8 research outputs found

    Correlation analysis of heterotic pattern of inbreads microsatellite marker-based to the phenotypic performance of test cross and diallel cross of maize hybrid

    No full text
    Studi disertasi ini mengamati hubungan antara marka mikrosatelit dengan penampilan fenotipik hibrida serta parameter genetik inbrida jagung dalam upaya untuk menjadikan marka molekuler bermanfaat dalam memprediksi penampilan hibrida. Percobaan pertama, mengamati keragaman genetik 34 inbrida jagung yang dibentuk dari beberapa sumber populasi yang berbeda. Hasil penelitian menggambarkan keragaman genetik yang tinggi dari materi yang diuji yang ditunjukkan oleh nilai polimorfisme yang cukup tinggi (0,61). Konstruksi dendrogram berdasarkan UPGMA dapat membedakan inbrida satu dengan yang lain. Berdasarkan kemiripan genetik, inbrida dapat dikelompokan menjadi lima grup dan secara umum konsisten dengan data pedigree. Namun demikian keterbatasan data pedigree ditemukandalam penelitian ini antara lain pada empat inbrida dengan inisial SP007 menyebar pada tiga kelompok yang berbeda sehingga klasternya kurang tegas. Informasi ini akan efektif untuk digunakan dalam menyeleksi tetua dan dijadikan sebagai salah satu strategi dalam program pemuliaan jagung hibrida.The objectives of this study are: (a) to estimate the level of genetic diversity, genetic distance (GD), heterotic groups, and the SSRs marker package that are effective to differentiate among 34 inbreds and relatively stable in their heterotic groups, (b) to correlate between the GD and seed weight per plant of single cross hybrid through diallel method, and (d) to determine the hybris that potential to develop as new hybrid varieties

    KARAKTERISTIK MORFOLOGI JEWAWUT (Setaria italica L.) INDONESIA

    No full text
    Jewawut (Setaria italica L.) merupakan tanaman serealia fungsional yang dapat tumbuh dengan baik di daerah beriklim tropis dan subtropis, termasuk Indonesia. Morfologi tumbuhan relevan dengan hampir semua disiplin ilmu biologi, seperti genetika, fisiologi, ekologi, biologi evolusi, dan sistematika tumbuhan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami struktur morfologi tamanan jewawut. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif morfologi berdasarkan International Board for Plant Genetic Resources (IBPGR) untuk Setaria italica. Struktur morfologi tanaman jewawut dimulai dari organ akar, batang, pelepah daun, daun, bunga, dan biji. Morfologi tanaman yang diamati terdiri dari karakter kualitatif dan karakter kuantitatif. Morfologi tanaman jewawut berperan penting dalam identifikasi dan klasifikasikan tanaman, membantu memahami berbagai aspek ekologi tanaman dalam program pemuliaan tanaman serta adaptasi struktural tanaman jewawut terhadap lingkungannya

    Karakterisasi Kemiripan Genetik Koleksi Inbrida Jagung Berdasarkan Marka Mikrosatelit

    No full text
    &lt;p class="p1"&gt;Information on genetic relationships among available crop germplasm such as maize inbred lines, has important implications to breeding programs. A set of 26 maize inbreds togeher with six standard lines from CIMMYT (CML51, CML292, CML202, CML206, CML236, dan CML396), was characterized using 26 SSR markers, which were coverage of the maize genomes. The objective of this study was to analyze genetic diversities among the Indonesian maize inbred collections. Polymorphism Information Content (PIC) value and the observed genetic distance indicated the existence of large variabilities among the inbreds. Cluster analysis based on 27% of the Jaccard’s similarity coefficient placed the inbreds into three groups. Genetic distances among all the possible pairs without the standard maize lines varied from 0.32 (KSX360F2-5-1-3-1v vs KSX2601F2-5-1-1-v) to 0.88 (PT963298-1-B-B-Bv vs Mr13). Cluster and Principal Coordinate Analysis of the genetic distances, revealed a clear differentiation of the inbred lines into groups according to their source populations. This clustering were consistent with those of the known pedigree records of the inbreds based on their morphological characters. These results support the use of morphological traits in the production of maize hybrids. The SSR markers proved to be effective to characterize, identify, and demonstrate genetic similarities among the maize inbred lines.&lt;/p&gt;</jats:p

    Uji kualitas dan kuantitas tanaman jewawut (setaria italic) di Balai Penelitian Tanaman Serealia Kabupaten Maros

    Get PDF
    Jewawut adalah tanaman ekonomi minor namun memiliki nilai kandungan gizi yang mirip dengan tanaman pangan lainnya seperti padi, jagung, dan tanaman biji-bijian yang lain karena tanaman jewawut sendiri tergolong ke dalam jenis tanaman serealia.&nbsp; Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Molekular Balai Penelitian Tanaman Serealia Maros yang dimulai pada bulan Februari sampai Maret 2019. Bahan tanaman yang digunakan adalah daun&nbsp; jewawut usia 15 hari. Penelitian ini menggunakan metode ekstraksi dan isolasi DNA, uji kualitas dan kuantitas DNA. Hasil Penelitian menunjukkan Fragmen DNA pada sampel 22a, 24a, 24b, 26a, 26b dan 28a memiliki warna yang paling terang sesuai dengan λ 300. Sedangkan pada sampel 22b, 23a, 25a dan 29b memiliki tingkat keceraha yang sama dengan λ 200. Pada sampel 23b, 25b, 28b dan 29a memiliki tingkat kecerahan sama dengan λ100, selebihnya adalah sempel dengan nomor 21a dan 21 b memiliki tingkat kecerahan yang sama dengan λ 50. Nilai kemurnian yang paling tinggi terdapat pada sampel 25b dengan konsentrasi 214 dan nilai kemurniannya sebesar 1.562. Sedangkan nilai kemurnian yang paling rendah terdapat pada sampel 21a dengan konsentrasi 209 dan titik kemurniannya 1.096

    METODE EKSTRAKSI DNA PADA PLASMA NUTFAH JEWAWUT SULAWESI BARAT INDONESIA MENGGUNAKAN BUFFER CTAB (Cethyl Trimethyl Ammonium Bromide)

    Get PDF
    Jewawut merupakan serealia pangan lokal non-beras yang telah lama didomestikasi di seluruh dunia termasuk di Sulawesi Barat, Indonesia sebagai pangan alternatif pengganti beras. Ekstraksi DNA merupakan tahap awal yang penting dalam analisis berbasis molekuler. Metode ekstraksi berpengaruh terhadap kualitas dan kuantitasnya DNA yang dihasilkan dalam program pemuliaan tanaman jewawut. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan metode ekstraksi DNA yang efisien pada plasma nutfah jewawut Sulawesi Barat menggunakan buffer ekstraksi CTAB. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa DNA yang diekstraksi mempunyai kualitas, kuantitas yang baik, dapat diamplifikasi PCR menggunakan primer SSR p16 menghasilkan pita DNA yang jelas dan bersih. Terdeteksi sebanyak tiga alel 200bp-249bp. Ketepatan dan efisiensi metode ekstraksi perlu disesuaikan dengan bentuk sampel, jenis tamanan, asal sampel, kondisi sampel, dan karakter sampel. Karakteristik metode ekstraksi DNA penting untuk mendukung program pemuliaan tanaman jewawut di masa mendatang

    Genetic Diversity Of Local Maize Germplasm Of Tana Toraja South Sulawesi Using SSR (Simple Sequence Repeat) Markers

    Get PDF
    This research was conducted at Balitsereal Molecular Biology Laboratory, Agricultural Research Agency in Maros Regency, South Sulawesi. A total of 4 local maize populations were analyzed by laboratory experimental method with observation with NTSYS pc 2.1 program. The results showed that the average number of alleles was 3.72 alleles per locus and the polymorphism rate of 0.53 with the genetic similarity coefficient was in the range of 0.47 to 0.85. 2 main clusters formed in the genetic similarity coef ficient 0.47. Klaster I is Local Dalle Pondan and Local Purple. Klaster II is Local Bebo and Kandora. The genetic distance is in the range of 0.15 to 0.74 with an average genetic distance of 0.46. From the data obtained shows that the 4th germplasm of the population of Tana Toraja Local maize diteleti has a very informative level of genetic diversity. Genetic diversity of local maize germplasm of Tana Toraja, can be used as a source of genes in the assembly of improved varieties in the future

    Potensi Sorgum Manis (Sorghum Bicolor (L) Moench.) Sebagai Bahan Baku Bioetanol

    No full text
    Pemanfaatan bioetanol untuk industri farmasi dan kosmetik serta regurasi energi nasional mendorong pemerintah untuk mengembangkan tanaman yang merupakan sumber bioetanol dan bioenergi. Permasalahan penting saat ini dalam memenuhi kebutuhan bioetanol di Indonesia ada pada ketersediaan bahan baku secara kontinyu dan masih bersaing dengan bahan pangan. Bioetanol saat ini pada umumnya diproduksi dari tetes tebu dan biji jagung, dimana tanaman tersebut merupakan tanaman bahan pangan utama. Diperlukan sumber bahan baku bioetanol dari tanaman yang dapat memenuhi kriteria biaya produksi yang relatif murah dan merupakan bahan non pangan. Sorgum manis (Sorghum bicolor (L) Moench.) merupakan salah satu tanaman C4 yang berpotensi sebagai bahan baku bioethanol yang dapat diolah dari nira batang, bagas (selulosa) dan biji (pati). Karakteristik sorgum manis yang dapat beradaptasi dengan baik ke kondisi pertumbuhan marginal, sangat berpotensi untuk dikembangkan di Indonesia yang memiliki lahan marginal yang cukup luas. Di Indonesia telah dilepas beberapa varietas unggul dan galur sorgum manis yang orientasinya untuk dijadikan bahan baku etanol seperti varietas Super-1, Super 2, Numbuh dan sebagainya. Namun masih diperlukan eksplorasi galur-galur unggul yang diharapkan berpotensi memiliki produksi etanol yang tinggi sehingga dapat memenuhi kebutuhan bahan baku. Teknologi ratun merupakan usaha penyediaan bahan baku dengan kuatitas dan kualitas yang memadai secara berkesinambungan. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mendapatkan genotip potensial sorgum manis yang memiliki potensi hasil etanol, (2) mengidentifikasi dan menganalisis penciri genotip terpaut kadar gula dan keragaman genetik beberapa genotip sorgum manis yang memiliki potensi hasil etanol berdasarkan marka SSR, (3) mendapatkan potensi dan karakteristik ratun genotip sorgum manis potensial yang memiliki daya ratun tinggi dan potensi hasil etanol. Penelitian ini terdiri dari 2 tahap : (1) Analisis morfologi dan identifikasi penciri genotip terpaut kadar gula terlarut berbasis marka SSR 12 genotip sorgum manis berpotensi etanol sebagai dasar evaluasi genotip potensial (2) Potensi ratun 12 genotip sorgum manis untuk menghasilkan etanol. Tanaman pada penelitian tahap I merupakan tanaman yang disebut “tanaman primer”. Setelah panen ratunnya akan dipelihara yang disebut “tanaman ratun” pada penelitian tahap II. Materi genetik yang digunakan terdiri dari 12 genotip yaitu 10 galur harapan sorgum manis dan 2 varietas unggul sorgum manis sebagai tanaman kontrol yaitu 15020B, 1115-C, 4-183ABEOTO, AB-6-1-1, EA-13-1-1, KL2, 10(1-1), 23 (1-1), Buleleng Abang, WR2, Super 1 (kontrol) dan Super 2 (kontrol). Penelitian tahap I dilaksanakan Penelitian dilaksanakan pada Agustus 2019 - Desember 2019 di Kebun Percobaan dan identifikasi penciri genotip dilaksanakan Januari 2020 - April 2020 di Laboratorium Biologi Molekuler Balai Penelitian Tanaman Serealia Maros, Sulawesi Selatan. Pengamatan kadar gula dan kadar etanol dilakukan di Jurusan Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang, Sulawesi Selatan dari Januari 2020 – Agustus 2020 dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok, dimana menggunakan 12 genotip sorgum manis, dengan 3 ulangan. Penelitian 2 dilaksanakan dari Desember 2019 - April 2020 dengan materi yang diamati merupakan tanaman ratun dari Penelitian I sebagai tanaman primer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa galur KL2, WR2 dan Buleleng Abang dengan hasil etanol masing-masing 1.966 l ha-1, 1.878 l ha-1 dan 1.769 l ha-1, merupakan galur sorgum manis paling potensial untuk menghasilkan bioetanol. Marka SSR yang digunakan dalam penelitian ini, mendeteksi 8 alel spesifik dalam 6 genotip sorgum manis yang mengindikasikan adanya penciri genotip kandungan gula yang berpotensi sebagai sumber bioetanol. Tingkat kemiripan sifat antar genotip yang diuji berdasarkan marka molekuler dikategorikan sedang (moderate). Genotip yang dianalisis mengelompok menjadi empat klaster utama pada koefisien kesamaan genetik 0,63. Semua genotip yang diuji memiliki kemampuan daya ratun yang tinggi. Galur KL2, WR2 dan Buleleng Abang memiliki produksi etanol 70% yang paling potensial diantara galur yang diuji dengan produksi etanol yang berkisar antara 1.386 l ha-1, 1.367 l ha-1 dan 1.280 l ha-

    Karakterisasi Kemiripan Genetik Koleksi Inbrida Jagung Berdasarkan Marka Mikrosatelit

    Get PDF
    Information on genetic relationships among available crop germplasm such as maize inbred lines, has important implications to breeding programs. A set of 26 maize inbreds togeher with six standard lines from CIMMYT (CML51, CML292, CML202, CML206, CML236, dan CML396), was characterized using 26 SSR markers, which were coverage of the maize genomes. The objective of this study was to analyze genetic diversities among the Indonesian maize inbred collections. Polymorphism Information Content (PIC) value and the observed genetic distance indicated the existence of large variabilities among the inbreds. Cluster analysis based on 27% of the Jaccard’s similarity coefficient placed the inbreds into three groups. Genetic distances among all the possible pairs without the standard maize lines varied from 0.32 (KSX360F2-5-1-3-1v vs KSX2601F2-5-1-1-v) to 0.88 (PT963298-1-B-B-Bv vs Mr13). Cluster and Principal Coordinate Analysis of the genetic distances, revealed a clear differentiation of the inbred lines into groups according to their source populations. This clustering were consistent with those of the known pedigree records of the inbreds based on their morphological characters. These results support the use of morphological traits in the production of maize hybrids. The SSR markers proved to be effective to characterize, identify, and demonstrate genetic similarities among the maize inbred lines
    corecore