1,720,999 research outputs found
DINAMIKA STRUKTUR POHON DAN CADANGAN KARBON DI KAWASAN HUTAN HUJAN TROPIK ULU GADUT SUMATERA BARAT
Hutan Sumatera Barat merupakan kelompok hutan hujan tropik yang memiliki fungsi
utama sebagai paru-paru dunia serta dianggap dapat mempengaruhi iklim. Selain itu,
hutan tropik Sumatera Barat juga berfungsi sebagai sumber keanekaragaman hayati.
Kawasan hutan Ulu Gadut merupakan salah satu kawasan hutan tropik basah yang
terletak di jajaran Bukit Barisan Padang Sumatera Barat. Penelitian jangka panjang
pada hutan tropik di kawasan hutan Ulu Gadut telah dirintis dalam suatu kegiatan
riset yang tergabung dalam Sumatera Nature Study Project pada tahun 1980 yaitu
kerjasama antara peneliti Universitas Andalas dengan beberapa peneliti dari berbagai
universitas di Jepang. Salah satu aset yang sangat penting dari kegiatan ini adalah
telah terbentuknya beberapa plot permanen di kawasan hutan Ulu Gadut.
Disertasi ini membahas tentang dinamika struktur pohon dan cadangan karbon
di kawasan hutan Ulu Gadut dalam jangka waktu lebih dari tiga dekade (1981-
2013) dengan harapan bermanfaat untuk penentuan strategi konservasi dan
pengembangan ilmu ekologi hutan di Indonesia pada waktu yang akan datang.
Tujuan penelitian ini adalah :
1. Menganalisis dinamika strukur pohon di kawasan hutan hujan tropik Ulu
Gadut Padang Sumatera Barat.
2. Menganalisis dinamika pertumbuhan relatif pohon di kawasan hutan hujan
tropik Ulu Gadut Padang Sumatera Barat.
iv
3. Menganalisis dinamika cadangan karbon di kawasan hutan hujan tropik Ulu
Gadut Padang Sumatera Barat.
Teknik penarikan contoh dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik sensus
berulang pada semua pohon di masing-masing plot permanen di kawasan hutan Ulu
Gadut. Objek yang digunakan dalam penelitian ini adalah data hasil sensus berulang data
diameter setinggi dada (dbh) pohon hasil penggukuran tahun 1981 hingga 1984
dalam plot Pinang-Pinang dan Gajabuih hasil kumpulan data pada dokumen data Forest
Ecology and Flora of G.Gadut West Sumatra (Hotta, SNS-Botany (1984),
kumpulan data dbh Yoneda tahun 1985 hingga 2007 (tidak dipublikasi) dan
data dbh pada tahun 2013 hasil pengukuran pada saat penelitian dilakukan.
Dinamika struktur pohon yang diamati adalah perubahan komposisi dan struktur
pohon yang terjadi di plot Pinang-pinang, dan Gajabuih kurun waktu 1981 hingga
2013. Pengukuran karakteristik komposisi dan struktur dihitung berdasarkan
Kerapatan (K), Kerapatan Relatif (KR), Frekwensi Relatif (FR), Dominansi, Dominansi
Relatif (DR), indeks Nilai Penting (INP) dan Keanekaragaman Jenis pohon
Penghitungan pertumbuhan pohon didasarkan pada rata-rata pertumbuhan
diameter relatif (Relative Diameter Growth Rate/RDGR). Pertumbuhan pohon
dibedakan berdasarkan lima interval sensus, (periode I, II, III, IV dan V masingmasingnya
1981-1987, 1987-1996, 1996-2002, 2002-2007, 2007-2013), enam kelas
diameter (kelas diameter 8-10, 10.1-20, 20.1-30, 30.1-40, 40.1-50 dan 50 + cm.)
dan tiga kelompok stratifikasi pohon (emergen, canopy dan understory species).
Perhitungan pertumbuhan diameter pohon berdasarkan interval sensus dan kelas
diameter di hitung berdasarkan total jumlah jenis yang bertahan hidup sampai tahun
2013 dari jenis yang ditemukan pada awal penggukuran (1981). Penghitungan
variabel pertumbuhan diameter pohon dalam penelitian ini merupakan rata-rata dari
penjumlahan semua dimensi pertumbuhan diameter pohon di plot Pinang-Pinang.
v
Perubahan pertumbuhan diameter dilakukan dengan membandingkan hasil
pertambahan diameter pohon dalam selang interval sensus dan kelas diameter.
Pertumbuhan dianalisis berdasarkan alih tumbuh dari pohon yang hidup berdasarkan
pertambahan diameter. Pertumbuhan relatif pohon dinyatakan dalam mm/tahun.
Pengukuran potensi karbon mengacu pada pool karbon sesuai dengan Good
Practice Guidance for Land Use, Land-Use Change and Forestry, tahun 2003
dimana pool karbon atau biomassa yang perlu diukur antara lain aboveground
biomass (biomassa di atas tanah), belowground biomass (biomassa dibawah
tanah/akar), soil (tanah). Untuk perhitungan belowground biomass digunakan
pendekatan root shoot ratio atau ratio pucuk dan akar. Metode pengukuran biomasa
pohon menggunakan metode non destruktif. Peubah yang diukur adalah jenis pohon,
jumlah jenis, dan diameter pohon. Untuk menentukan biomasa pohon digunakan
persamaan Allometrik Chave et al., (2005), sebagai fungsi dari diameter dan berat
jenis kayu. Total biomasa merupakan jumlah total dari semua individu, yang
dinyatakan dalam Mg/ha. Sebagai pembanding pengukuran biomasa pohon
digunakan persamaan allometrik Brown (1997). Cadangan karbon pada biomasa
pohon dan akar dihitung dengan mengkonversikan biomasa dalam bentuk karbon.
Biomasa tersebut dikali dengan faktor konversi sebesar 0,5. Cadangan karbon
dinyatakan dalam Mg C/ha/tahun
Cadangan karbon organik tanah (SOC) dihitung berdasarkan kandungan
karbon tanah (soil carbon content), dan kerapatan tanah (Bulk density). Cadangan
komulatiaf karbon organik tanah pada kedalaman 0-30 dihitung dengan
menjumlahkan cadangan karbon pada setiap lapisan kedalaman tanah (0-5, 5-10, 10-
20, dan 20-30 cm). Cadangan karbon organik tanah (SOC) kumulatif pada
kedalaman 0-30 cm dihitung dengan menjumlahkan cadangan karbon organik tanah
vi
pada setiap kedalaman (0-5 cm, 5-10 cm, 10-20 cm, dan 20-30 cm) dengan
menggunakan rumus Sutaryo (2009).
Analisis statistic One-way ANOVA menggunakan Scheffe Post-hoc Test untuk
membandingkan perbedaan kerapatan populasi, basal area tegakan, biomasa dan
pertumbuhan dalam kurun periode 1981 hingga 2013. Perbedaan perhitungan
biomasa berdasarkan pendugaan Chave et al., (2005) dan Brown (1997) diuji
menggunakan analisis Non Parametrik Kolmogorof Smirnov. Karakteristik kondisi
fisika kimia tanah dianalisis menggunakan analisis Principle Componen Analysis
(PCA), dan korelasi antara kondisi tanah terhadap kerapatan dan basal area pohon di
analisis menggunakan korelasi speraman. Perbedaan cadangan karbon organik tanah
(SOC) antar kedalaman (0-30) dan antar lokasi penelitian di analisis menggunakan
Anova satu arah (one Way Anova). Hubungan antara dinamika cadangan karbon
dengan iklim dianalisis dengan menggunakan regresi dan korelasi spearman. Semua
analisis statistik mengunakan program SPSS Graduate PackTM 14.0 for windows.
Adanya perbedaan dievalusi menggunakan selang kepercayaan 5 % (P< 0.05)
Dari hasil penelitian didapatkan komposisi pohon di plot Pinang-Pinang pada
tahun 2013 ditemukan sebanyak 47 famili, 94 genus, 158 jenis dan 712 individu.
Selanjutnya komposisi pohon di Gajabuih ditemukan sebanyak 29 famili, 51 genus,
73 jenis dan 648 individu. Jumlah pohon di plot Pinang-Pinang berkurang sebesar
7,80 % dan pada plot Gajabuih berkurang sebesar 58,05 %. Berdasarkan kerapatan
dan basal area pohon, kerapatan pohon bervariasi antar periode waktu pengamatan
dan cenderung berfluktuasi. Dalam kurun waktu 32 tahun kerapatan pohon di hutan
Pinang-Pinang meningkat sebesar 1,13 % dan basal area meningkat sebesar 14,10
%. Di plot Gajabuih juga terjadi peningkatan kerapatan pohon sebesar 8.88 % namun
basal area menurun sebesar 46,60 %. Berdasarkan analisis korelasi Spearman
didapatkan korelasi negatif antara kondisi Ca, K dan P tersedia di tanah hutan Ulu
vii
Gadut terhadap kerapatan dan basal area pohon di kawasan hutan Ulu gadut. Di plot
Pinang-Pinang Nephelium juglandifolium mempunyai nilai penting tertinggi,
kemudian diikuti oleh Swintonia schwenckii dan Syzygium sp., Di plot Gajabuih
Vilebrunea rubescens mempunyai nilai penting tertinggi, kemudian diikuti oleh
Macaranga javanica dan Endospermum moluccanum. Indeks keanekaragaman jenis
pada masing-masing periode pengamatan berkisar antara 2,96-4,50. Indeks kesamaan
komunitas vegetasi di plot Pinang-pinang dibandingkan pada awal pengamatan
(1981) sebesar 83,83 % dan plot Gajauih sebesar 21,05 %.
Hasil analisis pertumbuhan pohon di kawasan hutan Ulu Gadut didapatkan
kisaran pertumbuhan pohon hutan tropik Ulu Gadut antara 0.058-0.226 mm/tahun
dengan rata-rata sebesar 0.13±0.19 mm/tahun. Pertumbuhan relative (RDGR) untuk
semua pohon dalam lima interval sensus bervariasi dari satu interval dengan interval
lain. Berdasarkan hasil analisis terhadap pertumbuhan relatif pohon untuk semua
interval sensus menunjukan hasil yang berbeda nyata secara significant untuk setiap
interval sensus (F4,29=14.13, P<0.05, Repeat Measurmen ANOVA). Pertumbuhan
relatif pohon terbesar ditemukan pada interval sensus ke III (1996-2002) yaitu
0.23±0.24 mm/tahun, kemudian dilanjutkan oleh interval sensus ke I (1981-1987)
yaitu 0.16±0.16 mm/tahun, dan terendah pada interval sensus ke IV (2002-2007)
yaitu 0.06±0.12 mm/tahun. Pertumbuhan pohon di kawasan hutan Ulu Gadut bila
dibandingkan dengan interval pertama (1981-1987), terlihat umumnya mengalami
penurunan sebesar 31.25-68.75 %, kecuali interval ke III mengalami kenaikan
hampir 37.50 % dari interval I. Terjadinya penurunan rata-rata pertumbuhan pohon
terutama pada interval kedua diduga terkait adanya efek dari adanya kejadian
ENSHO dan ELNINO yang memicu terjadinya kekeringan pada tahun 1987-1996.
Pertumbuhan meningkat seiring dengan peningkatan diameter pohon pada setiap
interval sensus. Pertumbuhan relatif pohon tertinggi untuk kawasan hutan Ulu
viii
Gadut dalam kurun waktu 32 tahun secara keseluruhan ditemukan pada kelas
diameter 40.1-50 cm. Pada tingkat emergen species pertumbuhan pohon tertinggi
ditemukan pada jenis Nephelium juglandifolium, canopy species pada jenis
Castanopsis rhamnifolia dan understory species pada jenis Hopea dryobalaniodes.
Akumulasi total karbon organik (TOC) tegakan pada tahun 2013 di plot
Pinang-Pinang sebesar 419.03 Mg C/ha, terdiri dari cadangan karbon biomasa pohon
(BOC) sebesar 305.55 Mg C/ha dan cadangan karbon tanah (SOC) sampai
kedalaman 0-30 cm sebesar 117.8 Mg C/ha. Di plot Gajabuih TOC sebesar 1148.23
Mg C/ha, terdiri dari BOC sebesar 49.50 Mg C/ha, dan SOC sampai kedalaman 0-30
sebesar 98.73 Mg C/ha. Berdasarkan ratio BOC/SOC di plot Pinang-Pinang
didapatkan perbandingan karbon biomasa dan tanah sebesar 1 : 3 dan di plot
Gajabuih sebesar 1 : 2.
Dinamika cadangan karbon biomasa tegakan (BOC) di kedua plot Ulu Gadut
selama 32 tahun di plot Pinang-Pinang bervariasi dari 315.08-403.19 Mg C/ha/tahun,
dengan rata-rata 363.29 ± 32.66 MgC/ha/tahun. Selama lebih dari tiga dekade total
BOC tegakan di plot Pinang-Pinang cenderung mengalami peningkatan sampai tahun
2007. Puncak total BOC tertinggi di plot Pinang-Pinang ditemukan pada tahun 2007
yaitu 403.17 Mg C/ha dan terendah tahun 1981 yaitu 315.08 Mg C/ha. Total BOC di
plot Gajabuih berkisar dari 70.41-383.25 Mg C/ha/tahun, dengan rata-rata 231.06 ±
117.42 Mg C/tahun. Puncak total BOC tertinggi di plot Gajabuih ditemukan pada
tahun 1996 yaitu 383.25 Mg C/ha dan terendah tahun 2012/13 yaitu 70.41 Mg C/ha
DINAMIKA STRUKTUR POHON DAN CADANGAN KARBON DI KAWASAN HUTAN HUJAN TROPIK ULU GADUT SUMATERA BARAT
RINGKASAN STRATEGI BISNIS, KETIDAK PASTIAN LINGKUNGAN, INFORMASI AKUNTANSI MANAJEMEN, DAN PRESTASI PERUSAHAAN
Informasi akuntansi manajemen yang merupakan produk dari sistem akuntansi manajemen, yang banyak dijadikan acuan dalam penelitian-penelitian di atas, didasarkan kepada karakteristik informasi akuntansi manajemen yang dikembangkan oleh Chenhall dan Morris (1986). Karakteristik informasi tersebut meliputi broad scope, timeline.s, aggregation, dan integration. Secara konseptual strategi yang ditetapkan dalam proses perencanaan strategik akan digunakan sebagai pedoman dalam perancangan pengendalian mana.iemen, antara lain perancangan informasi akuntansi manajemen (Anthony & Govindara.;an, 1995). Hubungan kedua variabel ini telah dibuktikan oleh Chong dan Chong (1997) dalam penelitian yang dilakukan secara empiris, di mana strategi yang ditetapkan akan mempengaruhi penggunaan informasi akuntansi mana.iemen. Sedangkan penelitian yang dijalankan Mia dan Clarke (1999) mendapatkan hubungan antara persaingan dengan penggunaan sistem akuntansi manajemen dan pengaruhnya terhadap prestasi unit bisnis. Banyak penelitian dalam bidang manajemen strategik menyimpulkan bahwa hubungan antara strategi dengan prestasi unit binis adalah bersifat langsung. Tetapi dalam penelitian Chong dan Chong (1997), hubungan antara kedua variabel ini adalah tidak langsung, melainkan melalui informasi akuntansi manajemen. Oleh sebab itu, hasil penelitian Chong dan Chong ini merupakan suatu temuan baru, di mana strategi yang ditetapkan tidak mempengaruhi prestasi unit bisnis secara langsung melainkan melalui penggunaan informasi akuntansi manajemen
Phytochemical Screening and Antioxidant Activities of Some Seaweed from Kabung Island Waters West Kalimantan
Seaweed is one of the prima donna marine biota which is widely used as a natural antioxidant. Various species of seaweed are found growing naturally in the waters of Kabung Island, West Kalimantan. This study aims to determine the phytochemical content and antioxidant activity of each genus Turbinaria, Hypnea and Caulerpa from those collected in the waters of Kabung Island. Seaweed extraction uses maceration method with methanol to remove active compounds. Next, a phytochemical screening was performed using specific reagents such as alkaloids, steroids, flavonoids, tannins and saponins which will change color or form precipitates. The free radical scavenging method of 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH) solution was used to test the antioxidant activity of each seaweed extract. The active compound in the sample extract will be formed if there is a change in the color of free radicals from dark purple to light yellow or clean. The results showed that the phytochemical screening of the three seaweed extracts contained tannins, flavonoids and saponins. Meanwhile, positive alkaloids were found in Turbinaria and Caulerpa extracts, and steroids were indicated by the genus Hypnea and Caulerpa. Antioxidant screening showed that Caulerpa extract was categorized as a potent antioxidant with an IC50 value of 88.57 ppm, higher than the IC50 of Turbinaria and Hypnea extracts, which were 114.32 and 138.42 ppm respectively and classified as weak antioxidants
DIVERSITY OF MYCORRHIZAL FUNGI IN THE RHIZOSPHERE OF Avicennia officinalis (L.) IN THE PENITI MANGROVE FOREST, MEMPAWAH REGENCY
Mycorrhizal fungi are a form of mutualistic symbiosis between fungi and plant roots, including mangrove api-api that grows on mangrove area. This study aims to determine the diversity of mycorrhizal fungi on mangrove api-api (Avicennia officinalis L.) This study used a combination of wet filtering and centrifugation techniques for spore isolation. The results showed that the types of mycorrhizal fungi found in mangrove area were Scutellospora, Gigaspora, Acaulospora Glomus sp1, Glomus sp2, Glomus sp3 and Glomus sp4. The diversity of mycorrhizal fungi in Peniti area was 0,07105 and Sungai Purun was 0,47280. the distribution of species is uneven, there are species that dominate and conditions are unstable. Spore density of 103 spores /100 gr soil and level of root infection percentage with low class (class 1) was 0,24% in Peniti dan 0,18 % in Purun River
Perbandingan Kantong Karbon dari 5 Jenis Tumbuhan Berkayu di Hutan Desa Dusun Manjau Kabupaten Ketapang
RELATIONSHIPS OF FERNS IN THE POLYPODIACEAE FAMILY IN THE BUKIT KUJAU AREA, TEMPUNAK DISTRICT, SINTANG REGENCY, BASED ON MORPHOLOGICAL CHARACTERISTICS
Ferns belonging to the Polypodiaceae family are widely distributed across various regions of the world, particularly in forested areas and regions characterized by high humidity levels. The analysis of relationships among ferns can be conducted based on their morphological characteristics. The aim of this study was to determine the relationships among ferns of the Polypodiaceae family in the Bukit Kujau area of Tempunak District, Sintang Regency, utilizing morphological traits. This research was conducted from October to December 2023, during which 35 samples were collected in the Bukit Kujau area through purposive sampling. The relationships were analyzed using the UPGMA method in the NTSys program. The study identified seven species of ferns from the Polypodiaceae family: Platycerium bifurcatum (Cav.), Dynaria querfolia (L.), Davallia denticulatum (Burm.f.), Phymatodes scolopendria (Burm.), Diplazium esculentum (Rezt.), Pyrrosia numularifolia (Sw.), and Drymoglossum piloselloides (Linn.). Based on the grouping analysis, the seven species of ferns exhibited a similarity coefficient ranging from 0.37 to 1.00. At a similarity coefficient of 0.47, the species were grouped into three clusters, each distinguished by morphological characteristics such as sorus shape, sorus type, and sorus color
KAJIAN BIOMASA TEGAKAN ATAS PERMUKAAN (ABOVEGROUND BIOMASS) DAN CADANGAN KARBON DI BEBERAPA TAMAN KOTA PONTIANAK
Pontianak as the a city the of West Kalimantan, of course, encountered the descrease of land from year to year. This issue leads to the increase of carbon emission in the air. The aim of this research is to find out howmuch biomass and reserved carbon on the surface of gardens in the Pontianak city. This study was conducted from March to June 2017. This used non-destructive methods and alometric equations, data collection was gathered through census on each stand up by measuring DBH ≥ 5 cm. The results of this study shows that biomass above the oil surface at five gardens in Pontianak city was around 36,85-473,42 ton/Ha and reserves carbon was around 18,42-236,71 ton C/Ha. The highest reserve carbon was on street of Jalan Ahmad Yani 1 with the value of reserved carbon was around 236.71 ton C/Ha and the lowest reserved carbon was at the garden of Tugu Khatulistiwa, that was 18.42 ton C/Ha
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
- …
