171,509 research outputs found
Synthesis of trifluoromethyl-substituted pyrazolo[4,3-c]pyridines - Sequential versus multicomponent reaction approach
A straightforward synthesis of 6-substituted 1-phenyl-3-trifluoromethyl-1H- pyrazolo[4,3-c]pyridines and the corresponding 5-oxides is presented. Hence, microwave-assisted treatment of 5-chloro-1-phenyl-3-trifluoromethylpyrazole-4- carbaldehyde with various terminal alkynes in the presence of tert-butylamine under Sonogashira-type cross-coupling conditions affords the former title compounds in a one-pot multicomponent procedure. Oximes derived from (intermediate) 5-alkynyl-1-phenyl-3-trifluoromethyl- 1H-pyrazole-4-carbaldehydes were transformed into the corresponding 1H-pyrazolo[4,3-c]pyridine 5-oxides by silver triflate-catalyzed cyclization. Detailed NMR spectroscopic investigations (1H, 13C, 15N and 19F) were undertaken with all obtained products. © 2014 Palka et al; licensee Beilstein-Institut
Desain Struktur Dinding Palka Kapal Ikan Dengan Lapisan Insulasi Berbahan Sabut Kelapa
Penelitian ini berfokus pada penggunaan campuran bahan alami sebagai insulasi pada dinding palka ikan. Tujuan penelitian ini adalah mendesain komposisi dinding palka ikan dengan lapisan insulasi berbahan campuran polyurethane dan sabut kelapa dan menganalisa distribusi suhu pada dinding palka serta menganalisa suhu pendinginan di dalam ruang palka ikan. Metode yang digunakan adalah metode numerik berupa simulasi FEM (Finite Element Method) untuk melihat distribusi suhu pada dinding dan simulasi CFD (Computational Fluid Dynamics) untuk melihat distribusi fluida dan ikan di ruang palka. Simulasi FEM dilakukan sebanyak 4 variasi yaitu polyurethane 100%, polyurethane 90% dan sabut kelapa 10%, polyurethane 80% dan sabut kelapa 20%, dan polyurethane 70% dan sabut kelapa 30%. Simulasi CFD dilakukan sebanyak 3 variasi yaitu ruang palka kosong, ruang palka berisi chilled water, dan ruang palka berisi chilled water dan ikan. Metode analisis data dilakukan dengan membandingkan data antara hasil simulasi dengan hasil perhitungan. Hasil simulasi FEM menunjukkan bahwa dinding palka dengan insulasi dari campuran polyurethane 90% dan sabut kelapa 10% dipilih sebagai desain dinding terbaik dengan suhu minimum yang didapatkan paling rendah yaitu bernilai -8,5265e-14°C. Hasil simulasi CDF menunjukkan terjadinya kenaikan suhu pada chilled water yang bermula bernilai 1,259°C kemudian menjadi 3,5°C ketika ditambahkan ikan dan suhu ikan menjadi 2,2°C. Perbandingan antara hasil simulasi dengan hasil perhitungan memiliki perbedaan. Data hasil simulasi memiliki nilai yang lebih rendah dari hasil perhitungan sehingga dapat dikatakan bahwa metode simulasi terbilang lebih akurat jika dibandingkan dengan metode perhitungan manual
Analisa Kelayakan Teknis dan Ekonomis Penggunaan Palka Berinsulasi pada Perahu Motor Penangkapan Tuna di Negeri Assilulu Kecamatan Leihitu Maluku
Provinsi Maluku memiliki potensi perikanan tuna yang besar dan merupakan salah satu basis penangkapan ikan tuna di Indonesia. Penangkapan ikan tuna di Maluku didominasi oleh nelayan skala kecil. Pesatnya perkembangan penangkapan ikan tuna di Maluku berdampak mutu ikan hasil tangkapan. Proses pendinginan ikan bertujuan untuk menghambat berkembangnya bakteri yang dapat menyebabkan kesegaran ikan menjadi rusak. Sampai saat ini proses pendinginan ikan yang dilakukan nelayan tradisional di Indonesia khususnya di Maluku pada umumnya menggunakan styrofoambox sebagai penyimpanan ikan hasil tangkapan akan tetapi sebetulnya jika dianalisa baik secara teknis maupun ekonomis, maka banyak kelemahan dalam penggunaan styrofoambox tersebut. Penggunaan palka berinsulasi merupakan solusi atas kelemahan dari penggunaan styrofoambox. Palka Insulasi adalah tempat penyimpanan ikan yang berada pada bagian perahu dengan bagian dinding dicor menggunakan larutan Polyurethane. Tujuan dari penelitian skripsi ini adalah untuk mengetahui kelayakan teknis berdasarkan struktur palka insulasi dan kinerja palka insulasi dengan styrofoam dalam mempertahankan temperatur rendah es dan temperatur ikan mendekati 0°C dan mengetahui kelayakan investasi palka berinsulasi terhadap keuntungan yang diperoleh nelayan. Penelitian skripsi dilaksanakan pada tanggal 3-23 Maret 2016 di Negeri Assilulu,Kecamatan Leihitu,Kabupaten Maluku Tengah,Maluku. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode observasi untuk mendapatkan data primer berupa variabel perhitungan analisa teknis(temperatur lingkungan dan temperatur ruang dalam benda uji, tebal benda uji),metode wawancara untuk mendapatkan data primer berupa variabel perhitungan analisa ekonomis (pendapatan,biaya investasi,biaya operasional),dan dokumentasi. Analisa data teknis yang digunakan meliputi pengukuran struktur palka insulasi, laju aliran panas akibat beban transmisi, laju aliran panas akibat beban muatan, dan laju pencairan es. Analisa data ekonomis yang digunakan meliputi permodalan,keuntungan,RC Ratio,BEP, dan Rentabilitas. Penelitian skripsi yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa struktur palka mampu menampung loin tuna lebih banyak sampai dengan 16 loin tuna dibandingkan styrofoambox dengan kapasitas 4 loin tuna, palka Insulasi mampu menahan penurunan temperatur ruangan hingga temperatur akhir sebesar 23,7°C sementara temperatur pada styrofoambox sebesar 20,2°C; temperatur ikan pada palka insulasi saat didaratkan adalah 8,1°C sementara temperatur pada styrofoambox sebesar 3,6°C, dan persentase penggunaan es lebih tinggi pada styrofoam dibandingkan styrofoambox dengan persentase penggunaan 69,3% pada palka insulasi dan 84,7% pada styrofoambox sedangkan kelayakan ekonomis usaha penangkapan dengan palka insulasi adalah mempunyai hasil permodalan palka Insulasi sebesar Rp. 48.340.000,- lebih rendah daripada permodalan styrofoambox sebesar Rp 50.340.000,- ; penerimaan palka insulasi sebesar Rp.122.500.000,- lebih besar dibandingkan permodalan styrofoambox sebesar Rp.96.250.000,- ; keuntungan palka insulasi sebesar Rp.74.160.000,- lebih besar dibandingkan keuntungan styrofoaboxm sebesar Rp. 45.910.000,-; RC Ratio palka insulasi 2,53 lebih besar dibandingkan RC Ratio Styrofoam sebesar 1,91; BEP Palka Insulasi sebesar 14,04 kg lebih tinggi dibandingkan dengan BEP Styrofoam sebesar 18,85 kg.; Rentabilitas Palka insulasi mencapai 153,41% lebih besar dibandingkan rentabilitas styrofoam sebesar 91,20
C. elegans as a model to identify and functionally characterize novel genes causing RASopathies and other developmental diseases
RASopathies are a family of syndromes affecting development and growth, sharing RAS signaling
dysregulation as pathogenetic mechanism. Past work of our group and others have significantly
contributed to our understanding of the molecular causes of these diseases. However, a large
fraction of RASopathy cases remains unexplained molecularly. Here, I used the nematode C.
elegans to reveal novel molecular mechanisms underlying RASopathies, as well as to identify new
candidate genes for these group of developmental disorders. C. elegans is an excellent model to
study RASopathies since the RAS-MAPK pathway is well conserved in worms, where it plays a
crucial role in vulval development.
Based on a gene candidacy approach, we identified two germline mutations in RRAS, a gene
encoding a small monomeric GTPase controlling cell adhesion, spreading and migration,
underlying a rare and atypical form of Noonan syndrome (NS), the most common RASopathy. We
also identified somatic RRAS mutations in 2 cases of non-syndromic juvenile myelomonocytic
leukaemia (JMML), a childhood myeloproliferative/myelodysplastic disease caused by upregulated
RAS signaling. Two of the three identified mutations affected known oncogenic hotspots of RAS
genes and conferred variably enhanced RRAS function and stimulus-dependent MAPK activation.
Expression of an RRAS mutant homolog in C. elegans enhanced RAS signaling causing a
multivulva (Muv) phenotype, and engendered protruding vulva (Pvl), a phenotype previously linked
to the RASopathy-causing SHOC2S2G mutant. These findings provided evidence of a functional link
between RRAS and MAPK signaling and reveal an unpredicted role of enhanced RRAS function in
human disease.
Epistatic analyses performed on C. elegans transgenic lines allowed us to establish that the
RASopathy-causing SHOC2 and RRAS mutants belong to the same pathway. Within this signaling
network, both RAS-1/RRAS and RAS-2/MRAS are downstream to constitutively active SHOC2,
with the former being epistatic to the latter. By using a reverse genetic approach based on RNA
interference experiments, we demonstrated that the Muv phenotype was completely mediated by
LET-60/RAS, while the Pvl phenotype was modulated by the RHO-family small GTPases CDC-42
and RAC1. We then confirmed these results in fibroblasts derived from patients with Mazzanti
syndrome (NS with loose anagen hair) and transfected cell lines. In these models, we observed
constitutive RAC1 activation and aberrant lamellipodia formation in cells expressing SHOC2S2G
compared to wild-type cells.
These results suggested RHO GTPases as excellent candidate genes to be mutated in
RASopathies. To explore this hypothesis, mutation scanning of RAC1, RAC2 and CDC42 genes was
performed in RASopathy patients by targeted resequencing and identified seven different
germline CDC42 mutations in 11 unrelated subjects with a variable phenotype partially overlapping
NS and predisposing to thrombocytopenia. In vitro biochemical characterization demonstrated a
variable impact of the mutations on GTPase activity and defective binding to WASP. In vitro and in
vivo (C. elegans) functional characterization of these mutants allowed to define their impact on cell
migration and proliferation, as well as on vulval induction and morphogenesis. A first class of
mutations was shown to have an hypomorphic effect on processes mediating cell polarized
migration, with no effect on the RAS-MAPK signaling, while a second class of mutations had a
gain-of-function effect on both cell migration/proliferation and LET-60/RAS-mediated vulval
induction. Overall, our data highlighted the possible contribution of dysregulated signaling
controlling cell spreading and migration to certain features of RASopathies, such as lymphedema,
cardiac defects and lymphocytes infiltration in non-hematopoietic tissues in case of JMML
Upaya Menstabilkan Temperatur Yang Terlalu Tinggi Di Dalam Palka Guna Menjaga Kualitas Muatan Di Mv. Tuna Princess
Abstraksi -.Temperatur adalah besaran fisis yang secara
kuantitatif menyatakan sifat panas atau dingin. Suhu diukur dengan
termometer. Ini mencerminkan energi kinetik rata-rata dari atom
atom yang bergetar dan bertabrakan yang membentuk suatu zat.
Masalah terjadi saat peneliti melaksanakan praktek laut di atas
kapal tanggal 15 Juni 2022 jam 12:00 saat perjalanan Maroko ke
Malta terjadi kendala yakni Temperatur di dalam palka terlalu
tinggi. (-41°C). Saat melakukan noon report, yang mana dalam 14
jam tidak dapat mencapai temperatur yang di tetapkan. MV. Tuna
Princess memiliki ketetapan dengan temperature -50°C di dalam
palka untuk frozen tuna bluefin. Ketetapan berlaku agar ikan
dalam kondisi segar dan bakteri tidak dapat berkembang biak
sampai proses bongkar dilakukan.. Metode penelitian ini adalah
dengan pendekatan kualitatif dan desain penelitian deskriptif.
Sumber data penelitian yang diambil adalah data primer dan
sekunder. Teknik pengumpulan data dengan riset lapangan yang
meliputi pendekatan sistematis untuk mengidentifikasi akar
masalah atau penyebab utama suatu masalah. Teknik analisa data
menggunakan Metode Root Cause Analysis (Analisis Akar
Penyebab). Masalah yang mengacu pada segala jenis kendala atau
gangguan yang berkaitan dengan kurang rapatnya penutup palka.
Penutup palka adalah salah satu yang berperan penting untuk
menjaga temperatur agar tetap stabil, dan masalah dalam hal ini
dapat menjadi faktor yang menjadikan temperatur naik.
Temperatur menjadi naik karena seal penutup palka yang sudah
mengalami keausan
Mutu Mikrobiologis dan Organoleptik Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis L) Segar di Palka Kapal Ikan PPP Tumumpa
Skipjack (Katsuwonus pelamis L) is a most popular product for the people of North Sulawesi. As a perishable foodstuff, fish requires special treatment to maintain their quality. Deterioration of quality in fish can cause diseases for those who consume. This research was conducted to analyze the quality of microbiological and organoleptic of skipjack tuna. The research method used is quantitative descriptive, with test parameters was total plate count (TPC), total Coliforms and Escherichia coli, Organoleptic (eyes, gills, flesh mucus, odor, texture) and pH. Samples were taken at two ship hatch. The test results of fresh skipjack tuna showed that the highest TPC value of fresh skipjack tuna was 2.8x103cfu/g on the 3rd take in ship hatch 2 and the lowest TPC value of 1.5x103cfu/g on the 1st take in ship hatch 2. The highest TPC value in the water sample used is 3.2x103 in the 1st pick-up in ship hatch 2, and the lowest TPC value is 2.6x103cfu/g at the second take-up in ship hatch 2. The results of the analysis of total Coliforms and E. coli showed positive results in ship hatch 1 and ship hatch 2. Based on the organoleptic analysis of fresh skipjack tuna in hatch 1 and hatch 2, it shows a value of 8–7 which means the fish is still fresh. The pH value of fresh skipjack tuna is 5.8–5.85 and the water samples used are 7.2–7.4 indicating that the fresh skipjack fish and the water used in hatches 1 and 2 are still in good condition (fresh).Keyword:       Escherichia coli, pH, Organoleptic, pH, Skipjack tuna, Total Plate Count. Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis L) merupakan produk primadona bagi masyarakat Sulawesi Utara. Ikan memerlukan penanganan yang cepat, cermat dan tepat supaya kualitasnya tetap baik. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis mutu mikrobiologis dan organoleptik dari ikan cakalang segar. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif kuantitatif, dengan parameter uji yakni angka lempeng total (ALT), total Koliform dan Escherichia coli, organoleptik (mata, insang, daging, lendir, bau dan tekstur) dan pH. Sampel ikan cakalang segar dan air diambil pada dua palka kapal ikan. Hasil pengujian ikan cakalang segar menunjukkan nilai ALT tertinggi ikan cakalang segar yaitu 2,8x103cfu/g pada pengambilan ketiga di palka 2 dan nilai ALT terendah yaitu 1,5x103cfu/g pada pengambilan pertama di palka 2. Nilai ALT tertinggi pada sampel air yaitu 3,2x103 cfu/g pada pengambilan pertama di palka 2, dan nilai ALT terendah yaitu 2,6x103cfu/g pada pengambilan kedua di palka 2. Hasil analisis total koliform dan Escherichia coli menunjukkan hasil positif di palka 1 dan palka 2. Hasil analisis organoleptik ikan cakalang segar di palka 1 dan palka 2 menunjukkan nilai 8–7 yang berarti ikan masih dalam keadaan segar. Nilai pH ikan cakalang segar yaitu 5,8–5,9 dan sampel air yang digunakan yaitu 7,2–7,4 menunjukkan bahwa ikan cakalang segar dan air yang digunakan di palka 1 dan palka 2 masih dalam keadaan baik (segar).Kata kunci:   Cakalang, Escherichia coli, Organoleptik, pH, Angka Lempeng Total
UPAYA MENSTABILKAN TEMPERATUR YANG TERLALU TINGGI DI DALAM PALKA GUNA MENJAGA KUALITAS MUATAN DI MV. TUNA PRINCESS
ABSTRAKSI
Muhammad Firdaus Alfarizi, 2023, 561911227274.T, “Upaya Menstabilkan
Temperatur yang terlalu tinggi di dalam palka guna menjaga kualitas
muatan di MV. TUNA PRINCESS ”, Skripsi Program Studi Teknika,
Diploma IV Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang, Pembimbing I : Dr. Ali
Muktar Sitompul Sitompul, M. T.,M.Mar.E dan Pembimbing II : IMAM
SAFI’I, S.Si.T ., M.Si
Temperatur adalah besaran fisis yang secara kuantitatif menyatakan
sifat panas atau dingin. Suhu diukur dengan termometer. Ini mencerminkan
energi kinetik rata-rata dari atom-atom yang bergetar dan bertabrakan yang
membentuk suatu zat. Masalah terjadi saat penulis melaksanakan praktek
laut di atas kapal tanggal 15 juni 2022 jam 12:00 saat perjalanan Maroko ke
Malta terjadi kendala yakni Temperatur di dalam palka terlalu tinggi
(-41°C). Saat melakukan noon report, yang mana dalam 14 jam tidak dapat
mencapai temperatur yang di tetapkan. MV. Tuna Princess memiliki
ketetapan dengan temperature -50°C di dalam palka untuk frozen tuna
bluefin. Ketetapan berlaku agar ikan dalam kondisi segar dan bakteri tidak
dapat berkembang biak sampai proses bongkar dilakukan. Masalah ini telah
terjadi dalam perjalan dari maroko menuju ke Malta, pada saat saya
melakukan praktik laut tepatnya pada tanggal 15 Juni 2022. Dalam
beberapa bulan terakhir Temperatur di dalam palka sebelumnya normal
sesuai ketetapan selama bertahun-tahun. Dengan ini harus dilakukan
perbaikan yang cepat karena kapal akan terus beroperasi.
Metode penelitian ini adalah dengan pendekatan kualitatif dan desain
penelitian deskriptif. Sumber data penelitian yang diambil adalah data
primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data dengan riset lapangan yang
meliputi pendekatan sistematis untuk mengidentifikasi akar masalah atau
penyebab utama suatu masalah. Teknik analisa data menggunakan Metode
Root Cause Analysis (Analisis Akar Penyebab).
Berdasarkan hasil penelitian ini disimpulkan bahwa penyebab dari
temperatur yang terlalu tinggi dikarenakan Yang menyebabkan temperatur
di dalam palka yang terlalu tingi di MV. TUNA PRINCESS adalah kurang
rapatnya penutup palka, kemampuan refrigerator sistem dalam menyerap
panas yang kurang, paparan langsung sinar cahaya matahari.Upaya yang
dilakukan untuk menangani temperatur di dalam palka yang terlalu tinggi
di dalam adalah Berdasarkan seluruh pembahasan dan penelitian diatas,
penulis menyarankan beberapa hal untuk ber upaya mengatasi temperature
yang terlalu tinggi di dalam palka, yaitu: Selalu melakukan pemeriksaan
pada Temperatur di dalam palka, minimal 1 jam sekali setiap jam dinas jaga.
Ganti seal dan hydralic jack yang rusak agar palka tertutup rapat. Bersihkan bunga es pada evaporator. Gunakan terpal sebagai penutup palka tertutup
rapat dan tidak ada celah
PENERAPAN SISTEM HYBRID FREEZER PALKA PANEL SURYA DAN MESIN UNTUK MENUNJANG PRODUKTIVITAS NELAYAN
Traditional fishermen in coastal communities often rely on ice blocks to preserve their catch, a method that is costly, inefficient, and unable to maintain stable temperatures during long fishing trips. This study presents the development and implementation of a hybrid freezer palka system that integrates solar panels and engine-driven alternator power to provide a continuous and energy-efficient cooling source for small fishing vessels. The research aimed to design a reliable cooling system capable of maintaining low temperatures during extended operations at sea while reducing operational costs for fishermen.The methodology involved system design, component integration, and field testing with partner fishermen in Kampung Mandar, Banyuwangi. The hybrid system consists of a 100 Wp solar panel, MPPT charge controller, 65 Ah battery, alternator, inverter, and a 125-Watt freezer installed inside an insulated palka box. Field testing was conducted over 21 consecutive days to evaluate temperature stability, operating duration, and energy performance.Results show that the system successfully reached temperatures between –2 °C and 5 °C within approximately 80 minutes and maintained stable cooling for more than 8 hours per trip using combined solar and engine power. The hybrid configuration significantly reduced dependence on ice blocks, decreased operational costs, and improved fish quality upon landing. The findings indicate that this hybrid freezer palka system is an effective, sustainable, and practical technological solution to support fishermen’s productivity, especially in small-scale traditional fisheries.
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
- …
