1,720,974 research outputs found
Tipe Isi dan Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Buku Ajar sebagai Bahan Penyusunan Rambu-Rambu Penulisan Buku Ajar
enelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif dan metode deskriptif. Sampel penelitian teridiri atas empat buku, yaitu: (1) Belajar Bahasa Indonesia IA karangan Nina Murliana, et al., (2) Saya Senang Berbahasa Indonesia untuk SD Kelas 1 karangan Hanif Nurcholis and Mafrukhi, (3) Belajar Bahasa Indonesia 6A karangan Ninu Murliani, et al., (4) Bina Bahasa dan Sastra Indonesia karangan Asep Effendi, et al. Buku kelas satu mewakili buku dari kelas bawah sedangkan buku kelas enam mewakili buku dari kelas tinggi.
Sampel penelitian dideskripsikan, dianalisis, dan dibahas dari segi (1) tipe isi berdasarkan: tujuan pembelajaran, keseimbangan porsi keterampilan berbahasa, ketepatan dan kefasihan, keterwakilan isi silabus, orientasi pembelajaran, dan kemudahan dalam penggunaan; serta (2) dari segi penggunaan bahasa Indonesia yang meliputi aspek wacana, paragraf, kalimat, serta kata dan istilah. Selanjutnya, disusun rambu-rambu penulisan buku ajar bertife komunikatif.
Hasil penelitian: (1) berdasarkan tujuan pembelajaran, keseimbangan porsi keterampilan berbahasa, ketepatan dan kefasihan, keterwakilan isi silabus, serta orientasi pembelajarannya, sampel penelitian ini dapat dikategorikan buku yang bertife komunikatif. Akan tetapi, dari segi pengorganisasian siswa keempat buku tersebut dikategorikan sebagai buku bertife tradisional. (2) Berdasarkan wacana, kalimat, serta kata aspek bahasa yang dipergunakannya dikategorikan baik. Kekurangan: (a) ada kecenderungan untuk lebih banyak menampilkan wacana narasi, (b) cenderung mengabaikan pencantuman nama pengarang dan sumber kutipan, serta (c) ditemukan banyak wacana yang ditampilkan sebagian saja, tidak utuh. (3) Rambu-rambu penulisan buku ajar: buku ajar bertife komunikatif memiliki isi yang dilandasi prinsif-prinsif pendekatan komnikatif dan menggunakan bahasa yang komunikatif pula.
Kesimpulan: sebagian besar isi sampel penelitian memenuhi lima kriteria sebagai buku bertife komunikatif tetapi dari segi kemudahan dalam penggunaannya, sampel penelitian ini masih tergolong buku bertife tradisional. Saran: buku ajar hendaknya menyediakan jenis wacana yang lebih variatif, seharusnya dilakukan editing yang seksama terhada penggunaan bahasa, buku ajar harus dilengkapi dengan media berbentuk rekaman suara untuk bahan simakan, buku ajar seharusnya mencantumkan sumber karangan disertai nama pengarang pada setiap wacana
PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS NARASI MELALUI MODEL PEMBELAJARAN TEKNIK VISUAL-AUDITIF-TAKTIL : Penelitian pada siswa Sekolah Dasar di Kabupaten Cianjur
enelitian ini dilatarbelakangi oleh suatu kondisi sulitnya sebagian siswa SD di dalam mengekspresikan ide, pikiran, gagasan, ataupun perasaan ke dalam bahasa tulis. Padahal, secara lisan para siswa kelas 5 SD rata-rata sudah bisa bercerita. Kesulitan yang mereka kemukakan adalah sulitnya mencari dan memilih kata yang akan ditulis. Berdasarkan hasil survei serta studi pendahuluan diketahui bahwa kesulitan menulis yang dialami oleh para siswa tersebut selain kesulitan mencari dan memilih kata (faktor ketidakmampuan), kesulitan menulis juga dilatarbelakangi oleh faktor hati (faktor ketidakmauan). Ketidakmampuan dan ketidakmauan tersebut menyebabkan sulit munculnya keterampilan menulis pada siswa.
Siswa merupakan subjek utama dalam kegiatan belajar mengajar. Ia memiliki sejumlah potensi yang harus dikembangkan. Guru sebagai fasilitator harus mempunyai teknik yang tepat agar dapat menumbuhkembangkan potensi yang dimililiki siswa tersebut. Gaya atau cara siswa mencari atau menerima pelajaran yang dibutuhkan sangat variatif bergantung kepada tipe belajar dalam pengoptimalan alat indranya.
Penelitian ini dilakukan terhadap sejumlah siswa kelas 5 SD di Kabupaten Cianjur tahun ajaran 2007-2008. Guna menguji keterhandalan model pembelajaran yang digunakan, penelitian dilakukan pada beberapa tipe sekolah dasar, yakni pada sekolah tipe A, sekolah tipe B, dan sekolah tipe C yang berlokasi di daerah, perbatasan, dan kota di Kabupaten Cianjur. Untuk itu, pengamatan, wawancara, angket, dan tes merupakan teknik penelitian yang digunakan dalam pengujian model pembelajaran ini.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, terbukti bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada taraf signifikansi 0,05% antara hasil belajar siswa dalam pembelajaran menulis narasi yang menggunakan teknik visual-auditif-taktil dengan hasil belajar siswa yang tidak menggunakan teknik visual-auditif-taktil, baik di kelas tipe A, tipe B, maupun tipe C.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran menulis narasi dengan teknik visual-auditif-taktil dapat meningkatkan kemampuan menulis narasi siswa sekolah dasar. Kemampuan menulis siswa kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan kemampuan menulis siswa kelas kontrol. Adapun peningkatan faktor kemauan siswa terlihat dari indikator perhatian yang sungguh-sungguh dalam proses belajar dan respons terhadap tugas menulis yang diberikan.
A condition in which most of elementary school students have difficulty expressing their ideas, thoughts, concepts, or feelings into written language is the background of this research. Meanwhile, the fact shows that the fifth grade students of elementary school in average are able to speech. The difficulties they face are to find out and to select the words (disability factor) that they want to write. Besides the factor of incompetence, the writing difficulty is also caused by unwillingness factor. Incompetence and the unwillingness influence the development of students’ writing skill.
The students are the main subject in learning and teaching activities. They have the number of potency that must be developed well. The teacher as a facilitator must have the accurate technique to develop the students’ potency. The students’ styles or ways in looking for or comprehending the subject matter depending on learning type in optimizing their sense.
This research was conducted on a number of the fifth grade students of elementary school in the District of Cianjur in the academic year 2007-2008. To examine the effectiveness of learning model in use, the research was carried out in several types of elementary schools, namely, school type A, type B, and type C located on rural, suburban and urban in the District of Cianjur. Thus, the research techniques attached to examine this learning model are observation, interview, questionnaire, test, and analysis of students’ writing.
The result of this research shows that there is a significant difference between the outcomes of students’ study in learning of narrative writing using a visual-auditory-tactile technique and the those of students’ study in learning of writing narrative without using visual-auditory-tactile technique at class type A, class type B, and class type C.
Therefore, it can be concluded that the learning model of writing narrative using the visual-auditory-tactile technique can improve the ability of writing narrative of elementary school students, approved by the higher writing ability of experiment class students than the writing ability of control class students. Meanwhile, the improvement of students’ willingness factor emerges from the indicator of seriousness in the learning process and responses to the writing tasks provided
TIPE ISI DAN PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA DALAM BUKU AJAR SD
Abstract: The objective of this descriptive qualitative research was to describe content type and application of language in textbook used in elementary school at Kabupaten Garut. The research sample were 4 books of Indonesian language textbooks for elementary schools which is determined by questionnaire. Research found: (1) on the basis of purpose, language skills portion, representativeness of syllabus content, and teaching orientation it can be seen as a communicative book type (2) on the basis of students management it can seen as a traditional book type (3) on the basis of language use it can be seen as a good category.Abstrak: Penelitian deskriptif kualitatif ini bertujuan untuk melihat tipe isi dan penggunaan bahasa dalam buku ajar yang dipergunakan di sekolah-sekolah dasar yang ada di Kabupaten Garut. Sampel penelitian diambil empat buku ajar bahasa Indonesia SD yang dipergunakan di Kabupaten Garut yang ditentukan berdasarkan angket. Hasil penelitian menunjukkan (1) berdasarkan tujuan, porsi keterampilan berbahasa, keterwakilan isi silabus, dan orientasi pembelajaran termasuk tipe buku komunikatif; (2) dari segi pengorganisasian siswa termasuk tipe buku tradisional; (3) dari segi penggunaan bahasa termasuk kategori cukup baik
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
ANALISIS KESULITAN MEMBACA DAN UPAYA PENANGANANNYA
Penelitian ini berjudul “Analisis Kesulitan Membaca dan Upaya Penangananya”(Studi Kasus pada Siswa kels 9 SMP PGRI Tarogong kaler Garut). Ketertarikan penelititerhadap kasus yang dialami salah satu siswa kelas 9 SMP yang berkesulitan dalammembaca permulaan yang menjadi alasan peneliti menelitikasus ini. Rasa ingin tahupeneliti terhadap faktor yang memengaruhi kesulitan membaca pada siswa tersebut,karena siswa tersebut sudah memasuki jenjang SMPbelum bisa membaca. Oleh sebabitu permasalahan yang dapat diangkat pada penelitian ini adalah (1) Bagaimanakahkemampuan informan dalam membaca?Faktor apakah yang menyebabkan kesulitanmembaca yang dialami informan? Bagaimanakah karakteristik kesulitan membaca yangdialami informan? (4) Upaya apakah yang dilakukan untuk menangani kesulitanmembaca yang dialami informan?. Tujuan penelitian ini adalah (1) Mengetahuikemampuan membca pada informan; (2) Mengetahui faktor yang menyebabkankesulitan membaca yang dialami informan; (3) Mengetahui karakteristik Kesulitanmembaca yang dialami infoman; (4) Mengetahui upaya untuk menangani kesulitanmembaca yang dialami informan.Metode pada penelitian ini yaitu studi kasus tunggal yang bersifat eksperimen.Metode studi kasus yang digunakan dalam penelitian ini yaitu untuk menyelidiki kasusyang kesulitan membaca yang dialami informan secara mendalam.Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dalam penelitian ini terdapatempat simpulan yaitu pertama, kemampuan membaca pada informan yaitu, kesulitandalam membaca kata, menggabungkan suku kata dan menggabungkan kata dalamkalimat. Informan hanya mampu menyebutkan huruf dan membaca suku kata. Kedua,karakteristik kesulitan membaca yang dialami oleh informan di antaranya yaitu,menghilangkan kata atau huruf, menghilangkan hurufg pada konsonan rangkap ng,pengucapan kata salah dengan makna yang beda, menukar huruf pada kata, penggantiankata. Ketiga, faktor yang memengaruhi kesulitan membaca informan di antaranya yaitu,kurangnya motivasi, kurangnya penanganan, dan kurangnya juga pendampingan olehorang tua dalam belajar membaca. Keempat, untuk upaya yang dilakukan oleh penelitikepada informan yaitu, memberikan tiga pelatihan selama 21 hari. Pelatihan tersebutyaitu, membacakata bersuku satu, kata bersuku dua, dan kata bersuku tiga. Upaya yangdilakukan oleh peneliti untuk menangani kesulitan membaca pada informan tidak adaperubahan yang signifikan terhadap kemampuan informan dalam membaca
- …
