6 research outputs found
Penggunaan Media Puzzle Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Menggambar Ragam Hias Pada Siswa Kelas Vii Di Smp Negeri 1 Tarokan Kabupaten Kediri. Skripsi.
ABSTRAK Pita Yuhana. 2016. Penggunaan Media Puzzle Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Menggambar Ragam Hias Pada Siswa Kelas Vii Di Smp Negeri 1 Tarokan Kabupaten Kediri. Skripsi. Program Studi Pendidikan Seni Rupa. Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Hariyanto, M.HumKata Kunci: Media Puzzle, Menggambar Ragam Hias, Seni Rupa Menggambar seharusnya merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan bagi siswa, tetapi bagi siswa SMP kemampuan menggambar saja tidak cukup, siswa juga harus mengetahui teori membuat gambar yang baik. Sayangnya, yang terjadi di SMP Negeri 1 Tarokan siswa kurang menguasai teori menggambar ragam hias. Akibatnya hasil belajar pun juga turut rendah. Tidak hanya itu, proses pembelajaran yang selama ini dilakukan guru membuat siswa menjadi tidak tertarik untuk belajar menggambar. Untuk itu, perlu adanya upaya untuk memperbaiki hal tersebut, salah satunya dengan memanfaatkan media puzzle dalam pembelajaran. Penggunaan media puzzle yang tepat diharapkan dapat menarik minat belajar siswa kembali sekaligus dapat meningkatkan hasil belajar mereka. Bertolak dari pernyataan di atas, maka penelitian ini pada dasarnya ditujukan untuk membahas pembelajaran dengan fokus penelitian adalah: (1) Implementasi pembelajaran seni rupa menggambar ragam hias menggunakan media puzzle pada peserta didik kelas VII di SMP Negeri 1 Tarokan tahun 2016; (2) Hasil belajar menggambar ragam hias menggunakan media puzzle pada peserta didik kelas VII di SMP Negeri 1 Tarokan tahun 2016; Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas. Subyek dalam penelitian ini adalah 30 siswa SMP Negeri 1 Tarokan kelas 7C yang diajar menggunakan media puzzle. Penelitian dilaksanakan sebanyak 2 siklus dengan masing-masing siklus 2 kali pertemuan dengan durasi 3jp x 40 menit. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah: observasi, dokumentasi, angket, dan tes. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis data interaktif. Hasil penelitian ini adalah: (1) Pembelajaran dilakukan dalam 2 siklus; Pada siklus I penggunaan puzzle dimaksudkan untuk menarik minat belajar siswa dan memudahkan siswa dalam mengidentifikasi gambar, Pada siklus II puzzle digunakan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menganalisis detail gambar dan identifikasi gambar berdasarkan teknik; (2) Hasil belajar selama menggunakan media pembelajaran puzzle menunjukkan hasil yang baik. Pada pra siklus ketuntasan belajar aspek kognitif hanya 33%, pada siklus I naik menjadi 77%, pada siklus II naik menjadi 97%. Untuk aspek keterampilan, pada siklus I diperoleh ketuntasan 90% kemudian meningkat pada siklus II menjadi 97%. Untuk aspek sikap diakhir siklus menunjukkan hasil baik yaitu 10% siswa memiliki sikap sangat baik dan 83% memiliki sikap baik pada aspek kejujuran, disiplin, kerjasama, dan keaktifan. 
Penggunaan Media Puzzle UntukMeningkatkanHasilBelajarMenggambarRagamHiasPadaSiswaKelas Vii Di SmpNegeri 1 TarokanKabupaten Kediri
ABSTRAK Pita Yuhana.2016. Penggunaan Media Puzzle Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Menggambar Ragam Hias Pada Siswa Kelas Vii Di Smp Negeri 1 Tarokan Kabupaten Kediri.Skripsi. Program Studi Pendidikan Seni Rupa. Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang.Pembimbing: Dr. Hariyanto, M.Hum Kata Kunci: Media Puzzle, Menggambar Ragam Hias, Seni Rupa Menggambar seharusnya merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan bagi siswa, tetapi bagi siswa SMP kemampuan menggambar saja tidak cukup, siswa juga harus mengetahui teori membuat gambar yang baik.Sayangnya, yang terjadi di SMP Negeri 1 Tarokan siswa kurang menguasai teori menggambar ragam hias. Akibatnya hasil belajar pun juga turut rendah.Tidak hanya itu, proses pembelajaran yang selama ini dilakukan guru membuat siswa menjadi tidak tertarik untuk belajar menggambar.Untukitu, perlu adanya upaya untuk memperbaiki hal tersebut, salah satunya dengan memanfaatkan media puzzle dalam pembelajaran. Penggunaan media puzzle yang tepat diharapkan dapat menarik minat belajar siswa kembali sekaligus dapat meningkatkan hasil belajar mereka. Bertolak dari pernyataan di atas, maka penelitian ini pada dasarnya ditujukan untuk membahas pembelajaran dengan focus penelitian adalah: (1) Implementasi pembelajaran seni rupa menggambar ragam hias menggunakan media puzzle pada peserta didik kelas VII di SMP Negeri 1 Tarokantahun 2016; (2) Hasil belajar menggambar ragam hias menggunakan media puzzle pada peserta di di kkelas VII di SMP Negeri 1 Tarokan tahun 2016; Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas.Subyek dalam penelitian ini adalah 30 siswa SMP Negeri 1 Tarokan kelas 7C yang diajar menggunakan media puzzle. Penelitian dilaksanakan sebanyak 2 siklus dengan masing-masing siklus 2 kali pertemuandengandurasi 3jp x 40 menit.Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah: observasi, dokumentasi, angket, dantes. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis data interaktif. Hasil penelitian ini adalah: (1) Pembelajaran dilakukan dalam 2 siklus;Pada siklus I penggunaan puzzle dimaksud kan untuk menarik minat belajar siswa dan memudahkan siswa dalam mengidentifikasi gambar, Padasiklus II puzzle digunakan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menganalisis detail gambar dani dentifikasi gambar berdasarkan teknik; (2) Hasil belajar selama menggunakan media pembelajaran puzzle menunjukkan hasil yang baik. Pada pra siklus ketuntasan belajar aspek kognitif hanya 33%, padasiklus I naik menjadi 77%, pada siklus II naik menjadi 97%.Untuk aspek keterampilan, pada siklus I diperoleh ketuntasan 90% kemudian meningkat pada siklus II menjadi 97%.Untuk aspek sikap di akhir siklus menunjukkan hasil baik yaitu 10% siswa memiliki sikap sangat baik dan 83% memiliki sikap baik pada aspek kejujuran, disiplin, kerjasama, dan keaktifan.
PENGGUNAAN MEDIA PUZZLE UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MENGGAMBAR RAGAM HIAS PADA SISWA KELAS VII DI SMP NEGERI 1 TAROKANKABUPATEN KEDIRI
ABSTRAK Pita Yuhana.2016. Penggunaan Media Puzzle Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Menggambar Ragam Hias Pada Siswa Kelas Vii Di Smp Negeri 1 Tarokan Kabupaten Kediri.Skripsi. Program Studi Pendidikan Seni Rupa. Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang.Pembimbing: Dr. Hariyanto, M.Hum Kata Kunci: Media Puzzle, Menggambar Ragam Hias, SeniRupa Menggambar seharusnya merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan bagi siswa, tetapi bagi siswa SMP kemampuan menggambar saja tidak cukup, siswa juga harus mengetahui teori membuat gambar yang baik Sayangnya, yang terjadi di SMP Negeri 1 Tarokan siswa kurang menguasai teori menggambar ragam hias.Akibatnya hasil belajar pun juga turut rendah.Tidakhan yaitu, proses pembelajaran yang selama ini dilakukan guru membuat siswa menjadi tidak tertarik untuk belajar menggambar.Untukitu, perlu adanya upaya untuk memperbaiki hal tersebut, salah satunya dengan memanfaatkan media puzzle dalam pembelajaran. Penggunaan media puzzle yang tepat diharapkan dapat menarik minat belajar siswa kembali sekaligus dapat meningkatkan hasil belajar mereka. Bertolak dari pernyataan di atas, maka penelitian ini pada dasarnya ditujukan untuk membahas pembelajaran dengan focus penelitian adalah: (1) Implementasi pembelajaran seni rupa menggambar ragam hias menggunakan media puzzle pada peserta didik kelas VII di SMP Negeri 1 Tarokan tahun 2016; (2) Hasil belajar menggambar ragam hias menggunakan media puzzle pada peserta didik kelas VII di SMP Negeri 1 Tarokantahun 2016; Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas.Subyek dalam penelitian ini adalah 30 siswa SMP Negeri 1 Tarokan kelas 7C yang diajar menggunakan media puzzle. Penelitian dilaksanakan sebanyak 2 siklus dengan masing-masing siklus 2 kali pertemuan dengan durasi 3jp x 40 menit.Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah: observasi, dokumentasi, angket, dantes. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis data interaktif. Hasil penelitian ini adalah: (1) Pembelajaran dilakukan dalam 2 siklus;Padasiklus I penggunaan puzzle dimaksudkan untuk menarik minat belajar siswa dan memudahkan siswa dalam mengidentifikasi gambar, Padasiklus II puzzle digunakan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menganalisis detail gambar dan identifikasi gambar berdasarkan teknik; (2) Hasil belajar selama menggunakan media pembelajaran puzzle menunjukkan hasil yang baik. Pada prasiklus ketuntasan belajar aspek kognitif hanya 33%, padasiklus I naik menjadi 77%, padasiklus II naikmenjadi 97%.Untuk aspek keterampilan, padasiklus I diperoleh ketuntasan 90% kemudian meningkat pada siklus II menjadi 97%.Untuk aspek sikap diakhir siklus menunjukkan hasil baik yaitu 10% siswa memiliki sikap sangat baik dan 83% memiliki sikap baik pada aspek kejujuran, disiplin, kerjasama, dankeaktifan.
Pencegahan Penyakit Ko-infeksi Ringan White Spot Syndrome Virus (WSSV) dan Vibrio harveyi pada Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) dengan Suplementasi Pakan Mengandung
White spot syndrome virus (WSSV) menyebabkan penyakit white spot disease (WSD) pada udang yang merupakan patogen paling serius karena pola kematiannya yang tinggi dan cepat. Infeksi bersama atau ko-infeksi umumnya ditemukan pada budidaya udang dan mengakibatkan masalah yang lebih serius daripada infeksi tunggal. Hasil beberapa penelitian di lapangan menemukan bahwa infeksi WSSV mampu melemahkan resistensi imunitas udang dan menyebabkan kerentanan terhadap patogen oportunistik seperti Vibrio harveyi serta menyebabkan kematian yang lebih tinggi dibanding infeksi tunggal WSSV. Seiring dengan pelarangan penggunaan antibiotik dan bahan kimia dalam budidaya udang vaname, maka salah satu upaya alternatif pencegahan penyakit adalah melalui pemberian sinbiotik. Sinbiotik merupakan gabungan antara probiotik dan prebiotik. Aplikasi penggunaan sinbiotik dalam bentuk kultur segar memiliki kelemahan yaitu tidak dapat disimpan dalam waktu yang lama karena bakteri merupakan sel hidup yang mudah rusak akibat kondisi lingkungan ekstrim. Metode mikroenkapsulasi merupakan solusi alternatif yang dapat digunakan untuk menjaga viabilitas bakteri probiotik dari pengaruh lingkungan. Metode spray drying adalah salah satu metode mikroenkapsulasi yang tergolong a well-established process serta memiliki beberapa keuntungan yaitu ekonomis, mudah diaplikasikan, dan mampu memproduksi mikrokapsul dalam jumlah besar. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas pemberian mikrokapsul sinbiotik dengan dosis yang berbeda melalui pakan terhadap kinerja pertumbuhan, sintasan respons imun dan resistensi penyakit untuk pencegahan ko-infeksi ringan WSSV dan Vibrio harveyi pada udang vaname.
Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan. Udang vaname dengan bobot rata-rata 5.68±0.13 g diperoleh dari Balai Perikanan Budidaya Air Payau Situbondo, Jawa Timur. Udang vaname dipelihara dalam bak plastik (56x41x32 cm3; volume 25 L) dengan kepadatan 15 ekor bak-1. Udang diberi pakan mengandung mikrokapsul sinbiotik dengan dosis 0.5% (A), 1% (B), dan 2% (C) w/w pakan serta tanpa penambahan mikrokapsul sinbiotik meliputi kontrol negatif (K-) dan kontrol positif (K+) dengan feeding rate 6% selama 30 hari. Ko-infeksi dilakukan pada hari ke-32 melalui injeksi intramuskular filtrat WSSV (101 copies mL-1). Selang 24 jam pasca injeksi, Vibrio harveyi MR5339 RfR (106 CFU mL-1) ditambahkan ke dalam bak sebanyak 25 mL (perendaman). Variabel pengamatan meliputi kelimpahan bakteri di usus yaitu total bacterial count (TBC), Bacillus sp. NP5 RfR count, presumptive Vibrio count (PVC), Vibrio harveyi MR5339 RfR, respons imun yaitu total hemocyte count (THC), differential hemocyte count (DHC), respiratory burst (RB), dan aktivitas phenoloxidase (PO), kinerja pertumbuhan yaitu laju pertumbuhan spesifik (LPS) dan rasio konversi pakan (RKP), sintasan serta uji konfirmasi WSSV.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplementasi pakan mengandung mikrokapsul sinbiotik mampu mempengaruhi komposisi mikroba dalam saluran pencernaan udang. Perlakuan B (mikrokapsul sinbiotik 1%) menunjukkan total bacterial count signifikan terendah (9.15±0.12 log CFU g-1) dibandingkan K-, K+, dan perlakuan sinbiotik lainnya (p0.05) dengan perlakuan B pada akhir ko-infeksi. Presumptive Vibrio count menurun pada hari ke-30 hingga hari ke-37 pada perlakuan sinbiotik 0.5%, 1%, dan 2% kemudian menunjukkan peningkatan pada hari ke-40 dengan perlakuan B (9.74±0.07 log CFU g-1) dan C (9.61±0.05 log CFU g-1) secara signifikan lebih rendah (p<0.05) dibandingkan perlakuan K+. Populasi V. harveyi MR5339 RfR pasca ko-infeksi juga memperlihatkan penurunan hingga hari ke-40 dengan semua perlakuan sinbiotik menunjukkan populasi signifikan lebih rendah (p<0.05) dibanding kontrol positif (K+). Efek positif suplementasi mikrokapsul sinbiotik juga terlihat pada parameter respons imun udang vaname. Berdasarkan hasil pengamatan membuktikan bahwa mikrokapsul sinbiotik mampu menginduksi respons imun udang vaname yang terlihat dari peningkatan THC, DHC, aktivitas phenoloxidase dan respiratory burst. Perlakuan B menunjukkan nilai THC, DHC, aktivitas phenoloxidase, dan respiratory burst tertinggi (p<0.05) sebelum hingga sesudah ko-infeksi.
Rasio konversi pakan udang vaname terbaik terdapat pada perlakuan B dan C masing-masing sebesar 1.97±0.08 dan 2.04±0.09 dan berbeda signifikan (p<0.05) dengan K- (2.40±0.05) dan K+ (2.47±0.08). Sementara itu, laju pertumbuhan spesifik udang vaname yang disuplementasi mikrokapsul sinbiotik 1% juga menunjukkan nilai yang lebih baik (2.21±0.05% hari-1) (p<0.05) dibanding perlakuan K- (1.92±0.04% hari-1) dan K+ (1.89±0.02% hari-1). Suplementasi mikrokapsul sinbiotik terbukti mampu meningkatkan status kesehatan dan resistensi terhadap WSSV dan V. harveyi MR5339 RfR pada udang vaname dimana semua perlakuan sinbiotik 0.5%, 1% dan 2% menunjukkan nilai sintasan hingga akhir ko-infeksi signifikan lebih tinggi (p<0.05) masing-masing sebesar 57,78±3.85%, 64.44±3.85%, 55.56±3.85% dibandingkan kontrol positif (42.22±3.85%). Dari hasil pengujian PCR sebagai konfirmasi, sampel udang vaname mati dengan perlakuan A, B, C, dan K+ terbukti positif terinfeksi WSSV yang ditunjukkan dengan adanya pita DNA yang teramplifikasi pada panjang 942 bp, sedangkan sampel perlakuan K- terbukti negatif karena tidak terbentuknya pita DNA. Kesimpulannya, kinerja pertumbuhan, respons imun, sintasan dan resistensi udang vaname terhadap ko-infeksi ringan WSSV dan V. harveyi MR5339 RfR terbaik diperoleh pada perlakuan dosis mikrokapsul sinbiotik 1%
Pengaruh Budaya Organisasi Terhadap Kualitas Pelayanan Publik di Kecamatan Kalijati Kabupaten Subang
Kualitas pelayanan disuatu organisasi publik berkaitan erat dengan Budaya organisasi. Fakta bahwa isu pelayanan publik di kecamatan masih banyak menunjukan kualitas masih rendah, dari tahun 2018-2019 pengaduan masyarakat ke kecamatan meningkat. Tujuan penulis ini melakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana Pengaruh Budaya Organisasi terhadap Kualitas Pelayanan Publik di Kecamatan Kalijati Kabupaten Subang. Permasalahan tersebut diakibatkan oleh adanya keluhan masyarakat kalijati yang dari 2 tahun terakhir malah semakin bertambah, dikarenakan pelayanan publik yang diberikan pegawai kecamatan tidak bagus dan tidak cepat. Adapun metode penelitian yang digunakan oleh penulis dengan menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Adapun sumber data yang digunakan adalah data-data primer dan skunder dari kantor kecamatan kalijati, serta data dari pegawai kecamatan dan masyarakat kalijati yang bersangkutan. Data akan dianalisa dengan metode deskriptif analisis. Analisis data dilakukan dengan metode analisis statistik deskriptif, uji validitas, uji reliabilitas, analisi regresi linear sederhana, uji signifikan dan uji koefisen determinasi. Berdasarkakn analisis data yang dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa Budaya Organisasi di Kecamatan Kalijati menunjukkan hasil 43,28, yang dimana menurut garis kontinum termasuk kedalam kategori baik dan Kualitas Pelayanan Publik di Kecamatan Kalijati menunjukkan hasil 50,66, yang dimana menurut garis kontinum termasuk kedalam kategori cukup baik. Ada pengaruh budaya organisasi terhadap kualitas pelayanan publik di Kantor Kecamatan, hasilnya diperoleh dari nilai signifikansi lebih dari 0,05, nilai signifikansi sebesar 4,847. Budaya Organisasi memberikan pengaruh sebesar 66,0% terhadap Kualitas Pelayanan Publik di Kantor Kecamatan.
Service quality in a public organization is closely related to organizational culture. The fact that there are still many public service issues in the sub-district shows that the quality is still low, from 2018-2019 public complaints to the sub-districts increased. The purpose of this writer doing this research is to find out how the influence of organizational culture on the quality of public services in Kalijati District, Subang Regency. This problem was caused by complaints from the Kalijati community, which in the last 2 years had even increased, because the public services provided by sub-district employees were not good and not fast. The research method used by the author uses descriptive methods with a quantitative approach. The data sources used are primary and secondary data from the Kalijati sub-district office, as well as data from district employees and the concerned Kalijati community. The data will be analyzed using descriptive analysis method. Data analysis was performed using descriptive statistical analysis method, validity test, reliability test, simple linear regression analysis, significant test and determination coefficient test. Based on the data analysis carried out, it is concluded that the Organizational Culture in Kalijati District shows the results of 43.28, which according to the continuum line is in the good category and the Quality of Public Services in Kalijati District shows the results of 50.66, which according to the continuum line is included in the category pretty good. There is an influence of organizational culture on the quality of public services in the District Office, the results are obtained from a significance value of more than 0.05, a significance value of 4.847. Organizational Culture has an influence of 66.0% on the Quality of Public Services in the District Office
ANALISIS CAPAIAN PROGRAM KESEHATAN JIWA DI PUSKESMAS LANGSAT KOTA PEKANBARU
Kesehatan Jiwa (menurut WHO). Merupakan kondisi kesejahteran mental individu yang mampu menggunakan kapasitas dirinya secara optimal termasuk dalam menghadapi situasi stres dalam kehidupan, mampu berkerja secara efisien, dan mampu memberikan kontribusi positif di lingkungannya, Masalah kesehatan menjadi salah satu fokus kesehatan yang harus segera ditangani oleh pemerintah Indonesia. Masalah kesehatan jiwa yang paling banyak yaitu bipolar sebanyak 60 juta kasus, dimensia sebanyak 47,5 juta kasus, depresi sebanyak 35 juta kasus dan skizofrenia sebanyak 21 juta kasus, penelitian tertarik untuk membuat laporan residensi dengan judul Upaya Promotif Dan Preventif Kesehatan Jiwa. Metode penelitian yaitu desain kualitatif dengan desain deskriptif dan menggunakan analisis tematik. penulis menemukan beberapa masalah yang terdapat di Puskesmas Langsat Kota Pekanbaru, yaitu sebagai berikut: a. Rendahnya Cakupan Deteksi Dini Gangguan Kesehatan Jiwa, b. Stigma Masyarakat Tentang Kesehatan Jiwa, c. Belum adanya media edukasi promosi kesehatan, d. Keterbatasan Fasilitas dan Infrastruktur, e. Kurangnya Program pencegahan dan promosi kesehatan.Mental Health (according to WHO). Is a condition of individual mental well-being that is able to use their capacity optimally including in dealing with stressful situations in life, able to work efficiently, and able to make a positive contribution to their environment, Health problems are one of the health focuses that must be addressed immediately by the Indonesian government. The most common mental health problems are bipolar with 60 million cases, dementia with 47.5 million cases, depression with 35 million cases and schizophrenia with 21 million cases, the study was interested in making a residency report entitled Promotive and Preventive Efforts for Mental Health. The research method is a qualitative design with a descriptive design and using thematic analysis. the author found several problems in the Langsat Health Center, Pekanbaru City, namely: a. Low Coverage of Early Detection of Mental Health Disorders, b. Community Stigma About Mental Health, c. The absence of health promotion education media, d. Limited Facilities and Infrastructure, e. Lack of prevention and health promotion programs
