1,720,997 research outputs found
IPB (Bogor Agricultural University)
Lebah tak bersengat termasuk serangga eusosial yang memiliki nilai
ekonomi yang tinggi yaitu penghasil madu dan propolis. Musuh alami seperti
predator dan parasit dapat mempengaruhi reproduksi dan produksi madu. Genus
Lepidotrigona merupakan salah satu lebah tak bersengat yang terdistribusi luas di
Indonesia dan memiliki potensi dalam membantu penyerbukan tanaman. Genus
dan distribusi Lepidotrigona di Indonesia adalah Jawa, Borneo, Sumatera, dan
Sulawesi. Identifikasi spesies dari Lepidotrigona berdasarkan karakter morfologi
sangat sulit dilakukan, karena memiliki karakter morfologi yang hampir sama.
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari karakter morfologi, struktur
pintu masuk sarang, dan musuh alami Lepidotrigona terminata. Penelitian ini juga
bertujuan untuk mengukur aktivitas terbang, menghitung dan mengidentifikasi
polen yang dibawa, dan menganalisis hubungan antara aktivitas keluar-masuk
sarang dengan kondisi lingkungan. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli
sampai Desember 2016. Sampel koloni lebah L. terminata yang diamati
merupakan koleksi Laboratorium Biosistematika dan Ekologi Hewan,
Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengatahuan Alam, Institut
Pertanian Bogor. Identifikasi spesimen lebah dilakukan bedasarkan karakter
morfologi dan morfometrik, meliputi karakteristik kepala, toraks, sayap, tungkai,
dan abdomen. Metode acetolysis digunakan untuk identifikasi polen dan
menghitung pollen load pada individu lebah. Analisis korelasi Pearson digunakan
untuk menguji hubungan antara aktivitas keluar-masuk sarang dengan faktor
lingkungan yang meliputi suhu, kelembapan, dan intensitas cahaya. Keragaman
musuh alami dianalisis dengan menggunakan indeks Shannon-Wiener (H'), indeks
kemerataan (J'), dan indeks Dominansi (D).
Hasil penelitian menunjukkan karakteristik morfologi dari kasta pekerja L.
terminata didominasi warna hitam dan kuning pada bagian toraks dan abbomen.
Lebah pekerja memiliki panjang tubuh 5.13±0.254 mm, lebar kepala 2.07±0.026
mm, panjang kepala 1.63±0.025 mm. Mandibula lebah pekerja memiliki panjang
0.80±0.223 mm, lebar 0.29±0.013 mm, mesoscutum berwarna hitam dengan
rambut pendek. Bagian tepi mesoscutellum dengan rambut berwarna kuning yang
terlihat hanya setengah lingkaran dan tidak menonjol. Sisi lateral toraks dengan
rambut berwarna kuning pucat. Panjang sayap depan dari tegula adalah
5.39±0.125 mm, panjang jarak antar venasi (M-Cu) 1.55±0.023 mm, dan memiliki
hamuli sebanyak 6 buah pada sayap belakang. Tibia belakang berwarna hitam
kecoklatan dengan rambut panjang tegak di bagian tepi dengan panjang tibia
1.67±0.399 mm, dan lebar tibia 0.72±0.025 mm. Bagian dorsal abdomen dengan
4-5 tergit, tergit 1 berwarna kuning dan terdapat bintik atau tonjolan hitam
berjumlah 2 buah.
Lebah pekerja aktif mencari pakan untuk memenuhi kebutuhan koloni
seperti polen, nektar, dan resin. Aktivitas terbang lebah pekerja dipengaruhi oleh
ketersediaan sumber pakan dan kondisi lingkungan. Puncak aktivitas terbang
meninggalkan dan kembali ke sarang terjadi pada pukul 10.00 sampai 13.00 (8
dan 6 individu/menit pada aktivitas meninggalkan dan kembali ke sarang).
Aktivitas terbang meninggalkan dan kembali ke sarang rendah pada pukul 07.00-
08.00 (1 individu/menit) dan pukul 16.00-17.00 (2 individu/menit). Suhu dan
intensitas cahaya berkorelasi positif dengan aktivitas terbang lebah membawa
nektar dan resin, dan juga meninggalkan sarang tanpa membawa sampah. Dalam
setiap perjalanan lebah pekerja rata-rata membawa 32.696 butir polen dari 4 tipe
polen berbeda. Berdasarkan hasil selection index, spesies lebah tanpa sengat ini
sebagian besar lebih menyukai tanaman famili Araceae (ⱳi=1,522) sebagai
sumber polen dibandingkan tanaman dari famili Anacardiaceae, Aceraceae, dan
Acanthaceae (x2 =39,32, p <0,01).
Karakter pintu masuk sarang lebah L. terminata berbentuk bulat memanjang
seperti corong dengan rata-rata diameter 1,62 cm dan panjang 10,20 cm. Pintu
masuk sarang memiliki warna coklat kehitaman pada bagian pangkal berupa
batumen dengan tekstur keras. Bagian mulut sarang berwarna coklat terang,
tekstur sedikit lembek, dan lengket.
Musuh alami yang ditemukan pada koloni lebah L. terminata sebanyak 14
spesies, yaitu laba-laba (7 spesies), cicak (2 spesies), rayap (1 spesies), semut (3
spesies) dan tawon (1 spesies). Sebanyak 687 individu musuh alami yang
ditemukan disekitar sarang L. terminata. Jumlah individu tertinggi yaitu
Paratrechina sp. (512 individu), diikuti oleh Paratrechina longicornis (138
individu), dan Nasutitermes javanicus (132 individu). Indeks keragaman Shannon
(H’) musuh alami pada koloni lebah bernilai 1,129, indeks kemerataan (J’) adalah
0,427, dan indeks dominansi (D) adalah 0,633. Lebah pekerja akan menutupi
celah yang terbuka pada sarangnya untuk mencegah masuknya musuh alami,
seperti predator dan parasit. Selain itu, lebah tak bersengat juga menggunakan
gigitan agresif sebagai mekanisme pertahanan
Perilaku Kawin dan Ukuran Tubuh Setiap Fase dalam Siklus Hidup Anggang-anggang
Anggang-anggang (Hemiptera: Gerridae) yang sering dijadikan sebagai bioindikator kualitas air memiliki perilaku kawin poliandri di alam. Perilaku poliandri pada anggang-anggang dapat mempengaruhi viabilitas dan produktivitas telur yang dihasilkan. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk menghitung frekuensi kawin, produktivitas telur, dan mengukur morfologi fase-fase dalam siklus hidup anggang-anggang. Pemeliharaan dilakukan dengan menempatkan anggang-anggang dalam tiga kelompok perlakuan yaitu monogami, poliandri dan poligini. Pengamatan penelitian meliputi penghitungan frekuensi kawin, jumlah telur pada masing-masing tipe kawin, perkembangan telur hingga dewasa serta morfologi anggang-anggang jantan dan betina. Frekuensi kawin dan produktivitas telur antara tiga perlakuan serta ukuran anggang-anggang dari fase telur hingga dewasa dibandingkan dengan uji statistik Krusskal-Wallis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi kawin tertinggi ditunjukkan pada perlakuan poliandri, namun tidak ada telur yang dihasilkan dari perlakuan ini. Perkembangan telur selama 6 hari menunjukkan bahwa ukuran telur berbeda signifikan setiap harinya (P0,05), namun perbedaan utama jantan dan betina terletak pada lebar abdomen (P<0,05)
Komposisi Jenis, Biogeografi, dan Endemisitas Keong Darat Sumatra (Gastropoda: Camaenidae dan Cyclophoridae).
Pulau Sumatra dengan luas wilayah 475.000 km2 terdiri dari sepuluh
provinsi. Wilayahnya memiliki curah hujan rata-rata 155,1-373,5 mm/bulan.
Wilayah tersebut memiliki lebih dari tujuh bulan basah berurutan dan tiga bulan
kering dalam setahun. Dengan iklim yang relatif basah dan lembab, Sumatra
merupakan habitat yang cocok bagi keong darat. Penelitian keragaman jenis
keong darat Sumatra sudah dimulai sejak 1881. Publikasi terakhir tahun 2016
menyebutkan terdapat sekitar 25 suku dan 272 jenis. Dua suku paling beragam
jenisnya yaitu Cyclophoridae (41 jenis) dan Camaenidae (33 jenis) dan
berkontribusi 27% dari total jumlah jenis yang diketahui. Meskipun demikian,
validitas nama jenisnya masih banyak diragukan dan distribusinya belum banyak
dipetakan. Penelitian ini bertujuan untuk mendata ulang dan validasi keragaman
jenis keong darat Sumatra dari suku Camaenidae dan Cyclophoridae, memetakan
distribusinya (biogeografi) sehingga dapat diketahui wilayah dengan jenis
endemik tertinggi untuk diusulkan menjadi wilayah konservasi alam.
Penelitian ini dilakukan di Cibinong, Bogor. Data primer bersumber pada
koleksi spesimen yang tersimpan di Laboratorium Moluska dan invertebrata lain,
Museum Zoologi Bogor, LIPI. Selain itu, data sekunder diperoleh dengan
kompilasi data jenis yang ada pada 29 publikasi berupa buku atau makalah. Data
nama jenis yang diperoleh kemudian divalidasi dengan mencocokkannya dengan
basis data pada situs www.molluscabase.org. Data distribusi jenis dari sepuluh
provinsi dibuat dalam bentuk matrik biner (ada = 1, tidak ada = 0) yang kemudian
digunakan dalam analisis kelompok menggunakan indeks kesamaan Jaccard. Data
curah hujan bulanan sejak 1971 hingga 2010 diperoleh dari situs
www.bmkg.go.id., dihitung nilai rata-ratanya dan kemudian digunakan dalam
analisis kelompok menggunakan indeks jarak Euklidean.
Penelitian ini berhasil menambahkan 53 jenis keong darat yang belum
terdata pada publikasi 2016. Saat ini diketahui terdapat 17 marga dan 124 jenis
(Camaenidae 58, Cyclophoridae 66). Selain itu juga diketahui sebanyak 36
catatan baru dan 30 perluasan distribusinya. Lampung merupakan provinsi dengan
jumlah catatan baru dan perluasan distribusi terbanyak, masing-masing sepuluh
dan 12.
Data distribusi tiap jenis sangat bervariasi, 66 dari 124 jenis hanya dijumpai
pada satu provinsi. Hal ini kemungkinan karena tingginya tingkat endemisitas
atau kurang lengkapnya rekaman data distribusi. Terdapat tiga jenis yang
terdistribusi luas, Amphidromus sumatranus ditemukan di tujuh provinsi,
Cyclophorus perdix dan Cyclophorus tuba ditemukan di delapan provinsi. Dua
marga dengan distribusi terluas yaitu Amphidromus dan Cyclophorus yang
ditemukan pada sepuluh provinsi.
Analisis kelompok tingkat jenis pada Camaenidae, Cyclophoridae, kedua
suku, dan tingkat marga menghasilkan empat-lima provinsi biogeografi. Analisis
kelompok pada curah hujan menghasilkan empat grup. Curah hujan
mempengaruhi komposisi jenis pada tiap provinsi biogeografi atau grup. Sumatra
Barat dengan rata-rata curah hujan bulanan tertinggi (374 mm) memiliki jumlah
jenis keong darat tertinggi (50 jenis, Camaenidae 23, Cyclophoridae 27).
Analisis endemisitas menunjukkan 30 jenis tergolong endemik lokal dan 45
jenis tergolong endemik provinsi. Dua provinsi dengan jumlah jenis endemik
tertinggi, Aceh dan Sumatra Barat (masing-masing 31 jenis) diusulkan sebagai
daerah konservasi bagi fauna keong darat di Sumatra
Keanekaragaman Serangga Pengunjung Jamur Tiram (Pleurotus ostreatus) di Bogor
Pengembangan usaha budi daya jamur tiram (Pleurotus ostreatus) dihadapkan oleh beberapa faktor yang memengaruhi kualitasnya, salah satunya adalah keberadaan serangga hama. Penelitian mengenai keanekaragaman serangga pengunjung jamur tiram budi daya di Bogor masih sedikit dilaporkan, sehingga penelitian ini bertujuan mengetahui keanekaragaman serangga pengunjung pada jamur tiram budi daya di Bogor. Sampel serangga diambil dari tudung jamur (pileus), lamela jamur (gills), dan tangkai jamur (stipe). Hasil menunjukkan bahwa terdapat 176 individu serangga dari 10 famili yang teridentifikasi dari lima lokasi pengamatan. Famili tersebut diantaranya adalah Tipulidae, Nitidulidae, Phyrrhocoridae, Cimicidae, dan Diapriidae dengan famili yang dominan, diantarannya Drosophilidae, Formicidae, Sciaridae, Scatopsidae, dan Staphylinidae. Indeks Shannon-Wiener (H´) menunjukkan tingkat keanekaragaman pada lokasi Rimba Jaya Mushroom, LIPI (Pusat Penelitian Biologi), dan SEAMEO BIOTROP memiliki tingkat keanekaragaman sedang. Tingkat keanekaragaman pada budi daya yang berada di Komplek Perumahan Kota Bogor memiliki tingkat keanekaragaman yang rendah. Indeks kemerataan (E) pada kelima lokasi jamur tiram budi daya menunjukkan bahwa kemerataan jenis serangga relatif sama. Hasil Indeks Nilai Penting (INP) menunjukkan famili Drosophilidae, Formicidae, Sciaridae, Scatopsidae, dan Staphylinidae memiliki nilai INP yang besar (INP>10%). Hasil penelitian tidak berbeda nyata berdasarkan analisis statistik dengan Diversity t-test
Variasi Ukuran Morfologi Serangga Akuatik Dominan di Empat Danau Kawasan Kampus IPB Dramaga, Bogor.
Serangga akuatik termasuk ke dalam organisme invertebrata yang memiliki peranan penting sebagai bioindikator ekosistem perairan air tawar. Komposisi dan keanekaragaman serangga akuatik di empat danau kawasan kampus IPB Dramaga sudah pernah diteliti, namun belum ada kajian lebih lanjut mengenai variasi ukuran morfologi. Tujuan penelitian ini membandingkan variasi ukuran morfologi dari serangga akuatik di empat danau yang berada di sekitar kawasan Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) Dramaga yaitu danau Situ Gede (SG), Situ Panjang (SP), Situ Burung (SB) dan Situ LSI (SL), serta daerah aliran sungai yang menghubungkan empat danau tersebut. Pengambilan sampel serangga akuatik dilakukan menggunakan pond net dengan mesh berukuran 500 μm. Faktor-faktor lingkungan seperti pH air, suhu air, dan DO diukur pada setiap danau. Pengukuran tubuh yang dilakukan meliputi sembilan ukuran bagian tubuh serangga akuatik yaitu panjang tubuh (PT), femur belakang kanan (FBKa), femur belakang kiri (FBKi), tibia belakang kanan (TBKa), tibia belakang kiri (TBKi), lebar toraks (LT), lebar kepala (LK), tinggi kepala (TK), dan sayap depan (SD). Total serangga akuatik yang diperoleh sebanyak 326 individu. Serangga akuatik dominan yang ditemukan adalah famili Notonectidae dan Gerridae. Rata-rata ukuran panjang tubuh dari Notonecta sp. sebesar 2,92 mm dan Gerris sp. sebesar 3,35 mm
Perbandingan Keanekaragaman Moluska Air Tawar di Empat Situ Sekitar Kawasan Kampus IPB Darmaga, Bogor
Situ merupakan istilah bahasa sunda yang berarti danau kecil yang mendukung keanekaragaman akuatik. Salah satu organisme akuatik yang hidup di daerah bentik situ adalah moluska. Komposisi dan keanekaragaman jenis moluska air tawar di situ belum banyak diteliti terutama di Situ Gede (SG), Situ Panjang (SP), Situ Burung (SB) dan Situ Layanan Sumberdaya Informasi (SL). Penelitian bertujuan membandingkan keanekaragaman dan komposisi moluska air tawar di empat situ (SG, SP, SB dan SL). Pengambilan sampel dilakukan bulan Agustus 2015, Januari dan Februari 2016 dengan pemilihan 12 titik sampling pada setiap situ. Sampel diambil menggunakan van veen grab dan diidentifikasi berdasarkan Benthem Jutting (1956). Total individu moluska yang diperoleh sebanyak 6634 individu dari 18 spesies (14 spesies Gastropoda dan 4 spesies Bivalvia). Dibandingkan dengan situ lain, SL memiliki jumlah individu dan spesies moluska lebih sedikit. Filopaludina javanica, Melanoides tuberculata dan Pomacea canaliculata merupakan spesies dominan di empat situ. Ketiga spesies tersebut merupakan keong yang memiliki sebaran luas dan daya adaptasi yang lebih tinggi. Perbedaan aliran air antara sistem Situ Gede (SG, SP and SB) dan SL kemungkinan merupakan faktor utama yang berpengaruh terhadap komposisi moluska
Efektifitas Empat Perangkap Serangga dengan Tiga Jenis Atraktan di Perkebunan Pala (Myristica fragrans Houtt)
The use of traps for insect surveilance on nutmeg (Myristica fragrans Houtt) plantation is one of the earliest steps in this study since the information of nutmeg pest is barely available. In this study, four traps were used, namely Brown-Black Sticky Trap (BBST), Yellow Sticky Trap (YST), Glass Ambrosia Beetle Trap (GABT), and Plastic Pannel Trap (PPT) placed at 1,5 m high on nutmeg plants around Paya Teuk village (South Aceh). Those traps were accompanied by 35%-ethanol, nutmeg oil, and 35%-ethanol mixed with nutmeg oil as attractans. The observation with 4 types of trap with 3 different attractans and water as control have captured 10 orders, 51 families, 124 morphospecies, and 1027 individuals. Five families with the most numerous individuals were Nitidulidae, Tephritidae, Cicadellidae, Formicidae and Scolitidae. Individuals from Scolitidae and Nitidulidae family were mostly captured by BBST with 35% ethanol, and significantly different with the other traps (two way annova, P<0,05). The number of individuals from Tephritidae were mostly caught by YST using nutmeg oil as an attractan (two way Annova, P<0,05). Each type of trap with a spesific attractan effectively catch a different kind of insect family.
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
- …
