10 research outputs found

    PENGARUH BUDAYA POPULER BERNUANSA ISLAMI TERHADAP PERILAKU RELIGIUS MAHASISWA : Studi Deskriptif terhadap Mahasiswa FPIPS UPI

    No full text
    Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan spiritual masyarakat modern yang mampu menyeimbangkan antara kehidupan modern dan keagamaan, serta dapat saling berdamai di dalamnya, salah satunya melalui budaya populer. Hal ini juga dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Pendidikan Indonesia (FPIPS UPI) untuk memenuhi kebutuhan spiritualnya dengan tetap mengikuti tren dengan budaya populer bernuansa islami. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh budaya populer bernuansa islami terhadap perilaku religius mahasiswa FPIPS UPI. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik acak sederhana (simple random sampling) tanpa memperhatikan strata pada populasi dengan jumlah sampel sebanyak 96 orang. Teknik pengambilan data dilakukan dengan angket. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Penggunaan budaya populer bernuansa islami pada mahasiswa FPIPS UPI pada umumnya tergolong pada kategori tinggi. (2) Perilaku religius mahasiswa FPIPS UPI pada umumnya tergolong pada kategori sedang dengan indikator ibadah dan akhlak. (3) Hasil dari uji korelasi menunjukkan bahwa pengaruh budaya populer bernuansa islami terhadap perilaku religius mahasiswa FPIPS UPI adalah cukup kuat dengan koefisien determinasi sebesar 29%.;--- This research is motivated by the spiritual needs of modern people who are able to balance between modern and religious life, and can reconcile with both of them, through by popular culture. This was also done by students of the Faculty of Social Sciences Education of Indonesian University of Education (FPIPS UPI) to fulfill their spiritual needs while still following the trend with popular culture. The purpose of this study was to analyze the influence of popular culture with Islamic nuances on the religious behavior of FPIPS UPI students. This study uses a quantitative approach with descriptive methods. The sampling technique is using simple random without regard to the strata in the population with a total sample up to 96 people. The data collection technique is done by questionnaire. The results of this study indicate that: (1) The use of popular culture with Islamic nuances in students of FPIPS UPI is generally classified as high. (2) The religious behavior of FPIPS UPI students is generally classified as a medium category with indicators of worship and morality. (3) The results of the correlation test shows that the influence of popular culture with Islamic nuances on the religious behavior of students of FPIPS UPI are quite strong with a coefficient of determination of 29%

    FEAR OF MISSING OUT: TREND PERILAKU SELF-INJURY PADA MEDIA SOSIAL SEBAGAI PERILAKU BERISIKO DI KALANGAN REMAJA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

    No full text
    Fenomena Fear of Missing Out (FoMO) di kalangan remaja telah menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kebiasaan atau imitasi dari aktivitas yang di anggap benar,  terutama di kalangan siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP). Fenomena ini sering kali berdampak negatif pada kesehatan mental, salah satunya dengan meningkatnya perilaku self-injury (melukai diri sendiri). Data diperoleh melalui pendekatan kualitatif dengan metode wawancara dan diperkuat oleh metode studi literatur dengan membandingkan beberapa jurnal, skripsi, dan artikel yang berkaitan dengan fenomena yang dikaji, dengan kualifikasi remaja SMP berusia 12-15 tahun. Wawancara dilakukan secara online terhadap tiga remaja yang mengetahui perilaku self-injury dan memiliki riwayat self-injury dalam enam bulan terakhir guna memperkuat hasil studi literatur. Hasil menunjukan bahwa perilaku self-injury dipicu oleh pengaruh imitasi aktivitas teman sebaya, media sosial dan ketidakmampuan mengelola emosi negatif. Bentuk self-injury yang ditemukan oleh peneliti meliputi menyayat pergelangan tangan dengan cutter (barcode) atau jarum, memukul tembok dan lantai, dan mengelupas kulit bibir. Penelitian ini menekankan bahwa pentingnya intervensi yang fokus pada pengembangan keterampilan mengatur emosi, dukungan sosial yang positif, serta edukasi mengenai resiko dari aktivitas self-injury. Penelitian ini juga bertujuan untuk menyadarkan pihak-pihak terkait seperti orang tua, guru, dan masyarakat luas untuk berperan penting untuk menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi remaja sehingga dapat memberikan perhatian lebih terhadap kesehatan mental remaja dan memberikan dukungan agar remaja dapat lebih bijak untuk mengelola emosional ke arah yang lebih positif.The Fear of Missing Out (FoMO) phenomenon among teenagers has become one of the factors that influences habits or imitation of activities that are considered correct, especially among junior high school (SMP) students. This phenomenon often has a negative impact on mental health, one of which is an increase in self-injury behavior. Data was obtained through a qualitative approach using the interview method and strengthened by the literature study method by comparing several journals, theses and articles related to the phenomenon being studied, with the qualifications of junior high school teenagers aged 12-15 years. Interviews were conducted online with three teenagers who were aware of self-injury behavior and had a history of self-injury in the last six months to strengthen the results of the literature study. The results show that self-injury behavior is triggered by the influence of social media and the inability to manage negative emotions. Forms of self-injury found by researchers include cutting the wrist with a cutter (barcode) or needle, hitting walls and floors, and peeling the skin of the lips. This research emphasizes the importance of interventions that focus on developing emotional regulation skills, positive social support. This research also aims to sensitize related parties such as parents, teachers and the wider community to play an important role in creating a safe and comfortable environment for teenagers so that they can pay more attention to teenagers' mental health and provide support so that teenagers can be wiser in managing their emotions in a more positive direction. &nbsp

    MODEL LITERASI INFORMASI SAINTIFIK BAGI GURU SOSIOLOGI DALAM MENGHADAPI MISINFORMASI SEPUTAR COVID-19

    No full text
    Kondisi pandemi COVID-19 di era post-truth mendorong banyaknya misinformasi yang memicu terjadinya kekacauan terhadap penanganan pandemi. Misinformasi dapat diterima pada semua anggota masyarakat, termasuk peserta didik pada jenjang pendidikan menengah. Beberapa guru sosiologi di Kota Bandung telah melakukan upaya untuk menjadikan informasi COVID-19 sebagai bahan materi dalam pembelajaran sosiologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengonstruksikan model literasi informasi saintifik bagi guru sosiologi dalam menghadapi misinformasi seputar COVID-19. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Sumber data diambil melalui proses wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) guru sosiologi menyadari informasi di era post-truth yang mengeksploitasi emosi dan keyakinan personal dengan berupaya untuk menjaga nalar rasional dan kesehatan mental peserta didik melalui pendekatan literasi informasi saintifik.; 2) guru sosiologi memanfaatkan misinformasi seputar COVID-19 sebagai bahan untuk melakukan pembelajaran kontekstual sesuai dengan kompetensi abad-21; 3) literasi informasi saintifik diwujudkan dalam dimensi kurikuler dan metodologis dilakukan oleh guru sosiologi sebagai agensi dalam melakukan perubahan menghadapi beragam kesimpangsiuran informasi kepada peserta didik

    COVID-19 MISINFORMATION: HOW DOES SCIENTIFIC INFORMATION LITERACY PREVENT IT?

    No full text
    This article aims to examine the importance of information literacy and scientific literacy skills to prevent exposure to misinformation in the midst of the Covid-19 pandemic. Believing in misinformation encourages behaviour that is detrimental to individuals and groups due to anxiety, fear, uncertainty, and a lack of critical thinking skills. This study uses a qualitative approach with a systematic literature review (SLR) method. Through the SLR method, this article uses various sources of empirical research by collecting data and information to analyze elements in information literacy and scientific literacy that can identify misinformation. Information literacy is considered to be more useful in preventing belief in misinformation compared to the concepts of digital literacy, media literacy, and news literacy. Information literacy skills with information verification, and supported by scientific literacy with intellectual virtue, can recognize misinformation about COVID-19 so that it can prevent individuals from believing in misinformation that can result in errors of action. Scientific information literacy needs practical intervention to the public, one of which is through the role of educational institutions

    ANALISIS MARRIAGE IS SCARY: DALAM PERSPEKTIF TEORI PILIHAN RASIONAL JAMES S. COLEMAN

    No full text
    Penelitian ini menganalisis fenomena "Married is Scary" dalam perspektif Teori Pilihan Rasional yang dikembangkan oleh James Coleman. Fenomena ini mencerminkan ketakutan dan kekhawatiran individu terhadap institusi pernikahan, yang semakin meningkat di kalangan masyarakat modern. Dengan pendekatan kualitatif dan metode analisis deskriptif, penelitian ini mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi individu dalam mengambil keputusan untuk menikah atau menghindari pernikahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa individu cenderung melakukan kalkulasi untung-rugi sebelum membuat keputusan menikah, dengan mempertimbangkan aspek ekonomi, sosial, dan emosional. Faktor-faktor seperti ketidakstabilan ekonomi, ekspektasi sosial, serta pengalaman pribadi atau lingkungan berkontribusi pada munculnya ketakutan terhadap pernikahan. Dalam kerangka Teori Pilihan Rasional, individu bertindak berdasarkan kepentingan sendiri dengan menilai manfaat dan risiko pernikahan sebelum mengambil keputusan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa "Married is Scary" merupakan fenomena sosial yang tidak hanya dipengaruhi oleh faktor individu tetapi juga oleh dinamika sosial yang lebih luas. Oleh karena itu, pemahaman yang lebih mendalam mengenai faktor-faktor ini dapat membantu dalam merancang kebijakan atau strategi untuk mengatasi ketakutan terhadap pernikahan di masyarakat modern.This research analyzes the “Married is Scary” phenomenon from the perspective of the Rational Choice Theory developed by James Coleman. This phenomenon reflects the fear and apprehension of individuals towards the institution of marriage, which is increasing among modern society. Using a qualitative approach and descriptive analysis method, this study examines the factors that influence individuals in making the decision to marry or avoid marriage. The results show that individuals tend to do a cost-benefit calculation before making the decision to marry, considering economic, social and emotional aspects. Factors such as economic instability, social expectations, and personal or environmental experiences contribute to the fear of marriage. Within the framework of Rational Choice Theory, individuals act in their own self-interest by assessing the benefits and risks of marriage before making a decision. This study concludes that “Married is Scary” is a social phenomenon that is not only influenced by individual factors but also by broader social dynamics. Therefore, a deeper understanding of these factors can help in designing policies or strategies to address the fear of marriage in modern society

    Budaya Konsumtif di Era Digital: Strategi Kapitalisme dalam Menciptakan Kebutuhan Semu

    No full text
    Consumptive culture in the digital era has become a global phenomenon triggered by modern capitalism's strategy of creating false needs. The development of digital technology, social media, and e-commerce facilitates companies to analyze consumer behavior through big data and artificial intelligence, making personalized advertising increasingly difficult to avoid. Phenomena such as FOMO (Fear of Missing Out) and influencer-based marketing reinforce the drive for overconsumption, turning wants into false needs. The impacts include financial problems, social inequality, and environmental damage due to excess waste. This research uses the literature study method to analyze digital capitalism strategies and the impact of consumptive culture. The results show the importance of digital and economic literacy to distinguish between real and false needs, as well as the need for strict regulations and a sustainable consumption movement. Public critical awareness is the key to reducing the negative impact of consumptive culture.  Abstract Budaya konsumtif di era digital telah menjadi fenomena global yang dipicu oleh strategi kapitalisme modern dalam menciptakan kebutuhan semu.  Perkembangan teknologi digital, media sosial, dan e-commerce memfasilitasi perusahaan untuk menganalisis perilaku konsumen melalui big data dan kecerdasan buatan, sehingga iklan yang dipersonalisasi semakin sulit dihindari. Fenomena seperti FOMO (Fear of Missing Out) dan pemasaran berbasis influencer memperkuat dorongan konsumsi berlebihan, mengubah keinginan menjadi kebutuhan palsu. Dampaknya meliputi masalah finansial, kesenjangan sosial, dan kerusakan lingkungan akibat limbah berlebih. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur untuk menganalisis strategi kapitalisme digital dan dampak budaya konsumtif. Hasilnya menunjukkan pentingnya literasi digital dan ekonomi untuk membedakan kebutuhan nyata dan semu, serta perlunya regulasi ketat dan gerakan konsumsi berkelanjutan. Kesadaran kritis masyarakat menjadi kunci untuk mengurangi dampak negatif budaya konsumtif. Consumptive culture in the digital era has become a global phenomenon triggered by modern capitalism's strategy of creating false needs. The development of digital technology, social media, and e-commerce facilitates companies to analyze consumer behavior through big data and artificial intelligence, making personalized advertising increasingly difficult to avoid. Phenomena such as FOMO (Fear of Missing Out) and influencer-based marketing reinforce the drive for overconsumption, turning wants into false needs. The impacts include financial problems, social inequality, and environmental damage due to excess waste. This research uses the literature study method to analyze digital capitalism strategies and the impact of consumptive culture. The results show the importance of digital and economic literacy to distinguish between real and false needs, as well as the need for strict regulations and a sustainable consumption movement. Public critical awareness is the key to reducing the negative impact of consumptive culture.  Abstract Budaya konsumtif di era digital telah menjadi fenomena global yang dipicu oleh strategi kapitalisme modern dalam menciptakan kebutuhan semu.  Perkembangan teknologi digital, media sosial, dan e-commerce memfasilitasi perusahaan untuk menganalisis perilaku konsumen melalui big data dan kecerdasan buatan, sehingga iklan yang dipersonalisasi semakin sulit dihindari. Fenomena seperti FOMO (Fear of Missing Out) dan pemasaran berbasis influencer memperkuat dorongan konsumsi berlebihan, mengubah keinginan menjadi kebutuhan palsu. Dampaknya meliputi masalah finansial, kesenjangan sosial, dan kerusakan lingkungan akibat limbah berlebih. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur untuk menganalisis strategi kapitalisme digital dan dampak budaya konsumtif. Hasilnya menunjukkan pentingnya literasi digital dan ekonomi untuk membedakan kebutuhan nyata dan semu, serta perlunya regulasi ketat dan gerakan konsumsi berkelanjutan. Kesadaran kritis masyarakat menjadi kunci untuk mengurangi dampak negatif budaya konsumtif.

    ANALISIS HOMESICKNESS PADA MAHASISWA BARU: PENGARUH GENDER, JARAK TEMPAT TINGGAL, DAAN DUKUNGAN SOSIAL DI KOTA BANDUNG

    No full text
    Homesickness merupakan fenomena umum yang dialami oleh mahasiswa baru, terutama mereka yang harus berpisah dari keluarga dan lingkungan asal untuk menempuh pendidikan tinggi di kota lain. Kota Bandung sebagai salah satu pusat pendidikan tinggi di Indonesia menarik mahasiswa dari berbagai daerah, sehingga tantangan homesickness menjadi perhatian penting. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh gender, jarak tempat tinggal, dan dukungan sosial terhadap tingkat homesickness pada mahasiswa baru di Kota Bandung.Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan survei. Data dikumpulkan melalui kuesioner dari mahasiswa baru yang berasal dari berbagai universitas di Kota Bandung. Analisis regresi berganda digunakan untuk mengidentifikasi hubungan antara variabel independen (gender, jarak tempat tinggal, dan dukungan sosial) terhadap variabel dependen (tingkat homesickness). Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa perempuan mengalami tingkat homesickness yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Selain itu, mahasiswa yang berasal dari daerah yang lebih jauh dari Bandung memiliki tingkat homesickness yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang berasal dari daerah yang lebih dekat. Dukungan sosial berperan sebagai faktor protektif, di mana mahasiswa dengan dukungan sosial yang tinggi cenderung mengalami tingkat homesickness yang lebih rendah

    perceraian ANALISA DAMPAK PERCERAIAN ORANG TUA TERHADAP MENTAL DAN PERILAKU ANAK: STUDI KASUS PADA ANAK PERTAMA DARI KELUARGA BERCERAI

    No full text
    Perceraian bukan hanya urusan antara suami dan istri, tapi juga bisa berdampak besar pada anak, terutama secara mental, akademik, dan perilaku sosial. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana perceraian orang tua memengaruhi kondisi psikologis anak, dengan menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus. Subjek dalam penelitian ini adalah seorang remaja berusia 18 tahun yang mengalami perceraian orang tuanya sejak SMP. Hasilnya menunjukkan bahwa perceraian membuat anak merasa cemas, kurang percaya diri, kehilangan semangat belajar, dan mulai terlibat dalam pergaulan yang kurang sehat. Penelitian ini dikaitkan dengan teori struktural fungsional dari Emile Durkheim dan Talcott Parsons, yang menekankan pentingnya peran dan fungsi dalam sebuah keluarga. Saat struktur keluarga terganggu karena perceraian, fungsi penting seperti kasih sayang, bimbingan, dan pembentukan karakter anak pun ikut terganggu. Karena itu, diperlukan peran aktif dari orang tua, keluarga, dan lingkungan sekitar agar anak tetap bisa tumbuh dengan baik meski orang tuanya berpisah

    RESILIENSI GENERASI Z TERHADAP STIGMA NEGATIF MASYARAKAT DALAM BIDANG AKADEMIK

    No full text
    Generasi Z yang diidentifikasi sebagai individu yang lahir pada tahun 1997–2012 sering mendapati stigma negatif dari masyarakat baik secara langung maupun daring. Stigma negatif yang melabeli mereka sebagai generasi yang malas dan manja serta bergantung pada teknologi menempel pada mereka aspek kehidupan mereka termasuk akademik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengalaman, reaksi, resiliensi dan harapan responden sebagai perwakilan Generasi Z. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah kualitatif wawancara terhadap lima responden yang aktif di dunia akademik. Pertanyaan yang diajukan menggali pengalaman, reaksi emosional, resiliensi sebagai bentuk adaptasi dan ketahanan diri. Hasil penelitian menunjukkan berbagai jawaban dari pengalaman dan pandangan. Seperti pada reaksi yang diberikan sebagai bentuk penolakan atau sikap acuh

    ANALISIS KOMPARASI EFEKTIVITAS KEGIATAN PEMBELAJARAN SECARA DARING DAN LURING

    No full text
    Perkembangan teknologi dalam dunia pendidikan telah mendorong perubahan signifikan dalam metode pembelajaran, terutama dalam adopsi pembelajaran daring sebagai alternatif dari pembelajaran luring. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi perbedaan efektivitas pembelajaran daring dan luring berdasarkan berbagai indikator akademik, seperti pemahaman materi, motivasi belajar, interaksi sosial, serta pencapaian nilai akademik. Metode penelitian yang digunakan adalah tinjauan pustaka (literature review) dengan pendekatan sistematis berbasis PRISMA Flow Diagram. Studi ini mengkaji berbagai publikasi ilmiah dalam lima tahun terakhir yang membahas efektivitas kedua metode pembelajaran. Proses seleksi dilakukan melalui tahap identifikasi, penyaringan, evaluasi kelayakan, serta analisis kualitatif terhadap 10 artikel yang dianggap relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran luring lebih unggul dalam aspek interaksi sosial, keterlibatan siswa, dan efektivitas dalam membentuk karakter
    corecore