124,943 research outputs found

    Pengaruh Profitabilitas, Rasio Likuiditas, Rasio Aktivitas, Rasio Pasar, Dan Leverage Terhadap Harga Saham Perusahaan Manufaktur Kelompok Saham LQ45 Periode 2010-2015 / Ananda Mitra Putri N.

    No full text
    penelitian ini bertujuan meneliti apakah perusahaan dapat memiliki kesempatan investasi dan prospek pertumbuhan di masa yang akan datang dengan melihat rasio keuangan, seperti rasio profitabilitas (return on equity), rasio likuiditas (current ratio), rasio aktivitas (total assets turnover), rasio pasar (price earning ratio), dan leverage (debt to equity ratio). penelitian ini mengambil sampel sebanyak 7 perusahaan manufaktur kelompok saham LQ45 yang terdaftar di BEI periode 2010-2015. teknik analisis data menggunakan program Eviews 6.0. hasil penelitian secara parsial rasio profitabilitas (return on equity) berpengaruh positif tidak signifikan, rasio profitabilitas (earning per share) berpengaruh positif signifikan, rasio likuiditas (current ratio) berpengaruh negatif tidak signifikan, rasio aktivitas (total assets turnover) berpengaruh positif tidak signifikan, rasio pasar (price earning ratio) berpengaruh positif signifikan, dan leverage (debt to equity ratio) berpengaruh positif tidak signifikan, terhadap harga saham

    PENGARUH RASIO LIMBAH TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT DAN FESES SAPI TERHADAP KADAR C, KADAR N, DAN RASIO C/N PUPUK KOMPOS

    No full text
    Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode percobaan. P1:TKKS 60% : 40% feses sapi. P2 : TKKS 50% : 50% feses sapi. P3:TKKS 40%:60% feses sapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh rasio limbah tandan kosong kelapa sawit dan feses sapi terhadap kadar C, kadar N dan Rasio C/N pupuk kompos , serta untuk mendapatkan level terbaik RASIO pupuk kompos . Materi penelitian ini menggunakan tandan kosong kelapa sawit dan feses sapi diambil di kandang experimental Universitas Muhammadiyah Malang. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian TKKS tidak berpengaruh nyata (p>0,05) terhadap kadar C-organik yang ada di pupuk kompos feses sapi sedangkan nilai kadar N berpengaruh nyata (P<0.01). Dan nilai Rasio C/N berpengaruh nyata (P<0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah Rasio TKKS dan feses sapi dalam proses pembuatan kompos tidak berpengaruh terhadap kadar C-organik kompos. Nilai rata rata kadar C organik diperoleh 31.49 %. Rasio TKKS dan feses sapi dalam proses pembuatan kompos berpengaruh terhadap kadar Nitrogen kompos. Nilai terbaik pada rasio 50% TKKS dan 50 % fses sapi dengan kadar Nitrogen 2,2 % Rasio TKKS dan feses sapi dalam proses pembuatan kompos berpengaruh terhadap rasio C/N kompos. Nilai terbaik pada rasio 50% TKKS dan 50 % feses sapi dengan Rasio C/N 14,61. Kadar C-organik kompos adapun nilai rata rata 31,49%. Sedangkan rasio terbaik dari tkks dan feses sapi dalam proses pembuatan kompos terdapat pada kadar N dan Rasio C/N adapun nilai rata-rata kadar N 1,80% sedankan nilai rata-rat Rasio C/N 17,87. Nilai ini masih sesuai dengan SNI pupuk kompos(19-7030- 2004)

    Pengaruh Pemberian C/N Rasio Berbeda Terhadap Pembentukan Bioflok Dan Pertumbuhan Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus)

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan sistem bioflok dengan rasio C/N berbeda terhadap rasio konversi pakan, pertumbuhan dan kelangsungan hidup lele, menentukan jenis rasio C/N yang menghasilkan rasio konversi pakan dan pertumbuhan lele terbaik. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang diujikan adalah penambahan karbon molase dalam media bioflok dengan rasio A C/N 12 (molase), B C/N 18 (molase), C C/N 24(molase) dan D C/N 30 (molase). Benih lele dengan bobot rata-rata individu sebesar 5,98 ± 6,64 g. Lele dipelihara pada aquarium dengan volume 25 L selama 30 hari dan pemberian pakan 5% dari berat biomassa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh rasio C/N berbeda terhadap rasio konversi pakan dan pertumbuhan benih lele (Clarias sp.) namun tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap rasio konversi pakan (Clarias sp.) dalam media bioflok. Rasio C/N yang terbaik menghasilkan pertumbuhan dan rasio konversi pakan yaitu C/N 12. Laju pertumbuhan spesifik yang dicapai pada perlakuan A, B, D dan C berturut-turut adalah 4,40; 4,07; 4,04, dan 3,88%. Nilai FCR yang dicapai adalah 0,89; 0,92; 0,98 dan 1,02. Nilai kelangsungan hidup lele berkisar antara 45-90%. Penelitian ini membuktikan bahwa pengaruh rasio C/N berbeda dalam media bioflok dapat meningkatkan biomassa sel bakteri yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan tambahan bernutrisi. Penelitian ini membuktikan bahwa rasio C/N yang berbeda tidak memberikan pengaruh nyata (P>0,05) terhadap rasio konversi pakan dan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap pertumbuhan lele dalam media bioflok

    Pengaruh Perbedaan Rasio N Dan P Terhadap Struktur Komunitas Fitoplankton

    No full text
    Fitoplankton merupakan pakan alami yang mutlak dibutuhkan pada kegiatan budidaya, terutama pada tahap pembenihan. Hal ini karena ukuran fitoplankton yang sesuai dengan bukaan mulut ikan dan udang. Pertumbuhan fitoplankton pada kolam budidaya air tawar dipengaruhi oleh ketersediaan nutrien, yaitu nitrogen dan fosfor yang diserap dalam bentuk Nitrat dan Orthofosfat. Dalam mencukupi ketersediaan nutrien tersebut maka dilakukan pemupukan. Pupuk yang biasa digunakan dalam menumbuhkan fitoplankton berupa pupuk anorganik, yaitu urea dengan presentase nitrogen 45% dan Triple Superfosfat (TSP) dengan kandungan fosfor (P2O5) sebesar 46%. Pemberian pupuk pada kolam budidaya harus memperhatikan rasio antara nitrogen dan fosfor karena perbedaan rasio N/P akan mempengaruhi struktur komunitas fitoplankton yang tumbuh, sedangkan tidak semua jenis fitoplankton dapat dicerna oleh ikan. Ikan dan udang umumnya menyukai fitoplankton dari divisi Chlorophyta dan Chrysophyta. Oleh karena itu, dilakukan penelitian mengenai pengaruh perbedaan rasio N dan P terhadap struktur komunitas fitoplankton dengan tujuan untuk mendapatkan rasio N/P yang tepat sehingga didapatkan struktur komunitas fitoplankton yang menguntungkan dan dapat dicerna oleh ikan. Penelitian dilakukan pada bulan Mei-Juni 2017 selama 12 hari di luar ruangan Laboratorium Reproduksi Ikan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya. Penelitian menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Bujursangkar Latin yang terdiri atas 4 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan terdiri dari A (rasio N/P 4 : 1), B (rasio N/P 6 : 1), C (rasio N/P 10 : 1) dan D (rasio N/P 16 : 1). Penelitian menggunakan media tanah yang berasal dari UPT PTPB Kepanjen, Malang yang telah dikeringkan dan diayak. Air yang digunakan adalah air tawar dengan volume air setiap unit penelitian yaitu 5 liter. Bibit fitoplankton berasal dari kolam budidaya air tawar Sumber Mina Lestari, Dau, Malang dengan padat tebar awal 5000 sel/liter untuk setiap unit penelitian. Pengamatan suhu, pH dan oksigen terlarut diamati 2 kali dalam sehari, Nitrat, Orthofosfat dan karbondioksida bebas diukur pada hari ke-0, ke-6 dan ke-12 penelitian dan pengukuran kesadahan dilakukan sekali pada akhir penelitian. Pengamatan fitoplankton dilakukan 2 hari sekali dan dilakukan perhitungan meliputi kepadatan, kelimpahan relatif, indeks keanekaragaman dan indeks dominasi. Hasil penelitian didapatkan nilai kepadatan fitoplankton perlakuan A sebesar 67143 sel/liter, perlakuan B sebesar 59357 sel/liter , perlakuan C sebesar 50679 sel/liter dan pada perlakuan D sebesar 43429 sel/liter. Pada perlakuan A dan B ditemukan 3 divisi fitoplankton yaitu Chlorophyta, Chrysophyta dan Cyanophyta, dengan kelimpahan tertinggi terdapat pada divisi Chrysophyta. Pada perlakuan C dan D ditemukan 2 divisi fitoplankton yaitu Chlorophyta dan Chrysophyta. Kelimpahan Chrysophyta perlakuan C lebih banyak dibandingkan dengan Chlorophyta, sedangkan pada perlakuan D diperoleh kelimpahan Chlorophyta lebih banyak dibandingkan Chrysophyta. Hasil uji ANOVA menunjukkan Fhitung lebih besar dari Ftabel pada taraf 5% dan 1%, sehingga terdapat pengaruh pemberian pupuk dengan rasio N/P terhadap kepadatan dan struktur komunitas fitoplankton. Hasil uji beda nyata terkecil (LSD) setiap perlakuan menunjukkan notasi yang berbeda pada setiap perlakuan sehingga terdapat perbedaan ix pengaruh pada masing-masing perlakuan. Adapun kondisi kualitas air selama penelitian yaitu suhu berkisar antara 25,8 – 27,4⁰C. Nilai pH berkisar antara 6,5 – 6,93. Kadar oksigen terlarut berkisar antara 4,04 – 4,43 ppm. Kadar karbondioksida bebas berkisar antara 3,99 – 7,99 ppm. Kadar Nitrat berkisar antara 0,428 – 2 ppm dan Orthofosfat berkisar antara 0,026 - 0,5 ppm. Adapun nilai kesadahan total berkisar antara 90 – 160 ppm dengan nilai Ca2+ sebesar 35 – 60 ppm. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa rasio N/P terbaik adalah perlakuan D dengan rasio N/P 16 : 1 karena fitoplankton yang banyak tumbuh berasal dari divisi Chlorophyta yang menguntungkan dan dapat dicerna oleh ikan, serta tidak ditemukan fitoplankton dari divisi Cyanophyta. Selanjutnya, dapat dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh perbedaan jenis tanah dan rasio C : N : P : Si/Ca terhadap struktur komunitas fitoplankton

    Pengaruh Kombinasi Rasio N Dan K Terhadap Pertumbuhan Tanaman Jeruk Siam (Citrus nobilis) pada Fase Vegetatif

    No full text
    Unsur hara yang sangat dibutuhkan tanaman jeruk adalah unsur hara N, P, dan K, karena unsur hara N, P, dan K termasuk unsur hara makro yang sangat penting untuk pertumbuhan tanaman jeruk. Namun ketersediaan yang terbatas dalam tanah menjadikan unsur N, P, dan K seringkali menjadi faktor pembatas yang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Luis, 1995), sehingga tambahan unsur hara tergantung pupuk buatan. Tujuan percobaan adalah untuk mengetahui serapan rasio N dan K pada daun dan interaksi antara rasio N dan K pada pertumbuhan tanaman jeruk. Percobaan dilaksanakan di Kebun Percobaan Punten milik Balai Percobaan Tanaman Jeruk dan Buah Subtropis (BALITJESTRO) di Desa Punten. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok yang disusun secara faktorial. Faktor yang digunakan adalah perbedaan rasio setiap kombinasi dari Nitrogen (N) dan Kalium (K), yaitu dengan 12 kali kombinasi perlakuan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa perlakuan nitrogen rasio 10% dan kalium rasio 7,5% terjadi interaksi pada parameter jumlah cabang, perlakuan nitrogen rasio 10% dan kalium rasio 10% berat kering total tanaman, dan perlakuan nitrogen rasio 20% dan kalium rasio 7,5% terjadi interaksi pada parameter luas daun. Hasil percobaan menunjukkan bahwa perlakuan rasio nitrogen dan kalium yang rendah, yaitu nitrogen 10% dan kalium 7,5% dapat memberikan pengaruh pada pertumbuhan jumlah cabang, berat kering total tanaman, dan luas daun pada tanaman jeruk siam

    Pengaruh Rasio C/N yang Berbeda Terhadap Produksi Spora dan Efisiensi Sporulasi Bakteri Bacillus sp,

    No full text
    Bacillus merupakan jenis bakteri gram positif yang biasa digunakan sebagai probiotik dibidang akuakultur karena memiliki sifat yang tidak menghasilkan toksin dan tahan terhadap suhu tinggi. Penggunaan probiotik menggunakan sel vegetatif memiliki daya simpan relatif pendek karena sel bakterinya mengalami kematian selama penyimpanan. Pada kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan bakteri jenis Bacillus ini biasa menghasilkan spora yang tahan dalam penyimpanan. Penggunaan spora sebagai probiotik memiliki keunggulan penyimpanan dan waktu inokulasi yang lebih tinggi dibandingkan sel vegetatif. Pembentukan spora Bacillus dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah konsentrasi rasio C/N sebagai nutrisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh rasio C/N yang berbeda terhadap produksi spora dan efisiensi sporulasi Bacillus sp. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Budidaya Ikan Divisi Parasit dan Kesehatan Ikan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan dan pengujian rasio C/N dilakukan di Laboratorium Kimia Tanah Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Malang pada bulan Febuari-April 2018. Metode penelitian yang digunakan yaitu eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah: Rasio C/N 5, Rasio C/N 8, Rasio C/N 11 dan kontrol Nutrient broth dengan rasio C/N 12. Parameter yang diamati selama penelitian yaitu kepadatan sel vegetatif, kepadatan spora tidak lengkap spora lengkap, efisiensi sporulasi dan perkecambahan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa rasio C/N yang berbeda mempengaruhi kepadatan sel vegetatif, produksi spora tidak lengkap, produksi spora lengkap dan efisiensi sporulasi. Perlakuan rasio C/N 11 menunjukkan perlakuan dengan kepadatan sel vegetatif tertinggi sebesar 10,9 x 107 sel/ml, produksi spora lengkap tertinggi sebesar 5,13 x 107 spora/ml dan efisiensi sporulasi tertinggi sebesar 47,06%. Didapatkan efisiensi sporulasi tertinggi pada rasio C/N 11 pada jam ke 80, hal ini dikarenakan efisiensi sporulasi memiliki hubungan yang berbanding lurus dengan produksi spora. Berdasarkan penelitian ini, disarankan untuk mendapatkan produksi spora dan efisiensi sporulasi yang tinggi menggunakan rasio C/N 11. Namun tidak menutup kemungkinan untuk melakukan penelitian lebih lanjut dengan rasio C/N yang lebih besar untuk medapatkan produksi spora dan efisiensi sporulasi Bacillus sp. yang lebih optimal

    Predictive value of valgus head-shaft angle in identifying neer 4-part proximal humerus fractures. A radiographic and CT-scan analysis of 120 cases

    No full text
    Background and aim of the work: Understanding the fracture morphology and its relation to the expected outcome and risk of complications is fundamental for proximal humerus fractures (PHFs) management. Most Neer 3-and 4-part fractures may deserve surgical treatment. Unfortunately, plain x-rays may not be able to differentiate between a 3-or 4-part fractures unless an axillary or analogue projection is carried out. Aim of the present study is to evaluate whether a high valgus head-shaft angle degree is predictive of a Neer 4-part rather than a 3-part fracture. Methods: The study included 120 3-(75 cases) and 4-(45 cases) part PHFs (valgus displaced in 98 cases), M:F ratio = 1:2.6, mean age 65.7 years, classified on CT scan images. The humeral head shaft angle was calculated on AP x-rays and statistically correlated with 3 and 4-part fractures to identify values predictive of 4-part fracture. Results: Valgus head/shaft angle was significantly higher in 4-part fractures, especially in the valgus displaced group (p < 0.001). A cutoff value of 168.5° was identified as predictive of a 4-part fracture with a sensibility of 74% and specificity of 78%. Increasing by 1 degree the humeral head-shaft angle, the chance to have a 4-part fracture increases of 3% in the whole population and of 11% in the valgus sub-group. Conclusion: The severity of PHF can be predicted analysing valgus head shaft angle on AP x-rays with a sensibility of 74% and specificity of 78% in identifying a 4-part fracture with a cutoff value of 168.5°

    Kajian C/N Rasio Serbuk Kayu Sengon (Albasia falcata) Terhadap Hasil Jamur Tiram Putih (Pleurotus florida)

    No full text
    Jamur tiram putih ialah jamur kayu, karena jamur tersebut ditemukan banyak tumbuh pada media kayu yang sudah lapuk (Cahyana, Muchrodji dan Bakrun, 1999). Secara alami, jamur tiram putih banyak ditemukan pada batang kayu lunak, misalnya pohon kapuk, sengon, dan karet. Jamur tiram putih seringkali hanya tumbuh pada musim hujan. Pengomposan pada serbuk kayu sebagai media tanam jamur tiram putih yang kurang lama dengan C/N rasio yang masih tinggi dapat menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan jamur tiram putih terhambat serta hasil produksi yang rendah. Hal ini menyebabkan jamur tiram putih belum mampu untuk menyerap nutrisi yang terdapat pada media buatan tersebut. Tujuan penelitian untuk mendapatkan C/N rasio yang optimal bagi hasil produksi jamur tiram putih pada media serbuk kayu. Hipotesis yang diajukan yaitu Nilai C/N rasio kompos 25 pada serbuk kayu dapat meningkatkan hasil jamur tiram putih. Penelitian dilaksanakan di rumah jamur milik CV PRIMA INVESTAMA yang terletak di Dusun Sonotengah, Desa Kebunagung Kecamatan Pakisaji Malang yang mempunyai ketinggian tempat ± 450 m dpl dengan suhu antara 24 0C -30 0C. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni sampai dengan November 2009. Alat-alat yang digunakan adalah penggaris, kamera digital, timbangan, plastik Polipropilen, kertas koran, cincin, alkohol, steamer, Choper, sekop dan cangkul. Bahan-bahan yang digunakan serbuk kayu sengon, dedak, air, dan kapur tohor. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang tediri dari 5 perlakuan dengan 5 kali ulangan dan masing-masing ulangan terdapat 9 baglog yaitu dengan perlakuan (R0) C/N rasio 40,55 (R1) C/N rasio 35,80 (R2) C/N rasio 30,36 (R3) C/N rasio 25,40 (R4) C/N rasio 20,31 sehingga jumlah baglog seluruhnya 225 baglog. Pada perlakuan C/N rasio 40,55 lama pengomposan 7 hari, C/N rasio 35,80 lama pengomposan 12 hari, C/N rasio 30,36 lama pengomposan 19 hari, C/N rasio 25,40 lama pengomposan 27 hari dan C/N rasio 20,31 lama pengomposan 35 hari. Selama pengomposan, setiap 1 minggu sekali serbuk kayu diaduk/dibalik posisinya. Pengamatan dilakukan pada saat pertama kali munculnya pinhead setelah inokulasi dan pada saat setiap kali panen. Baglog yang diamati mencakup keseluruhan baglog yang ada, yaitu sebanyak 225 baglog. Pengamatan yang dilakukan meliputi : saat muncul badan buah (pinhead) pertama (HSI), diameter badan buah (cm), frekuensi panen, total bobot segar badan buah (gram), dan jumlah badan buah. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji F hitung pada taraf 5 % untuk mengetahui adanya pengaruh antar perlakuan dan apabila berbeda nyata, dilanjutkan dengan uji BNT 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan nilai C/N rasio terhadap serbuk kayu sengon memberikan hasil yang berbeda nyata terhadap semua parameter pengamatan, kecuali pada parameter diameter badan buah. Perlakuan dengan nilai C/N rasio 20,31 memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan perlakuan yang lain, seperti pada parameter saat munculnya pinhead yaitu 34,84 hsi, total bobot segar badan buah yaitu 421,40 g serta frekuensi panen yaitu 3,98 kali. Sedangkan perlakuan C/N rasio 40,55 memiliki hasil yang paling rendah dibandingkan dengan perlakuan lainnya terhadap parameter saat muncul pinhead yaitu 50,00 hsi, total bobot segar badan buah 243,38 gram serta frekuensi panen 2,14 kali, tetapi mempunyai jumlah badan buah yang terbanyak yaitu 10,70 Pada parameter diameter badan buah, semua perlakuan memiliki rata-rata diameter badan buah jamur yang sama

    Pengaruh Pengaplikasian Bioflok Dengan C/N Rasio Yang Berbeda Terhadap Kelulushidupan Dan Pertumbuhan Udang Putih (Penaeus Merguiensis)

    No full text
    Udang putih (P. merguiensis) merupakan salah satu komoditas sektor perikanan yang mempunyai nilai ekonomis sangat tinggi. Kegiatan budidaya udang putih menghasilkan limbah yang berpotensi merusak lingkungan dengan kandungan unsur hara yang tinggi. Bioflok merupakan salah satu teknologi yang mampu mengatasi permasalahan limbah akuakultur. Sehingga diperlukan penerapan C/N rasio yang optimal untuk pertumbuhan bioflok guna meningkatkan kualitas air dan mengurangi beban cemaran limbah budidaya udang ke perairan sekitarnya. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh penerapan bioflok dengan C/N rasio yang berbeda terhadap kelulushidupan dan pertumbuhan udang putih (P. merguiensis). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen dengan model perlakuan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan menggunakan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang digunakan meliputi kontrol, C/N rasio 10, C/N rasio 15 dan C/N rasio 20. Hasil yang didapatkan dalam penelitian ini yaitu perbedaan C/N rasio memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan bioflok meliputi volume flok dan biomassa flok. Survival rate (SR), specific growth rate (SGR), feed convertion ratio (FCR), diameter flok, retensi protein dan retensi energi perbedaan C/N rasio tidak menunjukkan adanya perbedaan. Hal ini dikarenakan sumber karbon yang digunakan berasal dari satu jenis yaitu molase. Hasil pengukuran kualitas air menunjukkan suhu, pH, DO, salinitas, nitrit, nitrat dan amonia pada kisaran optimum. Pada keseluruhan unit perlakuan C/N rasio terhadap pertumbuhan bioflok, perlakuan C/N rasio 10 memberikan hasil terbaik, diikuti oleh C/N rasio 15 serta C/N rasio 20 selama pemeliharaan benih udang putih (P. merguiensis

    Pengaruh Rasio Efektivitas, Rasio Kontribusi, dan Rasio Pertumbuhan Penerimaan Negara Bukan Pajak Terhadap Pendapatan Negara Dengan Belanja Modal Sebagai Variabel Moderating Pada Kementerian/Lembaga di Indonesia

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh rasio efektivitas, rasio kontribusi, dan rasio pertumbuhan penerimaan negara bukan pajak terhadap pendapatan negara dengan belanja modal sebagai variabel moderate. Pendapatan negara diukur dengan menggunakan jumlah pendapatan negara yang diperoleh. Populasi dalam penelitian ini adalah Kementerian/Lembaga di Indonesia Tahun 2015. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode puposive sampling dan jumlah sampel yang memenuhi kriteria sebanyak 84 sampel. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang diperoleh dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Pengujian hipotesis penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda. Hasil uji dari regresi berganda menunjukkan bahwa rasio efektivitas dan rasio pertumbuhan penerimaan negara bukan pajak tidak berpengaruh terhadap pendapatan negara. Rasio kontribusi penerimaan negara bukan pajak berpengaruh positif terhadap pendapatan negara. Belanja modal tidak memoderasi hubungan rasio efektivitas dan rasio pertumbuhan penerimaan negara bukan pajak terhadap pendapatan negara. Sebaliknya belanja modal memoderasi hubungan rasio kontribusi penerimaan negara bukan pajak terhadap pendapatan negar
    corecore