1,721,033 research outputs found

    HUBUNGAN MODAL SOSIAL DENGAN PENDAPATAN RUMAH TANGGA NELAYAN (STUDI KASUS DI KAWASAN WISATA PANTAI TAPAK PADERI KOTA BENGKULU)

    No full text
    Masyarakat nelayan merupakan kelompok masyarakat yang hidup, tumbuh dan berkembang di kawasan pesisir atau wilayah pantai. Masyarakat nelayan hidup dengan menggantungkan kelangsungan hidup dengan mengelola potensi sumberdaya laut. Salah satu pantai di Kota Bengkulu adalah Pantai Tapak Paderi, Kelurahan Kebun Keling. Pantai Tapak Paderi ini mempunyai potensi laut yang cukup besar, dengan potensi yang dimilikinya, menyebabkan banyak masyarakat di daerah sekitar pantai yang bekerja sebagai nelayan, mereka adalah buruh nelayan dan nelayan tradisional individu maupun kelompok yang tidak memiliki alat produksi yang memadai. Modal sosial sangat berpengaruh di dalam masyarakat, hal itu merupakan sesuatu yang nyata dan mampu memberikan dampak cukup besar bagi masyarakat. Modal sosial terdiri dari beberapa indikator yaitu diantaranya kepercayaan, norma, dan jaringan sosial sehingga terbentuknya partisipasi terhadap organisasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat modal sosial yang ada pada masyarakat nelayan di kawasan wisata Tapak Paderi, mengetahui tingkat pendapatan rumah tangga pada nelayan di kawasan wisata Tapak Paderi Kota Bengkulu dan menganalisis hubungan antara modal sosial yang ada pada nelayan dengan pendapatan nelayan Tapak Paderi Kota Bengkulu. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober�November 2021. Penetapan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive sampling) di Kawasan Wisata Pantai Tapak Paderi Kelurahan Kebun Keling. Metode dalam penentuan sampel mengunakan konsep teori slovin , selanjutnya dilakukan teknik Proportional Stratified Random Sampling yaitu sebanyak 39 responden. Untuk mengetahui tingkat modal sosial yang ada pada masyarakat nelayan di kawasan wisata Tapak Paderi, mengetahui tingkat pendapatan rumah tangga pada nelayan di kawasan wisata Tapak Paderi Kota Bengkulu menggunakan Analisis Statistik Deskriptif dan untuk menganalisis hubungan antara modal sosial yang ada pada nelayan dengan pendapatan nelayan Tapak Paderi Kota Bengkulu menggunakan Analisis Rank Spearman. Hasil penelitian terhadap tingkat modal sosial yang dimiliki oleh nelayan dikawasan Tapak Paderi termasuk kedalam cukup tinggi, sedangkan tingkat pendapatan rumah tangga nelayan dikawasan Tapak Paderi yaitu sebesar Rp 3.082.998/bulan atau setara dengan Rp 1.541.499/orang perbulan. Hal ini termasuk dalam kategori kurang sejahtera jika dibandingkan dengan UMP Bengkulu Tahun 2022. Dan hubungan modal sosial dengan pendapatan rumah tangga nelayan adalah 0.542** dimana tingkat kekuatan hubungan (korelasi) adalah kuat. Kata Kunci: Modal Sosial, Pendapatan Rumah Tangga, Hubungan Modal Sosial dengan Pendapatan Rumah Tangga Nelaya

    PROFITABILITAS DAN EVALUASI KINERJA PRODUK AGROINDUSTRI RUMAH TANGGA GULA KELAPA KECAMATAN LAIS KABUPATEN BENGKULU UTARA PROVINSI BENGKULU

    Full text link
    In the Home Industry of coconut sugar, the cost and profit calculation is still conventional. Profit calculation is needed in order to get the maximum profit of the business. The company's profit is related to cost, sales volume and selling price. One of the analytical tools that can be used is Cost Volume Profit (CVP) analysis. Profitability is a benchmark of the company's performance to generating the net income. The research aim to analyze the income, breakeven point, profitability ability and sensitivity, also analysing consumer perception about attribute level of importance and satisfaction of coconut sugar product in Dusun Hibrida, Pal 30 Village, Lais District, North Bengkulu Regency, Bengkulu Province. From sales of coconut sugar products amounted to Rp.60.183,47 per production. Which the profitability of coconut sugar products is 46%. If product performance exceeds the consumer expectations, they will feel satisfied. Importance Performance Analysis (IPA) is used to maping the relationship between importance and performance of each product attribute. The most important attributes and have good performance related to consumers is coconut sugar hygiene, taste, and food / beverages, coconut sugar color, durability, ease of accessing the product,  and coconut sugar solubility, that’s attributes need to be maintained

    NILAI TAMBAH DAN STRATEGI PEMASARAN KOPI BUBUK AROMA

    Full text link
    The purpose of this study are (1) to know the value added resulting from the processing of coffee beans into ground coffee aroma. (2) to analyze what the marketing mix strategy that prioritized to increase the sales volume of ground coffee. (3) to know what the alternative marketing strategy that right of any marketing mix. The method used is the value-added method Hayami and analytical hierarchy process (AHP). The results showed that the value added obtained in this process for regular packaging amounted to 8.065 with value added ratio of 26,52%, while the value added to the plastic foil ratio amounted to 10.035 with an added value of 27,50 %. On this criterion that the first priority is the financial condition of the company with its weight amounted to 0.334 while the subcriteria most priority is the product strategy with a weight of 0.345. Capital is a priority of the most preferred in stretegi products with a weight of 0.667. then became a priority to the alternative product is mendeversifikasikan size product with a weight of 0.262

    ANALISIS RISIKO DAN PERSEPSI PADA USAHA DAGANG (STUDI KASUS PEDAGANG BUAH SEMANGKA MADU KOTA BENGKULU

    No full text
    Risiko dengan usaha, risiko dengan persepsi, dan risiko dengan tindakan ibarat 2 sisi mata koin yang saling mengikuti satu sama lain. Penelitian ini melibatkan 28 pedagang buah yang dipilih berdasarkan metode sensus dan berdasarkan kriteria tertentu. Penelitian ini memiliki 3 tujuan. Pertama, mengetahui akar permasalahan (risiko) dari barang dagang semangka madu pada pedagang buah di kota Bengkulu menggunakan alat analisis diagram Ishikawa, dan hasil penelitian yang didapat adalah prasangka. Kedua, mengetahui persepsi pedagang buah terhadap risiko pada barang dagang semangka madu di kota Bengkulu menggunakan alat analisis skala Likert, dan hasil penelitian yang didapat adalah 72% netral. Ketiga, mengetahui kelompok tindakan pedagang terhadap risiko barang dagang semangka madu yang paling banyak dilakukan di kota Bengkulu menggunakan alat analisis deskriptif kualitatif, dan hasil penelitian yang didapat adalah risk research and acknowledgment. Kata Kunci: Risiko, Persepsi, Tindakan, Semangka Madu, Pedagang Bua

    ROBUSTA COFFEE SUPPLY CHAIN SYSTEM IN KEPAHIANG REGENCY, BENGKULU PROVINCE

    Full text link
    Kepahiang Regency is ones of largest producing robusta coffee on Bengkulu Province. Many business actors are involved in the activities of this product supply chain system, they are supposed to be lower income This research tried to explain in a detailed and systematic description so that the three activities in the robusta coffee supply chain system in Kepahiang Regency. Snow ball sampling method was used to determine actors sample in Supply Chain System of Robusta Coffee. Secondary data was production, land size, and productifity were collected from Central Bureau of Statistics, Regional Agriculture Office of Kepahiang Regency and coffee consumption was collected from International Coffee Organization. Primary data was product, price, quantity, delivery time, payment, and delivery services. Data analysis used Hayami et al model for value added, share margin for financial flow, flow diagram for information and product flows. The results showed that there are three patterns of robusta coffee supply chain in Kepahiang Regency, namely Pattern 1: Coffee farmers –Village collectors – Regency Collectors-Coffee Shop Palembang. Pattern 2: Coffee farmers –Village collectors – Regency collectors 1– Coffee company- Exporter. Pattern 3: Coffee farmers - Regency collectors 2 - Coffee company - Exporter. Generally, business activities in the supply chain in namely 1) categorization of the quality and quantity of large products in the supply chains 2, and 3, 2) Flow of price information is obtained from business actors downstream as price maker to actors upstream as price taker in the supply chain system, and 3) financial flow and the largest marketing margin in supply chains 2, 3 and 1 respectively,and 4) the payment system being carried out in three, namely cash, credit and payment. Value added is received by company was Rp12.151 per kgs since it was grading treatment for gaining better product quality. The development of processing industry of robusta coffee could increase added value of product and income of actors in Supply Chain System, then contribute to regional economy.Kabupaten Kepahiang salah satu penghasil kopi robusta terbesar di Propinsi Bengkulu. Banyak pelaku usaha terlibat dalam sistem aliran rantai pasok kopi robusta diduga pendapatan pelaku usaha lebih rendah. Penelitian bertujuan untuk menjelaskan sistem rantai pasok kopi robusta di Kabupaten Kepahiang. Lokasi penelitian di Kabupaten Kepahiang. Metode Snow Ball Sampling digunakan untuk menentukan sampel pelaku dalam sistem rantai pasok kopi robusta. Data sekunder yaitu produksi, luas lahan, produktifitas diperoleh dari Badan Pusat Statistik, Dinas Pertanian Kabupaten Kepahiang dan konsumsi kopi diperoleh dari International Coffee Organization. Data primer yaitu produk, harga, kuantitas, waktu pengiriman, sistem pembayaran, serta layanan antar pelaku. Analisis data menggunakan Model Hayami et al (1987) untuk nilai tambah, margin share untuk aliran keuangan dan flow diagram untuk aliran barang dan informasi. Tiga pola rantai pasok kopi robusta diperoleh dari penelitian yaitu 1: Petani Kopi–Pedang Pengumpul Desa–Pedagang Pengumpul Kabupaten–Gudang Kopi Palembang, 2 : Petani Kopi– Pedagang Pengumpul Desa–Pedagang Pengumpul Kabupaten–Perusahaan Kopi–Eksportir Kopi, dan 3 : Petani Kopi–Pedagang Pengumpul Kabupaten–Perusahaan Kopi–Eksportir Kopi. Aktivitas pelaku dalam rantai pasok yaitu 1) kategorisasi kualitas dan kuantitas produk pada rantai pasok 2, dan rantai pasok 3, 2) Informasi harga mengalir dari penentu harga di hilir ke pelaku di hulu sebagai penerima harga, 3) aliran keuangan dan marjin pemasaran terbesar berada pada rantai pasok 2, rantai pasok 3, dan rantai pasok 1, dan 4) sistem pembayaran yaitu tunai, kredit dan konsinyiasi. Nilai tambah yang di terima perusahaan adalah Rp12.151 per kg dengan perlakuan grading untuk mendapatkan mutu yang baik Pengembangan industri pengolahan kopi robusta dapat meningkatkan nilai tambah produk dan pendapatan pelaku usaha dalam rantai pasok sehingga berdampak besar bagi ekonomi daerah

    ANALISIS STRATEGI PEMASARAN MELON PREMIUM DI KOTA BENGKULU (STUDI KASUS PADA PERUSAHAAN TOBOPONIK KOTA BENGKULU)

    Full text link
    Toboponik adalah salah satu perusahaan yang bergerak di bidang pertanian. Produk yang ditawarkan oleh Toboponik berupa melon premium. Melon yang ditawarkan Toboponik memiliki harga yangjauh lebih tinggi dibandingkan harga melon umumnya. Walaupun demikian Toboponik selalu berhasil menjual habis seluruh melon yang mereka tawarkan. Tujuan penelitian ini adalah ;1) Mengidentifikasi strategi pemasaran melon yang diterapkan oleh Toboponik; 2) Menganalisis bauran pemasaran 4P Melon oleh Toboponik. Penelitian ini dilaksanakan selama April-Mei 2023 di Perusahaan Toboponik Kota Bengkulu. Data diambil dari dalam dan luar perusahaan. Dari dalam perusahaan, data diambil dengan cara wawancara terhadap pemilik dan seorang karyawan Toboponik, sedangkan data dari luar diambil dari 25 orang reponden yang memenuhi kriteria sampel. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dan kuantitatif melalui Importance Performance Analysis (IPA). Hasil analisis menunjukkan bahwa Toboponik menerapkan strategi Segmenting, Targeting, dan Positioning (STP) untuk memasarkan melon premium. Dari analisis Importance Performance Analysis (IPA), Melon premium Toboponik memiliki kesan yang baik bagi pelanggannya. Atribut yang memiliki tingkat kepentingan yang tinggi dan memiliki kinerja yang juga tinggi antara lain, Atribut Rasa, kecepatan pengiriman, kemudahan pembayaran, pelayanan, dan garansi manis. Beberapa atribut yang dianggap penting namun kurang memuaskan adalah, ketersediaan melon, kebersihan tempat, kesesuaian harga, keterjangkauan harga, potongan harga, dan promosi melalui Instagram. Atribut-atribut yang dianggap berlebihan bagi konsumen antara lain kesempurnaan bentuk, kecerahan warna, berat, ketahanan melon, ongkos kirim, iklan melalui Whatsapp, dan kemasan. Dan atribut lainnya dianggap tidak penting dan juga tidak memiliki kinerja bagus. Kata Kunci: Importance Performance Analysis (IPA), Toboponik, Melon Premium, Strategi Pemasara

    The Correlation Between Social Capital with Fishermen's Household Income (Case Study in Tapak Paderi Beach Tourism Area, Bengkulu City)

    Full text link
    This research was conducted in the tourist area of Tapak Paderi, Kebun Keling Village, Teluk Segara District, Bengkulu City. The sample of this study amounted to 39 people. Determination of the sample using Slovin theory and Proportional Stratified Random Sampling. This technique is used because the population is not homogeneous and proportionally stratified. The purpose of this study was to determine the level of: 1. Social capital of the Tapak Paderi fishing community. 2. The household income of Tapak Paderi fishermen. 3. The relationship between fishermen's social capital and fishermen's household income in Tapak Paderi. The research method used is 1. Descriptive statistical analysis 2. Fisher household income analysis 3. Spearman Rank analysis. The results of this study indicate that 1. The level of social capital owned by fishermen in the Tapak Padri area is included in the high category, with an average yield of 3.6. 2. The income level of fishermen's households in the Tapak Paderi area is IDR 3,082,998/month, or equivalent to IDR 1,541,499/person per month. It is included in the less prosperous category compared to the Bengkulu UMP in 2022. 3. The relationship between social capital and fishermen's household income is substantial.This research was conducted in the tourist area of Tapak Paderi, Kebun Keling Village, Teluk Segara District, Bengkulu City. The sample of this study amounted to 39 people. Determination of the sample using Slovin theory and Proportional Stratified Random Sampling. This technique is used because the population is not homogeneous and proportionally stratified. The puIDRose of this study was to determine the level of: 1. Social capital of the Tapak Paderi fishing community. 2. The household income of Tapak Paderi fishermen. 3. The relationship between fishermen's social capital and fishermen's household income in Tapak Paderi. The research method used is 1. Descriptive statistical analysis 2. Fisher household income analysis 3. Spearman Rank analysis. The results of this study indicate that 1. The level of social capital owned by fishermen in the Tapak Padri area is included in the high category with an average yield of 3.6. 2. The income level of fishermen's households in the Tapak Paderi area is IDR. 3.082.998/month or equivalent to IDR. 1,541,499/person per month. This is included in the less prosperous category when compared to the Bengkulu UMP in 2022. 3. The relationship between social capital and fishermen's household income is strong

    STRATEGI PENGEMBANGAN PEMASARAN MAKANAN KHAS BENGKULU PADA SENTRA OLEH-OLEH ANGGUT KOTA BENGKULU: APLIKASI AHP DAN SWOT

    Full text link
    The aim for this research is to know the marketing development strategic of traditional meal in Centra traditional food Anggut Bengkulu City using Analytical Hierarchy Process (AHP) method dan SWOT analysis. The samples are Cita Rasa, Kueku Yovita and Arzel. To find the priority factor from each marketing mix used Analytical Hierarchy Process (AHP) method. This research showed that the priority factor from product mix is the hygiene product (0,1222). The priority factor from price mix is the value for money (0,2025). The priority factor from promotion mix is positioning the local product (0,1539). The priority factor from place mix is market location position (0,1841). The internal and external environment is used in SWOT analysis matriks. The Cita Rasa marketing development strategics are giving incentive price for consumers, market expansion, keep and maintain quality, taste and locallity product, and decorate the layout on the attractive display. The Kueku Yovita marketing development strategics are increase the promotion and advertising, giving incentive price for consumer, market expansion, and decorate the layout on the attractive display. The Arzel marketing development strategics are increase the promotion and advertising, giving incentive price for consumer, market expansion, increase the quality, hygiene and taste product, and decorate the layout on the attractive display

    PENANGANAN PENERIMAAN DAN PENETAPAN HARGA BELI TANDAN BUAH SEGAR KELAPA SAWIT (STUDI KASUS PADA PT. DARIA DHARMA PRATAMA DI IPUH KABUPATEN MUKOMUKO PROVINSI BENGKULU)

    No full text
    PT. Daria Dharma Pratama merupakan salah satu perusahan swasta di Provinsi Bengkulu yang bergerak dibidang perkebunan kelapa sawit dan industri pengolahan minyak kelapa sawit . Setiap hari PT. Daria Dharma Pratama membutuhkan bahan baku berupa tandan buah segar (TBS) dalam jumlah yang sangat banyak untuk diolah menjadi crude palm oil (CPO) dan kernel. Bahan baku (TBS) yang digunakan oleh perusahaan dalam memproduksi CPO tidak sepenuhnya berasal dari perkebunan inti milik perusahaan tetapi juga berasal dari perkebunan masyarakat sekitar / pemasok TBS luar perusahaan seperti pemasok mitra, umum dan pemasok plasma yang menjual TBSnya kepada PT. Daria Dharma Pratama dengan harga yang sudah ditetapkan oleh perusahaan. TBS luar perusahaan yang datang ke pabrik perusahaan akan mengalami antrian dalam penerimaan hingga penanganannya sebelum masuk pada proses pengolahan minyak kelapa sawit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sistem penanganan penerimaan TBS yang dilakukan oleh PT. DDP, faktor-faktor yang mempengaruhi penetapan harga beli TBS dari pemasok dan untuk mengetahui apakah ada perbedaan harga TBS antara pemasok umum dan pemasok mitra. Penelitian dilaksanakan selama satu bulan mulai tanggal 03 Juli 2014 – 03 Agustus 2014. Metode yang digunakan adalah menggunakan regresi linier berganda dengan uji f dan uji t serta analisi beda rata-rata dua sampel saling bebas. Hasil dari sistem penanganan penerimaan TBS yang dilakukan oleh PT. DDP dengan sistem antrian yang harus melewati beberapa tahap seperti pengambilan nomor antrian/slip DO, pemanggilan nomor antrian, jembatan timbang dan sortasi. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi dalam penetapan harga TBS pemasok luar perusahaan adalah berat tandan buah sawit, persentase tenera, waktu antrian dan rendemen. Dari hasil analisis didapat nilai untuk fhitung (26,30) dan ftabel (3,01) dengan nilai koefisien determinasi (0,8080) yang menjelaskan keempat faktor tersebut mempengaruhi penetapan harga sebesar 80,80%. Dapat disimpulkan bahwa keempat faktor tersebut secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap penetapan harga beli TBS dari luar perusahaan baik untuk pemasok mitra maupun pemasok umum. Harga beli TBS untuk pemasok mitra dan umum berbeda. Rata-rata harga TBS untuk pemasok mitra adalah 1417,62 dan pemasok umum 1342,62. Untuk perusahaan dalam penanganan penerimaan TBS dari luar perusahaan sudah berjalan baik. Akan lebih baik lagi apabila pada saat timbang perusahaan dapat menerapkan sistem dua jalur jembatan timbang atau dengan kata lain perusahaan menambah satu unit jembatan timbang sehingga dapat mempersingkat waktu pengantrian para pemasok dan juga jumlah TBS yang ditargetkan setiap hari untuk diolah dapat terpenuhi dengan cepat dan maksimal sehingga hasil olahan (CPO dan rendemen) yang diinginkan terpenuhi. Sedangkan dalam proses sortasi lebih di perketat agar TBS yang diperoleh dari pemasok termasuk kedalam TBS yang diinginkan oleh perusahaan. Sedangkan untuk pemasok TBS baik mitra maupun umum sebaiknya lebih memperhatikan kualitas dari TBS itu sendiri. Karena apabila dalam memasok TBS ke perusahaan yang dipasok adalah TBS mengkal atau tidak masuk kedalam ktiteria TBS yang diinginkan oleh perusahaan maka akan merugikan pemasok sendiri maupun perusahaan
    corecore