43 research outputs found
PSIKOEDUKASI MOTIVASI BELAJAR DENGAN MINAT BELAJAR SISWA DI SDN KARANGJAYA 1
Motivasi belajar merupakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang mau dan ingin melakukan sesuatu dan bila tidak suka maka akan berusaha untuk meniadakan atau mengelakkan perasaan tidak suka itu. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis penerapan psikologi pendidikan dalam meningkatkan motivasi belajar dan minat siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi dan psikoedukasi dalam bentuk ice breaking. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa setelah belajar siswa mendapatkan pemahaman, mampu menggambarkan peran dan cita-cita mereka sehingga akan meningkatkan motivasi belajar siswa. Jadi motivasi dapat dirangsang oleh faktor dari luar, tetapi motivasi itu tumbuh di dalam diri seseorang. Lingkungan merupakan salah faktor dari luar yang dapat menumbuhkan motivasi dalam diri untuk belajar. Berdasarkan hasil observasi selama pelaksanaan kerja kuliah nyata pada minggu pertama di SDN karangjaya I, praktikan menemukan adanya siswa dan siswi di SDN karangjaya I yang memiliki motivasi belajar rendah, siswa kelas IV mengalami motivasi rendah dikarenakan mood atau suasana hati yang tidak baik, lingkungan, kurangnya pola pikir yang matang dalam menyiapkan proses dan tujuan pembelajaran. Dalam hal tersebut disebabkan oleh banyak faktor baik faktor internal maupun faktor eksternal. Praktikan merancang program psikoedukasi upaya meningkatkan motivasi belajar pada siswa, sehingga dapat disimpulkan bahwa adanya perubahan motivasi belajar setelah mendapatkan psikoedukasi upaya meningkatkan motivasi belajar pada sisw
PELEMBAGAAN POLITIK PDIP JATENG
TITLE :INSTITUZIONALIZING POLITICAL of CENTRAL JAVA
INDONESIAN DEMOCRATIC PARTY of STRUGGLE (PDI-P)
NAME :BUDI PRAYITNO
NIM :D4B 007013
ABSTRACT
Political parties are an important instrument for democracy. Party plays a very
strategic link between the processes of government by citizens. In fact, political parties
actually determines democracy. Finally, the party is a very important institution for the
enhanced degree of institutionalization in democracy.
Indonesian Democratic Party of Struggle (PDIP) is one political party which has a
long pursuit in the history of parties in Indonesia. But many vote said that the Indonesian
Democratic Party of Stuggle yet institutionalized. This assessment set out from the large
influence of the Chairman of the PDIP Megawati Sukarnoputri.
Relying on this condition, this study aims to determine the degree of political
institutionalization Indonesian Democratic Party of Struggle. In this study, the author
uses PDIP of Central Java which diverge in the region as an object of research.
In assessing the degree of political institutionalization PDIP Central Java, the
author uses five parameters, namely (1) Systemness (2) Value infusion (3) decisional
autonomy (4) reification (5) age of the organization.
This study using qualitative methods through interviews of political elites in
Central Java PDIP. This interview was conducted against the elites who are considered
competent to answer the question in this study. Meanwhile, to measure the degree of
public knowledge of Java PDIP, the author also conducted a sample survey with nonprobability
sampling methods. This survey conducted on 100 respondents spread over
seven districts / cities in Central Java that includes, Semarang, District Kendal, Demak,
Semarang District, Magelang District, Kudus, Purwodadi. Respondents used in this
research is people who are considered eligible to participate in the survey, those who
already have the right to vote in the election with a variety of professional backgrounds.
The results showed that the political institutionalization of Central Java
Indonesian Democratic Party of Struggle still in a low degree of institutionalization. This
conclusion is drawn from the assessment of research results in each parameter used. This
condition occurs due to the dominance of main political elite of Indonesian Democratic
Party of Struggle which always intervention in determining all political decisions in the
area. DPD PDIP Java as the representative of the local party acted only as an object of the
patient from the decision issued by the central elite of PDIP.
Keywords : intitutionalizing politics, PDI-P, degree of political intitutionalization
JUDUL : PELEMBAGAAN POLITIK PDIP JATENG
NAMA : BUDI PRAYITNO
NIM : D4B 007013
ABSTRAKSI
Partai politik adalah instrumen penting bagi demokrasi. Partai memainkan peran
penghubung yang sangat strategis antara proses-proses pemerintahan dengan warga
negara. Bahkan partai politiklah yang sebetulnya menentukan demokrasi. Sebagai pilar
demokrasi, partai merupakan lembaga yang sangat penting untuk diperkuat derajat
pelembagaannya.
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) merupakan salah satu partai
politik yang memiliki kiprah cukup lama dalam sejarah kepartaian di Indonesia. Meski
demikian, PDIP secara organisasi banyak dinilai belum terlembaga. Penilaian ini
berangkat dari besarnya pengaruh Ketua Umum PDIP yang saat ini dijabat oleh
Megawati Soekarnoputri.
Dengan berpijak pada hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
derajat pelembagaan politik PDIP. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan DPD
PDIP Jateng yang merupakan kepanjangan partai di daerah sebagai objek penelitian.
Dalam menaksir derajat pelembagaan politik PDIP Jateng, penulis menggunakan
lima parameter yakni (1) derajat kesisteman (2) derajat identitas nilai (3) derajat otonomi
(4) derajat pengetahuan atau citra publik (5) usia organisasi.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui metode wawancara
terhadap elite-elite politik PDIP Jateng. Wawancara ini dilakukan terhadap elite-elite
yang dianggap memiliki kompetensi untuk menjawab persoalan dalam penelitian ini.
Sementara untuk mengukur derajat pengetahuan publik terhadap PDIP Jateng, penulis
juga melakukan survey sampel dengan metode non probabilitas sampling. Survey ini
dilakukan terhadap 100 orang responden yang tersebar di tujuh wilayah kabupaten/kota
di Jateng yang meliputi Kota Semarang, Kabupaten Kendal, Demak, Kabupaten
Semarang, Kabupaten Magelang, Kudus, Purwodadi. Responden yang digunakan dalam
penelitian ini adalah masyarakat yang dianggap memenuhi syarat untuk turut serta dalam
survey, yakni mereka yang telah memiliki hak pilih dalam pemilu dengan beragam latar
belakang profesi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelembagaan politik PDIP Jateng masih
dalam derajat pelembagaan yang rendah. Kesimpulan ini diambil dari penaksiran
terhadap hasil penelitian pada setiap parameter yang digunakan. Kondisi ini terjadi akibat
dominannya porsi yang diambil DPP PDIP dalam menentukan segala keputusan politik di
daerah. DPD PDIP Jateng sebagai kepanjangan tangan partai di daerah hanya diperankan
sebagai objek penderita dari keputusan yang dikeluarkan oleh DPP PDIP.
Kata kunci : pelembagaan politik, PDI-P, derajat pelembagaan politi
Analisis Kekuatan Struktur Pada Ramp Door Setelah Penambahan Plat Dengan Metode Elemen Hingga
Ramp door is a ramp door construction that has an important role as access in and out of vehicles. The use of ramp doors with excessive loads will cause damage to the construction such as breaking and bending, so repairs need to be made to improve the strength of the ramp door structure. In carrying out this analysis, the author analyzed the ramp door that was broken. The ramp door was repaired by adding a layer of 15 mm thick plate with a length of 800 mm as a construction reinforcement. To ensure that the ramp door can work properly after repair, it is necessary to analyze to determine the allowable stress, safety factor in accordance with GL regulations and the comparison between the new and repaired ramp doors. The analysis process uses the Finite Element Method and FEM-based software. From the results of the analysis, the Total Deformation value on the repaired ramp door is 1.4469 mm and on the new ramp door is 1.3244 mm for the stress on the repaired ramp door is 102.42 Mpa and for the new ramp door is 52.299 Mpa and for the safety factor on the repaired ramp door is 2.4408 and for the repaired ramp door is 4.7802. The stress on the Sling Kupingan is 8.851 Mpa. From the addition of the plate, the barge experienced a decrease in draft of 310 mm
PENGARUH KOMPETENSI PROFESIONAL GURU SANGGAR TERHADAP EKSPRESI GAMBAR ANAK USIA DINI DI KOTA BANDUNG
Kompetensi profesional bagi guru sanggar gambar merupakan sesuatu yang harus dimiliki oleh setiap guru yang mengajar di sanggar gambar, namun setiap guru memiliki kompetensi profesional berbeda-beda. Mungkin ada pengaruhnya terhadap ekspresi gambar anak didiknya, mungkin saja ada tidak ada pengaruhnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengaruh kompetensi profesional guru sanggar terhadap ekspresi gambar anak usia dini yang ada di Kota Bandung. Penelitian ini didasari oleh penulis yang berkecimpung di bidang seni rupa anak, yang ingin mengetahui pengaruh kompetensi profesional guru sanggar terhadap ekspresi gambar anak dan mengaplikasikannya dalam pembelajaran menggambar di tingkat anak usia dini (usia 4 sampai 6 tahun). Selain itu penelitian ini diharapkan menjadi referensi untuk pendidik dan calon pendidik gambar anak untuk meningkatkan lagi kompetensinya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Dalam pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan analisis gambar anak. Berdasarkan hasil observasi dan analisis, bahwa kompetensi profesional merupakan salah satu kompetensi guru yang dapat berpengaruh terhadap ekspresi karya gambar anak usia dini (4-6 tahun). Guru sanggar gambar yang memiliki kompetensi profesional yang baik memiliki anak didik dengan ekspresi gambar yang baik lebih banyak. Sedangkan guru sanggar gambar yang memiliki tingkat kompetensi profesional di bawah kategori baik, memiliki anak didik dengan ekspresi gambar yang baik lebih sedikit.;---Professional competence for drawing teachers is something that should be owned by every drawing teacher, however, every teacher has a different professional competence. Perhaps, there are effects to the expression of the drawing result in each child, or may be just the opposite. This research is aimed to describe the influence of professional competence of drawing teacher to the expression of early childhood drawing result in Bandung. This research is based on the author, who is working in the field of children's art, who wanted to know the influence of professional competence of drawing teacher to the expression of the childrens drawing result and then to apply them in the learning process of drawing in the early childhood (4 to 6 years old) level. Moreover, this research is expected to be a reference for educators and the candidates of drawing teacher to improve their competence. This research uses descriptive method with qualitative approach. In the collection of data, the author uses observation, interviews, and analysis to the children drawing result. Based on the observations and analysis result, that professional competence is one of the teachers competency that can affect the expression of the early childhood drawing result (4 to 6 years old). Drawing teachers that have a good professional competence will have more number of students with a good image expression while the drawing teacher that have a lower levels of professional competence, will have fewer students with a good image expression
Tinjauan Etis-Teologis terhadap Tanggung Jawab Orang Tua dalam Mendidik Pemuda di GMIBM Zaitun Tambun
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tanggung jawab orang tua dalam mendidik pemuda di GMIBM Zaitun Tambun. Penulis menggunakan tinjauan etis-teologis dengan memanfaatkan pemikiran Reinhold Niebuhr tentang tanggung jawab. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Responden dalam penelitian ini adalah orang tua, pemuda yang pernah terlibat dalam konflik sosial dan pelayan khusus di GMIBM Zaitun Tambun. Berdasarkan hasil temuan di lapangan, menunjukkan bahwa orang tua di GMIBM Zaitun Tambun telah melakukan tanggung jawabnya dalam mendidik pemuda agar terhindar dari konflik sosial, namun lingkungan membawa pengaruh yang kuat bagi perilaku pemuda sehingga konflik sosial masih nampak terjadi. Adapun didikan tersebut lebih fokus kepada pencegahan dimana ketika pemuda sudah terlibat dalam konflik sosial, orang tua secara tidak langsung belum mengajarkan tentang bagaimana bertanggung jawab atas perbuatan yang telah dilakukannya sebagai konsekuensi. Berdasarkan pandangan Niebuhr, tanggung jawab moral berbicara tentang kekuatan atau kemampuan manusia untuk bertahan dalam menjalani kehidupan yang tidak sempurna ini dengan mengusahakan tindakan bijaksana, kasih dan keadilan. Dalam hal ini tindakan bijaksana, kasih dan keadilan dapat menjadi bagian dari wujud tanggung jawab etis orang tua dalam mendidik pemuda yang terlibat dalam konflik sosial.This research aims to describe the responsibilities of parents in educating youth at GMIBM Zaitun Tambun. The author uses an Ethical-theological analysis by utilizing Reinhold Niebuhr's thoughts on responsibility. This research used a qualitative method with a descriptive approach. Respondents in this research were parents and youth who had been involved in social conflicts and special services at GMIBM Zaitun Tambun. The results of the study indicate that while parents at GMIBM Zaitun Tambun have done their responsibility in educating youth to avoid social conflict, but the environment has significant impacts on youth behavior, therefore social conflict still seems to occur. This education focuses more on prevention, where when young people are involved in social conflicts, parents indirectly do not teach them how to be responsible for the actions they have committed as a consequence. Based on Niebuhr's view, moral responsibility speaks of human strength or ability to survive in living an imperfect life by pursuing actions of wisdom, love, and justice. In this case, actions of wisdom, love, and justice can be part of parents' ethical responsibility in educating young people involved in social conflict
UPAYA PENYELAMATAN DAN PENYELESAIAN KREDIT MACET PADA PT. BANK RAKYAT INDONESIA (Persero)Tbk UNIT SOEKARNO HATTA
The main activity of banking is providing credit. Credit disbursed to the community needs to have a security system that is implemented according to company standards because there are customers who do not perform well. Before the creditor provides a loan, an analysis needs to be carried out to assess the capabilities of the debtor. Another thing that needs to be considered is how banks will deal with problems if bad credit occurs. The formulation of the problem in this research is how banks take rescue and settlement action if a bad credit occurs, in this case especially at the BRI Bank Unit Soekarnoe Hatta Malang Branch.
The aim of the author in taking this research is to understand how to rescue and resolve bad credit at the BRI Bank Unit Soekarnoe Hatta Malang Branch. The research method used by the author is descriptive qualitative, namely the method used to explain and describe something based on the results of observations and interviews.
The results of the research that the author obtained while carrying out a 3 month street work period at the BRI Soekarno Hatta Malang Unit. The author found that the efforts made by BRI were in accordance with procedures in rescuing and resolving bad credit. The obstacles that occur are factors caused by the customer himself not having good faith or the debtor's business failing. The solution that can be done is that the banking sector must carry out proper analysis
Kajian Pendidikan Agama Kristen Keluarga Terhadap Pola Asuh Rohani Di Suku Boti
Pendidikan agama Kristen keluarga merupakan pendidikan yang menempatkan orang tua sebagai pendidik utama bagi anak-anak agar mereka dapat memahami agama Kristen dalam kehidupan mereka. Orang tua memiliki tugas untuk menjadi teladan dalam mengasuh anak-anaknya agar mereka hidup dalam nilai-nilai agama Kristen. Perkembangan agama Kristen yang sangat pesat membuat banyak anggota masyarakat, termasuk masyarakat suku Boti ikut memeluk agama Kristen. Suku Boti merupakan suku yang masih memegang teguh nilai-nilai lokal serta mempraktikan ritus-ritus adat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis seperti apa pola asuh rohani dalam keluarga Kristen di suku Boti menurut kajian Pendidikan Agama Kristen. Penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif untuk memperoleh informasi dan data dari narasumber. Hasil penelitian menunjukan bahwa pola asuh rohani orang tua Kristen di suku Boti lebih banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai yang terkandung dalam budaya lokal termasuk nilai-nilai yang tidak sesuai dengan ajaran agama Kristen. Hal ini terjadi karena orang tua Kristen di suku Boti hidup dalam penghayatan budaya dan kebiasaan turun temurun termasuk kebiasaan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang ada di dalam agama Kristen, contohnya praktek pengobatan, penghormatan terhadap alam dan ritual potong ayam. Namun, orang tua Kristen di suku Boti juga menyadari bahwa sebagai orang yang sudah Kristen, kebiasaan-kebiasaan tersebut perlu dipertimbangkan ulang, akan tetapi belum ada upaya selanjutnya dari para orang tua. Untuk itu, gereja sebagai pelaksana pendidikan agama Kristen perlu memperhatikan setiap anggota jemaat dan mendampingi serta menguatkan para orang tua dan anak-anak dalam upaya tersebut agar jemaat mengalami transformasi sebagai orang Kristen yang berada di suku Boti.Family Christian religious education places parents as the main educators for children so they can understand Christianity in their lives. Parents have a duty to be role models in raising their children so that they live according to the values of the Christian religion. The rapid development of Christianity made many members of society, including the Boti tribe, join Christianity. The Boti tribe is a tribe that still adheres to local values and practices traditional rites. This research aims to analyze what spiritual parenting patterns are like in Christian families in the Boti tribe, according to Christian Religious Education studies. The author uses a qualitative research method with a descriptive approach to obtain information and data from sources. The research results show that the spiritual upbringing of Christian parents in the Boti tribe is more influenced by the values contained in local culture, including values that are not in accordance with the teachings of the Christian religion. This happens because Christian parents in the Boti tribe live by observing the culture and habits passed down from generation to generation, including habits that are not in accordance with the values contained in the Christian religion, for example, medical practices, respect for nature, and chicken slaughter rituals. However, Christian parents in the Boti tribe also realize that, as people who are Christians, these habits need to be reconsidered, but there has been no further effort from the parents. For this reason, as the implementer of Christian religious education, the church needs to pay attention to every congregation member and accompany and strengthen parents and children in this effort so that the congregation experiences transformation as Christians in the Boti tribe
Biodegradation of BOD and ammonia-free using bacterial consortium in aerated fixed film bioreactor (AF2B)
Analisis Pedagogis Terhadap Aspek Afektif Kurikulum Pendidikan Agama Kristen Kelas XI SMA Kristen Kesetnana Kabupaten Timor Tengah Selatan
Kelompok usia SMA khususnya kelas XI adalah kelompok usia yang rentan pada runtuhnya nilai moral. Oleh sebab itu sebagai guru Pendidikan Agama Kristen, perlu ada peningkatan kompetensi pedagogis dalam perencanaan kurikulum yang dijalankan khususnya dalam mengembangkan aspek afektif nara didik. Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis secara pedagogis aspek afektif kurikulum Pendidikan Agama Kristen kelas XI SMA Kristen Kesetnana Kabupaten Timor Tengah Selatan. Penelitian ini menggunakan teori pendidikan humanis Abraham Maslow yakni hirarki kebutuhan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukan bahwa, penerapan kurikulum Pendidikan Agama Kristen pada ranah afektif-humanistik di SMA Kristen Kesetnana dilakukan baik. Hal ini terlihat dari guru Pendidikan Agama Kristen yang memberikan upaya dan motivasi akan makna belajar dalam kehidupan nara didik untuk memperoleh tujuan belajar. Penulis juga menemukan bahwa penerapan pembelajaran humanistik sudah terlihat, yaitu guru memiliki kesiapan dan kemantapan dalam merencanakan, melaksanakan, memonitoring dan mengevaluasi proses pembelajaran sesuai dengan perkembangan psikologis nara didik. Dampak yang dirasakan adalah nara didik merasa bahwa, terdapat perubahan sikap dan cara berpikir mereka dalam menyikapi suatu masalah baik itu ketika di rumah dan berada di sekolah. Hasil penelitian juga menggambarkan, pembelajaran afektif-humanistik tampak pada sikap hidup nara didik yang menampilkan dan menghidupi nilai-nilai Kristiani sesuai dengan ajaran Alkitab.The high school age group, especially class XI, is an age group that is vulnerable to the collapse of moral values. Therefore, as a Christian Religious Education teacher, there needs to be an increase in pedagogical competence in planning the curriculum that is carried out, especially in developing the affective aspects of students. This paper aims to describe and analyze pedagogically the affective aspects of the Christian Religious Education curriculum of grade XI of Kesetnana Christian High School, South Central Timor Regency. This research uses Abraham Maslow's humanist education theory, namely the hierarchy of needs. The research method used is qualitative with data collection techniques through in-depth interviews. The results showed that the implementation of the Christian Religious Education curriculum in the affective-humanistic domain at Kesetnana Christian High School was carried out well. This can be seen from Christian Religious Education teachers who provide efforts and motivation for the meaning of learning in the lives of students to obtain learning objectives. The author also finds that the application of humanistic learning has been seen, namely the teacher has readiness and stability in planning, implementing, monitoring and evaluating the learning process in accordance with the psychological development of learners. The impact felt is that the learners feel that there is a change in their attitude and way of thinking in addressing a problem both at home and at school. The results also illustrate that affective-humanistic learning can be seen in the life attitudes of learners who display and live Christian values in accordance with biblical teachings
Keberpihakan Terhadap Korban Kekerasan Seksual di Rumah Harapan GMIT; Kajian Etis-Pedagogis
Penelitian ini berfokus pada analisis masalah kekerasan seksual di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang ditangani oleh Rumah Harapan GMIT. Masalah kekerasan seksual yang terjadi akhirnya berdampak pada kehidupan korban kekerasan seksual, misalnya sikap penolakan terhadap keberadaan korban kekerasan seksual dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat. Penanganan yang dilakukan oleh Rumah Harapan GMIT memiliki pengaruh penting dalam kehidupan korban kekerasan seksual. Oleh karena itu, penulisan ini bertujuan untuk mendeksripsikan dan menganalisis tindakan keberpihakan terhadap korban kekerasan seksual di Rumah Harapan GMIT dengan menggunakan kajian etis-pedagogis. Dalam mencapai tujuan penelitian tersebut, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data mencakup observasi, wawancara serta literatur. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, ditemukan bahwa tindakan keberpihakan yang dilakukan Rumah Harapan GMIT terhadap korban kekerasan seksual merupakan sebuah bentuk tindakan etis yang mengandung nilai kasih, nilai kesetaraan, serta nilai solidaritas, untuk menciptakan keadilan bagi kehidupan masyarakat. Wujud nyata tindakan etis Rumah Harapan GMIT dalam keberpihakan terhadap korban kekerasan seksual adalah melalui pedagogi dalam bentuk upaya pencegahan maupun penanganan kasus kekerasan seksual dengan memanfaatkan bentuk-bentuk pelayanan yang ada di gereja, yaitu koinonia, liturgia, didache, kerygma serta diakonia. Upaya yang dilakukan bersama sebagai komunitas gereja, menjadi sebuah gerakan dalam mewujudnyatakan perubahan di tengah kehidupan masyarakat di Provinsi NTT yang bebas dari masalah kekerasan seksual.This research the problem of sexual violence in East Nusa Tenggara (NTT) Province handled by Rumah Harapan GMIT. The problem of sexual violence that occurs ultimately has an impact on the lives of victims of sexual violence, for example the rejection of the existence of victims of sexual violence in the family and community environment. The handling carried out by Rumah Harapan GMIT has an important influence on the lives of victims of sexual violence. Therefore, this paper aims to describe and analyze the act of partiality towards victims of sexual violence at Rumah Harapan GMIT using ethical-pedagogical studies. In achieving the research objectives, the author used a qualitative research method with a descriptive approach. Data collection techniques include observation, interviews and literature. Based on the research conducted, it was found that the act of partiality carried out by Rumah Harapan GMIT for victims of sexual violence is a form of ethical action that contains the value of love, equality, and solidarity, to create justice for people's lives. The real form of ethical action of Rumah Harapan GMIT in taking sides with victims of sexual violence is through pedagogy in the form of efforts to prevent and handle cases of sexual violence by utilizing existing forms of service in the church, namely koinonia, liturgia, didache, kerygma and diakonia. Efforts made together as a church community, become a movement in realizing changes in the lives of people in NTT Province that are free from the problem of sexual violence
