150 research outputs found

    Pengaruh Lama Terpancing dan Terekspos Udara terhadap Detak Jantung serta Waktu Pulih Ikan Nila (Oreochromis niloticus).

    No full text
    Ikan nila sering menjadi target dalam perikanan rekreasi perairan tawar. Perikanan rekreasi berimplikasi pada kelangsungan hidup ikan setelah dilepaskan. Detak jantung dapat digunakan untuk menunjukkan kondisi fisiologi ikan pada saat terpancing, terekspos udara, dan fase pemulihan. Pengaruh lama ikan terpancing dan terekspos udara terhadap detak jantung dan waktu pulih diobservasi menggunakan ikan nila (11.2±1.45 cm standard length (SL), n = 30) menggunakan teknik elektrokardiograf (EKG) dengan perlakuan yang berbeda yaitu lama terpancing (2, 5, dan 7 menit) dan lama terekspos udara (2 dan 5 menit). Sepasang elektroda dipasang pada rongga dada ikan dihubungkan dengan bioampifier dan oskiloskop untuk melihat detak jantung ikan. Berdasarkan hasil penelitian rata-rata detak jantung kontrol 73 detak per menit (dpm). Detak jantung meningkat pada saat terpancing menjadi 105 dpm, dan menurun dengan signifikan pada saat terekspos udara yaitu 32 dpm. Waktu pulih pada perlakuan 7 menit terpancing 2 menit terekspos udara dan 7 menit terpancing 5 menit terekspos udara berbeda nyata terhadap perlakuan lainnya (P<0.05). Waktu pulih ikan nila menjadi lebih lama pada perlakuan waktu terekspos udara yang lebih lama

    Kecepatan Renang Ikan dan Pengaruhnya terhadap Kinerja Jantung dan Waktu Pulih Ikan Bawal Tawar (Colossoma macropomum).

    No full text
    Pemahaman pada tingkah laku ikan dapat menjadi dasar dalam pengembangan teknik penangkapan dan jenis alat tangkap yang akan digunakan dalam operasi penangkapan ikan oleh nelayan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kecepatan renang ikan dan pengaruhnya terhadap detak jantung dan waktu pulih ikan bawal tawar (Colossoma macropomum). Metode yang digunakan adalah metode eksperimental laboratorium untuk uji kinerja renang, detak jantung, dan waktu pulih. Data kinerja renang berupa kecepatan renang dan critical swimming speed (Ucrit) menggunakan mini flume tank. Data kinerja jantung berupa detak jantung kontrol, perlakuan arus dengan peningkatan tiap 14.03 cm/s setiap 10 menit (step up protocol), dan waktu pulih. Kinerja renang ikan dianalisis menggunakan data hasil rekaman video selama percobaan, kinerja jantung ikan dianalisis menggunakan rekaman detak jantung ikan selama percobaan dan waktu pulih ikan dianalisis menggunakan model rancangan acak lengkap (RAL). Hasil penelitian kinerja renang menunjukkan bahwa kecepatan renang ikan bawal tawar adalah 7.21 BL/s dan critical swimming speed (Ucrit) tertinggi sebesar 7.20 BL/s. Kinerja jantung menunjukkan peningkatan dengan bertambahnya kecepatan renang setiap 10 menit tiap perlakuan (P<0.05). Detak jantung pada saat kontrol 90.57±4.67detak per menit (dpm) dan mengalami peningkatan menjadi 140.40±5.95 dpm pada kecepatan 70.27 cm/s. Waktu pulih ikan bawal tawar 1.2-3.0 jam. Semakin besar kecepatan arus maka kecepatan renang akan semakin besar, detak jantung semakin meningkat, dan waktu pulih yang dibutuhkan semakin lama

    Efektivitas Ukuran Mata Pancing terhadap Hasil Tangkapan Pancing Ulur Ikan Tenggiri (Scomberomorus commersonii) di Tanjungpandan, Belitung.

    No full text
    Pancing ulur ikan tenggiri memiliki desain mata kail yang dipasang berkombinasi. Saat ini penentuan kombinasi ukuran mata pancing oleh nelayan di Tanjungpandan, Belitung didasarkan pada pengalaman dan coba–coba (trial error). Penelitian ini bertujuan menghitung komposisi hasil tangkapan dan distribusi ukuran ikan tenggiri berdasarkan ukuran mata pancing ulur ikan tenggiri di Perairan Tanjungpandan Belitung, mengukur efektivitas ukuran mata pancing terhadap hasil tangkapan pancing ulur ikan tenggiri di Perairan Tanjungpandan Belitung, dan mengidentifikasi periode penangkapan ikan tenggiri di Perairan Tanjungpandan Belitung. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur dan uji coba penangkapan (experimental fishing) pada pancing ulur dengan tiga kombinasi mata pancing yang berbeda selama 30 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan komposisi hasil tangkapan ikan tenggiri sebesar 92,11% (ekor) dan 90,93% (berat). Distribusi panjang hasil tangkapan pada ukuran mata pancing no. 6 dan 7 memiliki persentase layak tangkap sebesar 100%. Ukuran mata pancing no. 7 dan 8 memiliki persentase layak tangkap sebesar 37,2%. Ukuran mata pancing no. 8 dan 8 memiliki persentase layak tangkap sebesar 35,3%. Perbandingan hasil tangkapan pancing ulur berbeda pada setiap perlakuannya. Pancing ulur dengan no. 6 dan 7 memperoleh hasil tangkapan sebanyak 109 ekor (38,93%), sedangkan pancing no. 7 dan 8 sebanyak 86 ekor (30,71%), dan pancing no. 8 dan 8 sebanyak 85 ekor (30,36%). Ukuran mata pancing no. 6 dan 7 lebih efektif untuk menangkap ikan tenggiri dibandingkan dengan no. 7 dan 8 serta no. 8 dan 8 berdasarkan uji f dan uji t pada selang kepercayaan 95%. Periode penangkapan ikan tenggiri yang baik adalah pukul 07.00-10.00 WIB

    Perbandingan Keragaan Perikanan Jaring Arad dan Jaring Insang di Eretan Kulon, Indramayu

    No full text
    Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia melarang pengoperasian jaring arad dan memberikan bantuan alat tangkap berupa jaring insang dalam rangka mempertahankan usaha perikanan. Kajian mengenai keragaan kedua alat tangkap tersebut perlu dilakukan sebelum pemerintah mengimplementasikan alat tangkap bantuan. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan keragaan perikanan jaring arad dan jaring insang berdasarkan hasil tangkapan dan pendapatan nelayan, serta mengidentifikasi strategi adaptasi yang dilakukan nelayan terhadap pergantian jaring arad. Penelitian telah dilakukan di Eretan Kulon dengan metode survei dan dianalisis secara deskriptif komparatif menggunakan 3 pendekatan, yaitu deskripsi alat tangkap, komposisi hasil tangkapan, dan pendapatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbandingan kedua alat tangkap tersebut jika ditinjau berdasarkan deskripsi alat tangkap memiliki bentuk, spesifikasi, dan ukuran yang berbeda. Komposisi hasil tangkapan utama jaring arad sebesar 10,87%, sedangkan hasil tangkapan utama jaring insang 54,21%. Hasil penelitian lainnya menunjukkan bahwa diversitas jaring arad lebih besar dibandingkan dengan jaring insang, hal ini mengindikasikan bahwa keanekaragaman jaring insang lebih rendah, dan selektivitasnya lebih tinggi dibandingkan jaring arad. Perubahan pendapatan nelayan jaring arad ke jaring insang mengalami kenaikan sebesar Rp 2.749.500 perbulan. Strategi adaptasi yang dilakukan oleh nelayan setelah adanya pergantian alat tangkap yaitu mengganti alat tangkap dan menambah jumlah ABK. Faktor nelayan mengoperasikan jaring arad kembali adalah kebiasaan dan musim

    Pengaruh Kecepatan Arus terhadap Swimming Performance dan Detak Jantung Ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus).

    No full text
    Fisiologi dan tingkah laku ikan merupakan ilmu dasar yang berperan penting dalam pengembangan teknologi dan metode penangkapan ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kecepatan arus terhadap kinerja renang dan kinerja jantung serta waktu pulih ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus). Metode yang digunakan adalah metode experimental untuk uji kinerja renang, detak jantung, dan waktu pulih dalam skala laboratorium. Data uji kinerja renang berupa kecepatan renang, pola renang, dan critical swimming speed (Ucrit) menggunakan flume tank. Data kinerja jantung berupa detak jantung kontrol, perlakuan arus berbeda dengan peningkatan setiap 10 menit (step up protocol), dan waktu pulih. Hasil penelitian kinerja renang menunjukkan bahwa kecepatan renang ikan kerapu macan adalah 7.40 BL/s, pola renang BCF Undulation tipe subcarangiform, dan critical swimming speed (Ucrit) tertinggi sebesar 6.73 BL/s. Kinerja jantung menunjukkan peningkatan dengan bertambahnya kecepatan renang setiap 10 menit perlakuan (P<0.05). Detak jantung pada saat kontrol 87.94±1.25 dpm, mengalami peningkatan menjadi 118.10±1.16 dpm pada kecepatan 70.27 cm/s. Waktu pulih ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) 3.5-5.2 jam. Semakin besar kecepatan arus maka kecepatan renang akan semakin besar, detak jantung semakin meningkat, dan waktu pulih akan semakin lama

    Rancang Bangun Rumpon Hidup (Bio Fad) Dan Uji Efektivitas Serta Keramahan Lingkungan Secara Spasial Dan Temporal Di Perairan Pesisir Uloulo Kabupaten Luwu

    No full text
    Rumput laut yang dibudidayakan nelayan di perairan pesisir Uloulo Kabupaten Luwu mengalami perkembangan cukup cepat khususnya sejak sepuluh tahun terakhir. Namun seiring dengan perkembangannya, muncul masalah baru yaitu kematian massal juvenil ikan pada saat nelayan memanen rumput laut dan penurunan produksi rumput laut akibat serangan hama. Kedua masalah tersebut jika dikelola dengan tepat justru dapat mendatangkan keuntungan, baik secara ekologis maupun secara ekonomis. Pemanfaatan juvenil dan ikan dewasa di area budidaya rumput laut membutuhkan teknologi yang mampu memikat ukuran ikan yang berbeda. Teknologi yang tepat untuk digunakan adalah rumpon. Informasi mengenai rumpon yang efektif dioperasikan di area budidaya rumput laut masih kurang. Penelitian ini bertujuan yaitu: 1) merancang rumpon yang mampu menarik juvenil dan ikan dewasa agar mudah ditangkap serta dapat dioperasikan di sekitar area budidaya rumput laut; 2) menganalisis struktur komunitas ikan hasil tangkapan di rumpon hidup secara spasial dan temporal; 3) menganalisis sebaran hasil tangkapan dan variasi ukuran ikan baronang lingkis (Siganus canaliculatus) secara spasial dan temporal, dan 4) menentukan jenis rumpon hidup yang efektif dan ramah lingkungan, apakah rumpon yang menggunakan atraktor cottonii (RC) atau gracillaria (RG). Penelitian ini dilaksanakan dalam dua tahap yaitu tahap pertama merancang atau mendesain rumpon hidup pada bulan Juni-Agustus 2014 dan tahap kedua pemasangan rumpon di lokasi penelitian serta pengambilan sampel dari bulan September - Desember 2014 dan Januari-Agustus 2015, untuk menguji efektivitas dan keramahan lingkungan rumpon hidup secara spasial dan temporal di perairan pesisir Uloulo Kabupaten Luwu. Penelitian ini menggunakan metode eksprimen penangkapan ikan (experimental fishing). Pengambilan sampel ikan pada rumpon hidup dengan menggunakan serok melalui beberapa tahapan yaitu; 1) sampling dilakukan oleh dua orang kemudian secara bersamaan menyelam di samping (sisi) rumpon, 2) setelah sampai di ujung bawah rumpon, selanjutnya rumpon dimasukkan kedalam serok dengan cara menyarungi, 3) setelah rumpon benar-benar sudah sepenuhnya berada dalam serok kemudian serok ditarik ke atas perahu bersama dengan rumpon, 4) rumpon digoyang-goyang agar seluruh ikan yang terkumpul di rumpon masuk ke serok, 5) serok dilepaskan dari rumpon kemudian ikan yang tertangkap dikumpulkan di wadah, lalu dihitung berdasarkan jenis, diukur panjang total setiap jenis ikan, berdasarkan rumpon dan habitat (stasiun). Data dianalisis menggunakan statistik multivarian dengan bantuan perangkat lunak (software) PRIMER versi 5.2 (Plymouth Routines In Multivariate Ecological Research). Perancangan rumpon hidup menghasilkan protipe rumpon hidup berbentuk silinder. Rumpon hasil rancangan terdiri atas pelampung (float), badan (body), tali-temali, atraktor dari dua jenis rumput laut, pemberat (sinker) rumpon dan pemberat jangkar. Terdapat perbedaan total gaya apung, total gaya tenggelam dan extra buoyancy rumpon hidup pada air tawar dan air laut. Total gaya apung rumpon hidup di air tawar sebesar 274,378,00 gram, total gaya tenggelam sebesar -175,518,00 gram, dan extra buoyancy sebesar 81%. Selanjutnya total gaya apung rumpon hidup setelah diuji di air laut diperoleh total gaya apung sebesar 281,237,45gram, total gaya tenggelam -6,859,45gram dan extra buoyancy sebesar 98%. Total gaya tenggelam komponen-komponen yang bekerja pada rumpon hidup jauh lebih kecil dari total gaya apung pelampung di air tawar , begitu pula pada air laut Berdasarkan nilai tersebut di atas maka dapat dipastikan bahwa pelampung dapat mengapung dengan baik. Gaya apung tambahan rumpon hidup digunakan untuk mengimbangi berat tambahan dari atraktor yang digunakan. Analisis struktur komunitas ikan di rumpon hidup menunjukkan indeks diversitas Shannon-Wiener (H') secara spasial dan temporal relatif tinggi. Uji statistik ANOSIM menunjukkan bahwa kelimpahan hasil tangkapan ikan antar habitat berbeda sangat nyata, (R = 0,235; p = 0,001). Habitat terumbu karang memiliki kelimpahan hasil tangkapan tertinggi. Selanjutnya secara temporal antar bulan berbeda sangat nyata (R = 0,271; p = 0,001). Kelimpahan hasil tangkapan ikan tertinggi pada bulan Desember (musim barat). Analisis SIMPER menunjukkan bahwa Siganus canaliculatus sebagai spesies penciri (kunci) pada kedua rumpon, begitu pula dengan habitat muara sungai dan padang lamun. Selanjutnya untuk habitat terumbu karang, spesies pencirinya adalah jenis ikan kuwe atau Caranx sp. Kontribusi Siganus canaliculatus cukup tinggi pada habitat padang lamun yaitu sebesar 66,42%, sedangkan Caranx sp., sebesar 29,93% di habitat terumbu karang. Sebaran hasil tangkapan ikan Siganus canaliculatus pada kedua rumpon bervariasi secara spasial dan temporal. Hasil uji statistik ANOSIM menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata, distribusi ukuran panjang ikan antar habitat (Global R = 0,009; p = 0,280), akan tetapi secara temporal atau antar bulan terdapat perbedaan yang nyata (Global R = 0,128; p = 0,021). Analisis SIMPER menunjukkan bahwa ukuran panjang total (PT) Siganus canaliculatus yang berkontribusi besar (penciri) berbeda antar rumpon, sedangkan berdasarkan habitat menunjukkan persentase kontribusi yang tidak berbeda nyata pada setiap habitat. Rumpon yang efektif adalah rumpon gracillaria (RG) berdasarkan kelimpahan dan persentase jumlah hasil tangkapan ikan dibandingkan dengan rumpon cottonii (RC) secara spasial dan temporal. Selanjutnya, rumpon yang ramah lingkungan berdasarkan pada penilaian aspek biologis, teknis dan sosial-ekonomis menempatkan pula rumpon gracillaria sebagai rumpon yang ramah lingkungan

    ANALISIS KONTRASTIF ABREVIASI DALAM BAHASA JEPANG DAN BAHASA INDONESIA 日本語とインドネシア語の略語の対象分析

    No full text
    ABSTRACT Bilal, Mochammad. 2017. “Contrastive Analysis of Abbreviation in Japanese Language and Indonesian Language”. Undergraduate Japanese Literature thesis. University of Diponegoro. The first thesis supervisor is Drs. Surono, S.U. The second thesis supervisor is Lina Rosliana, S.S, M.Hum. This thesis discusses “Contrastive Analysis of abbreviation in Japanese Language and Indonesian Language”. The reason behind the choose of title by the author is due to lack of discussion about the comparasion between Japanese and Indonesian language. Furthermore, author had interested to discuss the form of abbreviation in bahasa Indonesia and Japanese language. The data in this research are attained from written sources, such as; internet articles from asahi.com and kompas.com. Whilst the method used in the analysis is “bagi unsur langsung”, later the data are analyzed by contrastive method to compared the data which are divide into two steps, those are description and and comparasion of the results of data analysis. Abbreviation of Japanese and Indonesian booth have 8 similarities, namely on booth have abbreviation who is not be read in its entirety, abbreviation who spell entirety, abbreviation who take 2, 3 or 4 first letters, abbreviation who take first letter from every syllables, abbreviation who had partial deletion, abbreviation who combine with foreign word, abbreviation with combination of syllables, and abbreviation who had changes in written form. The diffrences in meanwhile, abbreviation who are not found in Japanese language has 25 forms and abbreviation who are not found in Indonesian language has 2 forms. . Keywords: contrastive, abbreviation, Indonesian Language, Japanese Language

    Electrophysiological study on swimming performance of fish for capture technology development

    No full text
    東京海洋大学博士(海洋科学)東京海洋大学博士学位論文 平成26年度(2014) 応用生命科学 課程博士 甲第340号指導教員: 有元貴文全文公表年月日: 2014-12-08doctoral thesi

    Strategi dan prosedur monitoring, controling dan surveillance (MCS) Sumberdaya Ikan

    No full text
    Pengelolaan kelautan dan perikanan saat ini sudah sangat berkembang dengan cepat, jika hal ini tidak diatur secara bijak akan menimbulkan masalah pengelolaan dimasa kini dan yang akan datang. Permasalahan yang dihadapi sektor kelautan dan perikanan saat ini adalah Illegal fishing. Unreported, dan Unregulated (IUU Fishing) permasalahan ini ditimbulkan karena masih rendahnya sistem pengawasan dan pengendalian terhadap sektor kelautan dan perikanan. Jika permasalahan ini berlangsung secara terus menerus akan menyebabkan kerugian yang sangat besar bagi negar

    DEVELOPMENT OF PORTABLE SYSTEM FOR MUSCLE TWITCH EXPERIMENT MEASUREMENT OF MUSCLE CONTRACTION TIME

    No full text
    The muscle contraction time of fish can be the good index for swimming capability to estimate the maximum swimming speed, by defining the maximum tail beating performance. The muscle contraction time of jack mackerel, Thachurus japonicus (18.0 – 19.4 cm of fork length (FL), n = 15) was measured with newly developed portable systemand compared with the conventional setup with the electric stimulation pulse from generator and battery system.The muscle contraction profile was not different among each measurementeven with the different pulse pattern of electric stimulation between portable and conventional setup. The shortest recording of muscle contraction time with the portable system was 22.6 ± 2.1 ms, not different to the conventional system as 24.3 ± 1.9 ms with the generator and 24.2 ± 2.0 mswith the battery system. Time duration and the pulse pattern of the electric stimulus do not affect the muscle contraction time. The portable system can be used to measure the muscle contraction time of fish for the field experiment and onboard the fishing boat without alternating current (AC) electricity supply. Keywords: Muscle contraction time, jack mackerel, portable system, electric stimulus, muscle twitch experiment.
    corecore