27 research outputs found

    IDN-GLOBAL DAN PENDEWASAAN DIASPORA INDONESIA (2013-2015)

    Get PDF
    Pada tahun 2013, dibentuklah lembaga non-pemerintah yang diprakarsai oleh diaspora Indonesia dan menaungi kepentingan diaspora Indonesia, yakni Indonesian Diaspora Network Global (IDN-Global). Penelitian ini mengangkat topik pengaruh IDN-Global terhadap perubahan postur diaspora Indonesia. Dengan menautkan pada globalisasi dan nasionalisme, IDN-Global memiliki pengaruh yang sangat besar dalam mengubah postur diaspora Indonesia. Dalam aspek sosial-politik, IDN-Global mampu memberikan wacana positif akan diaspora Indonesia, meningkatkan demokrasi Indonesia, memberikan sumbangsih sosial kemanusiaan yang besar, dan memperjuangkan status dwi kewarganegaraan. Sedangkan untuk aspek ekonomi, IDN-Global berkontribusi melalui tiga jalur, yakni remitansi, investasi, dan organisasi. Platform digital seperti IDN-Global ternyata memberikan pengaruh pada peningkatan remitansi, investasi, dan peningkatan kualitas organisasi. Dengan adanya IDN-Global, sebuah wacana baru terbentuk, yakni long-distance virtual nationalism. Long-distance virtual nationalism adalah nasionalisme tanpa batas teritorial dengan mengandalkan mediasi dari teknologi dan informasi. Oleh karena itu, dengan adanya IDN-Global beserta besarnya pengaruh dari IDN-Global terhadap pendewasaan diaspora Indonesia, IDN-Global menjadi afirmasi terhadap tesis Manuel Castell akan masyarakat jaringan (network society), Benedict Anderson tentang nasionalisme jarak jauh (long-distance nationalism), serta Jurgen Habermas tentang ruang publik virtual (virtual public sphere)

    Menjembatani Desa Prioritas Nasional dan Konsep Travel 2.0

    Get PDF
    Travel 2.0 merupakan konsep pariwisata yang menggunakan media sosial dan internet sebagai gerbang pembuka promosi pariwisata. Sayangnya, masih banyak yang belum memahami konsep ini secara utuh. Tidak liniernya pemahaman konsep travel 2.0 dengan aplikasinya terjadi pada usaha Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Sepraga di Desa Tegaren, Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek untuk membangkitkan pariwisata embung Banyu Lumut. Dengan menggunakan metode observasi, wawancara, dan studi kepustakaan, studi ini berusaha untuk memberi sorotan pada ketidaksesuaian lapangan dengan kesiapan konsep keilmuan yang sudah ada. Media sosial dan internet memberikan perubahan yang besar terhadap pemasaran pariwisata. Jika dulu pariwisata tidak beda dengan pemasaran langsung dari produsen kepada konsumen, maka dengan travel 2.0, pemasaran berpusat pada sesama konsumen (peer-to-peer marketing). LMDH bisa mengembangkan pariwisata secara maksimal dengan adanya kelompok sadar wisata (pokdarwis). Namun, pokdarwis Desa Tegaren tidak bisa terbentuk karena adanya ganjalan administrasi dan struktural negara. Studi ini, tidak hanya memberi sorotan, namun  juga memberikan saran untuk mengembangkan konsep peer-to-peer dalam pengembangan pariwisata.Travel 2.0 merupakan konsep pariwisata yang menggunakan media sosial dan internet sebagai gerbang pembuka promosi pariwisata. Sayangnya, masih banyak yang belum memahami konsep ini secara utuh. Tidak liniernya pemahaman konsep travel 2.0 dengan aplikasinya terjadi pada usaha Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Sepraga di Desa Tegaren, Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek untuk membangkitkan pariwisata embung Banyu Lumut. Dengan menggunakan metode observasi, wawancara, dan studi kepustakaan, studi ini berusaha untuk memberi sorotan pada ketidaksesuaian lapangan dengan kesiapan konsep keilmuan yang sudah ada. Media sosial dan internet memberikan perubahan yang besar terhadap pemasaran pariwisata. Jika dulu pariwisata tidak beda dengan pemasaran langsung dari produsen kepada konsumen, maka dengan travel 2.0, pemasaran berpusat pada sesama konsumen (peer-to-peer marketing). LMDH bisa mengembangkan pariwisata secara maksimal dengan adanya kelompok sadar wisata (pokdarwis). Namun, pokdarwis Desa Tegaren tidak bisa terbentuk karena adanya ganjalan administrasi dan struktural negara. Studi ini, tidak hanya memberi sorotan, namun  juga memberikan saran untuk mengembangkan konsep peer-to-peer dalam pengembangan pariwisata

    ADAPTASI TEKNOLOGI DAN PERMASALAHAN KAPASITAS SUMBER DAYA MANUSIA DI WISATA KAMPUNG ADAT SEGUNUNG

    No full text
    This article is the result of a study, desk and field research, which was carried out by a team of researchers at the tourist destination of the Kampung Adat Segunung, Carangwulung Village, Jombang, Indonesia. Kampung Adat Segunung has adapted digital technology to encourage their tourism, such as creating a website page, creating Instagram social media, and utilizing the loket.com application as an online ticketing system. However, the adaptations that were made did not automatically encourage tourism in Segunung to become more advanced. Kampung Adat Segunung is now burdened with their dependence on third parties as parties who provide ICT instrument management services for Kampung Adat Segunung. By using a descriptive-qualitative method, the research conducted found that the premise of digital technology adaptation can help the advancement of tourist destinations seems to have to be revised slightly. Adaptation of digital technology must meet the contextual requirements of the location where tourism is located so that it can run more effectively and succeed in driving progress. Kampung Adat Segunung has difficulty identifying this, even though the existing human resources are still not qualified to adapt digital technology. Data collection was carried out by means of library research, participatory observation, and in-depth interviews with the tourism managers of the Kampung Adat Segunung

    PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PADA WISATA MINAT KHUSUS KALIWATU RAFTING DESA PANDANREJO

    Get PDF
    Pemberdayaan masyarakat di sekitar Kaliwatu Rafting merupakan langkah strategis dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan. Namun, upaya ini menghadapi berbagai tantangan, termasuk kesenjangan antara pemahaman konsep kesadaran wisata dan implementasinya dalam tindakan nyata. Selain itu, perilaku yang merugikan lingkungan, seperti pembuangan sampah ke sungai, masih sering terjadi dan memerlukan perhatian serius. Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan edukasi yang mengintensifkan mengenai kesadaran lingkungan masyarakat kepada masyarakat setempat. Dengan meningkatkan kesadaran lingkungan, memperkuat kerjasama antara berbagai pihak terkait, serta mengimplementasikan praktik-praktik berkelanjutan, pemberdayaan sekitar masyarakat Kaliwatu Rafting diharapkan dapat berkembang lebih efektif. Langkah-langkah ini tidak hanya akan mendukung keberlangsungan pariwisata, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal dan menjaga warisan alam yang berharga bagi generasi mendatang

    Komoditas Super Strategis Porang dan Pemberdayaan Masyarakat di Desa Sumberejo, Pasuruan

    Get PDF
    Abstract: Sumberejo Village in Pasuruan Regency, East Java, is a village that has potential assets in the agricultural and tourism sectors. The agricultural potential in Sumberejo is increasing when the super strategic commodity porang is introduced as a new commodity to be cultivated in Sumberejo through the Sinar Agro Permata farmer group. Porang cultivation aims to advance and increase the income of the agricultural sector and empower farmers in Sumberejo. However, because the porang commodity is a new knowledge for Sinar Agro Permata, the Sinar Agro Permata group is still experiencing confusion and worries about results that are not in line with existing expectations. This scientific article is the result of research on empowering agriculture communities in Sumberejo Village. The research was conducted using a mixed-method presented descriptively and using in-depth interview instruments, participatory observation, focus group discussions, and literature study. The research that has been done has found that the porang commodity has not been able to provide maximum leverage for community empowerment. This commodity has become a new habit for Sinar Agro Permata in Sumberejo, so it requires time and ongoing assistance. With the application of the hexa-helix approach and the behavior drivers model, the research found that there are still three of the six hexa-helix components that have been integrated in this empowerment program. Meanwhile, in the behavior drivers model, this study also found that the Sumberejo community needed driving factors to the individual level to change their mindset, both in terms of farming and as farmers. It still takes time for the empowerment of the Sumberejo community with porang cultivation to reach its maximum point. Even with the role of stakeholders who are required to be collaborative and sustainable.Keywords: behavior drivers model, community empowerment, farmer, hexa-helix, porangAbstract: Desa Sumberejo di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, merupakan desa yang memiliki aset potensial di sektor pertanian dan pariwisata. Potensi pertanian di Sumberejo semakin meningkat ketika komoditas super strategis porang dikenalkan sebagai komoditas baru untuk dibudidayakan di Sumberejo melalui kelompok tani (poktan) Sinar Agro Permata. Budidaya porang bertujuan untuk menambah dan meningkatkan penghasilan sektor agrikultur serta memberdayakan para petani di Sumberejo. Namun demikian karena komoditas porang merupakan pengetahuan baru bagi Sinar Agro Permata, maka poktan Sinar Agro Permata masih mengalami hambatan kebingunan dan kekhawatiran akan hasil yang tidak sesuai dengan ekspektasi yang ada. Artikel ilmiah ini merupakan hasil penelitian terhadap pemberdayaan masyarakat tani di Desa Sumberejo. Penelitian dilakukan menggunakan metode kombinasi yang disajikan secara deskriptif serta menggunakan instrumen wawancara mendalam, observasi partisipatif, focus group discussion, dan studi kepustakaan. Penelitian yang telah dilakukan menemukan bahwa komoditas porang belum bisa memberikan daya ungkit pemberdayaan masyarakat secara maksimal. Komoditas ini terbilang menjadi kebiasaan baru bagi Sinar Agro Permata di Sumberejo, sehingga membutuhkan waktu dan pendampingan yang berkelanjutan. Dengan aplikasi pendekatan hexa helix dan behavior drivers model, penelitian yang dilakukan menemukan bahwa masih tiga dari enam komponen hexa helix yang sudah terintegrasikan dalam program pemberdayaan ini. Sedangkan dalam behavior drivers model, penelitian ini juga menemukan bahwa masyarakat Sumberejo memerlukan faktor pendorong sampai ke tingkat individu untuk melakukan perubahan mindset, baik dalam hal bertani maupun sebagai petani. Masih memerlukan waktu agar pemberdayaan masyarakat Sumberejo dengan budidaya porang menemui titik maksimal. Pun dengan peran stakeholders yang dituntut agar kolaboratif dan berkelanjutan.Keywords: pemberdayaan masyarakat, petani, porang, hexa helix, behavior drivers model</p

    Kerjasama Sister City Antara Pemerintah Kota Surabaya dan Kota Kitakyushu Sebagai Upaya Pengelolaan Sampah Tahun 2012-2023

    Get PDF
    Penelitian ini akan mengidentifikasi hasil-hasil program kerjasama sister city Surabaya-Kitakyushu pada tahun 2012-2023 dalam mewujudkan Surabaya Green City dan membandingkan dengan kondisi pengelolaan sampah yang ada saat ini di Kota Surabaya dengan menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Rumusan masalah yakni bagaimana kerjasama sister city antara Pemkot Surabaya dan Pemkot Kitakyushu sebagai upaya pengelolaan sampah tahun 2012-2023 dengan teknik pengumpulan data analisis data primer dan data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerjasama antara kedua kota tersebut telah menghasilkan berbagai program seperti daur ulang, fasilitas pengolahan sampah Super Depo Suterejo, Rumah Kompos Wonorejo, PDU Jambangan, Pelestarian Hutan Mangrove, dan PLTSa di TPA Benowo. Program-program tersebut telah menunjukkan peningkatan subtansial dalam pengelolaan sampah yang dapat dihasilkan dari teknologi yang sederhana dan murah sehingga memberikan manfaat dari aspek efisiensi waktu dan pengurangan sampah secara kuantitatif. Meskipun telah memberikan hasil yang nyata, akan tetapi harus tetap diperlukan adanya perbaikan/evaluasi pada fasilitas TPLSa Benowo dan penggunaan metode Takakura yang memerlukan langkah-langkah preventif dan komprehensif

    Implementation of health silk road as a form of China's health diplomacy initiative in Indonesia

    Get PDF
    The COVID-19 pandemic has shaken the world since the beginning of the first case in Wuhan City, China. It made the international community urge China to take responsibility for the various actions and measures that came from countries affected by the virus. In this regard, China has established a cooperation initiative in health relations through the HSR (Health Silk Road) under the auspices of the OBOR (One Belt One Road) policy. HSR was considered to have a significant effect in fighting the COVID-19 pandemic virus through its health diplomacy approach in several countries, especially countries that have joined the OBOR policy, such as Indonesia. This paper's objective was to determine the role of HSR as a form of China's diplomacy initiative in establishing a health cooperation relationship with Indonesia to fight the COVID-19 pandemic. This writing focused on writing a descriptive non-numeric narrative with secondary data collection techniques. The HSR approach in Indonesia, such as mask diplomacy and vaccine diplomacy, has proven China's success in restoring its image in the international sphere. The delivery of an impressive amount of health assistance and COVID-19 vaccines to Indonesia showed China's seriousness in dealing with the COVID-19 pandemic.The COVID-19 pandemic has shaken the world since the beginning of the first case in Wuhan City, China. It made the international community urge China to take responsibility for the various actions and measures that came from countries affected by the virus. In this regard, China has established a cooperation initiative in health relations through the HSR (Health Silk Road) under the auspices of the OBOR (One Belt One Road) policy. HSR was considered to have a significant effect in fighting the COVID-19 pandemic virus through its health diplomacy approach in several countries, especially countries that have joined the OBOR policy, such as Indonesia. This paper's objective was to determine the role of HSR as a form of China's diplomacy initiative in establishing a health cooperation relationship with Indonesia to fight the COVID-19 pandemic. This writing focused on writing a descriptive non-numeric narrative with secondary data collection techniques. The HSR approach in Indonesia, such as mask diplomacy and vaccine diplomacy, has proven China's success in restoring its image in the international sphere. The delivery of an impressive amount of health assistance and COVID-19 vaccines to Indonesia showed China's seriousness in dealing with the COVID-19 pandemic

    STRATEGI INDONESIA DALAM BERDIPLOMASI BUDAYA MELALUI BATIK TERHADAP JEPANG SEJAK TAHUN 2008-2017

    Get PDF
    Penelitian ini membahasa mengenai diplomasi budaya Indonesia melalui Batik Indonesia terhadap Jepang pada tahun 2008-2017. Kegiatan diplomasi ini merupakan upaya pemerintah untuk memperkenalkan bahwasanya Batik Indonesia merupakan identitas negara terhadap masyarakat dunia. Pada penelitian ini penulis akan mengkaji mengenai diplomasi batik yang dikaitkan dengan konsep diplomasi budaya dari Simon Mark yang mempunyai 4 instrumen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan Diplomasi Batik Indonesia terhadap Jepang memberikan dampak yang positif bagi negara Indonesia berupa meningkatnya minat warga Jepang terhadap Batik. Selain itu, dengan adanya diplomasi ini juga dapat meningkatkan jumlah ekspor Batik maka dengan begitu tercipta peluang yang besar bagi industri Batik

    APLIKASI MODEL ENAM BINA PADA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN NELAYAN DESA TASIKMADU, TRENGGALEK

    Get PDF
    Pesisir merupakan kawasanyang identik dengan kondisi kumuh dan masyarakat yang masih sangat tergantung dengan sistem kerja patriarki. Sehingga standar kehidupan banyak petani laut/nelayan berada di skala menengah ke bawah.Oleh karena itu, karya tulis ini memberikan deskripsi konseptual maupun praktikal untuk sebuah model pemberdayaan perempuan nelayan berbasiskan potensi lokal, yakni model enam bina. Pemberdayaan model enam bina merupakan hasil dari penelitian selama dua tahun dengan obyek penelitian masyarakat pesisir di Kabupaten Sidoarjo (daerah pantai utara/pantura) dan Kabupaten Trenggalek (daerah pantai selatan/pansela). Model ini memiliki tiga tahapan, yakni look-think-act. Dengan tahapan tersebut, pelaksanaan pemberdayaan kemudian berfokus pada enam aspek, yakni bina sumber daya alam, bina sumber daya manusia, bina lembaga, bina program, bina usaha, dan bina lingkungan. Karya tulis ini akan memaparkan aplikasi dari model enam bina pada masyarakat pesisir desa Tasikmadu, Kabupaten Trenggalek, sekaligus menjadi pemutakhiran dari penelitian yang dilaksanakan sebelumnya. Kegiatan pemberdayaan melalui model enam bina di Desa Tasikmadu dilaksanakan dengan pemberian penyuluhan dan pelatihan produksi bakso ikan. Setelah itu dilanjutkan dengan pemberian satu buah alat cetak bakso ikan kepada Kelompok Usaha Bersama (KUB) Sumber Rejeki dan Sumber Barokah dengan harapan akan mempermudah perputaran ekonomi masyarakat. Dengan rangkaian kegiatan tersebut, maka sudah terlaksanakan bina sumber daya alam, bina sumber daya manusia, dan bina lembaga. Adapun bina usaha, bina program, dan bina lingkungan masih akan menjadi agenda pengabdian kepada masyarakat pada pendampingan selanjutnya. Hasil dari pemberdayaan model enam bina ini menjadi krusial bagi para perempuan nelayan, karena pemberdayaan ini dapat melepaskan ketergantungan pada sistem kehidupan ekonomi yang patriarki
    corecore