JURNAL PERIKANAN DAN KELAUTAN TROPIS
Not a member yet
137 research outputs found
Sort by
Mold On Cakalang Fish (Katsuwonus pelamis L) Smoke With Various Packaging In The Supermarket
This research aims to obtain total mold and identify the types of mold found in smoked skipjack tuna (Katsuwonus pelamis L) which is marketed in supermarkets with various packaging. The method used in this research is the descriptive method. The sample used was smoked skipjack tuna (Katsuwonus pelamis L) packaged in styrofoam, plastic, and wrapping. The parameters used are mold, water content, and pH. The results showed that the lowest total mold was found in samples of smoked skipjack tuna (Katsuwonus pelamis L) with plastic packaging. The water content of the three samples of smoked skipjack tuna (Katsuwonus pelamis L) in various packaging at supermarkets still met SNI 2725:2013 standards. The pH of smoked skipjack tuna (Katsuwonus pelamis L) in plastic packaging at the first collection did not meet the quality requirements.
Keywords: smoked skipjack tuna, packaging, mold
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan total kapang dan mengidentifikasikan jenis-jenis kapang yang terdapat pada ikan cakalang (Katsuwonus pelamis L) asap yang dipasarkan di pasar swalayan dengan berbagai pengemasan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Sampel yang digunakan adalah ikan cakalang (Katsuwonus pelamis L) asap dengan pengemasan styrofoam, plastik dan wrapping. Parameter yang digunakan adalah kapang, kadar air dan pH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total kapang terendah terdapat pada sampel ikan cakalang (Katsuwonus pelamis L) asap dengan kemasan plastik. Kadar air ketiga sampel ikan cakalang (Katsuwonus pelamis L) asap dengan berbagai pengemasan di Pasar Swalayan masih memenuhi standar SNI 2725:2013. pH ikan cakalang (Katsuwonus pelamis L) asap dengan kemasan plastik pada pengambilan pertama tidak memenuhi syarat mutu.perebusan 58.9% – 62.3% dan pada produk akhir ikan kayu 16.9 – 18.3%. ALT ikan segar 5.1 x 104 koloni/g – 6.5 x 104 koloni/g, setelah mengalami proses perebusan 3.0 x 103 koloni/g – 1.0 x 104 koloni/g dan pada produk akhir ikan kayu 2.5 x 102 koloni/g – 4.0 x 102 koloni/g. Total kapang pada ikan kayu hasilnya negatif.
Kata kunci: cakalang asap, pengemasan, kapan
Estimating Phytoplankton Abundance Using Sentinel 2A Images In Langa-Jampue Water Area, Pinrang Regency
This study aims to estimate the abundance of phytoplankton using Sentinel-2 imagery in the Langa – Jampue water area of Pinrang Regency for Sentinel-2 image recording on February 28, 2022. This study was conducted from January – July 2022 by taking phytoplankton samples, conducting sample analysis in the laboratory, and processing Sentinel-2 image data on February 28, 2022 recording. The results of the study found 5 classes of phytoplankton, namely Bacillariophyceae, Cyanophyceae, Dyanophyceae, Peridinae, and Dinophyceae with a total of 34 phytoplankton genera and 4 dominating genera, namely Astereonolepsis, Rhizosolenia, Chaetoceros, and Ceratium. The highest phytoplankton abundance was obtained in transect 2 on point with an abundance of 977 cells/liter and the lowest abundance in transect 3 on point 24 which was 282 cells/liter. The regression test results between phytoplankton abundance and pixel band values 8, band 3, and band 2 on Sentinel-2 images produced an r-square value of 0.495 and obtained a positive correlation value between the pixel band 8 value and the phytoplankton abundance value with a correlation value of 0.529 which means that band 8 can be used for estimating phytoplankton abundance in marine remote sensing systems. The result of the paired t-test revealed that the abundance of phytoplankton based on the results of image processing and relative laboratory analysis was equal to a significant value of 0.999
Keywords: Phytoplankton, Sentinel-2 Imagery, Band 8
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi kelimpahan fitoplankton menggunakan citra Sentinel-2 di wilayah perairan Langa – Jampue Kabupaten Pinrang untuk perekaman citra Sentinel-2 pada tanggal 28 Februari 2022. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari – Juli 2022 dengan mengambil sampel fitoplankton, melakukan analisis sampel di laboratorium dan mengolah data citra Sentinel-2 pada perekaman 28 Februari 2022. Hasil dari penelitian ditemukan 5 kelas fitoplankton yaitu Bacillariophyceae, Cyanophyceae, Dyanophyceae, Peridinae, Dinophyceae dengan total 34 genus fitoplankton dengan 4 genus yang mendominasi yaitu Astereonolepsis, Rhizosolenia, Chaetoceros dan Ceratium. Kelimpahan fitoplankton tertinggi didapatkan pada transek 2 yaitu pada titik 9 dengan kelimpahan 977 sel/liter dan kelimpahan terendah pada transek 3 yaitu pada titik 24 dengan kelimpahan 282 sel/liter. Hasil uji regresi antara kelimpahan fitoplankton dan nilai pixel band 8, band 3 dan band 2 pada citra Sentinel-2 menghasilkan nilai r-square yaitu 0,495 dan didapatkan nilai korelasi yang positif antara nilai pixel band 8 dan nilai kelimpahan fitoplankton dengan nilai korelasi 0,529 yang berarti band 8 dapat digunakan untuk pendugaan kelimpahan fitoplankton pada sistem penginderaan jauh kelautan. Dari hasil uji-t paired dapat diketahui bahwa kelimpahan fitoplankton dari hasil pengolahan citra dan hasil analisis laboratorium realtif sama dengan nilai signifikan 0,999
Kata kunci: Fitoplankton, Citra Sentinel-2, Band
Initial Handling Of Tuna As Raw Material For Canned Fish
This study aims to determine histamine levels and organoleptic results from fresh tuna and frozen tuna. The data obtained are presented in the form of histograms and tables are then discussed. The results showed that histamine levels in 3 fresh tuna samples, namely S1, S2, and S3 samples, were below 30 ppm. 3 samples of frozen tuna, namely samples B1, B2, and B3, are also below 30 ppm which is the standard set by the company. This shows that samples from fresh tuna have a lower amount of histamine levels than frozen tuna, so they still meet the export standards of the Food and Drugs Administration (FDA) which is 50 ppm (FDA, 2011) and meet the Indonesian National Standard, SNI 2729: 2013 (BSN, 2013) which is a maximum of 100 ppm. For organoleptic results on 3 samples of fresh tuna and frozen tuna, namely samples 1, 2, and 3 showed organoleptic results from the appearance of the eyes, gills, appearance of body surface mucus, organoleptic results of meat, organ results of odor, organoleptic results of texture have a good value . This shows that samples from fresh tuna and frozen tuna are of good quality and still meet the Indonesian National Standard (SNI 2729:2013) regarding sensory criteria in fish.
Keywords: Fresh Tuna, Frozen Tuna, Histamine, Sensory
Abstrak
Penelitian ini bertujuan mengetahui kadar histamin dan hasil organoleptik dari ikan tuna segar dan ikan tuna beku. Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk histogram dan tabel kemudian dibahas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar histamin pada 3 sampel ikan tuna segar yaitu sampel S1, S2, dan S3 dibawah 30 ppm. 3 sampel ikan tuna beku yaitu sampel B1, B2, dan B3 juga dibawah 30 ppm yang merupakan standar yang ditetapkan perusahaan. Hal ini menunjukan bahwa sampel dari ikan tuna segar memiliki jumlah kadar histamin yang lebih rendah dari pada ikan tuna beku, sehingga masih memenuhi standar ekspor dari Food and Drugs Administration (FDA) yaitu 50 ppm (FDA, 2011) dan memenuhi Standar Nasional Indonesia, SNI 2729:2013 (BSN, 2013) yaitu maksimal 100 ppm. Untuk hasil organoleptik pada 3 sampel ikan tuna segar dan ikan tuna beku yaitu sampel 1, 2, dan 3 menunjukan hasil organoleptik dari kenampakan mata, insang, kenampakan lendir permukaan badan, hasil organoleptik daging, hasil organoleptik bau, hasil organoleptik tekstur memiliki nilai yang baik. Hal ini menunjukan bahwa sampel dari ikan tuna segar dan ikan tuna beku memiliki kualitas baik dan masih memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI 2729:2013) tentang kriteria sensori pada ikan.
Kata Kunci: Tuna Segar, Tuna Beku, Histamin, Sensor
Sexual Selection Significance of Littoraria scabra (Gastropoda: Littorinidae) in Tombariri Mangrove
Evidence for sexual selection was found in Littoraria scabra in gastropods as low-level animals with various fact big female preference strong to follow the mucosal track of big females, male-male competition for copulating big female, fire frequency of being the big female shell and big male mating longer time on the big female.
Keywords: Littoraria scabra, sexual selection, mucosal track, mating, mangrove
Abstrak
Temuan penelitian signifikansi seleksi seksual L.scabra beroperasi dalam gastropoda sebagai hewan tingkat rendah adalah terbukti dengan berbagai fakta preferensi kuat jantan yang besar ikut jejak betina besar, kompetisi antar jantan bagi kopulasi dengan betina besar, frekuensi lebih banyak jantan besar menaiki cangkang betina besar dan jantan besar kopulasi lebih lama pada betina besar.
Kata Kunci. - Littoraria scabra, seleksi seks, jejak mukosa, kawin dan mangrov
Physico-Chemistry and Organoleptic Fish Cake for Tuna (Thunnus albacores) Enriched with Eucheuma cottonii Seaweed
One type of fish resource that has great potential in Indonesia is from large pelagic fish groups including tuna, tuna, and skipjack. Efforts to increase people's interest in consuming fish, with diversified products. The way that can be done to take advantage of fishery production is by diversifying fishery products and processing them into a variety of products. One of them is the abundance of tuna commodities in North Sulawesi, which has the potential to be developed into a product. This study aims to analyze the water content, fiber content, and organoleptic tests to obtain the product quality of tuna fish cake with the addition of Eucheuma cottonii seaweed. The data obtained from the results of the research conducted were calculated for the average value, then continued with the ANOVA test on SPSS and discussed descriptively. The results showed that the high water content value was obtained in treatment B2 with a water content value of 7.24 while the lowest value for treatments A1 and A2 was 3.06%. The highest crude fiber content was 0.2150 while the low fiber content was 0.057. Organoleptic results for fish cake products obtained panelists' preference level by looking at the results of taste, texture, aroma, and color values in treatment B2 (frying fish cake) with the addition of 80% tuna and 20% seaweed.
Keywords: Fish cake, Thunuus albacares, Eucheuma cottonii
Abstrak
Salah satu jenis sumber daya ikan yang memiliki potensi besar di Indonesia adalah dari kelompok ikan pelagis besar antaranya Tuna, Tongkol dan Cakalang. Upaya untuk meningkatkan daya minat masyarakat dalam mengkomsumsi ikan, dengan adanya produk diversifikasi. Cara yang dapat dilakukan untuk memanfaatkan produksi perikanan yaitu dengan cara diversifikasi produk hasil perikanan diolah menjadi beranekaragam. Salah satunya dengan jumlah komoditas ikan tuna yang melimpah di Sulawesi Utara berpotensi untuk dikembangkan menjadi sebuah produk. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kadar air, kadar serat dan uji organoleptic untuk mendapatkan mutu produk fish cake ikan tuna dengan penambahan rumput laut Eucheuma cottonii. Data yang diperoleh dari hasil penelitian yang dilakukan dihitung nilai rata-ratanya, lalu dilanjutkan dengan uji ANOVA pada SPSS dan dibahas secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai kadar air yang tinggi diperoleh pada perlakuan B2 dengan nilai kadar air sebesar 7.24 sedangkan perlakuan A1 dan A2 diperoleh nilai paling rendah sebesar 3.06%. Hasil kadar serat kasar yang paling tinggi adalah 0.2150 sedangkan nilai kadar serat yang rendah adalah sebesar 0.057. Hasil organoleptic untuk produk fish cake diperoleh tingkat kesukaan panelis dengan melihat hasil nilai rasa, tekstur, aroma dan warna pada perlakuan B2 (penggorengan fish cake) dengan penambahan ikan tuna 80% dan rumput laut 20%.
Kata kunci: Fish cake, Thunuus albacares, Eucheuma cottoni
Extraction of Eucheuma Spinosum Seaweed into Seaweed Powder Using Subcritical Water
The goal of this study was to evaluate the Eucheuma spinosum seaweed flour's quality as well as the importance of water content, pH, and minerals (Mg and Zn). In this study, the extraction temperatures were 115°C and 125°C, while the extraction times were 15, 20, and 25 minutes. The results of the study's investigation into water content showed that it rose to a value of 11.33% in the 15-minute extraction time treatment at a temperature of 115°C and that it fell to 7.89 in the 20-minute extraction time treatment at a temperature of 125°C. The pH stability values obtained were 6.12 to 8.73, and the magnesium (Mg) mineral values ranged from 2.1710 to 4.0324.
Keywords: Seaweed flour, Subcritical Water, Mineral, Eucheuma spinosum.
Abstrak
Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui mutu dari tepung rumput laut Eucheuma spinosum yang diekstrak dengan metode air subkrits dan nilai kadar air, pH dan mineral (Mg dan Zn). Pada penlitian ini digunakan perlakuan lama waktu ekstraksi 15menit, 20 menit, 25 menit dan suhu ekstraksi 115oC dan 125oC. Hasil penelitian kadar air dalam penelitian diperoleh nilai tertinggi pada perlakuan lama ekstraksi 15 menit dengan suhu 115oC sebesar 11.33% dan kadar air ternedah diperoleh pada perlakuan lama waktu ekstraksi 20 menit dengan suhu 125oC sebesar 7.89. nilai stabilitas pH diperoleh 6.12 – 8.73, dan nilai mineral Magnesium (Mg) berkisar 2.1710 – 4.0324, nilai mineral Zinc (Zn) berkisar 3.7330 – 75601.
Kata kunci: Tepung Rumput Laut, Air Subkritis, Mineral dan Eucheuma spinosum
The Effect of Soaking Liquid Smoke from Coconut Husk Pyrolysis on the Quality of Coir Fish (Selaroides sp.) Smoke Stored at Room Temperature
Fumigation is a method of preservation and processing. Smoked fish products are often found in North Sulawesi. The advantage of smoking fish is to extend the shelf life and provide economic value. Liquid smoke fumigation has several advantages, including reducing the stagnation of PAHs (Polycyclic Aromatic Hydrocarbons), having antioxidant activity, and inhibiting bacterial growth. The purpose of this study was to determine the concentration and duration of immersion in selar fish (Selaroides sp.) liquid smoke solution. The results of this study showed that the best concentration and soaking were 10% liquid smoke with 20 minutes of soaking, which was based on the results of testing the water content ranged from 48.31 – 58.86% at 0 and 3 days of storage, the pH value ranged from 5.16 – 6 .10 at 0 and 3 days of storage, and the total plate number (ALT) ranged from 1.3 x 101 – 4.25 x 102 at 0 days of storage, whereas at 3 days of storage, ALT could not be calculated (TBUD).
Keywords: smoke fish, liquid smoke, moisture, pH, TPC
Abstrak
Pengasapan merupakan salah metode pengawetan dan pengolahan. Produk ikan asap banyak dijumpai di Sulawesi Utara. Keunggulan dari pengasapan ikan adalah memperpanjang massa simpan serta memberikan nilai ekonomis. Pengasapan asap cair mempunyai beberapa keuntungan antara lain dapat mengurangi kandangan senyawa PAH (Polisiklik Aromatik Hidrokarbon), mempunyai aktifitas antioksidan, dan menghambat pertumbuhan bakteri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan konsentrasi dan lama perendaman dalam larutan asap cair ikan selar (Selaroides sp.). Hasil penelitian ini menunjukkan konsentrasi dan perendaman terbaik yaitu 10% asap cair dengan perendaman 20 menit, yang didasari oleh hasil pengujian kadar air berkisar 48,31 – 58,86% pada penyimpanan 0 dan 3 hari, nilai pH berkisar antara 5,16 – 6,10 pada penyimpanan 0 dan 3 hari, serta angka lempeng total (ALT) berkisar antara 1.3 x 101 – 4.25 x 102 pada penyimpanan 0 hari, sedangkan pada penyimpanan 3 hari ALT tidak bisa untuk dihitung (TBUD).
Kata kunci: Ikan asap, asap cair, kadar air, pH, AL
Quality Characteristics Of Wood Fish (Katsuobushi) Katsuo Arakamebushi And Katsuo Arahonbushi
Katsuobushi is a type of wood fish that has long been known to have a good flavor quality, usually used in traditional Japanese cuisine. Wood fish can also experience the process of damage, but when compared to other products the damage occurs more slowly as it is known that the low water content of the product can inhibit microbial activity. Basically, wood fish with good quality includes several processing processes including acceptance, boiling, extraction, bone, drying, and smoking. The selection of samples was taken randomly as many as 6 pieces of wooden fish products, the samples taken will be shaved and then will be in a blender and the prepared samples will be tested including analysis of water content, microbes, and organoleptic tests. The results obtained from the study were, skipjack tuna with sample code B2 had the best value in organoleptic color, loin shape, aroma, and texture by 15 semi-trained panelists. The moisture content of wooden skipjack tuna produced at PT. Celebes Minapratama meets the standards set by SNI. The results of the ALT study all samples of wood fish met the requirements because they did not exceed the specified limit.
Keywords: Wood Fish, Smoking, Preservation.
Abstrak
Katsuobushi adalah jenis ikan kayu yang lama telah dikenal memiliki mutu flavor yang baik, biasanya digunakan dalam masakan tradisional jepang. Ikan kayu dapat juga mengalami proses kerusakan, namun bila dibandingkan dengan produk lain kerusakan yang terjadi lebih lambat seperti diketahui bahwa kadar air produk yang rendah dapat menghambat aktivitas mikroba. Pada dasarnya ikan kayu dengan kualitas baik yaitu meliputi beberapa proses pengolahan diantaranya penerimaan, perebusan, pencabutan, tulang, pengeringan dan pengasapan. Pemilihan sampel diambil secara acak sebanyak 6 potong produk ikan kayu, Sampel yang diambil akan di serut kemudian akan di blender dan sampel yang sudah disiapkan akan dilakukan pengujian diantarnya analisa kadar air, mikroba dan uji organoleptik. Hasil yang didapatkan dari penelitian yaitu, Ikan cakalang kayu dengan kode sampel B2 memiliki nilai terbaik dalam organoleptik warna, bentuk loin, aroma dan tekstur oleh 15 panelis semi terlatih. Kadar air ikan cakalang kayu yang diproduksi di PT. Celebes Minapratama memenuhi standar yang ditetapkan SNI. hasil penelitian ALT semua sampel ikan kayu memenuhi syarat karena tidak melewati batas yang ditentukan.
Kata Kunci: Ikan Kayu, Pengasapan, Pengaweta
Testing Frozen Tuna Histamine As Raw Material For Canned Fish In Pt. Sinar Pure Foods International Bitung City
Bitung City is known as an industrial city, one of the fishing industries that is currently developing. There is a canned fish industry using tuna as raw material, which is export-oriented because the market potential of canned tuna is so large and spread in various countries in the world, becoming an export opportunity for canned tuna exporters in Indonesia, especially the canned tuna industry in Bitung city. Considering that developed countries are very sensitive in terms of the quality and safety of their products, so that the standards set are often not in line with some industries, so that it can lead to rejection of Indonesian fishery products in importing countries. The purpose of this study was to determine the histamine content in canned tuna raw materials at PT. Sinar Pure Foods International. Histmain value values from 2 samples of yellowfin tuna (Thunnus allbacares), and 1 sample of bigeye tuna (Thunnus obeseus) after passing the histamine testing process. Bigeye tuna (Thunnus obesus) with a size of 1kg, on the tail (RA), abdomen (RB), and head (RC) did not exceed 4ppm. The highest histamine content in the 1 kg large eye tuna (Thunnus obesus) sample was located in the abdomen (RB). While the lowest histamine content is located in the tail (RA). This proves that the fastest increase in histamine occurs in the stomach area (RB) which results can be considered very low because it is in the range of numbers below 4 ppm. yellowfin tuna (Thunnus Allbacares) with a size of 1.4 kg, on the tail (MA), stomach (MB), and head (MC) did not exceed 4ppm. The highest histamine content in yellowfin tuna (Thunnus Allbacares) samples measuring 1.4 kg was located in the abdomen (MB). While the lowest histamine content is located in the tail (MA). This proves that the fastest increase in histamine occurred in the abdominal area (MB) of 1.4 kg yellowfin tuna. yellowfin tuna (Thunnus Allbacares) with a size of 1.8 kg, on the tail (EA), stomach (EB), and head (EC) did not exceed 4ppm. The highest histamine content in yellowfin tuna (Thunnus Allbacares) samples measuring 1.8 kg was located in the abdomen (EB). While the lowest histamine content is located in the tail (EA). This proves that the fastest increase in histamine occurred in the abdominal area (EB) of 1.8 kg yellowfin tuna. This is in line with the standards set at the company, the standard for frozen tuna raw materials is 30 ppm and for canned fish 50 ppm, the increase in histamine content of the 3 samples studied, namely bigeye tuna 1kg, yellowfin tuna 1.4kg, and 1.8 kg yellowfin tuna has the same pattern, namely, histmin content is very easily formed in the belly of the fish
Keywords: Tuna, Histamine, Canning
Abstrak
Kota Bitung dikenal sebagai kota industri salah satu industri perikanan yang saat ini sedang berkembang. Terdapat industri ikan kaleng menggunakan bahan baku ikan tuna, yang berorientasi pada ekspor karena potensi pasar ikan tuna kaleng yang begitu besar dan tersebar di berbagai negara di dunia menjadi sebuah peluang ekspor bagi eksportir ikan tuna kaleng di Indonesia khususnya industri ikan tuna kaleng di kota Bitung. Mengingat negara maju sangat peka dalam hal mutu dan keamanan produknya, sehingga standar yang ditetapkan sering tidak sejalan dengan beberapa industri, sehingga dapat menyebabkan penolakan produk perikanan Indonesia di negara importir. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kandungan histamin pada bahan baku ikan tuna kaleng di PT. Sinar Pure Foods International. Nilai kadar histmain dari 2 sampel ikan tuna madidihang (Thunnus allbacares), dan 1 sampel ikan tuna mata besar (Thunnus obeseus) setelah melewati proses pengujian histamin. Tuna mata besar (Thunnus obesus) dengan ukuran 1kg, pada bagian ekor (RA), perut (RB), dan kepala (RC) tidak melewati 4ppm. Kandungan histamin tertinggi pada sampel ikan tuna mata besar (Thunnus obesus) ukuran 1kg terletak pada bagian perut (RB). Sedangkan kandungan histamin terendah terletak pada bagian ekor (RA). Hal ini membuktikan bahwa kenaikan histamin paling cepat terjadi pada area perut (RB) hasil yang di dapat terbilang sangat rendah karna berada di kisaran angka dibawah 4 ppm. tuna madidihang (Thunnus Allbacares) dengan ukuran 1,4kg, pada bagian ekor (MA), perut (MB), dan kepala (MC) tidak melewati 4ppm. Kandungan histamin tertinggi pada sampel ikan tuna madidihang (Thunnus Allbacares) ukuran 1,4kg terletak pada bagian perut (MB). Sedangkan kandungan histamin terendah terletak pada bagian ekor (MA). Hal ini membuktikan bahwa kenaikan histamin paling cepat terjadi pada area perut (MB) dari ikan tuna madidihang ukuran 1,4kg. tuna madidihang (Thunnus Allbacares) dengan ukuran 1,8kg, pada bagian ekor (EA), perut (EB), dan kepala (EC) tidak melewati 4ppm. Kandungan histamin tertinggi pada sampel ikan tuna madidihang (Thunnus Allbacares) ukuran 1,8kg terletak pada bagian perut (EB). Sedangkan kandungan histamin terendah terletak pada bagian ekor (EA). Hal ini membuktikan bahwa kenaikan histamin paling cepat terjadi pada area perut (EB) dari ikan tuna madidihang ukuran 1,8kg. Hal ini sejalan dengan standar yang di tetapkan pada perusahan tersebut, standar untuk bahan baku ikan tuna frozen 30 ppm dan untuk ikan kaleng 50 ppm, kenaikan kandungan histamin dari 3 sampel yang di teliti yaitu tuna mata besar 1kg, tuna madidihang 1,4kg, dan tuna madidihang 1,8kg memiliki pola yang sama yaitu, kandungan histmin sangat mudah terbentuk pada bagian perut ikan.
Kata Kunci : Ikan Tuna, Histamin, Pengalenga
Addition Of Caraginan Flour Kappaphycus alvarezi On The Quality Of Eel FISH Monopterus albus meatballs
Eel is one of the foods that have high nutritional content. Eel has a high protein content, eel meat has great benefits for the human body, including meeting protein needs, supporting growth, development, and brain intelligence, maintaining eye health, meeting mineral needs, and increasing concentration and endurance. Usually, eel fish is only consumed as a side dish, it tastes quite good and is not inferior to other fish and can be varied into various kinds of food products, one of the products that can be made is eel fish balls. One of the innovations to increase the nutritional value of fish balls is to add carrageenan flour which is a natural emulsifier extracted from seaweed. The method used in this study was a non-factorial completely randomized design with parameters such as water content, protein content, fiber content, and organoleptic values. The results obtained in this study are the water content of 46.35%-57.70%, protein content of 15.98%-22.63%, and 0.25%-0.49%. The organoleptic value, the highest value was in sample A3 with 4.5% carrageenan substitution. The highest organoleptic value of aroma was in sample A2 with carrageenan substitution 3. The highest organoleptic value of taste was in sample A2 with 3% carrageenan substitution. The highest texture organoleptic value was in sample A4 with 6% carrageenan substitution.
Keywords: Carrageenan, Fish Meatballs, Eel
Abstrak
Ikan belut salah satu makanan yang memiliki kandungan gizi tinggi. Belut memiliki kandungan protein yang tinggi, Daging belut mempunyai manfaat yang besar bagi tubuh manusia antara lain memenuhi kebutuhan protein, mendukung pertumbuhan, perkembangan dan kecerdasan otak, menjaga kesehatan mata, memenuhi kebutuhan mineral,serta meningkatkan konsetrasi dan daya tahan tubuh. Biasanya ikan belut hanya dikonsumsi sebagai bahan lauk pauk, rasanya pun cukup enak dan tidak kalah dengan ikan-ikan lainnya dan dapat divariasikan menjadi berbagai macam prodak makanan salah satu produk yang bisa dibuat adalah bakso ikan belut. Salah satu inovasi untuk meningkatkan nilai gizi dari bakso ikan adalah dengan menambahkan tepung Karaginan merupakan emulsifier alami hasil ekstraksi dari rumput laut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap non faktorial dengan parameter pengamatan kadar air, kadar protein, kadar serat dan nilai organoleptik. Hasil yang didapatkan dalam penelitian ini yaitu kadar air ini sebesar 46,35%-57,70%, kadar protein 15,98%- 22,63%, kadar 0,25%-0,49%. Nilai organoleptik, nilai tertinggi ada pada sampel A3 dengan subtitusi karaginan 4,5%. Nilai organoleptik Aroma tertinggi ada pada sampel A2 dengan subtitusi karaginan 3. Nilai organoleptik Rasa tertinggi ada pada sampel A2 dengan subtitusi karaginan 3%. Nilai organoleptik tekstur tertinggi ada pada sampel A4 dengan subtitusi karaginan 6%.
Kata Kunci: Eucheuma denticulatum, Karaginan, Sera