61 research outputs found
Nematosit Dan Tiga Macam Warna Karang Galaxea Fascicularis (Linnaeus) Ditemukan Di Terumbu Karang Pantai Malalayang Kota Manado
Nematosit dan tiga macam warna karang G. fascicularis (Gs, B dan Wt) ditemukan berlimpah di terumbu karang sekitar Nusantara Diving Center (NDC) lama di pantai Malalayang Kota Manado Provinsi Sulawesi Utara, diteliti di Laboratorium Biologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi. Tiga dari 25 nematosit yang dikenal dalam filum Cnidaria, diamati dalam tiga macam warna karang G. fascicularis, yaitu MpM, MbM dan HI. Tipe MpM ditemukan paling dominan terdapat dalam bagian ujung tentakel normal dari tiga macam warna karang spesies ini. MpM dari warna karang Wt memiliki bentuk kapsul nematosit yang lebih kecil dan tangkai-tangkai lebih pendek dibandingkan dengan yang ada pada warna karang Gs atau B, sedangkan yang dari Gs dan B adalah mirip. Penelitian sekarang ini memperlihatkan bahwa tipe nematosit dan karakteristik tubuh dari tiga macam warna karang G. fascicularis adalah berbeda antara Gs atau B dengan Wt, sedangkan yang dari Gs dan B adalah mirip. Penelitian sekarang ini mengusulkan bahwa ketiga macam warna karang G. fascicuaris (Gs atau B dengan Wt) adalah spesies yang berbeda berdasarkan morfologi nematosit dan karakteristik tubuhnya. Penelitian selanjutnya tentang dimensi dan komposisi nematosit, DNA dan pengaruh faktor lingkungan habitat terhadap bermacam warna karang G. fascicularis adalah penting untuk memastikan apakah mereka spesies yang sama atau berbeda
MORFOLOGI NEMATOSIT DARI DUA SPESIES KARANG SCLERACTINIA (Seriatopora hystrix dan Seriatopora caliendrum)
Tujuan penelitian ini adalah membandingkan dimensi nematosit, yaitu panjang dan lebar kapsul serta panjang tangkai) antara kedua karang Scleractinia, S. hystrix dan S. caliendrum yang dikumpulkan dari terumbu karang pantai Malalayang Kota Manado. Pengamatan nematosit dilakukan dengan menggunakan Mikroskop tipe Olympus CX41, sedangkang pengukuran dimensi nematosit digunakan jangka sorong stainless steel (manual) dalam satuan mm, kemudian dikonversi kedalam μm. S. hystrix dan S. caliendrum, masing-masing memiliki tipe nematosit yang sama, yaitu microbasic p-mastigophore (MpM) dan holotrichous isorhiza (HI). Panjang dan lebar kapsul, serta panjang tangkai nematosit dari kedua spesies melalui analisis statistik (uji-t) memperlihatkan hasil tidak berbeda nyata (P > 0.05). Penelitian ini menyatakan bahwa tipe dan morfologi nematosit dari kedua spesies uji adalah sama dan menyarankan bahwa S. hystrix dan S. caliendrum adalah spesies yang sama. Bagaimanapun perlu dilakukan uji lanjut tentang habitat dan lingkungannya dimana fauna-fauna ini berada dan uji DNA apakah perbedaan atau persamaan dari kedua spesies merupakan faktor lingkungan atau genetika atau gabungan dari kedua faktor tersebut.Kata kunci: Seriatopora hystrix; Seriatopora caliendrum, nematosit, MpM, H
Variability in the Reproductive Characteristics of Local Populations of an Intertidal Gastropod, Nerita japonica(Dunker)
NEMATOSIT KARANG Montipora undata (SCLERACTINIA) DARI PANTAI MALALAYANG TELUK MANADO
The aim of this study was to know the nematocysts composition of Montipora undata (Scleractinia) which was collected in the Malalayang coastal coral reef, Manado Bay. This research was conducted for three months, from October to December 2020. Observation of nematocysts was done under an Olympus CX41 microscope with a magnification of x100 objective lens connected to a computer equipped with the application of Optica view 7 at the Laboratory of Fish Health, Environment and Toxicology, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, UNSRAT. The results showed that M. undata had the main nematocyst composition, namely microbasic b-mastigophore (MbM) of 60.0 %, small microbasic p-mastigophore type II (sMpM-II) 26.67 %, small holotrichous isorhiza (sHI) 6 ,67 %, large holotrichous isorhiza (lHI) 4.44 %, and large microbasic p-mastigophore type II (lMpM-II) 2.22 %. MbM is the dominant type of nematocyst for this coral species. Further studies are suggested to investigate the function of MbM and morphology of nematocysts of various types of corals in the genus Montipora.Keywords: Composition, Manado Bay, Montipora undata, nematocyst, Scleractini
NEMATOSIT DARI TIGA SPESIES KARANG SCLERACTINIA, GENUS POCILLOPORA
Nematosit dari tiga spesies karang Scleractinia, yaitu Pocillopora eydouxi, Pocillopora woodjonesi dan Pocillopora verrucosa yang mendiami terumbu karang di kawasan Pantai Malalayang, Manado, ProÂvinsi Sulawesi Utara diteliti dalam penelitian ini. Dari 25 tipe nematosit utama yang dikenal dalam filum Cnidaria, dua tipe di antaranya dijumpai pada ketiga spesies ini. Dua tipe utama nematosit, yaitu holotrichous isorhizas (HI) dan microbasic p-mastigophores (MpM) teramati pada P. eydouxi dan P. woodjonesi, dan hanya satu tipe, yaitu microbasic p-mastigophore (MpM) diamati pada P. verrucosa. Komposisi nematosit pada P. eydouxi serupa dengan P. woodjonesi, tetapi sangat berbeda dari P. verrucosa. Ukuran HI adalah berbeda antara P. eydouxi dan P. woodjonesi, dan juga ukuran MpM berbeda antara P. verrucosa dan P. eydouxi atau P. woodjonesi. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa komposisi dan dimensi nematosit cenderung bervariasi di antara ketiga spesies ini, walaupun berada dalam satu genus. Â Â Perbedaan-perbedaan dalam nematosit ini diusulkan untuk dapat digunakan dalam klasifikasi karang. Kata kunci: Pocillopora eydouxi, Pocillopora woodjonesi, Pocillopora verrucosa, nematosit, holotrichous isorhizas (HI), microbasic p- mastigophore (MpM). Â Nematocysts of three Scleractinian corals, i.e., Pocillopora eydouxi, Pocillopora woodjonesi and Pocillopora verrucosa occurring in the reef of the coastal area of Malalayang, Manado, North Sulawesi Province were studied. Of the 25 major types of nematocysts recognized in the phylum of Cnidaria, two types were encountered in these three corals. Two major types of holotrichous isorhizas (HI) and microbasic p-mastigophores (MpM) were observed in P. eydouxi and P. woodjonesi, and only one type of microbasic p-mastigophore (MpM) was observed in P. verrucosa. The nematocyst composition of P. eydouxi was similar to that of P. woodjonesi, but markedly different from that of P. verrucosa. The size of HI was different between P. eydouxi and P. woodjonesi, and also the size of MpM was different between P. verrucosa and P. eydouxi or P. woodjonesi. The present observation showed that nematocyst composition and dimension might be varied among these three corals. It is suggested that the differences in the nematocysts could be used in the classification of corals. Keywords: Pocillopora eydouxi, Pocillopora woodjonesi, Pocillopora verrucosa, nematocysts, holotrichous isorhizas (HI), microbasic p- mastigophore (MpM)
PERAN UNSRAT DALAM PENELITIAN PENGEMBANGAN EKONOMI MARITIM DAN KELAUTAN DI SULAWESI UTARA MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN
Penelitian ini bertujuan untuk: a) mengidentifikasi riset-riset bidang kemaritiman/kelautan yang dilakukan Unsrat sepanjang 3 (tiga) tahun terakhir (2012-2014), b) mengidentifikasi riset-riset Unsrat yang mendukung sektor-sektor prioritas pelaksanaan MEA 2015, khususnya produk industri berbasis perikanan di Sulut. Penelitian ini mengacu pada metode deskriptif dengan menggunakan studi survei. Data diperoleh melalui studi pustaka, penelusuran laman terkait, wawancara (kuisioner) dan observasi kepada informan/responden yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Penelitian ini menggunakan analisis AHP dan deskriptif. Kegiatan penelitian pada indikator kemaritiman pengembangan ekonomi maritim yang dilakukan oleh Unsrat selama tahun 2012-2014 adalah terpusat pada indikator produksi hasil perikanan, yaitu berkisar 13-26 judul/kegiatan, peningkatan luas kawasan konservasi laut 2-5 judul/kegiatan, sedangkan pengembangan pelabuhan perikanan hanya 1 judul kegiatan yang ditemukan pada tahun 2014 saja. Kegiatan penelitian pada indikator produksi hasil perikanan berasal dari bidang ilmu MSP, IK, ABP, BDP, PSP, dan THP, selanjutnya kegiatan penelitian pada pengembangan pelabuhan perikanan berasal dari bidang ilmu PSP, sedangkan kegiatan penelitian pada peningkatan luas kawasan konservasi laut berasal dari bidang ilmu MSP dan IK. Biaya kegiatan penelitian di bidang kemaritiman yang diperoleh oleh Unsrat tahun 2012-2014, yaitu bervariasi dari Rp. 15.000.000-Rp. 1.644.358.433 berasal dari anggaran pemerintah pusat, Unsrat (PNBP), dan perusahaan swasta. Biaya kegiatan penelitian yang diperoleh oleh Unsrat selama tahun 2012-2014 masih terpusat pembiayaannya pada kegiatan penelitian pengembangan ekonomi maritim dari indikator produksi hasil perikanan, sebesar Rp. 6.136.358.433 (91,95%), sedangkan biaya kegiatan pada pengembangan pelabuhan perikanan hanya sebesar Rp. 50.000.000 (0,75%) dan peningkatan luas kawasan konservasi laut sebesar Rp. 487.500.000 (7,30%). Lokasi kegiatan penelitian pengembangan ekonomi maritim yang telah dilakukan oleh Unsrat selama tahun 2012-2014, tersebar di hampir semua kabupaten/kota pesisir yang ada di Sulut, yaitu Manado, Bitung, Minut, Minahasa, Minsel, Mitra, Sangihe, Talaud, Bolsel, dan Bolmong, sedangkan untuk Boltim, Bolmut dan Sitaro belum pernah dilakukan kegiatan penelitian pengembangan ekonomi maritim oleh Unsrat. Ada 9 (sembilan) judul penelitian yang unggul dan berdaya saing di bidang maritim dari Unsrat, yang telah berproses memperoleh Hak Paten dari Kementerian Hukum dan HAM RI. Sembilan judul penelitian tersebut berasal dari penelitian Rispro LPDP Kemenkeu RI tahun 2014 dengan judul utama, yaitu “Produksi dan komersialisasi penyedap rasa alami kaya iodium berbasis ikan asap serta pemanfaatan biopolimer dari rumput laut dan limbah industri perikanan sebagai Edible Sachet Filmâ€. Disarankan bahwa peran Unsrat kedepan dalam strategi penelitian pengembangan ekonomi maritim di Sulut, tidak hanya terfokus pada indikator kemaritiman produksi hasil perikanan, melainkan juga pada pengembangan pelabuhan perikanan dan peningkatan luas kawasan konservasi laut dalam menunjang program pemerintah mencapai target di bidang kemaritiman/kelautan dalam RPJMN 2015-2019. Unsrat perlu penelitian lanjut menetapkan strategi penelitian pengembangan ekonomi maritim di Sulut dengan menggunakan analisis SWOT. 9 judul penelitian Paten berbasis produk unggulan berdaya saing di bidang kemaritiman yang berasal dari FPIK Unsrat perlu dikembangkan menjadi produk ber-SNI menghadapi MEA
Cucubalus reflexus Linnaeus, 1753, spec. nov.
<p>Cucubalus reflexus, spec. nov.</p> <p> 12. Cucubalus floribus spicatis alternis secundis subsessilibus, corollis obsoletis nudis. <i>Hort. ups. 112.</i> *</p> <p> Lychnis segetum meridionalium annua hirta, floribus albis uno versu dispositis. <i>Moris. hist.2. p.544.</i> <i>Raj. hist. 996.</i></p> <p> Lychnis sylvestris alba, spica reflexa. <i>Magn. monsp. 171. t. 170.</i></p> <p> <i>Habitat</i> Monspelii <i>. ☉</i></p> <p> The following species was moved by the author from genus <i>Silene</i>, no. 10: see Errata.</p>Published as part of <i>Linnaeus, Carolus, 1753, Species plantarum: exhibentes plantas rite cognitas, ad genera relatas, cum differentiis specificis, nominibus trivialibus, synonymis selectis, locis natalibus, secundum systema sexuale digestas, Stockholm :Laurentius Salvius</i> on page 416, DOI: <a href="http://zenodo.org/record/3931989">10.5281/zenodo.3931989</a>
Nematosit Karang Scleractinia, Pocillopora Eydouxi
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tipe, komposisi, dan dimensi nematosit dari Karang Scleractinia, Pocillopora eydouxi. Pocillopora eydouxi yang digunakan dalam studi ini berasal dari Pantai Malalayang, Manado. Dua tipe nematosit utama ditemukan pada Pocillopora eydouxi, yaitu holotrichous isorhizas (HI) dan microbasic p-mastigophore (MpM). Komposisi nematosit memperlihatkan bahwa HI lebih berlimpah dari MpM. Tipe HI memiliki panjang kapsul 63,38 ± 11,36 µm (mean ± SD) dan lebar kapsul 19,25 ± 4,60 µm (mean ± SD), sedangkan MpM memiliki panjang kapsul 27,05 ± 3,68 µm (mean ± SD), lebar kapsul 7,05 ± 1,88 µm (mean ± SD) dan panjang tangkai 19,59 ± 4,67 µm (mean ± SD). Hasil studi menyimpulkan bahwa Pocillopora eydouxi memiliki dua tipe nematosit utama, yaitu HI dan MpM, dan mengusulkan untuk diteliti lebih lanjut peranan dari ke dua tipe nematosit tersebut
MANGROVE DAN PENGEMBANGAN SILVOFISHERY DI WILAYAH PESISIR DESA ARAKAN KECAMATAN TATAPAAN KABUPATEN MINAHASA SELATAN SEBAGAI IPTEK BAGI MASRAKAT
Tujuan kegiatan pengabdian pada masyarakat di Desa Arakan Kecamatan Tatapaan Kabupaten Minahasa Selatan adalah untuk memberikan Iptek bagi Masyarakat (IbM) untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Silvofishery adalah sistem pertambakan teknologi tradisional yang menggabungkan antara usaha perikanan dengan penanaman mangrove, yang diikuti konsep pengenalan sistem pengelolaan dengan meminimalkan input dan mengurangi dampak terhadap lingkungan. Konstruksi tambak di Desa Arakan pada pengabdian pada masyarakat ini lebih memilih silvofishery model komplangan daripada model empang parit karena model komplangan lebih ramah lingkungan. Pemahaman mangrove yang diberikan dalam pembelajaran pada masyarakat meliputi definisi dan ruang lingkup mangrove, komponen mangrove, cara pengenalan mangrove dan jenis-jenis tanaman mangrove. Masyarakat nelayan dan pesisir Desa Arakan yang mengikuti kegiatan penanaman mangrove diberikan panduan mengacu pada Lampiran 1 Peraturan Menteri Kehutanan P.03/MENHUT.V/2004 tertanggal 22 Juli 2004 pada Bagian Keempat tentang Pedoman Pembuatan Rehabilitasi Hutan Mangrove, Gerakan Rehabilitasi Hutan dan Lahan
STRUKTUR KOMUNITAS MANGROVE DI PESISIR DESA TATENGESAN, KECAMATAN POSOMAEN, KABUPATEN MINAHASA TENGGARA
The purpose of this study was to examine the structure of the mangrove community on the coast of Tatengesan, Posomaen District, Southeast Minahasa Regency, North Sulawesi. The data collection of the mangrove community structure used the line transect quadratic method measuring 10 m x 10 m 5 times. The research implementation period is 6 (six) months in 2021, starting from the preparation of proposals, data analysis, examination of research results, and the implementation of thesis examinations. Based on the results of the study, found 3 types of mangroves, namely: Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, and Bruguiera gymnorrhiza. The value of the highest species relative density was found on transect 2 with a value of 88.33% by R. mucronata. For the value of the highest relative frequency of species on transects 1,2 and 3 by R. mucronata, namely 8.3 cm/m. The highest relative species cover was R. mucronata with a value of 76.99% on transect 2. The highest important value index was found in R. mucronata, which was 220.88 on transect 2. The highest diversity index was found on transect 3 with a value of 0.85. The highest evenness index was found on transect 1 with a value of 0.99. For further research, it is necessary to conduct an inventory of mangrove species using the roaming method to find out all the species in the research location.Keywords: Mangrove, Tatengesan, Community, Diversity and Evennes
- …
