1,724,134 research outputs found
HUBUNGAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR) DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA USIA 24-59 BULAN DI PUSKESMAS MAMBORO
HUBUNGAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR) DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA USIA 24-59 BULAN DI PUSKESMAS MAMBORO
Nugrah Rendra Sentosa Kadir1, Rahma2, Sumarni3, dan Elli Yane Bangkele4
1Mahasiswa Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
2Departemen Anak, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
3Departemen Gizi Klinik, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
4Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
ABSTRAK
Pendahuluan: Stunting merupakan permasalahan gizi kronis yang berdampak pada pertumbuhan anak dan perkembangan kognitifnya. Salah satu faktor risiko utama yang berkontribusi terhadap kejadian stunting adalah Berat Badan Lahir Rendah (BBLR).
Tujuan: Untuk mengetahui Hubungan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Usia 24-59 Bulan.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari 83 balita yang mengalami stunting di wilayah kerja Puskesmas Mamboro, yang dipilih menggunakan metode total sampling. Data dikumpulkan melalui buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square.
Hasil: Dari 83 balita yang diteliti, sebanyak 31 balita (37,3%) memiliki riwayat BBLR. Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara BBLR dengan kejadian stunting (p-value < 0,001). Balita dengan BBLR memiliki risiko lebih tinggi mengalami stunting dibandingkan balita dengan berat badan lahir normal.
Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara BBLR dengan kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan di Puskesmas Mamboro. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam upaya pencegahan dan intervensi dini untu
Politik Populisme Rendra Kresna
Masalah kesejahteraan masyarakat menjadikan satu alasan Kabupaten Malang harus membuat kebijakan yang mampu menyejahterakan masyarakatnya. Terkait pengentasan kemiskinan, kesehatan, dan Pendidikan menjadi hal penting yang harus diseleseikan. Angka kemiskinan kabupaten Malang mencapai 11,7 % (2014). Merupakan angka yang masih tinggi hingga perlu program yang tepat untuk menyelesaikannya. Kabupaten Malang memiliki program diantaranya program renovasi rumah, pembangunan jamban sehat, kesehatan gratis, program bina desa, dan bina desa wisata. Penelitian ini akan membahas terkait berjalannya program Rendra tersebut dan menganilisis bagaimana bentuk populisme yang dijalankan oleh Rendra. Analisis bagaimana bentuk populisme Rendra dilihat melalui konsep populisme dan konsep kepemimpinan demokratis. Populisme merupakan sebuah paham yang mengakui hak-hak rakyat kecil. Bentuk populisme yang dilihat adalah populisme “wong cilik”, populisme otoriter, dan populisme revolusioner. Hasil penelitian ini bahwa program Rendra mengarah ke bentuk populisme “wong cilik” dan populisme revolusioner Namun, semua program tidak bisa murni dianggap sebagai kebijakan populis, karena Rendra melaksanakan program tersebut diawal kepimpinannya
Mempertimbangkan Tradisi Kumpulan Karangan
Jarang orang menyadari bahwa Rendra adalah juga seorang pemikir - pemikir kebudayaan. Biasanya, orang mengenalnya sebagai seorang aktor dan dramawan yang selalu kebanjiran penonton, serta sebagai seorang penyair dan pembaca puisi yang selalu dipadati pengunjung.Buku ini menghimpun karangan - karangan Rendra terpenting selama lima belas tahun terakhir ini ( 1967 - 1982 ) yang tersebar di pelbagai media dan tempat. Karangan - karangan itu antara lain berbicara mengenai tradisi, drama / teater, sastra, film, gerakan mahasiswa di Indonesia, dan tak ketinggalan tentang proses kreatif Rendra sebagai penyair serta konsep yang mendasari Bengkel Teater dan Teater Mini Kata-nya. Kesemuanya itu di tulis dengan sikap dan pendirian yang khas dan tegas. Para budayawan, peneliti kebudayaan, mereka yang berkecimpung di bidang seni, sastra, teater/drama, dan khalayak peminat kebudayaan pada umumnya, sudah sepatutnyalah memiliki buku ini. Dan mereka yang ingin memahami kesenimanan Rendra, wajib membaca buku ini. _ Buku ini adalah sumbangan yang amat berharga bagi dunia pemikiran kebudayaan di Indonesia
Kritik Rendra: Puisi dan Wacana Kritik Sosial
Buku ini membahas secara substansi, meliputi: 1) pengenalan secara ringkas definisi sosiologi sastra, sastra dan masyarakat, serta puisi dan wacana. Bagian ini menjelaskan dan menggambarkan landasan teori yang digunakan dalam penelitian sastra. 2) membahas tentang Rendra dan dunianya, meliputi perjalanan hidup Rendra, proses kreatif seorang Rendra, dan membahas pemikiran-pemikiran Rendra, seperti memberi makna pada hidup yang fana, mempertimbangkan tradisi, dan lainnya. 3) menganalisis puisi rendra yang terkumpul dalam buku puisi Potret Pembangunan dalam Puisi, yang kemudian ditarik kesimpulan tentang wacana apa yang Rendra tawarkan atau gambarkan dalam buku kumpulan puisi tersebut. Selain itu, bagian ini juga membahas bagaimana strategi Rendra dalam menyebarkan dan memapankan pengetahuan yang terdapat dalam puisinya. Bagian ini juga menjelaskan bagaimana Rendra memaknai Islam
Potret pembangunan dalam puisi
Kumpulan sajak-sajak Rendra yang diterbitkan ini, dalam keseluruhan karya tidaklah berdiri sendiri, dan bukan pula suatu perkembangan yang sama sekali baru. Dia merupakan jawaban pada lengkingan jerit kesakitan, teriakan minta tolong; kesaksian demi keselamatan kehidupan dan pemberontakan terhadap apa yang mengancam kepenuhan kehidupan itu demikian sebenarnya dapat ditandai nada dasar sajak-sajak dan drama karya Rendra, yang kini telah meliputi periode 25 tahun
Membaca Kehadiran Rendra Dan Mini Kata
Teater MK adalah teater baru, seni modernis sekaligus pelopor bagi kehadiran konvensi baru teater Indonesia. Teater realisme atau teater verbal menguasai bentuk pertunjukan teater sebelum hadirnya teater Mini Kata. Paro kedua abad ke-20 menjadi saksi di mana semangat baru Mini Kata mempengaruhi pertunjukan teater Indonesia yang kemudian menjadi ”wabah” di kalangan anak-anak muda. Teater kini mendapat sumbangan penting dari keduanya. Kekinian teater Indonesia adalah ungkapan estetis dua konvensi, yaitu dialektika teater realisme dan teater mini kata.
Kehadiran Rendra dan Mini Kata merupakan potret jiwa zamannya. Rendra identik dengan Mini Kata. Tidak ada Mini Kata tanpa kehadiran Rendra. Rendra dan Mini Kata menjadi satu kesatuan, seperti istilah Artaud, ’Teater dan Kembarannya’: ’Rendra dan Kembarannya’. Pada saat seseorang memaknai Rendra dipastikan Mini Kata akan dimaknai pula, demikian juga sebaliknya.
Rendra hadir di masa transisi, yaitu dari masa kemerdekaan ke masa pemerintahan Soekarno, dan dari masa Presiden Soekarno berlanjut ke masa pemerintahan Soeharto, bahkan masa pemerintahan kini. Teater Mini Kata mempertebal gagasan dan sikap Rendra menjadi tokoh transisi dan tokoh garda depan. Di satu sisi, ia adalah pemberontak, tetapi di satu sisi, ia adalah pembaru kesenian. Wujud pemberontakan dan pembaruannya adalah refleksi jiwa zamannya. Kehadiran Rendra, Teater Mini Kata, Bengkel Teater, Kaum Urakan serta penontonnya bersama mencipta peristiwa kesenian. Dengan kata lain, Rendra dan Mini Kata menghadirkan suatu ”gerakan” seni dan budaya. Di sini lah makna penting kehadiran keduanya. Rendra dan Mini Kata menjadi ikon kebudayaan. Nilai-nilai tradisi yang semula melekat dalam kesenian sebagai tuntunan, tatanan, dan tontonan, akhirnya menghadirkan nilai-nilai modern yang mendudukkan kesenian sebagai pembimbing masyarakat agar bersifat kritis, mandiri, dan mengenali hak-haknya.
Seniman teater diharapkan selalu mengasah kepekaannya terhadap tanda-tanda zaman. Kedisiplinan, kecerdasan, dan kesetiaan seniman pada nurani akan menjaga daya hidup berkesenian, sehingga kehadiran seniman diharapkan terus terjaga melalui sikap kontekstualnya seperti halnya Rendra yang tidak pernah berhenti ”menapakkan kakinya” di tengah masyarakat
Kritik Moral dalam Antologi Puisi Potret Pembangunan Karya W.S. Rendra
Poetry that is enough to provide moral criticisms, one of which is the stroke poems of W.S. Rendra\u27s pen. His poems were enough to give a scathing critique of his time and to the end of his life. W.S. Rendra in writing his poems dared to launch a considerable criticism of the risk. The purpose of this research is so that the resulting literary works do not deviate from things that endanger the existence of the author. The method used in this study is the qualitative method. Data analysis will be done using the analysis of the contents of the document (content analysis document) namely by recording the important content expressed in the document or archive, but also its implied meaning. That W.S. Rendra\u27s poems containing the value of moral criticism include poems titled poor people, nursery rhymes, spy rhymes, corn rhymes, rhymes of an old man under a tree, and rhymes of girls and masters
WS Rendra Dan Teater Mini Kata
Penulisan pada bab-bab terdahulu adalah untuk memaknai kehadiran
Rendra dan Mini Kata di dalam teater modern Indonesia di
Yogyakarta. Objek penulisan ini adalah Rendra dan Mini Kata.
Pertimbangan memilih objek penulisan Rendra, karena, pertama Rendra
adalah tokoh teater Indonesia yang banyak mendapat perhatian dari
masyarakat di sepanjang paro kedua abad ke-20. Tidak ada satu pun
seniman teater yang mendapat pemberitaan sebanyak Rendra. Kedua,
Rendra adalah tokoh pembaru pertunjukan teater di Indonesia. Pembaruan
yang dilakukannya tidak hanya berada di wilayah kesenian tetapi juga
pada pemikiran kebudayaan. Ketiga, Rendra adalah seniman yang selalu
mempertimbangkan akar tradisi budayanya di setiap karya teaternya.
Pertimbangan pemilihan objek penulisan Mini Kata, karena,
pertama Mini Kata adalah pertunjukan teatrikal yang berhasil ”menghentikan”
dominasi konvensi pertunjukan teater realisme saat itu. Kedua,
Mini Kata mendapat banyak tanggapan dari kalangan anak muda, seniman,
intelektual, politikus, dan budayawan, dibandingkan pertunjukan teater
Rendra lainnya. Ketiga, Mini Kata yang pada awalnya merupakan suatu
metode pelatihan akting berhasil memberi sumbangan penting bagi
perkembangan proses pelatihan teater. Keempat, teater Mini Kata yang
menjadi suatu bentuk pertunjukan artistik menyumbang kehadiran suatu
pemikiran keilmuan dan kebudayaan.
Membaca Rendra dan Mini Kata dilakukan dengan
menggunakan analisis tekstual pertunjukan Marco de Marinis. Analisis
tersebut mengungkapkan, pertama, pertemuan antardisiplin dalam
kajian teater Mini Kata dan memberi kontribusi bagi usaha membuka
batasan normatif tentang definisi pertunjukan teater Mini Kata dan
proses produksinya. Kedua, mendeskripsikan pertunjukan teater Mini
Kata sebagai teater baru dan merekonstruksi pertunjukan Mini Kata di
masa lalu. Di dalam proses rekonstruksi, analisis tekstual pertunjukan
menghadirkan kembali konteks pertunjukan ”yang hilang” dalam suatu
kerja praktis metodis, sedangkan dalam mendeskripsikan pertunjukan teater
baru, analisis tekstual pertunjukan membentuk suatu model analisis dan
langsung berfungsi mengembangkan sistem praktisnya. Ketiga, analisis
tekstual pertunjukan memaknai peristiwa sosial yang muncul sebagai
dampak kehadiran Mini Kata sebagai karya seni, atau sebaliknya. Kehadiran
karya seni mempengaruhi, baik langsung maupun tidak, sebuah gerakan
kebudayaan. Keempat, analisis tekstual pertunjukan digunakan dengan
mengaitkan antara analisis teatrikal pertunjukan Mini Kata dan resepsi
penonton. Dalam hal ini, resepi penonton terwakili melalui analisis dari sutradara dan penyutradaraannya, serta analisis dari pemeran dan pemeranannya.
Membaca Rendra dan Mini Kata melalui analisis tekstual
pertunjukan, dengan demikian, dilakukan dengan cara menganalisis dan
menginterpretasi jaringan konteks di sekitar Rendra dan Mini Kata. Analisis
tersebut dilakukan pada peristiwa kesenian maupun peristiwa nonkesenian.
Peristiwa-peristiwa tersebut merupakan elemen yang saling mengait dan
membentuk konstruksi sebuah objek kesenian. Objek yang dihasilkan dari
sebuah jaringan konteks merupakan sebuah teks. Teks Rendra dan Mini Kata
dibangun melalui elemen-elemen konteks yang saling mempengaruhi,
menyilang, dan membangun secara interteks. Jaringan konteks Rendra dan Mini Kata terjabarkan sebagai berikut.
Jaringan konteks pertama, Mini Kata adalah seni pertunjukan teater yang
diproduksi melalui pelatihan keaktoran dan langsung ditampilkan di
hadapan penonton. Pergeseran bentuk dan makna teater tradisi menjadi
teater modern dan pergeseran cara memproduksinya memberi jalan bagi
terbentuknya pertunjukan teater Indonesia sebagai seni pertunjukan
modernis. Pertunjukan teater modern berlangsung dari proses pelatihan
atau training, workshop, hingga pertunjukannya.
Jaringan konteks kedua adalah relasi intertekstual teater Indonesia
dengan teater Amerika. Teater Indonesia adalah bentuk teater yang
memiliki sifat tradisi sekaligus modern. Bentuk teater Indonesia dibangun
oleh kehendak menjadi satu, yaitu Indonesia. Teater di Amerika ingin
memerdekakan diri dari dominasi Eropa dengan menggali keragaman
dan perbedaan di setiap nilai budaya melalui semangat eksperimental
yang khas Amerika.
Jaringan konteks ketiga adalah biografi Rendra dan kehadiran
Bengkel Teater. Seniman adalah produser seni. Komitmen dan relasinya
dengan masyarakat menentukan produksi seni yang dihasilkannya.
Semenjak remaja, Rendra dikenal dekat dengan kehidupan seniman.
Ia juga bergaul dengan masyarakat biasa yang jauh dari tata krama
kaum priyayi dan intelektual. Kebiasaan tersebut menjadi daya dukung
bagi watak pemberontak dan kreativitas pembaruannya. Rendra terus
mempertimbangkan tradisi melalui karya-karyanya, dan ia melakukannya
di dalam kelompok yang didirikannya bersama teman-temannya, yaitu
Kumandang Cita (1952) di Solo, Artis Theatre (1956) di Yogyakarta,
Lingkaran Studi Drama Mahasiswa (1960) di Yogyakarta, Yayasan Teater
(1967) di Yogyakarta, dan Bengkel Teater (1968) di Yogyakarta. Secara
biografi s, Rendra menjadi role model bagi seniman teater yang ingin ”setia”
pada profesinya.
Jaringan konteks keempat adalah konteks produksi Bip Bop. Karya
seni merupakan produk masyarakat. Dalam hal ini produk bukanlah suatu
hasil, tetapi merupakan proses pembentukan karya seni yang melibatkan
berbagai elemen masyarakat. Jaringan tersebut mengungkapkan cara
menganalisis dan menginterpretasi kehadiran suatu bentuk konvensi
teater. Mini Kata dalam pengertian teatrikal adalah metode pelatihan
yang mementingkan spontanitas, improvisasi dan eksplorasi tubuh aktor
dalam rangka menyatukan antara tubuh, pikiran, dan batinnya. Teater
Mini Kata sebagai seni pertunjukan modernis tidak hanya muncul karena
adanya pergeseran nilai seni dan budaya dalam masyarakat, tetapi juga
pergeseran komitmen Rendra terhadap masyarakat dan pergeseran selera
estetis masyarakat.
Teater Mini Kata dianggap sebagai karya baru sekaligus pelopor
bagi kehadiran konvensi teater modern Indonesia di Yogyakarta. Paro
kedua abad ke-20 menjadi saksi di mana bentuk Mini Kata mempengaruhi
pertunjukan teater modern Indonesia dan diikuti oleh pertunjukan teater
yang dihadirkan oleh anak-anak muda. Teater Mini Kata adalah mini dalam
kata tetapi maksi dalam makna. Setiap ucapan yang sedikit dan gerak tubuh
yang kaya dicipta aktor memiliki makna yang berlapis-lapis. Mini Kata
menjadi suatu konvensi yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut, pertama
bersifat paralinguistik atau nonverbal; kedua, menggunakan metode
pelatihan alam; ketiga, berlangsung dengan sistem penciptaan improvisasi
dan spontan; keempat, menghasilkan teknik akting gerak indah; kelima,
menghadirkan aktor sebagai pusat penciptaan; dan keenam, berbentuk
teater eksperimental dengan kecenderungan cita rasa kekinian.
Rendra dibesarkan dalam tradisi Jawa dan suasana pergerakan
kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajahan. Eyangnya menginginkan
Rendra kecil sekolah di Kasatrian, sekolah anak kaum ningrat di Solo atau
Yogyakarta. Sebaliknya, ayahnya menginginkan Rendra sekolah di sekolah
Katolik yang modern dan Barat. Rendra memberontak dari keharusan
tradisi semacam itu. Melalui kehadiran Mini Kata, sikap pemberontakannya
muncul melalui suatu sikap yang dinamakannya urakan. Tradisi Jawa yang
penuh tata krama, kepatuhan dan sopan santun ditandingi oleh sikap
urakan yang menurut Rendra berguna untuk membongkar kebekuan tradisi
dan mewujudkan pribadi-pribadi yang unik dan mandiri.
Kehadiran Rendra dan Mini Kata merupakan potret jiwa zamannya.
Rendra identik dengan Mini Kata. Tidak ada Mini Kata tanpa kehadiran
Rendra. Meskipun nomor-nomor Mini Kata tidak hanya dicipta oleh Rendra
tetapi juga oleh kawan-kawannya di dalam kelompok Bengkel Teater, tetapi
Rendra dan Mini Kata menjadi satu kesatuan, seperti istilah Artaud, ’Teater
dan Kembarannya’, ’Rendra dan Kembarannya’. Rendra identik dengan Mini
Kata. Pada saat seseorang memaknai Rendra dipastikan Mini Kata dimaknai
pula, demikian juga sebaliknya.
Rendra hadir di masa transisi, yaitu dari masa kemerdekaan ke masa
pemerintahan Soekarno, dan dari masa Presiden Soekarno berlanjut ke
masa pemerintahan Soeharto, bahkan masa pemerintahan kini. Karyanya
Mini Kata mempertebal gagasan dan sikap Rendra menjadi tokoh transisi
dan tokoh garda depan. Di satu sisi, ia adalah pemberontak, tetapi di satu
sisi, ia adalah pembaru kesenian. Hasil pemberontakan dan pembaruannya
mewujud di dalam penyatuan seluruh elemen masyarakat. Meskipun
berbeda dalam pemikiran, elemen tersebut bergabung membentuk
kehadiran Rendra. Kehadiran Mini Kata, Bengkel Teater, Kaum Urakan,
dan karya-karya Rendra serta penontonnya bersama mencipta peristiwa
kesenian. Dengan kata lain, Rendra dan Mini Kata menghadirkan suatu
”gerakan” kebudayaan. Di sini lah makna penting kehadiran Rendra dan
Mini Kata. Rendra dan Mini Kata menjadi ikon kebudayaan bagi hadirnya
suatu gerakan kesenian dan keilmuan. Nilai-nilai tradisi yang semula
melekat dalam kesenian sebagai tuntunan, tatanan, dan tontonan,
akhirnya menghadirkan nilai-nilai modern yang mendudukkan kesenian
sebagai ”titian”, yaitu membimbing masyarakat bersifat kritis, mandiri, dan
mengenali hak-haknya.
Kehadiran Rendra dan Mini Kata di tahun 1968 memiliki makna
penting bagi teater modern Indonesia di Yogyakarta. Rendra memaknai
nilai-nilai tradisi dengan terus mempertimbangkan kegunaannya
bagi penonton sesuai dengan perkembangan zaman. Seniman teater
diharapkan selalu mengasah kepekaannya terhadap tanda-tanda zaman.
Kedisiplinan, kecerdasan, dan kesetiaan seniman pada nurani akan menjaga
daya hidup berkesenian, sehingga kehadiran seniman terus terjaga melalui
sikap kontekstualnya seperti halnya Rendra yang tidak pernah berhenti
”menapakkan kakinya” di tengah masyarakat.
Kota Yogyakarta dianggap memiliki predikat sebagai kota budaya.
Banyak seniman, pendidik, dan intelektual dilahirkan dari kota ini. Para
seniman, di antaranya Rendra, menghasilkan karya yang setara dengan
karya-karya seniman di mancanegara, sehingga kota Yogyakarta pun turut
dikenal bahkan disegani seiring dengan penghargaan yang diterima para
seniman tersebut.
Penulisan tentang kehadiran Rendra di Yogyakarta masih layak untuk
dilanjutkan. Konteks di sekitarnya masih banyak yang belum terungkap.
Diketahui bahwa Rendra dan kelompoknya, Bengkel Teater, mencipta
kreativitas seni yang baru tanpa meninggalkan nilai-nilai seni tradisi. Selain
itu, Rendra berhasil pula mencipta suatu gerakan kesenian dan kebudayaan
yang menampilkan potensi kota Yogyakarta. Untuk itu, perlu dirancang
suatu penulisan tentang karya-karya yang dihasilkannya setelah kehadiran
Mini Kata.
Penulisan tentang makna kehadiran Rendra dan Mini Kata menghasilkan
suatu realitas bahwa kesenian mampu menghadirkan suatu
kegiatan yang memiliki kualitas keilmuan. Seni dan ilmu pengetahuan
merupakan dua hal yang berbeda, tetapi keberadaannya saling mendukung.
Penulisan yang berhasil mendekatkan keduanya layak disosialisasikan, baik
di kalangan akademisi maupun di kalangan praktisi seni. Dengan cara ini,
praktisi seni diharapkan tidak kehilangan referensi bagi kreativitas mereka.
Para akademisi seni diharapkan melestarikan perspektif ilmu ke dalam seni,
sehingga seni tetap mampu menghadirkan kembali jejak-jejak kreativitas
penciptanya.
Bengkel Teater merupakan contoh pengelolaan komunitas yang
menampilkan citra loyalitas suatu kelompok teater. Penulisan tentang
makna dan kehadiran kelompok-kelompok teater di Yogyakarta kiranya
layak dilakukan. Apa yang dilakukan Rendra dan Bengkel Teater di
tahun 1968 menjadi referensi bagi seniman untuk meningkatkan dan
mengembangkan pengelolaan kreativitas seni. Kedisiplinan dan konsistensi
menjadi potensi seniman memperjuangkan profesi dalam berkarya.
Pembelajaran dalam berkesenian tidak hanya berdasarkan intuisi semata
tetapi juga peningkatan keilmuan. Berkarya seni harus diimbangi dengan
berolah ilmu. Daya hidup berkesenian harus terus dilestarikan. Hal tersebut
akan mendekatkan diri seorang seniman dengan identitasnya. Rendra
adalah model estetis bagi proses pencarian identitas seorang senima
ANALISIS STRUKTUR FISIK PUISI “KANGEN†KARYA W. S RENDRA
Literary work is the representative or outpouring of the heart of an author, can be poured in the form of oral and written. Poetry is the disclosure of ideas, ideas, or feelings of the heart using figurative language. Writing poetry is usually used to criticize or express an event. In poetry there is a physical structure and an inner structure. The author chose the poem by W. S Rendra entitled "Kangen" to be a research, it intends to know the physical structure of the poem. Both in terms of diction, Imaji, concrete words, figurative language, rhyme, and face. This research uses descriptive method, aims to make the description systematically, factually, and accurately about the physical structure of poetry. The physical structure of W.S Rendra's heartache is very different from the writing of poetry in general, W. S Rendra packs his poems freely with figurative words and diction choices that come out of the romantic path
- …
