1,720,990 research outputs found

    PENGARUH METODE PENGGARAMAN KOMBINASI TERHADAP KARAKTERISTIK KIMIA IKAN HIU (Centrophorus sp.) JAMBAL ROTI

    Get PDF
    Ikan hiu menjadi salah satu hasil tangkapan nelayan Sangihe yang belum termanfaatkan secara maksimal. Daging hiu hanya diolah secara tradisional menjadi ikan asin dan ikan asap. Alternatif lainnya adalah membuat menjadi ikan asin jambal roti. Tujuan penelitian ini adalah menentukan karakterisktik kimia yang meliputi analisis proksimat, kadar NaCl dan Kadar urea dari ikan hiu jambal roti yang dibuat dengan metode penggaraman kombinasi. Tahapan penelitian meliputi: pembuatan ikan hiu jambal roti dan anailsis kimianya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses penggaraman kombinasi menghasilkan ikan hiu jambal roti yang memiliki kadar protein tinggi 46.61 Persen, kadar lemak 3.78 Persen, kadar air 27.36 Persen, kadar abu 14.33 Persen dan kadar NaCl 16.92 Persen serta kadar urea 1.11 Persen. Berdasarkan kadar air dan kadar garam, ikan hiu jambal roti telah memenuhi standar SNI Shark is one of the catches that has not been utilized in Sangihe. Traditionally, meat of shark were processed  such as smoked fish and salted fish. Other that those shark meat might be processed using an alternative way is to make “jambal roti”. The objective of research were  to analysis of chemical characterization including proksimat, NaCl value and Urea value. Research step included making of ‘jambal roti’ with combination salting method and chemical analysis. The results show  that jambal roti of shark meat has a high protein value 46.61 Percent, lipid 3.78 Percent, water 27.36 Percent, ash  14.33 Percent, NaCl 16.92 Percent and urea 1.11 Percent. Based on water value and ash value, shark ‘jambal roti’ fulfilled SNI

    BERBEDA TAPI SAMA: PLASTISITAS MORFOLOGI SPONGE XESTOSPONGIA TESTUDINARIA DARI PERAIRAN KABUPATEN SITARO DAN SANGIHE?

    Get PDF
    Plastisitas morfologi sponge telah lama menjadi tantangan berat dalam identifikasi jenis sponge dan mempunyai implikasi penting di bidang konservasi spesies, penemuan bahan bioaktif maupun biomaterial berpotensi medis dari invertebrata laut ini. Peran ekologis, kandungan senyawa bioaktif maupun variasi genetik dari X. testudinaria, sponge ikonik di terumbu karang Sulawesi Utara dan Indo-Pasifik ini, telah seringkali dilaporkan. Tetapi penelitian tentang plastisitas X. testudinaria masih sangat terbatas. Untuk menentukan plastisitias X. testudinaria dari Kabupaten Sitaro dan Sangihe, kami membandingkan karakteristik morfologi (contoh, warna, bentuk pertumbuhan, permukaan tubuh, ukuran dan bentuk spikula). Sejauh ini, tiga morfotipe sponge jenis Xestospongia testudinaria telah ditemukan di Kepulauan Sitaro dan Sangihe; (1) morfotipe digitate di Pulau Mahumu, (2) morfotipe lamellate di perairan Enepahembang dan Bebalang dan (3) morfotipe licin di Ulu Siau. Berbeda dengan studi plastisitas X. testudinaria sebelumnya, penelitian kami tidak menunjukkan adanya dominasi dari salah satu morfotipe ini di wilayah di sekitar pelabuhan laut dan daerah dengan masukan sedimentasi tinggi. Kami juga membahas implikasi dari penelitian ini untuk mendapatkan gambaran lebih baik mengenai distribusi berbagai morfotipe X. testudinaria di perairan Nusa Utara. Morphological plasticity in sponge has become a serious challenge in sponge identification and has an important implication in species conservation. Ecological roles, bioactive compounds, and genetic variation of X. testudinaria, the iconic sponge from the coral reef in North Sulawesi and even Indo-Pacific, have been frequently reported. However, research on the plasticity of X. testudinaria remains limited. To determine the plasticity of this species from Sitaro and Sangihe Islands, we compared the morphological characteristics (e.g. color, growth form, surface, size and the style of spicule). So far, three morphotypes of X. testudinaria have been found in Sitaro and Sangihe Island regencies; digitate, lamellate and smooth surfaces. Different from earlier study on plasticity in X. testudinaria, our research did not show domination of any morphotype in areas near seaport and  high sedimentation. We also discussed the implication of this research to get a better understanding of the distribution of X. testudinaria with different morphotypes in Nusa Utara waters

    Karakteristik Kimia dan Nilai Organoleptik Nugget Ikan Tuna dengan Subtitusi Tepung Sagu

    Get PDF
    Nugget merupakan produk diversifikasi yang paling banyak disukai oleh masyarakat dari anak kecil sampai dengan orang dewasa. Nugget selama ini dibuat menggunakan tepung terigu, akan tetapi tepung terigu masih di impor dari luar negeri sehingga pemanfaatan tepung lokal misalnya sagu sangat diharapkan untuk pemenuhan kebutuhan karbohidrat. Tujuan penelitian ini adalah substitusi tepung sagu dalam pembuatan nugget, karakteristik kimia dan nilai organoleptik nugget ikan tuna.Hasil penelitian menunjukkan bahwa substitusi tepung sagu dalam pembuatan nugget dapat diterima secara organoleptik meliputi penampakan, bau, rasa dan tektur dengan nilai rata-rata 4 (suka). Karakteristik kimia menunjukkanbahwa semua parameter kimia (kadar protein 15.96–17.60%, kadar lemak 3.65– 8.35%, kadar abu 1.60–1.90% dan kadar karbohidrat 8.07–14.83%) memenuhi Standar Nasional Indonesia kecuali kadar air (61.60–66.07%). Tepung sagu dapat dijadikan sebagai bahan substitusi mengantikan tepung terigu dalam pembuatan nugget ikan tuna

    KARAKTERISTIK RUMPUT LAUT MERAH JENIS Eucheuma cottonii SEBAGAI BAHAN BAKU SELAI

    Get PDF
    Rumput  laut  dewasa  ini merupakan  salah  satu  komoditas  hasil  laut yang penting. Disamping mempunyai banyak kegunaan,  rumput  laut  juga  sebagai  sumber penghasilan bagi masyarakat pesisir. Rumput laut bisa dimanfaatkan untuk berbagai jenis makanan olahan sehingga dapat dikonsumsi dalam bentuk lain yang lebih bergizi dan dapat dikonsumsi dimasa yang akan datang tanpa mengurangi nilai gizinya dengan cara diawetkan salah satunya yaitu diolah menjadi selai. Tujuan  penelitian  ini untuk menganalisis mutu rumput laut kering sebagai bahan baku pembuatan selai. Penelitian ini dilakukan dalam dua tahapan. Tahap pertama yaitu meliputi preparasi dan analisis proksimat bahan baku rumput laut yang digunakan. Tahap kedua yaitu pembuatan serta analisis nilai organoleptik selai rumput laut. Data pada penelitian ini diambil dari pengujian di laboratorium. Data analisis yang diperoleh dihitung nilai rata-rata kemudian dideskripsikan. Data disajikan dalam     bentuk gambar dan grafik, serta dianalisis secara deskriptif. Analisis mutu yang dilakukan pada rumput laut merah jenis Eucheuma cottonii yaitu analisis kadar air, protein, lemak, karbohidrat dan abu sedangkan analisis mutu produk selai yaitu uji hedonik. Hasil penelitian didapatkan untuk nilai rata-rata kadar air 35.21%, kadar abu 18.50 %, kadar protein 3.68 %, kadar lemak 1.04 %, kadar karbohidrat 37.11 %. Untuk analisis skala  hedonik didapatkan nilai pada parameter kenampakan rata-rata 8.5 (sangat suka), nilai bau rata-rata 7.7 (sangat suka), nilai rasa rata-rata 8.1 (sangat suka) dan nilai rata-rata tekstur 8.2 (sangat suka) Seaweed is one of the important marine product commodities. Besides having many uses, seaweed is also a source of income for coastal communities. Seaweed can be used for various types of processed food so that it can be consumed in other forms that are more nutritious and can be consumed in the future without reducing its nutritional value by preserving it, one of which is processed into jam. Purpose of this study was to analyze the quality of dried seaweed as a raw material for making jam and to test the hedonic quality of seaweed jam. This research was conducted in two stages. The first stage includes preparation and proximate analysis of the seaweed raw materials used. The second stage is the manufacture and analysis of the organoleptic value of seaweed jam. Data in this study were taken from the laboratory. The analytical data obtained were calculated the average value and then described. Data is presented in the form of pictures and graphs, and analyzed descriptively. Quality analysis was carried out on E. cottonii red seaweed, the analysis of water, protein, fat, carbohydrates and ash content while the analysis of the quality jam products was hedonic test. The research results obtained for the average value of water content 35.21%, ash 18.50%, protein 3.68%, fat 1.04%, carbohydrate 37.11%. Hedonic quality analysis, the average appearance parameter is 8.5 (very like), the smell is 7.7 (very like), the taste is 8.1 (very like) and the average texture is 8.2 (very like it)

    Karakteristik Fisiko-Kimia Konsentrat Protein Ikan Sunglir (Elagatis bipinnulatus)

    Get PDF
    Ikan merupakan sumber protein hewani yang memiliki daya cerna yang lebih baik dan jumlah kandungan asam amino essensial yang lebih banyak dibandingkan dengan sumber protein hewani lainnya. Ikan sunglir adalah jenis ikan pelagis yang banyak hidup diperairan Nusa Utara. Ekstraksi KPI umumnya dilakukan dengan menggunakan pelarut etanol. Penelitian ini bertujuan mengkarakterisasi sifat fisiko-kimia konsentrat protein ikan yang diekstrak dari ikan sunglir. Penggunaan etanol 90% dalam mengekstraksi konsentrat protein dari ikan sunglir menghasilkan rendemen berkisar 18-20%. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa konsentrat protein ikan sunglir memiliki kandungan protein yang tinggi dan memiliki kadar lemak yang rendah. Konsentrat protein dengan kadar protein >65% dan kadar lemak <3% tergolong sebagai konsentrat protein Tipe B sesuai dengan standar Mutu FAO 1976 tentang KPI. Hasil pengujian fisik menunjukkan bahwa KPI memiliki kemampuan penyerapan air, lemak dan densitas kamba yang cukup baik untuk diaplikasikan ke dalam bahan panganFish serve as an important source of animal protein with better digestibility and higher content of essential amino acids than other sources of animal protein. Elagatis bipinnulatus or sunglir in Indonesian is a common pelagic fish caught in Sangihe Islands. FPC is commonly extracted with etanol. Therefore, this research aims to characterise the physicochemical properties of the FPC extracted from rainbow runner. The use of 90% ethanol for exraction of FPC from rainbow runner resulted in 18-20% yield. The result shows that the local rainbow runner contained FPC with high level of protein (77.34%) but low level of fat (1.22%), classified as type B on the basis of FAO’s standard on FPC Protein, which stipulated FPC with >65% protein and <3% fat content as Type B. In addition, physical analysis proved that FPC has appropriate water and fat absorption abilities as well as kamba density, suitble for food substitute or fortificatio

    Analisis Asam Amino Beberapa Jenis Teripang Olahan Kering di Kabupaten Kepulauan Sangihe

    Get PDF
    Pengolahan teripang umumnya dilakukan dengan metode pengeringan dan pengasapan. Metode ini dapat mendegradasi protein yang didalamnya terkandung asam amino. Teripang mengandung sekitar 80% protein yang tersusun dari asam-asam amino, baik asam amino esensial maupun asam amino non esensial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui teknik pengolahan teripang dan menentukan komposisi asam amino beberapa jenis teripang olahan kering di Kabupaten Kepulauan Sangihe. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif yaitu mengambil sampel teripang olahan kering kemudian melakukan pengukuran terhadap asam amino. Tahapan penelitian meliputi: survey lokasi dan mengamati proses pengolahan teripang, pengambilan sampel, pengukuran rendemen, analisis kadar air dan analisis asam amino menggunakan HPLC. Data yang diperoleh dibahas secara deskriptif, kemudian ditampilkan dalam bentuk gambar, tabel dan diagram. Hasil penelitian menunjukkan teripang yang dominan diolah adalah teripang Gama (Sticophus variegatus), teripang Pasir (Holothuria scabra) dan teripang Getah (Bohadchia marmorata). Teknik pengolahan umumnya meliputi preparasi, perebusan, penggaraman dengan metode kering untuk teripang Gama, penghilangan lapisan kapur untuk teripang Pasir, pengeringan/pengasapan dan pengemasan. Rata-rata rendemen yang dihasilkan berkisar 5.88 – 10.30% dengan kadar air berkisar 10.67% untuk teripang Gama, 27.42% untuk teripang Pasir dan 28.50% untuk teripang Getah. Terdapat 18 jenis asam amino yang terdiri dari 7 asam amino esensial dan 11 asam amino non-esensial. Teripang Gama memiliki jumlah asam amino yang lebih tinggi (38.450%) dibandingkan jumlah asam amino teripang Pasir (29.634%) dan teripang Getah (26.297%)

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Get PDF
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Get PDF
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Get PDF
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
    corecore