1,720,955 research outputs found
Makna tradisi ritual 14 Mulud : Studi Antropologi di Kampung Adat Dukuh, Cikelet, Garut
INDONESIA :
Salahsatu kearifan lokal di Indonesia adalah kampung adat, setiap kampung adat di Indonesia memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, salahsatunya Kampung Adat Dukuh. Kampung Adat Dukuh merupakan satu-satunya situs adat yang berada di wilayah Garut Selatan, seperti kampung adat lainnya Dukuh juga mempunyai situs yang dikeramatkan yaitu makam Syekh Abdul Jalil yang merupakan pendiri sekaligus tokoh penyebar agama Islam di kampung Dukuh. Ritual atas pendiri di Kampung Dukuh adalah tradisi ritual 14 mulud. Peneliti menemukan, ternyata ritual kampung ada tidak memiliki makna yang tunggal. Peneliti menemukan di Kampugn Adat Dukuh, bahwa makna ritual ternyata bergantung pada kelompok masyarakt tertentu.
Berdasarkan hal tersebut penelitian ini ditujukan untuk mengetahui makna dari tradisi ritual 14 mulud dianalis dengan teori Clliford Greezt mengenai agama dan kebudayaan. Dengan menggunakan pendekatan antropologi ini penulis berusaha menangkap fakta yang ada di lapangan terhadap makna tradisi ritual 14 mulud. Metode yang dipakai adalah deskriptif dengan menuangkan fenomena kebudayaan yang didapat dalam bentuk narasi, Jenis data dalam penelitian ini menggunakan kualitatif dengan dilengkap teknik pengambilan data melalui observasi dan wawancara.
Pada penelitian ditemukan makna dari tradisi ritual 14 mulud yaitu bentuk penghargaan terhadap roh para leluhur dan sebagai pencusian diri sekaligus hari lahir Kampung Adat Dukuh. Kampung Adat Dukuh bersifat institusional di bawah pimpinan juru kunci dan menjadi sebuah bangunan kolektif bagi masyarakat atas pemaknaan yang kemudian mengundang interpretasi makna yang berbeda-beda. Peneliti menemukan tiga kelompok yang memiliki makna yang berbeda dalam memaknai 14 Mulud, yakni: pertama, kelompok mistik. Kelompok mistik memakna 14 Mulud sebagai sebuah ritual yang memang membawa keberkahan mistis pada masyarakat yang mengikutinya, terkhusus bagi orang yang menggunakan air berkat tersebut. kedua, kelompok masyarakat luar. Masyrakat luar memaknai 14 Mulud tidak sebagai keberkatan mistik, akan tetapi sebagai ajang untuk memperoleh keuntungan material. Ketiga, kelompok islam puritan. Merupakan kelompok yang menganggap 14 Mulud bukan sebagai pendatang keberkahan, karena jika dimaknai demikian akan bisa mendatangkan kemusyrikan.
ENGLISH :
One of the local wisdoms in Indonesia is the traditional village, each traditional village in Indonesia has its own characteristics and uniqueness, one of which is the Dukuh Traditional Village. Dukuh Traditional Village is the only traditional site in the South Garut region, like other traditional villages Dukuh also has a sacred site, namely the grave of Sheikh Abdul Jalil who was the founder and propagator of Islam in Dukuh village. The ritual for the founder in Kampung Dukuh is a tradition of 14 mulud rituals. Researchers found that village rituals do not have a single meaning. Researchers found in the Dukuh Traditional Village, that the meaning of the ritual turned out to depend on certain community groups.
Based on this, this study aims to find out the ---meaning of the 14 mulud ritual traditions analyzed by Clifford Greezt's theory of religion and culture. By using this anthropological approach, the author tries to capture the facts in the field regarding the meaning of the 14 Mulud ritual traditions. The method used is descriptive by pouring out cultural phenomena obtained in the form of narrative. The type of data in this study uses qualitative data collection techniques complemented by observation and interviews.
The research found the meaning of the 14 mulud ritual traditions, which are a form of respect for the spirits of the ancestors and as self-purification as well as the birthday of the Dukuh Traditional Village. Kampung Adat Dukuh is institutional in nature under the leadership of a caretaker and becomes a collective building for the community for meaning which then invites different interpretations of meaning. Researchers found three groups that have different meanings in interpreting the 14 Mulud, namely: first, the mystical group. The mystic group interprets 14 Mulud as a ritual that indeed brings mystical blessings to the people who follow it, especially for those who use the blessed water. secondly, external community groups. The outside community interprets 14 Mulud not as a mystical blessing, but as a place to gain material benefits. Third, puritan Islamic groups. Is a group that considers 14 Mulud not as new arrivals of blessings, because if interpreted that way it could bring “musyrik”.
ARAB :
إحدى الحكمة المحلية في إندونيسيا هي القرية التقليدية ، فلكل قرية تقليدية في إندونيسيا خصائصها الخاصة وتفردها ، ومن بينها قرية دوكو التقليدية. قرية دكوه التقليدية هي الموقع التقليدي الوحيد في منطقة جنوب جاروت ، مثلها مثل القرى التقليدية الأخرى ، يوجد في دوكو أيضًا موقع مقدس ، وهو قبر الشيخ عبد الجليل الذي كان مؤسسًا وداعية للإسلام في قرية دكوه. سيش عبد الجليل احتل قرية دكوه التقليدية حيث توقف بعد أن تلقى الإلهام من المعلم ثم رش مياه زمزم وأرض مكة مما جعل قرية دكوه التقليدية قرية تقليدية مباركة. إحدى عادات قرية دوكو التقليدية هي طقوس المواليد الأربعة عشر. ١٤ مولود مخصص لذكرى قرية القرية التقليدية والتطهير الذاتي.
يهدف هذا البحث إلى معرفة معنى تقاليد طقوس المولود الأربعة عشر التي تم تحليلها بواسطة نظرية الدين والثقافة لكليفورد جريزت. باستخدام هذا النهج الأنثروبولوجي ، يحاول المؤلف التقاط الحقائق في المجال فيما يتعلق بمعنى تقاليد طقوس المولود الأربعة عشر. الطريقة المستخدمة هي طريقة وصفية من خلال صب الظواهر الثقافية التي تم الحصول عليها في شكل سرد ، ونوع البيانات في هذه الدراسة يستخدم تقنيات جمع البيانات النوعية تكملها الملاحظة والمقابلات.
ووجد البحث معنى ١٤ تقليدًا من طقوس المولود ، وهي شكل من أشكال احترام أرواح الأجداد وتطهير الذات وكذلك عيد ميلاد قرية دكوه التقليدية. قرية دكوه التقليدية
هي مؤسسية بطبيعتها تحت قيادة القائم بالأعمال وتصبح بناءًا جماعيًا للمجتمع من أجل المعنى الذي يدعو بعد ذلك إلى تفسيرات مختلفة للمعنى. الرموز الثلاثة الشهيرة لجيرتس: أبانجان وسانتري وبريايي لها وجهات نظر مختلفة حول معنى طقوس المولود الأربعة عشر. يفسرها بريياي على أنها صوفية دينية صوفية بطبيعتها ، يفسرها الأبانجان الذي يتكون من الغرباء على أنه مسائل دنيوية تتعلق بمشاكل الحياة بينما تميل السانتري إلى أن تكون أكثر إسلامًا متشددًا يفسر ١٤ مولود على أنه ثقافة وتقاليد وراثية.
كلمات مفتاحية: تقليد ، طقوس ، معنى ١٤ مولود
Motivasi keagamaan peziarah makam Syech Abdul Jalil: Studi deskriptif peziarah di Kampung Adat Dukuh, Ds. Ciroyom, Kec. Cikelet, Kab. Garut
Kampung Adat Dukuh adalah satu-satunya situs adat yang berada di wilayah Garut Selatan, seperti kampung adat lainnya Dukuh juga mempunyai situs yang dikeramatkan yaitu makam Syekh Abdul Jalil yang tidak lain adalah pendiri sekaligus tokoh penyebar agama Islam di kampung Dukuh. Ziarah merupakan sebuah kegiatan yang dilakukan oleh manusia ke tempat-tempat yang dianggap mempunyai kesucian dan menjadi tradisi saat dilakukan secara turun temurun dari generasi ke generasi lainnya.
Di zaman yang sudah maju ini ziarah masih tetap dilestarikan oleh sebagian manusia terutama ke makam tokoh yang semasa hidupnya mempunyai peranan penting dalam penyebaran agama Islam. Sebab itu akan beragam juga maksud dan tujuan yang di bawanya. Seperti contohnya studi peziarah yang datang ke Makam Syekh Abdul Jalil.
Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui motivasi apa yang dibawa oleh penziarah dengan menggunakan teori Zakiyah Drajat yaitu motivasi keagamaan serta dalam praktek keagamaannya digunakan teori Joachim Wach yang kemudian melahirkan hubungan yang erat antara agama dan magis dalam teori Malionowski dimana agama tanpa magis tidak akan sepenuhnya diterima oleh manusia sebagai zat yang mengandung ekstasi dan melalui pendekatan fenomenalogi.
Dengan pendekatan fenomenalogi ini penulis berusaha menangkap fakta nyata yang ada dilapangan terhadap keagamaan peziarah yang hadir karena dorongan pemenuhan kebutuhan. Metode yang dipakai adalah deskriptif dengan menuangkan fenomena yang didapat dalam bentuk narasi, Jenis data dalam penelitian ini menggunakan kualitatif dengan dilengkap teknik pengambilan data melalui observasi dan wawancara.
Dalam hasil penelitian ditemukan bahwa para peziarah makam Syekh Abdul Jalil memiliki beragam tujuan diantaranya mencari berkah serta ketenangan batin, tradisi turun temurun, bertawasul, bertabaruk, dimudahkan dalam setiap urusan, dan sebagai situs yang digemari untuk para peneliti juga. Di dalam berzirah manusia memiliki kesadaran yaitu kesadaran dalam beragama baik dari faktor dorongan keluarga, teman dan lingkungan sekitar. Dan yang paling inti adalah untuk mencapai tujuan yang diinginkannya
Kajian Antropologis atas Makna Tradisi Ritual 14 Mulud di Kampung Adat Dukuh, Cikelet, Garut
Kampung Adat Dukuh merupakan satu-satunya situs adat yang berada di wilayah Garut Selatan. Seperti kampung adat lainnya Dukuh juga mempunyai situs yang dikeramatkan yaitu makam Syekh Abdul Jalil yang merupakan pendiri sekaligus tokoh penyebar agama Islam di kampung Dukuh. Ritual atas pendiri di Kampung Dukuh adalah tradisi ritual 14 mulud. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan menuangkan fenomena kebudayaan yang didapat dalam bentuk narasi. Jenis data dalam penelitian ini menggunakan kualitatif dengan dilengkapi teknik pengambilan data melalui observasi dan wawancara. Penelitian ini menemukan makna dari tradisi ritual 14 mulud yaitu bentuk penghargaan terhadap roh para leluhur dan sebagai penyucian diri sekaligus hari lahir Kampung Adat Dukuh. Peneliti menemukan tiga kelompok yang memiliki makna yang berbeda dalam memaknai 14 Mulud, yakni: pertama, kelompok mistik. Kelompok mistik memakna 14 Mulud sebagai sebuah ritual yang memang membawa keberkahan mistis pada masyarakat yang mengikutinya, terkhusus bagi orang yang menggunakan air berkat tersebut. kedua, kelompok masyarakat luar. Masyrakat luar memaknai 14 Mulud tidak sebagai keberkatan mistik, akan tetapi sebagai ajang untuk memperoleh keuntungan material. Ketiga, kelompok Islam puritan. Merupakan kelompok yang menganggap 14 Mulud bukan sebagai pendatang keberkahan, karena jika dimaknai demikian akan bisa mendatangkan kemusyrikan
Penghayatan Nilai-Nilai Moral pada Upacara Seba dalam Meningkatkan Spiritualitas Masyarakat Adat Kabuyutan Ciburuy Kabupaten Garut
Realitas pelaksanaan upacara seba sebagai bentuk tradisi budaya yang dijalankan oleh masyarakat adat kabuyutan ciburuy memiliki pengaruh yang besar didalam kehidupan sebagai penyeimbang spiritual sehingga upacara seba masih dijalankan pada setiap generasi. Tujuan dilakukannya penelitian ini yaitu untuk mengetahui nilai-nilai moral yang terkandung didalam upacara seba pada masyarakat adat kabuyutan ciburuy dalam meningkatkan spiritual. Metode penelitian yang digunakan kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teori yang digunakan yaitu teori nilai moral. Data diperoleh melalui teknik pengumpulan datanya kepada para tokoh setempat, warga sekitar, pengunjung yang datang melalui proses wawancara dan observasi. Hasil penelitian didapatkan bahwa prosesi upacara Seba yang dilaksanakan di Situs Kabuyutan Ciburuy ada tiga tahapan yaitu persiapan upacara, puncak upacara, dan penutupan upacara. Nilai-nilai moral yang terdapat dalam upacara seba meningkatkan spiritual masyarakat adat karena makna didalamnya yang dipegang teguh dalam kehidupan bermasyarakat
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
