PERENNIAL
Not a member yet
170 research outputs found
Sort by
Karakteristik Papan Partikel Menggunakan Perekat Tanin Mahoni Dengan Ekstender Pati: Characteristics of Particle Board Using Mahogany Tannin Adhesive with Starch Extender
This study aimed to determine the characteristics of particleboard bonded using mahogany tannin adhesive plus starch extender. The particles used came from mangium wood, which was then bonded using mahogany tannin adhesive (TRF) with the addition of 2 concentrations of starch extender, 10% and 20%. The size of the particleboard produced was 25 cm x 25 cm x 1 cm (each in the dimensions of length, width, and thickness). Physical and mechanical property testing was carried out based on SNI 03-2105-2006. The results showed that the higher the concentration of starch extender addition to the TRF adhesive, the higher the internal bond value, as well as the thickness expansion of the resulting particleboard.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeterminasi karakteristik papan partikel yang direkat menggunakan perekat tanin mahoni ditambah ekstender pati. Partikel yang digunakan berasal dari kayu mangium yang kemudian direkat menggunakan perekat tanin mahoni (TRF) dengan tambahan 2 konsentrasi ekstender pati, 10% dan 20%. Ukuran papan partikel yang dihasilkan adalah 25 cm ´ 25 cm ´ 1 cm (masing-masing pada dimensi Panjang, lebar, dan tebalnya). Pengujian sifat fisis dan mekanis dilakukan berdasarkan SNI 03-2105-2006. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi penambahan ekstender pati pada perekat TRF meningkatkan nilai keteguhan rekat namun turut meningkatkan pengembangan tebal dari papan partikel yang dihasilkan
Pengingkatan Kerapatan Kayu Jabon Melalui Impregnasi Furfuril Alkohol dan Nano-SiO2: The Improvement of Jabon Wood Density Through The Furfuryl Alcohol and Nano-SiO2
Jabon (Anthocephalus cadamba Miq.) is a fast-growing wood that is widely utilized by the society as a construction material and furniture making. This study aimed to increase the density of jabon wood through a vacuum pressure impregnation method. Furfuryl alcohol (FA) and nano-SiO2 with three concentrations (0.5%, 0.75%, dan 1%) were used as impregnation additives, with control and FA without nanoparticles as comparisons. Impregnation was initiated with a vacuum (0.5 bar) for an hour, followed by pressure (2.5 bar) for 2 hours. The significant results on the physical properties of jabon wood including weight percent gain (WPG), bulking effect (BE), and density showed the success of the modification treatment through the FA and nano-SiO2 impregnation process with various concentrations, which the wood density increased from 0.60 g/cm3 to 0.94 g/cm3. The composition of FA and 1% nano-SiO2 solution was the best treatment to obtain the highest density in modified jabon wood.Kayu jabon (Anthocephalus cadamba Miq.) merupakan kayu cepat tumbuh yang banyak diminati masyarakat untuk dimanfaatkan sebagai bahan konstruksi dan pembuatan furnitur. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kerapatan kayu jabon melalui metode impregnasi vakum tekan. Furfuril alkohol (FA) dan nano-SiO2 dengan tiga konsentrasi (0.5%, 0.75%, dan 1%) digunakan sebagai bahan impregnan, dengan kontrol dan perlakuan FA tanpa nanopartikel sebagai pembanding. Impregnasi dimulai dengan pemberian vakum (0.5 bar) selama 1 jam, dilanjutkan dengan tekan (2.5 bar) selama 2 jam. Hasil yang signifikan pada sifat fisis kayu jabon yang meliputi weight percent gain (WPG), bulking effect (BE), dan kerapatan menunjukkan keberhasilan perlakuan modifikasi melalui proses impregnasi FA dan nano-SiO2 dengan berbagai konsentrasi, yang mana kerapatan kayu meningkat dari 0.60 g/cm3 menjadi 0.94 g/cm3. Komposisi larutan FA dan nano-SiO2 1% menjadi perlakuan terbaik untuk mendapatkan nilai kerapatan tertinggi pada kayu jabon termodifikasi
Keanekaragaman dan Peranan Serangga Akuatik sebagai Bioindikator di Sungai Lekopancing, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan: Diversity and Role of Aquatic Insects as Bioindicators in the Lekopancing River, Maros District, South Sulawesi
The Lekopancing River, located in Maros Regency, is a crucial source of clean water supply for the people of Makassar City and the surrounding wereas. This study aims to analyze the diversity and role of insects as bioindicators of water quality based on aquatic insect families. The study was conducted in the upstream, middle, and downstream parts of the Lekopancing River, using handpicking and kick sampling for data collection. The collected aquatic insect samples were then identified and analyzed using the diversity index Shannon-Wienner (H\u27) and Hilsenhoff Family Biotic Index (HFBI) methods, which were widely accepted in ecological research for assessing biodiversity and water quality. The number of aquatic insects found was 614 individuals, consisting of 13 species, 13 families, and 7 orders. The diversity index of aerial insects in the upstream and middle parts of the Lekopancing River was 1.26 and 1.72, while in the downstream part, it was 0.42. The HFBI value of 3.26 in the upstream section is still very good; in the middle section, the HFBI value of 4.84 is considered good; in the downstream section, the HFBI value of 7.00 indicates poor quality.Sungai Lekopancing yang terletak di Kabupaten Maros merupakan sumber pasokan air bersih yang sangat penting bagi masyarakat Kota Makassar dan sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keanekaragaman dan peranan serangga sebagai bioindikator kualitas air berdasarkan famili serangga akuatik. Penelitian dilakukan di bagian hulu, tengah, dan hilir Sungai Lekopancing dengan menggunakan teknik hand picking dan kick sampling untuk pengumpulan data. Sampel serangga air yang dikumpulkan kemudian diidentifikasi dan dianalisis menggunakan indeks keanekaragaman Shannon-Wienner (H\u27) dan Hilsenhoff Family Biotic Index (HFBI), yang diterima secara luas dalam penelitian ekologi untuk menilai keanekaragaman hayati dan kualitas air. Jumlah serangga akuatik yang ditemukan sebanyak 614 individu, terdiri dari 13 spesies, 13 famili, dan 7 ordo. Indeks keanekaragaman serangga udara di bagian hulu dan tengah Sungai Lekopancing masing-masing sebesar 1,26 dan 1,72, sedangkan di bagian hilir sebesar 0,42. Nilai HFBI sebesar 3,26 pada bagian hulu masih sangat baik; pada bagian tengah nilai HFBI sebesar 4,84 tergolong baik; pada bagian hilir, nilai HFBI sebesar 7,00 menunjukkan kualitas yang buruk
Pengaruh Hot Water Extraction terhadap Sudut Kontak Octomeles sumatrana dan Duabanga moluccana dan Kaitannya terhadap Zat Ekstraktif dan Struktur Anatomi Kayu: Effect of Hot Water Extraction on Contact Angle of Octomeles sumatrana and Duabanga moluccana Woods and Its Correlation to the Extractive Content and Anatomical Structure
Binuang bini (Octomeles sumatrana) and binuang laki (Duabanga moluccana) are fast growing species that have the potential to be developed as engineered wood products. However, previous studies have shown that both wood species have high contact angle values due to the extractive content and the high acidity. Therefore, this study aimed to examine the effect of hot water extraction (HWE) pretreatment to eliminate these limiting factors. The results proved that HWE pretreatment statistically significantly decreased the contact angle of binuang bini wood but not for binuang laki wood. HWE pretreatment resulted in a decrease in the levels of hot water-soluble extractive content and degradation of other wood chemical components. The different effectiveness of HWE pretreatment on binuang bini and binuang laki wood on improving the contact angle is influenced by differences in the quantity and quality of extractive substances as well as differences in the anatomical structure characteristics of these species.Binuang bini (Octomeles sumatrana) dan binuang laki (Duabanga moluccana) merupakan jenis cepat tumbuh dan tumbuhan pioneer yang berpotensi dikembangkan sebagai engineered wood products. Akan tetapi, penelitian sebelumnya membuktikan bahwa kedua jenis kayu tersebut memiliki nilai sudut kontak yang tinggi dan diduga disebabkan karena kandungan zat ekstraktif serta Tingkat keasaman kayu yang tinggi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pemberian perlakuan pendahuluan hot water extraction (HWE) untuk mengeliminasi faktor penghalang tersebut. Hasil penelitian membuktikan bahwa secara statistik perlakuan pendahuluan HWE signifikan menurunkan sudut kontak kayu binuang bini tetapi tidak untuk kayu binuang laki. Perlakuan pendahuluan HWE berdampak pada penurunan kadar zat ekstraktif larut air panas dan degradasi komponen kimia kayu lainnya. Efektivitas perlakuan pendahuluan HWE yang berbeda pada kayu binuang bini dan binuang laki terhadap penurunan sudut kontak kayu dipengaruhi oleh perbedaan kuantitas dan kualitas zat ekstraktif serta perbedaan karakteristik struktur anatomi kedua jenis kayu tersebut
Analisis Rantai Nilai dan Struktur Pasar Komoditi Getah Pinus di Hutan Kemasyarakatan Cempalagie Indonesia: Value Chain Analysis and Market Structure of Pine Sap Commodity in Community Forest Area Case in Indonesia
Community Forestry (HKm) is a scheme that aims to empower local communities and provide access to manage protected/production forest areas. The pine resin commodity is one of the sources of livelihood for the community in the Cempalagie HKm area by utilizing existing access. Value chain analysis is very important to find out the pine resin commodity business actors in the marketing chain from upstream to downstream, namely from raw materials to become a product through qualitative methods with a descriptive approach. The results of the value chain analysis will then show the market structure in the form of market type, number of sellers and buyers, product differentiation, entry barriers, cost structure and conglomeration formed in each chain. The number of respondents was selected as 30 households by census based on respondents who work as pine resin tappers. The results showed that pine resin commodity business actors consisted of tappers, intermediary traders and wholesalers or pine resin processing industries in which the flow of goods, information and money occurred and marketed pine resin and pine resin products in the form of gondorukem, turpentine, alpha pinene and delta carene to international markets, namely India, Vietnam and China.Hutan Kemasyarakatan (HKm) merupakan skema yang bertujuan untuk memberdayakan masyarakat lokal dan memberikan akses dalam mengelola kawasan hutan lindung/produksi. Komoditi getah pinus menjadi salah satu sumber mata pencaharian bagi masyarakat di dalam kawasan HKm Cempalagie dengan memanfaatkan akses yang ada. Analisis rantai nilai menjadi sangat penting untuk mengetahui pelaku usaha komoditi getah pinus yang ada di dalam rantai pemasaran dari hulu hingga ke hilir yaitu dari berbentuk bahan baku hingga menjadi sebuah produk melalui metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Hasil analisis rantai nilai kemudian akan menunjukkan struktur pasar berupa tipe atau jenis pasar, jumlah penjual dan pembeli, diferensiasi produk, hambatan masuk, struktur biaya serta konglomerasi yang terbentuk di setiap rantai. Jumlah responden dipilih sebanyak 30 kepala keluarga secara sensus berdasarkan responden yang bekerja sebagai petani penyadap getah pinus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaku usaha komoditi getah pinus terdiri dari petani penyadap, pedagang pengumpul serta pedagang besar atau industri pengolahan getah pinus yang di dalamnya terjadi proses aliran barang, informasi, dan uang serta memasarkan getah pinus dan produk getah pinus berupa gondorukem, terpentin, alpha pinene dan delta carene sampai ke pasar internasional yaitu negara India, Vietnam dan Cina
Pengaruh Aplikasi Finishing Yakisugi Terhadap Sifat Fisis dan Mekanis Kayu Rajumas (Duabanga moluccana): The Effect of Yakisugi Finishing Application on the Physical and Mechanical Properties of Rajumas Wood (Duabanga moluccana)
This study aims to examine the influence of yakisugi surface charring treatment on the physical and mechanical properties of Rajumas wood (Duabanga moluccana). The method involved surface burning for 0 (control), 20, 40, and 60 seconds using a butane gas torch. Tests were conducted on moisture content, density, shrinkage, water absorption, thickness swelling, modulus of rupture (MoR), and modulus of elasticity (MoE). Statistical analysis using one-way ANOVA followed by Tukey’s HSD test (α = 0.05) was performed to evaluate treatment effects. The results showed that burning duration affected both physical and mechanical properties of Rajumas wood. Longer burning durations improved dimensional stability by reducing moisture content, water absorption, and swelling; however, mechanical strength (MoR and MoE) tended to decrease at 60 seconds due to partial thermal degradation of cell wall polymers. Moderate exposure (20–40 seconds) provided an optimal balance between improved stability and acceptable strength retention. This study highlights the novel application of Yakisugi to a fast-growing tropical hardwood, offering a sustainable surface modification technique for enhancing durability and performance in non-structural wood applications.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan pembakaran permukaan teknik yakisugi terhadap sifat fisis dan mekanis kayu Rajumas (Duabanga moluccana). Metode penelitian dilakukan dengan pembakaran permukaan kayu selama 0 (kontrol), 20, 40, dan 60 detik menggunakan obor gas butana. Pengujian meliputi kadar air, kerapatan, penyusutan, daya serap air, pengembangan tebal, keteguhan patah (MoR), dan modulus elastisitas (MoE). Analisis statistik menggunakan one-way ANOVA yang dilanjutkan dengan uji lanjut Tukey’s HSD (α = 0,05) untuk mengetahui pengaruh perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama pembakaran berpengaruh terhadap sifat fisis dan mekanis kayu Rajumas. Pembakaran dengan durasi lebih lama meningkatkan stabilitas dimensi melalui penurunan kadar air, daya serap air, dan pengembangan tebal; namun kekuatan mekanis (MoR dan MoE) cenderung menurun pada pembakaran 60 detik akibat degradasi termal parsial pada polimer dinding sel. Perlakuan sedang (20–40 detik) memberikan keseimbangan optimal antara peningkatan stabilitas dimensi dan penurunan kekuatan yang masih dapat diterima. Penelitian ini menyoroti penerapan baru teknik Yakisugi pada kayu tropis cepat tumbuh, yang menawarkan metode modifikasi permukaan berkelanjutan untuk meningkatkan keawetan dan performa kayu pada aplikasi non-struktural
Preferensi Bersarang dan Morfometrik Lebah Tanpa Sengat di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, Indonesia: Nesting Preferences and Their Morphometric Stingless Bees in Luwu Regency, South Sulawesi, Indonesia
Stingless bees (Apidae: Meliponini) are pollinators in tropical ecosystems that show morphological and ecological variations between species. This study aims to identify nesting preferences and their morphometric characters of stingless bees in Luwu Regency, South Sulawesi, Indonesia. Data collection was carried out through field surveys to access nesting preferences of stingless bees by locating their natural nests and documenting them in different habitats, after which bee samples were measured to obtain morphometric data. Data were then analyzed using one-way Analysis of Variance (ANOVA), Pearson correlation, and hierarchical clustering with SPSS 30.1.1.1.. Observations showed that stingless bees preferred Lansium domesticum trees as nest locations (42.5%), with variations in nest height, elevation, and entrance size that differed significantly between species (p < 0.05). The results showed that Tetragonula fuscobaltea had the smallest body size (2.99 ± 0.05), while T. biroi was larger (3.97 ± 0.10 mm) and formed a contiguous morphometric cluster, where there were two main groups, with T. fuscobaltea separated from the other three species. Strong positive correlations were found between body characters (r > 0.95), while environmental variables such as elevation and nest height did not show significant relationships to morphometry. The results of this study are expected to be the basis for the identification of stingless bee species morphometrically, as well as supporting the development of natural habitat-based conservation and the improvement of local bee cultivation in Luwu Regency and the South Sulawesi region in general.Lebah tanpa sengat (Apidae: Meliponini) merupakan polinator dalam ekosistem tropis yang menunjukkan variasi morfologis dan ekologis antar spesies. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakter morfometrik dan preferensi bersarang lebah tanpa sengat di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, Indonesia. Pengumpulan data dilakukan melalui survei lapangan untuk mengakses preferensi sarang lebah tanpa sengat dengan menemukan sarangnya di habitat alami yang berbeda, kemudian sampel lebah diukur untuk memperoleh data morfometrik. Data selanjutnya dianalisis menggunakan analisis varian (ANOVA) satu arah, korelasi Pearson, dan klastering hierarki dengan aplikasi SPSS 30.1.1.1.. Pengamatan menunjukkan preferensi lebah tanpa sengat terhadap pohon Lansium domesticum sebagai lokasi sarang (42.5%), dengan variasi ketinggian sarang, elevasi, dan ukuran pintu masuk yang berbeda signifikan antar spesies (p < 0.05). Hasil menunjukkan bahwa Tetragonula fuscobaltea memiliki ukuran tubuh paling kecil (2.99 ± 0.05), sedangkan Tetragonula biroi lebih besar (3.97 ± 0.10 mm), dan membentuk klaster morfometrik yang berdekatan, dimana terdapat dua kelompok utama, dengan T. fuscobaltea terpisah dari tiga spesies lainnya. Korelasi positif kuat ditemukan antar parameter tubuh (r > 0.95), sedangkan variabel lingkungan seperti elevasi dan ketinggian sarang tidak menunjukkan hubungan signifikan terhadap morfometri. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam identifikasi spesies lebah tanpa sengat secara morfometrik, serta mendukung pengembangan konservasi berbasis habitat alami dan peningkatan budidaya lebah lokal di Kabupaten Luwu dan wilayah Sulawesi Selatan secara umum
Karakteristik Fisika dan Mekanika Papan Partikel dari Limbah Serbuk Gergaji Meranti Merah (Shorea leprosula): Effect of Board Thickness on The Physical and Mechanical Properties of Particleboard Made from Red Meranti (Shorea leprosula) Sawdust Waste
The wood processing industry produces red meranti (Shorea leprosula) sawdust waste. This waste is generally not optimally utilized and can have negative impact. The use of sawdust as a raw material for particleboard is an environmentally friendly and economically valuable solution, given that particleboard has the potential to replace solid wood in the wood industry. This study aims to utilize red meranti sawdust waste as raw material for particleboard production using urea formaldehyde adhesive with different particleboard thicknesses. This studi evaluates the effect of thickness variations (1 cm, 1.5 cm, and 2 cm) on the physical properties (moisture content, density, and thickness swelling) and mechanical properties (elasticity/MoE, breaking strength/MoR, and tensile strenth) of particleboard. The results of testing the physical properties of particleboards showed that the average moisture content ranged from 10.92 % to 11.76 %, the density ranged from 0.54 g/cm3 to 0.6 g/cm3, and the thickness swelling ranged from 4.05 % to 12.02 %. Mechanical property testing of particleboard showed that the average MoE ranged from 9,110 kg/cm2 to 67,813 kg/cm2, MoR ranged from 9.44 kg/cm2 to 37.93 kg/cm2, and internal bonding ranged from 0.292 kg/cm2 to 0.396 kg/cm2. Based on the results of statistical analysis, it shows that in testing physical properties, thickness variation does not affect moisture content and density, but affects the thickness swelling of particleboards after being immersed for 2 and 24 hours. In mechanical property testing, thickness variation did not affect internal bonding, but it did affect MoE and MoR. Overall, this study confirms the potential of red meranti sawdust waste as a raw material for particleboard, although improvements are needed in increasing mechanical strength, particularly MoR and internal bonding.Industri pengolahan kayu menghasilkan limbah serbuk gergaji kayu meranti merah (Shorea leprosula). Limbah ini umumnya belum dimanfaatkan secara optimal dan dapat menimbulkan dampak negatif. Pemanfaatan serbuk gergaji sebagai bahan baku papan partikel menjadi solusi yang ramah lingkungan sekaligus bernilai ekonomis, mengingat papan partikel berpotensi menggantikan kayu solid dalam industri kayu. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah serbuk gergaji kayu meranti merah sebagai bahan baku pembuatan papan partikel menggunakan perekat urea formaldehida dengan variasi ketebalan papan partikel yang berbeda. Studi ini mengevaluasi pengaruh variasi ketebalan (1 cm, 1,5 cm, dan 2 cm) terhadap sifat fisika (kadar air, kerapata, dan pengembangan tebal) dan sifat mekanika (elastisitas/MoE, keteguhan patah/MoR, dan keteguhan tarik) papan partikel. Hasil pengujian sifat fisika papan partikel menunjukkan rata-rata nilai kadar air berkisar dari 10.92 % sampai 11.76 %, kerapatan berkisar dari 0.54 g/cm3 sampai 0.6 g/cm3, dan pengembangan tebal berkisar dari 4.05 % sampai 12.02 %. Pada pengujian sifat mekanika papan partikel menunjukkan rata-rata nilao MoE berkisar dari 9110 kg/cm2 sampai 67813 kg/cm2, MoR berkisar dari 9.44 kg/cm2 sampai 37.93 kg/cm2, dan ketegujan tarik berkisar dari 0.292 kg/cm2 sampai 0.396 kg/cm2. Berdasarkan hasil analisis statistik menunjukkan bahwa pada pengujian sifat fisika, variasi ketebalan tidak berpengaruh terhadap kadar air dan kerapatan, namun berpengaruh terhadap pengembangan tebal papan partikel setelah direndam selama 2 dan 24 jam. Pada pengujian sifat mekanika, variasi ketebalan tidak berpengaruh terhadap keteguhan tarik, namun berpengaruh terhadap MoE dan MoR. Secara keseluruhan penelitian ini mengkonfirmasi potensi limbah serbuk gergaji kayu meranti merah sebagai bahan baku papan partikel, meskipun perlu perbaikan dalam peningkatan kekuatan mekanika, khususnya MoR dan keteguhan tarik
Kearifan Lokal Masyarakat dalam Pengelolaan Madu Tikung di Desa Ensabang Kecamatan Sepauk Kabupaten Sintang: Local Knowledge in The Management of Tikung Honey in Ensabang Village, Sepauk Sub-District, Sintang District
Knowledge is essential for people to adapt to nature and becomes a cultural heritage in managing existing natural resources with knowledge, customary, and cultural norms in the community\u27s concept of thinking. Forest honey from Ensabang Village, Sepauk District, Sintang Regency, is honey produced by Apis dorsata bees, which is managed by the community using the Tikung technique, the management of which is based on the community\u27s local knowledge and customary rules. This research aims to examine forms of local knowledge in the management of Tikung honey. This research used interview techniques with all Tikung honey farmers, and the data was analyzed using qualitative descriptive analysis. The study results show that the management of Tikung honey is carried out individually. The Tikung is placed on the river bank and the ground, and the types of wood used to make Tikung are Tembesuk (Fagraea fragrans) and Kawi (Shorea balangeran). Harvesting forest honey is carried out at night, and packaging and marketing are carried out directly by honey farmers. The traditional rule is that people are prohibited from burning near nest trees, destroying and cutting down nest trees and food trees, and putting Tikung in other people\u27s trees and gardens. There are written sanctions and fines for those who steal and claim other people\u27s Tikung.Kearifan merupakan suatu hal yang penting untuk masyarakat beradaptasi dengan alam dan menjadi suatu warisan budaya dalam mengelola sumber daya alam yang ada dengan pengetahuan, norma adat dan budaya yang terkandung dalam konsep berfikir masyarakat itu sendiri. Madu hutan Desa Ensabang Kecamatan Sepauk Kabupaten Sintang merupakan madu yang dihasilkan oleh Lebah Apis dorsata yang dikelola oleh masyarakat dengan menggunakan teknik Tikung, yang dalam pengelolaannya berdasarkan pada pengetahuan lokal masyarakat dan aturan adat. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji bentuk-bentuk kearifan lokal masyarakat dalam pengelolaan madu Tikung. Penelitian ini menggunakan teknik wawancara kepada seluruh petani madu Tikung, dan dianalisis menggunakan analisis Deskriptif Kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa pengelolaan madu Tikung dilakukan secara individu, penempatan Tikung diletakkan di pinggir sungai dan di tanah, jenis kayu yang digunakan untuk membuat Tikung adalah Tembesuk (Fagraea fragrans), dan Kawi (Shorea balangeran). Proses pemanenan madu hutan dilakukan pada malam hari, serta pengemasan dan pemasaran yang dilakukan langsung oleh petani madu. Bentuk aturan adatnya adalah masyarakat dilarang untuk melakukan pembakaran didekat pohon sarang; merusak dan menebang pohon sarang maupun pohon pakan; dan meletakan Tikung dipohon dan dikebun milik orang lain. Terdapat sanksi tertulis dan denda bagi yang mencuri dan mengakui Tikung milik orang lain
Keterbasahan Kayu Jati Cepat Tumbuh Termodifikasi Kimia dan Panas: Wettability of Chemically and Thermally Modified of Fast-Growing Teak Wood
Fast-growing species are chemically and thermally modified to improve quality. These changes affect wood’s chemical composition and surface characteristics. This study aims to analyze the durability of fast-growing teak wood that has been chemically and thermally modified. Chemical modification was carried out by impregnation using citric acid and polyethylene glycol (PEG) 400, while heat modification carried out at 150 °C. The wettability of wood was tested by measuring the contact angle with six types of liquid, aquades, toluene, glycerin, methanol, alkyd, and acrylic paint. The results showed that chemical modification treatment significantly improved the wettability of wood compared to control and heat treatment. Wood treated with citric acid and PEG 400 exhibits a lower contact angle, indicating increased liquid absorbency. Conversely, heat treatment increased the contact angle value making the wood more hydrophobic. Alkyd showed better wettability than acrylic paints, possibly due to their lower viscosity values. This suggests that chemical modification more effectively improves wood coating adhesion.Saat ini kayu fast growing species banyak dilakukan modifikasi secara kimia maupun panas untuk meningkatkan mutu kayu tersebut. Perlakuan modifikasi kimia maupun panas dapat mempengaruhi perubahan komposisi kimia terutama perubahan karakteristik permukaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterbasahan kayu jati cepat tumbuh yang telah dimodifikasi secara kimia dan panas. Modifikasi kimia dilakukan dengan impregnasi menggunakan asam sitrat dan polyethylene glycol (PEG) 400, sedangkan modifikasi panas dilakukan pada suhu 150 °C. Keterbasahan kayu diuji dengan mengukur sudut kontak dengan enam jenis cairan, yaitu akuades, toluena, gliserin, metanol, cat alkid, cat akrilik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan modifikasi kimia meningkatkan keterbasahan kayu secara signifikan dibandingkan kayu kontrol dan heat treatment. Kayu yang dimodifikasi dengan asam sitrat dan PEG 400 memiliki sudut kontak lebih rendah yang menunjukkan peningkatan daya serap terhadap cairan. Sebaliknya, heat treatment meningkatkan nilai sudut kontak sehingga kayu menjadi lebih hidrofobik. Cat alkid menunjukkan keterbasahan yang lebih baik dibandingkan cat akrilik, kemungkinan akibat nilai viskositasnya lebih rendah. Hal ini menunjukkan bahwa modifikasi kimia lebih efektif dalam meningkatkan keterbasahan kayu jati cepat tumbuh dan dapat meningkatkan kualitas daya rekat bahan pelapis kayu