1,720,978 research outputs found
Analisis Biaya Satuan Operasional Penyelenggaraan Taman Kanak-Kanak Holistik Integratif
Hingga saat ini semakin banyak yang masyarakat yang mengeluh mahalnya biaya TK, meskipun Pemerintah telah berupaya memberikan bantuan dana. Dalam pemberian bantuan dana hendaknya memperhatikan perhitungan biaya satuan siswa, oleh karena itu tujuan penelitian untuk (1) menghitung besaran biaya satuan operasional (BSO) penyelenggaraan TK holistik integratif, dan (2) menghitung variasi dan proyeksi besaran biaya satuan operasional penyelenggaraan TK holistik integratif menurut kategori wilayah. Penelitian ini menggunakan data kuantitatif menggunakan metode activity based costing, dengan sampel penelitian ini sebanyak 577 TK di Indonesia. Unit analisis penelitian ini adalah lembaga TK. Penelitian ini menggunakan kuesioner secara online yang dikirimkan kepada seluruh lembaga PAUD di Indonesia. Simpulan penelitian ini adalah (1) biaya satuan operasional selama 1 tahun per siswa untuk TK holistik integratif sebesar Rp 5.857.750, dan (2) besaran biaya satuan operasional untuk TK di Indonesia bagian Barat lebih rendah daripada Indonesia bagian tengah dan timu
IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KELUARGA DALAM UPAYA PENINGKATAN KARAKTER ANAK
ABSTRAK
Saat ini terdapat peningkatan kasus anak berhadapan dengan hukum mencapai 1.434 kasus. Banyaknya kasus tersebut mengindikasikan gejala memudarnya karakter anak. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka tujuan penelitian ini antara lain: 1) Menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh dalam menerapkan pendidikan keluarga sebagai upaya peningkatan karakter anak, dan 2) Menganalisis strategi implementasi pendidikan keluarga dalam upaya peningkatan karakter anak sejak dini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif, melalui wawancara dengan Dinas Pendidikan Kota Tangerang Selatan, Kepala Sekolah sampel, dan Orangtua. Sampel penelitian ini adalah 5 TK di Kota Tangerang Selatan, di Provinsi Banten. Hasil dari penelitian ini antara lain: 1) faktor-faktor yang berpengaruh: a) karakteristik orangtua, b) lingkungan, c) media elektronik/teknologi, d) ekonomi, dan e) dukungan Pemda kabupaten/kota terhadap program pendidikan keluarga, dan 2) Strategi implementasi antara lain: a) pelibatan orangtua dalam kegiatan kokurikuler, ekstrakurikuler, dan kegiatan lain untuk pengembangan diri anak di sekolah, b) penerapan lingkungan kehidupan sosial dan proses pembelajaran yang lebih rohani, c) komunikasi aktif antar ekosistem pendidikan, dan d) pelibatan seluruh elemen masyarakat dalam upaya peningkatan karakter anak.
Kata kunci: Pendidikan Keluarga, Karakter, Anak
ABSTRACT
At present there is an increase in cases of children facing the law reaching 1,434 cases. The number of these cases indicates the symptoms of waning children's character. Based on these problems, the objectives of this study include: 1) Analyzing the factors that influence the implementation of family education as an effort to improve the character of children, and 2) Analyze the strategy of implementing family education in an effort to improve the character of children early. This study uses a quantitative and qualitative approach, through interviews with the South Tangerang City Education Office, sample School Principals, and Parents. The research sample was 5 kindergartens in South Tangerang City, in Banten Province. The results of this study include: 1) factors that influence: a) parental characteristics, b) environment, c) electronic / technology media, d) economy, and e) district / city government support for family education programs, and 2 ) Implementation strategies include: a) parental involvement in co-curricular, extracurricular activities, and other activities for children's self-development in school, b) application of a more spiritual social life and learning process, c) active communication between educational ecosystems, and d) involvement of all elements of the community in an effort to improve children's character.
Keywords: Family Education, Character, Children
 
Faktor - Faktor yang Berpengaruh Terhadap Aksesibilitas Memperoleh Pendidikan Untuk Anak - anak di Indonesia
Tujuan penelitian ini untuk mengkaji faktor-faktor yang berpengaruh terhadap aksesibilitas memperoleh pendidikan bagi anak-anak di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data SUSENAS 2014 dengan unit analisis anak berusia 7-18 tahun, jumlah responden sebanyak 372.142 anak. Penelitian ini menggunakan metode regresi logit dengan software pengolah data STATA 13. Setelah dilakukan olah data dengan menggunakan software STATA 13 dari 372.142 anak diperoleh Prob>chi2 =0.0000, artinya bahwa model yang diujikan dalam penelitian ini signifikan dengan nilai correctly classified sebesar 89,93 persen. Dengan demikian, model ini mampu memprediksi aksesibilitas anak memperoleh
pendidikan serta variabel terikatnya dapat dipengaruhi oleh variabel-variabel bebasnya sebesar 89,93 persen. Dapat disimpulkan bahwa anak perempuan yang bertempat tinggal
di perkotaan, latar belakang pendidikan Ibu yang semakin tinggi, jarak ke sekolah yang dekat, orang tua yang menikah di usia produktif, semakin besarnya pendapatan per kapita
rumah tangga, dan semakin sedikitnya jumlah anggota rumah tangga merupakan faktor - faktor yang berpengaruh terhadap aksesibilitas memperoleh pendidikan bagi anak-anak di Indonesia
ANALISIS PERMINTAAN DAN PENAWARAN LULUSAN SMK DALAM PEMENUHAN PASAR TENAGA KERJA
The objectives of this study are (1) to analyze DUDI demand on the competence ofvocational graduates in an effort to achieve a balance of the labor market, and (2) analyzethe supply of vocational graduates needed by DUDI in an effort to achieve a balance of thelabor market. In this study using qualitative approaches primary data analysis methods.This research was conducted in Central Java Province in 2018. The results of this studyare: (1) the qualifications of the workforce needed for DUDI in the middle to upper scaleare primarily having a certificate of competence, having IT and foreign language skills,and having experience working in the field the same for 1 year, and (2) the competencies ofvocational graduates produced have been sought to adjust DUDI's needs, but there arelimitations in the ability of vocational graduates because of the lack of facilities andinfrastructure in schools and the limited ability of educators
IMPLEMENTASI PPDB ZONASI DALAM UPAYA PEMERATAAN AKSES DAN MUTU PENDIDIKAN
Hingga saat ini kondisi akses dan mutu masih belum merata. Dalam hal akses, masih ada ketimpangan partisipasi bersekolah antar jenjang, provinsi, dan perdesaan perkotaan. Selanjutnya dalam hal belum meratanya mutu pendidikan dapat dilihat dari capaian rata-rata hasil Ujian Nasional tahun 2017/2018 yang menunjukkan tingginya keragaman nilai antar siswa (standar deviasi) dan sedikitnya wilayah yang memiliki rata-rata hasil Ujian Nasional di atas rata-rata Nasional.Pemerintah telah melakukan berbagai upaya pemerataan mutu pendidikan melalui program zonasi pendidikan, salahsatu strateginya melalui PPDB berbasis zonasi. PPDB Zonasi telah berjalan 2 tahun sehingga perlu dilakukan evaluasi pelaksanaannya agar tujuan penyelenggaraannya yaitu memeratakan akses dan mutu pendidikan dapat tercapai. Berdasarkan hal tersebut maka dilakukanlah penelitian ini dengan tujuan untuk menganalisis implementasi pelaksanaan PPDB Zonasi di Provinsi Sulawesi Tengah dalam upaya pemerataan akses dan mutu pendidikan. Penelitian ini dilakukan bulan September 2018. Penelitian ini berfokus pada jenjang SMA Negeri di 3 wilayah Provinsi Sulawesi Tengah, yaitu Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Kabupaten Donggala. Pengambilan sampel dilakukan dengan tujuan tertentu, yaitu SMA favorit di wilayah terdekat ibukota Provinsi Sulawesi Tengah. Analisis penelitian ini dengan menggunakan pendekatan model implementasi Van Meter and Van Horn (1975) yang meliputi variabel Ukuran dan Tujuan Kebijakan, Sumberdaya, Karateristik Agen Pelaksana, Sikap/ kecenderungan (Disposition) para Pelaksana, Komunikasi Antarorganisasi dan Aktivitas Pelaksana, Lingkungan Ekonomi, Sosial, dan Politik. Berdasarkan hasil analisis, kesimpulan hasil penelitian ini adalah pelaksanaan PPDB Zonasi di Provinsi Sulawesi Tengah telah berhasil dalam upaya memeratakan akses dan mutu pendidikan. Sebaran siswa dari sisi jarak sudah mendekat ke rumah siswa dan dari sisi mutu input juga telah menyebar di berbagai sekolah sehingga sudah tidak ada lagi dikotomi sekolah unggulan dan non unggulan. Hal telah sesuai dengan tujuan program zonasi pendidikan.Kata Kunci: PPDB Zonasi, Akses, Mut
ANALISIS PEMBIAYAAN PENDIDIKAN MENENGAH DI KABUPATEN GOWA
Education as a core activity of HR development has proven to have a significant contribution to economic benefits. In order to fund the cost of education, especially to quality secondary education, it is necessary to know in advance how much funding is needed and where the funding sources are obtained. Based on the description, the purpose of this study is to calculate the cost of non-personnel operating unit costs and its fulfilment strategies in the implementation of quality secondary education. The sample of this study amounted to 10 schools consisting of 4 high schools and 6 public vocational schools in Gowa Regency, South Sulawesi Province in 2018. Based on the results of the study, it was concluded that the non-personnel operational costs at the high school level were obtained by variations in non-personnel operational unit costs (BONP) ranging from Rp. 735,000. IDR 3,850,000 per student per year. And the sample BONP of Vocational High School shows quite a high variation, which is around Rp1,845,000. Rp.4,429,000 per student per year. The amount of the funds, the average use of the non-personnel operational costs budget in the highest SMA is used for minor maintenance and repairs (51%). Whereas for Vocational Schools, the largest average budget for non-personnel operational costs at Vocational Schools is used for minor maintenance and repairs (74%)
Analysis of Student Readiness in Facing Minimum Competency Assesment
In 2021 there will be a substitute for the National Examination, namely Minimum Competency Assessment and character surveys. The role of the AKM is used to measure literacy and numeracy competencies. To test the readiness of students and teachers, at the beginning of 2020 a rehearsal for the implementation of the AKM was held. Therefore, this study aims to analyze the perceptions of students' readiness in facing the Minimum Competency Assessment. This study applies a qualitative and quantitative approach by conducting surveys and interviews with students in public and private high schools and vocational high schools with high, medium, and low scores for the category of National Examination results in Aceh Province in 2019. The results of this study state that some Highest school and vocational high school students think that the AKM questions tested are not in accordance with the material in the learning process taught by teachers in schools so that they are not ready to face AKM if it is held this year
Ujian yang ideal di masa mendatang
Polemik Ujian Nasional selalu ada dari tahun ke tahun dengan munculnya pemikiran/pendapat pakar yang pro dan kontra terhadap penyelenggaraan UN. Pada tahun 2021, USBN akan diganti dengan ujian yang diselenggarakan hanya oleh sekolah dan UN akan diubah menjadi Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) dan Survei Karakter. Dalam rangka penerapaan AKM dan Survey Karakter, kajian ini memberikan saran berkaitan dengan tantangan yang dihadapi
Analisis hubungan jumlah rombongan belajar dan jumlah peserta didik per rombongan belajar dengan mutu lulusan
Adanya dua kebijakan, yaitu PPDB Zonasi dan ketentuan jumlah rombel dan siswa/rombel menyebabkan beberapa daerah mengajukan permohonan kelonggaran pengaturan jumlah rombel dan siswa per rombel dari ketentuan Permendikbud Nomor 22 tahun 2016. Asumsinya hal ini terjadi karena sebaran sekolah yang belum merata dan masih adanya stigma masyarakat tentang sekolah favorit. Jika hal ini terus dibiarkan maka dapat terjadi penumpukan siswa pada suatu sekolah dan berujung pada penutupan beberapa sekolah lain karena kekurangan siswa. Selain itu, banyaknya siswa per rombel yang melebihi ketentuan dikhawatirkan dapat mengurangi efektivitas pembelajaran
dan berujung pada mutu hasil belajar. Menindaklanjuti hal ini maka perlu dilakukan kajian tentang ukuran rombongan belajar dan siswa per rombel serta hubungannya terhadap mutu lulusan. Tujuan buku ini adalah untuk memberikan rekomendasi kebijakan tentang pengaturan ukuran rombel dan siswa per rombel dalam upaya peningkatan mutu lulusan
IMPLEMENTASI PERANAN EKOSISTEM PENDIDIKAN DALAM PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER PESERTA DIDIK
Akhir-akhir ini kita sering melihat beberapa aksi kenakalan yang dilakukan oleh peserta didik. Bermacam-macam bentuk kenakalan peserta didik semakin mewarnai kehidupan saat ini, membuat orang tua, guru, tokoh masyarakat dan bahkan Pemerintah resah. Sebagai salah satu alternatif solusi permasalahan, pemerintah menetapkan kebijakan penguatan pendidikan karakter bagi seluruh masyarakat, termasuk bidang pendidikan. Mengingat pentingnya penguatan pendidikan karakter, sangat menarik untuk mendalami bagaimana implementasi penguatan pendidikan karakter di sekolah, sehingga penulis melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengkaji apa saja peran ekosistem pendidikan dalam mengimplementasikan penguatan pendidikan karakter kepada peserta didik di sekolah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan melakukan wawancara dan survey ke beberapa sekolah sampel yaitu jenjang SD dan SMP di kota Semarang tahun 2017. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh hasil bahwa implementasi nilai-nilai karakter oleh: 1) kepala sekolah, dalam dalam bentuk: mensosialisasikan kebijakan sekolah tentang pendidikan karakter,memberikan keteladanan dalam mengimplementasikan nilai-nilai karakter kepada peserta didik, dan sebagainya, 2) guru, dalam bentuk: guru sebagai pusat peradaban sekolah, memberi kesempatan berpendapat secara merata kepada siswa, menilai dan melaporkan hasil belajar secara adil dan transparan khususnya yang berhubungan dengan penanaman nilai-nilai karakter, membentuk pribadi peserta didik, dan sebagainya, 3) staf/tenaga kependidikan dalam bentuk: berpenampilan rapi, berkata sopan, dan sebagainya, dan 4) orangtua/masyarakat dalam bentuk: sebagai mediator (membangun jejaring) dengan lembaga atau komunitas lain dalam aksi penanaman nilai-nilai karakter di sekolah, berpartisipasi aktif dalam adiwiyata sekolah, mengadakan pelatihan di sekolah dengan mengundang para ahli, dan sebagainya. Dengan adanya sinergitas dalam penguatan pendidikan karakter di sekolah, maka secara langsung akan tercipta suasana kondusif di lingkungan sekolah
- …
