1,720,958 research outputs found

    Musik Nusantara : Arkeologi Pengetahuan Musik Angklung : Sejarah, Pembuatan, Teknik Bermain, Aransemen, Pembelajaran, Dan Penelitian Musik Angklung

    No full text
    Menggali pengetahuan tentang sejarah musik angklung, fungsi musik angklung, angklung diatonik, teknik pembuatan instrumenangklung, teknik bermain musik angklung. teknik bermain bersama instrumenmesik tradisi: Gejog Lesung, Kroncong hingga Combo dan orchestra. Angklung mampu pula digunakan untuk pembelajaran kepekaan melodi dan pembelajaran solfege dengan metode Karl Orff demikian pula melatih kepekaan harmoni melalui kode harmoni dengan simbol ekspresi jari-jari tangan. Buku ini dilengkapi dengan teknik aransemen, teknik pembelajaran, hingga penelitian musik angklung

    Direksi : conductor paduan suara dan orkes

    No full text
    iv, 119 lembar : il.; 29 cm

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Full text link
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Tinjauan Nilai-Nilai Etika Nyanyian Tradisi Nenggo pada Pertunjukan Tari Caci di Manggarai NTT.

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan tinjauan nilai-nilai etika nyanyian tradisi nenggo pada pertunjukan tari caci di Manggarai NTT. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan kajian etnografi dan fenomenologi nilai Max Scheler. Penelitian ini dilakukan di Cambir, Desa Wae Ajang, Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Subjek penelitian ini adalah penari caci, tokoh/tua adat setempat, pemerintah setempat, dan tokoh masyarakat setempat. Sumber data terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara para informan, observasi selama pertunjukan tari caci berlangsung, serta aktifitas masyarakat setempat. Data sekunder diperoleh melalui dokumen pertunjukan, foto dan video dokumentasi pertunjukan, serta buku-buku dan jurnal-jurnal terkait. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumen. Keabsahan data diperoleh melalui triangulasi dan dianalisis hingga menghasilkan sebuah kesimpulan. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, nyanyian tradisi nenggo menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kebudayaan Manggarai khususnya pada pertunjukan tari caci. Kedua, nilai-nilai etika yang terkandung dalam nyanyian tradisi nenggo meliputi: 1) nilai kesenangan, tingkat nilai terendah ini mencakup kesenangan pada penari caci/pelaku nenggo (sebelum, sementara, dan sesudah pertunjukan), kesenangan pada penonton (kesenangan dengan konsep dan manajemen pertunjukan tari caci), kesenangan dengan penari caci/pelaku nenggo (melalui gerak, kostum, syair nenggo), dan kesenangan dengan musik iringan pertunjukan tari caci; 2) nilai vitalitas atau kehidupan yang mengandung hubungan dengan sesama dalam keluarga (ase ka’e), kebersamaan dalam kampung (lonto golo, ka’eng beo), relasi dengan orang lain (cama tau, ata bana), relasi dengan penguasa (ata tu’a laing); 3) nilai spiritual dan nilai kesucian, dan nilai spiritual meliputi tiga nilai pokok yang terdiri dari nilai estetis, nilai benar dan salah, dan nilai dari pengetahuan murni demi diri sendiri. Nilai Kesucian berkaitan dengan kepercayaan orang Manggarai di antaranya kepercayaan akan roh alam dan roh leluhur (ritus teing hang/takung dan ritus toto urat), kepercayaan akan adanya roh halus, benda dan ucapan magis, dan Mori Kerang (Tuhan Pencipta)

    Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts

    Full text link
    We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more sophisticated methods

    Author Index

    No full text
    Nao informado

    Teknik Permainan dan Peran Musik dalam Tingkilan Penta Etnika Samarinda: Analisis Strukturalisme Claude Levi-Strauss

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) alat musik yang digunakan dalam Tingkilan Penta Etnika; (2) teknik permainan musik Tingkilan Penta Etnika; (3) peran alat musik dalam Tingkilan Penta Etnika; (4) peran musik Tingkilan Penta Etnika bagi masyarakat pendukungnya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan metode etnografi dan dipertajam dengan pisau analisis teori strukturalisme Claude Levis-Strauss. Penelitian dilakukan di Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur. Objek penelitian adalah kesenian tradisi musik Tingkilan Penta Etnika. Informan penelitian adalah pelaku seni, pemerintah setempat dan masyarakat. Data diperoleh dari berbagai sumber dan dianalisis dengan model sirkuler yaitu mengulang dari awal pengambilan data hingga simpulan sementara dan membandingkan hingga mendapatkan jawaban yang sahih melalui bukti-bukti lapangan, wawancara dan dokumentasi kemudian disimpulkan. Hasil penelitian menunjukkan: (1) alat musik yang digunakan dalam Tingkilan Penta Etnika yaitu, gambus, ukulele dan cello. (2) teknik permainan alat berdasarkan analisis pengelompokan sintagmatik dan paradigmatik yaitu, (a) gambus dimainkan dengan teknik tremolo picking dan memiliki 3 pola melodi khas sebagai penanda pelaku seni pertunjukan maupun penonton, (b) ukulele dimainkan dengan teknik strumming picking dan memiliki 3 pola iringan, (c) cello dimainkan dengan teknik pizzicato picking dan memili 4 pola iringan. (3) Peran setiap alat yaitu, (a) gambus, sebagai pengisian introduksi, isian (filler), harmonis dan coda, (b) ukulele, sebagai blockchord dan harmonis, (c) cello, sebagai bass pengendali ritmis dan isian uraian nada dari akord yang dibawakan. (4) peran musik tingkilan Penta Etnika bagi masyarakat yaitu, (a) sarana hiburan, (b) sarana integritas kemasyarakatan, (c) sarana identitas budaya lokal, (d) sarana ketahanan budaya dan (e) sarana edukasi. Kata Kunci: alat, peran, strukturalisme, teknik, Tingkilan Penta Etnik
    corecore