makna,
dan fungsi menuju bumi yang ramah lingkungan. Dalam tulisan ini ditunjukkan empat
karya tugas akhir, baik pengkajian maupun penciptaan tahun 2022 dan 2023, dengan
konsep kriya berkelanjutan untuk bumi ramah lingkungan di era Revolusi Industri 5.0.
Kategori Implementasi Teknologi di Ranah Seni Menuju Era 5.0 diakhiri dengan
tulisan Adya Arsita. Ia menyoroti perubahan pola pameran karya visual yang umumnya
diadakan secara luring kini telah merambah ke platform digital sehingga pameran
diadakan secara virtual. Dari keseluruhan pembacaan wacana yang tersaji, ia menemukan
suatu pola baru dalam memamerkan karya seni visual. Sekalipun bersinggungan erat
dengan teknologi digital, peran kreativitas manusia, khususnya dalam berkesenian,
justru makin erat membersamai pesatnya laju teknologi digital.
Kategori Lanskap Seni: Problematika, Tantangan, dan Potensi diawali oleh
Fortunata Tyasrinestu, yang membahas peran lagu klasik anak pada masa kini dalam
perkembangan dan pertumbuhan anak. Lagu klasik anak menekankan pentingnya
masyarakat dan budaya dalam mendorong pertumbuhan kognitif sebagai perspektif
sosiokultural. Selain itu, lagu klasik anak menunjang perkembangan moralitas dan
psikososial anak.
Prima Dona Hapsari & Bambang Pramono membahas program Wisata Desa
“Dolan Ndeso” di Desa Karangrejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa
Tengah sebagai upaya melakukan interpretasi relief Candi Borobudur bagi peningkatan
potensi dan promosi wisata seni budaya di Kecamatan Borobudur.
Bahasan tentang Project-Based Learning (PjBL) dapat menjawab tantangan
perkuliahan yang memerdekakan mahasiswa sesuai dengan karakteristik masingmasing
mahasiswa sesuai dengan minat, bakat, potensi, dan kompetensinya dikaji
oleh Estri Oktarena Ikrarini. Mahasiswa dalam perkuliahan dengan pendekatan PjBL
menunjukkan peningkatan partisipasi dalam perkuliahan, kreativitas yang tampak
dalam setiap proyek yang dilaksanakan dan pengembangan self-regulated learning (SRL)
dalam proses pembelajarannya.
Megawati Atiyatunnajah mengakhiri kategori Lanskap Seni: Problematika,
Tantangan, dan Potensi dengan tulisan tentang kajian hukum dan etika seni dalam menghadapi tantangan hak cipta terhadap karya mural. Seni mural menghadapi
tantangan serius terkait dengan hak cipta dan hak-hak kekayaan intelektual lainnya.
Kesadaran etika seni mendorong para seniman untuk menghormati hak cipta dan
mempertimbangkan dampak sosial serta kreativitas dalam karya mereka.
Semoga bunga rampai ini bermanfaat dan diharapkan mampu menjadi gagasan
pengayaan di tengah masyarakat yang terus berupaya menyehatkan diri, baik fisik
maupun mental, dan berkontribusi bagi pencerdasan kehidupan bangsa
Masyarakat, Seni, Dan Perkembangan Budaya: Transisi Pandemi Ke Endemi Covid-19
ktivitas ilmiah berupa penulisan karya adalah salah satu poin kinerja civitas academica dalam hal pengembangan materi ilmu pengetahuan. Kegiatan ini merupakan bagian dari tugas pokok sebagai tenaga pendidik profesional untuk luaran penelitian. Selain itu, kegiatan penelitian juga dapat memengaruhi keaktualan informasi terkait dengan pengembangan ilmu pengetahuan berdasarkan data di lapangan terkini. Namun, di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, sebagian besar temuan data di lapangan yang diperoleh tenaga pendidik profesional tersebut tidak dituangkan dalam konsep tulisan ilmiah yang mampu membangun pemikiran ke depan sebagai solusi bagi permasalahan-permasalahan di lapangan. Publikasi pemikiran atas permasalahan-permasalahan khususnya terkait dengan perkuliahan umum pun menjadi sangat minim.
Untuk itu, Unit Pelaksana Teknis Matakuliah Pengembangan Kepribadian (UPT MPK) ISI Yogyakarta menerbitkan bunga rampai bertema “Masyarakat, Seni, dan Perkembangan Budaya: Transisi Pandemi ke Endemi Covid-19” sebagai bagian dari andil pemikiran terhadap situasi sosio-kultural di masyarakat yang berkembang dalam masa transisi pandemi ke endemi Covid-19. Hal ini penting kiranya dilaksanakan mengingat proses pembelajaran untuk mata kuliah umum mengarah pada Project Based Learning (PBL) sesuai kurikulum MBKM (Kampus Merdeka). Tema bunga rampai UPT MPK ini diharapkan mampu menjadi gagasan pengayaan di tengah masyarakat yang terus berupaya menyehatkan diri, baik fisik maupun mentalnya, dan berkontribusi bagi pencerdasan kehidupan bangsa. Tulisan-tulisan dalam bunga rampai ini berasal dari dosen-dosen pengampu Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK) ISI Yogyakarta.
Agustin Anggraeni mengulas penerjemahan istilah tari klasik gaya Yogyakarta ke dalam bahasa Inggris. Semua istilah gerak tari hanya dapat diterjemahkan menggunakan teknik descriptive karena perbedaan rumpun bahasa antara bahasa Jawa dan bahasa Inggris serta perbedaan kultur penutur kedua bahasa tersebut.
Tulisan Bahasa Gado-Gado dalam Bahasa Indonesia (Suatu Tinjauan Psikolingustik) disajikan oleh Fortunata Tyasrinestu. Banyaknya istilah asing dalam bahasa Inggris yang dipakai oleh penutur bahasa Indonesia menyebabkan pencampuradukan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang justru menunjukkan bahwa budi bahasa Indonesia belumlah lengkap. Perilaku ini menunjukkan kepercayaan diri yang kurang dalam pemakaian bahasa Indonesia sehingga bisa mengakibatkan kesalahpahaman antarpenutur bahasa karena logat yang kurang jelas, tata bahasa yang digunakan tidak benar, dan tidak semua apisan masyarakat dapat mengerti kosakata bahasa Inggris yang ingin disampaikan penutur. Kecerdasan berbahasa diperlukan untuk mampu bertutur dan menyampaikan informasi dengan baik. Salah satunya adalah dengan mempunyai perilaku berbahasa yang baik, budi bahasa yang baik, artinya mampu berbahasa Indonesia dan berbahasa Inggris dengan baik pula.
Tulisan lain disajikan oleh Kardi Laksono tentang meta-politik dalam seni.Seni pada dasarnya membawa keindahan dalam hidup manusia. Namun, di satu sisi, seni juga sebenarnya menjadi arena pergulatan batin, konflik-konflik sosial, dan persoalan-persoalan status di dalam diri manusia itu sendiri. Seni yang berada pada suatu kepentingan ekonomi dan politik menyebabkan kehidupan budaya akan berada dalam arena kehidupan yang berlabel harga. Dengan mempergunakan metode hermeneutika, konstruksi budaya politik santun yang berada dalam ranah filsafat politik menekankan pada etika politik manusia sehingga manusia dapat berpikir secara kritis, dan dapat memposisikan diri untuk orang lain. Kondisi manusiawi, sesuai dengan politik Arendt, mempunyai makna, identitas, serta nilai melalui tindakan mengubah (praxis) dari mencipta (poeisis), menekankan pada relasi kebebasan dan pluralitas, serta menunjukkan hubungan antara wacana dan ingatan sosial.
Memasuki masa endemi, dunia seni mulai menampakkan apresiasinya. Salah satunya dengan penyelenggaraan pameran Jogja International Creative Arts Festival (JICAF), yaitu pameran internasional Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Megawati Atiyatunnajah menggali penggabungan karya seni dengan kearifan lokal budaya bangsa Indonesia yang disajikan dalam pameran ini.
Prima Dona Hapsari lewat kajiannya mempromosikan gerakan literasi, yaitu membaca kitab suci Hindu yang ditulis sebagai naskah di atas daun palem, yang disebut lontar sebagai bagian dari gerakan sosial budaya. Gerakan tersebut berfokus pada bahasa dan aksara Bali, seperti yang telah diprakarsai dan didukung oleh para filolog dan aktivis lontar Bali yang memiliki kepedulian yang mendalam terhadap kampanye tersebut.
Era pandemi Covid-19 telah membawa perubahan besar dalam kegiatan belajar mengajar di tanah air termasuk dalam kehidupan sosial pelajar Indonesia. Tri Septiana Kurniati mengulas keuntungan dan kelebihan pengajaran bahasa Inggris daring terhadap kehidupan sosial mahasiswa di Indonesia tahun 2021.
Umilia Rokhani, dengan kajian sosiolinguistik, melihat tren penggunaan bahasa komunitas tertentu di tengah masyarakat luas. Terjadi perluasan bahasa komunitas melalui peran media, atau sebaliknya. Dengan demikian, identitas masyarakat secara potensial dapat terganti karena tidak memahami konteks bahasa yang dipergunakannya.
Tulisan terakhir oleh Yudiaryani tentang cara membaca geopolitik dan ketahanan nasional melalui seni pertunjukan. Yudiaryani mengaitkan hal tersebut, terutama dengan seni pertunjukan teater.
Dari berbagai cara pandang yang dipergunakan untuk mengkaji berbagai dinamika gerak perkembangan masyarakat dalam berbagai lini kehidupan dapat dijadikan refleksi sekaligus pendorong untuk senantiasa peka dan giat mengkaji secara kritis sehingga pesta akademik melalui karya-karya pemikiran akan dapat selalu dijadikan ritual kehidupan sebagai akademisi. Semoga bunga rampai ini dapat bermanfaat sebagai rujukan referensi yang dapat memperkaya pemikiran akan nilai-nilai kemanusiaan. Selamat membaca
EFFORTS TO IMPROVE THE SPEAKING ABILITY OF THE VIIIB GRADE STUDENTS OF SMP N I PONJONG THROUGH COMMUNICATION GAMES IN THE ACADEMIC YEAR 2008/2009
EFFORTS TO IMPROVE THE SPEAKING ABILITY OF
THE VIIIB GRADE STUDENTS OF SMP N I PONJONG
THROUGH COMMUNICATION GAMES
IN THE ACADEMIC YEAR 2008/2009
ABSTRACT
Anjar Rokhani
04202241011
The objective of this study is to improve the speaking ability of the VIIIB
students of SMP N I Ponjong through communication games in the academic year
of 2008/2009. The study attempted to be one of solutions of the problems related
to the students’ speaking ability which is considered to be low.
This study is action research. It involved the students of class VIIIB at
SMP N 1 Ponjong, Gunungkidul, Yogyakarta in the academic year of 2008/2009,
the English teacher of class VIIIB, and the researcher. The steps in action research
consists of four phases namely reconnaissance, planning, action and observation,
and reflection. The data were obtained by interviewing the English teacher and the
students of grade VIIIB, and observing the teaching and learning process. The
instruments were the researcher, observation guide, and interview guide. The data,
therefore, were in the form of interview transcripts and field notes. The collected
data were analyzed qualitatively.
The research shows the implementations of the actions were obviously
effective to improve the students’ speaking ability. The improvement was
reflected on the changes as the result of the research. The classroom activities in
the English teaching learning process were conducted in interesting ways and give
a lot opportunity to the students to speak/practice English. This made the students
interested and active during the lesson. They, without hesitation, spoke and
practiced English
Penasar dalam wayang wong Parwa : Satu pengamatan dari segi fungsinya sebagai salah satu sarana pendidikan rokhani terhadap masyarakat
Berdasarkan data-data yang didapat baik dari sumberrnati maupun sumber hidup, ternyata bahwa keempat tokoh abdi laki laki dalam Wayang Wong Parwa memegang peranan sangat penting baik terhcdnp pertunjukan dramatari itu sendiri maupun terha dn.p •penonton (masyarnkat).
Terh2dnp p ertunjukan itu sen iri, penasar berfungsi seba gai abdi, sebagni penterjemah, sebagai komentator dan sebagai penasehat. Sedangkan terhadap penonton/maeyarakat mereka ber fungsi sebagai penghibur dan sebagai media pendidikan rokhani. Dalam penampilannya masing-masing tokoh abci ini mempunyai ka rakter tersendiri. Tualen berwatak jujur, setia, sederhana, san tai tapi sungguh-sun gguh, ngemong dan lain sebagainya.Merdhah adalah abdi yang berwatak tegas, jujur, bekerja cepat,dinamis
dan lain sebagainya.Sedangkan watak Delem adalah sombong,ang
kuh, cepat ketawa dan cepat menangis, berani di belakang,serba keras dan lain sebagainya. Dan Sangut adalah seorang abdi yang berwatak lemah, lambat, bermuka dua dan lain sebagainya.
Dengan dasar data-data di atas terrnaksuk data-data sebe
lum bab ini maka dapat disimpulkan antara lain sebagai berikut:
Penasar dalam pertunjukan dramatari Wayang Wong Parwa merupakan
abdi laki-laki yang berfungsi sebagai penterjemah, sebagai ko-
m entator dan sebagai penasehat.D"alam hubungannya dengcm masya-
rakat,keem pat tokoh ini berfungsi sebagai penghibur dan sebagai salah satu mass m edia pendidikan rokhani.
Ditinjau dari segi sifatnya dalam hubungannya dengan sifat
/watak manusia, maka dapat disimpulkan bahwa penasar yang ter
diri dari Tualen,Merdhah, Delem dan Sangut merupakan lambang
konflik interen antara komponen jiwa yang terdapat dalam diri ma nusia. Sifat-sifat seperti karakter Tualen, Merdhah,Delem dan Sangut sep erti tersebut di atas merupakan sifat-sifat yang di miliki pula oleh setiap individu manusia.Sifat-sifat ini sela lu tekan-m enekan antara yang baik melawnn yang buruk. Namun ke dua pihak sifat tersebut tidak ada yang eampai mati. Mereka te tap hidup walaupun ynng jahat asti dapat dikalahkan oleh yang
baik Mereka akan lenyap dari diri manusia apabila manusia itu sendiri lenyap dari muka bumi ini
Kontekstualisasi Mata Kuliah Umum Dan Kompleksitas Problematika Seni: Bunga Rampai Bidang Seni Berdasar Rumpun Mata Kuliah Umum MPK ISI Yogyakarta
Ilmu pengetahuan akan berkembang apabila dilakukan transfer knowledge atas
keilmuan itu sendiri. Hal ini sangat disadari oleh para pendidik yang berdiri sebagai
garda terdepan sebagai penyampai keilmuan itu kepada peserta didiknya. Transfer
knowledge ini dilakukan oleh para pendidik, baik secara langsung maupun tidak
langsung. Penyampaian materi di kelas menjadi sarana langsung untuk memberikan
wawasan keilmuan kepada peserta didik. Sementara itu, penyampaian keilmuan secara
tidak langsung dilakukan melalui penulisan berbagai pemikiran terkait dengan bidang
keilmuan yang ditekuninya. Penerbitan bunga rampai yang dilakukan oleh UPT Mata
Kuliah Pengembangan Kepribadian (UPT MPK) sebagai salah satu program kerjanya
merupakan bagian dari upaya untuk berperan aktif dalam pengembangan keilmuan itu
sendiri.
UPT MPK sebagai unit kerja yang memayungi mata kuliah umum menyadari
bahwa pendidikan karakter menjadi bagian dari tanggung jawab yang mesti diemban
dan diwujudkan. Sementara pembentukan karakter setiap insan itu tidak serta merta
terbentuk ketika seorang peserta didik memasuki jenjang Perguruan Tinggi. Tentu saja,
pendidikan karakter telah dibentuk pertama kali di lingkup keluarga dan lingkungan
masyarakatnya. Hal ini menciptakan keragaman karakter yang harus ditemui dan
dihadapi oleh pendidik atas peserta didiknya. Oleh karena itu, pembangunan karakter
di lingkup Perguruan Tinggi, khususnya di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, harus
senantiasa dilakukan secara kontinyu dan simultan. Proses ini tentu saja tidak serta merta
berjalan dengan mudah dan mulus. Berbagai problematika terkait dengan pembangunan
karakter turut menjadi bagian warna dari proses tersebut. Kompleksitas problematika
pendidikan karakter tersebut juga diperkaya dengan problematika kebidangan, dalam
hal ini seni, yang dihadapi, baik oleh pendidik maupun peserta didik. Data tersebut
dapat dikembangkan menjadi berbagai pemikiran yang solutif sekaligus menjadi bagian
dari proses transfer knowledge itu sendiri.
Berbagai pemikiran ini diharapkan mampu menjadi perenungan, pemikiran, dan
pertimbangan dari berbagai pihak untuk memberikan kesempatan perbaikan situasi
dan kondisi, serta pengembangan karakter di lingkup bidang seni secara lebih optimal
EFEKTIVITAS DAN KEPUASAN PETANI CABAI MERAH BESAR TERHADAP POLA KEMITRAAN DENGAN KOPERASI HORTIKULTURA LESTARI DI DESA DUKUH DEMPOK KECAMATAN WULUHAN KABUPATEN JEMBER
Koperasi Hortikultura Lestari melakukan kerjasama kemitraan dengan
petani cabai merah besar di Desa Dukuh Dempok. Kerjasama kemitraan ini
memberi manfaat bagi petani berupa peningkatan pendapatan, efisiensi dan
produktivitas usahatani cabai merah besar. Ketika kemitraan yang dijalankan bisa
memberikan manfaat bagi petani cabai merah besar, dapat dikatakan kerjasama
kemitraan tersebut efektif bagi petani sehingga perlu dipertahankan
keberlanjutannya. Indikator lain dari efektivitas kerjasama kemitraan ini dapat
dilihat juga dari kepuasan petani terhadap kinerja koperasi. Penelitian ini
dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui: (1) pola kemitraan petani cabai merah
besar dengan Koperasi Hortikultura Lestari, (2) efektivitas kemitraan antara petani
cabai merah besar dengan Koperasi Hortikultura Lestari, (3) tingkat kepuasan
petani cabai merah besar dalam bermitra dengan Koperasi Hortikultura Lestari,
(4) prioritas atribut-atribut kualitas pelayanan inti dalam kemitraan antara petani
cabai merah besar dengan Koperasi Hortikultura Lestari.
Penentuan daerah penelitian dilakukan secara sengaja (Purposive Method)
yaitu di Desa Dukuh Dempok Kecamatan Wuluhan Kabupaten Jember. Metode
penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dan analitik. Metode
pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode total
sampling. Metode pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan teknik
wawancara dengan bantuan kuisioner dan studi pustaka. Jenis data yang
digunakan dalam penelitian ini antara lain data primer dan data sekunder.
Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif, analisis
rasio (keuntungan, efisiensi dan produktifitas), analisis skoring dari beberapa
indikator pelayanan kemitraan dan analisis Importance and Performance Analysis
(IPA)
SINGA DALAM KESENIAN HINDU DI JAWA TENGAH
Di Jawa Tengah banyak peninggalan-penii:lggalan arkeologi baik yang berupa bangunan, area maupun artefak yang lain. Artefak-artefak tersebut dibuat oleh masyarakat pendukungnya untuk rnernenuhi kebutuhan hidupnya berupa kebutuhan rokhani atau kebutuhan jasrnani. Artefak sebagai alat untuk pemenuhan kebutuhan rokhani tentu saja dalarn hal pembuatannya baik yang menyangkut penentuan bentuk maupun pemilihan dekorasinya akan terikat oleh adanya aturan-aturan tertentu yang berhubungan dengan masalah keagamaan. Meskipun demikian suatu kebebasan dalam diri si seniman ada sampai pada batas-batas tertentu.
 
- …
