1,720,971 research outputs found

    Pengaruh Perubahan Orientasi Mata Pencaharian terhadap Status Sosial Ekonomi Masyarakat Desa Sudirejo Kecamatan Namorambe Kabupaten Deliserdang

    No full text
    Penelitian ini dilakukan melihat sejauh mana hubungan antara perubahan orientasi mata pencaharian di pedesaan dengan status social ekonomi masyarakat di Desa Sudirejo, KAbipaten Deliserdang. Penelitian menggunakan teori-teori yang dianggap relevan seperti teoti modernisasi, perubahan social. Penelitian ini menggunakan metode korelasi, yaitu untuk menemukan ada tidaknya hubungan antar variable-variabel dan apabila ada, seberapa erat hubungan itu, juga berarti atau tidaknya hubungan itu, yang kelebihannya dapat mendeteksi sejauh mana variasi-variasi pada satu atau lebih factor lain berdasarkan pada koefisien korelasi. Sedangkan kelemahannya adalah penelitian bersifat kurang ketat dalam keterpengaruhan perubahan orientasi mata pencahariannya. Sampael dalam penelitian ini sebanyak 68 responden, penarikan sample menggunakan sample sederhana. Pengumpulan datanya dilakukan dengan teknik penelitian lapangan yakni penyebaran kuesioner kepada responden dimana peneliti mendampingi responden pada saat pengisisn kuesioner dan penelitian ke perpustakaan yakni menghimpun data dari buku-buku sebagai bahan rujukan yang sesuai dengan penelitian ini. Data dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan tabel tunggal, tabel silang, dan analisis korelasi produc momen. Dari penelitian ini diperoleh 0,61, dimana jika dari skala Guilford berada pada skala 0,61>0,244 untuk tingkat signifikan hasil hipotesis dilakukan. Dengan demikian dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa perubahan orientasi mata pencaharian terhadap status social ekonomi masyarakat desa dengan pengolahan nilai Rxy 0,61>0,244 maka hubungan antara variable X dengan Y, yang dipengaruhi variable Z adalah 0,61>0,244 (signifikan). Oleh karena itu hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa perubahan orientasi mata pencaharian terhadap status social ekonomi masyarakat Desa Sudirejo terdapat hubungan signifikan.91 HalamanSkripsi Sarjan

    Analisis Kasus dari Pernikahan Dini yang Berkaitan dengan esehatan Reproduksi bagi Pasangan Suami-Isteri di Desa Limau Manis Kecamaan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang tahun 2016

    No full text
    According to BKKBN (National Population and Family) (2012), the rate of age of below 19 years old was still high (reach to 20%). The population of adolescence age (16-24 years old) reaches 64 million or 27.6% of the total number of the Indonesian population. The Central Bureau of Statistics (2012) in North Sumatera Province revealed that infant birth rate in 15-19 year-old women was around 33%. The infant death rate in North Sumatera is high; it is around 40/1,000 life birth. Of that number, 30-35 percent has performed early marriage. The research was qualitative with interpretative paradigm which was aimed to analyze the enabling factors and the impact of the incidence of early marriage. It was conducted at Limau Manis village. There were five cases of early marriage. The data were analyzed by grouping people and events according to their characteristics, categories, and chronology. The result of the research showed that the cause of early marriage at Limau Manis village were factors of economy, education, pregnancy prior to marriage, voluntary, family/parents, mass media, and lack of knowledge of reproductive health. The effects of early marriage were jealousy and suspicion because of psychological immaturity, unstable family economy due to low income (inadequate), divorce, and the increase in the risk for pregnancy and childbirth in mothers and their babies. In order to minimize the incidence of early marriage, it is recommended that each adolescent be required to participate in learning compulsory of 12 years so that high rate early marriage can be decreased and adolescents’ interest in early marriage can be reduced.Menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional ( BKKBN), (2012) menyatakan angka pernikahan usia di bawah 19 tahun masih tinggi yakni mencapai 20 %. Populasi penduduk usia remaja ( 16-24 tahun) mencapai 27.6 % dari jumlah penduduk Indonesia yaitu 64 juta jiwa.Menurut Badan Pusat Statistik (2012) di Provinsi Sumatera Utara menunjukkan Angka Kelahiran Bayi pada ibu yang berusia 15-19 tahun berkisar 33 %. Adapun jumlah kematian bayi di Sumatera Utara cukup tinggi sebanyak 40 / 1000 kelahiran hidup Dari jumlah tersebut 30-35 persen diantaranya sudah melakukan pernikahan di usia dini. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan paradigma interpretivist bertujuan menganalisis faktor penyebab dan dampak dari pernikahan dini . Penelitian dilaksanakan di Desa Limau Manis . Peneliti mempelajari kasus 5 orang yang melakukan pernikahan dini. Analisis data dilakukan dengan mengelompokkan orang, peristiwa sesuai karakteristiknya sesuai dengan kategori dan kronologinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebab terjadinya pernikahan dini di Desa Limau Manis yaitu faktor ekonomi, faktor pendidikan, faktor MBA / hamil sebelum menikah, kemauan sendiri, faktor keluarga/orang tua, media massa dan kurangnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi. Dampak yang ditimbulkan menikah pada usia dini yaitu mudah cemburu dan curiga karena belum matangnya psikologisnya, ketidakstabilan ekonomi keluarga dengan penghasilan yang rendah (tidak mencukupi), terjadinya perceraian, meningkatnya resiko kehamilan dan persalinan pada ibu dan bayi. Untuk meminimalisir terjadinya pernikahan usia dini maka disarankan setiap remaja mengikuti wajib belajar 12 tahun agar angka pernikahan dini yang tinggi dapat berkurang dan menurunkan minat remaja untuk menikah.Tesis Magiste

    Analisis Kasus dari Pernikahan Dini yang Berkaitan dengan esehatan Reproduksi bagi Pasangan Suami-Isteri di Desa Limau Manis Kecamaan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang tahun 2016

    No full text
    According to BKKBN (National Population and Family) (2012), the rate of age of below 19 years old was still high (reach to 20%). The population of adolescence age (16-24 years old) reaches 64 million or 27.6% of the total number of the Indonesian population. The Central Bureau of Statistics (2012) in North Sumatera Province revealed that infant birth rate in 15-19 year-old women was around 33%. The infant death rate in North Sumatera is high; it is around 40/1,000 life birth. Of that number, 30-35 percent has performed early marriage. The research was qualitative with interpretative paradigm which was aimed to analyze the enabling factors and the impact of the incidence of early marriage. It was conducted at Limau Manis village. There were five cases of early marriage. The data were analyzed by grouping people and events according to their characteristics, categories, and chronology. The result of the research showed that the cause of early marriage at Limau Manis village were factors of economy, education, pregnancy prior to marriage, voluntary, family/parents, mass media, and lack of knowledge of reproductive health. The effects of early marriage were jealousy and suspicion because of psychological immaturity, unstable family economy due to low income (inadequate), divorce, and the increase in the risk for pregnancy and childbirth in mothers and their babies. In order to minimize the incidence of early marriage, it is recommended that each adolescent be required to participate in learning compulsory of 12 years so that high rate early marriage can be decreased and adolescents’ interest in early marriage can be reduced.Menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional ( BKKBN), (2012) menyatakan angka pernikahan usia di bawah 19 tahun masih tinggi yakni mencapai 20 %. Populasi penduduk usia remaja ( 16-24 tahun) mencapai 27.6 % dari jumlah penduduk Indonesia yaitu 64 juta jiwa.Menurut Badan Pusat Statistik (2012) di Provinsi Sumatera Utara menunjukkan Angka Kelahiran Bayi pada ibu yang berusia 15-19 tahun berkisar 33 %. Adapun jumlah kematian bayi di Sumatera Utara cukup tinggi sebanyak 40 / 1000 kelahiran hidup Dari jumlah tersebut 30-35 persen diantaranya sudah melakukan pernikahan di usia dini. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan paradigma interpretivist bertujuan menganalisis faktor penyebab dan dampak dari pernikahan dini . Penelitian dilaksanakan di Desa Limau Manis . Peneliti mempelajari kasus 5 orang yang melakukan pernikahan dini. Analisis data dilakukan dengan mengelompokkan orang, peristiwa sesuai karakteristiknya sesuai dengan kategori dan kronologinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebab terjadinya pernikahan dini di Desa Limau Manis yaitu faktor ekonomi, faktor pendidikan, faktor MBA / hamil sebelum menikah, kemauan sendiri, faktor keluarga/orang tua, media massa dan kurangnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi. Dampak yang ditimbulkan menikah pada usia dini yaitu mudah cemburu dan curiga karena belum matangnya psikologisnya, ketidakstabilan ekonomi keluarga dengan penghasilan yang rendah (tidak mencukupi), terjadinya perceraian, meningkatnya resiko kehamilan dan persalinan pada ibu dan bayi. Untuk meminimalisir terjadinya pernikahan usia dini maka disarankan setiap remaja mengikuti wajib belajar 12 tahun agar angka pernikahan dini yang tinggi dapat berkurang dan menurunkan minat remaja untuk menikah.Tesis Magiste

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Get PDF
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    ANALISIS KASUS DARI PERNIKAHAN DINI YANG BERKAITAN DENGAN KESPRO BAGI SUAMI-ISTERI DI DESA LIMAU MANIS TANJUNG MORAWA DELI SERDANG

    No full text
    Menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional ( BKKBN), (2012) menyatakan angka pernikahan usia di bawah 19 tahun masih tinggi yakni mencapai 20 %. Populasi penduduk usia remaja ( 16-24 tahun) mencapai 27.6 % dari jumlah penduduk Indonesia yaitu 64 juta jiwa.Menurut Badan Pusat Statistik (2012) di Provinsi Sumatera Utara menunjukkan Angka Kelahiran Bayi pada ibu yang berusia 15-19 tahun berkisar 33 %. Adapun jumlah kematian bayi di Sumatera Utara cukup tinggi sebanyak 40 / 1000 kelahiran hidup Dari jumlah tersebut 30-35 persen diantaranya sudah melakukan pernikahan di usia dini.   Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan paradigma interpretivist bertujuan menganalisis faktor penyebab dan dampak dari pernikahan dini . Penelitian dilaksanakan di Desa Limau Manis . Peneliti mempelajari kasus 5 orang yang melakukan pernikahan dini. Analisis data dilakukan dengan mengelompokkan orang, peristiwa sesuai karakteristiknya sesuai dengan kategori dan kronologinya.   Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebab terjadinya pernikahan dini di Desa Limau Manis yaitu faktor ekonomi, faktor pendidikan, faktor MBA / hamil sebelum menikah, kemauan sendiri, faktor keluarga/orang tua, media massa dan kurangnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi. Dampak yang ditimbulkan menikah pada usia dini yaitu mudah cemburu dan curiga karena belum matangnya psikologisnya, ketidakstabilan ekonomi keluarga dengan penghasilan yang rendah (tidak mencukupi), terjadinya perceraian, meningkatnya resiko kehamilan dan persalinan pada ibu dan bayi.   Untuk meminimalisir terjadinya pernikahan usia dini maka disarankan setiap remaja mengikuti wajib belajar 12 tahun agar angka pernikahan dini yang tinggi dapat berkurang dan menurunkan minat remaja untuk menikah.     &nbsp

    Pengetahuan dan Sikap Ibu Hamil Trimester III tentang anemia defisiensi zat besi: Indonesia

    No full text
    Background: the function of red blood cells provides oxygen to all body tissues. The high maternal mortality rate in Indonesia is one of the causes is the low consumption of iron during pregnancy, so there are many cases of iron nutrition anemia. Based on Basic Health Research (RISKESDAS) the percentage of anemia in pregnant women in Indonesia is 24.5%. The purpose of this study was to determine the extent of knowledge and attitudes of pregnant women towards the prevention of iron deficiency anemia. Research methods: the method used is descriptive. The number of samples in this study were Trimester III pregnant women, amounting to 50 people. Sampling was taken with a total sampling technique. The research was conducted at the Cahaya Clinic, Pulo Brayan Darat Sub-District, East Medan District. Results: In terms of knowledge on the prevention of iron deficiency anemia obtained from 50 pregnant women in the Light Clinic as many as 26 people (52%) had sufficient knowledge, had 14 people (28%), and 10 people (20%) lacked knowledge.  Based on the attitude of Trimester III pregnant women as many as 43 people (86%) are behaving well, and 7 people (14%) are acting less on matters relating to the prevention of iron deficiency anemia. Conclusion: this study needs to increase the intake of iron nutrition of pregnant women based on a healthy and balanced diet (4 healthy 5 perfect).   Keywords: Knowledge, attitude, pregnant mother,trimester III iron deficiency anemi

    Variations on the Author

    Get PDF
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Get PDF
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts

    Get PDF
    We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more sophisticated methods
    corecore