1,720,968 research outputs found
Kesesuaian Rumus Penduga Volume Log Beberapa Jenis Lokal WIlayah Barat Sulawesi
Untuk menghindari kesalahan dalam pendugaan volume log, diperlukan suatu rumus tertentu untuk jenis atau kelompok jenis tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh rumus penduga volume log yang sesuai dengan jenis-jenis lokal yang tumbuh di wilayah barat Sulawesi. Penelitian ini dilakukan terhadap 126 abtang dari sebelas jenis pohon yang berada di areal tebangan. Setiap jenis minimal lima batang. Batang terpilih diukur panjang dan diameternya. Pengukuran diamater dilakukan pada sembilan tempat dari pangkal ke ujung dengan jarak pengukuran sama. Rumus penduga volume log yang paling sesuai diperoleh dengan membandingkan rumus volume yang ada (Brereton, kerucut terpancung, Smalian, Huber, Newton dan rata-rata geometrik) dengan volume aktual yang diperoleh dengan cara menjumlahkan volume setiap seksi yang dihitung dengan rumus smalian. Selanjutnya bias yang dihasilkan diuji dengan menggunakan uji T. Hasil analisis menunjukkan bahwa rumus rata-rata geometrik menghasilkan penduga volume log terbaik, yang diikuti oleh rumus Newton. Rumus lainnya, kecuali Huber, menghasilka penduga volume yang over-estimate
MODEL DISTRIBUSI DIAMETER LIMA JENIS POHON PADA HUTAN TROPIKA BASAH DI KABUPATEN MAMUJU, SULAWESI BARAT
URL http://journal.unhas.ac.id/index.php/perennial/article/view/73The objective of this research is to establish the most suitable tree diameter distribution model for five tree species on tropical rain forest in Mamuju District. This research was conducted on two locations. The 50 square plots were sampled systematically for seedling, sapling, pole and tree measurements of bintangur, jambu-jambu, lada-lada, matoa and nyatoh species. The distance among plots was 50 m. Variables to be measured were stem number of seedlings to trees and tree diameter at breast height (1,3 m) of saplings to trees. About 70% of the data were used to establish the best model, the rest of 30% were used to validate the model. Models to be analyzed were fourth-order semi-logarithmic transformed polynomial function, Weibull density function and monotonic decreasing Weibull function. The results show that the five tree species have a similar diameter distribution pattern. The shape of this distribution is the typical of uneven-aged stand distribution on natural forest, namely reversed J shape. The most suitable model for five species is second-order semi-logarithmic transformed polynomial function
Penduga Model Hubungan Tinggi dan Diameter Pohon Jenis Jambu-Jambu (Kjellbergiodendron sp.) pada Hutan Alam di Kab Mamuju Sulawesi Barat
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan penduga model hubungan tinggi dan diameter pohon yang paling sesuai untuk jenis jambu-jambu pada hutan alam di Mamuju, Sulawesi Barat. Penduga model yang diperoleh diharapkan dapat digunakan untuk menduga volume pohon, menentukan posisi sosial pohon dalam tegakan, menentukan indeks produktivitas tegakan, dan menggambarkan dinamika pertumbuhan tegakan. Penelitian dilakukan pada dua lokasi di Mamuju. Petak ukur berbentuk bujur sangkar 20 m x 20 m sebanyak 50 petak ukur yang dipilih secara sistematis dengan jarak sama pada masing-masing lokasi. Setiap pohon dalam petak ukur diukur diameter setinggi dada dan tinggi total. Analisis dilakukan terhadap 38 pohon jambu-jambu yang ditemukan pada 100 petak ukur. Sebanyak 27 pohon digunakan dalam penyusunan model. Enam model yang terdiri atas tiga model yang secara intrinsik linier dan tiga model non-linier digunakan dalam analisis. Validasi model dilakukan dengan menghitung skor berdasarkan besarnya bias rata-rata, penduga kuadrat tengah galat (MSEP) dan indeks galat (EI) terhadap seluruh pohon. Analisis yang sama juga dilakukan terhadap tinggi maksimum untuk setiap pengamatan diameter. Hasil analisis menunjukkan bahwa berdasarkan kriteria R2, model yang secara intrinsik linier memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan model non-linier. Model yang menggunakan peubah tak bebas tinggi maksimum mempunyai nilai R2 yang lebih besar dibandingkan dengan model yang menggunakan peubah tak bebas tinggi seluruh pohon sehingga penduga model yang digunakan adalah model yang menggunakan peubah tak bebas tinggi total maksimum. Hasil validasi model menunjukkan bahwa tiga peringkat teratas adalah model non-linier sehingga model yang secara intrinsik linier tidak dipertimbangkan sebagai penduga model meskipun mempunyai nilai R2 yang lebih besar. Hasil Uji-t menunjukkan bahwa ke tiga penduga model non-linier tersebut merupakan penduga yang tidak berbias. Penduga model yang paling baik bagi jenis jambu-jambu adalah model non-linier yang mempunyai bentuk sigmoid bertipe logistik.\ud
\ud
Kata kunci : tinggi, diameter, jambu-jambu, linier, non-linier
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Pendugaan Volume Batang Bebas Cabang Pohon Jenis Nyatoh (Palaquium sp.) Berdasarkan Pada Persamaan Taper
Bentuk batang merupakan sesuatu yang kompleks. Beberapa bagian batang menyerupai bentuk geometri benda putar tetapi di beberapa tempat terdapat bentuk yang tidak teratur. Persamaan taper (profil bentuk batang) merupakan ekspresi matematis dari perubahan diameter batang sebagai fungsi dari tinggi batang yang dipengaruhi oleh jenis pohon, umur tegakan, kerapatan dan faktor lainnya yang mempengaruhi kualitas tapak. Tidak ada satupun teori tentang persamaan taper yang telah dikembangkan yang dapat menjelaskan keragaman bentuk batang untuk semua jenis dan bentuk pohon. Persamaan taper dapat digunakan untuk menduga volume total dan volume komersial (bebas cabang). Jika bentuk batang dapat digambarkan secara akurat, maka volume batang pada panjang tertentu dapat diduga secara akurat pula. Penelitian ini bertujuan untuk menduga volume batang bebas cabang dengan menggunakan persamaan taper. Penelitian dilakukan terhadap 71 batang pohon nyatoh yang ditebang dan diukur diameternya pada sembilan titik dengan interval panjang yang sama (seperdelapan panjang batang) mulai dari tinggi 130 cm sampai dengan tinggi bebas cabang. Selain itu juga diukur tinggi total pohon. Sekitar 70% data digunakan dalam pendugaan model dan sisanya digunakan untuk validasi model. Model persamaan taper yang digunakan adalah model tunggal polinom ordo dua dan model bagian polinom ordo dua. Persamaan penduga volume diperoleh dengan cara menintegralkan persamaan taper. Validasi persamaan penduga volume dilakukan dengan menghitung besarnya bias dan MSEP terhadap hasil penjumlahan volume delapan bagian batang yang dihitung dengan rumus Smalian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua model tersebut merupakan model yang sangat baik untuk menduga bentuk batang nyatoh. Integrasi terhadap persamaan taper diperoleh persamaan volume batang bebas cabang dengan faktor bentuk sebesar 0,77. Hasil validasi menyatakan bahwa penduga volume batang bebas cabang berdasarkan pada persamaan taper yang diperoleh merupakan penduga yang tidak berbias dengan galat dalam pendugaan sebesar 9,9%
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
