1,720,970 research outputs found
TAWHIDI EPISTEMIC: GAGASAN TENTANG TRANSENDENSI SAINS DALAM ISLAM
Sains Barat dan sains Islam dalam beberapa aspek dianggap berbeda. Perbedaan ini sangat kelihatan ketika sains Barat dengan angkuhnya mengklaim bahwa sains tidak berhubungan dengan agama tdak lahir dari gereja, sementara Islam meyakini bahwa sains tidak dapat dipisahkan dari agama. Ini bisa terjadi karena sains Barat berakar pada ratio sementara sains Islam berakar pada wahyu. Pandangan ini kemudian melahirkan dikotomi antara ilmu-ilmu umum dan ilmu-ilmu agama. Inilah yang kemudian mendorong kalangan ilmuan muslim melakukan ijtihad untuk sebuah perubahan paradigma melalui islamisasi sain
PLURALITAS AGAMA (Tinjauan atas Hubungan Islam- Kristen)
Tantangan teologis paling besar dalam kehidupan beragama sekarang ini yang dihadapi orang-orang beriman di tengah kenyataan pluralisme agama dewasa ini adalah bagaimana suatu teologi dari suatu agama mendefinisikan dirinya di tengah agama-agama lain. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kajian pustaka. Hasil penelitian menemukan bahwa, pada umumnya kaum beriman berpikir dengan double standars (standar ganda); agama kita adalah yang paling sejati dan berasal dari Tuhan, sedangkan agama lain hanya konstruksi manusia, atau mungkin juga berasal dari Tuhan tetapi dipalsukan oleh manusia. Sejarah mencatat bagaimana standar ganda ini telah melahirkan suasana saling curiga di antara umat manusia atas nama Tuhan. Agama tampaknya selalu hadir dalam wajah ganda, ambivalensi yang sulit diurai dan dimengerti lebih-lebih bila penganutnya menempatkan diri sebagai aktor dalam setiap konflik yang terjadi.
 
ISLAM DAN INDONESIA MODERN DALAM PERSPEKTIF TEOLOGI INKLUSIF NURCHOLIS MADJID
Cak Nur\u27s thought in theological matters is more of a representation of the views of the latter which emphasize the need reorientation of religious understanding to the present empirical reality. Cak Nur, in his book, Islamic Doctrine and Civilization, this attitude is clear he said that religious normative provisions could be attempted seen in the possibility of its social- historical implementation. Because, after all the height of a teaching, but what is actually in it human life and influencing society is a form of implementation concretely in history, namely the social and cultural life of humans time and space contex
PERAN PENGAWAS DALAM MENINGKATKAN KINERJA GURU DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI 2 KOTAMOBAGU
Tujuan penelitian ini, yakni untuk mendeskripsikan dan menganalisis peran pengawas dalam Meningkatkan Kinerja Guru di Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Kotamobagu. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Informan penelitian ini adalah pengawas, kepala madrasah, wakmad guru, dan peserta didik. Teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitan yang diperoleh bahwa peran pengawas dalam meningkatkan kinerja guru di Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Kotamobagu, yakni dengan melakukan pembinaan terprogram dan terjadwal melalui rencana kepengawasan akademik (RKA), pengawas memberikan bimbingan, arahan, contoh merevisi, dan cara membuat dokumen 2 (Silabus dan RPP). a) Rencana Kepengawasan Manajerial (RKM), b) Rencana Kepengawasan Manajerial (RKM). Dalam melakukan pembinaan khusunya kinerja guru yakni dengan di awal semester dan akhir semester ganjil dan genap. 2) Peran pengawas dalam meningkatkan kinerja guru berdampak pada peningkatan kinerja dan kualitas guru. Pembinaan pengawas dalam meningkatkan kinerja guru dalam proses pembelajaran, membina penyusunan dokumen program tahunan dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), membina guru yang memiliki tugas tambahan dan hasil penilaian dilaporkan kepada guru yang dinilai. Rekomendasi hasil penelitian ini hendaknya Pelaksanaan pembinaan oleh pengawas dapat memberikan kontribusi penting dalam meningkatkan kinerja guru yang mengacu pada fungsi, prinsip, tujuan serta prosedur penerapan meningkatkan kinerja guru. Fokus pelaksanaan pembinaan pengawas bukan hanya terfokus pada seorang guru, tetapi pada semua guru lainnya karena semua guru sebagai tim kerja (cowokers) yang sama-sama bertujuan mengembangkan situasi yang memungkinkan terwujudnya peningkatan kenaikan pangkat dan kesejahteraan para guru.Tujuan penelitian ini, yakni untuk mendeskripsikan dan menganalisis peran pengawas dalam Meningkatkan Kinerja Guru di Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Kotamobagu. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Informan penelitian ini adalah pengawas, kepala madrasah, wakmad guru, dan peserta didik. Teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitan yang diperoleh bahwa peran pengawas dalam meningkatkan kinerja guru di Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Kotamobagu, yakni dengan melakukan pembinaan terprogram dan terjadwal melalui rencana kepengawasan akademik (RKA), pengawas memberikan bimbingan, arahan, contoh merevisi, dan cara membuat dokumen 2 (Silabus dan RPP). a) Rencana Kepengawasan Manajerial (RKM), b) Rencana Kepengawasan Manajerial (RKM). Dalam melakukan pembinaan khusunya kinerja guru yakni dengan di awal semester dan akhir semester ganjil dan genap. 2) Peran pengawas dalam meningkatkan kinerja guru berdampak pada peningkatan kinerja dan kualitas guru. Pembinaan pengawas dalam meningkatkan kinerja guru dalam proses pembelajaran, membina penyusunan dokumen program tahunan dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), membina guru yang memiliki tugas tambahan dan hasil penilaian dilaporkan kepada guru yang dinilai. Rekomendasi hasil penelitian ini hendaknya Pelaksanaan pembinaan oleh pengawas dapat memberikan kontribusi penting dalam meningkatkan kinerja guru yang mengacu pada fungsi, prinsip, tujuan serta prosedur penerapan meningkatkan kinerja guru. Fokus pelaksanaan pembinaan pengawas bukan hanya terfokus pada seorang guru, tetapi pada semua guru lainnya karena semua guru sebagai tim kerja (cowokers) yang sama-sama bertujuan mengembangkan situasi yang memungkinkan terwujudnya peningkatan kenaikan pangkat dan kesejahteraan para guru
Telaah Konsep atas Pengembangan Pendidikan Agama dalam Era Multikultural
bentuk review article dari karya Dr. M. Zaerozi, M. Ag,; Politik Pendidikan Agama dalam Era Pluralisme: Telaah Historis atas Kebijaksanaan Pendidikan Agama konfensional di Indonesia
Landasan Kurikulum Pendidikan Islam
Dalam karya ilmiah ini tujuannya untuk mengkaji kurikulum berbasis Pendidikan Agama Islam. Adapun hasil dari karya ilmiah tersebut, dapat di simpulkan bahwa tujuan pendidikan islam memiliki perbedaan dengan tujuan pendidikan lain. Diantaranya, tujuan pendidikan menurut paham pragmatisme yang menitikberatkan pemanfaatan hidup manusia di dunia. Dalam kurikulum, terdapat pengelolaan komponen perencanaan yang harus diperhatikan faktornya, yaitu tujuan, konten, aktivitas belajar, sumber dan evaluasi. Dalam implementasi kurikulum terdapat 3 tahap yaitu pengembangan program, pelaksanaan pembelajaran dan evaluasi. Untuk itu, kurikulum bukan hanya diperlukan bagi para penyusun. Tetapi haruslah dipahami bagi pengawas pendidikan dan dijadikan dasar pertimbangan oleh pelaksana kurikulum yaitu para pengawas, guru serta pihak-pihak yang berkaitan dengan tugas-tugas pengelolaan pendidika
Teori Belajar dalam Perspektif Islam
Teori belajar yang kemudian paling banyak berkembang di Barat modern sampai sekarang ialah teori belajar behavioristik, Gestalt dan Medan Teori belajar behavioristik, pandangannya terhadap manusia sangat bersifat biologik. Sebagaimana teori koneksionisme dari thorndike yang dikembangkan dalam tahun 1913, 1932, 1935 dan 1968, kemudian conditioning yang dipelopori oleh Pavlov (1927) dan dikembangkan oleh Watson (1970). Kemudian tori belajar lain yang juga berkembang di Barat yaitu Gestalt yang dikembangkan oleh Kohler (1925, 1942) dan Skinkoffka (1935), dan Wertheimer (1945). Selanjutnya dikembangkan pula teori Medan oleh Kurt Lewin (1935,
1936, dan 1942) yang bertolak dari prinsip Gestalt dngan menambah hal baru. Dimana, teori tersebut berpendirian bahwa “The Whole is Primary” dan bagian-bagiannya dikenal melalui diferensiasi atau individualisasi. Maka mempelajari sesuatu menurut teori ini bukan melalui bagian-bagian, melainkan lewat keseluruha
Konsep Pluralis-Multikultural dan Implementasi dalam Dunia Pendidikan Said Subhan Posangi
Abstract: Indonesia consists of various racial, ethnic or religious group. Therefore, need awareness of the Society to perform in a more understanding and assessment in education. Discourse on diversity must be addressed wisely so as not to bring any conflict, as had happened some time ago. Pluralist-multicultural concept seems appropriate to be applied in education as an understanding and assessment of diversity in Indonesia to raise harmony together and prevent the conflict. Education made special shots because this is where the search process beginning stock of one’s life meaning. In education will form a value system that direct a person to move and act based on the value system that he belong to.
Keyword: Concept, Pluralist, Multicultural, and Education
THE INCULCATION MODEL OF REGION MODERATION VALUES IN ISLAMIC SENIOR HIGH SCHOOL (MADRASAH ALIYAH)
The challenge in promoting religion moderation values is going to be very complex in this recent era, due to many violences happened in schools in the form of verbal, psychological, or physical. However, madrasah (Islamic school) as an educational institution which always struggle to minimalize the deviant behaviors as the result of the lack of tolerance, equality, diversity, and the others. Therefore, this study aimed to reveal the strategy of the inculcation of religion moderation values in private Islamic senior high schools (private madrasah aliyah) in Gorontalo. Furthermore, the qualitative research method was used to study the strategies implemented by five private Islamic senior high schools in Gorontalo in inculcating various moderation values. This study aimed to show that the model of the inculcation of religion moderation values consisted of some models namely introduction model, habituation model, exemplary model, and the inculcation of the values in the school environment. Even there was a similarity in the inculcation of those values, the school (madrasah) also had the differences supported by some backgrounds such as environment, school organization, facility, human resource, activity, and the others. Therefore, this study concluded that the strategy implemented referring to the structural model. However, the differences of the structural model reflected to the different culture or rules which indicated that the strategy of the inculcation of religion moderation values used the structural model based on the local culture of the madrasah
THE INCULCATION MODEL OF REGION MODERATION VALUES IN ISLAMIC SENIOR HIGH SCHOOL (MADRASAH ALIYAH)
The challenge in promoting religion moderation values is going to be very complex in this recent era, due to many violences happened in schools in the form of verbal, psychological, or physical. However, madrasah (Islamic school) as an educational institution which always struggle to minimalize the deviant behaviors as the result of the lack of tolerance, equality, diversity, and the others. Therefore, this study aimed to reveal the strategy of the inculcation of religion moderation values in private Islamic senior high schools (private madrasah aliyah) in Gorontalo. Furthermore, the qualitative research method was used to study the strategies implemented by five private Islamic senior high schools in Gorontalo in inculcating various moderation values. This study aimed to show that the model of the inculcation of religion moderation values consisted of some models namely introduction model, habituation model, exemplary model, and the inculcation of the values in the school environment. Even there was a similarity in the inculcation of those values, the school (madrasah) also had the differences supported by some backgrounds such as environment, school organization, facility, human resource, activity, and the others. Therefore, this study concluded that the strategy implemented referring to the structural model. However, the differences of the structural model reflected to the different culture or rules which indicated that the strategy of the inculcation of religion moderation values used the structural model based on the local culture of the madrasah
- …
