1,720,960 research outputs found

    PELATIHAN GURU TENTANG PENANGANAN CEDERA DAN KONDISI KEDARURATAN DI MIT AR-ROIHAN LAWANG

    No full text
    Latar Belakang: Cedera merupakan kondisi trauma yang sering dialami oleh siswa khususnya di sekolah yang menggunakan system pendidikan inklusi. Keberadaan Anak Kebutuhan Khusus (ABK) di sekolah inklusi (MIT Ar-Roihan Lawang) dengan segala keterbatasan fisik maupun psikologis membuatnya sangat beresiko mengalami cedera saat belajar maupun bermain di sekolah. Guru atau pendidik selaku pengganti orang tua siswa, tentunya bertanggungjawab atas keamanan dan keselamatan dari ancaman cedera atau kondisi darurat lainnya. Adanya berbagai potensi terjadinya cedera belum diimbangi dengan fasilitas, sarana, prasarana serta SDM guru yang kompeten menangani jika sewaktu-waktu terjadi cedera dan kondisi kedaruratan pada siswa khsusunya ABK. Tujuan: Kegiatan pengabdian bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan pada penanganan cedera dan kondisi kedaruratan bagi tenaga pendidik di MIT Ar-Roihan Lawang. Metode:Kegiatan tersebut dilaksanakan di MIT Ar-Roihan Lawang pada tanggal 29 - 30 April 2017. Kegiatan ini diikuti oleh 10 orang guru yang terdiri dari 7 orang guru kesiswaan dan 3 orang guru pembina UKS. Pelaksanaan kegiatan dalam pengabdian ini adalah dengan memberikan pelatihan, seminar, dan pendampingan serta pengadaan alat bagi mitra. Evaluasi keberhasilan dari kegiatan pengabdian dilakukan melalui pretest dan postest pengaetahuan serta ketrampilan para guru. Hasil: Didapatkan adanya peningkatan rata-rata pengetahuan dan ketrampilan guru dalam penangani cedera dan kondisi kedaruratan lainya. Luaran dari kegiatan pengabdian ini berupa naskah publikasi dan modul sebagai sarana belajar mandiri bagi mitra serta peralatan pendukung upaya penanganan cedera dan kondisi kedaruratan di MIT Ar-Roihan Lawang. Kesimpulan: Pelatihan dan pendampingan ini dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan mitra (guru dan pembina UKS) dalam menangani cedera dan kondisi kedaruratan lain pada siswa di MIT Ar-Roihan Lawang

    PENCEGAHAN HIPOGLIKEMIA PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2

    Full text link
    ABSTRAK Latar belakang: Kondisi hipoglikemia yang berat merupakan keadaan kegawat daruratan yang memerlukan deteksi dini dan penangan segera untuk mencegah terjadinya kerusakan organ tubuh. Penangannan keadaan hipoglikemia pasien dengan diabetes tipe 2 sangat diperlukan. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengidentifikasi upaya pencegahan terjadinya hipoglikemia. Metodologi : Peneliti menggunakan pendekatan kajian pustaka dalam penelitian ini. Peneliti mengumpulkan dan menyaring artikel berbasis elektonik yang berhubungan dengan pencegahan hipoglikemia pada sumber Sagepub, NCBI, Creative Commons Attribution License, Elsevier, BioMed Central, and CPD Module, using ScienceDirect dan Google. Penyaringan artikel didasarkan pada bentuk artikel dan tahun publikasi. Peneliti menggunakan literature dengan kriteria format fulltext dan terbit antara tahun 2010 sampai dengan 2015. Analisis dilakukan dengan komparasi topic utama pada setiap artikel dan menarik kesimpulan secara umum terhadap topic utama yang teridentifikasi. Hasil: prinsip dasar penanggulangan hipoglikemia pada pasien diabetes mellitus tipe 2 meliputi monitor kadar gula darah secara mandiri secara intensif, peningkatan pengetahuan tentang upaya pencegahan hipoglikemia dan pelibatan keluarga dalam rangkaian pengobatan. Kesimpulan: peningkatan aktitifitas pendidikan kesehatan dalam rangka pencegahan hipoglikemia di komunitas serta penguatan terhadap pasien merupakan tugas utama perawat. Kata kunci: Hipoglikemia, Pencegahan Hipoglikemia, Diabetes Mellitus Tipe

    Diskripsi Klien cedera kepala yang mengalami trauma mayor

    No full text
    Cedera kepala adalah trauma yang menjadi salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan akibat trauma (Madikian & Giza, 2006; Tjahjadi et al., 2013). Kejadian cedera kepala meningkat tajam terutama karena meningkatnya penggunaan kendaraan bermotor (Lee et al, 2015). Tingginya angka kejadian cedera kepala akan berdampak pada peningkatan beban kerja dokter maupun perawat yang bertugas di IGD sehingga berdampak pada penurunan kualitas pelayanan dan dapat menurunkan outcome perawatan klien cedera kepala (Li et al, 2014). Dibutuhkannya kesiapan dan kewaspadaan tim perawatan khususnya di IGD agar dapat mencegah kondisi terburuk yang dapat terjadi pada klien cedera kepala. Desain penelitian yang digunakan adalah diskriptif. Metode sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Sampel yang diambil 96 data rekam medis klien cedera kepala. Untuk data usia, nilai ISS klien dilakukan analisa dengan nilai median sebagai ukuran pemusatan dan minimum-maksimum sebagai ukuran penyebaran. Untuk data jenis kelamin, mekanisme cedera, dan mortality klien dilakukan analisa dengan menghitung distribusi frekuensi dan presentasi masing-masing kelompok. Jumlah klien laki-laki yang mengalami cedera kepala (70 orang atau 72.9%) lebih banyak dibandingkan jumlah klien perempuan (26 orang atau 27.1%). Pada data klien cedera kepala yang meninggal, didapatkan bahwa klien perempuan (22 klien atau 69%) yang meninggal jumlahnya lebih banyak dibandingkan jumlah klien laki-laki (10 klien atau 31%) yang meninggal akibat cedera kepala. Median usia klien cedera kepala adalah 37 tahun dengan rerata 38.31 (20-63). Pada data klien cedera kepala yang meninggal didapatkan hasil bahwa jumlah klien terbanyak yang mengalami cedera kepala pada kelompok usia 20 – 40 tahun yaitu 57 klien atau 60%. Pada data mortality klien didapatkan bahwa jumlah klien yang hidup hingga hari ke 7 perawatan (64 klien atau 66.7%) lebih banyak dibandingkan dengan jumlah klien yang meninggal (32 klien atau 33.3%). Kecelakaan lalu lintas (82 atau sekitar 85.4%) adalah mekanisme cedera yang paling sering terjadi dibandingkan dengan mekanisme cedera jatuh dari ketinggian (7 kejadian atau 7.3%) atau benturan dengan benda tumpul (7 kejadian atau 7.3%). Kecelakaan lalu lintas juga merupakan mekanisme cedera dari semua klien yang meninggal pada penelitian ini. Score ISS klien cedera kepala adalah 21 dengan rerata 24 (17-38), score ISS klien cedera kepala yang meninggal memiliki rata-rata 24. Klien cedera kepala didominasi oleh laki-laki dengan kisaran usia 20-40 tahun, yang diakibatkan oleh kecelakaan lalu lintas dan dengan rata-rata 33,3% berdampak pada kematian

    Hubungan Respiratory Rate (RR) dan Oxygen Saturation (SpO2) Pada Klien Cedera Kepala

    Full text link
    Latar Belakang. Evaluasi fungsi respirasi pada pasien cedera kepala merupakan intervensi penting saat penatalaksanaan pasien cedera kepala. Evaluasi fungsi respirasi dilakukan melalui pengukuran RR dan SpO2. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara RR dan SpO2 pada klien yang mengalami cedera kepala. Metode. Penelitian observasional analitik dengan pendekatan desain cohort retrospektif ini dilaksanakan di Rumah Sakit dr. Iskak Tulungagung pada bagian Rekam Medis. Data diambil dari semua rekam medis pasien bulan Januari 2016 hingga Juli 2017 berjumlah 150 rekam medis. Variabel yang digunakan adalah jumlah RR dan Kadar SpO2 saat pasien masuk Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit. Data yang didapatkan kemudian diolah dengan SPSS 20.0 menggunakan Uji Korelasi Spearman’s Rho. Hasil. Berdasarkan hasil analisis Uji Korelasi Spearman’s Rho didapatkan p= 0,002, r= -0,247. Kesimpulan. Pada pasien cedera kepala, komponen RR memiliki hubungan yang bermakna dengan kadar SpO2 dengan kekuatan lemah dan arah korelasi negatif

    Penggunaan Komponen Oxygen Saturation Untuk Meningkatkan Akurasi Revised Trauma Score Sebagai Prediktor Mortality Pasien Cedera Kepala

    No full text
    Latar Belakang. Cedera kepala merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan akibat trauma yang membutuhkan tindakan cepat dan efisien untuk mencegah perburukan kondisi pasien. Pengukuran keparahan trauma adalah langkah yang sangat penting untuk mendukung pengambilan keputusan klinis yang tepat, efektif dan efisien untuk mencegah kecacatan dan kematian pasien cedera kepala. Revised Trauma Score (RTS) adalah merupakan physiologycal scoring systems yang dapat digunakan sebagai prediktor mortality pasien cedera kepala. Untuk meningkatkan kemampuan RTS maka diperlukan upaya perbaikan, salah satunya dengan cara mengganti komponen RR dengan komponen lain yang memiliki kemampuan prediktif mortality pasien yang lebih bagus yaitu oxygen saturation. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Apakah penggunaan komponen oxygen saturation dapat meningkatkan akurasi Revised Trauma Score sebagai prediktor mortality pasien cedera. Metode. Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan design cohort retrospektif. Populasi dalam penelitian ini adalah semua data rekam medis pasien cedera kepala yang masuk pada periode Januari hingga Desember 2015 di RSSA Malang. Sejumlah 96 sampel dipilih sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil. Hasil analisis Uji Mann-Whitney penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara mortality pasien dalam 7 hari perawatan dengan score GCS, SBP, RR dan SpO2 dengan p value dari semua variabel independen 0.05. Hasil Uji regresi logistik menunjukkan bahwa persamaan RTS (GCS, SBP, RR) memiliki nilai p value Uji Hosmer and Lamesho = 0.849, nilai sensitivity sebesar 0.93, specificity 0.863, Positive Predictive Value (PPV) 0.95, Negative Predictive Value (NPV) 0.79, dan dengan AUC 0.942 (CI95% 0.88-0.99). Sedangkan persamaan RTS (GCS, SBP, SpO2) memiliki nilai p value Uji Hosmer and Lamesho = 0,921, nilai sensitivity sebesar 0.94, specificity 1, Positive Predictive Value (PPV) 1, Negative Predictive Value (NPV) 0.83, dan dengan AUC 0.968 (CI95% 0.91- 1). Kesimpulan. Maka kedua persamaan tersebut sama-sama memiliki kualitas diskriminasi dan kalibrasi yang baik. Secara klinis terdapat perbedaan AUC antara kedua persamaan tersebut, dengan kesimpulan bahwa persamaan RTS (GCS, SBP, SpO2) lebih baik dari pada persamaan RTS (GCS, SBP, RR). Akurasi nilai RTS yang menggunakan komponen oxygen saturation lebih baik dibandingkan dengan RTS yang menggunakan komponen RR, sehingga penggunaan komponen Oxygen Saturation terbukti dapat meningkatkan Akurasi Revised Trauma Score sebagai prediktor mortality pasien cedera kepala

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Oxygen Saturation Sebagai Prediktor Mortality Klien Cedera Kepala Yang Lebih Baik Dari Respiratory Rate

    Full text link
    The Revised Trauma Score (RTS) is a predictor of moderate mortality in head injury clients. To increase it by changing the respiratory rate (RR) component in RTS with other respiration components that have the potential to have a higher correlation to the mortality of head injury clients. The aim of this study was to analyze differences in RR accuracy and oxygen saturation (SpO2) as predictors of mortality in head injury clients. This study is an observational analytic study with a cohort retrospective study approach, conducted at the hospital. Dr. Iskak Tulungagung. The population is a head injury client medical record for the period January to December 2017, with a purposive sampling technique which obtained a sample of 150 respondents. Data analysis using the Mann-Whitney test, logistic regression, and ROC Curve comparison. The results, the variables RR and SpO2 have a significant relationship with the mortality of head injury clients(p value = 0.000). Logistic regression test results, RR equation has sensitivity = 0.792 (79.2%), specificity= 0.7333 (73.33%), Positive Predictive Value (PPV) = 0.922 (92.2%), and Negative Predictive Value (NPV) = 0.468 (46.8 %). The SpO2 equation has sensitivity = 0.907 (90.7%), specificity = 0.881 (88.1%), PPV= 0.951 (95.1%), and NPV = 0.787 (78.7%). The results of a comparison analysis of the ROC curve, concluded that ROC SpO2 (AUC = 0.930) was better than ROC RR (AUC = 0.729). Oxygen saturation is a better predictor of mortality of head injury clients than RR

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Full text link
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
    corecore