96 research outputs found
Optimalisasi R-Factor Pada Teknik Akuisisi Paralel Grappa Terhadap kualitas informasi anatomi citra MRI brain Axial T2 TSE: Studi Pada Pesawat MRI Siemens Magnetom Avanto 1,5 Tesla
Telah dilakukan penelitian variasi R- faktor pada teknik akuisisi paralel GRAPPA terhadap kualitas informasi anatomi citra MRI Brain Potongan axial dengan dengan sekuens T2 TSE yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi R-factor dan mengetahui nilai R-factor GRAPPA yang menghasilkan informasi citra optimal dengan waktu scan yang cepat. Pembuatan pemeriksaan MRI Brain potongan axial dengan sekuens T2 TSE dilakukan dengan variasi nilai R-factor GRAPPA (1 sampai7), kemudian dievaluasi melalui kuesioner yang diberikan kepada 3 radiolog untuk menilai organ vetrikel lateral, thalamus, nucleus caudatus, nucleus lentiformis, capsula interna, dan daerah backgroun
OPTIMALISASI INFORMASI CITRA DENGAN TEKNIK DENOISING NONLOCAL MEAN FILTER PADA CITRA MRI SEKUEN T2WI TSE PENERAPAN PARALLEL IMAGING SENSE POTONGAN AXIAL (Studi Pada SENSE R factor 2 dan R factor 4)
Latar belakang : Akusisi citra MRI membutuhkan waktu cukup lama. Upaya mempercepat waktu akusisi pemeriksaan menggunakan teknik parallel imaging yaitu SENSE. Kelemahan SENSE menurunkan SNR. Metode denoising yang mampu meningkatkan SNR yaitu Nonlocal mean filter (NLM). Denoising pasca-akuisisi citra menjadi alternatif yang lebih murah dan efektif. Penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan waktu scanning yang lebih cepat dan mempertahankan kualitas citra MRI Tujuan : Menganalisis efektifitas denoising Nonlocal Mean Filter (NLM) terhadap informasi citra MRI T2WI TSE SENSE (r factor 2 dan 4).Metode : Penelitian eksperimen pada citra MRI phantom dan otak dengan sekuen T2WI TSE penerapan parallel imaging SENSE. Penggunaan SENSE r factor 2 dan r factor 4. Citra dilakukan perbaikan informasi citra dengan teknik denoising Non Local Mean (NLM). Penilaian citra antara sebelum dan setelah di denoising secara kualitatif (informasi anatomi otak) dan kuantitatif (SNR).Hasil : Hasil uji parametrik menunjukan, adanya perbedaan nilai SNR dan informasi anatomi pada citra MRI T2WI TSE penerapan parallel imaging SENSE pada r factor 2 dan r factor 4 antara sebelum dan setelah dilakukan teknik denoising Non Local Means (NLM) dengan p value < 0,001
Askep pada Ny. R post partum seksio sesarea partuis tak naju di bangsal Bougenvile RS panti wilasa Smg
PROGRAM KERUCUT ORDE DUA
In this final project, we discuss about second order cone programming, alge
braic properties of second order cone, and primal-dual interior point algorithm for
second order cone programming. On the topic of second order cone programming,
we discuss about second order cone and cartesian product of several second order
cones which both of them are convex, cone, and pointed set with nonempty interior
point. Moreover, we give a general form of primal-dual second order cone program
ming and some properties that can be obtained for the primal-dual second order cone
programming. On the topic of algebraic properties of second order cone, we discuss
about the space R
n
with binary operation �. In space (R
n
, �), we can find relation
between (R
n
, �) and second order cone. Furthermore, the binary operation � is ex
tended into �
r , so that (R
n
, �
r
) has relation with cartesian product of several second
order cones. Based on the algebraic properties of second order cone, we study about
the primal-dual interior point algorithm for solve the primal-dual second order cone
programming problems and analysis of the algorithm
FAKTOR FAKTOR RISIKO YANG BERPENGARUH TERHADAP KEJADIAN KANKER PAYUDARA WANITA
1
FAKTOR FAKTOR RISIKO YANG
BERPENGARUH TERHADAP KEJADIAN
KANKER PAYUDARA WANITA
Rini Indrati*, Henry Setyawan S§, Djoko Handojo¶
Abstract
Background : Breast cancer is the highest cause of
cancer death in female. In Indonesia, breast cancer is the
5th degenerative disease and is the 3rd cause of death
with insidence 22.6/100,000 and it’s mortality
10.1/100,000. Breast cancer also give a phsycosocial
effects and need a very expensive cost for treatment.
Research about breast cancer in Indonesia is limited.
This research to know risk factors that influence in
female breast cancer.
Methods : This research used a case control study.
Method this research is breast cancer was confirmed
with histopathological examination. Control group was
diagnose with physical examination and clinically by
oncologist. Data were analyzed by univariate analysis,
bivariate analysis with chi square test and multivariate
analysis with method of binary logistic regression.
Results : The research showed that risk factors that
influence in female breast cancer were tumor history (OR
= 8.95 ; 95% CI : 2.36 – 49.07), physical activity < 4
hour/ week (OR = 9.70 ; 95% CI : 4.67 - 23.050), high
frequency consume of fat (OR = 2.71 ; 95% CI : 1.33 –
5.82), breast cancer history in their family (OR =
3.94 ; 95% CI : 2.27 – 15.21), lactation < 5 months (OR
= 3.26 ; 95% CI : 1.17 – 10.2) and long oral
contraceptive use > 10 years (OR = 3.10 ; 95% CI :
1.18 – 9.55). Individual probability to have risk breast
cancer with those all risk factors above is 52.67 %.
Using chi square linear for trends test showed that dose
response relationship among long time breast feeding,
long time use oral contraception and foetus age when
abortion will increased to have risk of breast cancer.
Using association is causal analysis showed that feotus
age when abortion will increase risk of breast cancer.
Conclusions : Risk factors that influence in female breast
cancer is tumor history, physical activity < 4 hour/week,
high frequency consume of fat, breast cancer history of
family, lactation 10
year and foetus age when abortion > 10 week.
Keywords : case control study, breast cancer, risk factors
* Magister Programme of Epidemiology, University of
Diponegoro, Semarang, Indonesia
§ Magister Programme of Epidemiology, University of
Diponegoro, Semarang, Indonesia
¶ Department of Surgery, dr Kariadi Hospital Semarang,
Indonesia
Latar Belakang
anker payudara merupakan penyebab
utama dalam insidens dan kematian
oleh kanker pada wanita. Insidensi berdasar Age
Standardized Ratio (ASR) tahun 2000 kanker
payudara sebesar 20,6 (20,6/100.000 penduduk)
dan mortality (ASR) tahun 2000 akibat kanker
payudara di Indonesia sebesar 10,1
(10,1/100.000 penduduk) dengan jumlah
kematian akibat kanker payudara sebesar
10.753. Tahun 2005 diperkirakan mortality
(ASR) sebesar 10,9/100.000 penduduk dengan
jumlah kematian akibat kanker payudara
sebanyak 12.352 orang1.
Kanker payudara merupakan masalah
kesehatan masyarakat yang penting, karena
mortalitas dan morbiditasnya yang tinggi.
Jumlah kasus kanker payudara di dunia
menduduki peringkat kedua setelah kanker
serviks, disamping itu kanker payudara menjadi
salah satu pembunuh utama wanita di dunia dan
adanya kecenderungan peningkatan kasus baik
di dunia maupun di Indonesia2-6.
Penyebab pasti kanker payudara belum
diketahui, diperkirakan multifaktorial7-11 .
Proses timbulnya kanker payudara merupakan
kejadian kompleks yang melibatkan berbagai
faktor. Selain adanya defek pada gen BRCA1
dan BRCA2, masih banyak kelainan yang pada
prinsipnya meningkatkan aktivitas proliferasi
sel serta kelainan yang menurunkan atau
menghilangkan regulasi kematian sel 11,12.
Penelitian di Indonesia tentang faktor
risiko yang berpengaruh terhadap kejadian
kanker payudara sangat terbatas. Penelitian ini
untuk melihat secara lebih luas faktor yang
berpengaruh terhadap kejadian kanker payudara
dan memperkirakan probabilitas individu untuk
terkena kanker payudara.
Metode
Penelitian menggunakan case control
study. Studi kasus dilakukan di Rumah Sakit
Dokter Kariadi Semarang. Data dikumpulkan
dari bulan September 2004 sampai dengan
Pebruari 2005. Kasus adalah wanita yang baru
didiagnosa kanker payudara primer. Diagnosa
kanker payudara ditegakkan dengan
pemeriksaan histopatologi. Kasus dan kontrol
K
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
2
berasal dari divisi bedah bagian rawat jalan dan
rawat inap. Kasus dan kontrol diwawancara
dengan menggunakan kuesioner. Data dianalisa
secara univariat, bivariat dengan chi square dan
uji X2 linier for trends dan multivariat dengan
metode regresi logistik berganda, dengan a =
0,05 dan b = 0,2. Relative Risk diperkirakan
dengan Odds Rasio dengan 95% Convidence
Interval.
Hasil
Kasus kanker payudara terbanyak
ditemukan pada umur 40 – 49 tahun. Distribusi
kasus kontrol seperti pada tabel 1. Sebagian
besar kasus ditemukan pada stadium III
(46,2%) seperti pada Grafik. 1. Tingginya
proporsi pada stadium III disebabkan karena
keterlambatan penderita dalam mencari
pengobatan. Rata-rata umur responden ada
kesebandingan antara kelompok kasus dan
kelompok kontrol.
Tabel 1. Distribusi Karakteristik Responden
Variabel Kasus Kontrol
N % N %
Kelompok Umur
20 – 29 Tahun 1 1,9 1 1,9
30 – 39 Tahun 11 21,2 13 25,0
40 – 49 Tahun 20 38,5 19 36,5
50 – 59 Tahun 17 32,7 16 30,8
60 – 69 Tahun 2 3,8 3 5,8
70 – 79 Tahun 1 1,9 0 0,0
Total 52 100,0 52 100,0
X ± SD 46,10 ± 8,76 46,10 ± 8,82
Grafik 1. Distribusi kasus berdasar Stadium Klinik
Tabel. 2 memperlihatkan crude odds
rasio hasil analisis bivariat. Riwayat aborsi,
lama menyusui dan lama menggunakan
kontrasepsi oral secara signifikan meningkatkan
risiko kanker payudara.
Tabel 2. Hasil Analisis Bivariat
Variabel OR 95% 95%
CI Trend
Umur > 42 tahun 1,09 0,49 – 2,43
Riwayat aborsi > 10 Minggu 2,93 1,02 – 8,42
≤ 10 Minggu 1,89 0,30 – 11,91
Tidak Aborsi 1 Reference 4,37*
Lama menyusui < 5 Bulan 3,94 1,45 – 10,66
5 – 12 Bulan 2,11 0,69 – 6,44
13 – 24 Bulan 1,06 0,29 – 3,78
> 24 Bulan 1 Reference 8,01*
Umur menstruasi < 12 Tahun 3,6 1,08 – 12,04
Umur menopause > 48 tahun 2,25 0,58 – 8,69
Lama menggunakan OC
> 10 Tahun 4,82 1,69 – 13,69
≤ 10 Tahun 2,04 0,81 – 5,15
Tidak menggunakan OC 1 Reference 9,19*
Lama berolahraga
< 4 jam/minggu 4,66 2,04 – 10,67
Perokok Pasif 2,36 1, 08 – 5,19
Pola konsumsi lemak
(frekuensi tinggi) 3,50 1,52 – 8,04
Pola Konsumsi Serat
(frekuensi tinggi) 0,52 0,23 – 1,16
Riwayat paparan pestisida 1,74 0,39 – 7,68
Riwayat berada di medan
elektromagnetik 3,12 0,31 – 31,05
Riwayat tumor jinak
payudara 4,38 1,14 – 16,77
Riwayat Trauma pada Payudara 2,13 0,50 – 9,02
Riwayat Kanker Ovarium 5,15 – **
Riwayat kanker Payudara
sebelumnya 12,5 – **
Riwayat kanker payudara
pada keluarga 4,02 1,52 – 10,63
Riwayat kanker ovarium pada
keluarga 5,33 1,64 – 17,32
Riwayat kegemukan 2,38 1,08 – 5,25
* p ≤ 0,05
** p ≤ 0,05 berdasar Fisher’s Exact Test
Risiko aborsi semakin meningkat
dengan semakin tua umur janin pada saat aborsi
(chi square for linier trend = 4,37; p = 0,036).
Semakin singkat lama menyusui semakin besar
risiko terkena kanker payudara signifikan
dengan uji chi square for trend (chi square for
linier trend = 8,01; p = 0,005). Peningkatan
risiko terkena kanker payudara sebanding
dengan semakin lama menggunakan kontrasepsi
oral, (chi square for linier trend = 9,19; p =
0,002). Umur menstruasi I < 12 tahun secara
signifikan meningkatkan risiko kanker
payudara. Lama berolahraga < 4 jam/minggu,
perokok pasif dan frekuensi tinggi
Stadium II A
13.5%
Stadium II B
25.0%
Stadium III A
21.2%
Stadium III B
23.1%
Stadium III C
1.9%
Stadium IV
15.4%
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
3
mengkonsumsi makanan berlemak juga
signifikan meningkatkan risiko kanker
payudara. Riwayat tumor jinak pada payudara,
riwayat kanker payudara pada keluarga dan
riwayat kanker ovarium dan riwayat
kegemukan juga secara signifikan
meningkatkan risiko kanker payudara.
Variabel yang secara mandiri tidak
meningkatkan risiko kanker payudara adalah
umur responden, pola konsumsi makanan
berserat, umur menopause, riwayat paparan
pestisida, riwayat berada di medan
elektromagnetik, dan riwayat trauma payudara.
Riwayat kanker ovarium dan riwayat kanker
payudara sebelumnya pada responden
merupakan variabel yang berpengaruh
berdasarkan Fisher’s Exact Test sedangkan
besar risiko diperkirakan dengan menambahkan
nilai 0,5 pada setiap tabel.
Hubungan dose response antara umur
janin pada saat aborsi, lama menyusui dan lama
menggunkana kontrasepsi oral seperti pada
grafik2, grafuk 3 dan grafik 4.
11,91
8,42
0,3
1,02
,
,
,
1
1,89
2,93
Tidak aborsi
Aborsi <= 10 minggu
Aborsi > 10 minggu
Status Aborsi
0
2
4
6
8
10
12
14
O R ( 9 5 % C I )
Grafik 2. Dose-response umur janin aborsi
6,78
6,44
6,78
0,29
0,69
1,36 ,
,
,
,
1 1,06
2,11
3,94
> 24 bulan
13 - 24 bulan
5 - 12 bulan
< 5 bulan
Lama Meny usui
0
1
2
3
4
5
6
7
8
O R ( 9 5 % C I )
Grafik 3. Dose-response lama menyusui
5,15
13,69
0,81
, 1,69
,
,
1
2,04
4,82
Tidak Memakai
<= 10 tahun
> 10 Tahun
Lama Menggunakan Kontrasepsi Oral
0
2
4
6
8
10
12
14
16
O R ( 9 5 % C I )
Grafik 4. Dose-response lama
menggunakan kontrasepsi oral
Hasil analisis multivariat dengan metode
regresi logistik berganda seperti ditampilkan
pada tabel 3. Variabel yang berpengaruh
terhadap kejadian kanker payudara berdasar
analisis multivariat yaitu riwayat tumor jinak
(OR = 8,95, 95% CI : 2,36 – 49,07), lama
berolahraga < 4 jam/minggu (OR = 9,7, 95% CI
: 4,67 – 23,05), frekuensi tinggi dalam
mengkonsumsi makanan berlemak (OR = 2,71,
95% CI : 1,33 – 5,82), riwayat kanker payudara
pada keluarga (OR=3,94, 95% CI : 2,27 –
15,21), lama menyusui < 5 bulan (OR=3,26,
95% CI : 1,17 – 10,2)dan lama menggunakan
kontrasepsi oral > 10 tahun (OR = 3,10 ; 95%
CI : 1,18 – 9,55). Umur janin aborsi
dipertimbangkan sebagai faktor risiko yang
berpengaruh terhadap kanker payudara
berdasarkan analisis asosiasi kausal.
Berdasar uji multikolinieritas tidak
terdapat korelasi diantara variabel bebas
sehingga persamaan regresi terhindar dari
problem multikolinieritas.
.
Tabel. 3.
Faktor Faktor Risiko yang Berpengaruh
terhadap Kejadian Kanker Payudara Wanita
No. Variabel OR 95 % CI
1. Riwayat tumor jinak 8,95 2,36 – 49,07
2. Lama berolahraga < 4
jam/minggu 9,70 4,67 – 23,05
3. Pola konsumsi lemak tinggi 2,71 1,33 – 5,82
4. Riwayat kanker payudara pada
keluarga 3,94 2,27 – 15,21
5. Lama menyusui < 5 Bulan 3,26 1,17 – 10,2
6. Lama menggunakan OC
> 10 Tahun 3,10 1,18 – 9,55
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
4
Probabilitas individu untuk terkena
kanker payudara berdasar model persamaan di
atas adalah :
e [ ]
p
1 14,078 3,495 2,981 2,543 2,190 1,844 1,132
1
+ - - + + + + + +
=
p = 52,67%
Wanita yang memiliki riwayat tumor
jinak, dengan kebiasaan berolahraga < 4
jam/minggu, frekuensi yang tinggi dalam
mengkonsumsi makanan berlemak, memiliki
riwayat keluarga menderita kanker payudara,
riwayat lama menyusui < 5 bulan dan lama
menggunakan kontrasepsi oral > 10 tahun
memiliki probabilitas untuk mengalami
kejadian kanker payudara sebesar 52,67%.
23,05
5,82
49,07
15,21
10,2 9,55
4,67
1,33 2,36 2,27
1,17 1,18
,
, ,
,
, ,
9,7
2,71
8,95
3,94 3,26 3,1
Lama Olahraga
Konsumsi Lemak
Tumor Jinak
Kanker Payudara Kel.
Lama menyusui
Pil KB
Faktor Risiko
0
10
20
30
40
50
60
O R ( 9 5 % C I )
Grafik. 5. Faktor Risiko yang Berpengaruh terhadap
Kanker Payudara
Diskusi
Kanker payudara terbanyak ditemukan
pada golongan umur 40 – 49 tahun (36,5%),
kemudian pada golongan umur 50 – 59 tahun
(30,8%). Umur sangat penting sebagai faktor
yang berpengaruh terhadap kanker payudara.
Kejadian kanker payudara akan meningkat
cepat pada usia reproduktif, kemudian setelah
itu meningkat dengan kecepatan yang lebih
rendah 4,60. Pendidikan dan jenis pekerjaan tidak
berpengaruh terhadap kejadian kanker
payudara11.
Proporsi terbanyak pada stadium III
menunjukkan bahwa kesadaran responden
untuk melakukan pengobatan pada gejala awal
atau pada stadium dini masih sangat rendah 11.
Kebanyakan responden tidak mengetahui gejala
kanker payudara, cara mendeteksi kanker
payudara secara dini, pencarian pengobatan
serta cara pencegahannya. Mereka berpendapat
bahwa kanker payudara adalah merupakan
penyakit keturunan.
Tumor jinak pada payudara
Penelitian sebelumnya menunjukkan
bahwa wanita yang menderita atau pernah
menderita kelainan proliferatif memiliki
peningkatan risiko untuk mengalami kanker
payudara 15. Wanita yang telah melakukan
biopsi kelainan payudara proliferatif akan
meningkatkan risiko terkena kanker payudara
dalam rentang 1,5 – 2,0 kali untuk hyperplasia,
4 – 5 kali untuk hyperplasia atypicall 15,16.
Peningkatan risiko untuk terkena kanker
payudara pada wanita dengan riwayat tumor
jinak berhubungan dengan adanya proses
proliferasi yang berlebihan. Proses proliferasi
jaringan payudara yang berlebihan tanpa adanya
pengendalian kematian sel yang terprogram
oleh proses apoptosis mengakibatkan timbulnya
keganasan karena tidak adanya kemampuan
untuk mendeteksi kerusakan pada DNA 15-17.
Aktifitas fisik
Dengan aktifitas fisik atau berolahraga
yang cukup akan dapat dicapai keseimbangan
antara kalori yang masuk dan kalori yang
keluar. Aktifitas fisik / berolahraga yang cukup
akan mengurangi risiko kanker payudara tetapi
tidak ada mekanisme secara biologik yang jelas
sehingga. Olahraga dihubungkan dengan
rendahnya lemak tubuh dan rendahnya semua
kadar hormon yang berpengaruh terhadap
kanker payudara dan akan dapat meningkatkan
fungsi kekebalan tubuh. Aktifitas fisik atau
berolah raga yang cukup akan berpengaruh
terhadap penurunan sirkulasi hormonal
sehingga menurunkan proses proliferasi dan
dapat mencegah kejadian kanker payudara 18-20.
Wanita yang melakukan olahraga pada waktu
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
5
yang lama akan menurunkan risiko kanker
payudara sebesar 37% Studi prospektif pada
wanita umur 30 - 55 tahun yang diikuti selama
16 tahun dilaporkan mereka yang berolahraga
sedang dan keras ≥ 7 jam/minggu memiliki
risiko yang lebih rendah terkena kanker
payudara dibandingkan dengan wanita yang
berolahraga hanya 1 jam/minggu 18.
Pola Konsumsi Makanan Berlemak
Beberapa Case control study
menunjukkan bahwa pola diet makanan
berlemak dengan frekuensi yang tinggi akan
dapat meningkatkan risiko terkena kanker
payudara serta penelitian beberapa penelitian
yang lainnya14,21,22. Pada diet lemak yang tinggi
akan meningkatkan produksi estrogen karena
meningkatnya pembentukan jaringan adipose.
Peningkatan konsentrasi estrogen dalam darah
akan meningkatkan risiko terkena kanker
payudara karena efek proliferasi dari estrogen
pada duktus ephitelium payudara 13,23,24. Pada
percobaan binatang didapatkan bukti adanya
suatu proses berkembangbiaknya sel yang lebih
cepat akibat diet lemak tinggi dari tahap
promosi ke tahap progresi 24. Hubungan
pengaruh frekuensi mengkonsumsi makanan
berlemak ini didukung oleh studi perpindahan
penduduk (migrasi) dari wilayah dengan diet
lemak rendah ke wilayah dengan diet lemak
tingggi. Wanita Jepang atau Eropa Timur yang
bermigrasi ke Amerika atau ke Australia
memiliki risiko yang lebih tinggi untuk
mengalami kanker payudara, sama peluangnya
dengan wanita penduduk setempat pada
generasi yang sama 24.
Riwayat Kanker Payudara pada Keluarga
Kanker payudara merupakan penyakit
kanker familial (Sindroma Li Fraumeni / LFS).
Tujuh puluh lima persen dari sindroma tersebut
disebabkan adanya mutasi pada gen p53. Gen
p53 merupakan gen penekan tumor (suppressor
gene). mutasi pada gen p53 menyebabkan
fungsi sebagai gen penekan tumor mengalami
gangguan sehingga sel akan berproliferasi
secara terus menerus tanpa adanya batas
kendali. Seseorang akan memiliki risiko terkena
kanker payudara lebih besar bila pada anggota
keluarganya ada yang menderita kanker
payudara atau kanker ovarium 14,17,20,21,25.
Lama Menyusui
Kebiasaan menyusui berhubungan
dengan siklus hormonal14,21. Segera setelah
proses melahirkan kadar hormon estrogen dan
hormon progesteron yang tinggi selama masa
kehamilan akan menurun dengan tajam. Kadar
hormon estrogen dan hormon progesteron akan
tetap rendah selama masa menyusui.
Menurunnya kadar hormon estrogen dan
hormon progesteron dalam darah selama
menyusui akan mengurangi pengaruh hormon
tersebut terhadap proses proliferasi jaringan
termasuk jaringan payudara 19,20,26. Terdapat
hubungan dose-response antara lama menyusui
dengan kanker payudara, signifikan berdasar uji
X2 linier for trends.
Lama Menggunakan Kontrasepsi Oral
Lama pemakian kontrasepsi oral dengan
kenaikan risiko kanker payudara menunjukkan
adanya hubungan dose-response berdasar uji X2
linier for trends. Kandungan estrogen dan
progesteron pada kontrasepsi oral akan
memberikan efek proliferasi berlebih pada
duktus ephitelium payudara. Berlebihnya
proliferasi bila diikuti dengan hilangnya kontrol
atas proliferasi sel dan pengaturan kematian sel
yang sudah terprogram (apoptosis) akan
mengakibatkan sel payudara berproliferasi
secara terus menerus tanpa adanya batas
kematian. Hilangnya fungsi kematian sel yang
terprogram (apoptosis) ini akan menyebabkan
ketidakmampuan mendeteksi kerusakan sel
akibat adanya kerusakan pada DNA, sehingga
sel-sel abnormal akan berproliferasi secara terus
menerus tanpa dapat dikendalikan 28-35.
Umur Janin pada Saat Aborsi
Peningkatan risiko terkena kanker
payudara dengan umur janin pada saat aborsi
signifikan berdasarkan uji X2 linier for trends.
Selama masa kehamilan plasenta akan
memproduksi hormon estrogen dan
progesteron. Produksi hormon estrogen dan
progesteron oleh plasenta akan semakin
meningkat sampai akhir masa kehamilan.
Walaupun sekresi hormon estrogen oleh
plasenta berbeda dari sekresi ovarium (hampir
semua hormon estrogen yang dihasilkan
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
6
plasenta selama masa kehamilan adalah estriol,
suatu estrogen yang relatif lemah), tetapi
aktivitas estrogenik total akan meningkat kirakira
100 kali selama kehamilan. Tingginya
kadar hormon estrogen berpengaruh pada
proses proliferasi jaringan termasuk
jaringan payudara 19,27. Pengaruh umur janin
pada saat aborsi terhadap kanker payudara
selaras dengan beberapa penelitian lainya
14,36,37.
Riwayat Kanker Payudara dan Kanker
Ovarium
Riwayat kanker payudara pada
responden meningkatkan risiko dengan
perkiraan OR = 5,2 (p = 0,048) dan riwayat
kanker ovarium sebelumnya dengan perkiraan
OR = 12,16 (p = 0,028) berdasar uji Fisher’s
Exact Test. Wanita dengan riwayat kanker
payudara sebelumnya kemungkinan besar akan
mendapatkan kanker payudara pada sisi yang
lain, hal ini terjadi karena payudara merupakan
organ berpasangan yang dilihat dari suatu
sistem dipengaruhi oleh faktor-faktor yang
sama 38. Wanita yang memiliki riwayat pernah
menderita kanker ovarium kemungkinan akan
terkena kanker payudara. Wanita dengan
kanker payudara menunjukkan hiperplasi
korteks ovarium. Terdapat hubungan positif
antara kanker payudara dan kanker ovarium,
keduanya dianggap terjadi akibat adanya
ketidakseimbangan hormon estrogen.
Peningkatan risiko terkena kanker payudara
pada wanita yang pernah menderita kanker
ovarium diduga berhubungan dengan pengaruh
peningkatan hormon estrogen, dan wanita yang
menderita atau pernah menderita kelainan
proliferatif memiliki peningkatan risiko untuk
mengalami kanker payudara 15,16.
Variabel bebas yang berdasarkan
analisis bivariat berpengaruh terhadap kejadian
kanker payudara adalah umur menstruasi
< 12 tahun (OR = 3,6 ; 95% CI : 1,08 – 12,04),
perokok pasif (OR = 2,23 ; 95% CI : 1,08 –
5,19), riwayat kanker ovarium pada
keluarga (OR = 5,33 ; 95% CI : 1,64 – 17,32)
dan adanya riwayat kegemukan (OR = 2,38 ;
95% CI : 1,08 – 5,25).
Pola konsumsi Makanan Berserat
Frekuensi tinggi seseorang untuk
mengkonsumsi makanan sumber serat
merupakan faktor protektif terhadap kejadian
kanker payudara Tidak signifikannya pengaruh
frekuensi konsumsi makanan sumber serat
dikarenakan proporsi yang hampir sama antara
kelompok kasus dengan kelompok kontrol. Diet
makanan berserat berhubungan dengan
rendahnya kadar sebagian besar aktivitas
hormon seksual dalam plasma, tingginya kadar
sex hormone-binding globulin (SHBG), serta
akan berpengaruh terhadap mekanisme kerja
punurunan hormon estradiol dan testosteron.
Penurunan hormon tersebut kemungkinan
berhubungan dengan risiko kanker yang
dipengaruhi oleh hormon termasuk kanker
payudara. Penurunan hormon estradiol akan
berakibat pada menurunnya kecepatan proses
proliferasi yang dapat mencegah terjadinya
kanker payudara 28. Mekanisme pencegahan
dengan diet makanan berserat kemungkinnan
terjadi akibat dari waktu transit dari makanan
yang dicernakan cukup lama diusus sehingga
akan mencegah proses inisiasi atau mutasi
materi genetik didalam inti sel. Pada sayuran
juga didapatkan mekanisme yang multifaktor
dimana didalamnya dijumpai bahan atau
substansi anti karsinogen seperti karotenoid,
selenium dan tocopherol yang dapat
mengurangi pengaruh bahan-bahan dari luar
dan akan memberikan lingkungan yang akan
menekan berkembangnya sel-sel abnormal 25.
Riwayat Paparan Pestisida
Paparan estrogen dari lingkungan yang
berupa organochlorines dalam pestisida dan
industri kimia mungkin berperan pada kejadian
kanker payudara. Beberap
Gambaran Social Problem Solving pada Remaja Panti Asuhan di Kabupaten Sumba Barat
Masa perkembangan remaja akan dihadapkan pada berbagai perubahan baik genetik, biologis hingga lingkungan dan sosial. Dalam proses penyesuaian remaja tidak akan terlepas dari berbagai masalah sehingga penting bagi remaja untuk memiliki kemampuan penyelesaian masalah yang baik agar remaja dapat terus berkembang kearah yang lebih baik. Sebanyak 95 remaja panti asuhan anak Kabupaten Sumba Barat yang berpartisipasi dalam peneltian ini. Penelitian menggunakan kuesioner Chinese Social Problem Solving Inventory-Revised (C-SPSI-R) oleh Siu dan Shek (2005) yang diadaptasi ke bahasa Indonesia yang terdiri dari lima dimensi yaitu positive problem orientation, negative problem orientation, rational problem solving, avoidance style dan impulsive style. Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar remaja panti asuhan Kabupaten Sumba Barat memiliki positive problem orientation yang tinggi (81,05%) remaja panti juga menggunakan gaya pemecahan masalah rational problem solving (81,05%). Meskipun begitu masih terdapat remaja yang melihat masalah secara negative problem orientation (58,95%) membuat remaja melakukan gaya pemecahan masalah dengan avoidance style (32,63%) dan impulsive style (62,11%). Hasil analisis uji beda menunjukan terdapat perbedaan signifkan ditinjau dari jenis kelamin pada dimensi negative problem orientation dan rational problem solving. Berdasarkan hasil penelitian remaja panti perlu mendapat bimbingan secara khsus dalam melatih kemampuan social problem solving yang dimiliki agar remaja dapat terus berkembang.The adolescent development period will be faced with various changes from genetic, biological to environmental and social. In the process of adolescent adjustment, it will not be separated from various problems so it is important for adolescents to have good problem-solving skills so that adolescents can continue to develop towards a better direction. A total of 95 adolescents from West Sumba Regency children's orphanage participated in this study. The study used the Chinese Social Problem Solving Inventory-Revised (C-SPSI-R) questionnaire by Siu and Shek (2005) adapted to the Indonesian language which consists of five dimensions namely positive problem orientation, negative problem orientation, rational problem solving, avoidanceii style and impulsive style. The results showed that most adolescents in West Sumba Regency orphanages have a high positive problem orientation (81.05%) and also use a rational problem solving style (81.05%). Even so, there are still adolescents who see problems in a negative problem orientation (58.95%) making adolescents do problem solving styles with avoidance style (32.63%) and impulsive style (62.11%). The results of the T-test analysis show that there are significant differences in terms of gender in the dimensions of negative problem orientation and rational problem solving. Based on the results of the study, adolescents need to get special guidance in practicing their social problem solving skills so that adolescents can continue to develop
Pengaruh Kualitas Pelayanan Jasa pendidikan Terhadap Kepuasan Siswa SMA Unggulan Haf-Sa Zainul Hasan Genggong Kecamatan Pajarakan Kabupaten Probolinggo Tahun Ajaran 2010/2011
Jasa pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam proses
meningkatkan kualitas SDM. Keberhasilan jasa pendidikan ditentukan dalam
memberikan pelayanan yang berkualitas kepada para pengguna jasa pendidikan
tersebut (peserta didik). Jasa pendidikan merupakan jasa yang sangat kompleks
karena dibutuhkan banyak tenaga kerja yang memiliki skill khusus dalam bidang
pendidikan dan membutuhkan infrastruktur (peralatan) yang lengkap dan harganya
cukup mahal.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada-tidaknya pengaruh yang
signifikan dari variabel dimensi kualitas jasa yang (keandalan, ketanggapan, jaminan,
empati dan bukti langsung) terhadap kepuasan siswa SMA Unggulan Haf-Sa Zainul
Hasan Genggong, selain itu juga ingin mengetahui varibel mana yang dominan
diantara variabel kualitas palayanan jasa (kehandalan, daya tanggap, jaminan, Empati
dan bukti fisik) terhadap kepuasan siswa SMA Unggulan Haf-Sa Zainul Hasan
Genggong. Metode penentuan lokasi penelitian secara metode purposive yaitu
ditentukan secara sengaja di SMA Unggulan Haf-Sa Zainul Hasan Genggong.
Penentuan sampel menggunakan rumus proportional random sampling. Metode
pengumpulan data menggunakan metode angket, observasi, wawancara dan
dokumentasi. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis inferensial.
Analisis inferensial yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda, dengan uji
F dan uji t.
viii
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel dimensi kualitas jasa secara
simultan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap terhadap kepuasan siswa
SMA Unggulan Haf-Sa Zainul Hasan Genggong. Hal ini dibuktikan dari hasil
perhitungan uji F, dimana Fhitung lebih besar dari Ftabel yaitu (89,79>2.36) dengan taraf
signifikansi 0,000 dan koefisien determinasi (R square) sebesar 0,879 atau 87,9%. Hasil
análisis melalui uji t diperoleh data bahwa variabel empati (X4) mempunyai pengaruh
yang paling dominan terhadap kepuasan siswa. Hal tersebut ditunjukkan dengan nilai
hasil uji t, yaitu X1 (kehandalan)= 2,313, X2 (daya tanggap)= 3,161, X3 (jaminan)=
2,407, X4 (empati)= 4,080, X5 (bukti fisik)= 2,402. Selain itu juga dapat dilihat
melalui sumbangan proporsi pengaruh dari masing – masing variabel bebas, yaitu
Kehandalan (X1) = 9,14%, daya tanggap (X2) = 18,72%, jaminan (X3) = 16,41%,
empati (X4) = 29,35%, bukti fisik (X5) = 14,28%
Pengaruh Body Dysmorphix Dysorder pada Self Esteem Mahasiswa
Self Esteem merupakan evaluasi yang dibuat individu kebiasaan memandang dirinya terutama mengenai sikap menerima atau menolak, dan indikasi besarnya kepercayaan individu terhadap kemampuannya, keberartian, kesuksesan dan keberhargaan. Faktor yang dianggap memiliki peran penting dalam berkembangnya Body Dysmorphic Disorder adalah Self-esteem. Metode penelitian ini korelasional. sampel dalam penelitian ini 67 dengan metode pengambilan sampel purposive sampling, Pengambilan data dengan instrument self esteem dan instrument Body Dysmorphic Disorder. Hasil analis data menggunakan product momen dengan hasil r hitung – 0,528 > 0,339 berarti ada pengaruh negative yang signifikan body dysmorphix disorder pada self esteem. Bahwa body dysmorphic disorder dapat mempengaruhi self esteem dalam taraf sedang
Physical modification and characterization of starch using pregelatinization and co-process of various tubers from Yogyakarta as an excipient
- …
