1,730,267 research outputs found

    Kelimpahan dan Keanekaragaman Jenis Ikan Pelagis (Scombridae) di Perairan Tapanuli yang Didaratkan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (Ppn) Sibolga

    No full text
    Sibolga is one of the areas located on the west coast of Sumatra. The main potential of the economy comes from fisheries, tourism, services, trade and maritime industry. The high level of fishing activity in Sibolga can be seen from the existence of the Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) and Tangkahan which is able to accommodate fishermen's catches which are then marketed to meet local, foreign and even export fisheries needs. This study aims to determine the abundance and diversity of the abundance and diversity of pelagic fish (Scombridae) in the Tapanuli waters which landed at the Sibolga Archipelago Fisheries Port (PPN). The research method used was purposive sampling with a sample of 150 pelagic fish landed at PPN Sibolga. The data analysis technique used is the analysis of Relative Abundance (KR), Diversity Index (H'), Uniformity Index (E), and Dominance Index (C). The results showed that the Diversity Index (H') was 0.90, the Uniformity Index (E) was 0.50; Dominance Index (C) 0.53 and Relative Abundance (KR) for Katsuwonus pelamis 70.90%, Thunnus obesus 10.93%, Thunnus albacares 0.05%, Euthynus affinis 14.46%, Auxis thazard 0.77 and Rastelliger kanagurta 2.88%72 HalamanSkripsi Sarjan

    Kajian Bioekonomi Perikanan Rawai Tuna di PPN Palabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat

    No full text
    High demand and production of tuna fish in PPN Palabuhanratu has caused exploitation of tuna increased and potentially affect the biological condition and sustainability of fishing business. This study aimed to know biological condition, utilization status, and optimum management of tuna fish resources. Diversity index of shannon-wiener (H’), length at first maturity, length-weight relationships, and bioeconomy model was used in this study for data analyses. Result of this study show that the H’ value was 1.60-2.42. Based on the length at first maturity parameter, 3.84 - 41.02 % for bigeye tuna, 0.72% for yellowfin tuna, and 65.63% for swordfish was lower than unallowable catch size. The length-weight relationships of bigeye and yellowfin tuna were indicated negative allometric growth model, whereas swordfish positive allometry. Actual effort of tuna fishery in PPN Palabuhanratu was not indicated a biological overfishing condition, however it indicated an economical overfishing condition. Bioeconomy optimalization was achieved at fishing effort of 597 trips, production of 2481.14 tons, and economic rent of Rp 67.704.000.000,-

    Pajak Pertambahan Nilai PPN

    No full text
    xxiii.; 875 hal.; bibl.; 19 c

    sj-docx-1-ppn-10.1177_15271544211050611 - Supplemental material for Policy Advocacy and Nursing Organizations: A Scoping Review

    No full text
    Supplemental material, sj-docx-1-ppn-10.1177_15271544211050611 for Policy Advocacy and Nursing Organizations: A Scoping Review by Patrick Chiu, Greta G. Cummings, Sally Thorne and Kara Schick-Makaroff in Policy, Politics, & Nursing Practice</p

    sj-docx-2-ppn-10.1177_15271544211050611 - Supplemental material for Policy Advocacy and Nursing Organizations: A Scoping Review

    No full text
    Supplemental material, sj-docx-2-ppn-10.1177_15271544211050611 for Policy Advocacy and Nursing Organizations: A Scoping Review by Patrick Chiu, Greta G. Cummings, Sally Thorne and Kara Schick-Makaroff in Policy, Politics, & Nursing Practice</p

    Laporan Akhir Tahun 2016

    No full text
    187 hlm,; 21 x 30 c

    PPN Pajak Pertambahan Nilai

    No full text

    KEBIJAKAN PPN ATAS JASA PENGELOLAAN GEDUNG DISELENGGARAKAN PERHIMPUNAN PENGHUNI RUMAH SUSUN STRATA TITLE: STUDI KASUS PADA APARTEMEN LR

    No full text
    Jasa pengelolaan gedung yang diserahkan oleh perhimpunan penghuni rumah susun strata title dikategorikan sebagai jasa yang tidak dikenakan PPN. Penentuan subjek PPN menjadi tidak jelas, karena perbedaan definisi antara surat edaran ini dengan ketentuan-ketentuan mengenai pihak yang berkewajiban memungut PPN. Meskipun perhimpunan penghuni apartemen LR memiliki peredaran bruto melebihi batasan pengusaha kecil, perhimpunan penghuni tetap tidak diwajibkan sebagai pengusaha kena pajak. Ditinjau dari objek PPN juga tidak memberikan kepastian hukum karena pada hakekatnya jasanya termasuk dalam pengertian fasilitas atau kemudahan atau hak tersedia untuk dipakai sebagai pengertian jasa kena pajak sebagaimana ditentukan oleh Pasal 4 huruf c UU PPN, sehingga ketentuan dalam surat edaran ini bertentangan dengan ketentuan di atasnya. Ditinjau dari dasar pengenaan PPN-nya menimbulkan ketidakjelasan besarnya penerimaaan yang diperoleh dari iuran pengelolaan dapat menjadi dasar pengenaan PPN atau tidak, karena terdapat perbedaan definisi objek PPN antara surat edaran dengan ketentuan-ketentuan PPN lainnya

    ANALISIS PPN MEMBANGUN SENDIRI UNTUK PENGUSAHA KENA PAJAK DI INDONESIA

    Get PDF
    Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas kegiatan membangun sendiri dibedakan bila dilakukan dengan perolehan melalui jasa kontraktor. Akibat dari perbedaan perlakuan PPN atas kedua transaksi di atas berimplikasi pada keuntungan perusahaan secara keseluruhan. Fakatnya dalam pelaksanaanya peraturan ini menjadi tidak efektif disebabkan dengan mudahnya Pengusaha Kena Pajak menghindari hal yang kurang menguntungkan seperti pada pengenaan atas PPN membangun sendiri. Penulisan ini memfokuskan pada perbandingan bila pengenann atas PPN pada Pengusaha Kena Pajak berbentuk Perseroan Terbatas untuk kegiatan membangun sendiri diperlakukan sama dengan perolehan gedung melalui kontraktor. Dari penelitian yang dilakukan dengan metode penelitian secara komparatif dan deskriptif didapatkan hasil bahwa perlakuan yang sama atas pengenaan PPN membangun sendiri pada Pengusaha Kena Pajak tidak mengurangi penerimaan pajak penghasilan dibandingkan dengan menggunakan jasa kontraktor. Sebaliknya peraturan PPN membangun sendiri bagi Pengusaha Kena Pajak berbentuk Perseroan Terbatas menjadi tidak efektif. Disamping itu karena PPN masukkan bagi perolehan dengan cara membangun sendiri yang tidak dapat dikreditkan berimplikasi pada inefisiensi yang pada gilirannya tidak mendukung iklim dunia usaha yang kondusif

    PENGARUH JUMLAH PKP, SPT MASA PPN, SSP PPN, DAN SURAT TAGIHAN PAJAK TERHADAP PENERIMAAN PPN DI KPP PRATAMA GRESIK UTARA

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk menguji kembali apakah terdapat pengaruh antara variabel – variabel independen (PKP Terdaftar, SPT Masa PPN, SSP PPN , dan STP PPN) terhadap variabel dependen (penerimaan PPN) baik pengujian secara parsial maupun simultan. Data yang diperoleh untuk penelitian penulis berasal dari KPP Pratama Gresik Utara, meliputi jumlah PKP Terdaftar, jumlah SPT Masa PPN yang dilaporkan oleh PKP, jumlah SSP PPN yang disetorkan oleh PKP, jumlah STP PPN yang dikeluarkan oleh fiskus, dan jumlah penerimaan PPN. Metode pemilihan sampel menggunakan purposive sampling, sedangkan jenis data yang dipakai adalah data sekunder dengan unit data bulanan selama 3 tahun yaitu sebanyak 36 buah sampel. Sebelum melakukan pengujian hipotesis, data yang diperoleh dengan teknik pengumpulan data dari basis data ini dianalisis terlebih dahulu dengan pengujian asumsi klasik. Pengujian hipotesis dilakukan dengan alat analisis statistik regresi linier berganda. Adapun hasil penelitian adalah sebagai berikut: (1) Hasil pengujian secara parsial membuktikan bahwa SSP PPN berpengaruh positif dan signifikan terhadap penerimaan PPN, akan tetapi tidak ada pengaruh antara PKP, SPT Masa PPN, dan STP terhadap penerimaan PPN. (2) Hasil pengujian secara simultan membuktikan bahwa PKP Terdaftar, SPT Masa PPN, SSP PPN, dan STP PPN berpengaruh positif dan signifikan terhadap penerimaan PPN. Kota Gresik dikenal sebagai kota santri yang bisa disebut Kawasan Industri. Namun, hal tersebut tidak menjamin bahwa para pengusaha yang ada di Kota Gresik patuh terhadap peraturan perpajakan yang ditetapkan pemerintah
    corecore