81 research outputs found
Pengaruh Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Model Think Pair Share (TPS) terhadap Hasil Belajar Afektif dan Hasil Belajar Psikomotor Siswa Kelas X SMA Diponegoro Tumpang Malang.
ABSTRAK Astuti, Rina Dwi. 2011. Pengaruh Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Model Think Pair Share (TPS) terhadap Hasil Belajar Afektif dan Hasil Belajar Psikomotor Siswa Kelas X SMA Diponegoro Tumpang Malang. Skripsi, Jurusan Biologi Program Studi Pendidikan Biologi, FMIPA UM. Pembimbing (I) Drs. Sarwono, M.Pd, (II) Sitoresmi Prabaningtyas, S.Si.,M.Si. Kata Kunci: TPS, kemampuan berpikir kritis, hasil belajar Menurut Hasibuan (1991) penerapan diskusi dalam kelompok kecil (TPS) dapat memberi kesempatan pada siswa untuk berlatih memecahkan masalah, mengembangkan sikap sosial, saling membantu (afektif) dan keterampilan dalam hidup (psikomotor) merupakan ciri dari pendidikan kebudayaan di Indonesia. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu karena pada eksperimen ini belum memenuhi persyaratan yang dapat dikatakan ilmiah mengikuti peraturan tertentu. Subyek penelitian adalah siswa kelas X-1 dan X-2 SMA Diponegoro Tumpang Malang yang berjumlah 24 dan 26 siswa. Teknikanalisis data menggunakan SPSS 16.0 for windows yang sebelumnya dilakukan uji prasyarat untuk melihat data yang ada telah terdistribusi secara normal. Rancangan penelitian ini, kelas eksperimen diajar dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif model TPS sedangkan kelas kontrol dengan metode pembelajaran model konvensional dalam hal ini ceramah. TPS merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Struktur yang dimaksudkan sebagai alternatif pengganti terhadap struktur kelas tradisional. Pembelajaran model ini menantang siswa dengan pertanyaan terbuka dan memberi siswa waktu untuk memikirkan pertanyaan tersebut. Hal ini penting agar siswa mampu memikirkan alternatif jawaban yang akan diberikan dengan menghubungkannya dengan konsep yang telah dimiliki sebelumnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) penerapan metode pembelajaran kooperatif model TPS berpengaruh terhadap hasil belajar afektif siswa yang ditunjukkan dengan hasil probabilitas >0,05 (0,336); (2) penerapan metode pembelajaran kooperatif model TPS berpengaruh terhadap hasil belajar psikomotor siswa yang ditunjukkan dengan hasil probabilitas F hitung
Pengaruh Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Model Think Pair Share (TPS)terhadap Kemampuan Berpikir Kritis dan Hasil Belajar Siswa Kelas X SMA Diponegoro Tumpang Malang
ABSTRAK Astuti, Rina Dwi. 2011. Pengaruh Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Model Think Pair Share (TPS)terhadap Kemampuan Berpikir Kritis dan Hasil Belajar Siswa Kelas X SMA Diponegoro Tumpang Malang. Skripsi, Jurusan Biologi Program Studi Pendidikan Biologi, FMIPA UM. Pembimbing (I) Drs. Sarwono, M.Pd, (II) Sitoresmi Prabaningtyas, S.Si.,M.Si. Kata Kunci: TPS, Kemampuan Berpikir Kritis, dan hasil Belajar Siswa Menurut Hasibuan (1991) penerapan diskusi dalam kelompok kecil (TPS) dapat memberi kesempatan pada siswa untuk berlatihmengembangkan aspek afektif dan aspek psikomotor yang merupakan ciri dari pendidikan kebudayaan di Indonesia. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu karena pada eksperimen ini belum memenuhi persyaratan yang dapat dikatakan ilmiah mengikuti peraturan tertentu. Subyek penelitian adalah siswa kelas X-1 dan X-2 SMA Diponegoro Tumpang Malang yang berjumlah 24 dan 26 siswa. Teknik analisis data menggunakan SPSS 16.0 for windows yang sebelumnya dilakukan uji prasyarat untuk melihat data yang ada telah terdistribusi secara normal. Rancangan penelitian ini, kelas eksperimen diajar dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif model TPS sedangkan kelas kontrol dengan metode pembelajaran model konvensional dalam hal ini ceramah. TPS merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Struktur yang dimaksudkan sebagai alternatif pengganti terhadap struktur kelas tradisional. Pembelajaran model ini menantang siswa dengan pertanyaan terbuka dan memberi siswa waktu untuk memikirkan pertanyaan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) penerapan metode pembelajaran kooperatif model TPS berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis siswa yang ditunjukkan dengan nilai probabilitas >0,05 (0,966) (2) penerapan metode pembelajaran kooperatif model TPS berpengaruh terhadap hasil belajar afektif siswa yang ditunjukkan dengan nilai probabilitas >0,05 (0,336) dan hasil belajar psikomotor siswa yang ditunjukkan dengan nilai probabilita
Meningkatkan minat dan prestasi belajar operasi hitung dalam soal cerita dengan metode inkuiri kelas IV SD Negeri Banyudono 1 Dukun Magelang
Pengaruh pemberian jangka panjang ekstrak etanol kulit Persea americana Mill. terhadap kadar albumin pada hati tikus terinduksi karbon tetraklorida
PERCERAIAN DALAM PERSPEKTIF GENDER (Studi Deskriptif Kualitatif Tentang Latar Belakang Perempuan yang Melakukan Gugatan cerai Terhadap Suaminya di Kota Surabaya)
Saat ini banyak perempuan yang tidak mau menerima nasib mereka begitu saja. Mereka tidak mau lagi menderita dan lemah perilaku yang tadinya dianggap sebagai kewajaran dan merupakan persoalan interen keluarga, seperti perselingkuhan suami, pemukulan, pelecehan bahkan perkosaan dalam perkawinan yang notabene termasuk kekerasan, telah dianggap sebagai alasan yang cukup untuk melakukan gugatan cerai terhadap suaminya. Hal ini terbukti dengan meningkatnya angka perceraian, khususnya cerai gugat di kota Surabaya dari tahun-ketahun. Padahal dampak perceraian bukanlah masalah yang kecil, banyak kesulitan-kesulitan yang akan dihadapi.
Pada penelitian ini, permasalahan yang akan dikaji adalah bagaimana profil atau karakteristik perempuan yang melakukan gugatan cerai terhadap suaminya, hal-hal yang melatarbelakangi perempuan menggugat cerai suaminya, serta bagaimana intervensi atau campur tangan pihak lain terhadap konflik dan keputusan perempuan untuk menggugat cerai suaminya.
Dalam penelitian ini menggunakan tipe penelitian deskriptif, dimana peneliti menyajikan gambaran tentang latar belakang perempuan menggugat cerai suaminya. Dari data sekunder dan primer yang diperoleh dialasis secara kualitatif Pada dasarnya penelitian ini adalah penelitian yang berperspekstif sosiologi gender dengan lokasi penelitian diambil secara purposive yakni Surabaya. Para informan adalah perempuan yang telah secara resmi bercerai dengan cara mengajukan gugatan terlebih dahulu ke Pengadilan Agama, dan menetap di Surabaya. Para informan ini dipilih dengan menggunakan teknik, dimana melihat ruang lingkup permasalahan yang masuk lingkup pribadai maka diperlukan adanya ketersediaanl kesukarelaan dari remaja perempuan untuk menjadi informan. Pada akhimya informan yang berhasil diwawancarai sebanyak 12 orang. Pengumpulan data dilakukan melalui indepth interview dengan menggunakan pedoman wawancara (gUide interview) yang lebih menyerupai dialog bebas. Data yang berhasil dikumpulkan kemudian dianalisis dengan dikategorikan dan diproses melalui pemetaan (mapping) dan menghubungkan k1asifikasi dengan referensi teori yang ada.
Dari data yang terkumpul , informan memiliki karakteristik yaitu mayoritas menikah pertama kali pada usia yang masih muda yaitu antara 20-24 tahun, memiliki sedikit anak yaitu 1-2 anak, mayoritas bercerai pada usia perkawinan yang ke 6-10 tahun dangan didahului konflik pada tahun-tahun pertama perkawinannya, mayoritas setelah menikah informan tidak tinggal sendir, tetapi tinggal dirumah mertua atau orang tua, memiliki pendidikan yang cukup tinggi pada tingkat menengah dan atas (SMA sampai Perguruan tinggi), serta mendapatkan pola asuh dari orang tua secara demokratis dan permisif
Dengan temuan dan analisis data dapat disimpulkan bahwa latar belakang informan menggugat cerai suaminya dipicu adanya perbedaan pandangan tentang perkawinan dengan kenyataan yang dialami. Selain itu juga ada perbedaan penetapan peran ideal suami dan istri dalam sebuah perkawinan. Dimana disatu sisi informan sudah mengalami perubahan peran dan status dari yag semula hanya menjadi ibu rumah tangga, menjadi seorang istri yang bisa membantu suami mencari nafkah. Para informan menuntut adanya pengertian dari pihak suami untuk bisa memahami kesulitannya dalam menjalani peran gandanya. Tetapi tampaknya dari pihak suami tidak bisa memahami kesulitan istri. Suami masih memiliki pandangan bahwa seorang suami adalah kepala rumah tangga yang memiliki kekuasaan penuh, sedangkan istri dituntut harus bisa mengetjakan tugasnya dengan baik. Adapun hal-hal yang menyebabkan perempuan menggugat cerai suaminya adalah karena suami tidak bisa menjalankan tugas dan kewajibannya terhadap rumah tangga dan anak (seperti jarang pulang kerumah, tidak memberi nafkah yang layak, dan tidak ada kepastian waktu dirumah), suami berselingkuh, adanya campur tangan dan tekanan dari pihak suami dan kerabatnya, serta karena kurangnya komunikasi, perhatian dan kedekatan emosional dengan pasangannya.
Intervensi pihak lain dalam konflik sangat berperan dalam memperbesar atau memperburuk konflik yang ada. Pihak-pihak yang terlibat dalam konflik maupun yang menyebabkan konflik adalah wanita lain (WIL) dengan segala caranya menarik perhatian suami informan, Mertua dan kerabat suami dengan cara ikut campur dalam pegambilan keputusan, memojokkan informan ataupun menggunakan kata-kata yang bisa menyakitkan informan. Sedangkan intervensi pihak lain dalam pengambilan keputusan informan dari pihak diluar keluarga memiliki peran yang cukup besar dalam mempengaruhi informan untuk menggugat cerai suaminya. Terlebih lagi apabila ada suatu jaminan akan adanya kehidupan yang lebih baik bagi informan setelah bercerai dari suaminya
Avaluasi program pengajian Dhuaha masjid Agung At-Tin TMII-Pondok Gede
Masjid agung At-Tin adalah salah satu masjid yang besar dan cukup terkenal di jakarta yang di dalamnya terdapat bermacam-macam program, terutama program pengajianya. Salah satu dari program pengajianya adalah program pengajian dhuha. Menariknya dalam program ini adalah penceramah yang mengisi pengajian ini adalah para tokoh-tokoh agama agama yang terkemuka .program pengajian ini bertujuan untuk memudahkan masyarakat menimba ilmu khususnya ilmu yang mempelajari nilai-nilai tentang islam agar menjadi masyarakat yang berilmu serta berakhlak dan berkepribadian yang beriman dan bertaqwa. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa pengajian sebagai lembaga pendidikan agama non formal, merupakan wadah bagi penerapan konsep pendidikan. Minal mahdi ilal lahdi. yaitu pendidikan seumur hidup dan merupakan sarana bagi pengembangan gagasan pembangunan berwawasan Islam. Sebagai media silaturrahmi merupakan wahana bagi persemaian persaudaraan Islam (ukhuwah Islamiyah) yang di dalamnya mengandung konsep Islam tentang persaudaraan antar bangsa dan persaudaraan antar sesama umat manusia. Dengan demikian pengajian sebagai lembaga pendidikan agama non formal adalah termasuk lembaga atau sarana dakwah Islamiyah yang dapat mengembangkan kegiatan yang berfungsi untuk membina dan mengembangkan ajaran Islam dalam rangka membentuk masyarakat yang bertaqwa kepada Allah SWT. Untuk mengukur apakah program tersebut berjalan dan berhasil atau tidaknya maka di perlukan evaluasi � evaluasi terhadap program tersebut. Kegiatan ini dapat di lakukan dengan mengamati sejauh mana penilaian program pengajian dhuha. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan model evaluasi input yang di gunakan oleh pietrzak dkk. Di dalam evaluasi input ini terdapat variabel-variabel yang ingin penulis ketahui bagaiman karakteristik sasaran penerima kegiatan program(klien/ jamaah) benar-benar sesuai dengan sasaran dan tujuan program yang di tetapkan oleh pengurus pengajian dhuha yaitu (FPMAA) Forum Pengajian Dhuha Masjid Agung At-Tin, dan bagaimana kualifikasi para staff pelaksana program dalam menjalankan program kerjanya, dan bagaimana fasilitas yang di gunakan dalam pelaksanaan program pengajian dhuha. Untuk penelitian ini, penulis menggunakan metodologi penelitian pendekatan deskriptif kualitatif yaitu dengan melakukan penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat di amati. Hasil penelitian dan analisis yang di lakukan menunjukan bahwa pelaksanaan program pengajian dhuha telah sesuai dengan tujuanya yaitu dilihat dari karakteristik jamaah, staff pelaksana proram,serta fasilitas yang di gunakan dalam pelaksanaan. Kedepanya di harapkan Forum Pengajian Masjid Agung At- Tin secara berkala melakukan evaluasi terhadap program pengajian dhuha guna melihat apakah program-program tersebut telah sesuai dengan tujuan dan sasaran yang telah di tetapkan
PERBEDAAN EFEK KONSELING GIZI MENGGUNAKAN LEAFLET DAN TEXT MESSAGING DENGAN PEMILIHAN BAHAN MAKANAN PADA PASIEN DIABETES MELITUS
Latar belakang : Diabetes menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat global karena setiap
tahun terjadi peningkatan prevalensinya. Terdapat empat pilar utama dalam pengelolaan diabetes
melitus, yaitu pengaturan pola makan, latihan jasmani, obat dan edukasi. Pengaturan pola makan
pada diabetes melitus sangat penting untuk mengontrol kadar gula darah. Salah satu faktor yang
mempengaruhi kadar gula darah adalah pemilihan bahan makanan. Selain pengaturan pola makan,
salah satu pilar pengelolaan pada diabetes melitus adalah edukasi. Edukasi pada diabetes melitus
dapat menggunakan berbagai media, salah satunya dengan konseling gizi. Pasien diabetes
memerlukan perubahan yang konsisten terhadap pola makan dan pola hidup sehat, sehingga
pemberian edukasi lanjutan diharapkan dapat mendukung perubahan tersebut.
Tujuan : Mengetahui perbedaan efek konseling gizi menggunakan leaflet dan text messaging
dengan pemilihan bahan makanan pada pasien diabetes melitus.
Metode : Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental semu dengan rancangan randomized
control group pretest postest. Sampel yang diteliti adalah seluruh anggota Persadia di RSUD Kota
Yogyakarta yang memenuhi kriteria inklusi. Variabel yang diteliti meliputi efek konseling gizi
dengan leaflet dan text messaging, serta pemilihan bahan makanan (indeks glikemik dan glikemik
load).
Hasil : Terdapat perbedaan pre dan post test pada pemilihan bahan makanan pada kelompok leaflet
(p-value < 0,05). Tidak ada perbedaan pre dan post test pemilihan bahan makanan pada kelompok
leaflet disertai text messaging. Ada perbedaan rata-rata pemilihan bahan makanan dengan kategori
indeks glikemik ketiga kelompok pada pretest namun tidak signifikan secara statistik.
Kesimpulan : Tidak ada perbedaan efek konseling gizi menggunakan leaflet dan text messaging
dengan pemilihan bahan makanan pada pasien diabetes melitus
Daya prediksi tes masuk mahasiswa terhadap prestasi akademis mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta : studi kasus mahasiswa rumpun ekonomi angkatan 1994/1995
- …
