8,149 research outputs found
Tartib nuzul al-Quran: Kajian perbandingan antara Ma‘Arij al Tafakkur wa Daqa’iq al-Tadabbur dengan Fahm al-Quran al-Hakim / Muhammad Ibrahim Mohd Naim
Kajian ini membincangkan metodologi tartib al-Nuzul yang digunakan oleh ‘Abd al-Rahman Habannakah (1927-2004) dan Muhammad ‘Abid al-Jabiri(1936-2010) dalam mentafsirkan al-Quran menerusi karya utama iaitu Ma‘arij al-Tafakkur wa Daqaiq al-Tadabbur dan Fahm al-Quran al-Hakim. Permasalahan utama kajian ini ialah sejauh mana kepentingan penulisan tafsir tartib al-Nuzul dalam memahami al-Quran. Justeru, kajian ini bertujuan membandingkan metodologi yang digunakan oleh kedua-dua ilmuan al-Quran moden ini dalam menerangkan metode tartib al-Nuzul serta kesan kepada pentafsiran al-Quran. Objektif kajian ini juga ialah memperkenalkan tokoh kajian dan perkembangan ilmu mereka serta sumbangan kedua-dua tokoh kajian. Kajian ini merupakan kajian kualitatif yang menggunakan metode dokumentasi dalam proses pengumpulan data dan merujuk kepada sumber primer dan sekunder. Metode perbandingan digunakan dalam menganalisis karya dan rangka pemikiran tartib al-Nuzul. Di peringkat awal, kajian ini memberi perhatian khusus kepada perbahasan tartib al-Nuzul dari segi definisi, sejarah kemunculan, wacana perbincangan dalam kalangan ilmuan Islam dan kritikan terhadap tartib al-Nuzul. Di antara hasilnya, pendekatan tafsir tartib al-Nuzul merupakan suatu usaha baru dalam memahami al-Quran dan merupakan suatu bentuk tawaran semula kepada generasi hari ini dengan tahap yang boleh dicapai dan sesuai dengan kemampuan umat Islam pada masa ini. Usaha tafsir ini bertujuan mengangkat pemahaman al-Quran melihat kepada perjalanan sirah dan dakwah Nabi SAW sepanjang penurunan al-Quran. Hasil penelitian, pengkaji mendapati bahawa terdapat perbahasan panjang berkaitan penulisan tafsir tartib al-Nuzul, serta terdapat perbezaan pada penyusunan surah al-Quran dan pendekatan kedua tokoh ini
Pioneers of Library Movement in Pakistan
The paper aims to describe in brief the contribution of seven leaders of Pakistan librarianship, viz. K.B. Khalifa M. Asadullah, Prof. Dr. Abdul Moid, Dr. Abdus Subuh Qasimi, Muhammad Shafi, Fazal Elahi, Khawaja Nur Elahi and S. V. Hussain. The early library developments are given for better understanding of the role of these leaders
BATASAN NAFKAH SUAMI KEPADA ISTRI PERSPEKTIF MUHAMMAD NUZUL DZIKRI
Terjadinya sebuah akad pernikahan tidak hanya melegitimasi hubungan antara pria dan wanita, tetapi akad tersebut juga memiliki konsekuensi berupa tanggung jawab untuk memenuhi hak dan kewajiban dalam kehidupan rumah tangga. Salah satu konsekuensi dari sebuah akad pernikahan adalah nafkah, yakni suami wajib memberikan nafkah kepada istri. Setelah mengetahui bahwa seorang suami memiliki kewajiban untuk menafkahi istrinya, maka hal selanjutnya yang harus diketahui adalah mengetahui batasan nafkah yang suami berikan kepada istri. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk menyebar luaskan pengetahuan agama Islam dikalangan suami istri terkait batasan nafkah yang harus diberikan suami kepada istri, agar konflik rumah tangga yang disebabkan oleh permasalahan nafkah dapat dihindari. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan analisis isi. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, bahwa Muhammad Nuzul Dzikri kewajiban menafkahi istri berlaku ketika akad dan istri menyerahkan dirinya kepada suami, tentang batasan nafkah Muhammad Nuzul Dzikri mengikuti pendapat mayoritas para ulama dan keterangan dari Imam Syafi'i dalam qoulul qodim serta sebagian ulama-ulama mazhab Syafi’i seperti Ibnu Mundzir, Ibnu Khuzaimah, Abu Fadhl dan lain-lain, mengatakan bahwa nafkah adalah wajib Alal kifayah atau secukupnya, tidak ada angka tertentu tetapi dikembalikan pada kebutuhan dan kebiasaan
Fragmentasi Tafsir Surah Al-'Alaq Berbasis Kronologi (Studi atas Fahm al-Qur'an al-Hakim: al-Tafsir al-Wadhih Hasb Tartib al-Nuzul Karya Muhammad 'Abid al-Jabiri)
Penelitian ini berkesimpulan bahwa Fahm al-Qur’an al-Hakim: al-Tafsir al-Wadhih Hasb Tartib al-Nuzul Karya Muhammad Abid al-Jabiri secara epistemologis memiliki metode tartib nuzuli, corak tarikhi (historis) dengan sumber penafsiran al-Ra’y dan atsar. Hal ini bertujuan untuk memproduksi sebuah penafsiran-penafsiran yang realistis, rasional, aplikatif dan memiliki basis keilmuan yang kokoh. Konstruksi pemahaman pola ini, termasuk dalam usaha menafsirkan teks al-Qur’an banyak dipengaruhi oleh perspektif post-modernis. Dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan historis- filosofis, penelitian ini berusaha menggambarkan karakteristik pemikiran Abid al-Jabiri secara komprehensif.</jats:p
Epistemologi al Tafsir al Hadith: Tartib al Suwar Hasb al Nuzul karya Muhammad 'Izzah Darwazah: studi implikasi dalam ilmu tafsir
Tafsir adalah suatu upaya untuk memahami petunjuk Allah yang tersurat di dalam kitab suci Alquran, sehingga apa yang tertulis di dalamnya dapat diamalkan oleh manusia. Para mufasir menggunakan metode yang berbeda-beda dalam menafsirkan Alquran. Di antaranya ada Muhammad ‘Izzah Darwazah dengan karyanya kitab al-Tafsir al-Hadith: Tartib al-Suwar Hasb al-Nuzul, yang menafsirkan Alquran dengan metode tafsir nuzuli-nya, yaitu menafsirkan Alquran dengan menyusun surat-surat Alquran berdasarkan kronologi turunnya. Untuk mengetahui seluk beluk kitab tafsir ini, diperlukan kajian epistemologi terhadap kitab tafsir tersebut. Sebab, epistemologi merupakan cabang filsafat yang mempersoalkan atau menyelidiki tentang asal, susunan, metode, dan lain-lain yang bersangkutan. Dari latar belakang tersebut, ada dua persoalan yang hendak dijawab dalam penelitian ini. Pertama, Bagaimana bangunan epistemologi kitab al-Tafsir al-Hadith: Tartib al-Suwar Hasba al-Nuzul karya Muhammad ‘Izzah Darwazah. Kedua, Bagaimana implikasinya pada perkembangan ilmu tafsir. Untuk menjawab dua pertanyaan di atas, penelitian ini mengkaji kitab al-Tafsir al-Hadith: Tartib al-Suwar Hasb al-Nuzul karya Muhammad ‘Izzah Darwazah. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan menggunakan metode pengumpulan data dokumentasi. Dari data-data yang telah terdokumentasi, dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif-analisis. Penelitian ini menghasilkan dua kesimpulan. Pertama, epistemologi kitab al-Tafsir al-Hadith: Tartib al-Suwar Hasba al-Nuzul terdiri dari beberapa unsur, yaitu dengan sumber yang bervariasi (Alquran, Hadis, akal, konteks sosial masyarakat Arab, baik pra maupun era Nabi Muhammad saw, beberapa kitab tafsir terdahulu, kitab ‘ulum al-Qur’an dan kitab Sejarah), metode penafsiran nuzuli-tajzi’i-tahlili, kecendrungan tafsir pada sejarah dan sosial-politik, yang itu semua di dasari asumsi bahwa Alquran adalah nash yang hidup, berkembang yakni diturunkan mengikuti gerak sejarah, terutama sejarah kenabian Muhammad saw. di Makkah dan Madinah. Kedua, implikasi epistemologinya terhadap perkembangan ilmu tafsir ialah mempermudah penerapan langkah-langkah penafsiran Alquran secara tematik sesuai dengan yang digagas al-Farmawi, yaitu dalam pengurutan ayat-ayat pilihan berdasarkan tartib nuzul. Dengan pengurutan semacam ini dapat menghasilkan pola pemahaman Alquran dengan tahap pemikiran yang terpetakan. Sehingga dapat ditemukan berbagai penjelasan secara kronologis terhadap tema pokok. Implikasi epistemologi kitab tafsir ini juga dapat terlihat pada metode pendekatan yang sedang berkembang saat ini, yaitu pendekatan kontekstual. Pendekatan ini memiliki kesamaan konsep dasar pemikiran dengan tafsir nuzuli. Sama-sama memperhatikan konteks sosial-historis di mana Alquran diturunkan
asbabun nuzul dalam tafsir mara>h labi>d (Analisa Kualitas Riwayat Asbab al-Nuzul surat al-Baqoroh ayat 1-141 dalam Tafsir Mara>h Labi>d karya Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani)
Ghorib Rifa’i, Ahmad. 2019. Asbabun Nuzul dalam Tafsir Marah Labid (Analisa Kualitas Riwayat Asbab al-Nuzul surat al-Baqarah 1-141 dalam Tafsir Mara>h Labi>d karya Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani). Skripsi, Jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir, Fakultas Usuluddin, Adab dan Dakwah, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo. Pembimbing, Zahrul Fata, Ph.D
Kata kunci: Asbab al-Nuzul, Tafsir Mara>h Labi>d, Kualitas.
Tafsir Mara>h Labi>d merupakan salah satu kitab tafsir karya ulama Nusantara yakni Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani. Dalam upaya menafsirkan ayat al-Qur’an bila terdapat riwayat asbab al-nuzul Syekh Nawawi al-Bantani hampir selalu mencantumkan riwayat asbab al-nuzul. Akan tetapi beliau memiliki cara tersendiri dalam mencantumkan riwayat asbab al- nuzul. Terkadang beliau mencantumkan sanad terkadang hanya mencantumkan matannya saja, tidak mencantumkan sanad.
Untuk lebih memfokuskan penelitian, penulis melakukan pembatasan masalah dengan memilih surat al-Baqarah ayat 1-141. Penelitian ini bertujuan untuk; pertama, mengetahui sumber riwayat asbab al-nuzul yang digunakan oleh Syekh Nawawi al-Bantani dalam upaya menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an. Kedua, mengetahui kualitas atau derajat riwayat asbab al-nuzul yang dipaparkan oleh Syekh Nawawi al-Bantani.
Penelitian skripsi ini merupakan jenis penelitian kepustakaan (library reseach). Untuk itu digunakan bahan-bahan kepustakaan dengan sumber primer kitab Tafsir Marah Labid karya Syekh Nawawi al-Bantani. Dan sumber sekunder yakni kitab-kitab rija>l hadis, kitab-kitab takhri>jhadis, kitab-kitab hadis serta buku-buku yang berkaitan dengan judul skripsi. Dalam mengolah data, langkah pertama yang dilakukan adalah mentakhri>jriwayat-riwayat asbab al-nuzul, langkah kedua yakni menyusun keseluruhan sanad dalam bentuk skema, langkah ketiga yakni mencari pendapat para ulama mengenai derajat atau kualitas riwayat asbab al-nuzul apabila tidak ditemukan pendapat para ulama penulis akan melakukan analisis sanad, dan langkah keempat adalah analisis matan apakah terdapat perbedaan yang signifikan dengan matan riwayat yang lain.
Dalam surat al-Baqarah ayat 1-141 diketahui bahwa terdapat 11 riwayat asbab al-nuzul. Yakni 5 riwayat dengan keterangan sanad, 6 riwayat tidak disertai keterangan sanad. Dengan mengkaji dan meneliti riwayat-riwayat ini, dapat diketahui keberadaan suatu riwayat dalam kitab-kitab rujukan dan kualitasnya. Karena yang diteliti adalah riwayat yang hanya mencantumkan matan, tidak terdapat keterangan sanad. Maka, hasil akhir dari penelitian yang dilakukan terhadap enam riwayat asbab al-nuzul tersebut dapat disimpulkan bahwa, riwayat pertama dan kelima berstatus hasan li ghairih, riwayat ketiga berstatus shahih, riwayat keempat berstatus gharib, riwayat kedua dan keenam tidak ditemukan informasi riwayat yang berkaitan
Watak Asbab An-Nuzul Dalam Pendidikan Islam
Asbab An-Nuzul is a science to know the existence of causes and events concerning the background of a verse or several verses revealed by Allah, namely the verse of the Qur'an in the form of Allah's words. The Qur'an was revealed through the intermediary of the angel Gabriel revealed to the Prophet Muhammad. Asbab an-Nuzul aims to explain the wisdom of the provisions of the law and to specialize laws that are general in nature. al-Qur'an is a special foundation or a reference for Islamic community guidelines, by understanding the meaning of Asbab An-Nuzul, the community will be more able to add insight and understanding of the history of the Qur'an, besides that the community will better understand the origin of the verses revealed, in this case someone who understands the character of Asbab An-Nuzul someone will know how to apply and realize in everyday life and imitate him. Islamic education also examines the issue of Asbab an-Nuzul, because in understanding the verses of the Qur'an there are things that can be understood directly and some need explanations, therefore before understanding about Islamic education it is necessary to learn about the character or character of Asbab-an Nuzul first
Asbabun Nuzul Surat Al-Qalam Ayat 4 dan Hubungannya dengan Akhlak Yang Mulia
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara Asbabun Nuzul Surah AlQolam ayat 4 dan hubungannya dengan konsep "akhlak yang mulia". Surah AlQolam ayat 4 menceritakan tentang kemuliaan sifat dan kepribadiannya baginda nabi Muhammad Saw. Pemahaman terhadap konteks asbabun nuzul dari ayat-ayat ini memberikan wawasan penting mengenai peran individu dalam membenahi sikap dalam kehidupan sehari hari, serta menunjukkan pentingnya perbuatan baik dan keikhlasan hati. Metode yang digunakan pada penelitian ialah metode kualitatif dimana kajian ini kami tinjau dari berbagai sumber yang berasal dari perpustakaan(library research )dengan teknik pengumpulan data dengan penelitian. Hasil temuan dalam penelitian ini mengacu pada bagaimana sikap dan perbuatan nabi pada kehidupan sehari harinya. Asbabun nuzul Surah AlQolam ayat 4 menekankan akhlak yang baik, dan dimana setiap amal, baik atau buruk, akan dipertanggungjawabkan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa akhlak yang baik bukan hanya berbuat baik kepada diri sendiri, tetapi bagaimana dengan kehadiran kita membuat orang disekitar nyaman
Analisis Nuzul Al-Qur’an dengan gerhana matahari cincin perspektif astronomi
Para ahli sejarah berbeda pendapat mengenai waktu Nuzul al-Qur’an antara lain tanggal 17, 19, 21 dan 24 Ramadhan tahun -12 H. Perbedaan ahli sejarah juga terdapat pada tanggal Masehi yaitu 17 Ramadhan -12 H / 6 Agustus 610 M dan 21 Ramadhan -12 H / 10 Agustus 610 M. Penulis tertarik untuk merunut peristiwa Nuzul al-Qur’an dengan fenomena alam yang mudah dibaca waktu dan tanggalnya yaitu gerhana matahari Cincin 27 Januari 632 M yang bertepatan saat Ibrahim putra Nabi meninggal dunia. Penulis menggunakan data awal bulan Accurate Times 5,6 menurut kriteria visibilitas Odeh dan MABIMS baru dengan penambahan bulan ke 13 (nasi’) setiap 3 tahun sekali untuk mengetahui tanggal peristiwa Nuzul al-Qur’an. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui waktu Nuzul al-Qur’an dengan merunut gerhana Matahari cincin 27 Januari 632 M dan mengetahui penyebab perbedaan pendapat tentang waktu peristiwa Nuzul al-Qur’an. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah dengan langkah-langkah: Heuristik (Pengumpulan Sumber), Kritik Sumber, Interpretasi dan Historiografi (Penyajian hasil).
Hasil penelitian ini yaitu 1. Peristiwa Nuzul al-Qur’an terjadi Senin, 17 Ramadhan -12 H yang bertepatan dengan 19 Januari 610 M 2. Penyebab perbedaan waktu Nuzul al-Qur’an adalah Penggunaan metode interkalasi yang berbeda, Perbedaan Konversi Tanggal Hijriah ke Masehi peristiwa Nuzul al-Qur’an dan Dasar dalil yang berbeda.
ABSTRACT:
Historians differ in their opinion regarding the time of Nuzul al-Qur’an i.e the 17th, 19th, 21st and 24th Ramadhan -12 H and they differ in the crishtian date of Nuzul al-Qur’an i.e 17th Ramadhan -12 H / 6th August 610 M and 21th Ramadhan -12 H / 10th August 610 M . The author is interested in verifying the time of Nuzul al-Qur'an by tracing the events that can be read easily the time and date i.e annular solar eclipse 27th January 632 AD when the death of Ibraham's son Muhammad. The author uses new moon datas of Accurate Times 5.6 month data with crescent visibiity criterias of Odeh and new MABIMS and by adding the 13th month (nasi ') every 3 years to find out the date of the Nuzul al-Qur'an event. The purposes of this research are to know the date of Nuzul al-Qur’an by tracing annular solar eclipse 27th January 632 AD and to know the factors of difference date of Nuzul al-Qur’an among historians. This research uses historical research methods with steps: Heuristics (Source Collection), Source Criticism, Interpretation and Historiography (Presentation of results).
The results of this research are: 1. Nuzul al-Qur'an occured on Monday, 17 Ramadhan -12 H which coincided with 19 January 610 M. 2. The causes of difference in Nuzul al-Qur’an date are the use of different intercalation methods, the difference in conversion of the Hijri to the date of the events of Nuzul al-Qur'an and the basis of different propositions
NUZULUL QUR’ AN DAN ASBABUN NUZUL
Artikel ini membahas tentang kajian nuzulul Qur’an dan asbabun nuzul sebagai pintu pengetahuan yang mengungkap hubungan di seputar teks dan realitas yang menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam memahami kandungan ayat Al-Quran sebagai pedoman hidup. Al-Quran sebagai wahyu yang diturunkan secara berangsur-angsur, maka upaya memahami keadaan yang sebenarnya menyangkut peristiwa yang meliputi ayat al-Quran ketika diturunkan kepada Nabi SAW adalah penting dan tidak boleh diabaikan dalam mengungkap isi kandungannya. Kajian nuzulul Qur’an dan asbabun nuzul mampu mengantarkan seorang mufassir pada pemahaman yang benar dengan memahamai kandungan teks dan keadaan yang menyertai peristiwa yang terjadi ketika Al-Quran diturunkan. 
- …
