Jurnal Perikanan Kelautan
Not a member yet
244 research outputs found
Sort by
Analisis Keterkaitan Parameter Oseanografi Terhadap Upaya Penangkapan Ikan Tenggiri (Scomberomorus comerson) yang Didaratkan Di PPN Kejawanan Cirebon
Kegiatan perikanan tangkap adalah kegiatan ekonomi yang mencakup penangkapan atau pengumpulan hewan dan tanaman air yang hidup di laut atau perairan umum secara bebas. Salah satu daerah sentra perikanan tangkap adalah Cirebon. Produksi perikanan yang cukup tinggi di dominasi oleh perikanan tangkap di laut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan parameter oseanografi terhadap upaya penangkapan ikan. Penelitian ini dilakukan di perairan Cirebon dan Pelabuhan Perikanan Kejawanan dengan melihat hubungan suhu permukaan laut, klorofil-a dan Catch Per Unit Effort (CPUE). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa perairan Laut Jawa memiliki variabilitas. Nilai faktor oseanografi yaitu Suhu Permukaan Laut (SPL) dan Klorofil-a. Rata-rata nilai SPL pada bulan Agustus hingga Desember terus mengalami peningkatan. Nilai rata-rata konsentrasi klorofil-a tinggi pada bulan Agustus hingga Desember. Dengan demikian Ikan Tenggiri yang didaratkan di PPN Kejawana Cirebon mempunyai keunikan yaitu musim tangkapan yang dilakukan dalam 1 tahun yaitu 5 bulan, Agustus hingga Desember. Nilai hasil tangkapan ikan tenggiri tertinggi berada pada bulan Oktober yaitu sebesar 650 kg dan terendah terjadi pada bulan September yaitu 146 kg. nilai R square sebesar 0,926 yang menunjukan bahwa keeratan hubungan linear antara variabel (X) dan variabel (Y) yaitu sebesar 92,6%, sedangkan sisanya yaitu 7,4% dipengaruhi oleh variabel lain di luar variabel perhitungan
Efektifitas Pemberian Rotifera (Brachionus rotundiformis) Yang diperkaya dengan Taurin dan Glutamin Terhadap Kelangsungan Hidup dan Pertumbuhan Larva Ikan Kerapu Sunu (Plectropomus leopardus)
Ikan Kerapu merupakan salah satu Ikan laut yang berekonomis penting yang banyak ditangkap dan diekspor. Rendahnya kelangsungan hidup pada stadia larva menjadi penyebab pengembangan budidaya kerapu sunu masih mengalami kendala sehingga masih sulit pengadaan benih secara cukup dan berkelanjutan. Pemberian pakan alami pada stadia larva merupakan langkah yang penting dalam meningkatkan kelangsungan hidup larva. Jenis pakan alami yang sering digunakan dalam kegiatan pembenihan ikan laut yaitu rotifer (B. rotundiformis). Rotifer menjadi pakan pada stadia larva karena rotifer mempunyai ukuran yang kecil dan sesuai dengan bukaan mulut larva kerapu sunu. Namun pemberian rotifer masih belum cukup untuk meningkatkan kelangsungan hidup larva, sehingga perlu dilakukan pengayaan rotifer dengan asam amino. Asam amino yang diduga dapat mengkatkan kelangsungan hidup larva adalah Taurin dan Glutamin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian rotifer yang diperkaya dengan taurin dan glutamin dalam menunjang kelangsungan hidup larva kerapu sunu. Penelitian ini akan dilaksanakan di Balai Besar Riset Budidaya Laut dan Penyuluhan Perikanan di Gondol, Bali pada bulan september 2017. Metode yang digunakan terdiri dari 4 perlakuan dan 4 kali ulangan: (A) tanpa Taurin dan Glutamin; (B) 0,5 taurin per 10 L media pengkaya; (C) 0,5 Glutamin per 10 L media pengkaya; (D) 0,5 Taurin dan 0,5 Glutamin per 10 L media pengkaya. Pemeliharaan larva menggunakan bak berukuran 1000 L dan di pelihara selama 10 hari. Pemberian rotifer mulai dari D-2 sampai D-10. Parameter yang diamati adalah kelangsungan hidup, pertumbuhan, dan kualitas air
Struktur Komunitas Plankton Di Cekdam Kampus Universitas Padjadjaran
Penelitian ini dilaksanakan pada 23 November 2018 hingga 5 Februari 2019, pengambilan sampel plankton dan pengukuran parameter fisik kimiawi dilakukan secara insitu di Cekdam Unpad serta identifikasi plankton dilakukan secara exsitu di Laboratorium Manajemen Sumberdaya Perairan FPIK Unpad. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menetapkan struktur komunitas plankton di Cekdam Unpad. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode survey dengan analisis deskriptif kuantitatif. Sampling plankton dilakukan secara purposive sampling dengan 6 kali ulangan pada 4 stasiun yang telah ditentukan berdasarkan kondisi perairan yaitu stasiun 1 berada pada bagian inlet, stasiun 2 dan 4 berada pada bagian kanan dan kiri mewakili bagian tengah, serta stasiun 3 berada pada bagian outlet. Hasil penelitian ditemukan 23 genus plankton yang terbagi dalam 20 genus fitoplankton yang tergolong dalam 7 kelas dan 3 genus zooplankton yang tergolong dalam 2 kelas. Kelimpahan rata-rata terbesar fitoplankton yaitu Peridinium dari kelas Dinophyceae sebesar 223 ind/L, sedangkan zooplankton adalah Nauplius dari kelas Crustaceae sebesar 13 ind/L. Secara keseluruhan struktur komunitas plankton di Cekdam Unpad didominasi oleh 3 genus dari kelompok fitoplankton yaitu Peridinium, Chlorella, dan Navicula. Nilai rata-rata indeks dominansi Simpson fitoplankton berkisar antara 0,28 – 0,35, sedangkan untuk zooplankton berkisar antara 0,76 – 0,81. Nilai indeks keanekaragaman Simpson untuk fitoplankton berkisar antara 0,65 – 0,72, sedangkan unntuk zooplankton berkisar antara 0,10 – 0,24.Penelitian ini dilaksanakan pada 23 November 2018 hingga 5 Februari 2019, pengambilan sampel plankton dan pengukuran parameter fisik kimiawi dilakukan secara insitu di Cekdam Unpad serta identifikasi plankton dilakukan secara exsitu di Laboratorium Manajemen Sumberdaya Perairan FPIK Unpad. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menetapkan struktur komunitas plankton di Cekdam Unpad. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode survey dengan analisis deskriptif kuantitatif. Sampling plankton dilakukan secara purposive sampling dengan 6 kali ulangan pada 4 stasiun yang telah ditentukan berdasarkan kondisi perairan yaitu stasiun 1 berada pada bagian inlet, stasiun 2 dan 4 berada pada bagian kanan dan kiri mewakili bagian tengah, serta stasiun 3 berada pada bagian outlet. Hasil penelitian ditemukan 23 genus plankton yang terbagi dalam 20 genus fitoplankton yang tergolong dalam 7 kelas dan 3 genus zooplankton yang tergolong dalam 2 kelas. Kelimpahan rata-rata terbesar fitoplankton yaitu Peridinium dari kelas Dinophyceae sebesar 223 ind/L, sedangkan zooplankton adalah Nauplius dari kelas Crustaceae sebesar 13 ind/L. Secara keseluruhan struktur komunitas plankton di Cekdam Unpad didominasi oleh 3 genus dari kelompok fitoplankton yaitu Peridinium, Chlorella, dan Navicula. Nilai rata-rata indeks dominansi Simpson fitoplankton berkisar antara 0,28 – 0,35, sedangkan untuk zooplankton berkisar antara 0,76 – 0,81. Nilai indeks keanekaragaman Simpson untuk fitoplankton berkisar antara 0,65 – 0,72, sedangkan unntuk zooplankton berkisar antara 0,10 – 0,24
Kesesuaian Ukuran Kapal dengan Dokumen pada Kapal Jala Cumi (CAST NET) Di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Kejawanan Cirebon
Markdown merupakan terteranya gross tonnage (GT) kapal pada dokumen yang tidak sesuai dengan fisik kapal sesungguhnya.Markdown menimbulkan banyak kerugian baik dari pihak pemerintah maupun pemilik kapal sehingga Direktorat Jenderal Perhubungan Laut menerbitkan Peraturan Nomor UM.003/47/DJPL/15 tentang verifikasi atau pengukuran ulang untuk menanggulangi praktik markdown.Penelitian ini bertujuan untuk menghitung GT kapal berdasarkan Ldek serta membandingkan dengan dokumen awal pada kapal dan menghitung dan membandingkan GT kapal dengan rumus Direktorat Jenderal Perhubungan Laut dengan rumus Nomura dan Yamazaki.Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif.Analisis pengukuran GT kapal pada penelitian ini untuk mendapatkan hasil GT dari 2 metode pengukuran dengan menggunakan rumus Nomura dan Yamazaki serta rumus Direktorat Jenderal Perhubungan Laut. Hasil penelitian menunjukan dari 12 kapal jala cumi (cast net) yang telah diukur ulang pada saat penelitian terbukti 100% GT kapal pada dokumen awal tidak sesuai dengan fisik sesungguhnya (markdown).Perbandingan GT kapal dengan menggunakan rumus Direktorat Jenderal Perhubungan Laut dan Nomura mendapatkan hasil yang berbeda karena konversi dan coefficient of block (Cb) yang digunakan pada kedua rumus tersebut berbeda.Pada rumus Direktorat Jenderal Perhubungan Laut menggunakan konversi 0.25 dan coefficient of block 0.70, sedangkan pada rumus Nomura menggunakan konversi 0.353 dan coefficient of block 0.56
Kombinasi Sumber Protein Dan Karbohidrat Sebagai Pakan Ikan Lele Sangkuriang (Clarias gariepinus) Fase Pembesaran
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kombinasi limbah ikan tongkol sebagai sumber protein pakan dan dedak sebagai sumber karbohidrat yang menghasilkan pertumbuhan tertinggi ikan lele sangkuriang stadia pembesaran. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli – Agustus 2017 di jaring apung Kolam Percobaan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universiras Padjadjaran Ciparanje, Jatinangor, Jawa Barat. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari enam perlakuan dan tiga kali ulangan. Kombinasi limbah ikan tongkol dan dedak yaitu berturut – turut pakan A (95%,5%), B (90%, 10%), C (85%, 15%), D (80%, 20%), E (75%, 25%), dan F (Pakan Komersial). Ikan lele Sangkuriang yang digunakan berukuran 22 ± 0,8 g (stadia pembesaran) dipelihara dalam 18 unit waring dengan padat tebar 20 ekor/waring selama 60 hari. Pengaruh setiap perlakuan terhadap parameter dianalisis menggunakan analisis ragam atau Analysis of Variance (ANOVA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pakan uji dengan berbagai kombinasi limbah ikan tongkol sebagai sumber protein dan dedak sebagai sumber karbohidrat tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap laju pertumbuhan harian (LPH) dan terhadap efisiensi pemanfaatan pakan (EPP) ikan lele Sangkuriang. Hasil analisis ANOVA menunjukkan bahwa kombinasi 75% limbah ikan tongkol dan 25% dedak sebagai pakan ikan lele Sangkuriang stadia pembesaran memberikan hasil terbaik terhadap laju pertumbuhan harian sebesar 1,03% dan efisiensi pemanfaatan pakan sebesar 38,52%
Analisis Sebaran Suhu Permukaan Laut pada Musim Barat dan Musim Timur Terhadap Produksi Hasil Tangkapan Ikan Lemuru (Sardinella lemuru) Di Perairan Selat Bali
Penelitian mengenai analisis sebaran suhu permukaan laut pada musim barat dan musim timur terhadap produksi hasil tangkapan ikan lemuru (sardinella lemuru) di perairan Selat Bali ini telah dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan bulan Juni 2019. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis pengaruh suhu permukaan laut terhadap hasil tangkapan (produksi) ikan lemuru hasil tangkapan di perairan Selat Bali. Perairan Selat Bali terletak pada rentang 8.10oLS - 8.90oLS dan 114.25oBT – 115.25oBT. Ikan lemuru dapat ditemukan dan ditangkap pada suhu 26oC – 29oC, dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa trend hasill tangkapan ikan lemuru tertinggi terjadi pada bulan April yang memiliki rata –rata yaitu sebesar 1.885ton dan trend terendah terjadi pada bulan Juli yang memiliki rata – rata hasil tangkapan sebanyak 109 ton namun selama 5 tahun terdapat hasil tangkapan yang sangat melimpah yaitu terjadi pada bulan November 2014 dan pada Januari hingga Maret 2017 tidak ditemukannya ikan lemuru. Pada saat musim Barat suhu permukaan laut cenderung tinggi dibanding musim Timur hasil tangkapan ikan lemuru juga lebih tinggi di musim Barat dibanding musim Timur. Daerah tangkapan ikan lemuru berada pada sepanjang laut Selatan Belimbingsari sampai laut Selatan Pulukan (8.10oLS-8.50oLS dan 114.20oBT-115.10oBT) namun pada saat melimpah ikan lemuru dapat ditemui di laut sekitar Taman Nasional Alas Purwo . Koefesien R bernilai 0.565 atau 56,5% hubungan suhu permukaan laut cukup kuat dengan hasil tangkapan ikan lemuru, nilai determinasi pun bernilai 0,32 atau 32% hasil tangkapan ikan lemuru dipengaruhi oleh nilai suhu permukaan laut
Aktivitas Antioksidan, Kadar Total Flavonoid dan Fenol Ekstrak Metanol Kulit Batang Mangrove Berdasarkan Stadia Pertumbuhannya
Rhizophora mucronata merupakan sumber daya hayati yang melimpah di wilayah perairan Indonesia. Perbedaan stadia umur dan kondisi lingkungan pada kulit ari dari pancang dan kulit batang pada pohon mangrove Rhizophora mucronata menyebabkan senyawa bioaktif yang terkandung dalam kulit ari pada pancang dan kulit batang pada pohon mangrove Rhizopora mucronata berbeda. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui profil metabolit sekunder, aktivitas antioksidan, kadar total flavonoid dan total fenol dari ekstrak kulit batang dan kulit ari mangrove Rhizophora mucronata berdasarkan stadia pertumbuhannya. Penelitian dilaksanakan pada bulan September 2018 sampai bulan November 2018 di Laboratorium Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Laboratorium Fakultas MIPA dan Laboratorium Sentral Universitas Padjadjaran. Hasil uji profil metabolit sekunder ekstrak kulit batang pada pohon mangrove Rhizophora mucronata dari Perairan Karangsong yang di dapat yaitu alkaloid, flavonoid, fenol hidrokuinon, tannin dan saponin, sedangkan profil metabolit sekunder yang didapat dari sampel kulit batang pada pancang dari Leuweung Sancang yaitu alkaloid, flavonoid, fenol hidrokuinon, triterpenoid, tanin, dan saponin. Hasil uji antioksida pada sampel kulit batang pada pancang mangrove Rhizophora mucronata menunjukan bahwa nilai IC50 dari sampel Leuweung Sancang sebesar 65,59 μg/mL sedangkan utuk nilai IC50 dari sampel kulit batang pada pohon mangrove Rhizophora mucronata dari Perairan Karangsong Sebesar 84,80 μg/mL dan Kadar total flavonoid kulit ari pada pancang mangrove Rhizophora mucronata dari Leuweung Sancang sebesar 269±0,05 mg QE/g ekstrak dan pada sampel kulit batang pada pohon mangrove R. mucronata di Perairan Karangsong sebesar 20±0,16 mg QE/g ekstrak sedangkan untuk kadar total fenol dari ekstrak kulit batang pancang dari Leuweung Sancang sebesar 148,14±0,3 mg GAE/g ekstrak dan pada sampel kulit batang pada pohon mangrove R. mucronata di Perairan Karangsong Sebesar 164,13±0,15 mg GAE/g ekstrak
Analisis Kondisi Terumbu Karang Kawasan Pariwisata dan Non Pariwisata Di Perairan Gugus Pulau Kelapa Kecamatan Kepulauan Seribu Utara
Kondisi terumbu karang memiliki kerusakan yang disebabkan oleh faktor manusia (kegiatan penangkapan, pariwisata) dan faktor alami (perubahan suhu, penyakit karang). Kerusakan Terumbu karang cenderung lebih tinggi di kawasan pariwisata di bandingkan dengan kawasan non pariwisata. Tujuan riset ini untuk mengetahui kondisi terumbu karang di Gugus Pulau Kelapa Kecamatan Kepulauan Seribu Utara. Riset dilakukan pada bulan Agustus 2018, di perairan kawasan non pariwisata dan kawasan Pariwisata. Pengambilan data yang dilakukan yaitu, penentuan stasiun menggunakan metode purposive sampling dan mengetahui kondisi terumbu karang dengan menggunakan metode Under Water Photo Transect (UPT). Analisis data yang digunakan merupakan analisis deskriptif komparatif yang meliputi kualitas perairan, tutupan terumbu karang, indeks keanekaragaman (H’), keseragaman (E), dominansi (C), dan indeks mortalitas. Hasil riset menunjukkan kawasan non pariwisata memiliki nilai tutupan sebesar 13,74% (kategori buruk), sedangkan kawsan pariwisata memiliki nilai tutupan sebesar 55,83% (kategori baik). Indeks (H’), (E), (C) kedua kawasan memiliki kategori yang hampir sama. Kawasan pariwisata memiliki (H’) berkisar 0,79-1,88, (kriteria sedang) (E) berkisar 0,29-0,68 (sedang-tinggi) dan (C) berkisar 0,19-0,68 (rendah). Kawasan non pariwisata memiliki (H’) berkisar 1,10-1,32, (sedang) (E) berkisar 0,40-0,48 (sedang) dan (C) berkisar 0,29-0,48. (sedang). Indeks Mortalitas di kawasan non pariwisata lebih tinggi yaitu 0,5, sedangkan di kawasan pariwisata lebih rendah yaitu 0,2
Pemanfaatan Simplisia Pepaya Pada Ikan Rucah Untuk Pakan Kerapu Cantang (Epinephelus fuscoguttatus-lanceolatus) Di Keramba Jaring Apung Pesisir Pangandaran
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ikan rucah dengan dosis yang berbeda dan simplisia pepaya serta dosis yang optimal dapat menghasilkan pertumbuhan ikan kerapu cantang tertinggi di karamba jaring apung Pangandaran. Metode penelitian menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 kali ulangan. Analisis data penelitian menggunakan analisis ragam dengan uji F dengan taraf kepercayaan 95%, kemudian apabila terdapat perbedaan antar perlakuan dilakukan uji berganda Duncan dengan taraf kepercayaan 95%. Parameter yang diamati meliputi kelangsungan hidup (SR), Laju pertumbuhan harian dan Pertambahan bobot harian (DGR) ikan kerapu cantang, konversi pemberian pakan dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan angka kelangsungan hidup pada ikan kerapu cantang berkisar selama dalam penelitian berlangsung berkisar 79,69% sampai dengan 81,25%. Hasil perhitungan laju pertumbuhan ikan kerapu cantang itu berkisar dari 0,042% sampai dengan 0,048%. Sedangkan pertambahan bobot harian (DGR) ikan kerapu cantang memiliki nilai kisaran sebesar 3,7 – 5,7 gram. Hasil nilai konversi pemberian pakan yang lebih tinggi karena memiliki Konversi Pemberian Pakan (FCR) sekitar 11,20% – 5,16%. Hal ini menunjukan bahwa pakan rucah yang dibumbuhi simplisia pepaya sebesar 5% lebih baik dari pada ikan rucah yang tidak dibumbuhi oleh simplisia pepaya. Kadar oksigen (DO) di pesisir Pantai Timur Pangandaran memiliki kadar oksigen rata – rata sebesar 6,7 mg/L, suhu berada di 28 – 30ºC, dan pH di pesisir Pantai Timur Pangandaran adalah 7,5
Potensi Mikroba Probiotik dari Ikan Nila Mati Masal di Waduk Cirata
Identifikasi mikroba lambung adalah studi awal untuk mengembangkan mikroba probiotik untuk meningkatkan efisiensi pakan. Menggunakan nila dari Waduk Cirata sebagai sumber mikroba probiotik yang memasok kebutuhan ikan di waduk. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimen dan observasi. Saluran pencernaan ikan diambil dan dihancurkan dalam aseptik. Inokulasi mikroba digunakan dengan metode tuang di media nutrisi agar. Mikroba ditanam dan diisolasi untuk mendapatkan kultur murni. Identifikasi mikroba didasarkan pada parameter fisik, kimia, dan organoleptik. Hasil dari percobaan dan pengamatan menunjukkan bahwa Lactobacillus sp. dan Bacillus sp. berpotensi untuk digunakan sebagai mikroba probiotik