1,720,969 research outputs found

    Jadi Satu Melawan Dingin

    Full text link
    Unsur kebiasaan, perilaku, dan norma masyarakat sekitar Kawasan Gunung Bromo telah menjadi suatu daya tarik dalam penciptaan karya fotografi dengan menyoroti aspek masyarakat dari sisi gaya hidup mereka. Berbagai macam perubahan gaya hidup akibat kondisi sosial, ekonomi, dan budaya sangat menarik untuk diungkap melalui karya-karya fotografi. Penciptaan karya ini Berawal dari fotografi dokumenter yang bermaksud untuk mengungkap sisi gaya hidup masa kini masyarakat sekitar Kawasan Gunung Bromo. Foto dokumenter menurut Time Life Books: “Documentary photography; a description of the real world by photographer whose intent is to communicate something of importance to make a comment that will be understood by the viewer.” (The Editor ofTime Life Book, 1973:84) (Fotografi dokumenter adalah deskripsi kondisi nyata dari bumi yang dibuat oleh fotografer untuk mengkomunikasikan objek agar dapat dimengerti oleh pengunjung) Dari kutipan tersebut dapat disimpulkan bahwa fotografi dokumenter merupakan gambaran dunia nyata yang divisualisasikan oleh fotografer dengan maksud untuk menyampaikan sesuatu yang penting sehingga dapat dipahami oleh khalayak umum. Penciptaan ini berusaha merekonstruksi atau meniru dan seakurat mungkin fenomena yang terjadi dikawasan gunung bromo. Penciptaan karya ini mudah untuk dimengerti dan dapat dirasakan keindahannya. Penciptaan karya ini dibuat sejelas-jelasnya, merekam sejelas-jelasnya, tidak distorsi, realistik dan dilakukan dengan olah digital untuk menambah keindahan karyanya. Karya fotografi tentang potret keluarga dengan objek utama anak, ibu dan bapak pencari rumput sedang istirahat melawan dingin dengan menghangatkan tubuh setelah seharian mencari rumput seharian di Bromo. Foto portret keluarga ini dijadikan pusat perhatian untuk merekam sosok manusia seluruh tubuh dan fokus pada sisi kemanusiaan dan interaksi manusia dengan alam berbagai peristiwa keseharian. Fotografi tidaklah sekedar memiliki nilai dokumentatif semata tetapi juga menjadi media berekspresi dalam bentuknya sebagai ungkapan perasaan dan emosi estetis yang terdalam dari si pemotretnya. Fotografi juga bisa difungsikan sebagai elemen estetis penghias (illustration) dan menarik pandang (eyecatcher) pada penciptaan fotografi komersial atau desain iklan karena memiliki bobot penampilan estetis tertentu. Menurut Donald W. Crawford, terdapat lima konsep pendekatan estetis bagi setiap disiplin seni: 1. Karya Seni (the art object); 2.Apresiasi dan Interpretasi (appreciation & interpretationg); 3.Penilaian secara kritis (critical evaluation); 4. Penciptaan Artistik (artistic creation); 5. Konteks Budaya (cultural context). (soedjono 2007:84) Objek-objek terbagi menjadi empat objek penciptaan ini adalah manuasi, hewan, api unggun dan Kawasan Gunung Bromo. Pencahayaan dalam perwujudan karya dibagi menjadi dua, yaitu Perekaman model di luar ruangan membuat pencipta bebas mengeksplorasi portrait manusia dan lingkungan dengan mengatur pose dan menyesuaikan intensitas cahaya (cahaya alami dan cahaya buatan). Kematangan teknis akan mempermudah pencipta dalam menerjemahkan dan menyampaikan realita dari objek sisi kemanusiaan terekam secara alami dalam menciptakan karya. Teknik-teknik yang digunakan dalam pendekatan karya ini menggunakan teknik mix light. Teknik fotografi ini merekaman objek manusia dengan melakukan pengaturan objek, sehingga menghasilkan imaji yang lebih hidup, natural apa adanya tanpa kesan dibuat-buat, terkesan wajar, apa adanya, alami, dan tidak kaku. Model yang dijadikan objek penciptaan ini berdasarkan jenis pekerjaannya seperti sekeluarga pengambil rumput dan kuda pengangkut rumput yang sedang istirahat memasak air diapi unggun dengan latar belakang Kawasan Gunung Bromo. Bertolak dari paparan di atas, melalui studi penciptaan karya ini akan dijelaskan tentang apa dan bagaimana upaya-upaya penciptaan karya kreatif untuk menemukan citra baru kawasan tersebut dengan mempresentasikan menjadi karya imajinasi visual fotografi yang bernilai kreatif estetis. Penciptaan karya ini belum pernah dilakukan dan tidak ada penciptaan lain sebelumnya dengan ide dan konsep penciptaan dan perwujudan yang sama. Karya ini menggiring imajinasi pencipta menuju babak baru fotografi masa datang yang lahir dari citra imaji-imaji visual fotografi masa lalu yang berbeda dengan kondisi sekarang untuk memperkaya khazanah fotografi di Indonesia

    Imajinasi Ke Imajinasi Visual Fotografi

    Full text link
    AbstrakImaji visual fotografi merupakan media rekam visual yang objektif dan representatifkebenarannya dalam merekam suatu realitas. Revolusi teknologi menyebabkan perubahandari teknologi fotografi analog sebagai salah satu media yang menyatakan kebenaran ataubukti dan sebagai media yang representatif kebenarannya ke teknologi digital yang dapatmemungkinkan untuk merekayasa gambar digital melalui perangkat lunak. Teknologi digitaltelah menjadikan kebenaran dalam sebuah foto tidak lagi absolut. Akhirnya fotografi sebagaialat perekam imaji yang representatif kebenarannya semakin diragukan. Karena semakin sulituntuk membedakan foto asli atau palsu, bahkan sebuah foto asli bisa saja dikatakan sebagaihasil manipulasi. Penciptaan imajinasi visual fotografi ini dihasilkan dari suatu olah daya pikirmanusia. Dalam proses tersebut dibutuhkan suatu kreativitas dari penggabungan imaji-imajisebelumnya atau sekarang ini untuk diimajinasikan. Pemaknaan akan bergeser dari imaji visualfotografi menjadi imaji visual fotografi yang baru. Proses artistik imajinasi visual ini diciptakandengan didasarkan pada artistik yang berdasarkan imajinasi, artistik berdasarkan imajinasi danartistik didasarkan pada kombinasi antara kenyataan dan imajinasi. Penciptaan Imajinasi visualfotografi merupakan daya untuk mengonstruksi ataau menggabungkan kembali dari berbagaiimaji-imaji atau foto- secara imajinatif dan kreatif dengan persepsi yang menyertainya untukmenjadi imaji baru yang utuh, logis, dan mungkin terjadi dengan menggunakan teknik danefek fotografi. Proses mengonstruksi membutuhkan suatu kemampuan berimajinasi untukmenggabungkan dan menyatukannya untuk menjadi satu kesatuan (unity) yang utuh dalam satupermukaan gambar/imaji secara ekspresif dan imajinatif melalui proses estetis yang kreatifberdasarkan ciri personal penciptanya. Dengan demikian, hasil dari proses konstruksi tersebutsudah tidak tampak lagi imaji sebelumnya dan pemaknaannya sudah bergeser menjadi karyaimaji dengan pemaknaan baru.AbstractImage to Photography Visual Imagination. Visual image of photography is a visual recordingmedia which is objective and representative in revealing the truth when recording a reality. Thetechnology revolution led to the change in photography, from analog photographic technologyas one of the media for promoting truth or evidence and as media representing truth to thedigital technology which allow people to manipulate digital images through software. Digitaltechnology has made the truth in a photograph is no longer absolute. In the end, photographyas an images recording tool representing truth is doubted. It is getting harder and moredifficult to distinguish the original or fake photo, even an original photo can be said as aresult of manipulation.The creation of visual imagination photography is produced by thepower of human thought. The process requires a creativity of merging the previous or recentimages to imagine. The meanings will be shifted from visual image photography into a newvisual image photography. Visual imagination of the artistic process is created on the basisof artistic imagination, artistic imagination and artistic are based on a combination of realityand imagination.The creation of visual photography imagination is a power to construct orrecombine from multiple images or pictures imaginatively and creatively with the perceptionto be a whole new image, logical, and may occur with the use of techniques and photographiceffects. The process of constructing requires an ability of imagining to combine and unitethem into a single unit as a unity which is intact on s single surface of the picture/image,expressively and imaginatively through an aesthetic creative process based on the personalcharacteristics of the creator. By doing so, the construction process will no longer visible onthe former image and the meaning will shift into an image with a new meaning

    Simbolisasi penyalahgunaan kekuasaan dalam karya fotografi

    No full text
    PEnciptaan karya ini sebagai media pengungkapan gagasan,pikiran, ide, cerita, dan peristiwa yang menitikberatkan pada simbol yang universal dan makna yang terkandung dari pelaku penguasa dan penyalahgunaan serta penyimpangan kekuasaan. Visualisasi meniru gaya di masa lalu yang ditempatkan dalam konteks masa kini agar tampak humoristik dan absurd.Tujuannya sebagai bentuk kritik atau perlawanan sosial terhadap operseorangan, lembagadan peristiwa

    Sang Profesor

    Full text link
    Pameran yang bertemakan "Wajah Citraku di Ragam Mirad" dengan subject metter potret Prof. Drs. Soeprapto Soedjono, MFA., Ph.D. atau SS merupakan pameran tentang Citra dari tanda atau gambaran Wajah SS yang bersifat fisik untuk dipersepsi kembali melalui rasa dan indera Karya yang berjudul Sang Profesor dengan subjek matter Prof. Drs. Soeprapto Soedjono, MFA., PhD (SS) ini merupakan foto portrait tentang citra yang di persepsikan kembali melalui rasa dan indra melalui imaji visual fotografi untuk membentuk ciri khas sebagai indentitasnya. Identitas merupakan proses penamaan atau penempatan diri di dalam suatu kategori atau konstruksi sosial tertentu Ken Plumer (1994: 271). Citra indentitas SS sebagai objek figur diimajikan dan direpresentasikan kembali dalam karya seni rupa dan fotografi secara personal yang representatif sebagai pembeda indentitas dengan yang lain.. Citra indentitas SS dalam pameran imaji potret ini tidak hanya sekadar merekam imaji dan citra indentitas potret wajah SS yang berdasarkan realitas objektif citra SS itu sendiri saja, namun menuangkan tentang ‘indentitas atau citra’ berdasarkan subjektifitas penciptanya ke dalam media visual. Transpiosa Riomanda menjelaskan bahwa citra sebagai sebuah ilusi atau bayangan, copy bukan asli, represntation bukan reality. Citra di sini akan mempunyai jarak dengan realita yang sebenarnya (Riomanda, 1998:56) SS merupakan tokoh dan guru besar senior dalam bidang sejarah seni dan fotografi yang pernah menjabat Rektor IV ISI Yogyakarta (2006-2010) . Disamping pengajar senior, beliau juga menerbitkan buku dan berpameran karya fotografi dan kelompok baik nasional Maupun Internasional. Karya foto potret ini menggambarkan SS merupakan salah satu tonggak dan pendiri FSMR ISI Yogyakarta tokoh dan guru besar senior dalam bidang sejarah seni dan fotografi yang membawa troli buku yang di foto oleh seorang fotografer. Karya ini mempersepsikan walaupun beliau sudah purna tugas tetap sebagai sumber dan ladang ilmu pengetahuan seni dan fotografi. Karya foto potret seluruh badan ini yang menggambarkan dan representasi karakter yeng merefleksikan posisi SS sebagai tokoh dan guru besar senior dalam bidang sejarah seni dan fotografi dalam masyarakat. Karya ini diharapkan menjadi penanda visual-event yang bisa dikenang dan menjadi medium stimulasi visual yang dapat membangkitkan daya kreasi estetis bagi siapa saja yang mengamati dan menikmatinya untuk lebih bergairah berkarya seni visual. Karya ini di ciptakan dengan teknik kolase dan montase digital imaging dalam sebagai ekspresi pribadi dalam mempresentasikan karakter dari SS. Penciptaan karya foto ini sebagai upaya untuk mewujudkan citra baru dalam penciptaan karya imaji visual fotografi ke bentuk imajinasi visual fotografi, dan pesan atau makna yang dapat terbaca dalam karya ini

    Realisme Magis Imaji ke Imajinasi Visual Fotografi

    Full text link
     Berbagai imaji dan imajinasi yang dialami secara pribadi adalah inspirasi yang terasa familiar dan mudah diselami dalam melahirkan suatu proses ide yang kreatif, yang dalam hal ini adalah menciptakan karya seni fotografi yang estetis.  Berawal dari pengalaman pribadi yang kala itu tumbuh di tengah kaum urban di pusat niaga Kota Yogyakarta, yaitu kawasan Malioboro dan kebetulan pada masa dewasa lalu berkecimpung di dunia fotografi, muncullah inspirasi untuk menciptakan karya fotografi seni tentang Malioboro. Tujuan dari artikel ini adalah untuk memaparkan bagaimana proses kreatif dalam menciptakan karya fotografi, yang pada akhirnya akan memberikan konstruksi makna yang baru terhadap visual fotografis.  Karya fotografi yang secara umum diakui keotentikan realitasnya, terkadang justru melebihi realitas itu sendiri.  Sebagai kerangka teoretis, realisme magis dapat melampaui dan bahkan melepaskan diri dari realitas yang ada sehingga membuka ruang pluralitas yang luas. Metode observasi, eksplorasi, dan eksperimentasi dipadukan dengan teknik digital imaging berupa visual kolase dan montase menjadikan karya fotografi tentang kawasan Malioboro bernilai seni dan estetis. Penciptaan karya ini tidak sekadar membahas tentang tataran teknis yang membentuknya, akan tetapi lebih tentang estetika dan rekonstruksi makna yang kemudian muncul. Dengan menggunakan pendekatan realisme magis dalam membuat konsep karya fotografi, hadirlah karya foto seni yang representatif dan estetis dalam menggambarkan pluralitas yang ambigu dalam keseharian di kawasan Malioboro. Various images and imaginations that are personally experienced is an inspiration that feels familiar and easy to explore in incubating a creative process of ideas, which in this case is to create aesthetic photographic artwork.  Starting from personal experiences that was raised in the middle of urban community in the commercial center of Yogyakarta, namely Malioboro area, and later when growing up happened to be engaged in the field of photography, triggered an inspiration to create art photography about Malioboro. The purpose of this article is to describe how the creative process of creating photographic works will eventually give the construction of new meaning to photographic visuals.  Photography works that are generally recognized for their authenticity of reality, sometimes even exceed reality itself. As a theoretical framework, magical realism can transcend and even break away from existing realities, thus opening up a vast space of plurality.  The methods applied were observation, exploration, and experimentation combined with digital imaging techniques in the form of visual collages and montages, in order to make photographic works about Malioboro area become valuably artistic and aesthetics. The creation of this photography work no longer speaks of the technical state that shaped it, but rather about the aesthetics and reconstruction of the meaning that exists in it.  By using magical realism as the approach in conceptualizing the photographic works, there is a representative and aesthetic work of art in describing ambiguous plurality in everyday life in Malioboro area

    Demi Perut

    Full text link
    Karya foto yang berjudul Demi perut ini menggambarkan ruang kuliner angkringan tradisional di antara bangunan bertingkat modern, hotel bintang lima, restoran cepat saji modern yang mendunia dan iklan-iklan kuliner yang mendunia. Karya ini mengimajinasikan ruang publik Malioboro diimajinasikan dan di gambarkan menjadi sebuah ruang rumah makan besar yang menyediakan berbagai macam jenis ruang makan. Setting ruang tersebut bukan sebagai harfiah ruang makan yang realistis, melainkan setting ruang makan dalam artian simbolik. Malioboro ini telah menyediakan diri sebagai kawasan terbuka yang dipergunakan untuk tempat menyambut kedatangan tamu, area berkumpul dari berbagai lapisan masyarakat, tempat berkumpul berbagai identitas (suku, etnis, dan agama), area berbagai bentuk hubungan sosial, dan area atau panggung bagi seniman berproses kreatif mengekspresikan ide dan imajinasinya dalam berbagai performa seni. Asal usul nama Malioboro yang dikemukaan Carey adalah sebagai berikut: Menurut tradisi India (cf., Râmâyana, edisi Mumbay, 2, 17, 2), jalan-jalan kerajaan ini, terutama pada hari perayaan, dihiasi antara lain dengan “mâlya’ atau untaian (bunga). Dalam bahasa Sansekerta “dihiasi dengan untaian bunga” adalah “mâlyabhara” atau “mâlyabhâra” (istilah “mâlyabara”) dibuktikan dalam PW (Petersburger Worterbbuch) dan inilah asal usul nama Malioboro (Maliabara)” (Tichelaar 1976:187-188; Carey, 2015:14). Pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kata Malioboro (Malyabhara) memiliki arti sebagai seruas jalan utama raja yang berhiaskan untaian atau karangan bunga sebagai tempat yang indah. Ruas jalan Malioboro berfungsi untuk menyambut kedatangan “tamu agung” dengan menggunakan hiasan karangan bunga yang mencerminkan keindahan. Karya ini memvisualisasikan keadaan Malioboro sekarang ini dimana keindahan Malioboro dengan warung tradisional dengan harga yang sangat terjangkau, namun konsumen warung ini sangat bervariasi, mulai dari tukang becak, mahasiswa, pencipta, hingga pejabat eksekutif. Latar belakang tampak proses pembangunan bangunan modern untuk perhotelan bintang lima dan kuliner dengan sign system restoran cepat saji modern terkenal dan mendunia. Karya ini menyampaikankan pesan bahwa Malioboro merupakan tempat favorit kunjungan kuliner yang tengah menggeliat menjadi kawasan modernisasi tidak pernah sepenuhnya kehilangan kebersahajaannya. Bertumbuhnya pusat-pusat hiburan dan kuliner baru yang ditandai munculnya restoran-restoran cepat saji dengan angkringan internasional dan café-café yang dikemas secara modern tidak lantas membuat orang meninggalkan romantisme nuansa tradisional khas kota yang mengusung kesederhanaan dan kearifan lokal. Karya-karya ini menjelaskan dan menggambarkan kaum pekerja angkringan tradisional dan jamu tradisional produk buatan tangannya yang masih bertahan dan harus menyesuaikan diri dengan arus global modern. Karya ini menggambarkan kaum pekerja kuliner tradisional yang masih bertahan dan harus menyesuaikan diri dengan arus global kuliner modern. Penjual angkringan ini tetap bertahan hidup di tengah perubahan ruang dan waktu. Hal tersebut digambarkan sebagai tokoh manusia yang membawa beban kehidupan untuk menunjukkan sifat mereka yang nyaman, namun tetap saja menjadi korban. Daya magnet Malioboro sangat kuat, apalagi dengan wajah Malioboro yang sekarang. Penataan tempat dan perbaikan fasilitas yang terjadi di sekitar Kawasan Malioboro mampu memperindah dan memberikan kenyamanan bagi masyarakat. Disisi lain, para penguasa restoran cepat saji dan café modern yang mengatasnamakan modernisasi ala Barat lambat laun akan menggusur restoran dan café yang mengusung kesederhanaan dan kearifan lokal. Penciptaan karya imajinasi visual fotografi ini mengambil idiom-idiom estetika yang lebih menekankan pada idiom parody. Bakhtin dalam piliang (2003:214) juga menyatakan parodi sebagai suatu bentuk dialogisme tekstual (textual dialogism): dua teks atau lebih bertemu dan berinteraksi dalam bentuk dialog, yang dapat berupa keritik serius, polemik, sindiran atau hanya sekedar permainan dan lelucon dari bentuk-bentuk yang ada. Parodi tersebut merupakan bentuk representasi palsu

    Old Print: Karya fotografi menuju ekonomi kreatif

    No full text

    CITRA DAN TANDA MALIOBORO DALAM KONSTRUKSI FOTOGRAFI

    Full text link
    Perkembangan zaman akan mengubah citra dan simbol Malioboro. Citra kawasan yang dulunya asri dan nyaman itu sekarang berubah menjadi semrawut dan tidak nyaman lagi. Keadaan ini menstimulasi ide penciptaan karya bahwa ruang publik Malioboro yang semrawut dan tidak nyaman itu dipersonifikasikan sebagai rumah besar yang ruang-ruangnya telah disekat-sekat layaknya kamar pribadi yang nyaman dengan kamar yang memiliki keunikan sendiri-sendiri. Konsep penciptaan dan perwujudan ini merupakan kumpulan objek imaji visual fotografi yang realistis untuk dikonstruksikan kembali dengan tujuan menghasilkan realitas imajiner. Pendekatan teori penciptaan ini adalah citra, konstruksi fotografi, dan makna. Proses eksperimentasi dan pembentukan karya diawali dari imaji-imaji visual fotografi yang dikumpulkan, diseleksi, dan direpresentasikan dengan citra objek kaum urban yang berjuang untuk hidup dan ruang cagar budaya yang terpinggirkan oleh bangunan modern di Malioboro melalui imaji visual fotografi. Imaji-imaji visual fotografi dari suatu realitas imaji masa lalu tersebut diimajinasikan ke masa yang akan datang untuk dikonstruksi kembali menjadi kesatuan dengan menggunakan teknik montase dan kolase digital imaging ke bentuk imajinasi visual fotografi yang imajinatif dan bernilai kreatif estetis untuk dimaknai kembali pada keadaan sekarang. Penciptaan karya ini tidak lagi berbicara tentang tataran teknis saja, namun juga berbicara tentang estetika, citra, tanda-tanda dan makna baru di dalamnya. Melalui penciptaan karya ini, masyarakat diharapkan dapat mengetahui citra, proses konstruksi, penyajian penciptaan karya, dan makna yang dihadirkan kembali dari perwujudan imaji ke bentuk karya imajinasi visual fotografi yang bernilai kreatif estetis. Karya imajinasi visual fotografi ini diharapkan menjadi media untuk mengungkapkan perasaan atau ekspresi dan emosi estetis pencipta dalam bentuk parodi visual. Penciptaan ini diharapkan dapat bermanfaat untuk memperkaya khazanah citra/imaji/makna baru dan untuk membangun rasa memiliki serta kesadaran akan permasalahan tata kehidupan dan tata ruang Malioboro sekarang ini

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
    corecore