JURNAL PERIKANAN DAN KELAUTAN TROPIS
Not a member yet
137 research outputs found
Sort by
Microbiological and Organoleptic Quality of Dried Anchovies (Stolephorus sp) in Tuntung Village
Anchovy (Stolephorus sp) is a type of fish that has important economic value, besides that anchovies are widely used in various kinds of processed fishery products. The process of making dried anchovies is a product that is processed traditionally, namely by the drying process. Dried anchovies that have been processed need to be carefully packaged and stored to avoid contamination. This research aimed to identify the microbiological and organoleptic quality of dried anchovies produced in Tuntung Village, Pinogaluman District, North Bolaang Mongondow Regency. The research method used is a descriptive method with total plate number (ALT) test parameters, water content, total mold, and organoleptic (appearance, smell, taste, texture). The ALT value of dried anchovies increased during storage. The increase in ALT value was due to the processors' lack of handling of the dried anchovy products. The lowest ALT value in dried anchovies was in the 2nd processor with a storage period of 1 week of 7.9 a x 106. The highest water content was in processor 1 during the 4th week of storage with an average of 11.16% and the lowest water content was in processor A during the 1st week of storage with an average of 9.60%. The organoleptic results showed that the dried anchovy samples processed 1,2,3 met the standards up to the 2nd week of storage. The mold values showed an increase during the storage period. The highest mold value was found in the 2nd week 4 processor of 4.3 x 103 and the lowest mold value was found in the 1st week of storage of 2.0 x 103.
Keywords: Anchovies, ALT, Total Mold
Abstrak
Ikan teri (Stolephorus sp) merupakan jenis ikan yang memiliki nilai ekonomis penting, selain itu ikan teri banyak dimanfaatkan dalam berbagai macam produk olahan perikanan. Proses pembuatan ikan teri kering merupakan salah satu produk yang diolah secara tradisioanal yaitu dengan proses pengeringan, ikan teri kering yang sudah diolah perlu dijaga pengemasan dan penyimpanan agar terhindar dari kontaminasi. Tujuan penelitian ini untuk mengindentifikasi mutu mikrobiologi dan organoleptik ikan teri kering yang di produksi di Desa Tuntung Kecamatan Pinogaluman Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan parameter uji angka lempeng total (ALT), kadar air, total kapang dan organoleptik (kenampakan, bau, rasa, tekstur). Nilai ALT ikan teri kering mengalami peningkatan selama peyimpanan, terjadinya peningkatan nilai ALT disebabkan kurangnya penanganan para pengolah pada produk ikan teri kering. Nilai ALT terendah pada ikan teri kering ada pada pengolah ke 2 dengan lama penyimpanan minggu ke 1 sebesar 7,9 x 106. Kadar air ikan teri kering pada ke tiga pengolah mengalami peningkatan selama penyimpan, peningkatan kadar air pada produk disebabkan terserapnya uap air yang ada disekitar. Kadar air tertinggi ada pada pengolah 1 pada lama penyimpanan minggu ke 4 dengan rata-rata sebesar 11,16% dan kadar air terendah pada pengolah A pada lama penyimpanan minggu ke 1 dengan rata- rata sebesar 9,60%. Hasil organoleptik menunjukan sampel ikan teri kering pengolah 1,2,3 memenuhi standar sampai pada penyimpanan minggu ke 2. Nilai kapang menunjukan adanya peningkatan selama masa penyimpanan. Nilai kapang tertinggi terdapat pada pengolah 2 minggu ke 4 sebesar 4,3 x 103 dan nilai kapang terendah terdapat pada penyimpan minggu ke 1 sebesar 2,0 x 103.
Kata Kunci : Ikan teri, ALT, Total Kapan
Quality Characteristics and Shelf Life of Smoked Skipjack Fish (Katsuwonus pelamis L)
One of the typical fishery products of North Sulawesi is whole smoked skipjack which is still traditionally processed. The purpose of this study was to determine the quality of whole smoked skipjack during storage at room temperature in terms of moisture content, total plate count, total mold, and organoleptic value. The results showed that the organoleptic value, moisture content, total bacteria, and total mold only met the Indonesian National Standard on day 0 of storage and exceeded the limit on day 3 of storage.
Keywords: Smoked Skipjack tuna; Moisture content; Total Plate Count; Mold
Abstrak
Salah satu produk perikanan khas Sulawesi Utara adalah ikan cakalang asap utuh yang masih diolah secara tradisional. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui mutu ikan cakalang asap utuh selama penyimpanan pada suhu ruang dilihat dari kadar air, angka lempeng total, total kapang dan nilai organoleptik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai organoleptik, kadar air, total bakteri dan total kapang hanya memenuhi Standar Nasional Indonesia pada penyimpanan 0 hari dan sudah melewati batas pada hari ke-3 penyimpanan.
Kata kunci: Cakalang asap; Mutu; Kadar air; Angka Lempeng Total; Kapan
Mineral Content of Mangrove Sonneratia alba and Bruguiera gymnorrhiza Fruit Flour
Now the mangrove fruit is used and processed into flour to be used as raw materials as well as complementary ingredients with other flour mixtures in certain proportions in making food products. The nutritional content of mangrove processed products can provide information that in addition to being delicious for consumption, mangroves are good for health because they contain nutrients needed by the body. This study aims to analyze calcium, magnesium, potassium, iron and zinc in mangrove fruit flour Sonneratia alba and Bruguiera gymnorhiza. The method used in this study is quantitative. The results showed that mangrove fruit flour sonneratia alba contains levels of calcium 1938.6 mg/100g, magnesium 2136.6 mg/100g, potassium 14688.8 mg/100g, iron 60.7 mg/100g and zinc 1.3 mg / 100g. While mangrove fruit flour Bruguiera gymnorrhiza contains levels of calcium 676.5 mg/100g, magnesium 41.7 mg/100g, potassium 3033.8 mg/100g, iron 12.8 mg/100g and zinc 0.2 mg / 100g. The results showed that the mineral content in mangrove sonneratia alba fruit flour is higher than Bruguiera gymnorrhiza fruit flour.
Keywords: Mangrove flour, Sonneratia alba, Bruguiera gymnorrhiza, Mineral.
Abstrak
Sekarang ini buah mangrove dimanfaatkan dan diolah menjadi tepung untuk digunakan sebagai bahan baku maupun sebagai bahan komplementer dengan campuran tepung lain pada proporsi tertentu dalam membuat produk pangan. Kandungan gizi pada produk olahan mangrove dapat memberikan informasi bahwa selain nikmat untuk dikonsumsi, mangrove baik untuk kesehatan karena mengandung gizi yang dibutuhkan oleh tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kalsium, magnesium, kalium, zat besi dan seng pada tepung buah mangrove Sonneratia alba dan Bruguiera gymnorhiza. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tepung buah mangrove Sonneratia alba mengandung kadar kalsium 1938.6 mg/100g, magnesium 2136.6 mg/100g, kalium 14688.8 mg/100g, zat besi 60.7 mg/100g dan seng 1.3 mg/100g. Sedangkan tepung buah mangrove Bruguiera gymnorrhiza mengandung kadar kalsium 676.5 mg/100g, magnesium 41.7 mg/100g, kalium 3033.8 mg/100g, zat besi 12.8 mg/100g dan seng 0.2 mg/100g. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa kandungan mineral pada tepung buah mangrove Sonneratia alba lebih tinggi dari tepung buah Bruguiera gymnorrhiza.
Kata kunci: Tepung mangrove, Sonneratia alba, Bruguiera gymnorrhiza, Mineral
Value-Added Analysis Of Rengginang Fish Industry In Panarukan District Situbondo Regency
This research aims to determine the added value of the rennginang industry in Panarukan District. This research wa conducted in gellung vellage, Panarukan District, Situbondo Regency. Determining the reaserch location was carried out purposively by considering the research area which is the center of rengginag production in Panarukan District. Calculation of added value begins with calculating the total cost required to produce rengginang. Next, the amount of rengginang production for each production period is calculated as well as the income obtained from the rengginang production. Then, the added value wasc alculation using the Hayami method. Based on the Hayami method calculations, it is known that the average rengginang industry in the research location produces rengginang rebon and rengginang squid each 45 kg per month. The selling price for each rengginang is different, Rp 33.000 per kg of rebon rengginang and 35.000 per kg of squid rengginang. The largest value added ratiooccurd in rebon rengginang, 30 %. Meanwhile, the value-added ratio of squid rengginang is only 17 %. The biggest profit for business owners is the rengginang rebon business, which is 46 %, while the profit for business owners of the rengginang squid variant is only 16 %, so the rengginang rebon business is more profitable than rengginang squid business
Key words: added value, production, Hayami method, rengginang industry
Abstrak
Tujuan kajian ini adalah untuk mengetahui nilai tambah industry rengginang yang ada di Kecamatan Panarukan. Penelitian ini dilakukan di di Desa Gelung Kecamatan Penarukan, Kabupaten Situbondo. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) dengan mempertimbangkan daerah penelitian merupakan sentra produksi rengginang di Kecamatan Panarukan. Perhitunan nilai tambah diawali dengan menghitung total biaya yang dibutuhkan untuk memproduksi rengginang. Selanjutnya dihitung jumlah produksi rengginang setiap periode produksi serta pendapatan yang diperoleh dari produksi rengginang tersebut. Kemudian dilakukan perhitungan nilai tambah dengan menggunakan metode Hayami.berdasarkan perhitungan metode hayami diketahui bahwa rata rata usaha rengginang di lokasi penelitian memproduksi rengginang rebon dan cumi masing masing 45 kg per bulan. harga jual masing masing rengginang berbeda yaitu, Rp 33.000 per kg rengginang rebon dan Rp 35.000 per kg rengginang cumi. Rasio nilai tambah terbesar terjadi pada rengginang rebon yaitu 30 %. Sementara rasio nilai tambah rengginang cumi hanya 17 %. keuntungan pemilik usaha terbesar terjadi usaha rengginang rebon yaitu sebesar 46 %, sementara keuntungan pemilik usaha rengginnag varian cumi hanya 16%, sehingga usaha rengginang rebon lebih menguntungkan dibandingkan rengginang cumi.
Kata kunci: nilai tambah, produksi, metode hayami, industri rengginan
Total Plate Count (TLC) and Sensory Analysis of Tuna, Skipjack, and Mackerel (TCT) Landed at Tumumpa TPI
High water content can cause fish to deteriorate quickly, if not handled properly, fish will rot in about 6-7 hours after death. This study aims to determine the freshness level of tuna, skipjack, and tuna landed at TPI Tumumpa based on Total Plate Numbers (ALT) and Sensory Analysis values. The method used in the research is the descriptive method by conducting the Total Plate Count (ALT) test Total Plate Count (TPC) test and Sensory Analysis. The results obtained were high Total Plate Count (ALT) values in tuna, CFU/g, cob CFU /g and low in skipjack <25 CFU /g. These results meet the requirements of microbial contamination (ALT) in fresh fish according to SNI 2729:2021 which is a maximum of 5.0× ; the value of Sensory Analysis on tuna, skipjack, and tuna on eyes, gills, body surface mucus, meat, odor, and texture obtained a high average value in skipjack 8.31 with, tuna 8.07 and Tuna (7.99). Based on these results, it can be concluded that tuna, skipjack, and tuna are classified as fresh according to SNI 2729: 2021, namely the minimum fresh fish organoleptic value of .
Keywords: Sensory Analysis, Total Plate Count (ALT), Tuna, Skipjack
Abstrak
Kadar air yang tinggi dapat menyebabkan ikan cepat mengalami kemunduruan mutu, jika tidak mendapatkan penanganan yang baik, ikan akan membusuk dalam waktu sekitar 6-7 jam setelah kematiannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesegaran ikan tuna, ikan cakalang dan ikan tongkol yang didaratkan di TPI Tumumpa berdasarkan nilai Angka Lempeng Total (ALT) dan nilai Analisis Sensori. Metode yang di gunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif dengan melakukan Pengujian Angka Lempeng Total (ALT) yaitu menggunakan uji Total Plate Count (TPC) dan Analisis Sensori. Hasil Penelitian yang diperoleh adalah nilai Angka Lempeng Total (ALT) tinggi pada ikan tuna yaitu CFU /g, ikan tongkol dan rendah pada ikan cakalang <25 CFU/g. Hasil tersebut memenuhi syarat cemaran mikroba (ALT) pada ikan segar menurut SNI 2729:2021 yaitu maksimal ; nilai Analisa Sensori pada ikan tuna, ikan cakalang dan ikan tongkol terhadap mata, insang, lendir permukaan badan, daging, bau dan tekstur diperoleh nilai rata-rata tinggi pada ikan cakalang 8.31 dengan, tongkol 8.07 dan Tuna (7.99). Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan ikan tuna, ikan cakalang dan ikan tongkol tergolong segar menurut SNI 2729:2021 yaitu nilai organoleptik ikan segar minimum .
Kata kunci: Analisis Sensori, Angka Lempeng Total (ALT), Ikan Tuna, Ikan Cakalang, Ikan Tongko
Shelf Life Of Smoked Cockatua Fish (Scarus sp) At Room Temperature
The research aims to determine the water content, protein content, pH, ALT, and organoleptics of parrot fish using coconut shell fumigants. The method used in this research is very exploratory research, the data is analyzed descriptively testing the data in the research data in the form of images (Histograms). The parameters used in this research are analysis of water content, protein content, pH, ALT, and organoleptics. From the research carried out, it was found that parrot fish was smoked using coconut shell fuel, and the storage time of 0 days, 2 days, and 4 days was presented in the form of a histogram and then discussed. The results of the first stage organoleptic test showed that the panelists preferred smoked parrot fish. The results of the second stage of the organoleptic test showed that the panelists preferred smoked parrot fish. The water content with the highest results is Parrotfish A1 water content 55.85%, A2 62.38% and A3 44.20%) ALT results from 0 days of storage have an average value of A1 (22 × 102 CFU/g) and 2 days have an average value of A2 (28 × 102 CFU/g) and then 4 days of storage had an average value of A3 (28 × 102 CFU/g) Smoked Parrot Fish Protein Content at 0 days of storage was 3.84. 3. The highest pH of smoked Parrot Fish was found for a storage period of 4 days, namely 7
Keywords: Parrot Fish (Scarus sp), Water Content, Protein Content, Organoleptic
Abstrak
Tujuan dari penelitian adalah mengetahui kadar air, kadar protein, pH, ALT, organoleptik dari ikan kakatua menggunakan bahan pengasap tempurung kelapa Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian sangat eksploratif, data di analisis secara deskriptif pengujian data dalam penelitian data dalam bentuk gambar (Histogram). Parameter yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: analisis kadar air , kadar protein, pH,ALT, dan organoleptik. Dari penelitian yang dilakukan didapatkan bahwa Ikan kakatua dengan cara pengasapan dengan menggunakan bahan bakar tempurung kelapa lama penyimpanan 0 hari , 2 hari dan 4 hari yang di peroleh di sajikan dalam bentuk Histogram kemudian di bahas. Hasil uji organoleptik tahap satu menunjukkan bahwa panelis lebih menyukai ikan kakatua asap. Hasil uji oranoleptik tahap dua menunjukkan bahwa panelis lebih menyukai ikan kakatua asap. kadar air dengan hasil tertinggi yaitu Ikan Kakatua A1 kadar air 55.85% , A2 62.38% dan A3 44.20%) hasil ALT penyimpanan 0 hari memiliki nilai rata–rata A1 ( 22 × 102 CFU/g) dan 2 hari memiliki nilai rata–rata A2 (28 × 102 CFU/g ) dan selanjutnya penyimpanan 4 hari memiliki nilai rata–rata A3 ( 28 × 102 CFU/g) Kadar Protein Ikan Kakatua asap pada penyimpanan 0 hari 3.84. 3. pH Ikan Kakatua asap tertinggi terdapat pada lama penyimpanan 4 hari yaitu 7
Kata Kunci: Ikan Kakatua (Scarus sp) , Kadar Air, Kadar Protein, pH, ALT, Organolepti
Fiber Content and Viscosity of Seaweed Extract Eucheuma spinosum using Subcritical Water Method
This study was conducted to analyze the fiber content and viscosity of the Eucheuma spinosum seaweed. Seaweed, used in dry form, is extracted using subcritical water at 115°C and 125°C with time of 15, 20, and 25 minutes respectively using Hirayama HVE-50. The results of analysis of E.spinosum's fiber content and extract viscosity were obtained in the treatment of each of the lowest crude fibre levels in the 15 minute treatment at 115°C at 1.175%, and the highest at the 25 minute treatment at 125°C at 2.1525%. The analysis of insoluble fiber levels is lowest at 20 minutes of treatment at 125°C at 9.4% and the highest 20 minutes of treatment at 115°C at 16.64%. The analysis of dissolved dietary fiber is lowest at 15 minutes of treatment at 115°C at 2.21% and 25 minutes of treatment at 115°C at 12.61%. Viscosity analysis is lowest at 20 minutes with a temperature of 115°C at 22.465 cP and the highest time treatment at 115°C at 91.455 cP.
Keywords: Eucheuma spinosum, fiber content, viscosity, and subcritical water
Abstrak
Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis nilai kadar serat dan viskositas yang terdapat pada rumput laut Eucheuma spinosum. Rumput laut yang digunakan dalam bentuk kering, diekstraksi menggunakan air subkritis pada suhu 115°C dan 125°C dengan waktu masing-masing selama 15, 20, dan 25 menit menggunakan autoclave tipe Hirayama HVE-50. Hasil analisis kadar serat dan viskositas ekstrak rumput laut E.spinosum diperoleh masing-masing pada perlakuan yaitu kadar serat kasar terendah terdapat pada perlakuan waktu 15 menit dengan suhu115°C sebesar 1,175%, dan tertinggi pada perlakuan waktu 25 menit dengan suhu 125°C sebesar 2,1525%. Analisis kadar serat pangan tak larut terendah pada perlakuan waktu 20 menit dengan suhu 125°C sebesar 9,4% dan tertinggi perlakuan waktu 20 menit dengan suhu 115°C sebesar 16,64%. Analisis serat pangan terlarut terendah pada perlakuan waktu 15 menit dengan suhu 115°C sebesar 2,21% dan tertinggi perlakuan waktu 25 menit dengan suhu 115°C sebesar 12,61%. Analisisviskositasterendah pada perlakuan 20 menitdengansuhu 115°C sebesar 22,465 cP dan tertinggi perlakuan waktu 25 menit dengan suhu 115°C sebesar 91,455cP.
Kata Kunci: Eucheuma spinosum, kadar serat, viskositas, dan air subkriti
Review Article Using Fish Bones For Glue (Adhesive)
Apart from being a food/consumer ingredient, fish is also an industrial raw material. In the development of the fishery product processing industry, waste by-products will inevitably be left behind. Waste that is not treated immediately will cause environmental pollution, besides that it will become a source of microbial growth which can harm the body's health. One of the fishery wastes can be fish bones. Efforts to utilize fish bones are processed into fish adhesive/glue. The purpose of this review article is to provide information on the procedure for making glue from fish bones and the characteristics of the glue/adhesive it produces. The method used is by reviewing various national and international journals from 2005 to 2023 regarding the use of fish bone waste as a material for making glue (adhesive). Based on the results of the review, it can be concluded that the procedure for making glue from fish bones consists of the stages of cutting and washing the bones, the extraction process with the acetic acid solution at a temperature of 60 -70oC for 4 - 5 hours, the cooling and filtering process and finally the concentration of the extracted solution. The characteristics of glue from different types of fish bone raw materials did not show significant differences in terms of adhesive strength, wood surface damage, viscosity, poise, and water content.
Keywords: adhesive strength, viscosity, water content, extraction, acetic acidAbstrak
Abstrak
Selain menjadi bahan pangan/konsumsi, ikan juga sebagai bahan baku industri. Dalam perkembangan industri pengolahan hasil perikanan pasti akan menyisakan hasil samping limbah. Limbah yang tidak segera ditangani akan menimbulkan pencemaran lingkungan, selain itu akan menjadi sumber pertumbuhan mikroba yang dapat mengganggu kesehatan tubuh. Salah satu limbah perikanan dapat berupa tulang ikan. Upaya dari pemanfaatan tulang ikan adalah diolah menjadi perekat/lem ikan (fish glue). Tujuan artikel review ini adalah untuk menginformasikan prosedur pembuatan lem dari tulang ikan dan karakteristik lem/perekat yang dihasilkannya. Metode yang digunakan yaitu dengan menelaah dari berbagai jurnal nasional dan internasional dari tahun 2005 sampai 2023 mengenai pemanfaatan limbah tulang ikan sebagai bahan pembuatan lem (perekat). Berdasarkan hasil review dapat disimpulkan bahwa prosedur pembuatan lem dari tulang ikan terdiri dari tahapan pemotongan dan pencucian tulang, proses ekstraksi dengan larutan asam asetat pada suhu 60 -70oC selama 4 - 5 jam, proses pendingin dan penyaringan dan terakhir pemekatan larutan hasil ekstraksi. Karakteristik lem dari bahan baku tulang ikan jenis yang berbeda tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dilihat dari keteguhan rekat, kerusakan permukaan kayu, viskositas, poise, dan kadar air.
Kata Kunci: keteguhan rekat, viskositas, kadar air, ekstraksi, asam aseta
Total Plate Number and Organoleptic Tests of Yellow Lellar Fish (Selaroides leptolepis)
The aim of this research is: To determine the quality of yellowtail trevally fish sold in the Boulevard area of Manado City. The research method used in this research is the Descriptive method with observation parameters consisting of counting the number of bacterial colonies using the Total Plate Number (ALT) Method and Organoleptic quality (sensory assessment), regarding the appearance of the eyes, mucus, flesh, and tektite. Sampling was carried out in the morning (A) and afternoon (B) with 2 (two) repetitions. The panelists used are semi-trained panelists. The sample size in this study was 6 yellow trevally fish at each sample collection time (A and B) for 26 panelists. Based on the research results, the average Total Plate Number (ALT) in the morning and afternoon was as follows: 5.65 ×10^3 and 4.15 ×10^3, it was concluded that the quality of the fish was good, fresh, and suitable for consumption. The results of research on organoleptics regarding eyes, gills, mucus, meat, and texture obtained average values ranging from 8.3 to 9.0. These results show that the yellow trevally fish is still fresh and suitable for consumption. Based on the results of this research, through an assessment of the ALT and organoleptic values, it can be concluded that the quality of the yellow trevally marketed in the Boulevard area is suitable for consumption according to SNI standards.
Keywords: Yellow trevally, ALT, and organoleptic
Abstrak
Tujuan dari penelitian ini adalah: Mengetahui kualitas ikan selar ekor kuning yang dijual di Kawasan Boulevar Kota manado. Metode penelitian yang di gunakana dalam penelitian ini adalah metode Deskriptif dengan parameter pengamatan teridi dari menghitung jumlah koloni bakteri dengan Metoda Angka Lempeng Total (ALT) dan kwalitas Organoleptik (penilaian secara sensorik), terhadap penampakan mata, lendir, daging dan tektir. Pengambilan sampel dilakukan pada pagi hari (A) dan diang Hari (B) dengan ulangan sebanyak 2 (dua) kali. Panelis yang digunakan adalah panelis semi terlatih. Besaran sampel pada penelitian ini yaitu 6 ekor ikan selar kuning pada masing-masing waktu pengambilan (A dan B) sampel untuk 26 orang panelis panelis. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh Angka Lempeng Total (ALT) pada pagi dan siang rata-rata diperoleh sebagai berikut: 5,65 ×10^3 dan 4,15 ×10^3 disimpulkan kualitas ikan baik, segar dan layak dikonsumsi. Hasil penelitian tentang organoleptik terhadap mata, insang, lendir, daging dan tektur diperoleh nilai nilai rata-rata berkisar 8,3 sampai 9,0. Hasil tersebut menjelaskan ikan selar kuning masih segar dan layak di konsumsi. Berdasarkan hasil penelitian ini melalui penilaian terhadap nilai ALT dan organoleptik dapat disimpulkan bahwa kualitas ikan selar kuning yang dipasarkan di Kawasan Boulevart layak dikonsumsi menurut standart SNI.
Kata Kunci: Ikan selar kuning, ALT dan organolepti
Eel Fish Meal (Anguilla sp) As Raw Material for Food Processing
The distribution of eels covers almost all of Indonesia, especially areas such as Central Sulawesi and North Sulawesi. The purpose of this study was to determine the amount of yield in eel flour, determine the water content of eel flour and test the color of eel flour using a spectrophotometer UV-VIS. The method used is exploratory method and uses a simple completely randomized design (CRD) with 2 repetitions. The results of the analysis of the yield of eel flour in the first collection with the sun drying treatment ranged from 6.1% - 7.8% and the oven drying treatment ranged from 3.7% - 5.7%. In the second sampling, the sun drying treatment ranged from 3.1% - 6.7% and the oven drying treatment ranged from 2.8% - 6.1%. The results of the analysis of the water content of eel flour in the first collection with the sun drying treatment ranged from 10.4% - 13.1% and the oven drying treatment ranged from 10% - 12.3%. In the second sampling, the sun drying treatment ranged from 9.7% - 10.7% and the oven drying treatment ranged from 8.2% - 13.3%. The results of the analysis of the color test of eel flour in the first sampling with the sun drying treatment ranged from 22.45% - 31.95% and the oven drying treatment ranged from 34.1% - 44.95%, while in the second sampling with the Sun drying ranged from 26.05% - 71.55% and oven drying treatment ranged from 18.3% - 65.55%.
Keywords: Eel fish meal, oven drying, sun drying, yield, moisture content, color test
ABSTRAK
Sebaran ikan sidat meliputi hampir seluruh Indonesia, khususnya daerah seperti Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui banyaknya rendeman pada tepung ikan sidat, mengetahui kadar air tepung ikan sidat dan uji warna tepung ikan sidat menggunakan alat spektrofotometer UV-VIS. Metode yang digunakan adalah metode eksploratif dan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) sederhana dengan ulangan sebanyak 2 kali. Hasil analisis rendemen tepung ikan sidat pada pengambilan pertama dengan perlakuan pengeringan matahari berkisar, yaitu 6,1% - 7,8% dan perlakuan pengeringan oven berkisar, yaitu 3,7% - 5,7%. Pada pengambilan sampel kedua dengan perlakuan pengeringan matahari berkisar, yaitu 3,1% - 6,7 % dan perlakuan pengeringan oven berkisar, yaitu 2,8% - 6,1%. Hasil analisis kadar air tepung ikan sidat pada pengambilan pertama dengan perlakuan pengeringan matahari berkisar, yaitu 10,4% - 13,1% dan perlakuan pengeringan oven berkisar, yaitu 10% - 12,3%. Pada pengambilan sampel kedua dengan perlakuan pengeringan matahari berkisar, yaitu 9,7% - 10,7% dan perlakuan pengeringan oven berkisar, yaitu 8,2% - 13,3%. Hasil analisis uji warna tepung ikan sidat pada pengambilan pertama dengan perlakuan pengeringan matahari berkisar, yaitu 22,45% - 31,95% dan perlakuan pengeringan oven berkisar, yaitu 34,1% - 44,95%, sedangkan pada pengambilan sampel kedua dengan perlakuan pengeringan matahari berkisar, yaitu 26,05% - 71,55% dan perlakuan pengeringan oven berkisar 18,3% - 65,55%.
Kata kunci: Tepung ikan sidat, pengeringan oven, pengeringan matahari, rendemen, kadar air, uji warn