3,306 research outputs found

    PANDANGAN FAZLUR RAHMAN DAN NASHR HAMID ABU ZAYD TERHADAP SUMBER HUKUM ISLAM MENURUT AL-SYAFI'I

    No full text
    Penelitian berjudul Pandangan Fazlur Rahman Dan Nashr Hamid Abu Zayd Terhadap Sumber Hukum Islam Menurut Al-Syafi’I ini bertujuan untuk menggambarkan pandangan Fazlur Rahman dan Nashr Hamid Abu Zayd terhadap sumber hokum Islam al-Syafi’I sehingga menjadi jelas perbedaan dan persamaan dari p[andangan keduanya, serta menggambarkan masalah-masalah yang mempengaruhi pemikiran Fazlur Rahman Dan Nashr Hamid Abu Zayd terhadap sumber hokum Islam meenurut al- Syafi’I, seperti masalah lingkungan akademik, pergeseran paradigm keilmuan, aliran , politik, sosial dan budaya. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan ya’ni mengkaji bahan-bahan atau data berupa buku-buku, jurnal-jurnal, dan bentuk –bentuk tulisan lainnya yang terkait dengan obyek kajian tulisan ini. Sifat penelitian adalah diskriptif-analitis menggambarkan perbedaan dan persamaan pandangan antara Pandangan Fazlur Rahman Dan Nashr Hamid Abu Zayd Terhadap Sumber hokum Islam al - Syafi’I pada satu sisi dan menguraikan secara interpretative pemikiran kedua tokoh tersebut. Sumber data diperoleh dari data sekunder yang berupa karya-karya Fazlur Rahman Dan Nashr Hamid Abu Zayd yang berupa terjemahan ataupun dalam bentuk aslinya, karya para sarjana tentang pemikiran kedua tokoh serta buku-buku penting lainnya bidang hokum Islam. Pendekatan yang dipakai adalah pendekatan normative-historis. Analisa data memakai analisa deduktif-komparatif. Dari pembahasan yang telah dilaksanakan maka bisa disimpulkan bahwa: 1. Terdapat persamaan diantara Fazlur Rahman Dan Nashr Hamid Abu Zayd dalam mengkritisi konstruksi sumber hokum Islam al-Syafi’i. Mereka melihat pangkal dari empat sumber hokum Islam tersebut adalah hadis- sunnah terbatas pada Nabi melalui jalur periwayatan. 2. Perbedaan-perbedaan yang terlihat adalah pada problem titik berangkat, metode, dan tujuan kajian

    Sultan Abdul Hamid II bertemu Habib Abd al-Rahman?

    No full text
    Ada pertanyaan yang cukup menarik, apakah Sultan Abdul Hamid II sebagai penguasa Negara Utsmaniyah yang perkasa bertemu dengan Habib Abd al-Rahman az-Zahir, seorang politikus ternama di Kesultanan Aceh, sedangkan yang disebut terakhir bermukim di Jeddah selama dekade terakhir abad ke-19. Pertanyaan itu menarik karena seperti kita ketahui bahwa selama dua kali kunjungan az-Zahir ke İstanbul (1868 dan 1873), Abdul Hamid II belum juga naik tahta. Tapi mungkin ada beberapa kesempatan untuk pertemuan langsung atau setidaknya korespondensi konstan antara Abdul Hamid II dan az-Zahir, di tahun-tahun mendatang setelah Abdul Hamid II menjadi penguasa (1876)

    ETNIS ARAB DALAM PERJUANGAN KEMERDEKAAN INDONESIA: Studi Historis Peranan Abdul Rahman Baswedan dan Hamid Algadri 1934-1949

    No full text
    Skripsi ini berjudul Etnis Arab dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia: Studi Historis Peranan Abdul Rahman Baswedan dan Hamid Algadri 1934-1949. Dengan rumusan masalah (1) Bagaimana latar belakang kehidupan Abdul Rahman Baswedan dan Hamid Algadri?; (2) Bagaimana pemikiran dan tindakan Abdul Rahman Baswedan dan Hamid Algadri mengenai konsep nasionalisme 1934-1949?; (3) Bagaimana perbandingan pemikiran dan tindakan Abdul Rahman Baswedan dan Hamid Algadri mengenai konsep nasionalisme 1934-1949?. Metode penelitian yang digunakan adalah sesuai dengan kaidah penelitian sejarah yang meliputi heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Pendekatan yang digunakan dalam penulisan skripsi ini menggunakan konsep dari ilmu politik yaitu nasionalisme dan Integrasi nasional. Konsep yang diambil dari ilmu budaya adalah etnis. Adapun konsep yang diambil dari ilmu sosial adalah perubahan sosial, dan komunikasi massa. Peneliti mengangkat tema ini karena belum banyak penelitian yang membahas peranan kedua tokoh tersebut dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keduanya sangat berperan aktif dalam upaya merintis dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, dengan nasionalisme yang berlandaskan ajaran Islam. Pemahaman nasionalisme tersebut melahirkan Persatuan Arab Indonesia (PAI) yang di pelopori oleh Abdul Rahman Baswedan pada tahun 1934. Pada tahun 1937 Persatuan Arab Indonesia (PAI) memutuskan untuk ikut bergabung dalam urusan politik, nama persatuan diganti menjadi partai. Keterlibatan Partai Arab Indonesia (PAI) dalam dunia politik di antaranya mendukung petisi soetardjo, bergabung dalam Gabungan Politik Indonesia (GAPI), masuk pula menjadi anggota Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) dan lain-lain. Bergabungnya Partai Arab Indonesia (PAI) ke dalam badan dan organisasi pemerintahan atau keagamaan, menunjukkan bahwa semangat yang dibawa oleh peranakan Arab untuk mengakui Indonesia sebagai tanah airnya, mulai diakui dan di dukung oleh banyak kalangan seperti Soekarno, Hatta, Ki Hajar Dewantara, Syahrir dan lain-lain. Perbedaan paling signifikan dari Abdul Rahman Baswedan dan Hamid Algadri terlihat ketika dibubarkannya Partai Arab Indonesia (PAI) pada masa pendudukan Jepang. Abdul Rahman Baswedan dan Hamid Algadri menetapkan pilihannya masing-masing, dan Partai Arab Indonesia (PAI) tidak pernah didirikan kembali sekalipun Jepang telah pergi dari Indonesia. Abdul Rahman Baswedan memilih partai Masyumi dan mengabdikan diri pada dunia dakwah dengan menjadi Ketua dewan dakwah Islamiyah, di Yogyakarta tahun 1974. Berbeda dengan Abdul Rahman Baswedan, Hamid Algadri memilih untuk menjadi simpatisan Partai Sosialis Indonesia (PSI) yang dipimpin oleh Syahrir. Kedekatan dengan Syahrir mengantarkannya pada karir politik yang cukup penting terutama pada masa revolusi Indonesia. --- The tittle of this thesis is Arabian ethnic in the struggle of Indonesia’s Independence: Historical study of the role of Abdul Rahman Baswedan and Hamid Algadri year of 1934-1949. Statement of problems are following: 1) How is the life background of Abdul Rahman Baswedan and Hamid Algadri?; 2) How is the opinion and action of Abdul Rahman Baswedan and Hamid Algadri regarding nationalism concept of 1934-1949?; 3) How about the comparation of opinion and action of Abdul Rahman Baswedan and Hamid Algadri about the concept nationalism year of 1934-1949?. Research method which is use in this thesis is based on rule historical research, they are; heuristic, critique, interpretation and historiography. Research appoach which is used in this thesis is the concept which is taken from culture is ethnic. While concept which is taken from social study is social change, and mass communication. The reason why researcher develop this theme is because there is not much research which is concern about the role of that two figures in struggling for indonesia’s independence. Result of research shows that the two figures has a very active role in struggling and holding the Indonesia’s independence, with nationalism which is based on islamic thought. The comprehension of that nationalism bears Arabic Indonesia United (PAI) which is led by Abdul Rahman Baswedan in the year of 1934. In the year of 1937 Arabic Indonesia United (PAI) decides to intrude in political issue. The name united changed in to party. The role of Arabic Indonesia United (PAI) in political issue are supporting Soetardjo’s petition, joining Gabungan Politik Indonesia (GAPI), joining Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI), etc. The join of Arabic Indonesia United (PAI) into organization of government and religion shows that the spirit which is bring by the arabian gene to acknowledging Indonesia as their countrymen accepted and supported by many classes like Soekarno, Hatta, Ki Hajar Dewantara, Syahrir, etc. The most significant different from Abdul Rahman Baswedan and Hamid Algadri shows in the misleading dissolution Arabic Indonesia United (PAI) when Japan occupied Indonesia. Abdul Rahman Baswedan and Hamid Algadri commit their own choice and Arabic Indonesia United (PAI) never held again even when Japan is gone from Indonesia. Abdul Rahman Baswedan choose to join Masyumi Party and active in dakwah activity by becoming the leader of ‘’Dewan Dakwah Islamiyah’’ in Yogyakarta year of 1974. Different from Abdul Rahman Baswedan, Hamid Algadri choose to be part of Indonesian Socialist Party (PSI) which is leads by Syahrir. His friendship with Syahrir leads him into quite huge political carrier especially in the era of Indonesia’s revolution

    Kad Hari Raya

    No full text
    Kad ucapan hari raya yang diutuskan kepada Profesor Diraja Ungku Abdul Aziz daripada a. Hamid Hj. A. Rahman, Rohana Zubir, Khairil, Suhana, Mohd Aklil dan Yohan

    HERMENEUTIKA AL-QUR'AN; Kajian atas Pemikiran Fazlur Rahman dan Nasr Hamid Abu Zayd tentang Hermeneutika al-Qur'an

    No full text
    Tulisan ini membahas tentang keberadaan hermeneutika sebagai salah satu produk ilmu pengetahuan yang mengkaji teks yang erat kaitannya antara author, reader, dan teks itu sendiri dengan pendekatan kajian pustaka. Seiring perkembangannya hermeneutika oleh sebagian kalangan dianggap bisa mengkaji al-Qur’an sebagaimana Bibel dikaji menggunakan hermeneutika. Bagi umat Islam sendiri sudah ada Ilmu Tafsir sebagai sarana mengkaji al-Qur’an dalam berbagai aspek, dengan tata aturan ketat bagi seorang akan dianggap layak menjadi seorang mufassir. Pada artikel ini akan dibahas tentang kakrakteristik pemikiran Fazlur Rahman, Nasr Hamid Abu Zayd,  dua orang sarjana muslim yang memiliki karakteristik tersendiri dalam khazanah hermeneutika al-Qur'an

    Jaringan Maritim dalam Perspektif Abd. Rahman Hamid dalam Buku Makassar Mendunia (Analisis Bab I–II)

    No full text
    Penelitian ini mengkaji perspektif Abd. Rahman Hamid mengenai jaringan maritim Makassar sebagaimana tertuang dalam Bab I–II buku Makassar Mendunia. Hamid memaknai laut tidak hanya sebagai jalur perdagangan, tetapi juga sebagai ruang sosial yang membentuk identitas masyarakat pesisir Makassar. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-analitis dengan pendekatan kualitatif. Data primer bersumber dari teks Bab I–II buku Makassar Mendunia, sedangkan data sekunder diperoleh dari literatur terkait sejarah maritim dan kosmopolitanisme. Analisis dilakukan melalui pemaparan isi teks dan telaah teoretis dengan menggunakan kerangka teori jaringan sosial, kosmopolitanisme, historiografi maritim, dan interaksi simbolik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jaringan maritim Makassar bersifat multidimensional. Makassar berperan sebagai simpul yang menghubungkan berbagai komunitas dan bangsa, sementara identitas masyarakat pesisir terbentuk melalui keterbukaan dan interaksi lintas budaya. Dengan pendekatan humanistik, Hamid menegaskan bahwa sejarah maritim merupakan sejarah manusia sebagai aktor utama dalam pembentukan peradaban Nusantara. Penelitian ini berkontribusi dengan menghadirkan pembacaan alternatif terhadap historiografi maritim Makassar melalui pendekatan humanis dan jaringan sosial

    KONSEP ESKATOLOGI DALAM AL-QUR’AN (Studi Komparatif Penafsiran Abu Hamid Al-Ghazali dan Fazlur Rahman)

    No full text
    Tesis ini berjudul “Konsep Eskatologi dalam Al-Qur’an (Studi Komparasi penafsiran Abu Hamid Al-Ghazali dan Fazlur Rahman)” ditulis oleh Raga Maulana Primadi dengan dua pembimbing yaitu Prof. Dr. H. Abad Badruzaman, Lc., M.Ag dan Dr. H. Ahmad Zainal Abidin, M.A Kata Kunci: Eskatologi, Akhirat, Komparasi, Kontekstualisasi. Khazanah keilmuan Islam dari era klasik hingga modern terus memunculkan kajian- kajian wacana ke-Islaman, terkhususnya terhadap al-Qur’an. Banyak dari ulama-ulama berusaha menggali isi inti dari al-Qur’an, dalam bidang tafsir misalnya. Pengadaan beragam metode dan penafsiran telah dilakukan oleh ulama-ulama tafsir hingga ulama yang notabenya bukan dianggap sebagai mufassir telah memberikan sumbangsih karya mengenai kajian tentang ayat-ayat al-Qur’an. Kajian tentang Eskatologi (al-Sam‘iyya>t) menjadi perhatian penting ulama pada zamannya, hingga menjadi perdebatan oleh sebagian kalangan ulama dan filosof. Selain dari para filsuf, pembahasan tentang ayat-ayat al-Sam‘iyya>t juga banyak dilakukan oleh para mufassir yang membahas banyak tentang makna ayat-ayat dalam al- Qur’an. Seperti Imam al-Thabari, Imam al-Razi, Muhammad Abduh, hingga pada masa kini di Indonesia seperti Buya Hamka dan Quraisy Syihab. Dari banyaknya mufassir tersebut, penulis akan menilik pemikiran dan penafsiran yang sebenarnya tidak dianggap sebagai seorang mufassir, tetapi memiliki gaya kajian dan pemikiran tentang al-Qur’an dalam karyanya seperti Abu Hamid al-Ghazali dan Fazlur Rahman. Dalam sejarahnya mereka disebut sebagai para pembaharu Islam dalam abad pertengahan dan zaman modern dalam Islam. Maka peneltian ini akan membahas konsep tentang eskatologi dalam al-Qur’an menurut penafsiran al-Ghazali dan Fazlur Rahman. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah 1) Bagaimana wawasan al- Qur’an tentang Eskatologi?; 2) Bagaimana pandangan al-Ghazali dan Fazlur Rahman atas ayat- ayat Eskatologi?; 3) Bagaimana Komparasi antara penafsiran al-Ghazali dan Fazlur Rahman atas ayat-ayat Eskatologi?; 4) Bagaimana Kontekstualisasi konsep Eskatologi dalam era kekinian?. Adapun jenis penelitian ini adalah Library Research (Studi Kepustakaan) dengan sumber primernya berasal dari literatur karya Abu Hamid al-Ghazali dan karya Fazlur Rahman. Adapun analisis data dilakukan secara deskriptif-analitis, dilanjutakan melakukan komparasi kepada pemikiran kedua tokoh. Kesimpulan yang dapat diuraikan dari penelitian ini adalah Eskatologi secara umum adalah doktrin tentang akhir dari manusia dan dunia, sedangkan eskatologi dalam Islam adalah doktrin tentang hari akhir yang bersifat g}aibiyyah atau juga dikenal sebagai istilah al- Sam‘iyya>t. Didalamnya membahas tentang konsep dunia dan akhirat, kematian, kiamat dunia, hari kebangkitan, pengadilan, serta doktrin surga dan neraka. Kedua, hasil penafsiran yang dilakukan al-Ghazali dan Fazlur Rahman dalam karyanya masing-masing memberikan menunjukkan pembahasan yang sama dengan metodologi yang berbeda. Keduanya sama-sama menjelaskan bahwa eskatologi dalam al-Qur’an adalah doktrin tentang segala sesuatu yang terjadi di akhirat, yang bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran bagi setiap manusia dalam memperbaiki diri dan hidup lebih bermoral di dunia. sedangkan keduanya berdeda dalam metode penafsiran, al-Ghazali menggunakan metode kalam-mistis dengan pendekatan normatif-teologis dan Rahman menggunakan metode interpretasi filosofis dengan pendekatan sisntesis-logis dalam penafsiran ayat-ayat akhirat (eskatologi). Dalam memposisikan masalah eskatologi dalam era kekinian, maka perlu adanya: pertama, Responsibilitas manusia segala perbuatan baik dan buruk manusia dunia dan konsekuensi di akhirat. Kedua, Trasnparansi dan reabilitas perbuatan sebagai upaya menghadapi pengadilan di akhirat. Ketiga, akuntabilitas ukuran h}isa>b dan miza>n berimplikasi terhadap keseimbangan sosial kemasyarakatan

    Abdul Hamid Petta Ponggawae: profil panglima yang pantang penyerah

    No full text
    Abdul Hamid adalah putra Raja Bone La Pawawoi Karaeng sigeri dari hasil perkawinannya dengan I Karimbo Daeng Tamene, putri Arung Mengempang (Barru). Sebagai anak pattola bukan hanya dapat diangkat menjadi mangkau (raja) di Kerajaan Bone, tetapi juga sebagai arung (raja) di Kerajaan Barru ' Perlawanan Abdul Hamid Petta Ponggawae dalam menentang kekuasaan pemerintah Belanda, dilatari oleh akumulasi dari Pertentangan -Pertentangan antara Bone dengan Belanda. Mencapai puncaknya ketika Belanda bermaksud menguasai secara langsung Bone. Terjadi pertempuran antara pasukan Belanda dan pasukan Kerajaan Bone.Pasukan Kerajaan Bone terdesak. Pasukan Belanda melakukan pengejaran terhadap raja Bone, akhirnya berhasil mengepung Raja Bone La Pawawoi Karaeng Segeri bersama pengawalnya di Pegunungan Awo (TanaToraja) padar 8 November 1go5. Pada pertempuran tersebut, Abdul Hamid Pettaponggawae gugur bersama puluhan laskar Bone. sementara raja Bone*.ditangkap kemudian diasingkan ke Bandung oleh pemerintah Belanda

    Trend Setters in Library & Information Studies in Pakistan A Bio-bibliometric Study of Professor. Hamid Rahman’s Contribution to LIS Literature

    No full text
    This quantitative study presents the bio bibliometrics analysis of Prof. Hamid Rahman, and the literature produced by him from 1983 till the end of 2020. The basic aim of the study was to investigate the life and contribution to the field of the Library and Information Science in Urdu, English and Hindko, language, professor devoted in his professional career. Prof. Hamid Rahman wrote award winging papers, and won IVP (International Visitor Program) scholarship. He was remained an external/internal supervisor for undergraduate and postgraduate Library Science programs in many leading Universities of the country. He organized six library science conferences at Bara Gali Sub-Campus of University of Peshawar. He is the author two books namely; “An Anthology of Library Science”, and “Muqalat e Kutubkhana.” The results show that good number of literature has been produced in 1990 and major area targeted includes Academic Libraries, Library Science Education and LIS Research in Pakistan. Prof. Hamid Rahman significantly contributed to the Library and Information Science literature in Pakistan

    Report for proposed new design scheme for Nizam Ambia’s gallery and workshop / Abdul Rahman Abdul Hamid

    No full text
    In these days, there are many films, music, and other artworks by talented individual or independence organization has been produced. But there is still not much people realize about this talented community existing and made them remain in 'underground' industry with their own fund and effort. In addition, they have no chance to present their ability and artworks because of the lack of fullyequipped art centre to support them. This project is to help Nizam Ambia, as the client of this project to obtain its objective to bring these unheard talents to community and make them feel appreciated. The chosen product for this project is PROPOSED NEW DESIGN SCHEME FOR NIZAM AMBIA’S GALLERY AND WORKSHOP. The proposed site which is situated at Lot 131, Seksyen 86 A, Jalan Tun Razak, Kuala Lumpur is well-known-spot among art people since has organize many art events before. The case studies has been done in National Art Gallery, Kuala Lumpur, Islamic Art Musuem and Kuala Lumpur Performing Art Centre in Sentul, Kuala Lumpur, in order to refer the suitable facilities and material application in art centre designing process .The purpose of this project is to equip a place for artist to share his artworks with art lovers. In running this project, the most important of the centre is to upgrade the building into division spaces according to its different function and providing sufficient facilities. It is also to formulate an attraction and instill interest of people on art incessantly. The research methods for this project are based on observation on client’s activities and meeting up them regularly for interview session. The advantages of having this art gallery project, is to experience myself on the activities of independent artist on these days and obtain people’s appreciation towards art especially artwork from names that never been recognized.In view of the fact that the new design of the gallery that will be run should have characters on design, the chosen concept to be applied for the art centre is 'Mysterious Figures of Nature’ as refer to the client’s objective. The design approaches is modern hightech look with using gloomy color such as grey, white and black as the color scheme
    corecore