1,720,974 research outputs found
Pharmacists’ interventions in minimising medication misadventure in children with cancer
This study evaluated 1741 interventions by clinical pharmacists to reduce medication misadventure in three clinical units of a children’s hospital in Perth, Australia, documented using snapshot self-report and observation. Commonly, pharmacists’ interventions involved taking medication histories, patient counselling and/or drug therapy changes. Active interventions were randomly assessed by an expert panel for their clinical significance. Root cause analysis was used to assess healthcare professionals’ ability to evaluate medication errors causes and formulate preventative strategies
Analisis Profil Pengobatan, Biaya Medis Langsung dan Kualitas Hidup pada Pasien Hemodialisis di Rumah Sakit Islam Pondok Kopi Jakarta
Hemodialisis adalah suatu cara untuk memperbaiki kelainan fungsi ginjal, dilakukan dengan menggunakan mesin hemodialisis. Terapi hemodialisis membutuhkan waktu yang lama dan biaya mahal yang dapat mempengaruhi kualitas hidup. Metode yang digunakan adalah analisis Cross-Sectional dengan rentang penelitian 2 bulan, pada pasien dewasa yang minimal 12-36 bulan menjalani hemodialisis Pengumpulan data dilakukan dengan retrospektif dari dokumen, untuk menilai kesesuaian manajemen profil pengobatan Eritropoetin dan secara prospektif dari pengisian kuesioner EQ-5D-5L dan VAS (Visual Analogue Scale) kemudian dilakukan analisis data secara deskriptif dan menggunakan analisis Regresi linier berganda untuk mendapatkan korelasi antara karakteristik terhadap kualitas hidup (VAS dan Utility). Terdapat 50 pria dan 50 wanita dengan rentang usia terbanyak >50 tahun, tidak bekerja dan pendidikan SMP/SMA. Status perkawinan terbanyak adalah kawin. Tingkat ekonomi terbanyak berpenghasilan dibawah 4 juta perbulan dengan persepsi kondisi ekonomi merasa miskin. Profil pengobatan memperlihatkan terjadi ketidaksesuaian terapi EPO dengan Hb < 8 g/dL karena pasien mengalami transfusi darah. Perhitungan biaya medis langsung sebesar Rp.1.344.840 lebih besar dibanding tarif INA-CBGs yaitu Rp. 923.100. Berdasarkan analisis regresi linier ada 3 faktor yang paling mempengaruhi kualitas hidup pasien hemodialisis yaitu status perkawinan, lama menjalani hemodialisis dan kemampuan mobilitas. Profil pengobatan pasien HD mengalami ketidaksesuaian terapi, baik pada pemberian obat HD dan obat penyakit penyerta. Biaya medis langsung lebih besar dari tarif standar INA_CBGs yang ditetapkan. Sementara itu, kualitas hidup sebagian besar pasien PGK yang menjalani hemodialisis memiliki tingkatan kualitas hidup yang sangat baik
ANALISIS PROFIL PENGOBATAN, BIAYA PERSPEKTIF RUMAH SAKIT DAN HROQoL PADA PASIEN HEMODIALISIS RAWAT JALAN DI RSUP FATMAWATI JAKARTA
Latar belakang :Hemodialisis adalah suatu cara untuk memperbaiki kelainan fungsi ginjal, dilakukan dengan menggunakan mesin hemodialisis. Terapi hemodialisis membutuhkan waktu yang lama dan biaya mahal yang dapat mempengaruhi kualitas hidup.Tujuan Penelitian Mengetahui manajemen profil pengobatan Eritropetin, biaya perspektif rumah sakit, dan faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hidup pasien hemodialisis rawat jalan di RSUP Fatmawati.Metode Penelitian : Metode yang digunakan adalah analisis Cross-Sectional dengan rentang penelitian 2 bulan, pada pasien dewasa yang minimal 12-36 bulan menjalani hemodialisis Pengumpulan data dilakukan dengan retrospektif dari dokumen, untuk menilai kesesuaian manajemen profil pengobatan Eritropoetin dan secara prospektif dari pengisian kuesioner EQ-5D-5L dan VAS (Visual Analogue Scale) kemudian dilakukan analisis data secara deskriptif dan menggunakan analisis Regresi linier berganda untuk mendapatkan korelasi antara karakteristik terhadap kualitas hidup (VAS dan Utility).Hasil Penelitian : Selama periode 2 bulan jumlah pasien sebanyak 100 orang. Jumlah laki-laki lebih banyak (57 pasien), usia 50-59 tahun sebanyak 30%, 55% bekerja sebagai karyawan, 50% pendidikan SMA, 54% pendapatan kurang Rp 2.000.000,-. Hasil kesesuaian terapi Eritropoetin sudah 100% sesuai menurut pernefri. Biaya riil untuk tindakan hemodialisis sebesar Rp910.570,- lebih kecil dibanding biaya INA-CBGs Rp 982.400,- . Analisis regresi linier VAS menunjukan 3 variabel yang signifikan : depresi (p= 0,003), jenis kelamin (p=0,028), lama hemodialisis (p=0,035). Analisis regresi linier utility ada 1 variabel yang signifikan yaitu pendapatan tiap bulan (p = 0,023).Kesimpulan : kesesuaian terapi untuk menejemen anemia di sesuai dengan standar terapi menurut pernefri. Biaya persepektif rumah sakit lebih kecil daripada biaya INA-CBGs. Ada tiga variabel yang mempengaruhi kualitas hidup VAS yaitu depresi, jenis kelamin dan lama hemodialisis sedangkan kualitas hidup dari aspek utility hanyak dipengaruhi faktor pendapatan per bulan.
Analisis Efektivitas Biaya Seftriakson sebagai Antibiotik Profilaksis Pada Seksio Sesarea: Dosis Tunggal Versus Dosis Berulang
The provision of single-dose prophylactic antibiotics within 30 to 60 minutes before caesarean has been highly recommended, yet its implementation in hospitals varies considerably. This research aimed to analyze the cost-effectiveness of prophylactic antibiotics given a single dose versus multiple doses during caesarean section surgery. A retrospective observational study with a crosssectional design involved pregnant women undergoing caesarean section and receiving a ceftriaxone single dose before surgery (Group 1) versus those receiving multiple ceftriaxone doses (Group 2). The study calculated direct medical costs (hospital perspective), with surgical site infection (SSI) as the effectiveness parameter. The chi-square test was used to compare SSI between the two groups. There were 806 patients (group 1) and A total of 250 patients (Group 2) met the inclusion criteria. Analysis of total cost revealed no significant difference between both groups (approximately IDR 13,000,000/patient), yet patients receiving prolonged Ceftriaxone were associated with significantly higher antibiotic costs (p-0.000). The study documented 1.2% SSI in Group 1 and 0.8% in Group 2 (p=0.742). Calculation of the incremental cost-effectiveness ratio found that an extra IDR 3,278,000 was needed to provide additional success to prevent SSI by administering multiple doses of ceftriaxone. In conclusion, a single dose prophylactic antibiotic provides comparable efficacy to a multiple-dose regimen, but at a lower cost.Panduan klinik merekomendasikan antibiotik profilaksis dosis tunggal 30-60 menit sebelum bedah sesar, tetapi praktek di rumah sakit menunjukkan deviasi dalam implementasinya. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas biaya penggunaan antibiotik profilaksis dosis tunggal versus dosis berulang pada bedah sesar. Penelitian retrospektif observasional dengan desain potong lintang melibatkan subyek penelitian wanita hamil yang menjalani bedah sesar yang menerima seftriakson dosis tunggal sebelum pembedahan (kelompok 1) ataupun yang mendapatkan seftriakson sebelum pembedahan dan diperpanjang selama perawatan (kelompok 2). Biaya yang digunakan adalah biaya medis langsung perspektif rumah sakit dan parameter efektivitas kejadian infeksi daerah operasi (IDO). Uji Chi-Square digunakan untuk membandingkan IDO antara kedua kelompok. Sejumlah 806 pasien (kelompok 1) dan 250 pasien (kelompok 2) memenuhi kriteria inklusi. Analisis biaya total tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan (sekitar Rp 13.000.000/pasien) antara kedua kelompok, tetapi analisis komponen biaya menunjukkan biaya antibiotik pasien dengan dosis berulang signifikan lebih mahal (p=0,000). Pada kelompok 1 terjadi IDO 1,2% dan 0,8% pada kelompok 2 (p=0,742). Perhitungan rasio inkremental efektivitas biaya menunjukkan dibutuhkan tambahan biaya Rp 3.278.000 untuk setiap IDO yang dapat dihindari menggunakan seftriakson profilaksis dosis berulang. Penelitian ini menyimpulkan pemberian antibiotik profilaksis dosis tunggal sebelum bedah sesar menunjukkan efektivitas biaya yang sebanding dibandingkan antibiotik profilaksis dosis berulang
Snapshot versus continuous documentation of pharmacists’ interventions: are snapshots worthwhile?
Background: The documentation of pharmacists’ interventions is important but there are limited studies evaluating the different methods of documentation. Aim: To compare the nature of pharmacists’ interventions documented during snapshots versus direct observation in a paediatric hospital and to gather pharmacists’ opinions on the utility of the different documentation methods. Method: The pattern and rates of pharmacists’ interventions from the snapshot reports and direct observation were compared across five study wards. The snapshots represented pharmacists’ self-reported interventions over a period of 5 days. The researcher observed and documented pharmacists’ interventions for 35–37 non-consecutive days. A focus group discussion was conducted to gather pharmacists’ opinions on the documentation methods. Results: A total of 398 interventions were documented by pharmacists during three snapshots with ‘clarification of medication orders’ being the commonest type of intervention. A total of 982 pharmacists’ interventions were documented during direct observation. The overall rate of pharmacists’ interventions documented during observation was not significantly different compared to that of the snapshots (p = 0.054). However, the rate of active interventions (i.e. interventions leading to a change in drug therapy) was significantly higher (p = 0.002) during direct observation, and the pattern of interventions was significantly different. From the focus group discussion, participants felt that the snapshot reports were an inadequate representation of pharmacists’ clinical activities.Conclusion: Documentation of pharmacists’ active interventions during snapshots was not representative of those documented during observation. This suggests that snapshot data may underestimate the impact of pharmacists’ interventions in minimising medication misadventure amongst paediatric inpatients
Pengaruh Faktor Determinan terhadap Hasil Terapi Hipertensi Pasien pada Tiga Puskesmas di Jakarta Pusat
Hypertension has been known as risk factor of cardiovascular diseases necessitating the good control of blood pressure. The evident also shows the increased number of uncontrolled hypertensive patients. This study aimed to identify the determinants of controlled blood pressure in primary health centre hypertensive patients. The benefits of this research is to educated to public about factors that influence hypertension controlled. This research lasted for five months was conducted through patient interview of respondents meeting inclusion criteria in three primary health centres/PHC (PHC Menteng, PHC Tanah Abang, and PHC Johar Baru). Some data of the interview were validated by reviewing patient’s medical record. There were 26 factors used to analyse the determinants which included sociodemographic, biophysiology, dietary consumption patterns, use of hormonal contraceptives, physical activity, and stress). The result of multivariate regression analysis revealed two significant determinants, namely the presence of cardiovascular diseases (odd ratio/OR = 0,091, P-value = 0,004) and physical activity (OR = 10,647, P-value = 0,002). Patients with history of cardiovascular disease had 10,99 times risk to experience uncontrolled hypertension compared with those with no history of the disease. In addition, patients with routine physical activity at least 5 days/week (150 minutes/week) were 10,647 times to have controlled blood pressured as opposed to their counterpants
Analisis Drug Related Problems dan Pengaruhnya terhadap Pengendalian Glukosa Darah pada Pasien Covid-19 dengan Komorbiditas Diabetes Melitus Tipe 2
This study aims to anayze the effect of drug related problems (DRPs) on glycemic control in COVID-19 patients with comorbid diabetes mellitus type 2. This research is a cross-sectiona study using retrospective data obtained from secondary data from the medica records of Covid-19 patients. with type 2 diabetes mellitus. The research location was at Jati Padang Hospita. The sample consisted of 76 medica records with total sampling method. Data collected using PCNE V9.00 were then tested using the Wilcoxon test comparing initia GDS in hospita with GDS at the end of patient discharge, the Chisquare test which correlated changes in GDS with patient clinica outcomes and the Spearman test which linked changes in GDS with DRPs, characteristics of Covid-19 patients with diabetes mellitus predominant age 46-55 years (30.3%), predominant sex mae (51.3%), length of stay 6-10 days (64.5%), profile of drug use that is often used antivira, antibiotics, vitamins and supplements, symptomatic and antidiabetic (100%). The most common comorbidities were hypertension (60.4%), the incidence of DRPs (92.1%), the most common fina GDS was hyperglycemia (≥ 200 mg/dL) (65.8%). 58 patients were discharged with a negative sample (76.3%). The results of the Wilcoxon test on blood glucose showed differences in blood glucose at the beginning and at the end. The results of the Chi-square test between changes in blood glucose and the patient's clinica outcome (p>0.05) showed that there was no significant relationship between changes in blood glucose levels and the patient's clinica outcome. Spearmen's correlation test results (p>0.05) showed a significant relationship between DRPs and changes in patient's blood glucose. The correlation between the incidence of DRPS and blood glucose (0.169) shows a weak relationship. It can be interpreted that DRPs do not realy affect changes in blood glucose in patients at Jati Padang Hospital.
 
Pengaruh Penerapan Clinical Pathway pada Peresepan Antibiotik Pasien Tifoid Anak di Rumah Sakit Swasta X Kota Bogor: Effect of Clinical Pathway on Antibiotic Prescribing for Children Typhoid Patients at Hospital X Bogor
Tifoid terjadi hampir di seluruh dunia. Untuk mengurangi variasi antibiotik di rumah sakit khususnya pada pasien rawat inapmaka dibuatlah Clinical pathway. Adapun tyjuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh implementasi clinical pathway terhadap peresepan antibiotik untuk pasien Tifoid anak di ruang rawat inap Rumah Sakit Swasta X di Bogor. Penelitian ini bersifat observasional comparative study membandingkan peresepan antibiotik sebelum penerapan clinical pathway dan setelah penerapan clinical pathway. Uji Chi square digunakan untuk membandingkan rasionalitas penggunaan antibiotik, lama rawat dan kesesuaian pilihan antibiotik dengan pedoman. Diperoleh sampel sebanyak 81 orang sebelum penerapan clinical pathway dan 78 orang setelah penerapan clinical pathway. Sebelum penerapan clinical pathway penggunaan antibiotik rasional sebanyak 48.88% dan setelah penerapan clinical pathway meningkat menjadi 67.05%. (p = 0,016). Berdasarkan hasil uji statistik menujukkan pasien yang memiliki lama rawat ? 5 hari sebelum penerapan clinical pathway sebanyak 52 pasien (64.19%) dan sebelum penerapan clinical pathway sebanyak 68 pasien (87.17%) (p = 0,001). Sebanyak 68,89% pemilihan antibiotik sebelum penerapan clinical pathway telah sesuai dengan pedoman tata laksana dan setelah penerapan clinical pathway meningkat menjadi 88.64%. (p = 0,001). Adapun kesimpulan dari penelitian ini adalah implementasi clinical pathway di Rumah Sakit X di kota Bogor telah meningkatkan rasionalitas penggunaan antibiotik
Analisis Faktor Risiko dan Biaya Sendiri pada Pasien Hemodialisis di Rumah Sakit Dr.Marzoeki Mahdi Bogor
Penyakit ginjal kronik (PGK) adalah kondisi dimana terdapat kerusakan secara struktural maupun fungsional pada ginjal dan/atau terjadi penurunan glomerulus filtration rate (GFR) hingga kurang dari 60mL/min/1,73m2 yang terjadi selama lebih dari tiga bulan1. PGK merupakan masalah kesehatan global yang mempunyai prevalensi tinggi dan beban biaya tinggi. Sebagian besar faktor risiko berasal dari faktor risiko yang dapat dirubah seperti prilaku yang berhubungan dengan gaya hidup. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi faktor risiko penyakit ginjal, dan meneliti biaya yang dikeluarkan sendiri oleh pasien yang menjalani hemodialisis Metode yang digunakan adalah metode case control sejumlah 200 pasien dengan perbandingan 1:1. Kelompok kasus berasal dari poli hemodialisis dan kelompok kontrol adalah pasien poli penyakit dalam yang tidak terdiagnosa PGK. Analisis faktor risiko dilakukan dengan menggunakan regresi logistik dan biaya dianalisis secara deskriptif. Berdasarkan penelusuran diperoleh sebaran sosio-demografis sebagai berikut; umur ?40 tahun (53%), perbandingan jenis kelamin (50%:50%), berstatus kawin (87,5%), pendidikan menengah (65,5%), pekerjaan berbasis tenaga (59%), dan merokok (62%). Berdasarkan analisis multivariabel, diperoleh faktor risiko berhubungan dengan PGK adalah : penyakit bawaan (OR=1.6300, P-value=0,001), pekerjaan (OR=26,176, P-value=0,064), hipertensi (OR=181,8, P-value=0,005), merokok (OR=99,38, P-value=0,057), minum air sumur (OR=26,3, P-value=0,095), umur (OR=26,176, P-value=0,064), konsumsi multivitamin dan Herbal (OR=632, P-value=0,022), dan kurang minum (OR=0,11, P-value=0,048). Kesimpulan : 5 faktor yang paling berhubungan dengan terjadinya PGK adalah : umur, pekerjaan berbasis tenaga/otot, konsumsi air sumur, konsumsi multivitamin/herbal dan hipertensi. Rerata biaya dalam satu kali hemodialisis adalah Rp.12.000-Rp.142.133 untuk transportasi, Rp.116.858 untuk peluang produktivitas yang hilang, dan Rp.53.467 untuk pendamping dengan rata-rata waktu pendampingan 3,6 jam/hari
Evaluasi Pelaksanaan Pengendalian Resistensi Antimikroba Dalam Meningkatkan Kualitas Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Rawat Inap Pneumonia Anak
Resistensi antibiotik menyebabkan kurangnya efektivitas terapi yang berdampak pada peningkatan morbiditas dan mortalitas serta pengeluaran perawatan kesehatan. Tujuan penelitian mengevaluasi pelaksanaan pengendalian resistensi antimikroba dalam meningkatkan kualitas penggunaan antibiotik pada pasien rawat inap pneumonia anak di RSD Gunung Jati Cirebon. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-evallualtif dengan pengambilan data rekam medik secara retrospektif tahun 2017 - 2022. Hasil penelitian yaitu Penggunaan antibiotik pasien pneumonia anak mengalami perubahan yang cukup besar. Penggunaan antibiotik sebelum PPRA total DDD 65,17 gram menjadi DDD 46,02 gram sesudah PPRA. Hasil evaluasi metode Gyssens jumlah kasus yang rasional meningkat dari 6 kasus pada sebelum PPRA menjadi 15 kasus pada sesudah PPRA, sedangkan kasus yang tidak rasional mengalami penurunan dari 47 kasus menjadi 32 kasus pada sesudah PPRA dan implementasi PPRA di RSD Gunung Jati Cirebon masih memiliki kekurangan, yakni sosialisasi belum optimal dari KPRA untuk lebih menekankan lagi akan kesadaran dokter menulis resep antibiotik secara rasional, dan ada dukungan dari pihak manajemen rumah sakit
- …
