46 research outputs found
Identifikasi Polen dari Madu dan Sarang Lebah Tanpa Sengat Asal Klaten (Jawa Tengah) dan Luwu Utara (Sulawesi Selatan)
Polen merupakan salah satu sumber nutrisi bagi lebah dengan demikian keanekaragaman polen penting diketahui sebagai informasi dasar untuk mendukung upaya konservasi berbagai jenis tumbuhan yang menjadi sumber polen bagi lebah. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi keanekaragaman tumbuhan yang menjadi sumber polen yang terdapat pada madu dan sarang lebah tanpa sengat asal Klaten, Jawa Tengah dan Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Metode yang dilakukan meliputi ekstraksi polen dari madu, asetolisis, dan identifikasi polen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tumbuhan yang menjadi sumber nutrisi untuk Heterotrigona itama di Klaten, Jawa Tengah terdiri atas 10 spesies yang termasuk ke dalam 10 famili tumbuhan dan hasil identifikasi sampel madu dan sarang asal Luwu Utara, Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa polen yang dikoleksi oleh Tetragonula aff. biroi, Wallacetrigona incisa, dan Lepidotrigona terminata masing – masing berasal dari 10 spesies (9 famili) tumbuhan, 15 spesies (12 famili) tumbuhan, dan 10 spesies (10 famili) tumbuhan. Polen yang diperoleh dari madu dan sarang lebah dominan berasal dari tumbuhan habitus pohon. Bentuk aperture polen yang dominan ditemukan adalah tricolporate dan tricolpate serta ornamen eksin polen adalah reticulate. Polen yang dikumpulkan H. itama dan T. aff. biroi berukuran polen kategori sedang, sedangkan polen yang dikumpulkan oleh W. incisa dan L. terminata berukuran polen kategori kecil
Anatomi Daun Beberapa Genotipe Pepaya (Carica papaya L.)
Tanaman pepaya bersifat polygamous, terdiri atas tanaman betina, jantan,
dan hermafrodit. Karakter anatomi daun tanaman pepaya koleksi Pusat Kajian
Hortikultura Tropika Institut Pertanian Bogor (PKHT-IPB) belum dipelajari. Oleh
karena itu, penelitian ini bertujuan mempelajari karakter anatomi daun tiga
genotipe pepaya koleksi PKHT-IPB. Bahan yang digunakan adalah daun tanaman
hermafrodit pepaya IPB 6, IPB 9, dan IPB 11. Daun diambil dari tiga tanaman
setiap genotipe pada urutan kelima dari pucuk. Daun pepaya dibuat sediaan
mikroskopis berupa sayatan paradermal dan transversal. Hasil pengamatan
sayatan paradermal daun menunjukkan pepaya IPB 6, IPB 9, dan IPB 11
mempunyai bentuk sel epidermis poligonal 4-8 sisi dengan dinding sel rata pada
sisi adaksial dan berlekuk dangkal pada sisi abaksial. Ketiga genotipe pepaya
memiliki stomata anomositik hanya pada sisi abaksial (hypostomatous). Stomata
pada pepaya IPB 11 memiliki ukuran besar dengan kerapatan rendah. Hasil
pengamatan sayatan transversal menunjukkan ketiga genotipe pepaya mempunyai
jaringan mesofil bertipe dorsiventral, yaitu jaringan palisade pada sisi adaksial
dan jaringan bunga karang pada sisi abaksial. Pepaya IPB 11 memiliki daun dan
jaringan mesofil yang cenderung lebih tebal dibandingkan dengan genotipe yang
lain
Struktur Sekretori Beberapa Tanaman Obat Antikanker
Cancer is disease caused by the growth of abnormal tissue cells. Indonesia has a lot of medicinal plants which is believed to have anticancer effects are used to treat cancer. Some anticancer plants commonly used are Physalis angulata, Kaempferia rotunda rhizomes, Gynura pseudochina, Typhonium flagelliforme, Isotoma longiflora, and Annona muricata. Anticancer medicinal plants containing secondary metabolites such as compounds of the alkaloid, flavonoids, and these terpenoids. Secretory structures in anticancer medicinal plants have not been widely studied. Thus, research on the structure of the anticancer medicinal plant secretory is necessary to be carried out. The objective of this research was to explore information about secretory structure from plant organ which is used to anticancer medicinal material. Observations of secretory structures were conducted by making microscopic preparations. The results showed that the leaves of A. muricata, I. longiflora, K. rotunda rhizomes, and T. flagelliforme had secretory structures in the form of idioblast cells. Idioblast cell of A. muricata leaves contained in the palisade, whereas the idioblast cells in the I. longiflora leaves contained in the sponges. The idioblast cells in T. flagelliforme were distributed in sponges and tuber parenchyme. The idioblast cells in K. rotunda rhizomes were distributed at the cortex and pith. The leaves and stems of P. angulata plants have secretory structures such as glandular trichomes consisting of head cells and stalk cells. The glandular trichomes were found on the epidermis. The leaves of G. pseudochina have secretory structures in the form of asteraceae type glandular trichomes in the epidermis of leaves and idioblast cells containing the oil cells in the sponges. All secretory structures were found randomly distributed
Anatomi Daun Beberapa Kultivar Nangka (Artocarpus heterophyllus Lam.) Koleksi Taman Buah Mekarsari Bogor
Taman Buah Mekarsari Bogor mengembangkan beberapa kultivar nangka
di antaranya kultivar Telanjang, Mini, Bubur, dan Dulang. Keempat kultivar
tersebut dibedakan berdasarkan keunikan buahnya. Keragaman kultivar nangka
sangat banyak namun studi mengenai anatomi daun kultivar nangka yang berbeda
belum pernah dilakukan. Penelitian ini bertujuan mempelajari karakter anatomi
daun beberapa kultivar nangka koleksi Taman Buah Mekarsari, Bogor. Sampel
diambil dari tiga pohon untuk tiap kultivar dengan tiga ulangan cabang untuk tiap
pohon. Sediaan sayatan paradermal dan transversal dibuat dari daun keempat dari
ujung cabang. Hasil pengamatan sayatan paradermal daun menunjukkan sel
epidermis berbentuk tidak beraturan dengan dinding sel antiklinal rata hingga
berlekuk dalam. Stomata hipostomatous bertipe anomositik. Ukuran panjang
stomata dan kerapatan stomata berbeda antar kultivarnya, namun ukuran lebar dan
indeks stomata cenderung sama. Terdapat dua jenis trikoma yakni trikoma nonkelenjar
dan trikoma kelenjar. Hasil sayatan transversal daun nangka
menunjukkan sel-sel epidermis dilapisi oleh kutikula. Tebal sel-sel epidermis sisi
adaksial lebih tebal dibandingkan dengan sisi abaksial. Daun nangka memiliki
mesofil tipe dorsiventral, trikoma kelenjar tipe kapitat dan peltat, dan berkas
pembuluh kolateral. Karakter tebal daun, tebal palisade, dan tebal bunga karang
cenderung sama antar kultivar nangka
Identifikasi Tumbuhan Penghasil Polen dari Madu dan Sarang Lebah Tanpa Sengat di Belitung, Provinsi Bangka Belitung
Polen merupakan hasil perkembangan mikrosporosit yang menghasilkan mikrospora haploid berkembang menjadi mikrogametofit yang menghasilkan gamet jantan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi tumbuhan penghasil polen dari madu dan sarang lebah tanpa sengat di Belitung, Provinsi Bangka Belitung. Metode yang dilakukan meliputi ekstraksi polen dari madu, asetolisis dan identifikasi polen. Hasil identifikasi polen dari madu dan sarang lebah tanpa sengat Heterotrigona itama dan Tetragonula laeviceps di Belitung ditemukan 30 spesies tumbuhan yang termasuk 24 famili. Polen dari tumbuhan Macaranga tanarius (23.72%) dan Murdannia nudiflora (23.64%) mendominasi pada madu lebah H. itama. Polen dari tumbuhan Elaeis guineensis (24.01%) paling banyak ditemukan pada sarang lebah H. itama. Polen dari tumbuhan Ageratum conyzoides (16.36%) dan Sphagneticola trilobata (19.73%) paling banyak dijumpai pada madu lebah T. laeviceps. Polen dari tumbuhan Mischocarpus sundaicus (19.20%) dan Mimosa pudica (21.70%) paling banyak ditemui pada sarang lebah T. laeviceps. Polen dari tumbuhan anggota famili Arecaceae paling banyak ditemukan pada madu dan sarang lebah H. itama dan T. laeviceps dengan jumlah tiga spesies tumbuhan. Polen dari tumbuhan dengan habitus pohon dominan ditemukan pada madu dan sarang lebah H. itama dan T. laeviceps dengan jumlah 19 spesies tumbuhan
Analisis Karakter Morfologi, Anatomi, dan Struktur Sekretori Tanaman Urang-Aring (Eclipta alba Linn. Hassk.).
Urang-aring (Eclipta alba Linn. Hassk.) merupakan tumbuhan liar yang tumbuh hampir di seluruh wilayah Indonesia. Urang-aring dikenal secara umum sebagai pewarna rambut alami. Selain itu, senyawa kimia yang terdapat dalam tumbuhan ini dijadikan sebagai ramuan herbal. Penelitian ini bertujuan mengetahui keanekaragaman morfologi urang-aring, mengetahui struktur anatomi dan struktur sekretori, serta mengetahui kandungan metabolit sekunder dengan uji histokimia. Karakter morfologi yang diamati meliputi karakter yang ada pada batang, daun, perbungaan, dan buah, sedangkan pengamatan anatomi dan struktur sekretori dilakukan dengan membuat sayatan paradermal dan transversal. Dari segi morfologi, sebanyak 51 tumbuhan berhasil dianalisis karakternya dan ditemukan variasi seperti ukuran diameter batang, warna kulit batang, ukuran daun, kerapatan trikoma non kelenjar batang dan daun, serta ukuran perbungaan. Analisis struktur anatomi daun menunjukkan dinding sel yang berlekuk dan memiliki tipe stomata anomositik. Hasil analisis anatomi batang dan akar menunjukkan adanya jaringan aerenkima pada bagian korteks. Struktur sekretori yang ditemukan pada daun berupa trikoma kelenjar yang terdiri atas satu sel kepala, dua sel tangkai, dan satu sel basal, sedangkan pada batang dan akar struktur sekretori berupa sel idioblas. Uji histokimia menunjukkan metabolit sekunder yang terakumulasi pada trikoma kelenjar berupa alkaloid, terpenoid, fenol, dan flavonoid, sedangkan pada sel idioblas yaitu fenol dan flavonoid
Efektivitas ekstrak daun mahkota dewa dan daun mengkudu sebagai moluskisida nabati terhadap daya hidup keong mas (pomacea canaliculata lamarck)
Penggunaan moluskisida nabati dalam penanggulangan keong mas merupakan salah satu upaya untuk menekan penyebaran hama keong mas. Daun mahkota dewa dan daun mengkudu diduga dapat menjadi moluskisida nabati bagi hama keong mas karena mengandung senyawa saponin. Penelitian ini bertujuan menguji efektivitas ekstrak daun mahkota dewa dan daun mengkudu sebagai moluskisida nabati terhadap daya hidup keong mas. Sampel keong mas berasal dari daerah pesawahan di desa babakan, bogor. Keong mas yang digunakan adalah keong mas besar dengan ukuran operkulum 11 – 20 mm dan keong mas kecil dengan ukuran operkulum 5 – 10 mm. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (ral) dengan analisis anova melalui program minitab 16 dan untuk menentukan lethal dosis (ld50) dianalisis dengan metode probit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun mahkota dewa dan daun mengkudu efektif menurunkan daya hidup keong mas hingga mencapai 0% pada konsentrasi 10 g/l pada waktu pemaparan 72 jam, sedangkan pada konsentrasi 25 g/l dapat menurunkan daya hidup keong mas hingga mencapai 0% pada waktu 48 jam dan 72 jam. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa ld50 terkecil terdapat pada daun mahkota dewa jam ke-72, yaitu 2.43 g/l. Efektivitas ekstrak daun mahkota dewa terhadap penurunan daya hidup keong mas lebih tinggi dibandingkan dengan ekstrak daun mengkudu
EVOLUSI, SPESIASI, DAN HIBRIDISASI PADA BEBERAPA ANGGOTA SAPINDACEAE
ABSTRACT-Evolution in Sapindaceae have been running for a long time, as evidenced
by the fossil of Sapindopsis encountered in the mid Cretaceous. Based on its characteris-
tics, the genus is thought to live in stressful environments. Sapindaceae has the habitus
of shrubs, trees, climbers, and the vine. Speciation in Sapindaceae can be found in genus
Acer, while members of Sapindaceae which had hybridization can be found in genus Aes-
culus.
Keyword: evolution, speciation, hybridization, Sapindacea
Deteksi Integritas Genomik Pisang Hasil Iradiasi In Vitro Berdasarkan Penanda Mikrosatelit
Induksi mutasi dan variasi somaklonal memegang peranan yang sangat penting dalam pemuliaan tanaman pisang yang perbanyakannya secara vegetatif. Sejauh ini informasi ilmiah untuk memahami perubahan genom mutan atau varian yang terjadi pada tanaman pisang umumnya masih sangat terbatas hanya pada tingkat sitogenetika. Penelitian ini bertujuan mendeteksi integritas genetik pisang hasil iradiasi in vitro berdasarkan penanda mikrosatelit. Tahapan metode penelitian antara lain (1) isolasi dan purifikasi DNA, (2) amplifikasi mikrosatelit dengan mesin PCR, (3) deteksi kualitas hasil PCR melalui electrophoresis 1% dan deteksi alel dengan polikrilamid 6%, dan (4) analisis stabilitas genomik pisang. Digunakan pisang Mas (AA) yang terdiri dari 8 aksesi hasil iradiasi menggunakan sinar gamma 15 Gy, satu aksesi varian in vitro yang telah dikonservasi selama 3 tahun (Va), satu aksesi in vitro yang baru dikultur 3 bulan (Vb), serta satu aksesi tanaman kontrol (K). Primer yang diuji berupa l0 (sepuluh) macam primer mikrosatelit spesifik Musa. DNA inti diisolasi dari setiap aksesi mengikuti Dixie (1998), diamplifikasi dengan Perkin Elmer Gene Ampl PCR system 2400, dengan primer terpilih, dan dielektroforesis dengan gel agarose 1% untuk mengetahui kualitas dan kuantitas hasil PCR. Hasil penelitian menunjukan terjadi dua tipe perubahan denomik, tipe perubahan pertama selalu berupa ukuran alel tanaman iradiasi yang lebih pendek dibandingkan dengan pita K, yang mungkin diakibatkan oleh delesi yang dapat terjadi pada satu atau kedua alel lokus tertentu, dan tipe perubahan kedua yang tidak merubah zigositas selalu berupa panjang ukuran alel yang lebih besar dibanding K, yang mungkin disebabkan oleh adanya insersi dan/atau amplifikasi nukleotida.Genomic Integrity Detection of In Vitro Irradiated Banana Using Microsatellite Marker. The research aims to detect genomic integrity of in vitro irradiated banana using microsatellite marker. These studies were done on banana cv. Pisang Mas irradiated by 15 Gy of gamma ray. The DNA was isolated from each accesion following Dixie. Amplification of DNA products were done by Perkin Elmer Gene Amp PCR 2400 using ten primers, and then electroforesis in agarose 1%. Finally a vertical polyacrylamide gel electroforesis was run and the products were visualized by silver staining. The result shown that among the primers tested, eight primers produced clear, discrete, and reproducible bands. Number of DNA band exhibited ranging from one to two, following the ploidy level of pisang Mas which is a diploid banana cultivar (AA). One band suggest homozygote allele while two bands showed heterozygote allele. Out of eight primers, six primers produced different allele among irradiated, in vitro, and in vivo control plant. Meanwhile, for the other two primers the allele were monomorph for all the accessions examined. Genomic modification was observed at all irradiated plants. The modification can happened at zygosity of certain allele that may change from heterozygote to homozygote or vice versa. While modification in allele size that underlying genomic instability could be caused by several genetic events such as deletion, insertion, and amplification of nucleotides
Makara Seri Sains Volume 14 No.2 November 2010 Hal 151-157
Penelitian ini bertujuan mendeteksi integritas genomik pisang hasil iradiasi in vitro berdasarkan penanda mikrosatelit. Kajian integritas genomik ini dilakukan pada pisang Mas yang telah diiradiasi dengan sinar gamma 15 Gy. DNA inti diisolasi dari setiap aksesi mengikuti metode Dixie, diamplifikasi dengan Perkin Elmer Gene Ampl PCR 2400 menggunakan sepuluh primer, kemudian dielektroforesis pada gel agarose 1%. Terakhir dilakukan elektroforesis pada gel poliakrilamid secara vertikal, dan pewarnaan silver untuk visualisasi alel yang muncul. Hasilnya menunjukkan bahwa diantara sepuluh primer yang dipakai, delapan diantaranya menghasilkan pita-pita yang jelas, konstan, dan dapat diulang. Jumlah pita bervariasi, dari satu sampai dua, mengikuti tingkatan ploidi pisang Mas berupa diploid AA. Jumlah satu pita menunjukkan alel homozigot, sedangkan jika jumlah pitanya dua, menunjukkan alel heterozigot. Diantara delapan primer yang menunjukkan hasil yang jelas tersebut, enam diantaranya menghasilkan pita-pita yang berbeda diantara tanaman hasil iradiasi, kultur in vitro, dan kontrol, sedangkan pada dua primer lainnya menunjukkan alel yang sama untuk semua aksesi yang diuji. Perubahan genomik terlihat pada semua tanaman hasil iradiasi yang nampak mempunyai pita yang berbeda jumlah dan ukurannya dibandingkan dengan tanaman kontrol. Perubahan dapat terjadi pada zigositas alel tertentu, misalnya dari heterozigot ke homozigot atau sebaliknya. Perubahan alel menunjukkan adanya ketidakstabilan genomik yang dapat timbul akibat berbagai peristiwa seperti delesi, insersi, dan amplifikasi nukleotida
