1,722,162 research outputs found
Anwar Ridhwan, L'autre rive
Zaini-Lajoubert Monique. Anwar Ridhwan, L'autre rive. In: Archipel, volume 40, 1990. pp. 206-209
Hipoteks tradisional dalam novel-novel Anwar Ridhwan
Sejak awal, Anwar Ridhwan telah memperlihatkan kecenderungan melakukan proses pemindahan dan pengembangan dalam karya-karyanya, seawal novel pertama, Hari-hari Seorang Seniman (1979). Novel ini antara lain memasukkan teks tradisional dan menjadikannya sebagai sebahagian besar unsur yang menggerakkan novel. Kecenderungan yang sama dilanjutkan Anwar Ridhwan dalam Arus (1985), Di Negeri Belalang (1989), dan Naratif Ogonshoto (2001). (disalin dar artikel
Hipoteks tradisional dalam novel-novel Anwar Ridhwan
Sejak awal, Anwar Ridhwan telah memperlihatkan kecenderungan melakukan proses pemindahan dan pengembangan dalam karya-karyanya, seawal novel pertama, Hari-hari Seorang Seniman (1979). Novel ini antara lain memasukkan teks tradisional dan menjadikannya sebagai sebahagian besar unsur yang menggerakkan novel. Kecenderungan yang sama dilanjutkan Anwar Ridhwan dalam Arus (1985), Di Negeri Belalang (1989), dan Naratif Ogonshoto (2001)
Intelektualisme dalam lima novel Anwar Ridhwan dari sudut persuratan baru
Tesis ini bertitik tolak daripada sorotan literatur yang mengenal pasti beberapa
kecenderungan penting yang mengiringi resepsi kritis terhadap karya-karya
Anwar Ridhwan. Ini merujuk kepada kecenderungan yang jelas dalam kalangan
sarjana dan pengkritik sastera yang memperakukan adanya nilai-nilai
intelektualisme dalam novel-novel Anwar Ridhwan. Perakuan ini seiring dengan
kenyataan Anwar Ridhwan sendiri yang memang mengakui pentingnya
intelektualisme dalam karya sastera termasuklah dalam karya-karya hasil
nukilan beliau. Sorotan ini turut mengenal pasti kecenderungan dalam kalangan
beberapa sarjana dan pengkritik sastera yang secara jelas meragui dan
mempertikaikan dakwaan tentang adanya nilai-nilai intelektualisme dalam karyakarya
Anwar Ridhwan. Adalah jelas daripada sorotan literatur ini bahawa dalam
soal intelektualisme dalam karya-karya Anwar Ridhwan, wujud percanggahan
pendapat yang memperlihatkan tiadanya kata sepakat dan kesimpulan yang jitu.
Dalam konteks ini, tesis ini memproblematikkan soal percanggahan pendapat
dengan memberikan fokus terhadap soal intelektualisme dalam novel-novel
Anwar Ridhwan. Untuk itu, tesis ini distrukturkan bagi mencapai dua objektif
penting. Pertama, menganalisis isian wacana dan isian cerita novel-novel Anwar
Ridhwan. Kedua, merumuskan soal intelektualisme dalam novel-novel Anwar
Ridhwan. Bagi mencapai kedua-dua objektif ini, tesis ini memilih untuk
menerapkan gagasan Persuratan Baru (seterusnya PB) cetusan Mohd. Affandi
Hassan, sebagai kerangka analisis. Pemilihan ini didasarkan kepada prinsip
penting PB yang memberikan keutamaan terhadap aspek ilmu termasuklah
intelektualisme dalam penghasilan dan penghayatan karya sastera. Tesis ini
menjadikan lima novel Anwar Ridhwan sebagai bahan kajian. Novel-novel ini
dipilih berdasarkan kepada resepsi kritis yang cenderung memperagakan novelnovel
ini sebagai novel yang membawakan nilai intelektualisme. Dengan
menerapkan PB, analisis ini mendapati novel-novel yang dikaji menyerlahkan
kecenderungan yang ketara dalam memanipulasi aspek cerita dan
menggembleng sepenuhnya alat-alat penceritaan. Penggemblengan ini didapati
telah meminggirkan aspek ilmu temasuklah intelektualisme yang menjadi fokus
kajian. Tesis ini menyimpulkan apa yang didakwa oleh sarjana dan pengkritik sastera sebagai intelektualisme itu pada hakikatnya merujuk kepada manifestasi
cerita, dan bukannya pemikiran yang dijana melalui pembinaan wacana intelektual
Perkembangan Majlis Taklim Ar-Ridhwan di Kota Bekasi (1951-2009)
Majlis Taklim Ar-Ridhwan didirikan oleh Habib Sholeh bin Abdullah Al- Attas yang datang dari Huraidhah ke kota Bekasi pada tahun 1951, majelis taklim Ar-Ridhwan merupakan salah satu majelis taklim tertua di kota Bekasi. Pada swal didirikannya majelis taklim masih hanya terfokus pada dakwah secara tradisional dalam majelis ilmu non-formal hingga pada tahun 2009 majelis ini mulai merambah pada dakwah dalam pendidikan dengan mendirikan Pondok Pesantren Rubath Ar-Ridhwan.
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: pertama, mengetahui sejarah pendirian Majelis Taklim Ar-Ridhwan Bekasi. Kedua, mengetahui perkembangan Majelis Taklim Ar-Ridhwan Bekasi Pada Masa Habib Sholeh bin Abdullah Al-Attas Tahun (1951-1975). Ketiga, mengetahui Perkembangan Majelis Taklim Ar-Ridhwan Bekasi Pada Masa Habib Ali bin Sholeh Al-Attas Tahun (1975-2009).Adapun metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah, yang mana terdiri dari empat tahapan yaitu heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi.
Berdasarkan penelitian disimpulkan bahwa: Majelis taklim Ar-Ridhwan merupakan salah satu majelis taklim tertua yang didirikan di Kampung Mawar, Margahayu, kota Bekasioleh para habaib atau keturunan Rasulullah pada tahun 1951. Pada tahun 1951 majelis taklim Ar-Ridhwan hanya terfokus pada dakwah Islam saja, pengajarnya pun hanya Habib Sholeh bin Abdullah Al-Attas selaku pendiri dari majelis taklim Ar-Ridhwan.Dalam dakwah Islamnya, Habib Sholeh bin Abdullah Al-Attas membiasakan sebelum dimulainya pengajian dengan pembacaan raatib Al-Attas, pembacaan maulid Ad-Dibba’i yang berisi tentang riwayat maupun perjalanan hidup baginda Nabi Muhammad SAW dari awal kelahiran hingga wafat serta melantunkan-melantunkan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Setelah habib Sholeh bin Abdullah wafat, tampuk kepengurusan majelis taklim diturunkan oleh anak pertamanya yaitu Habib Ali bin Sholeh Al-Attas. Pada masa Habib Ali bin Sholeh Al-Attas, maulid Ad- Dibba’i menjadi sangat akrab di telinga masyarakat Bekasi. Habib Ali bin Sholeh Al-Attas memberikan warna pada pembacaan maulid tersebut dengan langgam hadhrami yang pada awalnya dibaca dengan datar saja. Maka dari itu, Habib Ali bin Sholeh Al-Attas lebih di kenal dengan Habib Ali Ad-Dibba’i. Hingga pada tahun 2009 didirikanlah pondok pesantren Rubath Ar-Ridhwan di Bantargebang, kota Bekasi. Majelis taklim Ar-Ridhwan yang pada awalnya hanya terfokus pada bidang dakwah Islam dengan media non formal berupa pengajian di majelis taklim sekarang merambah pada bidang pendidikan formal dan terstruktur
Keunggulan kepengarangan novel-novel terpilih Anwar Ridhwan
Kajian ini bertujuan meneliti keunggulan kepengarangan novel Naratif Ogonshoto dan novel Penyeberang Sempadan yang akan dianalisis menggunakan teori Teksdealisme melalui empat prinsip iaitu kehadiran, pelanggaran, pengukuhan dan keindividualan. Secara khusus, kajian ini akan mengenal pasti dan menganalisis keunggulan kedua-dua novel tersebut yang menjadi kekuatan kepada kepengarangan pengarangnya. Novel Naratif Ogonshoto dan novel Penyeberang Sempadan dikarang oleh Anwar Ridhwan yang merupakan tokoh Sasterawan Negara ke-10. Kajian ini menggunakan reka bentuk kajian kualitatif dengan kaedah kepustakaan dan analisis kandungan. Secara holistiknya, kajian ini mengaplikasikan empat prinsip yang mendukung teori Teksdealisme yang menampilkan keunggulan kepengarangan Anwar Ridhwan dan menemukan konsep keunggulan baharu iaitu Citra Keunggulan Insan melalui tiga prinsip utama iaitu prinsip Hijrah, prinsip Jati Diri dan prinsip Insaniah. Kajian ini merumuskan secara keseluruhan dari segala aspek bagi mengenal pasti dan menganalisis keunggulan kepengarangan Anwar Ridhwan. Akhir sekali, kajian ini memberi implikasi kepada pengkaji atau penyelidik sebagai asas memahami proses kepengarangan selain turut membantu pembaca memilih karya yang benar-benar unggul serta mendorong pengarang mempertingkatkan karya bagi mencapai tahap unggul
Konsep perjuangan Anwar Ridhwan dalam novel Penyeberang Sempadan
Karya sastera sebagai medium ekspresi seni, menyalurkan mesej dan amanat secara tersurat dan tersirat melalui diksi dalam bentuk kata kunci dan simbol. Simbol dan kata kunci yang diulang dalam karya sastera mendedahkan konseptualisasi dan tanggapan pengarang berhubung dengan sesuatu konsep. Objektif kajian ini adalah untuk mengenal pasti konseptualisasi Anwar Ridhwan berhubung dengan konsep perjuangan dalam novel Penyeberang Sempadan. Teori Konseptual Kata Kunci yang diperkenalkan oleh Mohamad Mokhtar Abu Hassan digunakan sebagai kerangka teoritis dalam kajian ini. Dengan menerapkan Teori Konseptual Kata Kunci, konseptualisasi Anwar Ridhwan yang tersurat dalam bentuk kata kunci dan yang tersirat di sebalik simbol dikenal pasti. Hasil kajian membuktikan bahawa konsep perjuangan pada tanggapan Anwar Ridhwan ialah penderitaan, pengorbanan dan usaha untuk memerdekakan negara daripada cengkaman penjajah. Para pejuang sanggup menderita dan menggadaikan nyawa mereka demi kemerdekaan dan kesejahteraan rakyat. Konseptualisasi ini dikenal pasti dengan mengaplikasikan Teori Konseptual Kata Kunci dan konsep simbol dalam novel Penyeberang Sempadan
An interview with Anwar Ridhwan: a Malaysian National Laureate
An interview with Anwar Ridhwan that investigates the different aspects and facets of Malaysian literature and culture, especially literature in the Malay language
Tradition in the Novels of Anwar Ridhwan and Putu Wijaya
This paper is the result of a comparative study carried out on the novels of Anwar Ridhwan and Putu Wijaya, writers who represent Malaysian and Indonesian authorship respectively. This study focuses on the inclination of both writers to dignify "tradition" in their work. What is meant by the framework of "tradition" is that both writers source their materials mainly from traditional texts in order to construct the structure of the novels which is the object of our attention. Specifically, the novel Hari-hari Terakhir Seorang Seniman (Anwar Ridhwan) makes references to the romance Si Gembang or Teluk Bidung Kota Lama while the novel Perang (Putu Wijaya), to the classical text the Mahabharata. Aside that, "tradition" as is presented by the writers in the novels under study, has been identified to take account of the concept of tradition which is the authorship ideology of both writers - Anwar Ridhwan with his concept kampung halaman Melayu (Malay hometown), Putu Wijaya with his concept desa-kala-patra (found in the Balinese tradition). These "traditions" are anchored in their experimental works which apear to be defying convention; a predilection that clearly is in line with the authorial rhythm of these outstanding writers. The study conducted employs the intertextual framework as well as dialogism advanced by Mikhail Bakhtin and Julia Kristeva; a framework for observing authorship processes that is directed towards the effectiveness of creation theory. The study finds that both writers conform to the cultural traditions of their people, are clearly appreciative of these traditions, perfom meaning inversions in the novels examined (the hypertext) which are not evident in the pre-existing text (the hypotext).
Keywords: Anwar Ridhwan, Putu Wijaya, the novel Hari-hari Terakhir Seorang Seniman, the novel Perang, intertextuality, tradition
Campur Kode Pada Novel Buyung Qori dan Upik Kabun Karya Fauziah Ridhwan (Tinjauan Sosiolingustik)
Fauziah Nur Hikmah. 2110742022, skripsi dengan judul “Campur Kode dalam novel Buyung Qori dan Upik Kabun Karya Fauziah Ridhwan” : Tinjauan Sosiolingustik. Program Studi Sastra Minangkabau Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas.
Masalah pada penelitian ini, yaitu bagaimana bentuk campur kode yang terjadi dalam novel Buyung Qori dan Upik Kabun karya Fauziah Ridhwan? dan apa faktor yang mempengaruhi terjadinya campur kode dalam novel Buyung Qori
dan Upiak Kabun karya Fauziah Ridhwan? Adapun tujuan penelitian ini, yaitu mendeskripsikan bentuk campur kode dalam novel Buyung Qori dan Upik Kabun karya Fauziah Ridhwan dan menjelaskan faktor yang mempengaruhi terjadinya
campur kode dalam novel Buyung Qori dan Upiak Kabun karya Fauziah Ridhwan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori dalam bidang sosiolinguistik yaitu campur kode dan faktor penyebab terjadinya campur kode.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari tiga tahap yaitu yang pertama tahap penyediaan data. Pada tahap ini digunakan metode simak, yang dilakukan dengan cara menyimak dan membaca berulang-ulang setiap tuturan yang terdapat pada novel Buyung Qori dan Upik Kabun. Teknik lanjutannya menggunakan teknik simak bebas libat cakap (SBLC) dan teknik catat. Tahap selanjutnya yaitu tahap analisis data. Pada tahap ini menggunakan metode padan
translasional. Teknik dasar yang digunakan pada metode padan yaitu teknik pilah unsur penentu (PUP), sedangkan teknik lanjutannya yaitu teknik hubung banding memperbedakan (HBB). Selanjutnya yaitu tahap penyajian hasil analisis data.
Metode yang digunakan pada tahap ini yaitu metode penyajian informal. Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan, ditemukan sebanyak 53 data yang terdapat peristiwa campur kode dalam novel Buyung Qori dan Upik
Kabun, yang terdiri dari 50 data peristiwa campur kode dari bahasa Indonesia dengan bahasa Minangkabau dan 3 data peristiwa campur kode dari bahasa Indonesia dengan bahasa Arab. Satuan lingual pada campur kode tersebut yaitu
satuan lingual dalam bentuk kata, frasa dan klausa. Selain itu, faktor yang menyebabkan terjadinya campur kode yaitu latar belakang sikap penutur, latar belakang kebahasaan dan latar belakang penulis
- …
