12 research outputs found

    Determinants of Farmer Participation in Farm Insurance in Kembaran District

    No full text
    Pertanian merupakan sektor yang penuh dengan ketidakpastian dan resiko yang tinggi. Salah satu upaya pemerintah dalam menekan hal itu ialah dengan program asuransi pertanian. Asuransi pertanian menjamin lahan petani dari ancaman kegagalan panen yang mungkin terjadi. Desa Karangsari Kecamatan Kembaran merupakan salah satu wilayah yang aktif dalam program asuransi pertanian. Meski begitu, keikutsertaan asuransi pertanian di Desa Karangsari tidak menyeluruh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis apakah usia, pendidikan, keaktifan petani dalam kelompok, pengalaman bertani, luas lahan, dan status kepemilikan lahan mempengaruhi partisipasi petani dalam asuransi pertanian. Penelitian ini menggunakan data primer dengan sistem wawancara berdasarkan kuisioner. Sampel dalam penelitian ini ditentukan dengan Taro Yamane karena telah diidentifikasi jumlah populasi dalam penelitian ini. Alat analisis yang digunakan adalah regresi logistik untuk mengetahui apakah usia,pendidikan, keaktifan petani dalam kelompok, pengalaman bertani, luas lahan,dan status kepemilikan lahan mempengaruhi partisipasi petani dalam asuransi pertanian. Hasil dari penelitian ini yaitu, (1) usia, pendidikan, dan pengalaman bertani tidak berpengaruh signifikan terhadap partisipasi petani dalam asuransi pertanian,(2) keaktifan petani dalam kelompok, luas lahan, dan status kepemilikan lahan berpengaruh signifikan terhadap partisipasi petani dalam asuransi pertanian. Implikasi dari penelitian ini yaitu, (1) karena keaktifan dalam kelompok tani memiliki pengaruh positif signifikan maka dapat dijadikan masukan bagi instansi/instansi terkait dalam mengembangkan program pertanian, salah satunya asuransi pertanian melalui pendekatan pada kelompok tani melalui sosialisasi kelompok tani, (2) banyaknya asuransi pertanian diikuti oleh pemilik lahan dan petani dengan lahan budidaya besar. Seharusnya menjadi masukkan pentingnya sosialisasi dari instansi/instansi terkait bagi petani kecil untuk dapat berkembang dengan mengikuti program pertanian, salah satunya asuransi pertanian

    Strategi Pengembangan Desa Wisata Gegesik Kulon Kabupaten Cirebon

    No full text
    Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki keragaman destinasi wisata yang tersebar di berbagai daerah. Keragaman destinasi wisata tersebut merepresentasikan ciri dan karakteristik masing-masing daerah. Sektor pariwisata masih menjadi sektor yang diandalkan dalam meningkatkan pertumbuhan perekonomian daerah khususnya di pedesaan. Melalui program pembangunan desa wisata yang digagas oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, desa wisata diharapkan dapat memberikan kebermanfaatan dan nilai ekonomi bagi masyarakat disekitar. Salah satu desa wisata yang ada di Indonesia dengan ciri khas dan karakteristik yang unik berada di Kabupaten Cirebon yakni Desa Wisata Gegesik Kulon. Desa Wisata Gegesik Kulon merupakan desa wisata kebudayaan dan kesenian yang menawarkan pengalaman berwisata sekaligus edukasi pelestarian budaya. Desa Wisata Gegesik Kulon terkenal akan kebudayaan dan kesenian dari masyarakatnya yang bermatapencaharian sebagai seniman. Selain itu, atraksi-atraksi kesenian dan kebudayaan digelar secara rutin untuk memeriahkan Desa Wisata Gegesik Kulon. Dengan potensinya tersebut, Desa Wisata Gegesik Kulon meraih gelar desa wisata terbaik di Indonesia pada ajang penganugrahan desa wisata Indonesia. Ironinya, dengan segudang prestasi dan potensi yang ada tidak sejalan dengan kondisi perekonomian di daerah tersebut. Tingkat kemiskinan tertinggi di Kabupaten Cirebon berada di daerah Gegesik. Selain tidak optimalnya pengembangan desa wisata yang ada, dukungan stakeholder masih lemah dalam mengembangkan Desa Wisata Gegesik Kulon. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis mengetahui stakeholder yang terlibat dalam pengembangan Desa Wisata Gegesik Kulon, hubungan antar stakeholder, konsep Desa Wisata Gegesik Kulon dan strategi pengembangannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan campuran (mixed method). Populasi dalam penelitian ini ditentukan dengan non probability sampling dan responden dipilih dengan metode purposive sampling. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini yakni menggunakan konsep Quadruple Helix berupa akademisi, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini berupa deskriptif kualitatif, Matrix of Alliances and Conflicts: Tactics, Objectives and Recommendations (MACTOR), dan Analytical Network Process (ANP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa stakeholder yang terlibat dalam pengembangan Desa Wisata Gegesik Kulon diantaranya Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kabupaten Cirebon, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cirebon, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Cirebon, Akademisi Kabupaten Cirebon (Universitas Muhammadiyah Cirebon), Kecamatan Gegesik, Kuwu Gegesik Kulon, Kelompok Sanggar Kesenian Desa Wisata Gegesik Kulon, Kelompok Sadar Wisata Desa Wisata Gegesik Kulon, Pedagang di Areal Desa Wisata Gegesik Kulon, dan Wisatawan Desa Wisata Gegesik Kulon. Aktor utama dalam pengembangan Desa Wisata Gegesik Kulon yang memiliki pengaruh paling tinggi yakni Kuwu Gegesik Kulon, Kelompok Sadar Wisata Gegesik Kulon, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cirebon, dan Akademisi di Kabupaten Cirebon, sedangkan stakeholder yang memiliki pengaruh paling rendah yakni pedagang di areal Gegesik Kulon. Selain itu, stakeholder dengan tingkat ketergantungan tinggi terhadap stakeholder lain yakni Kuwu Gegesik Kulon, sedangkan stakeholder dengan tingkat ketergantungan yang terendah terhadap stakeholder lain yakni Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Cirebon. Stakeholder dengan daya saing tertinggi yakni Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cirebon disusul Kuwu Gegesik Kulon, dan Akademisi di Cirebon. Hubungan konvergensi terkuat stakeholder yakni Kelompok Sadar Wisata Gegesik Kulon, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Gegesik Kulon, dan Kuwu Gegesik Kulon. Stakeholder tersebut menjadi actor utama pengembangan Desa Wisata Gegesik Kulon, sedangkan actor – actor lain menjadi daya dukung dalam pengembangan Desa Wisata Gegesik Kulon. Selain itu, tidak ada hubungan divergensi antar stakeholder yang menunjukkan semua stakeholder memiliki hubungan sejalan, searah, dan tujuan yang sama dalam pengembangan Desa Wisata Gegesik Kulon. Desa Wisata Gegesik Kulon menawarkan pariwisata daerah yang dikemas dengan pelestarian kebudayaan dan kesenian Gegesik Kulon. Salah satu unsur utama dalam Desa Wisata Gegesik Kulon adalah budaya dan tradisi lokal yang kental hingga saat ini. Aktivitas – aktivitas budaya dan tradisional menjadi daya tarik utama bagi wisatawan yang ingin mengenal dan merasakan pengalaman baru mempelajari kebudayaan masyarakat setempat. Selain itu, tumbuh berbagai sanggar – sanggar kelompok kesenian seperti sanggar lukis kaca, sanggar tatah sungging wayang kulit, sanggar kegiatan kendang, sanggar tari topeng, dan lainnya. Desa Wisata Gegesik Kulon sebagai wisata minat khusus dan akan bertransformasi menjadi desa wisata mandiri tentu membutuhkan daya dukung yang kuat dan integrasi dari berbagai stakeholder yang mengoptimalkan peran dan kontribusinya dalam Desa Wisata Gegesik Kulon. Prioritas aspek pengembangan Desa Wisata Gegesik Kulon yakni aspek kelembagaan, prioritas permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan Desa Wisata Gegesik Kulon yakni integritas yang belum kuat antar stakeholder, Adapun prioritas solusi yang dilakukan dalam pengembangan Desa Wisata Gegesik Kulon yakni mengikuti berbagai event – event kebudayaan di Cirebon maupun diluar Cirebon. Berdasarkan aspek, permasalahan, dan solusi yang dilakukan diperoleh strategi – strategi pengembangan yakni mengintegrasikan peran antar stakeholder dalam pengembangan Desa Wisata Gegesik Kulon, mengoptimalkan peran teknologi digital sebagai sarana pengembangan promosi dan event Desa Wisata Gegesik Kulon, mengadakan pekan kesenian dan paket wisata budaya untuk Desa Wisata Gegesik Kulon, meningkatkan kreativitas dan inovasi hasil karya kesenian sehingga dapat mengikuti perkembangan jaman, dan membentuk kelembagaan / organisasi kesenian yang professional dan mewadahi aspirasi – aspirasi pekerja seni

    Pengaruh Penambahan Nanoselulosa Kulit Durian (Durio zibethinus Murr.) terhadap Kekuatan Tarik Diametral Glass Ionomer Cement Konvensional

    No full text
    Glass Ionomer Cement adalah bahan yang digunakan dalam kedokteran gigi modern karena daya rekatnya, warna gigi dan kemampuannya melepaskan ion fluoride. Bahan glass ionomer cement membutuhkan perkuatan untuk menambahkan serat nanoselulosa pada kulit durian (Durio zibethinus Murr.) untuk meningkatkan kekuatan tarik diameter. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan serat nanoselulosa kulit durian (Durio zibethinus Murr.) terhadap kuat tarik diameter Glass Ionomer Cementkonvensional. Sifat penelitian ini adalah laboratorium dan desain penelitian yang digunakan adalah desain kelompok kontrol hanya setelah pengujian. Sebanyak 36 sampel dibagi menjadi 4 kelompok. Dengan kata lain, ini adalah glass ionomer cement konvensional yang mencampur nanoselulosa serat kulit durian (Durio zibethinus Murr) pada konsentrasi 0,5%, 1%, dan 1,5% dan tidak menambahkan nanoselulosa. Nanoselulosa dicirikan dengan menggunakan mikroskop elektron transmisif untuk mengetahui bentuk dan ukuran partikel serta menggunakan uji infra merah transformasi Fourier untuk mengidentifikasi jenis gugus fungsi dan ikatan kimia dalam senyawa. Selanjutnya, Mesin Uji Universal digunakan untuk menguji kekuatan tarik radial sampel. Analisis data menggunakan One-Way ANOVA dilanjutkan dengan uji beda nyata minimal. Hasil uji mikroskop elektron transmisi menunjukkan bahwa bentuk partikel nanoselulosa adalah seperti kumis dengan panjang rata-rata 236 nm dan lebar 23 nm. Hasil spektroskopi inframerah transformasi Fourier menunjukkan hasil gugus fungsi CO, COC, CH dan OH yang merupakan gugus fungsi khas nanoselulosa. Hasil analisis statistik menunjukkan kekuatan tarik diametral pada glass ionomer cement tanpa penambahan nanoselulosa serat kulit durian menunjukkan nilai rerata dan standar deviasi yaitu 7,647 ± 1,838 MPa, penambahan 0,5% nanoselulosa serat kulit durian dengan hasil rerata dan standar deviasi 10,095 ± 0,741 MPa, penambahan 1% nanoselulosa serat kulit durian dengan hasil rerata dan standar deviasi 12,529 ± 0,824 MPa, dan penambahan 1,5% nanoselulosa serat kulit durian dengan hasil rerata dan standar deviasi 15,051 ±1,114 MPa. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat pengaruh penambahan nanoselulosa serat kulit durian (Durio zibethinus Murr.) terhadap kekuatan tarik diametral glass ionomer cement konvensional

    Stakeholder Collaboration Strategy in the Development of Gegesik Kulon Tourism Village: A MACTOR Analysis

    No full text
    This study explores the development strategy of Gegesik Kulon, a potential tourism village in Cirebon that uniquely combines travel with cultural preservation. However, it faces challenges such as suboptimal tourism management and low carrying capacity among stakeholders. Additionally, this area has the highest poverty rate in Cirebon Regency. By utilizing the MACTOR method, this study identifies the involvement of stakeholders in the development process of the Gegesik Kulon Tourism Village. Through purposive sampling based on the Quadruple Helix concept, the study highlights the importance of collaboration among academics, local governments, tourists, and business actors. The results indicate that the main actors include Kuwu Gegesik Kulon, the Tourism Awareness Group, the Cirebon Regency Culture and Tourism Office, and academics, all of whom play a crucial role in the development of village tourism. These findings advocate for a development strategy that emphasizes stakeholder integration to promote sustainable tourism, ultimately aiming to enhance the economic viability and integrity of Gegesik Kulon's cultural tourism

    Analyzing The Factors Affecting Farmer Engagement in Farm Insurance in Karangsari, Banyumas

    No full text
    Agriculture is a sector characterized by uncertainty and high risk. One of the government policies aimed at mitigating this risk is the farm insurance program. Karangsari Village in Kembaran is one of the areas that actively implements this program. However, participation in farm insurance in Karangsari Village is not optimal. This study aims to analyze the influence of age, education, farmers\u27 activeness in groups, farming experience, land area, and land ownership status on participation in farm insurance. These characteristics are considered distinguishing variables that are thought to affect farmer participation. The samples for this study were determined using Taro Yamane. The analysis method employed is logistic regression to assess how age, education, farmers\u27 activeness in groups, farming experience, land area, and land ownership status impact participation in farm insurance. The results showed that age, education, and farming experience did not have a significant effect on farmers\u27 participation in farm insurance, while farmers\u27 activeness in groups, land area, and land ownership status did have a significant effect. In this context, farmers with potential agricultural assets are more likely to participate in farm insurance

    Stakeholder Collaboration Strategy in the Development of Gegesik Kulon Tourism Village: A MACTOR Analysis

    No full text
    This study explores the development strategy of Gegesik Kulon, a potential tourism village in Cirebon that uniquely combines travel with cultural preservation. However, it faces challenges such as suboptimal tourism management and low carrying capacity among stakeholders. Additionally, this area has the highest poverty rate in Cirebon Regency. By utilizing the MACTOR method, this study identifies the involvement of stakeholders in the development process of the Gegesik Kulon Tourism Village. Through purposive sampling based on the Quadruple Helix concept, the study highlights the importance of collaboration among academics, local governments, tourists, and business actors. The results indicate that the main actors include Kuwu Gegesik Kulon, the Tourism Awareness Group, the Cirebon Regency Culture and Tourism Office, and academics, all of whom play a crucial role in the development of village tourism. These findings advocate for a development strategy that emphasizes stakeholder integration to promote sustainable tourism, ultimately aiming to enhance the economic viability and integrity of Gegesik Kulon's cultural tourism

    Digitization System Of Gegesik Kulon Tourism Village Using Swot Approach

    No full text
    The government is targeting the development of independently certified Tourism Villages in various villages. The development of Tourism Villages is a development program that can encourage economic growth in the village. The development of a tourism village does not always focus on the development of natural tourism alone but other potentials that are unique and represent the characteristics of the village. Gegesik Kulon Tourism Village is a village with cultural and artistic potential that is still sustainable. Gegesik Kulon Tourism Village became the second best tourism village in Indonesia in 2021. However, limited information, promotion, and digital tourism systems are problems faced in developing the tourist village. Visits that tend to fluctuate and the lack of digital innovation in developing tourist villages are problems in developing digital tourism systems. This research uses a SWOT approach to identify the ideal digitalization system strategy to be developed in Gegesik Kulon Tourism Village. Data was obtained directly by selected respondents who have more authority and knowledge of the development of tourist villages. The results showed that an aggressive strategy in quadrant I was chosen because the potential of Gegesik Kulon Tourism Village was considered feasible to develop. Optimizing internal strengths and maximizing external opportunities in the development of tourism digitalization can be through creative content and other digital strategies. This not only introduces culture and art in the village but also promotes regional tourism in the Gegesik Kulon Tourism Village.Keywords: aggressive, digital, gegesik, swot, tourism, village

    Pelatihan Augmented Reality sebagai Alat Bantu Pembelajaran untuk Guru TK di Banyumas

    No full text
    Minimnya pemanfaatan teknologi dalam proses pembelajaran menjadi kendala yang dihadapi guru TK di Banyumas. Metode konvensional masih mendominasi, sementara potensi teknologi seperti Augmented Reality (AR) belum dimanfaatkan secara optimal. Kegiatan pengabdian ini bertujuan memperkenalkan dan melatih penggunaan teknologi AR sebagai alat bantu pembelajaran interaktif bagi guru TK. Pelatihan dilaksanakan pada 31 Januari 2025 dengan melibatkan 55 peserta dari Forum Kelompok Kerja Guru TK PNS Kabupaten Banyumas. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan, demonstrasi, dan praktik langsung penggunaan aplikasi AR berbasis smartphone. Untuk mengevaluasi efektivitas kegiatan, digunakan metode observasi langsung untuk menilai partisipasi dan keterlibatan peserta, serta penyebaran kuesioner evaluasi kepuasan mitra pada akhir kegiatan menggunakan skala Likert. Hasil observasi menunjukkan peserta antusias dan aktif dalam mengikuti kegiatan, meskipun beberapa mengalami kendala teknis akibat keterbatasan perangkat. Evaluasi melalui survei kepuasan mitra menunjukkan tingkat kepuasan yang tinggi, dengan persentase respons positif di atas 85% untuk seluruh indikator. Secara spesifik, 87,3% peserta menerima dan mengharapkan program ini kembali dilaksanakan, 94,6% merasa nyaman dan terbantu dengan sikap fasilitator, 90,9% merasa program sesuai dengan kebutuhan mitra, dan 92,8% menyatakan pelaksanaan kegiatan telah sesuai dengan tujuan. Kegiatan ini berhasil meningkatkan pemahaman dan keterampilan peserta dalam memanfaatkan teknologi pembelajaran digital, serta membuka peluang pengembangan pelatihan lanjutan secara berkelanjutan

    TOURISM VILLAGE DEVELOPMENT STRATEGY IN KOTAYASA VILLAGE, SUMBANG DISTRICT, BANYUMAS REGENCY THROUGH MACTOR ANALYSIS APPROACH

    No full text
    The purpose of this study was to analyze the development strategy of the Kotayasa Tourism Village. The research was conducted by surveying 13 stakeholders from each agency and actor involved in it. The study used crosstab to determine the characteristics of respondents, followed by logistic regression to determine the demand for Kotayasa Tourism Village Objects, and used La Prospective Mactor analysis to analyze the relationship of actors to the development of Kotayasa Tourism Village. The results of this study indicate that the linkage of actors, actors who have an important role in the development of the Kotayasa Tourism Village include the Village Head, Pokdarwis, and Dinporabudpar, other actors become the carrying capacity in the development of the Kotayasa Tourism Village

    Exploring The Opportunities and Challenges of Digital Currency for Regional Tourism Development in Indonesia

    No full text
    The development of digital currencies provides convenience in accessing various services including regional tourism development. Blockchain technology also allows for innovation in payment systems. Concepts such as "smart contracts" to optimize processes such as booking and paying for accommodation, reducing bureaucracy. This research was conducted to respond to the opportunities and challenges of digital currency in developing regional tourism in Indonesia. The sample in this study was determined by purposive sampling so that ten respondents were obtained from tourism economics lecturers, research experts, tourism economists, tourism practitioners, and tourism businesses. This research uses the SWOT analysis method by identifying strategic factors for regional tourism development by utilizing digital currency. The results showed that an aggressive strategy was chosen in the development of regional tourism by utilizing the development of digital currency in Indonesia. Digital currency can answer the opportunities and challenges of regional tourism in Indonesia to be more developed and sustainable. Digital currency can be a gateway to regional tourism leading to international tourism that is not only in demand by local tourists but foreign tourists. The presence of digital currency is not only limited to the digitization of the tourist payment system but also tourist information, digital currency rates and others. information, digital currency rates and othersKeywords: Aggressive Strategy, Digital Currency, Ecotourism, Local Tourisms, SWO
    corecore